Kamis, 07 April 2011

Senin, 04 April 2011

ROKOK DAN KECANTIKAN WANITA

Ternyata kebiasaan merokok dapat merusak kecantikan. Selain merokok bisa merusak jantung, paru-paru, otak bahkan seks, tapi juga tiap batang rokok bisa merusak kecantikan wanita. Ada 15 titik kecantikan yang rentan terhadap asap rokok. Kantung mata Kantung mata yang menggantung menjadi cacat bagi kecantikan Anda. Jika punya kebiasaan merokok, kantung mata adalah hal yang akan Anda akrabi setiap pagi. Menurut penelitian yang dilakukan oleh Johns Hopkins, risiko mengalami masalah tidur adalah empat kali lebih besar daripada teman Anda yang tidak merokok. Karena, merokok di malam hari akan membuat tubuh terjaga. Dari situlah asal-muasal kantung mata yang Anda lihat di pagi hari. Psoriasis Psoriasis adalah suatu penyakit menular yang gejala utamanya adalah muncul warna abu-abu atau keperakan pipih pada kulit yang merah dan meradang. Psoriasis sebenarnya gejala yang umum terjadi, bahkan meskipun tidak punya kebiasaan merokok. Namum, jika punya kebiasaan merokok, risiko terhadap masalah kulit meningkat drastis. Menurut studi yang dilakukan 2007, jika Anda merokok sebungkus sehari selama 10 tahun atau kurang, risiko mengalami psoriasis menigkat 20 persen. Bila kebiasaan merokok sudah mencapai 11 hingga 20 tahun risiko meningkat 60 persen. Jika kebiasaan itu sudah berlangsung lebih dari 20 tahun, risiko lebih dari 20 persen. Bahkan ibu hamil yang menjadi perokok pasif diperkirakan juga mengalami penigkatan resiko psoriasis. Penuaan Para ahli sepakat, merokok dapat mempercepat terjadinya penuaan pada tubuh. Tak heran bila perokok biasanya terlihat satu setengah tahun lebih tua dari rata-rata orang yang tidak merokok. Kulit bisa kelihatan segar dan sehat karena mendapatkan pasokan nutrisi dan oksigen dari darah yang beredar di pembuluh darah yang berada di bawah kulit. Kebiasaan merokok menghambat kelancaran darah sehingga kulit tidak mendapatkan pasokan nutrisi yang memadai. Karang gigi Nikotin adalah zat yang paling ampuh bila Anda ingin menandai gigi dengan bekas tidak dapat dihilangkan dengan cara biasa. Selain pengeluaran membeli rokok, juga harus memasukkan biaya pemutihan gigi di pos pengeluaran rutin Anda. Parut Nikotin juga bisa menyebabkan vasoconstriction, penyempitan pembuluh darah yang dapat menghambat peredaran darah, baik di area wajah maupun bagian tubuh lainnya. Ini membuat pasokan oksigen pada sel-sel tubuh menjadi terhambat. Artinya, jika terluka, akan lebih lama sembuh. Luka biasanya lebih besar dan lebih merah daripada yang dialami oleh mereka yang tidak merokok. Kuku kuning Nikotin pada rokok tidak hanya meninggalkan bekas pada gigi. Zat ini juga meninggalkan bekas yang membandel di kuku jari. Jika dicari di Internet akan ditemukan sejumlah solusi untuk mengatasi masalah ini, seperti jus lemon, zat pemutih. Terkadang solusinya sungguh sangat menyakitkan. Bukankah lebih gampang mengatasinya dengan cara berhentilah merokok. Rambut menipis Bukan hanya membuat kulit jadi keriput, merokok juga merusak rambut. Para ahli berpendapat, racun kimia dalam rokok dapat merusak DNA pada folikel rambut dan menghasilkan sel radikal bebas yang merusak pula. Para perokok memiliki rambut lebih tipis dan cenderung lebih cepat memudar warnanya daripada mereka yang tidak merokok. Penelitian yang dilakukan di Taiwan 2007, menemukan bahwa pria yag merokok memiliki risiko dua kali lebih besar kehilangan rambutnya daripada pria yang tidak merokok. Hal ini setelah memperhitungkan juga factor perontok rambut seperti pertambahan usia dan genetik. Gigi tanggal Merokok juga berisiko besar mengalami berbagai macam masalah gusi dan kanker mulut. Fakta, menurut penelitian yang dilakukan di Inggris, 2005, dan diterbitkan di Journal of Clinical Periodontology, para perokok punya risiko rnam kali lebih besar mengalami sakit gigi dan mulut ketimbang mereka yang tidak merokok. Cahaya wajah pudar Pernah memperhatikan kulit teman Anda yang merokok biasanya kelihatan lebih pudar? Studi yang dilakukan sejak lama, 1985, menemukan bahwa wajah seorang perokok digambarkan sebagai wajah yang memerlukan perawatan fasial lengkap berkeriput dan kusam. Asap rokok mengandung karbonmonoksida, yang menghapuskan kandungan oksigen dan kulit dan nikotin yang menghambat kelancaran peredaran darah sehingga kulit menjadi kering dan warnanya memudar. Merokok juga menghilangkan berbagai macam nutrisi dari tubuh, termasuk vitamin C yang melindungi dan meperbaiki kulit dari kerusakan. Menyembuhkan diri Sejumlah penelitian menemukan bahwa tubuh seorang perokok tidak memiliki kemampuan menyembuhkan diri yang baik. Ini menyebabkan bila seorang perokok menjalani operasi kecantikan seperti face-lift, ekstrasi gigi dan prosedur periodontal, mereka tidak dapat sembuh dengan baik dan cepat sebagaimana kemampuan yang dimiliki oleh tubuh seorang yang tidak merokok. Jadi, begitu rokok membuat kulit wajah Anda mengeriput, bahkan akan lebih sulit memperbaikinya meskipun dengan menjalani operasi komestik. Kutil Meskipun alasan yang belum jelas benar, perokok biasanya lebih rentan terkena infeksi virus papilloma, virus yang dapat menyebabkan tumbuhnya kulit, termasuk yang tumbuh di area kelamin. Meskipun penyakit jenis ini yang muncul di area kelamin biasanya ditularkan melalui hubungan seksual, namun kebiasaan merokok juga ditemukan dapat menjadi factor risiko. Bahkan meskipun jumlah partner seks juga ikut diperhitungkan, menurut sebuah studi, wanita dengan kebiasaan merokok punya risiko terserang virus ini empat kali lebih besar daripada wanita yang tidak merokok. Kanker kulit Merokok merupakan penyebab utama serangan kanker, termasuk di dalamnya kanker paru, tenggorokan dan mulut. Karena itu, tak heran bila rokok juga dapat meningkatkan risiko mengalami masalah kanker kulit. Faktanya, menurut studi yang dilakukan pada 2001 lalu, perokok kemungkinannya tiga kali lebih besar mengalami carcinoma, salah satu tipe kanker kulit paling umum daripada mereka yang tidak merokok. Stretch mark Nikotin yang terkandung dalam rokok merusak serat dan jaringan kulit sehingga menyebabkan kulit kehilangan elastisitas dan kekuatannya. Barangkali, belum Anda ketahui, stretch mark yang biasanya muncul karena mengalami pertambahan berat badan yang drastic (seperti pada kehamilan) dapt juga muncul karena kebiasaan Anda merokok. Perut Buncit Rokok dapat menghilangkan nafsu makan dan sering perokok memiliki berat badan yang lebih ringan daripada orang yang tidak merokok. Namun demikian, jangan cepat-cepat mengambil kesimpulan bahwa rokok dapat menjadi solusi terbaik untuk masalah berat badan. Sebuah studi di Belanda, 2009, menemukan bahwa perokok memiliki lemak visceral lebih banyak di lingkar perutnya ketimbang orang yang tidak merokok. Lemak yang tersembunyi di dalam kulit, ini dapat menimbuni organ internal dan memicu risiko serangan berbagai macam penyakit, misalnya diabetes. Katarak Sebagian besar dari kita kemungkinan akan mengalami katarak dengan tingkat keparahan yang berbeda-beda di usia 80. Namun, kebiasaan merokok dapat meningkatkan risiko katarak karena membuat lensa mata mengalami stress oksidatif yang berlebihan. Faktanya, menurut penelitian, bila kebiasaan merokok tetap diteruskan, risiko mengalami katarak akan meningkat 22 persen. Kabar baiknya, tidak ada kata terlambat untuk berhenti merokok. Jumlah batang rokok yang Anda hisap merupakan faktor risiko yang lebih penting ketimbang faktor berapa lama Anda sudah punya kebiasaan merokok. bas/healthylife

PAUS BENEDIKTUS DAN GEORGE W BUSH

Kurang lebih 9000 orang memadati halaman Gedung Putih, saat Presiden AS Bush menggelar upacara penyambutan secara resmi kedatangan Paus Benediktus untuk pertama kalinya ke AS, pertengahan April lalu. Secara spontan massa menyanyikan lagu “Selamat Ulang Tahun” untuk paus yang hari itu berulangtahun ke-81. Upacara peyambutan ini merupakan salah satu terbesar yang pernah diselenggarakan di Gedung Putih. Bus juga akan menyelenggarakan jamuan makan malam di Gedung Putih untuk menyambut hari ulang tahun Paus Benekditus. Namun, paus tak hadir karena akan bertemu dengan 300 uskup Katolik Usai penyambutan, Presiden AS mengadakan pembicaraan empat mata dengan Pauas Benidiktus XIV. Pada hari kedua kunjungannya di AS, paus mengangkat isu-isu sensitif, seperti perang Irak dan imigrasi Hispanik dalam pembicaraannya dengan Bush. Ini merupakan kunjungan pertamanya ke AS sejak menjadi paus 2005. Paus Benediktus XIV bertemu secara pribai dengan Presiden Amerika Serikat Geoorge W Bush di Ruang Oval, Gedung Putih, selama 45 menit. Paus dan Bush mengeluarkan pernyataan bersama mengenai berbagai persoalan yang menjadi keprihatinan dunia sekarang. Mereka membahas juga mengenai penghormatan terhadap martabat manusia, dukungan terhadap kehidupan, ikatan perkawinan dan keluarga , pendidikan generasi mendatang, hak asasi manusia, kebebasan beragama serta pembangunan berkelanjutan dan perang melawan kemiskinan dan pandemik, terutama di Afrika. Paus dan Bush sepakat menolak terorisme, manipulasi agama untuk membenarkan tindakan kekerasan dan tidak bermoral terhadap orang tidak bersalah. Keduanya menyatakan perlu memerangi terorisme dengan cara tepat yang menghormati kemanusian. Mengenai kondisi di Timur Tengah Paus Benekditus dan Bush sama-sama mendukung penyelesaian konflik Israel-Palestina dengan model dua negara yang hidup berdampingan dalam damai. Mereka mendukung kedaulatan Lebanon, menyatakan keprihatian atas nasib umat Krsiten di Irak dan mengharapkan penyelesaian damai atas konflik di Timur Tengah. Paus Benekditus, paus kedua yang mengunjungi Gedung Putih. Kunjungan ini merupakan kunjungan paus pertama dalam 29 tahun ke Gedung Putih. Sepanjang sejarah AS, pertemuan ini adalah pertemuan ke-25 antara pemimpin tertinggi Gereja Katolik Roma dan Presiden AS dalam rentang waktu 89 tahun, melibatkan lima paus dan 11 pemimpin AS. “Saya datang sebagai sahabat, perwarta Injil dan orang yang menghormati masyarakat pluralistik,” kata paus dalam pidatonya. Paus meminta pemimpin AS membuat kebijakan berdasarkan prinsip moral dan sosial untuk menciptakan masyarakat yang lebih adil. “Demokrasi bisa tumbuh saat pemimpin politik yang mewakili rakyat dibimbing oleh kebenaran dan membawa kebijaksanaan yang lahir dari prinsip moral,” kata paus. Paus juga menyerukan upaya diplomasi internasional yang lebih sabar menyelesaikan konflik dan mendorong kemajuan di seluruh dunia. Kunjungan paus ke Gedung Putih juga diwarnai protes oleh sekitar 200 orang yang mengangkat isu skandal pedofilia oleh sejumlah imam Katolik di AS. Setelah meninggalkan Gedung Putih, paus mempersembahkan misa untuk para uskup di AS. Paus juga mengadakan pembicaraan dengan para uskup membahas berbagai persoalan, antara lain skandal pedofilia. Kepada para wartawan, paus merasa sangat malu atas skandal seksual terhadap anak-anak yang mengguncang Gereja Katolik AS. Paus bertekad melakukan semua yang mungkin dilakukan menyembuhkan luka itu. AS harus melakukan segala yang mungkin memerangi semua bentuk kekerasan sehingga imigran bisa menjalani hidup yang bermartabat,” kata paus saat ditanya apakah dia akan membicarakan isu imigran Amerika Latin dengan Geroge W Bush. Jumlah kaum Hispanik hampir 40 persen dari 70 juta umat Katolik di AS. Mereka acap menjadi sasaran dalam upaya menindak keras para imigran gelap. Dalam perjalanan dari Roma, Paus Benediktus XIV mengatakan, dia menanti-nanti bertemu dengan rakyat dan gereja yang besar selama kunjungan pertamanya ke AS sebagai paus. Sebelum menjadi paus, saat sebagai Kardinal Joseph Ratzinger, ia beberapa kali mengunjungi negara itu. Menurut orang yang pernah berjumpa dengannya, dia adalah orang yang tahu banyak dan mengagumi negara itu serta masyarakatnya. Menjaga kawanan dombanya, sebutan bagi umat Katolik di AS merupakan misi penting dan peka bagi Paus Benediktus XIV. Ia juga membicarakan skandal pedofilia yang mengguncang gereja AS (baharuddin s/dari berberbagai sumber)

Makanan Sederhana Membuat Semangat

Tidak musti makanan yang mewah yang menambah semangat dan memberikan tambahan energi, tapi makanan sederhana pun bisa memulihkan lelah, letih dan lesu. Pastikan Anda memilih makanan yang tepat. Makanan sederhana tapi kaya nutrisi penting yang dapat membantu tubuh Anda mengubah manakan yang diasup menjadi energi. Inilah beberapa makanan yang patut Anda perhitungkan: oatmeal, yogurt, bayam, kacang-kacangan dan biji-bijian. Oatmeal Karena kehebatannya, para praktisis medis dan ahli gizi tidak hanya mengizinkan, tetapi juga menyarankan, pasien diabetes yang berada di bawah pengawasan untuk mengonsumsi oatmeal. Karena oatmeal membantu tubuh mepertahankan indeks gula darah di tingkat normal. Meskipun indeks glisemik pada oatmeal cukup tinggi, namun makanan ini lebih ampuh daripada semua jenis produk sereal dan gandum lainnya yang biasa diasup sebagai sarapan. Oatmeal, sudah lama dianggap makanan sehat. Keampuhan Sumber energi tahan lama.Karbohidrat adalah nutrisi yang menghabiskan waktu paling sedikit di dalam perut. Nutrisi memberikan dorongan energi cepat lalu hilang begitu saja dari pencernaan. Karena karbohidrat biasa adalah jenis bahan bakar yang cepat habis, kemudian Anda terdorong untuk makan lagi memasok energi. Lalu, tanpa disadari, telah makan berlebihan sepanjang hari, namun tetap merasa letih, lesu dan lelah serta mengalami kelebihan berat badan beberapa minggu setelah itu. Tidak seperti makanan mengandung karbohidrat lainnya, kandungan serat tinggi dalam oatmeal membantu Anda merasa kenyang lebih lama. Dengan demikian, tak tertarik untuk makan berlebihan sepanjang hari. Anti sembelit Serat juga penting bagi pencernaan, khususnya serat pada oatmeal yang punya sifat mudah larut. Serat yang mudah larut ini memberi makanan kepada bakteri pada saluran pencernaan yang membantu mencegah kehilangan energi karena mengalami sembelit. Selain kandungan serat yang tinggi, oatmeal juga mengandung magnesium, protein dan fosfor—tiga nutrisi yang signifikan dan secara langsung mempengaruhi tingkat energi. Ini membuat oatmeal menjadikan makanan ideal memerangi kelelahan. Sumber vitamin B1 Oatmeal juga merupakanj sumber vitamin B1 (thiamin) yang sangat penting menghasilkan energi. Gejala bahwa Anda kekurangan vitamin B1 adalah kurangnya pasokan energi dan kehilangan nafsu makan. Bersama dengan nutrisi lain, vitamin B1 membantu pemecahan dan konversi makanan yang kita makan menjadi energi. Untuk mendapat energi instant yang tahan lama, jadikan oatmeal sebagai pilihan pertama dan utama dalam menu sarapan. Sarapan adalah waktu makan yang paling penting karena ini adalah waktu paling tepat mengisi ulang energi dan akan menentukan irama Anda sepanjang hari. Yogurt Tampilannya begitu lembut dan creamy. Kelihatannya lebih seperti makanan penutup penuh lemak yang menggemukkan daripada sebagai makanan sehat. Yogurt bagus bagi kesehatan berkat kandungan probiotik dan proteinnya yang tinggi. Keampuhan Sarat protein. Karena lembut, tubuh memroses yogurt lebih cepat daripada makanan padat, menjadikannya sumber energi yang cepat. Tapi, selain mendapatkan hasil cepat, energi itu juga tahan lama karena rasio kandungan protein dan karbohidratnya yang bagus. Protein bertahan lebih lama dalam perut ketimbang karbohidrat, sehingga pasokan energi lebih stabil. Karbohidrat dibakar terlebih dahulu, setelah habis giliran protein dijadikan sumber energi. Probiotik ampuh Yogurt juga mengandung probiotik, bakteri menguntungkan yang membantu menjaga ekosistem yang sehat di dalam usus dengan melindungi dari pathogen dan membantu tubuh melawan bakteri berbahaya. Seperti serat, probiotik adalah bantuan yang bagus sekali untuk pecernaan. Menenangkan Penelitian terbaru dari University of Toronto menunjukkan, probiotik dapat membantu mengatasi sindrom kelelahan kronis. Dalam penelitian ini, suplemen probiotik kelihatannya dapat memompa tingkat asam amino tryptophan di otak. Tryptophan adalah terkenal dikenal sebagai komponen yang membuat mengantuk. Selain itu, tryptophan juga merupakan serotonin precursor, sebuah neurotransmitter yang membantu untuk tidur nyenyak, membuat Anda lebih tenang membantu mengatasi kelelahan fisik maupun emosional. Saat makan Selain bermanfaat bagi kesehatan, salah satu hal terbaik dari yogurt adalah sifatnya yang fleksibel. Ini adalah makanan yang tepat untuk dimakan menjelang sore atau sebelum berolahraga. Makanan ringan ini akan langsung memberikan energi cepat kepada tubuh yang mulai mengantuk. Efeknya akan lebih luar biasa lagi sebagai menu sarapan bila menambahkanm topping sehat di atasnya, seperti gandum, kacang dan buah-buahan. Yogurt juga boleh-boleh saja bila dijadikan sebagai hidangan pencuci mulut atau variasi buat salad. Bayam Bayam padat dengan gizi yang penting memerangi kelelahan dan membantu tubuh kita berada pada kondisi puncak. Selain merupakan salah satu sumber makanan paling padat zat besi di bumi, bayam juga sangat kaya akan magnesium dan kalium dan merupakan sumber B-vitamin yang sangat bagus sebagai pendongkrak energi. Keampuhan Anti anemia. Zat besi memainkan peran penting untuk melawan kelelahan. Zat nutrisi ini dikenal merupakan pemompa energi yang hebat membantu tubuh menghasilkan energi yang memberikan oksigen ke sel sehingga setiap sel tubuh dapat bekerja secara optimal. Tanpa oksigen yang cukup, sel-sel tubuh menjadi lambat dan bahkan bisa tidak bekerja sama sekali. Tingkat zat besi yang rendah dalam tubuh dapat mengakibatkan kelelahan fisik maupun emosional dan juga anemia. Gejala anemia meliputi kelelahan, kekurangan energi, tidak bertenaga , kesulitan berkonsentrasi, apatis, insomia dan kehilangan nafsu makan. Bayam menyediakan zat besi dalam jumlah yang tinggi untuk asupan yang rendah kalori. Bayam juga merupakan sumber vitamin C yang sangat baik, vitamin yang membantu meningkatkan penyerapan zat besi. Penyeimbang Kandungan utama lainnya dalam bayam adalah magnesium mineral yang memainkan peran penting dalam produksi energi. Buktinya, mineral ini terlibat dalam ratusan reaksi enzimati yang terjadi di seluruh tubuh dan secara langsung mempengaruhi sistem kardiovaskular, pencernaan dan saraf, otot, ginjal, hati dan otak. Magnesium sangat diperlukan dalam proses produksi energi, kerja sistem pencernaan yang maksimal dan pengaturan kerja saraf dan otot. Tidak heran bila kurangnya magnesium dapat menyebabkan kerja otak dan tubuh menjadi lebih lambat. Kekurangan magnesium sedikit saja sudah cukup membuat kekurangan energi, membuat tubuh harus bekerja lebih keras sehingga menjadi cepat lelah. Ciri yang mengalami defisiensi magnesium antara lain; tidak seimbangnya tingkat gula darah, depresi, kelemahan otot, kram otot, kejang otot, nyeri otot, tegang, kekurangan energi, kelelahan, sulit tidur, bingung dan kurang nafsu makan. Saat makan Karena kandungan nutrisinya yang sangat besar, bayam sebaiknya ada dalam sayuran yang dimakan setiap hari. Praktisnya, makan bayam sebanyak mungkin dan sesering mungkin. Selipkan saja sayuran hijau ini di bubur gandum setiap pagi, sandwich pada saat makan siang atau menjadi lapisan lasagna untuk makan malam. Kacang-kacangan dan biji-bijian Kacang-kacangan dan biji-bijian adalah makanan padat gizi yang kaya akan protein berkualitas tinggi dan lemak omega-3 yang sehat. Tergantung pada jenis yang dipilih, juga akan mendapatkan sejumlah besar mangan, magnesium, fosfor, besi, tembaga, riboflavin, vitamin B1, B2, B5 dan B6 dan triptofan. Semuanya adalah nutrisi yang terlibat dalam proses produksi energi. Keampuhan Sumber protein pelawan bosan. Biji labu, almond, kacang mete dan hazelnut, semua merupakan sumber magnesium, nutrisi yang membantu melawan kelelahan otot. Triptofon yang juga ditemukan dalam biji wijen, biji bunga matahari, biji labu, kacang mete, walnut dan almond dapat membantu melawan kelelahan emosional dan membantu meningkatkan kualitas tidur sehingga dapat meningkatkan kelelahan fisik. Semua kacang-kacangan dan biji-bijian adalah sumber protein berkualitas tinggi yang dapat dikonversi oleh tubuh mejadi energi yang tahan lama. Pembangkit semangat Tapi apa yang membuat kacang-kacangan dan biji-bijian seperti senjata ampuh dalam perang melawan kelelahan? Tentulah sebagai sumber yang kaya asam lemak omega-3. Omega-3 dikenal sebagai lemak esensial karena merupakan satu-satunya jenis lemak yang benar-benar dibutuhkan oleh tubuh kita. Lemak sehat ini tidak hanya menurunkan indeks glisemik makanan tetapi juga merupakan sumber energi yang unggul. Lemak tinggal di perut lebih lama daripada karbohidrat dan protein. Jadi lemak ini merupakan bahan bakar lambat terbakar yang menyediakan energi jangka panjang. Omega-3 juga membantu menjaga kesehatan sel-sel tubuh kita. Ia merupakan kandungan alami pada hampir semua kacang-kacangan dan biji. Banyak peneliti juga menemukan bahwa omega-3 dapat mengurangi risiko kegemukan dan membantu penurunan berat badan dengan memperlambat pencernaan, membuat merasa kenyang dalam waktu lama. Membantu juga mengendalikan kebiasaan ngemil yang dapat menyebabkan kenaikan berat badan, penyebab umum kenapa cepat merasa lelah. Pendongkrak mood Terakhir, asam lemak esensial ini juga membantu memperbaiki mood sehingga berguna menenangkan melawan keletihan yang terkait dengan masalah emosional. Saat makan Kacang-kacangan dan biji-bijian adalah jenis makanan yang bisa dibawa ke mana-mana dan diasup di sela-sela keisengan. Namun, konsumsi moderat adalah kunci menuai manfaat kesehatan dari kacang-kacangan dan biji-bijian. Prepack porsi tunggal membawa Anda pada siang hari dan menyimpan porsi dalam mobil serta meja, dompet atau tas kerja sehingga selalu memiliki snack sehat di tangan. Satu porsi adalah satu ons (sekitar palmful kecil) Siapkan saja satu saji (sekitar satu ons) buat camilan siang. Satu saji lagi buat persiapan menemani Anda di tengah kemacetan jalan. Satu saji lagi untuk persiapan sewaktu-waktu membutuhkan camilan—saat bosan menunggu klien yang datang terlambat, misalnya. bas/healthylife

Gereja Dibakar di Malaysia Karena Nama Allah

Peter Yewo pengurus Gereja Metro Tabernakel, terbata-bata menceritakan pembakaran gereja pada Jumat subuh di pertokoan Taman Desa Melawati, Kuala Lumpur. “Mereka memecahkan kaca dan melempar dua bom ke dalam gedung. Empat orang berbocengan mengendarai dua sepeda motor mendatangi lokasi gereja dan tidak lama berselang si pembonceng membakar gereja,” kata Peter. Bukan hanya Gereja Tabernakel yang dibakar, gereja Katolik The Assumption Petaling Jaya, barat daya Kuala Lumpur dan gereja Life Chapel juga dilempar molotov. Diduga, pembakaran tiga gereja itu buntut keributan pemakaian nama Allah oleh majalah Katolik The Herald edisi bahasa Melayu. Majalah ini terbit dalam bahasa Inggris dengan menyebut nama Tuhan dengan God atau Lord. Pemakain nama Allah ini pun mengundang protes dari organisasi masyarakat Islam pro Barisan Nasional di Masjid Kampoeng Baroe. Mereka menuntut majalah Katolik itu jangan lagi menggunakan nama Allah dalam penerbitannya. Walaupun diprotes pemakaian nama Allah, mereka tidak setuju dengan pembakaran gereja tersebut. “Saya sangsi apakah ini dilakukan umat Islam atau propaganda yang diatur pihak tertentu. Saya yakin, umat Islam tidak akan melakukan hal itu,” kata Arman Azha, pemimpin Pertumbuhan Pribumi Perkasa Malaysia. Arman Azha yang mengklaim didukung 83 ormas Islam, selama ini umat Islam tidak melarang umat Kristen, Buddha dan agama lainnya menjalankan kepercayaan mereka. “Tetapi, tolong juga hormati hak kami, sebab nama Allah hanya dikhususkan bagi Islam,” ujarnya. Persoalan ini sebetulnya sudah diputuskan pengadilan tinggi Malaysia untuk ditunda sampai ada keputusan hukum tetap. Sebab, pemerintah sudah melakukan banding atas keputusan pengadilan tinggi sebelumnya. Pengadilan tinggi akhir tahun lalu menolak tuntutan pemerintah melarang pemakaian nama Allah oleh agama lain. Larangan itu illegal dan tidak masuk akal. Kendati keputusan pengadilan sudah menguntungkan mayoritas di negeri jiran itu, ormas Islam masih bersikeras melakukan unjuk rasa. Perdana Menteri Nazib Razak yang meminta agar tidak ada pihak yang mengambil keuntungan atas situasi ini, tetap tidak digubris para pemimpin organisasi masyarakat. Akhirnya, Menteri Dalam Negeri Datuk Seri Hishammuddin, mengizinkan demonstrasi di Masjid Kampoeng Baroe. “Kami telah menghadapi situasi seperti sebelumnya, kalau tidak diizinkan akan menimbulkan reaksi emosional,” ujar Hishammuddin. Sebenarnya, Jaksa Agung Abdul Gani Patail yang melakukan banding senang atas keputusan pengadilan. Termasuk redaktur Herald, Romo Lawrence Andrew, bisa menerima keputusan pending tersebut. “Kami ingin hidup harmonis,” kata Romo. Walaupun dianggap menyuarakan kepentingan Islam, justru sikap ini tidak disetujui Partai Islam Se-Malaysia (PAS) Muhammad Ramli, sebagai bendahara partai, menilai kata Allah boleh saja digunakan agama mana pun. “Kata Allah sah dipakai siapa saja,” kata Ramli seperti disampaikan kepada Tempo. Apalagi Malaysia bukanlah negara Islam, melainkan anggota persemakmuran Inggris. Bila pemerintah memang ingin menyelesaikan kisruh ini, semestinya umat Kristen diajak bicara. Jalan paling baik musyawarah. Sambil membuktikan kepada masyarakat Kristen Malaysia bahwa pembakaran itu adalah tindakan kriminal. “Ungkap dan tangkap pelakunya,” katanya. Ramli justru heran, karena sikap melarang pemakaian nama itu dilakukan oleh pemerintah dan ormas pendukung partai pemerintah, UMNO. Dia tidak berani berspekulasi bahwa masalah ini merupakan isu politik yang diembuskan UMNO untuk memecahkan Pakatan Rakyat. Tapi, menurut dia, dari pernyataan pemerintah yang tidak bisa melarang demonstrasi dan organisasi yang melakukan unjuk rasa adalah yang dekat dengan partai pemerintah. Sebab, bila memang ingin menyelesaikan masalah bukan dengan cara demonstrasi. Cara ini hanya mengundang masalah baru, membakar emosi umat Islam dan non-Islam. “Umat Kristen yang gerejanya dibakar bisa saja melakukan tindak balasan,” tambah Ramli. Kata Allah Gereja Sidang Injil Borneo (SIB) melawan larangan penggunaan kata Allah untuk terjemahan Tuhan dalam bahasa Inggris. Gereja ini masih menggunakan keeping cakram padat (CD) untuk pelaksanaan misa saban Ahad. Pihak gereja memiliki enam kotak CD berisi bahan bacaan keagamaan yang menggunakan kata Allah. Menurut seorang pengurus SIB, Jill Ireland Lawrence Bill, pihaknya sedang mengupayakan agar dirinya diizinkan menyimpan cakram padat itu. Pihak gereja sudah mengajukan gugatan sejak 2007, tetapi sampai sekarang belum ada keputusan dari pengadilan. “Hak kami untuk terus menggunakan kata itu, kami telah memakainya sejak Malaysia belum merdeka,” kata Presiden SIB Daniel Raut kemarin kepada wartawan di luar pengadilan Kuala Lumpur. Kata Allah memang sudah lazim dipakai oleh penganut Kristen berbahasa Melayu. Jumlah mereka sekitar 9,1 persen dari 28 juta penduduk Malaysia, khususnya di negara bagian Sabah dan Sarawak, Malaysia Timur. Dua negara bagian ini menjadi basis dukungan bagi koalisi Barisan nasional yang berkuasa sejak Malaysia merdeka 52 tahun lalu. Pemerintah akan menghadapi penolakan dari kelompok Kristen di Sabab dan Sarawak lantaran isu ini tidak lagi sekedar masalah agama atau sosial, tapi telah menjadi komoditas politik,” ujar James Chin, profesor ilmu politik dari Monash University, Kuala Lumpur. Kasus terbaru ini juga akan makin memperuncing konflik warga Muslim yang mayoritas di Malaysia dengan komunitas Kristen. Sebelumnya, sembilan gereja dan satu sekolah Katolik diserang setelah Pengadilan Tinggi Kuala Lumpur mencabut larangan penggunaan kata Allah yang sudah berlaku tiga tahun. Pengadilan mengambulkan keberatan majalah Katolik berbahasa Melayu The Herald. Warga Muslim memprotes dengan alasan jika warga non-Muslim dibolehkan memakai kata Allah bakal membingungkan buat umat Islam. Karena itu, persoalan kata Allah ini akan menjadi ganjalan bagi Perdana Menteri Najib Razak untuk mengembalikan citra Barisan Nasional yang ambruk pada pemilihan umum Maret 2008. Ketika itu, isu diskriminasi terhadap warga India dan Cina mengemuka menjelang pemilihan. Hasilnya, dominasi mutlak Barisan Nasional runtuh setelah kubu oposisi yang dipimpin mantan wakil perdana menteri Anwar Ibrahim meraup 80 dari 222 kursi parlemen. Apalagi kalangan bisnis sudah menyatakan prihatin atas perkembangan isu itu. “ini bukan sesuatu yang sehat bagi persepsi soal Malaysia,” kata Nicholas Jeffreys, Presiden Dewan Perdagangan Amerika Serikat di Malaysia dalam jumpa pers, belum lama ini. Ditempak di depan gereja. Peristiwa yang berkaitan dengan kekerasan terhadap warga Kristen terjadi di Mesir. Lima penganut Kristen Koptik tewas dan 10 orang lainnya, termasuk dua warga Muslim cedera dalam aksi penembakan yang terjadi di depan sebuah gereja di Mesir bagian selatan. Serangan itu dilakukan bertepatan dengan hari yang disebut Koptik Malam Natal. Saat kejadian, kelima warga Kristen Koptik itu sedang meninggalkan Gereja Mary Gergis di kota Nagaa Hamady usai melakukan doa malam Natal. Secara tiba-tiba, sebuah mobil gelap berhenti di depan gedung dan para penyerang tak dikenal melepaskan tembakan. “Dua warga Muslim yang sedang lewat di depan gereja juga terluka,” kata sumber keamanan. Koptik Kristen di Mesir merayakan Natal pada 7 Januari. Pemeluk Kristen sekitar 10 persen di Mesir yang mayoritas penduduknya Muslim. Jumlah penduduk Mesir sekitar 80 juta jiwa. Kekerasan antarkelompok jarang terjadi di negara ini, namun sengketa keagamaan ternasuk masalah tanah dan wanita seringkali meletus. Nagaa Hamady terletak sekitar 60 kilometer dari Luxor, kota terbesar di bagian selatan Negara yang relatif kurang berkembang. Keamanan di sekitar gereja biasanya ditingkatkan pada musim Natal dan kegiatan keagamaan lain diliburkan untuk mencegah kekerasan antarkelompok. Sumber-sumber di Rumah Sakit Umum Qena mengatakan, dua dari 10 orang yang cedera dalam keadaan kritis. Semua yang dirawat terluka karena tembakan. bas/dari berbagai sumber

MANFAAT ASI

Seminar bertajuk “Advance Issues on Breastfeeding” yang diadakan belum lama ini, membahas manfaat air susu ibu (ASI) dan menyusui bayi secara dini. Pada kesempatan itu, Utami Roesli, Ketua Umum Sentra Laktasi Indonesia yang juga dokter spesialis anak, mengatakan, iniasi menyusu dini (IMD) masih relatif baru diperkenalkan di Indonesia. Berbeda dengan ASI eksklusif yang mulai disosialisasikan sejak 1980-an meskipun belum banyak dipraktekkan. Setelah lahir, bayi secepatnya dikeringkan tanpa menghilangkan kulit putihnya. Setelah tali pusat dipotong, bayi ditengkurapkan di dada ibu dengan kulit bayi melekat pada kulit ibu dan dibiarkan mencari puting susu ibunya. Kulit bayi dibiarkan tetap bersentuhan dengan kulit ibu selama satu jam agar menyusu sendiri. Selesai menyusu awal, bayi baru dipisahkan, biasanya untuk penimbangan. Begitu banyak manfaat yang dapat diperoleh dari IMD, antara lain; menjaga suhu tubuh tetap hangat, bayi mendapat kolostrum yang penting bagi kekebalan tubuh. Kolostrum merupakan cairan yang pertama kali dikeluarkan kelenjar payudara. Cairan itu mengandung sel darah putih dan antibody khususnya immunoglobulin (IgA) yang membantu melapisi usus bayi yang masih rentan. Pemberian ASI eksklusif idealnya diawali iniasi menyusu dini. Kemudian dilanjutkan air susu ibu eksklusif selama enam bulan. Jika memungkinkan, dilanjutkan hingga bayi berusia dua tahun. Berdasarkan penelitian Karen M Edmond di Ghana terhadap 10.947 bayi, membuktikan, IMD menurunkan angka kematian neonatus (bayi baru lahir) hingga 22 persen. Peneletian itu dipbulikasikan di jurnal “Peadiatric” pada 2006. Iniasi menyusu dini, juga merangsang produksi ASI, melatih bayi menyusu, mempererat kasih sayang ibu dan bayi dan meningkatkan kelangsungan hidup sang bayi. Kontak kulit bayi ke kulit ibu bermanfaat lantaran ibu dan bayi lebih tenang, pernapasan dan detak jantung lebih stabil. Bayi pun menjadi tidak rewel. Selain itu, bayi memperoleh bakteri tak berbahaya dari ibu, menjadikannya lebih kebal dari bakteri lain di lingkungannya. Bagi ibu, menyusui akan membantu pengeluaran plasenta dan mengurangi perdarahan. Dengan menyusui, kesuburan ibu akan menurun sehingga terhindar dari kehamilan dalam interval waktu singkat. Dokter spesialis anak dari Perhimpunan Peritanologi Indonesia, Asti Praborini, menayangkan adanya kekurangpahaman, termasuk di kalangan tenaga kesehatan yang menghambat pemberian ASI secara umum. Menurut Asti, ASI belum langsug keluar sesaat setelah persalinan sehingga petugas kesehatan segera memberikan susu formula. “Padahal sebetulnya tidak perlu demikian,” ujar Asti. Dia menjelaskan, saat berada dalam kandungan, bayi mendapat asupan melalui plasenta sehingga dapat dikatakan lambung berpuasa selama bayi di kandungan. Begitu lahir, kapasitas lambung bayi hanya sebesar kelereng. Bayi belum membutuhkan banyak ASI dan umumnya produksi air susu ibu baru melahirkan masih sedikit. “Setelah 10 hari kapasitas lambung mulai bertambah menjadi sebesar bola pimpong,” ujar Asti. Asti Praborini menambahkan, terkadang dibutuhkan beberapa hari baru produksi ASI lancar dan memadai jumlahnya. Jika ibu terus menyusui sekalipun air susu belum keluar, itu ikut merangsang produksi air susu. Kekhawatiran lain yang menghambat proses menyusui ialah berat badan bayi turun. Turunnya berat bayi selama enam hingga tujuh hari setelah dilahirkan merupakan hal normal. Pada hari ke-10 baru berat badan bayi mulai naik. Cara dan posisi menyusui yang salah kerap kali membuat bayi tidak nyaman sehingga menagis dan ibu menjadi stres membuat air susu terhambat. Kebanyakan bayi menyusui di puting ibunya sehingga bayi hanya mengisap sedikit air susu ibu dan puting menjadi lecet. “Saat menyusui sedapat mungkin seluruh areola (lingkar cokelat) masuk ke mulut bayi sehingga produksi ASI lebih banyak dan puting tidak sakit,” ujarnya Sedapat mungkin, menurut Asti, ibu harus berjuang memberikan ASI bagi bayinya. ASI tidak hanya mengandung komponen makronutrein seperti karbohidrat, protein dan lemak, tetapi juga mikronutrein, vitamin dan mineral. Kekentalan ASI pun sesuai saluran cerna bayi. ASI menyediakan semua yang dibutuhkan bayi pada masa-masa awal kehidupannya. bas/dari berbagai sumber

MENCEGAH PIKUN

Pikun atau suka lupa adalah penyakit alzheimer yang sering ditemukan pada orang tua berusia sekitar 65 tahun ke atas. Nama penyakit alzheimer berasal dari nama Dr Alois Alzheimer, dokter berkembangsaan Jerman yang pertama kali menemukan penyakit ini pada 1906. Dalam berbagai studi yang dilakukan terungkap orang yang memiliki otak dengan fungsi yang baik menunjukkan orang tersebut mempunyai masalah, sebanyak lima persen di antara orang dengan memori normal. Data yang dirilis Douglas Scharre juga mengatakan, tes tersebut bisa membantu orang mendapatkan perawatan yang cock untuk kondisi penyakit seperti alzheimer. Sejumlah peneliti sedang mengembangkan alat tes memori sederhana yang dapat membantu menentukan kapan seseorang menderita kepikunan dan masalah penalaran sinyal otak seperti penyakit alzheimer. Hasil penelitian yan dimuat dalam jurnal Alzheimer Disease and Associated Disordes ahli saraf Dr Douglas Scharre dari Ohio State University Medical Center, Amerika Serika, melaporkan, alat tes tersebut dapat mendeteksi hingga 80 persen orang dengan masalah otak dan memori ringan. Namun masalahnya, orang yang datang berobat tidak diawal diagnosis. Begitu juga pihak keluarga enggan membuat pengakuan terhadap penderita karena mereka tidak ingin mengetahui hal terburuk dari diri mereka diketahui. “Apa pun alasannya, ini patut disayangkan karena obat yang kami gunakan sekarang bekerja lebih baik dari sebelumnya,” kata Scharre seperti dikutip Healthday News.Com Scharre menjelaskan, tes tersebut dapat dilakukan secara tertulis. Tes ini dapat membantu orang yang tidak nyaman dengan teknologi seperti komputer. Tes ini hanya butuh waktu 15 menit untuk menyelesaikan dan tersedia bebas bagi para pekerja yang peduli kesehatan di www.sagetest.osu.edu. Mereka bisa mengikuti tes di ruang tunggu sambil menunggu dokter,”ujar Scharre. Tes abnormal ini, kata Scharre, dapat menunjukan peringatan dini bagi para keluarga pasien. Hasilnya dapat memberikan tanda bagi para pengasuh manula untuk mulai lebih intensif memantau kondisi pasien untuk memastikan keselamatan dan kesehatannya. Hal ini tentu akan memproteksi pasien dari para ‘predator’ finansial. Dalam studi ini, 254 orang berusia 59 tahun ke atas telah menjalani tes ini. Dari keseluruhan, 63 orang di antaranya memerlukan perawatan klinis secara mendalam untuk mengevaluasi level kemampuan kognitif. Studi lain menunjukkan, fakta bahwa orang dengan riwayat keluarga yang menderita alzheimer ternyata memiliki gumpalan protein beracun di otak mereka, bahkan meskipun mereka diketahui sangat sehat. Penelitian ini dilakukan oleh New York University Langone Medical Center, Amerika Serikat. Peneliti mengemukakan bahwa hasil temuan ini dapat mengarah pada cara-cara baru untuk mengindetifikasi orang yang paling memiliki kemungkinan tertinggi untuk menderita penyakit Alzheimer ketika masih ada waktu melakukan sesuatu. Lisa Mosconi dari New York University Langone Medical Center, mengharapkan, suatu saat kalangan medis dapat mendiagnosis dengan tepat dan jelas proses sebelum gejala-gejala alzheimer mucul ketika otak masih sehat. Maka perawatan akan memiliki kesempatan terbaik untuk sukses. Tim peneiliti terus mengikuti para partisipan dalam penilitian ini untuk melihat apakah mereka juga akan terkena demensia dan mereka ingin meniru temuan dalam sebuah studi yang jauh lebih besar. Sebagian tim telah bekerja pada acara yang lebih baik untuk mendeteksi stadium awal Alzheimer dengan harapan pengembangan obat yang bisa melawan sebelum menimbulkan kerusakan lebih jauh. Perawatan saat ini tidak dapat membalikkan jalannya otak penderita alzheimer, namun merampok pikiran sehingga menyebabkan demensia yang mempengaruhi lebih dari 26 juta orang di seluruh dunia. Tim peneliti Mosconi menggunakan teknik pencitraan yang disebut emisi positron tomografi atau PET dengan pewarna fluorescent yang disebut Pittsburgh Senyawa B. Senyawa ini menimbulkan gumpalan protein yang disebut amiloid beta yang merupakan ciri penyakit alzheimer. Tim peneliti mencitrakan otak dari 42 orang dengan usia rata-rata 65 tahun dengan fungsi otak yang sehat. Dari jumlah tersebut, 14 orang wanita yang menderita alzheimer, 14 orang tua dengan fungsi otak yang sehat. Scan otak dari 42 orang tersebut menunjukkan bahwa mereka yang orang tuanya, baik ayah tau ibu memiliki alzheimer lebih cenderung memiliki amiloid plak dalam otak mereka. Hal ini khususnya berlaku pada orang yang ibunya alzheimer. Mereka telah memiliki “deposito” 20 persen lebih banyak beta amiloid di otak mereka. “Dengan kata lain, mereka memiliki resiko hampir empat kali lebih besar untuk patologi beta amiloid,” ujar Mosconi. Temuan penelitian ini menegaskan kembali bahwa memiliki seorang ibu dengan alzheimer dapat menjadi factor resiko yang lebih besar untuk menderita alzheimer. Jika Anda memiliki ibu sejarah penyakit alzheimer, tambah Mosconi, resiko plak amiloid beta dan pengurangan aktivitis otak adalah jauh lebih besar dibandingkan dengan memiliki seorang ayah dengan kondisi yang sama. Setelah usia lanjut, masih menurut Mosconi, sejarah keluarga alzheimer adalah tunggal untuk meningkatkan factor resiko terbesar menyebarkan penyakit ini. Tidak semua orang yang memiliki plak amiloid beta dalam otak mereka berkembang menjadi penyakit alzheimer. Memiliki plak tidak meningkatkan resiko (alzheimer) Demensia adalah gejala kerusakan otak yang mengganggu kemampuan seseorang untuk berpikir, daya ingat dan fungsi berbahasa. Hal tersebut membuat pasien demensia kesulitan melakukan aktivitas sehari-hari. Tip pencegahan Makanan yang dikonsumsi sehari-hari sebaiknya menghindari penggunaan alat masak alumunium. Banyak mengonsumsi makanan yang mengandung Omega 3. Salah satu makanan yang banyak mengandung Omega 3 adalah ikan laut, seperti ikan tenggiri, bawal maupun tuna. Zat nerkuri (mercury) dan timbale (timbale) dapat mengurangi kemampuan saraf menyampaikan pesan ke otak, sebab itu, polusi udara dari kendaraan bermotor dan pabrik harus dihinari. Cara melatih memori dapat dengan membaca buku, mengerjakan teka teki silang (TTS) atau bermain catur. Intinya selalu asah kemampuan memori Anda untuk mencegah alzheimer. Gaya hidup sehat bisa dijalankan, misalnya dengan rutin berolahrga, tidak merokok maupun mengonsumsi alkohol. Mengonsumsi sayur dan buah segar. Hal ini penting karena sayur dan buah segar mengandung antioksidan yang berfungsi mengikat radikal bebas. Radikal bebas ini yang merusak sel-sel tubuh. Menjaga kebugaran mental (mental firness) Istilah ini mungkin masih jarang terdengar. Cara menjaga kebugaran mental adalah dengan tetaf aktif membaca dan memperkaya diri dengan berbagai pengetahuan. ( bas/dari berbagai sumber)

TEROR ATAS NAMA ALLAH

Beragama berarti santun, sejuk, toleran, aman dan damai. Ini yang dipahami sejak lama. Tapi tidak bagi sebagian orang yang mengaku umat beragama. Atau setidaknya, ada makna yang luput dari isi yang diajarkan atau memang sengaja diingkari sehingga berubah menjadi sangar dan mengerikan. Malah tak jarang berubah mendadak menjadi sosok beringas dan berprasangka buruk terhadap pemeluk agama yang berbeda. Tak bersahabat dan berupaya mencari kesalahan lalu mengarak massa untuk meluluhlantakkan yang yang dianggap berbeda. Ironis dan konyol. Apakah ini yang dimaksud Samuel P Huntington, bahwa aspek agama yang adalah roh peradaban, tetapi agama pulahlah yang banyak berperan dalam konflik antarperadaban. Lalu, agama tidak hanya berfungsi sebagai wacana spiritual yang menghadirkan rasa aman dan damai, tetapi agama juga bisa meletupkan konflik dan pertikaian ketika diinterpretasi sesuai dengan kepentingan sepihak umat atau kelompok agama. Agama adalah keyakinan terhadap yang transenden—yang melampaui segala sesuatu yang ada. Terhadap yang transeden tidak ada tawar-menawar—kecuali ‘ya‘dan ‘tidak’—selebihnya siap mati di jalan Allah? Sayang cara mati yang ditempuh adalah akibat pembelokan makna dari sifat religius yang damai oleh mereka yang menggap paling pintar dan menghafal habis dogma hasil penafsiran yang tak utuh dipahami. Belum lagi tokoh spiritual diposisikan sebagai “nabi” yang punya otoritas wahyu yang tak boleh dibantah oleh pengikutnya. Selalu benar dan tak boleh disanggah! Selain pola nalar yang keliru, campur-baur antara sentimen agama dan fanatisme golongan acap pemicu dendam kesumat terhadap umat yang berbeda. Anehnya, semua simbol yang dianggap berkaitan dengan agama tertentu juga disingkirkan dan dikafirkan? Bayangkan, “demokrasi” pun digugat. Ditolak habis-habisan! Dicerca dan disingkirkan jauh-jauh. Sebab, demokrasi disebutkan tidak cocok dalam peradaban Timur—demokrasi adalah perpanjangan tangan Barat. Terakhir, demokrasi adalah baju lain yang berisi ajaran Kristen? Lalu, demokrasi pun dituding memanjakan sifat hidup sekularisme. Demokrasi adalah alat pemerintah merangkul golongan minoritas untuk berkuasa di tengah kaum mayoritas. Kemudian, isu panas itu ditebar ke mana-mana, tak terkecuali ke akar rumput yang dianggap gampang tersulut akan kebencian yang tak ketulungan. Memang sekali waktu, menghadapi umat beragama susahnya minta ampun. Beringas, sadis, tak kelihatan sikap umat beragama. Soleh dan rajin meyebut nama Allah, tapi, galak terhadap manusia yang berada di depan pagar rumahnya. Karena agama dipahami sebagai keyakinan yang menyatu dengan jiwa, merasup dalam sanubari dan mengalir dalam darah yang bergelora. Siapa pun umat beragama, akan marah dan berupaya membela agamanya apabila dilecehkan orang lain. Sayang agama telah dirubah para pengikutnya menjadi suatu yang pradoks, menjadi kompensai menggiurkan, dihormati, dimanjakan, disanjung, dimaklumi dan selalu dihoramti istimewa. Kalau ingin aman sentoasa, yang lain pun harus tunduk pada rambu-rambu yang mereka kibarkan di suatu negara yang mayoritas pemeluk agama tersebut. Kalau memang itu yang terjadi, agama bukan lagi pilihan yang sangat pribadi, tapi menjadi alat kekuasaan untuk mencurigai keberadaan agama lain. Anehnya, kelompok keras agama tak pernah sepi sepanjang masa. Ingat misalnya penembakan etnis di California dan Illinois, 1999. Serangan terhadap keduataan Amerika di Afrika, 1998. Pemboman klinik abosrsi oleh seorang pastor di Albania dan Gerogia, 1997. Peledakan bom pada Olimpiade Atlanta. Penghancuran kompleks perumahan militer AS di Dhahran, Arab Saudi, 1996. Penghancuran bangunan federal di Oklahoma City, 1995. Peledakan WTC di New Yrok City, 2001.Pemboman di Bali, 2002. Pemboman beberapa gereja di malam Natal di Jakarta, 2000. Peledakan Hotel Mariott di Jakarta, 2003 dan 2008. Peristiwa ini memiliki keterkaitan dengan ekstrim keagamaan. Ini sebagai petunjuk, agama berpotensi memiliki kelompok keras, tidak terkecuali Islam, Kristen. Malah menurut Mark Juergensmeyer, yang sering mendorong terjadinya aksi-aksi terorisme adalah agama. Dalam sejarah tradisi-tradisi agama, mulai dari perang biblikal hingga Perang Salib dan aksi-aksi kemartiran, kekerasan menjadi suatu kenyataan yang samar-samar. Ia menjadikan agama kian gelap, simbol-simbol yang lebih misterius. Boleh jadi, kebencian terhadap agama lain akibat semangat keagamaan berlebihan yang berbelok ke arah penghasutan sebab menganggap agama orang lain acaman, sehingga perlu segera dienyahkan. Sikap menyalahkan agama orang lain dimiliki semua agama yang pada mulanya mereka peroleh dari tokoh spiritual yang dikultuskan sebagai wakil Tuhan. Bibit kebencian terhadap agama lain tumbuh ketika mereka belajar agama dari guru-guru yang menafsirkan salah ayat-ayat kitab suci. Apalagi ayat itu dianggap merendahkan kesucian agama tertentu, maka berbagai hal akan diupayakan menentang hal itu serta menyatakan sebagai musuh dan harus dilawan. “Kafir,” kata mereka. Teror atas agama adalah contoh di mana ajaran agama dimanipulasi oleh pemuka agama untuk tujuan tertentu yang diyakini sebagai penebusan dosa. Otoritas kebenaran dimanipulasi untuk melegitimasi rasa permusuhan terhadap orang yang berbeda agama. Bukan hal baru, pembunuhan dilakukan oleh orang saleh dan taat beragama, namun tidak merasa bersalah ketika ia mempropokasi kelompoknya melakukan kekerasan terhadap umat yang berbeda agama. Sebab itu, agama jangan lagi berjuang sendiri-sendiri, namun saling terkait dan bahkan harus saling mendukung, baik dalam dialog menuju keuniversalan kebenaan, keadilan, kasih serta menolak semua bentuk kekerasan. Bahkan sangat mulia apabila para pemuka agama, cendikiwan dan teolog ikhlas memperbaiki serta meluruskan ajaran agama pada sumber autentik dan akurat untuk suatu niat mewujudkan rekonsiliasi perdamaian serta menghalau cara menyuburkan permusuhan maupun perang. baharuddin

MEGHINDARI IBADAH TANPA ALLAH

Benarkah liturgi HKBP tidak menarik dan membosankan? Dari HKBP Tebet, Jakarta, berkumandang jawaban setelah digelar seminar bertajuk “Menggali Teologi Liturgi.” Empat narasa sumber yang dianggap kompeten di bidang liturgi diundang “menggalinya.” Dua orang dari HKBP selebihnya dari STT Doulos dan STT Jakarta. Mantan Ephorus HKBP, Pdt Dr JR Hutauruk misalnya, memahami tata ibadah dengan pendekatan historis sembari menyelusuri uraian yang pernah dilontarkan F Tiemeyer sewaktu ceramah tentang ibadah HKBP pada konfrensi tahunan para misionari Jerman (RMG) 1936 yang diselenggarakan di Padangsidimpuan. Selain F Tiemeyer, JR Hutauruk juga membongkar tata ibadah HKBP berdasarkan pengalaman IL Nommensen , PH Jonnnsen dan A Mohri. Soalnya, para misionaris ini diperkirakan punya andil yang tidak sedikit terhadap pengadaan sebuah tata ibadah di gereja Batak. Melalui historis yang ditorehkan F Timeyer inilah Hutauruk menyimpulkan bahwa dalam ibadah haruslah nampak Allah hadir dan bertidak mengundang, mengajar, menegus, menasehati, menguatkan menerima pujian, pengakuan dosa, janji penghapusan dosa, memberikan berkatNya dan akan mendapingi anggota jemaat pada kehidupan seharian mereka hingga kembali ke pangkuanNya di sorga. Dalam ibadah, kata Hutauruk, harus dijaga supaya jangan terjadi pengilahian (vergoetterei atau vergoettete elemente) dalam ibadah. Artinya, Allah tetap Allah dan manusia tetap manusia; jangan terjadi pergeseran batas antara hakekat Allah dan hakekat manusia. Bahkan hanya Allah sendiri yang sanggup menjebatani, bukan upaya manusia melalui kebaikan moral ataupun upaya lainnya. “Yang harus dihindari ialah ibadah tanpa Allah,” Hutauruk mengutip nasehat F Timeyer. Selain itu, ibadah bukan melulu pemberitaan ajaran dan firman Allah, juga jangan dijadikan menjadi suatu buku hukum (aliran ortodoksi) sebab Roh Allah berhembus ke mana Dia inginkan dan tidak dapat dikendalikan oleh siapa pun dalam ibadah Injili. Harap dimaklumi, dalam setiap ibadah hanya mengandalkan anugerah Tuhan, bukan mengandalkan yang lain. Bagi JR Hutauruk, mengkaji ulang atau merevisi tata ibadah HKBP boleh-boleh saja, asal jelas tampak hubungannya dengan Allah dalam tata ibadah. “Landasan pokok yang satu ini tidak bisa ditawar-tawar—yaitu hubungan dengan Allah,” tegas Hutauruk. Ia menambahkan, HKBP pada usia menjelang 150 tahun (1861-2011) sudah saatnya merumuskan kembali teologia apa yang pas sebagai dasar tata ibadah, supaya HKBP benar-benar gereja yang inklusif, dialogis dan terbuka sesuai visi dan misinya. Sedangkan mengenai ibadah alternatif yang belakangan ini marak, JR Hutauruk pun maklum, namun dia tidak setuju kalau pengalaman manusia yang menonjol dalam ibadah. Prinsip-prinsip yang diuraikan Pdt JR Hutauruk disinggung juga dalam makalah “Teologi Liturgi Gereja Evanggelical (Kharismatik)”yang disajikan Pdt Mariana Tri Tjahyono MTh. Prinsip pokok ibadah Kristen, menurut Pdt Mariana, yaitu penyembahan harus sesuai dengan penyembahan diri Allah di dalam putraNya, hal itu sesuai dengan pola Perjanjian Baru begitu juga dalam tradisi Perjanjian Lama. Dalam beribadah harus tampak unsur persembahan korban atau korban syukur terhadap Allah—ucapan bibir memuliakan namaNya. Mariana yang juga dosen STT Doulos Jakarta ini mengakui, ibadah Injili adalah ibadah yang tidak kaku. Nyanyian adalah pujian kepada Allah, sebab itu harus dinyanyikan secara hidup tanpa “memaku” pandangan kepada teks atau buku nyanyian. Hampir sama dengan ibadah kharismatik—ibadah dikaitkan dengan gerakan tubuh seperti mengangkat tangan, doa lantang, tepuk tangan, bernyanyi keras, melompat-lompat. Biasanya diiringi musik atau band, bernyanyi keras dan berbicara dalam bahasa lidah. Ciri lain ibadah Injili, yaitu kebiasaan ekspresi liguistik dan pemilihan kata-kata yang popular, seperti; marilah kita memberikan tepuk tangan, marilah kita menaikkan puji-pujian, kemudian jemaat menjawabnya dengan; “amin,” “haleluya,” “puji Tuhan.” Mariana menjelaskan, ibadah bukan hanya meliputi perasaan, tetapi bagaimana umat Tuhan mempersembahkan tubuhnya sebagai persembahan yang hidup, kudus dan berkenan kepada Allah. “Karena itu, setiap ibadah adalah menghormati kehadiran Allah,” ujarnya. Tidak jauh berbeda dengan sajian Pdt Dr Yonky Karman, sama-sama menyoroti tata ibadah gereja dari sudut teologi liturgi. Ia berpendapat, liturgi bisa menjadi perangkap sehingga umat tidak menyembah dalam roh kebenaran (Yohanes 4:24) Ibadah berlangsung secara lahiriah saja (ritualisme, eksternalisme) tanpa melibatkan Tuhan sebagai realitas hidup di balik hidup. Sebagai reaksi kepada ritualisme, masih pendapat Yonky, ada ekstrem lain yang mengambinghitamkan liturgi sebagai pangkal disfungsi ibadah. Seolah realitas ibadah semata-mata bersifat rohani (sipritualisme) Liturgi terstruktur dianggap menghalangi ungkapan iman. Lalu, pembaruan liturgi dilakukan dengan semangat anti formalisme. Liturgi tradisional ditolak begitu saja. Ibadah yang baik dimaknai sebagai tidak terikat liturgi, bebas dan tergantung pimpinan roh. Yonky Karman pun setuju kalau liturgi memakai bahasa kehidupan umat, dinamis serta mewakili aspirasi otentik penyembah dan sekaligus membentuk kehidupan penyembah. Dia justru tidak sependapat dengan bahasa liturgi yang terkukung dalam sipritualisme yang dibuat jinak, seperti yang berkembang di Barat. Sebaiknya, kata Yonky, liturgi harus didominasi suara yang mewakili Allah dan harus diamini jemaat. Sebab, teologi yang terlalu menekankan kedaulatan Tuhan malah menghasilkan liturgi yang menempatkan Tuhan di tempat yang sangat tinggi nun jauh di sana. Itu artinya, Tuhan yang tidak tertarik dengan keseharian penyembah. Simak juga bagaimana Pdt Bonar H Lumbantobing MTh, dosen STT-HKBP Pematangsiantar ini memahami suatu liturgi. Memahami liturgi harus ditelisik apa yang menjadi dasar teologia dan sejauh mana ajaran reformator mewarnai liturgi itu sendiri. Hal penting dalam ibadah, ini diuraikan Bonar dengan membandingkan tata ibadah ajaran reformator, liturgilah membentuk jemaat, bukan jemaat membentuk liturgi. Landasan pokok liturgi adalah Allah dan Yesus Kristus dalam Roh Kudus. Manusia sendiri tidak menjadi perhatian dalam liturgi. Itu sebabnya, selera manusia dalam beribadah (merayakan liturgi) bukan penentu dalam suatu kebaktian. Begitu juga kebutuhan manusia juga tidak membentuk liturgi, tetapi liturgilah membentuk dan mempengaruhi apa yang seharusnya menjadi kebutuhan manusia. Namun Bonar mengakui, seluruh tata ibadah yang disusun reformator, rata-rata berumur pendek. Tetapi, tata ibadah yang disusun jemaat dengan prinsip reformator tersebut justru bertahan lama. Itulah sebabnya Bonar Tobing mengingatkan, supaya hati-hati terhadap tuduhan yang mengatakan liturgi salah, monoton, lalu buru-buru merubahnya. Seandainya pun tidak ada liturgi, ibadah tetap jalan, bukan liturgi satu-satunya penopang kekristenan. “Yang jelas, liturgi membentuk budaya, bukan budaya membentuk liturgi. Bahkan kekuatan sautu liturgi terletak pada daya tahannya,” ucap Bonar. Ibadah, masih menurut Bonar Lumbantobing dengan mengutif dasar ajaran Martin Luther, ibadah dan iman adalah sinonim (bersamaan-red) Demikian juga Allah dan ibadah saling terkait, Allah yang menjelaskan diriNya (Deus revalatus) adalah Allah yang ditonjolkan dalam ibadah (Deus praedicatus) adalah sekaligus Allah yang dipuja (Deus cultus) Jadi Allah yang tersingkap adalah Allah mimbar dan altar. Allah yang disembah dibungkus dalam bentuk manusia (Deus cultus, involution in humanities) itulah firman menjadi daging yang nyata dalam babtisan dan perjamuan kudus. Bonar juga membicarakan tata ibadah HKBP dari sudut teknis. Seperti urutan-urutan tata ibadah dan kapan waktunya boleh masuk koor dalam ibadah. Misalnya, pada saat votum, hukum taurat (patik) dan pengampunan dosa (manopoti dosa) tidak boleh ada koor, sebab wilayah ini adalah “jatah” Tuhan yang tidak boleh diganggu-gugat. Demikian juga koor yang dinyanyikan harus sesuai dengan tema Minggu atau kotbah, karena ibadah mulai dari awal sampai akhir dikemas dalam satu kesatuan, tidak terpotong-potong. Rangkain ibadah mulai pembukaan (votum) hingga berakhir harus sinkron, seirama dan saling berkaitan sampai umat menerima berkat dari Tuhan. baharuddin s

RUMAH PENGADUAN PEMBOHONG PUBLIK

“Badan Pekerja Gerakan Tokoh Lintas Agama Melawan Kehobongan” membuka 18 rumah pengaduan pembohongan publik di Jakarta dan di daerah untuk menampung pengaduan dari masyarakat. “Kami membuka rumah pengaduan ini untuk menerima pengaduan yang dirasakan masyarakat sehinngga tidak perlu perdebatan lagi ada kebohonangan atau tidak,” ujar Fajar Riza Ul Haq, juru bicara Badan Pekerja Gerakan Tokoh Lintas Agama Melawan Kebohongan, dalam jumpa pers di kantor Maarif Institute, Jakarta, baru-baru ini. Fajar menjelaskan, pendirian rumah pengaduan pembohongan itu menindaklanjuti kekecewaan tokoh lintas agama atas pertemuan mereka dengan Presiden Susilo Bambang Yudhoyono di Istana Negara, Januari lalu. Rakyat yang mengetahui dan memiliki data pembohongan bisa melaporkan ke rumah pengaduan. Anggota badan pekerja M Deddy Julianto menambahkan, rumah pengaduan itu dibuka atas permintaan masyarakat. “Kami tidak punya ambisi apa-apa, hanya sebagai badan pekerja merangkum pengaduan dari masyarakat dan kita serahkan kepada tokoh agama,” jelas Deddy. Adapun ke-18 rumah pengaduan itu adalah di kantor Maarif Institute Jakarta, Maarif Insitute Sleman, Pemuda Muhammadiyah, Cabang Panawuan Garut, PGI, Jalan Salemba 10, Jakarta, Jaringan Advokasi Tambang (Jatam) Jakarta dan perwakilannya, Institut Hijau Indonesia, Walhi Jakarta dan perwakilannya, Migrant Care, Institut for Ecosoc Right, PP Perhimpunan Mahasiswa Katolik Republik Indonesia (PMKRI) dan perwakilannya, DPP Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah (IMM) dan perwakilannya, Noercholis Majid Society, Koalisi Rakyta untuk Keadilan Perikanan (Kiara) Posko Korban Lapindo, ICW, Konferensi Wali Gereja Indonesia (KWI) dan The Wahid Insitute. Rumah pengaduan kebohongan juga akan dibuka di Bandung, Surabaya, Semarang, Kalimantan Selatan dan daerah lainnya. Para tokoh lintas agama akan melakukan dengar pendapat dengan masyarakat di beberapa kota. Dengar pendapat perdana akan digelar di Yogyakarta. bas/mi

Demokrasi Paman Sam Inspirasi Dunia

Pada musim gugur, 1963, di negeri Paman Sam (Amerika Serikat) Martin Luther King Jr merajut mimpi. Mimpi itu dihamparkan lewat pidato yang amat menggetarkan seantero Amerika. Pidato yang sangat berani dibungkus pesan tentang masa depan warga kulit hitam di AS. “I have a Dream.” Martin Luther King Jr, bermimpi melihat anak-anaknya suatu hari nanti hidup di suatu negara yang mampu menilai mereka tidak dari warna kulit, melainkan dari kepribadian dan watak. Ia juga bermimpi orang hitam pergi ke kolam renang, ke toilet umum dan naik bus tanpa harus duduk di kursi paling belakang. Untuk mimpi ini, King pun rela membayarnya dengan nyawa demi suatu harapan. Pejuang persamaan hak bagi kulit berwarna ini dibunuh lantaran mimpinya cukup mengganggu kenyamanan kelompok masyarakat rasis. Setelah 45 tahun, mimpi itu benar-benar menjadi kenyataan. Adalah Barack Obama yang mewujudkannya dengan pidato yang menggetarkan, bergerak dengan semangat perubahan. Ia sosok yang dikagumi, bukan hanya oleh negerinya sendiri, tetapi di belahan dunia.” Tidak ada yang tak mungkin terjadi di Amerika ini,” ucap Obama yang pernah tinggal di Menteng Dalam, Jakarta ini. Barack Obama dari Partai Demokrasi mengukir sejarah. Ia terpilih sebagai Presiden Amerika Serikat ke-44 dengan mengusung isu perubahan—“Change We Believe In.” Pemilihan yang cantik, melalui vote yang dikemas rapi sehingga Amerika berhasil memperagakan sistem demokrasi yang pantas ditiru. Tidak ada huru-hara menghadang saat Obama dinyatakan menang. Hebatnya, John McCain yang kalah dengan ikhlas mengakui kekalahannya dan menghormati hasil pemilihan tanpa melakukan protes, apalagi meminta pemilihan diulang kembali. Tidak lama berselang, John McCain tampil di hadapan pendukungnya dan meminta supaya mendukung Barack Obama memimpin AS. Salut! Bagaimanapun, Amerika sudah menyuguhkan contoh berdemokrasi yang berpihak kepada rakyat dan sekaligus sistem demokrasi di negeri Paman Sam ini mengilhami dunia, termasuk Indonesia. Kendatipun Amerika negara yang dihuni penduduk beragam; multiras, multietnis, multiagama dan multibudaya namun pemilihan presiden berlangsung santun dan elegan. Prinsip siap kalah dan siap menang patut ditiru. Sikap seperti itulah yang mendesak harus dilakoni para elite politik di Indonesia, apalagi dalam pemilihan kepala daerah di negeri ini, tiada pemilihan tanpa kericuhan. Brutal dan anarkis. Malah, ada yang ngotot membawa perkara ke Mahkamah Konstitusi karena kalah suara. Memang pengalaman bangsa ini berdemokrasi belum banyak dibanding Amerika Serikat, tetapi janganlah itu dijadikan alasan untuk terus berkubang dalam sifat arogan dan picik. Sangat memalukan, setiap penghitungan suara Pilkada selalu berakhir ricuh. Bukan hanya saling lempar batu, tapi fasilitas pun ikut dibakar dan dihancurkan. Paling konyol, massa masing-masing pendukung mendadak menjadi kerumunan yang kalap dan hilang kendali (lawless crowds) Kadar intelektual melorot ke titik nol, lalu bertingkah seperti gembel. Tidak jelas apa yang hendak diperjuangkan, selebihnya pola pikir yang ngaur tak keruan. Thomas Hobbes, filsuf Inggris, yang terkenal dengan gagasan bidang sosial politik (Leviathan) sudah mengingatkan, manusia yang tidak mempergunakan nalar atau pemikiran dengan tertib akan terperangkap ke dalam sifat bermusuhan. Karena dalam keadaan alamiah, kehidupan manusia didasarkan pada keinginan yang mekanis, sehingga manusia selalu saling berkelahi. Manusia, kata Hobbes, pada dasarnya hanya memikirkan kepentingan diri sendiri, segala tindakan manusia mengarah pada pemupukan kekuasaan dan hak milik (homo homini lupus) Supaya terhindar dari sifat suka berkelahi (ricuh-pen)harus ada pemerintah yang berwiba menengahinya. Sesungguhnya, bukan hanya pada tingkat Pilkada gelagat yang kurang bersahabat dapat disaksikan. Pada pemilihan presiden pun ketidaksiapan kalah dan menang masih dipertontonkan di negeri ini. Gara-gara kalah jadi presiden, hubungan silaturahmi pun mendadak kurang “mesra,” tidak saling tegur sapa—tidak mau ketemu. Lucunya lagi, berlanjut ke arah saling menjegal dan menjelekkan bahkan sering mengungkit-ungkit kelemahan lawan yang selanjutnya dijadikan isu pelaris kampanye politik 2009. Sungguh naif dan membuat geleng-geleng kepala menyaksikan cara kita berdemokrasi. Apakah ini sebagai tanda, pemahaman kita tentang demokrasi masih sebatas wacana? Belum mampu menyentuh hakekat demokrasi yang sejati—hanya menempal di atas kulit—belum menyatu dengan siprit nasionalisme yang selama ini didengung-dengungkan. Sikap gemar menjelekan dan menjegal dari para elite politik khusus bagi yang bermimpi jadi presiden republik ini juga dipertontonkan dalam iklan di media elektronik. Hampir semua Capres yang ditayangan di iklan itu menyalib di wilayah kelemahan lawan. Berlomba-lomba menyebar pesona kepada petani, kaum miskin, nelayan sereta saling mendahului menarik simpati. Tidak soal biaya menggarap dan tayang iklan itu miliaran rupiah. Dari segi kemasan dan materi, iklan itu cukup berhasil menggugah, maklumlah mengatasnamakan orang miskin, kaum melarat dan terpinggirkan. Pokok semua berpihak pada rakyat miskin. Mudah-mudahan bukan hanya dalam iklan kampanye Capres berpihak kepada rakyat kecil. Tidak salah apalagi malu, rakyat Indonesia belajar dari Amerika soal sistem demokrasi. Keberhasilan warga Amerika Serikat merawat kebhinekaan serta menghormati demokrasi bisa menjadi inspirasi bagi warga dunia, tidak terkecuali Indonesia. Negeri Paman Sam ini sudah membuktikan prinsip utama sistem demokrasi tergantung kepercayaan rakyat yang bebas mengutarakan pendapat. Mereka tidak lagi melihat warna kulit, minoritas atau mayoritas tapi semua dinilai dari kemampuan dan kelayakan berdasarkan logika obyektif bukan melalui kerangka berpikir yang subyektif—lantaran satu agama, satu suku, kerabat dan konco, misalnya. Amerika menunjukkan kepada warga AS dan dunia suatu kampanye pemilihan presiden yang menarik, hasilnya pun mencengangkan dunia. Barack Obama keturunan Afrika-Amerika, ayah kandung dari Kenya itu menjadi orang nomor satu di Amerika—baru pertama kali dalam sejarah kepresidenan AS sejak merdeka 232 tahun silam, presiden kulit hitam masuk ke Gedung Putih. Luar biasa! Kemenangannya pun disambut hangat dengan damai. Lantas, sistem demokrasi di negara Paman Sam ini menjadi inspirasi bagi warga dunia terutama Indonesia. baharuddin silaen pengajar di fisipol uki dan fikom umb jakarat

OBAMA DI KAIRO

Presiden Amerika Serikat Barack Hussein Obama mengajak warga Timur Tengah serta dunia Islam bersama-sama membuka babak hubungan baru. Ajakan itu ia lontarkan di depan sekitar 3000 hadirin yang memadati Auditorium Universitas Kairo, Mesir belum lama ini. Aplaus berkali-kali membahana tatkala Obama empat kali menyetir Al-Quran dalam pidato yang dibuka dengan sapaan assalamualaikum. Sekitar satu jam dia berdiri di podium dengan sikap percaya diri, berupaya membentangkan benang kusut—hubungan Amerika dan dunia Islam—yang kadang kala terperosok ke dalam lorong gelap. Dalam pidatonya yang mempesona dia mepertegas—Islam sejatinya bagian dari Amerika. Sayang, deretan panjang pertikaian telah meretakkan, bahkan tidak jarang harus memutuskan tali silaturahmi Amerika Serikat dengan para sohib di timur jauh. Satu per satu, pertikaian itu dipaparkannya; mulai tragedi 11 September yang membunuh 3000 orang lebih warga Amerika, perang Irak dan perang Afganistan, peristiwa berdarah Palestina Israel, penjara Guantanamo yang menyekap sebagian besar warga Muslim dan senjata nuklir Iran. Memang Obama sendiri tak menyangkal keakraban Israel-Amerika yang mustahil dipisahkan. Tapi dia mengingatkan Israel, hak hidup bangsa Palestina adalah kemustahilan. Ia pun memohon permukiman Yahudi di tanah Palestina harus diakhiri. Tepuk tangan pun bergemuruh, ada 25 kali aplaus memeriahkan pidato Obama dan ucapan I love you dialamatkan kepada sang kampiun asal Kenya, Afrika itu. “Saya datang mencari awal baru bagi Amerika Serikat dan umat muslimin di seluruh dunia. Maka segala permusuhan sebaiknya disudahi saja, ” ujar Obama yang pernah tinggal di Menteng, Jakarta. Tidak lupa ia mengusulkan kepentingan mitra setara yang saling menghormati agar menjadi landasan kokoh terhadap hubungan baru Amerika-Islam. Obama dalam pidatonya menyinggung tujuh pokok penting yang ditawarkan kepada dunia Islam untuk dihadapi bersama: terorisme, konflik Israel-Palestina, senjata nulkir, demokrasi, kebebesan beragama, hak-hak wania dan pembangunan ekonomi. Khusus sikap Amerika terhadap teroris, Obama menyerukan kepada dunia Islam dari Kairo, “Amerika tidak akan pernah memerangi Islam.” Kemudian dia mengutip Quran untuk melukiskan bahwa Islam sesungguhnya menolak kekerasan. Kembali tepuk tangan bergemuruh di dalam Auditorium Universitas Kairo yang dihadiri pejabat tinggi Mesir dan Amerika, petinggi militer, akademisi, wartawan dan tokoh oposisi utama dari Ikhwanul Muslim. Pidatonya di Kairo seolah-olah mengetuk pintu dunia Islam, lalu mencoba meruntuhkan hegemoni kaum Republikan (George W Bush) yang dianggap menelorkan banyak masalah di kawasan Timur Tengah. Sebutlah misalnya; invasi ke Irak pada 2003, skandal penyiksaan dan penghinaan para tahanan Muslim di penjara Abu Gharib di Irak, embargo ekonomi dan senjata hingga pendudukan tak berdasar terhadap negara lain. Begitu pula Iran, yang ikut babak-belur dilindas embargo ekonomi karena urusan senjata nuklir. Namun, pidato Obama di Kairo, ternyata tidak semua pihak menerimanya dengan senang hati. Buktinya, komentar mengalir dari sejumlah musuh lama Amerika. Salah satu Ayman Taha, juru bicara Hamas dalam wawancara dengan kantor berita Inggris BBC mengeritik Obama. “Pidato Obama yang memerangi ekstrimis dan melontarkan isu dua Negara Palestina-Israel tak ada bedanya dengan kebijakan Bush,” ujarnya. “Dunia Islam tak membutuhkan khotbah. Yang kami perlukan adalah perubahan fundamental sikap Amerika terhadap Israel yang mengagresi Libanon dan Palestina,” kata Hassan Fadlallah, tokoh penting Hizbullah Libanon. Selepas berpidato Obama menyampaikan pernyataan kepada wartawan. Obama mengakui, dia adalah penganut Nasrani—juga pendukung kuat demokrasi dan hak asasi manusia. Karena itu ia adalah bagian yang tidak terpisahkan dari segala upaya memperjuangkan masyarakat pluralistik dapat hidup bersama. Ia yakin bahwa apa yang diyakinya dapat hidup di dunia yang interdependen sekarang ini. Tempat berbagai keyakinan yang berbeda harus hidup bersama. “Kita membutuhkan keyakinan yang dewasa—saya sangat meyakini keyakinan saya, tapi saya menghormati kenyataan bahwa bahwa orang lain juga dapat meyakini keyakinannya yang berbeda.” Agar kerinduan hidup bersama itu dapat dirasakan, menurut Obama, harus ada kesepakatan mengenai satu sistem politik yang menghasilkan aturan tentang bagaimana hubungan bersama dilakukan. “Saya tidak bisa memaksakan ketentuan agama saya berlaku pada orang lain. Tidak boleh memobilisasi pihak mayoritas mendiskriminasi kalangan minoritas. Saya tidak bisa mengambil aturan dalam suatu agama dan menerapkannya kepada penganut agama lain,” ujar Obama. Tapi jangan silap, tambah Obama, bukan berarti saya tidak dapat melontarkan argumen berdasarkan keyakinan saya. Contoh, sebagai penganut Nasrani, saya percaya perintah Tuhan tentang larangan tidak boleh membunuh. Sebagai politikus saya mengupayakan undang-undang yang melarang orang membunuh. “Ini bukan berarti saya memaksakan keyakinan agama saya, melainkan memperjuangkan nilai moral yang mungkin diterima juga pihak lain karena bersifat universal,” jelasnya. Dalam wancara itu, Obama meminta umat Islam merenungkan soal keyakikan secara benar dan tepat. Misalnya, tentang syariah. Ia menyadari tidak semua agama punya pandangan sama tentang bagian mana dalam ajarannya yang layak diterapkan pada hukum sekuler. Tetapi, kalau ada yang memaksakan ajarannya harus dijalankan oleh penganut agama atau kelompok lain, ini jelas bertentangan dengan semangat demokrasi. Boleh jadi menyebabkan terjadinya instabilitas, bahkan perilaku destruktif di tengah masyarakat.”Ini adalah hal penting yang perlu diperdebatkan secara internal di kalangan penganut Islam,” ucapnya. Dari pernyataan Obama yang perlu dipahami dan direnungkan saat ini, apabila ada yang merasa dibenarkan oleh agamanya untuk membunuh orang lain, pasti ia telah keliru memahami ajaran agamanya. “Saya kira ini adalah persoalan yang perdebatannya sudah selesai bagi kebanyakan orang, tapi masih ada kelompok kecil yang berpotensi desrtruktif.” Memang sulit dimengerti, kenapa agama merestui pembunuhan terhadap orang lain, bahkan dipermaklumkan karena dianggap di jalan Tuhan. Beberapa buku yang ditulis pemikir Barat seperti Samuel P Huntington, “The Clash of Civilizations and the Remaking of World Orde” dan Mark Juergensmeyer, “Terror in The Mind of God” membeberkan latar belakang pandangan yang keliru itu. (Kedua buku ini sudah diterjemahkan ke bahasa Indonesia) Samuel P Huntington misalnya, mengurai hubungan Amerika-Islam yang hingga saat ini belum akur, ia melihat akar persoalan—Islam merasa khawatir dan takut akan kekuatan Barat serta ancaman yang ditujukan kepada masyarakat dan keyakinan (agama) mereka. Mereka menggangap, kebudayaan Barat bersifat materialistik, korup, dekaden dan immoral. Mereka juga melihat sebagai kebudayaan yang sangat memikat, sehingga mereka melakukan pelbagai upaya agar tidak berpengaruh terhadap way of life mereka. Serangan yang dilakukan oleh umat Islam terhadap Barat, menurut Samuel, bukan menyerang sesuatu yang tidak sempurna, agama sesat, yang dipandang bukan sebagai “agama kitab” tetapi menyerang seluruh agama. Karena, di mata umat Islam, sekularisme Barat, irreligiusitas dan immoralitas merupakan kejahatan-kejahatan” yang diajarkan Kristen Barat. Tidak jauh beda dengan pandangan Mark Juergensmeyer, malah lebih terbuka menilai “perang ilahi” yang melekat pada semua agama baik Islam, Kristen maupun Hindu, Budha dan Yahudi. Dari contoh-contoh kekerasan agama yang diangkat Mark, kecenderungan kekeliruan itu terletak pada penafsiran yang salah atas ayat-ayat kitab suci, baik oleh pemimpin agama maupun para pengikutnya. Bukan tidak mungkin pelaku teror merasa aman berlindung di balik otoritas kitab suci, seolah-olah kekerasan yang dilakukan adalah mandat dari Tuhan, sehingga mati pun rela demi membela agama Tuhan. “Dalam banyak kasus, gambaran-gambaran ini bukanlah hal baru, tapi merupakan bagian dari warisan tradisi keagamaan yang membentang ke masa lalu. Banyak contoh-contoh peperangan yang dapat ditemukan dalam teks-teks suci,” tulis Mark Juergensmeyer. Memang, menafsirkan ayat-ayat kitab suci dibutuhkan kejernihan berpikir di atas segala-galanya. Mahir melihatnya dari berbagai asfek kehidupan termasuk dimensi tempat, ruang dan waktu. Penulis pengajar di Fisipol UKI dan Fikom Universita Mercu Buana Jakarta

OH, MALAYSIA

Belakangan ini kebencian warga Indonesia terhadap negara jiran Malaysia terus memanas. Pasalnya, mereka tidak terima sikap Malaysia yang mencaplok karya anak bangsa, bahkan memanfaatkan produk budaya Indonesia demi kepentingan parawisata. Gara-gara ulah itu, caci maki pun berhamburan yang diikuti pembakaran bedera Malaysia. Luapan kekecewaan tidak berhenti sampai di situ, tapi masih terus berlanjut hingga merazia warga Malaysia. Dapat dimaklumi, sikap Malaysia mungkin mengecewakan sebagian masyarakat Indonesia. Ulah negara tetangga ini sudah tidak ketulungan, menzalimi produk budaya Indonesia, termasuk “menyatroni” batik, lagu “Rasa Sayang,” reog Ponorogo dan tari Pendet dari Bali. Tetapi, kuranglah tepat apabila rasa jengkel itu dilampiaskan dengan melakukan razia tehadap warga Malaysia. Apalagi kejadian itu tidak lepas dari keteledoran kita selama ini. Maklum, kita tidak pernah serius melindungi seni budaya bangsa. Kita terlalu santai, seolah-olah tidak akan pernah terjadi apa-apa. Begitu ada yang mengklaim produk budaya kita hasil karya Malaysia, barulah kita kalang kabut dan saling menyalahkan. Baik direnungkan, aksi yang dilakukan seperti Benteng Demokrasi Rakyat di Jakarta, merazia warga Malaysia hanya memperparah hubungan Indonesia dengan Malaysia. Dampaknya, ketertiban umum terganggu bahkan bangsa ini akan dituding kurang beradab. Bangsa yang terkenal ramah dan beradab ini boleh jadi mendadak kurang populer di mata dunia, lantaran menyelesaikan persolan terkesan berlebihan (overacting) Sebab itu, pemerintah harus bersikap tegas terhadap kelompok yang bertopeng nasionalisme tapi justru keluar dari koridor peraturan yang berlaku. Razia jelas melanggar ketertiban, soalnya warga negara Malaysia yang tinggal di Indonesia dilindungi oleh hukum. Mereka datang ke negeri ini tentu seizin pemerintah Indonesia. Tidak boleh tidak, keselamatan mereka pun harus dijamin pemerintah. Bayangkan, kalau terjadi aksi balas dendam terhadap pekerja Indonesia di Malaysia. Harap diingat, ada 1,8 juta tenaga kerja Indonesia (TKI) di negeri itu. Apakah mereka tidak cemas jika warga Malaysia membalasnya dengan perlakuan serupa? Sangat disayangkan, aksi yang tidak pantas terus-terusan kita pamerkan kepada dunia setiap menyelesaikan masalah. Bukan hanya Benteng Demokrasi Rakyat yang demo, mahasiswa pun tidak mau ketinggalan. Lihat saja misalnya, demontrasi yang dilakukan kelompok mahasiswa Universitas Gajah Mada, Yogyakarta. Mereka meminta mahasiswa Malaysia keluar dari kampus. Jangan dianggap aksi itu tidak berbahaya. Dunia pendidikan akan terkena imbas, mahasiswa asing jadi takut kuliah di negeri ini. Begitu pula ekses lain akan terasa pada dunia parawisata. Terus terang, kejadian ini menjadi preseden buruk bagi dunia pariwisata yang tengah dibenahi pemerintah saat ini. Parawisata kita yang sempat ditinggalkan wisata asing, sedang dilakukan upaya-upaya untuk mengembalikan kepercayaan masyarakat dunia setelah bangsa ini beberapa kali dirundung tragedi yang mengerikan termasuk bom Juli di Hotel Marriott, Jakarta. Banyak cara yang santun dan beradab bisa dilakukan terhadap Malaysia yang mengaku produk seni budaya kita milik mereka. Tidak musti merazia, masih tersedia jalur lain yang bisa ditempuh. Jangan dianggap menolak razia terhadap warga Malaysia tidak nasinalistik. Bukan pula, kita rela produk budaya kita “diembat” pihak lain. Kita memang kecewa, tapi rasa kecewa itu bisa disalurkan dengan berbagai upaya seperti merawat dan melindungi seni budaya Indonesia. Bahkan untuk menyelesaikan sengketa budaya sudah ada wadah yaitu Eminent Person Group, dibentuk atas persetujuan Indonesia dan Malaysia. Tentulah sikap pemerintah memperjuangkan karya budaya seni bangsa melalui forum maupun lembaga internasional sangat penting, sehingga karya budaya tradisional mendapat perlindungan hak cipta. Hal ini sekaligus mencegah negara atau pihak lain tidak sewenang-wenang memanfaatkannya demi kepentingan mereka. Tidak musti merazia bukan? bas

MEMAHAMI VISI HKBP YANG DIALOGIS

Sinode Godang usai sudah dan pimpinan HKBP periode 2008-2012 sudah terpilih; ephorus, sekretaris jenderal dan tiga kepala departemen ditambah 26 praeses. Di antara mereka ada wajah baru dan ada juga wajah lama. Adalah wajar apabila warga mengharapkan perubahan setelah terpilih pimpinan yang baru. Namun, tidaklah fair meletakkan semua tanggung jawab itu ke atas pundak kelima pimpinan tersebut. Sebab masa depan gereja ini bukan hanya di tangan ephorus, sekjen dan kadep. Persepsi seperti itulah yang masih menjejali benak kita, seolah-olah HKBP adalah ephorus, sekjen dan kepala departemen. Padahal masih ada lima juta jiwa warga HKBP—jumlah yang tidak tanggung-tanggung banyaknya? HKBP juga bukan hanya Kantor Pusat, Pearaja, Tarutung. Selain yang ada di kota-kota besar, HKBP juga ada di Parsoburan, Simangampat, Parlilitan, Janji Angkola, Urat, Samosir, Sungai Lebah, Asahan, yang jauh dan terpencil. Semua itu adalah HKBP. Itu juga sekaligus sebagai petunjuk, bahwa memimpin HKBP tidak cukup hanya mengandalkan kepintaran, tetapi sekaligus harus punya krakter multidimensi. Sebab harus bersentuhan dengan adat—budaya habatahon. Karakter seperti itu pun hendak mengingatkan, seorang pemimpin yang sukses memimpin di lembaga keagamaan lain, belum tentu berhasil memimpin HKBP? Gereja ini pun sudah pernah punya pengalaman pahit tentang kegagalan seperti itu. Bahtera HKBP nyaris karam? Saya hanya menduga, dicantumkan istilah “dialogis” pada visi HKBP adalah sebagai bukti bahwa gereja ini tidak mau lagi terbuai dalam mekanisme komunikasi yang selalu diatur dari atas—komunikasi satu arah (one way communication) atau monolog. Biasanya, komunikasi satu arah ditentukan satu orang (penguasa) apalagi dalam hal-hal strategis yang bersentuhan langsung dengan publik. Dalam posisi demikian hampir semua informasi yang seharusnya diketahui masyarakat dipelintir terlebih dahulu, bahkan kalau perlu akses informasi ditutup secara sepihak berdasarkan selera penguasa (komunikator) Nasib yang sama, masyarakat pun diperlakukan tidak adil dalam mengakses informasi, karena dianggap mengancam kedudukan penguasa. Itulah sebabnya, pada suatu negara yang menganut sistem komunikasi satu arah, sangat dominan keseragaman. Bahkan berpeluang menjadi rezim otoriter. Karena dipaksakan semua harus sama, mulai dari pakaian, pola berpikir bahkan soal warna pun sering terjadi tawar-menawar dengan yang berkuasa. Kalau bisa mimpi pun harus seragam. Sialnya, “berbeda” pendapat dianggap melawan. Tidak sesuai dengan “patron” dianggap membangkang. Apalagi kalau berseberangan dengan apa yang digariskan penguasa, jangan bayangkan aman tapi akan “diamankan.” Selebihnya adalah kondisi masyarakat yang tidak berdaya, loyo dan praktis tidak punya nyali serta tidak lebih dari wajah sekelompok masyarakat yang sedang “ketakutan” dan tertekan. Persoalan, berapa lama mampu bertahan ditekan? Biasanya, setelah habis masa kesabaran, muncullah perlawanan. Tidak ada jalan lain, kecuali melawan. Siapa pun pemimpin yang tertarik dengan model komunikasi monolog dapat dipastikan rakyat yang dipimpinnya adalah masyarakat yang pasrah dan tunduk secara mutlak kepada sang penguasa. Atau boleh juga disebutkan barisan panjang orang yang tidak berani mengutarakan pendapat, apalagi mengeritik, sungkan mengatakan yang sebenarnya. Maklum, tidak ada jaminan bagi warga yang menyampaikan pendapatnya di depan umum. Jangankan warga, pers pun tidak boleh macam-macam, termasuk menyinggung hal-hal yang berada di wilayah kekuasaan penguasa. Hanya satu kata, breidel! Pada zaman orde baru, pemandangan seperti itu acapkali disaksikan di mana-mana. Monolog dan otoriter. Dalam konsep komunikasi monolog khalyak pasif. Khalayak yang pasif biasanya mudah dimanipulasi oleh siapa pun yang berkuasa untuk tujuan tertentu. Para sarjana komunikasi pun mengenal model “Needle Hypodermic” (jarum suntik) salah satu model komunikasi yang kental dengan konsep “kepatuhan” atau pasif. Anehnya, realita pada masyarakat menurut model ini kerap dimanipulasi melalui pesan yang dipoles apik, kemudian disuntikkan kepada khalayak—kapan saja. Tapi “kemanjuran” konsep jarum hipodermik ini dibantah pakar komunikasi, seperti Schramm dan Robert (1971) Mereka menilai, pola pikir masyarakat masa kini sudah jauh lebih mapan dan tidak mudah diperdaya kekuatan media termasuk penguasa. Keduanya mengangap penerima pesan (komunikan) adalah khalayak yang aktif dan “keras kepala.” Tidak senang dengan satu media ada alternatif lain. Kurang tertarik dengan suguhan satu media, bisa pindah channel. Tinggal penjet remote control Lantas, apa hebatnya dengan model dialogis, sampai-sampai HKBP tertarik menjadikannya sebagai visi? Dialog adalah lawan monolog. Dialog adalah icon komunikasi dan digandrungi berbagai kalangan untuk mencairkan hubungan yang mandeg di antara dua pihak yang bertikai. Sesuai dengan arti katanya; dias—dua, logos—kata. Percakapan dua arah—dua pembicara. Atau disebut komunikasi dua arah (two way communications) Dialogis adalah model komunikasi yang sifatnya dua arah. Pada komunikasi dialogis percakapan ditentukan dua orang. Posisi keduanya sama ketika terjadi tindak komunikasi (dialog) Kekuasaan tidak terletak di tangan seseorang. Sama-sama punya kesempatan dan hak mengatur percakapan. Pembicaraan tidak dimonopoli satu orang seperti dalam monolog. Ciri lain yang patut dihormati dalam dialog adalah kerelaan masing-masing pihak duduk bersama membicarakan hal-hal yang dianggap berbeda (face to face communication) Tidak heran apabila disebut komunikasi dialogis identik dengan keterbukaan yang bersifat demokratis. Sangat diyakini, demokrasi tumbuh subur apabila didukung pemimpin yang mengutamakan komunikasi bersifat dialogis. Sebenarnya, banyak hal bisa terjadi dalam komunikasi dialogis, berikut ide-ide brilian menghias percakapan dan yang hebatnya tidak ada bisa mengekang, sebab semua lahir secara alami. Keuntungan lain dari model komunikasi dialogis ialah penilaian terhadap individu selalu obyektif sehingga dapat dipastikan bahwa “the right man on the right place” benar-benar diterapkan. Rupanya, Dr Reuel L Howe pun terheran-heran menyaksikan keajaiban yang terjadi pada komunikasi dialog. Lalu ia bercerita banyak tentang kehebatan dialog yang dibeberkan dalam bukunya “The Miracle of Dialogue.” Karya ini adalah pengalamannya selama mengajar di Episcopal Thelogical School, Cambridge, Massachusetts. Selain dosen komunikasi dia juga pendeta. Ruel L Howe mengkui dalam dialog banyak yang tidak terduga bisa terjadi, “keajaiban” itulah kata kunci dalam dialog. Simaklah pernyataan Howe berikut; “Dialogue is to love, what blood is to the body. When the flow of blood stops, the body dies. When dialogue stops, love dies and resentment and hate are born. But dialogue can restore a dead relationship. Indeed, this is the miracle of dialogue; it can bring relationship into being, and it can bring into being once again a relationship that has died. Apa yang terjadi kalau dialog mandeg, kebencian dan dendam merajalela di mana-mana? Tidak terbayangkan bagaimana nasib umat manusia di dunia ini seadainya tidak ada lagi yang mencintai dialog? Dialog bukan sekedar tanya jawab, bukan juga sebatas diskusi. Tetapi dialog adalah keberanian menaggalkan atribut sosial, apalagi kalau atribut itu membuat terasing dari orang di sekitarnya. Kemampuan menerima orang lain apa adanya, itu juga adalah hakekat dialog. Bukan itu saja, perbedaan pun adalah hal yang lumrah diterima, sebab diyakini mampu melindungi identitas individu. Para pakar komunikasi juga sepakat, model komunikasi dialogis dapat hidup berdampingan dengan berbagai komunitas keagamaan, karena komunikasi dua arah mampu membetengi diri dari sikap mementingkan kelompok sendiri. Maklum, dalam dialogis tenggang rasa dan saling menghormati sangat kental. Selain toleran, dialog juga bersifat luwes terhadap keberagaman sosial, budaya dan politik. Karena itu memahami dialogis versi HKBP adalah langkah maju untuk dapat mempertahankan jati dirinya. Bahkan yang lebih mulia lagi di balik visi dialogis itu, apabila HKBP bersedia intropeksi diri berkaitan dengan beberapa kasus penutupan gereja dan sulitnya memperoleh izin bangunan baik dari masyarakat sekitar. Tidaklah salah menjelang 150 tahun usianya, mau mengkaji ulang gaya kita bermasyarakat termasuk pola pendekatan yang diterapkan, jangan-jangan tidak cocok lagi? Haruskah HKBP mendirikan gereja di setiap daerah, kendatipun ditentang warga? Harap juga diketahui, konstruksi komunikasi dialogis tidak cocok untuk tipe pemimpin otoriter, yang senang hanya memerintah dari atas. baharuddin s Tulisan ini adalah pendapat pribadi, isinya adalah tangganung jawab penulis.

PAUS BENEDIKTUS XVI KUNJUNGI ISRAEL

Kota Bethlehem dan penduduknya kini tengah mengalami kesulitan. Hanya 13 persen dari tanah wilayah Bethlehem yang bisa digunakan warga Palestina. Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu dan Presiden Israel Shimon Peres bersama-sama menyambut kedatangan Paus Benediktus XVI ke Israel. “Kami telah berdamai dengan Mesir dan Jordania serta sedang berunding untuk berdamai dengan pihak Palestina. Kami juga mungkin akan sampai pada sebuah perdamaian regional yang koprehensif dalam masa dekat,” kata Peres sebelum Benediktus berbicara. Paus telah berupaya memperbaiki hubungan antaragama selama empat tahun di takhta Vatikan. Namun paus harus bersikap hati-hati dalam kunjungannya ke Timur Tengah setelah mendapat kritik tajam baik dari kaum Muslim maupun kaum Yahudi atas pernyataannya di masa lalu. Paus berharap kunjungannya yang diawali dengan tiga hari di Jordania dan dilanjutkan ke Israel dan Palestina, akan memperbaiki hubungan antaragama. “Sudah layak dan sepantasnya bahwa dalam kunjungan ke Israel saya akan mempunyai kesempatan menghormati kenangan enam juta orang Yahudi korban shoah,” kata paus dalam bahasa Ibrani untuk Holocaust. Paus menambahkan, akan berdoa agar kemanusian tak akan pernah lagi menyaksikan suatu kejahatan yang begitu besar. Kota Bethlehem tempat kelahiran Yesus sedang berbenah menyambut kedatangan Paus Benediktus XVI. “Meskipun kunjungan paus ke Israel pada waktu yang sulit dan ke tempat yang sulit pula,” ujar Fouad Tawal, Patriarch Gereja Latin di Jerusalem. Fouad Tawal menggambarkan betapa kota Bethlehem dan penduduknya kini tengah mengalami kesulitan. Hasil laporan PBB Mei lalu menyebutkan, hanya 13 persen dari tanah wilayah Bethlehem yang bisa dipergunakan warga Palestina. Ini akan sangat menghambat program pembangunan dan pengembangan wilayah Bethlehem. Tembok pemisah yang dibangun sejak 2002 atas instruksi PM Israel Ariel Sharon saat itu, kini praktis mengepung kota Bethlehem dari arah barat, utara dan timur. Paus Benediktus yang akan berada di Bethlehem bisa menyaksikan langsung penderitaan kota Bethlehem dan penduduknya yang praktis bak penjara. “Tahun 1948, kami mengalami bencana karena dipaksa hijrah dari kampung halaman. Tahun 1967, kami tertimpa petaka lagi karena harus hidup di bawah pendudukan Israel. Sejak 2002, kami menghadapi bencana baru karena harus hidup di tengah kepungan tembok pemisah,” kata Abu Sourur, penduduk Bethlehem kepada harian Al Hayat. Kini, sekitar 175.000 warga Palestina menghuni hanya 13 persen wilayah Bethlehem yang dijadikan lahan lindung oleh Israel dan di bawah kontrolnya sekitar 20 persen dari luas wilayah kelahiran Yesus Kristus itu. Diperkirakan, ada sekitar 86.000 penghuni pemukiman Yahudi di sekitar kota Bethlehem. Ada juga sebagaian tanah wilayah Bethlehem yang dicaplok Israel dan digabung dengan wilayah Jerusalem, menyusul Israel menduduki kota Jerusalem dalam perang pada Juni 1967. Sebagian besar warga Kristen Palestina berdomisili di Tepi Barat, Jalur Gaza dan wilayah Israel Utara, khususnya kota Nazareth. Paus Benediktus XVI juga dijadwalkan akan melakukan misa di Nazareth. Populasi warga Kristen Palestina hanya sekitar 7,3 persen dari keseluruhan penduduk Palestina pada 1947. Jumlah warga Kristen Palestina yang bertahan di Tepi Barat, Jalur Gaza, serta wilayah Israel terus menyusut dan kini diperkirakan hanya tersisa dua persen dari keseluruhan penduduk Palestina. Seperti halnya penduduk Palestina pada umumnya, banyak warga Kristen Palestina juga hijrah ke luar Palestina menyusul berdirinya negara Israel pada 1948. Kekalahan Arab dari Israel pada perang 1967 dan terus bercokolnya pendudukan Israel di Tepi Barat hingga saat ini. Sebagian besar warga Kristen Palestina hijrah ke Australia, AS, Eropa dan Amerika Latin. Hanya sebagian kecil yang hijrah ke negara Arab lain, seperti: Lebanon, Suriah, Mesir dan Jordania. Warga Kristen Palestina kini berharap kunjungan Paus Benediktus ke Tepi Barat dan Israel bisa membantu meringankan penderitaan mereka. Misalnya, bisa lebih memberi mereka kebebasan melakukan perjalanan ke Jerusalem dan Bethlehem dari tempat mereka di seantero Tepi Barat dan wilayah Israel. Selama ini warga Kristen Palestina harus mendapatkan surat izin khusus dari penduduk Israel untuk bisa berangkat menuju tempat ibadah mereka di Jerusalem Timur dan Bethlehem. Duta besar Palestina untuk Vatikan Syauki Armali mengatakan, kunjungan Paus Benediktus XVI ke Timur Tengah mengandung misi politik, agama dan histories. “Bagi rakyta Palestina dan proses perdamaian Timur Tengah kunjungan paus sangat penting sebagai harapan meujudkan perdamaian adil dan kerukunan hidup beragama,” kata Armali. Selama kunjungannya ke Israel, paus direncanakan akan mengunjungi situs-situs penting seperti; Al-Haram Al-Sharif—kubah batu dari abad ketujuh, Senakel (ruang atas) Gethsemani, Gereja Makam Kudus, Bethlehem dan Nazareth. bas/dari berbagai sumber

MENULIS DI SURAT KABAR BEDA MENULIS SURAT

“Menulis di media massa cetak seperti surat kabar, tidak sama dengan menulis surat, undangan, pidato, kotbah dan warta gereja. Ada rambu-rambu yang perlu diketahui berdasarkan kaidah-kaidah jurnalistik yang berlaku di kalangan pers,” kata Baharuddin Silaen saat menyampaikan materi penulisan di HKBP Tangerang Kota. Lokakarya penulisan renungan Kristen ini berlangsung sehari diikuti 25 peserta yang diselenggarakan HKBP Tangerang Kota baru-baru ini. Pembicara: Pdt Dr Ladestam F Sinaga, Pendeta Resort HKBP Tangerang Kota, Pdt Drs Baharuddin Silaen MSi, Redaktur Eksekutif Suara HKBP dan Drs Lambas Goeltom MSi, Pemimpin Redaksi Suara HKBP. Topik yang disajikan Pdt Ladestam F Sinaga, “Memahami Firman Allah yang Tertulis.” Ia menguraikan metode membaca Alkitab, penerjemahan, strategi membaca, membaca kreatif, menghafal nas, menafsir dan merumuskan tujuan dari nas Alkitab. Membaca Alkitab yang kreatif menurut Ladestam, tema tiap buku harus dibaca, judul kecil pada setiap paragrap dan membaca nas pararel. Buku catan, pulpen, penggaris stabilo perlu disiapkan untuk memberi tanda apabila diperlukan. Menulis renungan yang baik dan praktis, kata Ladestam, harus dimulai dengan kemampuan membaca nas Alkitab secara benar. Membaca Alkitab bukanlah satu cabang ilmu teologi, tetapi jika dilihat dari sudut praktisnya metode membaca Alkitab sangat perlu bagi setiap umat Kristen agar ia dapat bergaul akrab dengan firman Allah. Baharuddin Silaen, pada kesempatan itu, menajikan materi; Bahasa Jurnalistik, Teknik Menulis Berita dan Menulis Renungan. Pada sesi bahasa jurnalsitik, Baharuddin menjelaskan beberapa ciri bahasa jurnalistik yaitu: lugas, singkat, padat, sederhana, lancar, menarik dan netral. Selain itu, ia juga menguraikan ekonomi kata, kata mubazir, kerancuan, kata-kata penat, penulisan huruf dan ejaan. Juga contoh kata rancu yang sering ditemukan dalam berita di surat kabar, seperti: “untuk sementara waktu, “sementara orang,” “selain daripada itu,” “dan lain sebagainya,” “demi untuk,” “agar supaya.” Kata mubazir, kata yang tidak perlu dalam suatu kalimat. Kata mubazir kata yang berlebih-lebihan. Masih sering dijumpai kata mubazir dalam penulisan berita di mass media cetak yaitu: adalah, telah, akan, sedang, untuk dan pemakain kata yang tidak benar. Dijelaskan juga mengenai penulisan gelar kesarjanaan yang benar dan berlaku umum di seluruh Indonesia, sesuai “Pedoman Umum Ejaan Bahasa Indonesia yang Disempurnakan (1972) Penulisan gelar doktor (S3) yang benar, “Dr” bukan “DR.” Gelar dokter (S1) ditulis “dr” bukan “Dr.” Pada sesi menulis berita yang disampaikan Baharuddin Silaen, yang juga dosen bahasa jurnalistik di Fisipol UKI, menulis berita di mass media cetak seperti surat kabar, majalah dan tabloid ada pola yang harus diperhatikan. Formula Rudyard Kipling yang cukup popular , 5W+1H (What, when, where, who, why dan how) “Inilah panduan wartawan ketika mengumpulkan fakta di lapangan,” kata Baharuddin. Sedangkan pola penulisan berita lazim disebut “piramida terbalik.” Pola ini membantu wartawan menulis bahan berita agar dapat memilah mana fakta paling penting serta fakta yang kurang penting. Biasanya, fakta yang paling penting dan menarik ditulis di bagian atas atau sering disebut teras (lead/intro) Pada bagian tubuh berita (body) adalah penjelasan dari unsur 5W+1H. Bagian paling bawah, ending ditulis fakta yang kurang penting. Untuk menulis renungan di media massa cetak, ada beberapa kiat dan model disampaiakn Baharuddin Silaen. Dikatakan, agar renungan menarik sajikanlah dengan apa adanya (lugas) contoh (ilustrasi) aktual dan dikenal khalayak, jangan mengambang atau di awang-awang (hanya mengulas kenikmatan kehidupan di sorga) relevan dengan kehidupan. Dalam renungan harus ada pesan yang disampaikan kepada pembaca. Misalnya, menghibur, mendidik, meyakinkan, mengingatkan (menegur) dan menghilangkan kekhawatiran. Menulis renungan jangan terjebak ke dalam ayat (firman Tuhan) Menulis renungan bukan membahas ayat atau menafsir firman, karena itu jangan terlalu banyak mengutip ayat-ayat. Cukup satu atau dua ayat dalam satu renungan. Ayat biasanya dicantumkan di akhir renungan atau di awal tulisan. “Jangan menggurui dan mendikte dalam menulis renungan,” kata Baharuddin, dosen Fikom Universitas Mercu Buana, Jakarta ini. . Lokakarya penulisan renungan Kristen ini, Lambas Goeltom diundang sebagai pembicara yang khusus membahas fotojurnalistik. Kepada peserta dia menjelaskan sejumlah pedoman yang harus dipahami seorang fotografer. “Fotojurnalistik dan foto biasa (album) sangat berbeda. Fotojurnalistik, foto yang biasanya digunakan untuk pendukung suatu peristiwa (berita)yang akan dimuat dalam surat kabar atau majalah. Karena itu, harus ada kaitan foto dengan peristiwa yang dimuat di media cetak. Beberapa contoh foto dengan sudut pengambilan disajikan melalui in focus kepada peserta. Lambas, menguraikan macam-macam komposisi pemotretan: komposisi grafis, satu obyek, dua obyek, komposisi simetris, klasik dan tiga dimensi. Lambas Goeltom juga menyarankan, ketika hendak memotret, seorang fotografer sudah harus memiliki konsep atau rencana foto yang akan dihasilkan. Paling tidak ada bayangan dalam benak, foto yang diinginkan seperti apa. Dari pemikiran itulah kemudian menentukan posisi yang tepat. Sayang, kita tidak cukup waktu untuk praktek memotret. “Biasanya, dalam pelatihan selalu diberikan kesempatan kepada peserta memotret suatu obyek, kemudian hasilnya diperiksa dan dijelaskan kekurangan dan kelemahannya,”ujar Lambas. Lokakarya penulisan renungan ini diselenggarakan HKBP Tangerang Kota berkaitan dengan rencana gereja ini akan menerbitkan buku renungan populer. Sebelum menerbitkan renungan, sumber daya manusia dipersiapkan agar mereka mengerti kaidah-kaidah penulisan di media cetak. “Bagaimana renungan supaya menarik dan dibaca, ini juga sangat penting. Jangan hanya sekali terbit langsung mati,” kata Ladestam pada penutupan lokakarya. (bas)

TULISLAH APA SAJA

Duapuluh warga HKBP Duren Sawit mengikuti pelatihan jurnalistik, yang diadakan di Wisma Bintang Jadayat 1, Cipayung, Bogor. Selama dua hari mereka dilatih bagaimana menulis di mass media cetak. Kepada peserta juga diberikan teori menulis berita, feature, bahasa jurnalistik, kiat menulis di media massa dan teknik menulis otobiografi. Kegiatan ini diprakarsai Dewan Marturia HKPB Duren Sawit. Dewan ini juga punya majalah “Letare” terbit bulanan dan dibagikan gratis kepada warga gereja. “Setelah pelatihan ini, diharapkan gairah menulis semakin meningkat,” kata Ev St Rini Tambunan salah satu peserta. Meskipun mereka bukan menjadi wartawan, namun dasar-dasar menulis berita dan bahasa jurnalistik termasuk materi yang diajarkan di kelas. “Paling tidak menambah wawasan serta bahan perbandingan bagaimana menulis di surat kabar dan bedanya dengan menulis buku, surat dan warta gereja,” kata Baharuddin Silaen. Terkait penulisan di mass media, bahasa jurnalistik adalah bahasa yang lazim digunakan kalangan pers. Kepada peserta dijelaskan juga ciri-ciri bahasa jurnalistik: singkat, padat, sederhana, lancar, jelas, lugas, netral dan menarik. Selain ciri tersebut, dibahas juga kaidah tata bahasa, ekonomi kata, kata mubazir, penulisan huruf, penulisan kata, gabungan kata, tanda baca, kerancuan, kata penat (retired word) serta penulisan gelar kesarjanaan yang baik dan benar berdasarkan “Pedoman Bahasa Indonesia yang Disempurnakan” (1972) Misalnya penulisan gelar dokter (S-1) yang benar dan berlaku di seluruh Nusantara adalah “dr.” Keduanya huruf kecil. Sedangkan penulisan gelar doktor (S-3) adalah “Dr.” “Inilah yang benar dan baik,” jelas Baharuddin. Begitu juga kata rancu yang masih sering dijumpai dalam penulisan berita di surat kabar, termasuk pokok bahasan dalam pelatihan ini. Seperti: “untuk sementara waktu,” sementara orang, selain daripada itu, “berhubung karena,” “oleh karena itu,” “hal mana,” “yang mana” dan “agar supaya” Selain teori, peserta juga dilatih menulis berita. Masing-masing peserta praktek menulis berita. Kemudian, berita yang mereka tulis, dikoreksi yang ditayangkan dengan in-focus. Narasumber juga menjelaskan formula yang ditemukan Rudyard Kipling yang populer di kalangan pers yaitu; 5W+ 1H. Rumus ini biasa digunakan memandu para wartawan ketika menulis bahan berita. Rudyard Kipling mengatakan; I keep six honest serving-men (They taught me all I knew) Their name are What and Why and When and How and Where and Who) (Saya mempunyai enam penaji yang jujur. Mereka memberitahu semua yang perlu saya ketahui. Nama mereka adalah: apa, kenapa, kapan, bagaimana, di mana dan siapa) Selain formula 5W+1H, diperkenalkan juga pola penulisan berita “Piramida Terbalik.” Model piramida ini pada dasarnya membantu wartawan memilah fakta-fakta yang dikumpulkan wartawan dari lapangan. Fakta yang paling penting dan menarik itulah diangkat ke bagian atas. Biasa disebut “teras” (lead/intro) Teras adalah ringkasan atau inti dari suatu berita. Pada kesempatan yang sama, teknik menulis feature juga diajarkan kepada peserta pelatihan. Feature atau karangan khas sangat diminati pembaca, karena disajikan dengan kreatif dan menarik. Termasuk dalam penajian, feature lebih kreatif, memberi informasi, menghibur, tidak basi, panjangnya tidak dibatasi. Gaya penulisan, seperti menulis fiksi (cerpen) tapi bukan fiksi atau khayalan. “Feature mesti berdasarkan fakta dan peristiwanya benar-benar terjadi,” ujar Baharuddin Silaen. Masih berkaitan dengan menulis di media cetak, Dr Victor Silaen, dosen Fisipol Universitas Pelita Harapan, membekali peserta dengan “Kiat Menjadi Penulis yang Baik dan Produktif.” Victor yang cukup produktif menulis di berbagai media cetak membagikan sejumlah pengalaman sendiri, bagaimana menulis di media massa. Menulis apa saja, berita, puisi, opini, resensi buku, pengalaman atau kesaksian pribadi. Seorang penulis, harus betah berjam-jam duduk di depan komputer, sabar serta punya kemauan yang besar. Usahakan ada bank data yang disimpan di komputer. Ketika diperlukan data ini tinggal dibuka. Kemudian, rajin membaca apa saja. Menurut Victor Silaen, seorang penulis, harus peka terhadap keadaan sekeliling. Mengamati apa yang sedang terjadi, bergolak dan yang menjadi fenomena. Berpikir terus-menerus, mencari ide dan gagasan. Membaca gaya tulisan orang-orang lain yang terkemuka sebagai perbandingan. Yang perlu dilakukan agar bisa menulis adalah menulis. Tuliskan apa saja yang terlintas di benak kita. Menulis bebas adalah latihan yang bisa membantu membiasakan diri menulis. “Lupakan aturan, lupakan kesalahan. Tulis dan luapkan secara bebas,” kata Victor Dia menambahkan, kalau mengirim tulisan ke media massa cetak, mulailah dari media berskala kecil dan perlahan-lahan baru ke media berskala besar. Mulailah dari tulisan yang ringan baru kemudian ke tulisan yang berat. bas

PENULISAN NAMA DAN GELAR YANG SALAH

Menuliskan nama yang baik dan benar di media massa, ternyata tidak gampang. Buktinya, meskipun sudah berulangkali diperbaiki sesuai “Pedoman Umum Ejaan Bahasa Indonesia yang Disempurnakan” tetap saja penulisan nama dan gelar kesarjanaan kacau-balau. Pengalaman sebagai penyelaras bahasa (editor) di majalah Suara HKBP acap menemukan kekeliruan seperti itu. Lucunya, yang bersangkutan malah marah karena namanya tidak seperti yang ditulisnya. Ngotot menyalahkan redaksi! Dugaan penyebab kesalahan, boleh jadi lantaran tidak tau sama sekali kaidah menuliskan nama dan gelar yang baik dan benar dalam media massa. Kemungkinan lain, adalah faktor budaya (Batak?) yang masih kuat dalam diri yang bersangkutan. Seperti ada kewajiban mencantumkan nama dan marga suami di depan nama isteri? Kesalahan yang sering dijumpai adalah penulisan nama dan gelar. Misal, “Ny dr Budi/Tiodor Boru Silaen menyampaikan sambutan pada pertemuan itu.” Penulisan nama dalam kalimat ini membingungkan. Siapa sebenarnya yang menyampaikan sambutan, dr Budi sebagai suamikah atau Tiodor Silaen? Kalau yang dimaksudkan adalah Tiodor Silaen, sebaiknya ditulis, “Tiodor Silaen menyampaikan kata sambutan pada pertemuan itu.” Tidak perlu dicantumkan nama dr Budi sebagai suami. Begitu juga gelar (dr) tidak perlu ditulis, sebab gelar kesarjanaan bukan milik bersama (suami dan isteri) Lagi pula, apa hubungan Budi pada kata sambutan itu? Jangan-jangan suaminya, Budi pun tidak hadir pada acara tersebut. Apakah karena suami, lalu ditulis? Atau supaya orang lain tau dia istri dari Budi. Atau alasan lain, biar semua tau bahwa dia sudah bersuami (berkeluarga) “Kenapa nama saya ditulis seperti itu, tidak tercantum nama dan marga suami saya, dikira orang aku masih gadis, padahal sudah marpahompu (cucu)” komentar salah satu yang namanya pernah dimuat dalam berita di majalah ini. Sanggahan yang lain, “Apa kata marga dari suami saya, mereka bisa marah sama saya marga suamiku tidak ditulis?” Alasan itu mengada-ada, belum tentu marah? Formulasi penulisan nama seperti itu tidak jelas dari mana asal-usulnya? Hebatnya, malah dianggap benar dan paten. Tetapi kalau perasaan bersalah atau takut menjadi alasan, lain soal. Mungkin saja faktor budaya masih kuat sehingga kebiasaan itu terbawa-bawa ke dalam penulisan nama. Alasan lain, karena takut dan merasa bersalah, apabila marga suami tidak disebut. Kenapa ketika Budi menyampaikan sambutan tidak menyebut nama dan marga istrinya? Apakah Budi karena suami, lebih berkuasa terhadap isteri? Tidak adil rasanya. Pengalaman lain yang lucu, ketika ada acara penyerahan sertifikat kepada peserta kursus yang diselenggarakan gereja. Kembali saya geli, ketika peserta pria (ama) dipanggil, tidak ada disebutkan nama dan marga isteri, namun saat giliran peserta perempuan (ina) nama suami yang lebih awal dipanggil baru nama yang bersangkutan, “Ny St Horas Boru S.” Mudah-mudahan ini bukan bentuk diskriminasi yang tidak disadari terhadap perempuan? Yang ikut kursus siapa, yang tercantum namanya di sertifikat siapa? “Boru S” yang kursus, tapi Horas sang suami yang menonjol dalam sertifikat. Ini sertifikat milik berdua (two in one) Geli bukan? Perlu dicamkan, bila tulisan (artikel) maupun berita ditulis oleh seorang perempuan (isteri) tidak perlu menuliskan nama dan marga suami. Langsung saja nama penulisnya, imbuhkan nama lengkap dan marga. Tidak ada yang marah kalau cara seperti itu yang Anda tempuh? Soalnya, bukan suami Anda yang menulis artikel tersebut. Begitu juga dalam menulis berita, tidak usah mencantumkan nama suami apabila tidak ada sangkut pautnya dengan kejadiaan saat itu. Masih berkaitan dengan nama, pada kesempatan lain, saya diminta mendoakan warga gereja yang sakit, kebetulan ada perempuan (ina) yang sakit. Sebut saja nama-nama yang sakit; Ny Togar Boru N, Ny Burju Boru B dan Ny Parlin Boru M. Terus terang, saya bingung, siapa yang sebenarnya sakit, bagaimana menyebut nama mereka dalam doa. Sampai saat ini, bila menemukan hal seperti itu, selalu saya bertanya, “Ise do namarsahit, amanta i do manang inantai?” “Inantai do amang.” Jadi jelas siapa yang sakit. Jangan sampai salah mendoakannya. Saya pun berdoa tanpa menyebut nama dan marga suami yang sakit. Pertanyaan, kenapa kalau bapak (suami) yang sakit tidak mencantumkan nama dan marga isteri? Kembali kepada penulisan nama di media massa. Tulislah nama yang bersangkutan (yang berperan saat itu) Tidak perlu mencantumkan nama dan marga suami. “Dewi Sibarani, pada perayaan Natal itu memberikan sambutan kepada anak-anak Sekolah Minggu” Ini yang betul. Sopan dan mengindahkan bahasa Indonesia yang benar dan baik. Yakinlah, Anda tidak salah dalam penulisan seperti itu. Ada lagi penulisan yang sering salah kaprah. Misal, Pdt Bahagia dan ibu hadir dalam pesta gereja itu. “Ibu” siapa yang dimaksud? Apakah ibu (orang tua) yang melahirkan Pdt Bahagia? Atau maksudnya istri dari Pdt Bahagia? Jikalau istri Pdt Bahagia yang dimaksud, tulis saja “Pdt Bahagia dan istri.” Jelas dan konkrit. Sopan? Sangat sopan dan lebih tepat, baik dan benar. Tetapi, kalau memang perlu disebutkan nama dan marga isteri, boleh saja, caranya, “Pdt Bahagia dan istri Siska Tambunan Penulisan marga dalam tradisi masyarakat Batak sangat penting dan harus, apabila perempuan dicantumkan “boru.” Walaupun dari namanya sudah jelas-jelas perempuan tapi tetap diimbuhkan boru sebelum marganya. Natalia Boru Naingolan, misalnya. Natalia pastilah perempuan. Kalaupun ditulis “Natalia Nainggolan,” sebenarnya sudah benar (tanpa boru) Tapi, kalau harus dicantumkan boru, tulislah “Natalia Boru Nainggolan,” bukan disingkat “br.” Sebab “boru” adalah bagian dari identitas diri seseorang maka harus ditulis dengan huruf besar (Boru) Pertanyaan, kenapa kepada perempuan diimbuhakan “boru” dan kepada pria (baoa) bebas tanpa embel-embel? Ya, memang dari sananya udah begitu? Dalam banyak hal, posisi pria (ama) dalam tradisi Batak selalu diistimewakan. Apakah ini termasuk “keunikan” budaya Batak? Memang ada beberapa nama tertentu yang menjadi nama babtis pria dan perempuan bagi warga Batak. Sebut misalnya, Hotma, Gokma, Tulus, Elisa, Lambok dan Parulian. Supaya jenis kelamin jelas, kadang dituliskan “boru” dalam namanya. Namun ada juga tidak perlu menuliskan boru walaupun yang punya nama adalah perempuan. Kesalahan yang serupa masih ditemui pada penulisan gelar kesarjanaan dan sapaan kehormatan. Untuk gelar doktor (S3) penulisan yang benar adalah “Dr” dan inilah yang berlaku di seluruh Indonesia, bukan DR, dua-duanya ditulis huruf besar. Entah dia lulusan Amerika, Kanada, Australia, Jerman, Prancis, Belanda, Indonesia, maupun doktor kehormatan (HC) disingkat dengan Dr. Sedangkan dokter (S1) yang benar adalah “dr” dua-duanya huruf kecil. Kalau selama ini kita menuliskan gelar kesarjanaan rancu, mulailah sekarang memperbaikinya. Bagi yang lain pun sangat membantu, tidak lagi mengira-ngira, apakah doktor (S3) atau dokter (S1) Karena bahasa yang digunakan pers (mass media) adalah bahasa jurnalistik—sifatnya netral bukan paternalistik atau keningratan, sebab itu tidak mengenal sapaan bapak, ibu dan beliau dalam penulisan berita. Bapak Pdt Hidup menyerahkan kuci rumah yang baru. “Pdt Hidup menyerahkan…,” inilah yang benar. Presiden SBY hadir dalam perayaan Parolopolopon HKBP. Gubernur Rudolf Pardede. Ephorus HKBP dan Sekjed HKBP juga hadir di Senayan. Cara penulisan seperti itu cukup sopan dan santun. Marilah berbahasa Indonesia yang baik dan benar dalam penulisan. Penulis Baharuddin Silaen pengajar di Fisipol UKI, mengampu mata kuliah Bahasa Jurnalistik