Memahami Pidato Obama di Kairo
Agama Merestui Pembunuhan Adalah Keliru
Baharuddin Silaen
Presiden Amerika Serikat Barack Hussein Obama mengajak warga Timur Tengah serta dunia Islam bersama-sama membuka babak hubungan baru. Ajakan itu ia lontarkan di depan sekitar 3000 hadirin yang memadati Auditorium Universitas Kairo, Mesir belum lama ini. Aplaus berkali-kali membahana tatkala Obama empat kali menyetir Al-Quran dalam pidato yang dibuka dengan sapaan assalamualaikum.
Sekitar satu jam dia berdiri di podium dengan sikap percaya diri, berupaya membentangkan benang kusut—hubungan Amerika dan dunia Islam—yang kadang kala terperosok ke dalam lorong gelap. Dalam pidatonya yang mempesona dia mepertegas—Islam sejatinya bagian dari Amerika. Sayang, deretan panjang pertikaian telah meretakkan, bahkan tidak jarang harus memutuskan tali silaturahmi Amerika Serikat dengan para sohib di timur jauh.
Satu per satu, pertikaian itu dipaparkannya; mulai tragedi 11 September yang membunuh 3000 orang lebih warga Amerika, perang Irak dan perang Afganistan, peristiwa berdarah Palestina Israel, penjara Guantanamo yang menyekap sebagian besar warga Muslim dan senjata nuklir Iran. Memang Obama sendiri tak menyangkal keakraban Israel-Amerika yang mustahil dipisahkan. Tapi dia mengingatkan Israel, hak hidup bangsa Palestina adalah kemustahilan. Ia pun memohon permukiman Yahudi di tanah Palestina harus diakhiri. Tepuk tangan pun bergemuruh, ada 25 kali aplaus memeriahkan pidato Obama dan ucapan I love you dialamatkan kepada sang kampiun asal Kenya, Afrika itu.
“Saya datang mencari awal baru bagi Amerika Serikat dan umat muslimin di seluruh dunia. Maka segala permusuhan sebaiknya disudahi saja, ” ujar Obama yang pernah tinggal di Menteng, Jakarta. Tidak lupa ia mengusulkan kepentingan mitra setara yang saling menghormati agar menjadi landasan kokoh terhadap hubungan baru Amerika-Islam.
Obama dalam pidatonya menyinggung tujuh pokok penting yang ditawarkan kepada dunia Islam untuk dihadapi bersama: terorisme, konflik Israel-Palestina, senjata nulkir, demokrasi, kebebesan beragama, hak-hak wania dan pembangunan ekonomi. Khusus sikap Amerika terhadap teroris, Obama menyerukan kepada dunia Islam dari Kairo, “Amerika tidak akan pernah memerangi Islam.” Kemudian dia mengutip Quran untuk melukiskan bahwa Islam sesungguhnya menolak kekerasan. Kembali tepuk tangan bergemuruh di dalam Auditorium Universitas Kairo yang dihadiri pejabat tinggi Mesir dan Amerika, petinggi militer, akademisi, wartawan dan tokoh oposisi utama dari Ikhwanul Muslim.
Pidatonya di Kairo seolah-olah mengetuk pintu dunia Islam, lalu mencoba meruntuhkan hegemoni kaum Republikan (George W Bush) yang dianggap menelorkan banyak masalah di kawasan Timur Tengah. Sebutlah misalnya; invasi ke Irak pada 2003, skandal penyiksaan dan penghinaan para tahanan Muslim di penjara Abu Gharib di Irak, embargo ekonomi dan senjata hingga pendudukan tak berdasar terhadap negara lain. Begitu pula Iran, yang ikut babak-belur dilindas embargo ekonomi karena urusan senjata nuklir.
Namun, pidato Obama di Kairo, ternyata tidak semua pihak menerimanya dengan senang hati. Buktinya, komentar mengalir dari sejumlah musuh lama Amerika. Salah satu Ayman Taha, juru bicara Hamas dalam wawancara dengan kantor berita Inggris BBC mengeritik Obama. “Pidato Obama yang memerangi ekstrimis dan melontarkan isu dua Negara Palestina-Israel tak ada bedanya dengan kebijakan Bush,” ujarnya. “Dunia Islam tak membutuhkan khotbah. Yang kami perlukan adalah perubahan fundamental sikap Amerika terhadap Israel yang mengagresi Libanon dan Palestina,” kata Hassan Fadlallah, tokoh penting Hizbullah Libanon.
Selepas berpidato Obama menyampaikan pernyataan kepada wartawan. Obama mengakui, dia adalah penganut Nasrani—juga pendukung kuat demokrasi dan hak asasi manusia. Karena itu ia adalah bagian yang tidak terpisahkan dari segala upaya memperjuangkan masyarakat pluralistik dapat hidup bersama. Ia yakin bahwa apa yang diyakinya dapat hidup di dunia yang interdependen sekarang ini. Tempat berbagai keyakinan yang berbeda harus hidup bersama. “Kita membutuhkan keyakinan yang dewasa—saya sangat meyakini keyakinan saya, tapi saya menghormati kenyataan bahwa bahwa orang lain juga dapat meyakini keyakinannya yang berbeda.”
Agar kerinduan hidup bersama itu dapat dirasakan, menurut Obama, harus ada kesepakatan mengenai satu sistem politik yang menghasilkan aturan tentang bagaimana hubungan bersama dilakukan. “Saya tidak bisa memaksakan ketentuan agama saya berlaku pada orang lain. Tidak boleh memobilisasi pihak mayoritas mendiskriminasi kalangan minoritas. Saya tidak bisa mengambil aturan dalam suatu agama dan menerapkannya kepada penganut agama lain,” ujar Obama.
Tapi jangan silap, tambah Obama, bukan berarti saya tidak dapat melontarkan argumen berdasarkan keyakinan saya. Contoh, sebagai penganut Nasrani, saya percaya perintah Tuhan tentang larangan tidak boleh membunuh. Sebagai politikus saya mengupayakan undang-undang yang melarang orang membunuh. “Ini bukan berarti saya memaksakan keyakinan agama saya, melainkan memperjuangkan nilai moral yang mungkin diterima juga pihak lain karena bersifat universal,” jelasnya.
Dalam wancara itu, Obama meminta umat Islam merenungkan soal keyakikan secara benar dan tepat. Misalnya, tentang syariah. Ia menyadari tidak semua agama punya pandangan sama tentang bagian mana dalam ajarannya yang layak diterapkan pada hukum sekuler. Tetapi, kalau ada yang memaksakan ajarannya harus dijalankan oleh penganut agama atau kelompok lain, ini jelas bertentangan dengan semangat demokrasi. Boleh jadi menyebabkan terjadinya instabilitas, bahkan perilaku destruktif di tengah masyarakat.”Ini adalah hal penting yang perlu diperdebatkan secara internal di kalangan penganut Islam,” ucapnya.
Dari pernyataan Obama yang perlu dipahami dan direnungkan saat ini, apabila ada yang merasa dibenarkan oleh agamanya untuk membunuh orang lain, pasti ia telah keliru memahami ajaran agamanya. “Saya kira ini adalah persoalan yang perdebatannya sudah selesai bagi kebanyakan orang, tapi masih ada kelompok kecil yang berpotensi desrtruktif.”
Memang sulit dimengerti, kenapa agama merestui pembunuhan terhadap orang lain, bahkan dipermaklumkan karena dianggap di jalan Tuhan. Beberapa buku yang ditulis pemikir Barat seperti Samuel P Huntington, “The Clash of Civilizations and the Remaking of World Orde” dan Mark Juergensmeyer, “Terror in The Mind of God” membeberkan latar belakang pandangan yang keliru itu. (Kedua buku ini sudah diterjemahkan ke bahasa Indonesia)
Samuel P Huntington misalnya, mengurai hubungan Amerika-Islam yang hingga saat ini belum akur, ia melihat akar persoalan—Islam merasa khawatir dan takut akan kekuatan Barat serta ancaman yang ditujukan kepada masyarakat dan keyakinan (agama) mereka. Mereka menggangap, kebudayaan Barat bersifat materialistik, korup, dekaden dan immoral. Mereka juga melihat sebagai kebudayaan yang sangat memikat, sehingga mereka melakukan pelbagai upaya agar tidak berpengaruh terhadap way of life mereka.
Serangan yang dilakukan oleh umat Islam terhadap Barat, menurut Samuel, bukan menyerang sesuatu yang tidak sempurna, agama sesat, yang dipandang bukan sebagai “agama kitab” tetapi menyerang seluruh agama. Karena, di mata umat Islam, sekularisme Barat, irreligiusitas dan immoralitas merupakan kejahatan-kejahatan” yang diajarkan Kristen Barat.
Tidak jauh beda dengan pandangan Mark Juergensmeyer, malah lebih terbuka menilai “perang ilahi” yang melekat pada semua agama baik Islam, Kristen maupun Hindu, Budha dan Yahudi. Dari contoh-contoh kekerasan agama yang diangkat Mark, kecenderungan kekeliruan itu terletak pada penafsiran yang salah atas ayat-ayat kitab suci, baik oleh pemimpin agama maupun para pengikutnya. Bukan tidak mungkin pelaku teror merasa aman berlindung di balik otoritas kitab suci, seolah-olah kekerasan yang dilakukan adalah mandat dari Tuhan, sehingga mati pun rela demi membela agama Tuhan. “Dalam banyak kasus, gambaran-gambaran ini bukanlah hal baru, tapi merupakan bagian dari warisan tradisi keagamaan yang membentang ke masa lalu. Banyak contoh-contoh peperangan yang dapat ditemukan dalam teks-teks suci,” tulis Mark Juergensmeyer.
Memang, menafsirkan ayat-ayat kitab suci dibutuhkan kejernihan berpikir di atas segala-galanya. Mahir melihatnya dari berbagai asfek kehidupan termasuk dimensi tempat, ruang dan waktu.
Penulis pengajar di Fisipol UKI dan Fikom Universita Mercu Buana Jakarta. Email: baharuddinsilaen@yahoo.com. Alamat Blog dan Facebook: baharuddin silaen
Minggu, 25 Oktober 2009
Sabtu, 18 April 2009
Provinsi Tapanuli Tercemar Sebelum Mekar
Luar biasa, hampir semua media cetak dan elektronik secara terus-menerus memberitakan tragedi Medan yang menewaskan Abdul Azis Angkat, Ketua DPRD Sumatera Utara. Inilah berita politik terheboh yang menyedot perhatian—mulai dari presiden sampai orang-orang di lapo tuak. Maklum, nilai beritanya (news value) cukup tinggi—tidak tanggung-tanggung, seorang ketua dewan tewas di antara himpitan demonstran yang kecewa setelah tujuh tahun tidak ada jawaban pasti akan nasib pemekaran provinsi yang mereka perjuangkan. Mereka bergerak dan terus merangsek diselingi teriakan dan kepalan tinju yang diarahkan kepada Azis, sang ketua pun lunglai, tidak sadarkan diri dan akhirnya tewas. Apa pun penyebab kematian Aziz, kita prihatin—demonstrasi brutal mengakibatkan nyawa melayang.
Komentar pun mengalir deras terkait tewasnya Ketua DPRD, termasuk komentar pemerhati politik yang ditayangkan live, tidak terkecuali tanggapan pemirsa yang semuanya bernada miring dan mengutuk unjuk rasa pemekaran provinsi Tapanuli yang berakhir anakis. Sialnya, insiden ini membawa komunitas Batak ikut terkena getahnya.
Wajar, soalnya tersangka yang diduga dalang kericuhan hampir semua orang Batak, korban pun sebenarnya orang Batak juga—dari subetnik Papak. Angkat adalah marga Pakpak. Sayang, nalar orang terlanjur digiring ke suatu argumen kurang lengkap, orang Batak identik dengan kekerasan. Padahal, semua suku berpotensi melakukan tindak kekerasan.
Tidak berhenti di situ, beberapa nama disebut-sebut orang Jakarta sebagai otak intelektual kerusuhan. Ketika Jenderal (Purn) Luhut B Panjaitan diwancarai tv-one pada “Berita Petang” (11/2) Luhut membantah, tidak ada aktor intelektual di belakang tragedi pemekaran provinsi Tapanuli. “Yang ngomong itu, kampungan,” kata Luhut menjawab pertanyaan presenter TV One.
Selain sifat Batak yang dianggap keras, potensi anarkisme politik dalam kerumunan tidak boleh dikesampingkan—sebenarnya ini yang mendesak ditelisik. Kenapa tindak melawan hukum sering terjadi pada massa yang berkerumun? Entah itu pemilihan kepala daerah, pemekaran kabupaten, provinsi dan pembebasan tanah, kerap kali berujung ricuh dan anarkis.
Karena itu, kurang sportif kalau hanya menyalahkan permintaan daerah otonomi sebagai pemicu insiden itu. Pemekaran wilayah merupakan wujud keinginan rakyat mendapatkan pelayanan publik yang lebih baik. Betul sekali, tak semua ide pemisahan daerah didasari niat luhur menyejahterakan masyarakat desa. Ada juga didasari keinginan beberapa pemrakarsanya bercita-cita menjadi kepala daerah atau kesempatan mencari proyek.
Entah apa pun itu, para sosiolog seperti Emile Durkheim dan Gustave Lebon (1841-1931) mengakui, “siapa pun yang ada dalam kerumunan pasti berpikir, merasa dan bertindak serupa. Kekuatan emosional dan irasional berkecamuk. Begitu juga nafsu barbarian bergerak liar menyerabas. Identitas sosial individu tercabik-cabik oleh kekuatan homogenitas kerumunan.” Asal tau, hal serupa akan terjadi pada bentuk kerumunan di daerah mana pun dan suku apa pun, bukan hanya di Medan dan orang Batak.
Kerumunan (crowd) menurut sosiologi disebut juga kelompok sosial yang tidak teratur. Kerumunan adalah kehadiran orang-orang secara fisik—tidak terorganisasi. Akan segera mati, setelah orang-orang bubar. Sifatnya pun sementara (temporer) Interaksi spontan dan tidak terduga. Seorang politikus misalnya; guru, mahasiswa, pegawai, saudagar, dokter, wartawan, tukang becak dan tukang sayur sama-sama menunggu kereta api—mereka mempunya kedudukan yang sama. Siapa pun yang ada dalam kerumunan gampang tersulut dan mudah meniru tingkah laku orang lain. Satu orang berteriak, yang lain akan meniru karena didorong perasaan satu nasib dan terjalin sifat saling mendukung.
Pada dasarnya, tiap kerumunan rentan terhadap kerusuhan. Soalnya individu yang berkumpul gampang kehilangan jati diri—anonimitas. Dalam momen kerumunan individu-individu tercerabut dari personalitasnya. Kerumunan cepat menularkan kekerasan. Ketika satu orang memukul, yang lain mengikutinya.
Tipe kerumunan pun berbeda, ada kerumunan yang bertindak emosional (acting mobs) Tipe ini diwarnai perlawanan norma hukum (lawless) Mobokrasi adalah kekuasaan yang dikendalikan mob—kerumunan yang emosional serta irasional yang berbuntut aksi destruksi. Aksi seperti ini bisa terjadi ketika ada pihak yang dianggap menghambat dan menghalang-halangi niat orang-orang dalam kerumunan. Atau karena hak-hak mereka diinjak-injak atau lantaran ketidakadilan. Kerumunan akan bertambah beringas dan agresif menyerang siapa yang dianggap penghalang keinginan mereka—dipukul atau dihajar rame-rame dan dikeroyok. Tipe kerumunan seperti itulah yang terjadi pada Ketua DPRD Sumatera Utara, Azis Angkat.
Betul, tidak semua kerumunan menciptakan kerusakan dan kehancuran. Literatur ilmu sosiologi membagi empat tipe kerumunan. Seperti kerumunan tidak tetap (casual crowd) Keberadaanya amat singkat dan terorganisasi secara longgar. Tipe ini bersifat spontan. Misal, orang yang bersama-sama melihat gedung terbakar atau kecelakaan. Kerumunan konvensional (convensional crowd) Tipe ini terjadi secara terencana dan berperilaku teratur. Contoh, penonton dalam teater atau pertandingan sepak bola. Kerumunan bertindak (acting crowd) keterlibatannya didasari pada permusahan atau aktivitas destruktif. Misal, mob yang melakukan pembantaian. Kerumunan ekspresif (expressive crowd) muncul melampiaskan emosi dan ketegangan. Umpama, para penonton konser musik rock.
Sialnya, kalau kerumunan berada di wilayah politik, yang kerap terjadi adalah anarkisme. Anarkisme suatu keadaan ketika tidak ada lagi otoritas yang mengatur dan mengendalikan. Situasi bisa berubah mendadak menjadi brutal, apalagi di lokasi kerumunan tidak ada pihak keamanan yang memadai. Bisa saja polisi kalah kuat dengan gelombang demonstran yang kecewa dan prustrasi. Sketsa anarkisme politik kerumunan seperti inilah yang terjadi di Medan.
Kita hanya bisa beradai-andai—seandainya pengamanan dilakukan maksimal, barangkali korban tewas bisa dihindarkan.
Apa pun itu, provinsi Tapanuli sudah tercemar sebelum mekar. Amang tahe!
Penulis, Baharuddin Silaen staf pengajar sosiologi di Fakultas Ilmu Komunikasi, Universitas Mercua Buana, Jakarta.
Komentar pun mengalir deras terkait tewasnya Ketua DPRD, termasuk komentar pemerhati politik yang ditayangkan live, tidak terkecuali tanggapan pemirsa yang semuanya bernada miring dan mengutuk unjuk rasa pemekaran provinsi Tapanuli yang berakhir anakis. Sialnya, insiden ini membawa komunitas Batak ikut terkena getahnya.
Wajar, soalnya tersangka yang diduga dalang kericuhan hampir semua orang Batak, korban pun sebenarnya orang Batak juga—dari subetnik Papak. Angkat adalah marga Pakpak. Sayang, nalar orang terlanjur digiring ke suatu argumen kurang lengkap, orang Batak identik dengan kekerasan. Padahal, semua suku berpotensi melakukan tindak kekerasan.
Tidak berhenti di situ, beberapa nama disebut-sebut orang Jakarta sebagai otak intelektual kerusuhan. Ketika Jenderal (Purn) Luhut B Panjaitan diwancarai tv-one pada “Berita Petang” (11/2) Luhut membantah, tidak ada aktor intelektual di belakang tragedi pemekaran provinsi Tapanuli. “Yang ngomong itu, kampungan,” kata Luhut menjawab pertanyaan presenter TV One.
Selain sifat Batak yang dianggap keras, potensi anarkisme politik dalam kerumunan tidak boleh dikesampingkan—sebenarnya ini yang mendesak ditelisik. Kenapa tindak melawan hukum sering terjadi pada massa yang berkerumun? Entah itu pemilihan kepala daerah, pemekaran kabupaten, provinsi dan pembebasan tanah, kerap kali berujung ricuh dan anarkis.
Karena itu, kurang sportif kalau hanya menyalahkan permintaan daerah otonomi sebagai pemicu insiden itu. Pemekaran wilayah merupakan wujud keinginan rakyat mendapatkan pelayanan publik yang lebih baik. Betul sekali, tak semua ide pemisahan daerah didasari niat luhur menyejahterakan masyarakat desa. Ada juga didasari keinginan beberapa pemrakarsanya bercita-cita menjadi kepala daerah atau kesempatan mencari proyek.
Entah apa pun itu, para sosiolog seperti Emile Durkheim dan Gustave Lebon (1841-1931) mengakui, “siapa pun yang ada dalam kerumunan pasti berpikir, merasa dan bertindak serupa. Kekuatan emosional dan irasional berkecamuk. Begitu juga nafsu barbarian bergerak liar menyerabas. Identitas sosial individu tercabik-cabik oleh kekuatan homogenitas kerumunan.” Asal tau, hal serupa akan terjadi pada bentuk kerumunan di daerah mana pun dan suku apa pun, bukan hanya di Medan dan orang Batak.
Kerumunan (crowd) menurut sosiologi disebut juga kelompok sosial yang tidak teratur. Kerumunan adalah kehadiran orang-orang secara fisik—tidak terorganisasi. Akan segera mati, setelah orang-orang bubar. Sifatnya pun sementara (temporer) Interaksi spontan dan tidak terduga. Seorang politikus misalnya; guru, mahasiswa, pegawai, saudagar, dokter, wartawan, tukang becak dan tukang sayur sama-sama menunggu kereta api—mereka mempunya kedudukan yang sama. Siapa pun yang ada dalam kerumunan gampang tersulut dan mudah meniru tingkah laku orang lain. Satu orang berteriak, yang lain akan meniru karena didorong perasaan satu nasib dan terjalin sifat saling mendukung.
Pada dasarnya, tiap kerumunan rentan terhadap kerusuhan. Soalnya individu yang berkumpul gampang kehilangan jati diri—anonimitas. Dalam momen kerumunan individu-individu tercerabut dari personalitasnya. Kerumunan cepat menularkan kekerasan. Ketika satu orang memukul, yang lain mengikutinya.
Tipe kerumunan pun berbeda, ada kerumunan yang bertindak emosional (acting mobs) Tipe ini diwarnai perlawanan norma hukum (lawless) Mobokrasi adalah kekuasaan yang dikendalikan mob—kerumunan yang emosional serta irasional yang berbuntut aksi destruksi. Aksi seperti ini bisa terjadi ketika ada pihak yang dianggap menghambat dan menghalang-halangi niat orang-orang dalam kerumunan. Atau karena hak-hak mereka diinjak-injak atau lantaran ketidakadilan. Kerumunan akan bertambah beringas dan agresif menyerang siapa yang dianggap penghalang keinginan mereka—dipukul atau dihajar rame-rame dan dikeroyok. Tipe kerumunan seperti itulah yang terjadi pada Ketua DPRD Sumatera Utara, Azis Angkat.
Betul, tidak semua kerumunan menciptakan kerusakan dan kehancuran. Literatur ilmu sosiologi membagi empat tipe kerumunan. Seperti kerumunan tidak tetap (casual crowd) Keberadaanya amat singkat dan terorganisasi secara longgar. Tipe ini bersifat spontan. Misal, orang yang bersama-sama melihat gedung terbakar atau kecelakaan. Kerumunan konvensional (convensional crowd) Tipe ini terjadi secara terencana dan berperilaku teratur. Contoh, penonton dalam teater atau pertandingan sepak bola. Kerumunan bertindak (acting crowd) keterlibatannya didasari pada permusahan atau aktivitas destruktif. Misal, mob yang melakukan pembantaian. Kerumunan ekspresif (expressive crowd) muncul melampiaskan emosi dan ketegangan. Umpama, para penonton konser musik rock.
Sialnya, kalau kerumunan berada di wilayah politik, yang kerap terjadi adalah anarkisme. Anarkisme suatu keadaan ketika tidak ada lagi otoritas yang mengatur dan mengendalikan. Situasi bisa berubah mendadak menjadi brutal, apalagi di lokasi kerumunan tidak ada pihak keamanan yang memadai. Bisa saja polisi kalah kuat dengan gelombang demonstran yang kecewa dan prustrasi. Sketsa anarkisme politik kerumunan seperti inilah yang terjadi di Medan.
Kita hanya bisa beradai-andai—seandainya pengamanan dilakukan maksimal, barangkali korban tewas bisa dihindarkan.
Apa pun itu, provinsi Tapanuli sudah tercemar sebelum mekar. Amang tahe!
Penulis, Baharuddin Silaen staf pengajar sosiologi di Fakultas Ilmu Komunikasi, Universitas Mercua Buana, Jakarta.
Selasa, 23 Desember 2008
Renungan Memasuki 2009
Renungan Memasuki 2009
Damai Sejahtera dan Umat Stres
Baharuddin Silaen
Dahlan (sebut saja begitu namanya) berdiri di atas pembatas jalan dekat lampu merah Ciledug, Tangerang. Saban pagi dia berdiri di tempat itu dengan posisi yang sama menghadap ke arah timur, tangannya seperti orang menghormat. Pakaian rapi layaknya orang kantoran. Sepintas tidak ada yang aneh dari penampilan Dahlan, sehingga yang melintas pun tidak terlalu menghiraukannya.
Belakangan diketahui, Dahlan usia sekitar 45 tahun itu, ternyata mengalami “gangguan pikiran,” stres, karena putus hubungan kerja (PHK) dari perusahaan tempatnya bekerja. Rupanya semasa aktif, Dahlan selalu menunggu jemputan di dekat lampu merah Ciledug. Mungkin ia merasa masih bekerja, pagi-pagi sudah datang ke tempat itu. Berdiri berjam-jam layaknya orang menunggu bis.
Dahlan tidak sendirian, nasib sama dialami ribuan pekerja korban PHK, walaupun belum sampai stres? Pada Desember 2008 saja sudah 20 ribu terkena PHK di Indonesia. Jumlah itu diperkirakan akan terus bertambah pada Januari 2009, menjadi dua juta orang. Pemandangan barisan panjang korban PHK bukan hanya di Indonesia, juga akan terjadi di belahan dunia, 20 juta pekerja di dunia akan memeriahkan barisan pengangguran—dipicu gelombang krisis keuangan global.
Nasib serupa juga menimpa pekerja Indonesia di Korea. Badan Nasional Penempatan dan Perlindungan Tenaga Kerja Indonesia mencatat 300 orang tenaga kerja Indonesia yang bekerja di Korea dipecat sehubungan krisis global. Pekerja yang dipecat itu kebanyakan bekerja di sektor manufacturing.
Sumber lain melansir, akibat himpitan ekonomi jumlah orang stres di Indonesia meningkat tajam sepanjang periode 2008. Bahkan pasien beberapa Rumah Sakit Jiwa disebutkan terus bertambah. Malah pihak rumah sakit kewalahan menampung pasien baru. Sumber itu merinci, jumlah yang stres paling banyak justru di Sumatera Utara. Penyebab stres rata-rata karena kesulitan ekonomi.
Apabila data itu benar, logikanya—penduduk Sumatera Utara banyak orang Batak. Orang Batak tersebut kebanyakan Kristen dan orang Batak Kristen di Sumatera Utara lebih banyak warga HKBP.
Contoh lain, ketika Merpati Nusantara Airlines (MNA) memberhentikan 1300 karyawan, dari antara yang terkena PHK ada puluhan warga HKBP. Ini baru dari satu perusahaan. Bayangkan berapa banyak warga HKBP pengangguran pada 2009? Kalaupun itu benar-benar terjadi, semua berharap dan berdoa jangan sampai ada yang stres apalagi terganggu pikiran.
Betul, selain berdoa, sebaiknya ada upaya konkrit dari gereja, soalnya faktanya sudah di depan mata. Para korban PHK perlu mendapat perhatian pihak gereja. Memang sangat dimaklumi, gereja bukan bursa kerja yang menyediakan lowongan pekerjaan, tetapi bukan pula gereja tidak punya tanggung jawab moril terhadap warganya yang dilanda kesusahan. Sekecil apa pun yang disumbangkan gereja, itu sangat berarti bagi mereka yang sedang terguncang karena benturan krisis ekonomi. Seperti tuntunan hidup agar tetap kokoh kendatipun badai menerpa—jangan sampai putus asa, apalagi menempuh “jalan pintas” yang tidak wajar. Begitupun kotbah, sebaiknya menyentuh dunia riil, jangan di awang-awang—melulu tentang indahnya sorga. Lebih baik lagi kalau didukung kotbah yang mencerahkan umat sehingga mampu menerima kenyataan serta tau membedakan mana pangunjunan (cobaan) dan mana pangago (yang jahat)
Berdasarkan catatan yang dihimpun, rata-rata yang stres menempuh jalan pintas (bunuh diri) lantaran menutup diri terhadap dunia luar. Mengurung diri. Karena itu mengurung diri bukanlah cara yang tepat. Sebaiknya terbuka dan mau berbagi kepada orang atau sahabat yang dipercaya. Sangat berguna melakukan kegiatan maupun kegemaran apa saja yang disukai
Rumitnya masalah yang dihadapi umat manusia masa kini, inspirasi bagi beberapa kalangan mendirikan pusat pelayanan krisis. (Crisis Centre) Termasuk lembaga keagaamaan (gereja) Di kota-kota besar di dunia termasuk Indonesia pusat pelayanan krisis tidak susah dicari. Ada yang on line 24 jam. Ada juga yang bisa diakses lewat internet. Ada yang profesional tapi ada juga amatiran. Serunya, ada yang mengemas label iklan pelayanan dengan tulisan “Sebelum Anda bunuh diri hubungi kami.”
Belum lagi berapa banyak keluhan umat manusia yang dikirim lewat email dan SMS saban hari. Ini juga sebagai bukti, umat manusia masa kini ingin diperhatikan dan didengar. Curhat. Masalahnya, siapa yang mau memperhatikan dan mendengar keluhan orang lain?
Agaknya, krisis global bukanlah satu-satunya pemicu stres, tapi juga ketertutupan dan sifat egoisme turut memperparah keadaan saat ini. Manusia saat ini cenderung tidak perduli kepada orang lain—bahkan menutup diri terhadap dunia sekitar. Orang di sekitar bahkan di depan pagar rumahnya pun tidak dikenal, jangankan membantu, menegur pun ogah. Begitu juga deretan rumah-rumah mewah dipagar besi menjulang tinggi—wajah rumah itu mendadak sangar dan tidak bersahabat sebagai bukti tingginya egoisme manusia. Namun, tindakan menembok rumah tidak bisa disalahkan, soalnya banyak faktor kenapa orang tertutup. Sebut saja tragedi Mei 1998 misalnya, masih menyisahkan trauma berat akibat penjarahan dan kekerasan yang menimpa warga tertentu. Sejak tragedi itulah warga rame-rame menembok rumahnya rapat-rapat dan kurang peduli terhadap lingkungan sekitarnya.
Bersamaan dengan Tahun Diakonia HKBP 2009 yang menggagas persekutuan warga jemaat secara nasional yang memikirkan pelayanan diakonia berkelanjutan, menyongsong jubileum 150 tahun HKBP, merespon berbagai masalah kemiskinan, kekerasan, keterbelakangan dan masalah lingkungan serta merespon masalah demokrasi dan globalisasi. (Suara HKBP, Desember 2008) Moment ini diharapkan sebagai ajang aksi sosial sekaligus terebosan untuk menyentuh kaum marjinal termasuk umat yang terimbas dampak krisis keuangan global.
Kendatipun dalam agenda tidak ada tercantum pelayanan bagi warga yang stres, bukan berarti diakonia tidak solider terhadap kesulitan yang dihadapi warga gereja—termasuk bagi warga yang sedang stres.
Kalau selama ini Departemen Diakonia cukup tanggap dan sigap mendatangi serta memberikan sumbangan kepada yang tertimpa bencana, diharapkan pada 2009 departemen ini juga memperhatikan umat yang ditimpa stres. Warga sangat mendambakan kehadiran gereja untuk menyentuh sisi kehidupan riil yang benar-benar dialami dan terjadi di dunia, saat ini. Setidaknya, Departemen Diakonia bisa menterjemahkan simbol keagaamaan yaitu kasih menjadi ikan dan roti bagi warga yang mebutuhkannya.
Lalu, damai sejahtera dari Allah bukanlah sebatas angin sorga tetapi juga bukti kepedulian terhadap umat yang dililit kesusahan dan stres.
Buku Ende No 286 “Unang ma tangishon” menarik juga direnungkan—siapa tau bisa menghibur.
Unang ma tangishon holso ni roham
Tu Jesus aluhan arsak ni roham
Molo humaliang gaor pe sasude
Sai porsea monang do luhut muse
Sai adong deba marsak songon ho
Ho ma paboahon na mangapul ho
Rap ho martangiang dohot angka i
Paima dipasonang Jesus sasude.
Damai Sejahtera dan Umat Stres
Baharuddin Silaen
Dahlan (sebut saja begitu namanya) berdiri di atas pembatas jalan dekat lampu merah Ciledug, Tangerang. Saban pagi dia berdiri di tempat itu dengan posisi yang sama menghadap ke arah timur, tangannya seperti orang menghormat. Pakaian rapi layaknya orang kantoran. Sepintas tidak ada yang aneh dari penampilan Dahlan, sehingga yang melintas pun tidak terlalu menghiraukannya.
Belakangan diketahui, Dahlan usia sekitar 45 tahun itu, ternyata mengalami “gangguan pikiran,” stres, karena putus hubungan kerja (PHK) dari perusahaan tempatnya bekerja. Rupanya semasa aktif, Dahlan selalu menunggu jemputan di dekat lampu merah Ciledug. Mungkin ia merasa masih bekerja, pagi-pagi sudah datang ke tempat itu. Berdiri berjam-jam layaknya orang menunggu bis.
Dahlan tidak sendirian, nasib sama dialami ribuan pekerja korban PHK, walaupun belum sampai stres? Pada Desember 2008 saja sudah 20 ribu terkena PHK di Indonesia. Jumlah itu diperkirakan akan terus bertambah pada Januari 2009, menjadi dua juta orang. Pemandangan barisan panjang korban PHK bukan hanya di Indonesia, juga akan terjadi di belahan dunia, 20 juta pekerja di dunia akan memeriahkan barisan pengangguran—dipicu gelombang krisis keuangan global.
Nasib serupa juga menimpa pekerja Indonesia di Korea. Badan Nasional Penempatan dan Perlindungan Tenaga Kerja Indonesia mencatat 300 orang tenaga kerja Indonesia yang bekerja di Korea dipecat sehubungan krisis global. Pekerja yang dipecat itu kebanyakan bekerja di sektor manufacturing.
Sumber lain melansir, akibat himpitan ekonomi jumlah orang stres di Indonesia meningkat tajam sepanjang periode 2008. Bahkan pasien beberapa Rumah Sakit Jiwa disebutkan terus bertambah. Malah pihak rumah sakit kewalahan menampung pasien baru. Sumber itu merinci, jumlah yang stres paling banyak justru di Sumatera Utara. Penyebab stres rata-rata karena kesulitan ekonomi.
Apabila data itu benar, logikanya—penduduk Sumatera Utara banyak orang Batak. Orang Batak tersebut kebanyakan Kristen dan orang Batak Kristen di Sumatera Utara lebih banyak warga HKBP.
Contoh lain, ketika Merpati Nusantara Airlines (MNA) memberhentikan 1300 karyawan, dari antara yang terkena PHK ada puluhan warga HKBP. Ini baru dari satu perusahaan. Bayangkan berapa banyak warga HKBP pengangguran pada 2009? Kalaupun itu benar-benar terjadi, semua berharap dan berdoa jangan sampai ada yang stres apalagi terganggu pikiran.
Betul, selain berdoa, sebaiknya ada upaya konkrit dari gereja, soalnya faktanya sudah di depan mata. Para korban PHK perlu mendapat perhatian pihak gereja. Memang sangat dimaklumi, gereja bukan bursa kerja yang menyediakan lowongan pekerjaan, tetapi bukan pula gereja tidak punya tanggung jawab moril terhadap warganya yang dilanda kesusahan. Sekecil apa pun yang disumbangkan gereja, itu sangat berarti bagi mereka yang sedang terguncang karena benturan krisis ekonomi. Seperti tuntunan hidup agar tetap kokoh kendatipun badai menerpa—jangan sampai putus asa, apalagi menempuh “jalan pintas” yang tidak wajar. Begitupun kotbah, sebaiknya menyentuh dunia riil, jangan di awang-awang—melulu tentang indahnya sorga. Lebih baik lagi kalau didukung kotbah yang mencerahkan umat sehingga mampu menerima kenyataan serta tau membedakan mana pangunjunan (cobaan) dan mana pangago (yang jahat)
Berdasarkan catatan yang dihimpun, rata-rata yang stres menempuh jalan pintas (bunuh diri) lantaran menutup diri terhadap dunia luar. Mengurung diri. Karena itu mengurung diri bukanlah cara yang tepat. Sebaiknya terbuka dan mau berbagi kepada orang atau sahabat yang dipercaya. Sangat berguna melakukan kegiatan maupun kegemaran apa saja yang disukai
Rumitnya masalah yang dihadapi umat manusia masa kini, inspirasi bagi beberapa kalangan mendirikan pusat pelayanan krisis. (Crisis Centre) Termasuk lembaga keagaamaan (gereja) Di kota-kota besar di dunia termasuk Indonesia pusat pelayanan krisis tidak susah dicari. Ada yang on line 24 jam. Ada juga yang bisa diakses lewat internet. Ada yang profesional tapi ada juga amatiran. Serunya, ada yang mengemas label iklan pelayanan dengan tulisan “Sebelum Anda bunuh diri hubungi kami.”
Belum lagi berapa banyak keluhan umat manusia yang dikirim lewat email dan SMS saban hari. Ini juga sebagai bukti, umat manusia masa kini ingin diperhatikan dan didengar. Curhat. Masalahnya, siapa yang mau memperhatikan dan mendengar keluhan orang lain?
Agaknya, krisis global bukanlah satu-satunya pemicu stres, tapi juga ketertutupan dan sifat egoisme turut memperparah keadaan saat ini. Manusia saat ini cenderung tidak perduli kepada orang lain—bahkan menutup diri terhadap dunia sekitar. Orang di sekitar bahkan di depan pagar rumahnya pun tidak dikenal, jangankan membantu, menegur pun ogah. Begitu juga deretan rumah-rumah mewah dipagar besi menjulang tinggi—wajah rumah itu mendadak sangar dan tidak bersahabat sebagai bukti tingginya egoisme manusia. Namun, tindakan menembok rumah tidak bisa disalahkan, soalnya banyak faktor kenapa orang tertutup. Sebut saja tragedi Mei 1998 misalnya, masih menyisahkan trauma berat akibat penjarahan dan kekerasan yang menimpa warga tertentu. Sejak tragedi itulah warga rame-rame menembok rumahnya rapat-rapat dan kurang peduli terhadap lingkungan sekitarnya.
Bersamaan dengan Tahun Diakonia HKBP 2009 yang menggagas persekutuan warga jemaat secara nasional yang memikirkan pelayanan diakonia berkelanjutan, menyongsong jubileum 150 tahun HKBP, merespon berbagai masalah kemiskinan, kekerasan, keterbelakangan dan masalah lingkungan serta merespon masalah demokrasi dan globalisasi. (Suara HKBP, Desember 2008) Moment ini diharapkan sebagai ajang aksi sosial sekaligus terebosan untuk menyentuh kaum marjinal termasuk umat yang terimbas dampak krisis keuangan global.
Kendatipun dalam agenda tidak ada tercantum pelayanan bagi warga yang stres, bukan berarti diakonia tidak solider terhadap kesulitan yang dihadapi warga gereja—termasuk bagi warga yang sedang stres.
Kalau selama ini Departemen Diakonia cukup tanggap dan sigap mendatangi serta memberikan sumbangan kepada yang tertimpa bencana, diharapkan pada 2009 departemen ini juga memperhatikan umat yang ditimpa stres. Warga sangat mendambakan kehadiran gereja untuk menyentuh sisi kehidupan riil yang benar-benar dialami dan terjadi di dunia, saat ini. Setidaknya, Departemen Diakonia bisa menterjemahkan simbol keagaamaan yaitu kasih menjadi ikan dan roti bagi warga yang mebutuhkannya.
Lalu, damai sejahtera dari Allah bukanlah sebatas angin sorga tetapi juga bukti kepedulian terhadap umat yang dililit kesusahan dan stres.
Buku Ende No 286 “Unang ma tangishon” menarik juga direnungkan—siapa tau bisa menghibur.
Unang ma tangishon holso ni roham
Tu Jesus aluhan arsak ni roham
Molo humaliang gaor pe sasude
Sai porsea monang do luhut muse
Sai adong deba marsak songon ho
Ho ma paboahon na mangapul ho
Rap ho martangiang dohot angka i
Paima dipasonang Jesus sasude.
Kamis, 27 November 2008
Yesus Bagi yang Saleh dan Sekuler
John Shelby Spong penulis buku “Yesus bagi Orang Non Religius” bersikukuh menggugat doktrin yang diimani orang saleh dalam kurun waktu yang cukup panjang. Buktinya, ia tidak meragukan Yesus sebagai Tuhan, tapi ia tidak ingin menyembah suatu Allah yang tidak dapat ditatang atau setia pada suatu tradisi yang mengharuskan mengunci rapat-rapat pikiran.
Yesus sebagai seorang wisatawan sorgawi yang datang dari Allah di balik langit melalui suatu kelahiran ajaib dan yang ketika karyanya sudah selesai kembali kepada Allah itu melalui suatu perjalanan kosmik. Bagi John Shelby Spong penulis bestseller “The Sins of Scripture” ini, kisah ajaib itu sesuatu yang secara harfiah tidak masuk akal, tetapi juga sedikit lebih dari uraian teologis yang berbelit-belit dan sukar dipahami. “Mereka tidak mengerti bahwa mereka sebetulnya telah mengubur Yesus di dalam peti dan suatu dunia lain, suatu waktu lain dan suatu tempat lain,” papar Spong.
Pada ulasan lain ia mengimbuhkan argumen yang radikal sekitar kelahiran Yesus. Tidak ada bintang di atas Betlehem. Tempat lahir Yesus di Betlehemn bukan sejarah. Nabi Mikha tidak meramalkannya. Sebuah bintang tidak memberitahukannya. Para Majus tidak mengikuti bintang itu. Bintang itu tidak membawa mereka ke istana raja atau ke rumah Betlehem, tempat yang dikatakan oleh tradisi sebagai tempat kelahiran bayi Kristus. Para Majus tidak mempersembahkan emas, mur dan kemenyan. “Semua rincian ini adalah bagian dari sebuah mitologi yang sedang tumbuh yang harus dipisahkan dari Yesus jika kita ingin melihatnya sebagaimana dia adanya.”
Tempat kelahiran Betlehem adalah suatu bagian lain dari suatu tradisi tafsir mesianik yang sedang berkembang. Jika sejarah adalah agenda utama kita, pada perayaan Natal kita harus bernyanyi “Hai kota mungil Nazaret” sebab kota inilah yang kuat kemungkinan sebagai tempat di mana orang yang dikenal sebagai Yesus dari Nazaret dilahirkan. “Ada apa dengan Yesus ini, sehingga membuat orang merasa perlu menyelimuti kelahirannya dengan asal-usulnya dari Betlehem dan dengan tanda-tanda dan keajaiban-keajaiban?” (hal. 28)
Buku yang diterbitkan PT Gramedia Pustaka Umum ini pun, berupaya membeberkan kisah orang tua Yesus dari sudut pandang Matius, Markus, Lukas dan sumber tertulis yang dinamakan Q (Jerman Quelle—sumber) “Bukankah ia ini anak tukang kayu. Bukankah ibunya bernama Maria?” (Matius 13:55)
Bagi Spong ayat ini rupanya menggugah, kenapa musti melibatkan Maria? Apakah nama itu sekedar melengkapi atau mempertanyakan siapakah sesungguhnya Maria? “Hanya dari penulisan ulang oleh Matius atas perikop Markus ini muncul tradisi Yusuf sebagai seorang tukang kayu. Matius melicinkan teks Markus sehingga teks ini selaras dengan perikop tentang kelahiran ajaib Yesus yang baru ia masukkan ke dalam injilnya.”
“Saya tidak percaya bahwa orang bernama Yusuf ini, yang menjadi ayah insani yang melindungi Yesus, pernah hidup. Teks-teks yang kita teliti di atas mendukung pernyataan saya ini. Yusuf dari awal sampai akhir adalah sosok mitologis ciptaan murni penulis yang kita sebut Markus.” (hal. 40)
“Saya tidak berpikir ada orang yang mengetahui siapa ayah Yesus, termasuk para penulis Perjanjian Baru. Markus tidak pernah mengatakannya. Matius dan Lukas mengatakan bahwa Roh Kudus adalah ayah Yesus sebenarnya. Injil Yohanes, yang sering disebut Injil Keempat, menyingkirkan kisah kelahiran ajaib Yesus, tetapi merujuk pada Yesus sebabagai anak Yusuf pada dua kesempatan (Yohanes 1:45; 6:42)”
Menurut penulis buku yang aslinya “Jesus for the Non-Religions” ini, alasan mengapa Yusuf tetap menjadi sosok tidak jelas sepanjang sejarah Kristen, karena ia memang merupakan karakter sastrawi sejak dari awalnya, diciptakan dari mitologi interpretatif yang berkembang.
Memang, Spong tidak serta-merta menerima mitos interpretatif yang menyelimuti kehidupan Yesus dari sisi pemahaman tradisionil. “Namun, kendatipun telah mengatakan itu, saya tetap seorang Kristen yang setia. Saya masih meyakini kebenaran yang ditemukan dalam realitas asasi yang saya namakan Allah dan saya masih melihat di dalam Yesus keallahan dan kemanusiaan menetap sepenuh-penuhnya.” (hal. 84)
Terus terang, banyak informasi dijumpai saat membaca buku ini, bahkan membuat yang saleh akan geleng-geleng kepala dengan paparan John Shelby Spong yang amat berani. Soalnya, penulis yang juga dosen tamu di berbagai universitas di Amerika Utara ini, hendak membersihkan potret Yesus dari batas-batas agama yang dipahami secara tradisionil.
Buku ini bisa dijadikan refrensi perbandingan serta pantas dibaca para teolog, mahasiswa dan pendeta yang melayani di abad 21 ini. (bas)
Yesus sebagai seorang wisatawan sorgawi yang datang dari Allah di balik langit melalui suatu kelahiran ajaib dan yang ketika karyanya sudah selesai kembali kepada Allah itu melalui suatu perjalanan kosmik. Bagi John Shelby Spong penulis bestseller “The Sins of Scripture” ini, kisah ajaib itu sesuatu yang secara harfiah tidak masuk akal, tetapi juga sedikit lebih dari uraian teologis yang berbelit-belit dan sukar dipahami. “Mereka tidak mengerti bahwa mereka sebetulnya telah mengubur Yesus di dalam peti dan suatu dunia lain, suatu waktu lain dan suatu tempat lain,” papar Spong.
Pada ulasan lain ia mengimbuhkan argumen yang radikal sekitar kelahiran Yesus. Tidak ada bintang di atas Betlehem. Tempat lahir Yesus di Betlehemn bukan sejarah. Nabi Mikha tidak meramalkannya. Sebuah bintang tidak memberitahukannya. Para Majus tidak mengikuti bintang itu. Bintang itu tidak membawa mereka ke istana raja atau ke rumah Betlehem, tempat yang dikatakan oleh tradisi sebagai tempat kelahiran bayi Kristus. Para Majus tidak mempersembahkan emas, mur dan kemenyan. “Semua rincian ini adalah bagian dari sebuah mitologi yang sedang tumbuh yang harus dipisahkan dari Yesus jika kita ingin melihatnya sebagaimana dia adanya.”
Tempat kelahiran Betlehem adalah suatu bagian lain dari suatu tradisi tafsir mesianik yang sedang berkembang. Jika sejarah adalah agenda utama kita, pada perayaan Natal kita harus bernyanyi “Hai kota mungil Nazaret” sebab kota inilah yang kuat kemungkinan sebagai tempat di mana orang yang dikenal sebagai Yesus dari Nazaret dilahirkan. “Ada apa dengan Yesus ini, sehingga membuat orang merasa perlu menyelimuti kelahirannya dengan asal-usulnya dari Betlehem dan dengan tanda-tanda dan keajaiban-keajaiban?” (hal. 28)
Buku yang diterbitkan PT Gramedia Pustaka Umum ini pun, berupaya membeberkan kisah orang tua Yesus dari sudut pandang Matius, Markus, Lukas dan sumber tertulis yang dinamakan Q (Jerman Quelle—sumber) “Bukankah ia ini anak tukang kayu. Bukankah ibunya bernama Maria?” (Matius 13:55)
Bagi Spong ayat ini rupanya menggugah, kenapa musti melibatkan Maria? Apakah nama itu sekedar melengkapi atau mempertanyakan siapakah sesungguhnya Maria? “Hanya dari penulisan ulang oleh Matius atas perikop Markus ini muncul tradisi Yusuf sebagai seorang tukang kayu. Matius melicinkan teks Markus sehingga teks ini selaras dengan perikop tentang kelahiran ajaib Yesus yang baru ia masukkan ke dalam injilnya.”
“Saya tidak percaya bahwa orang bernama Yusuf ini, yang menjadi ayah insani yang melindungi Yesus, pernah hidup. Teks-teks yang kita teliti di atas mendukung pernyataan saya ini. Yusuf dari awal sampai akhir adalah sosok mitologis ciptaan murni penulis yang kita sebut Markus.” (hal. 40)
“Saya tidak berpikir ada orang yang mengetahui siapa ayah Yesus, termasuk para penulis Perjanjian Baru. Markus tidak pernah mengatakannya. Matius dan Lukas mengatakan bahwa Roh Kudus adalah ayah Yesus sebenarnya. Injil Yohanes, yang sering disebut Injil Keempat, menyingkirkan kisah kelahiran ajaib Yesus, tetapi merujuk pada Yesus sebabagai anak Yusuf pada dua kesempatan (Yohanes 1:45; 6:42)”
Menurut penulis buku yang aslinya “Jesus for the Non-Religions” ini, alasan mengapa Yusuf tetap menjadi sosok tidak jelas sepanjang sejarah Kristen, karena ia memang merupakan karakter sastrawi sejak dari awalnya, diciptakan dari mitologi interpretatif yang berkembang.
Memang, Spong tidak serta-merta menerima mitos interpretatif yang menyelimuti kehidupan Yesus dari sisi pemahaman tradisionil. “Namun, kendatipun telah mengatakan itu, saya tetap seorang Kristen yang setia. Saya masih meyakini kebenaran yang ditemukan dalam realitas asasi yang saya namakan Allah dan saya masih melihat di dalam Yesus keallahan dan kemanusiaan menetap sepenuh-penuhnya.” (hal. 84)
Terus terang, banyak informasi dijumpai saat membaca buku ini, bahkan membuat yang saleh akan geleng-geleng kepala dengan paparan John Shelby Spong yang amat berani. Soalnya, penulis yang juga dosen tamu di berbagai universitas di Amerika Utara ini, hendak membersihkan potret Yesus dari batas-batas agama yang dipahami secara tradisionil.
Buku ini bisa dijadikan refrensi perbandingan serta pantas dibaca para teolog, mahasiswa dan pendeta yang melayani di abad 21 ini. (bas)
Demokrasi Paman Sam Inspirasi Dunia
Demokrasi Paman Sam Inspirasi Dunia
Baharuddin Silaen
Pada musim gugur, 1963, di negeri Paman Sam (Amerika Serikat) Martin Luther King Jr merajut mimpi. Mimpi itu dihamparkan lewat pidato yang amat menggetarkan seantero Amerika. Pidato yang sangat berani dibungkus pesan tentang masa depan warga kulit hitam di AS. “I have a Dream.”
Martin Luther King Jr, bermimpi melihat anak-anaknya suatu hari nanti hidup di suatu negara yang mampu menilai mereka tidak dari warna kulit, melainkan dari kepribadian dan watak. Ia juga bermimpi orang hitam pergi ke kolam renang, ke toilet umum dan naik bus tanpa harus duduk di kursi paling belakang. Untuk mimpi ini, King pun rela membayarnya dengan nyawa demi suatu harapan. Pejuang persamaan hak bagi kulit berwarna ini dibunuh lantaran mimpinya cukup mengganggu kenyamanan kelompok masyarakat rasis.
Setelah 45 tahun, mimpi itu benar-benar menjadi kenyataan. Adalah Barack Obama yang mewujudkannya dengan pidato yang menggetarkan, bergerak dengan semangat perubahan. Ia sosok yang dikagumi, bukan hanya oleh negerinya sendiri, tetapi di belahan dunia.” Tidak ada yang tak mungkin terjadi di Amerika ini,” ucap Obama yang pernah tinggal di Menteng Dalam, Jakarta ini.
Barack Obama dari Partai Demokrasi mengukir sejarah. Ia terpilih sebagai Presiden Amerika Serikat ke-44 dengan mengusung isu perubahan—“Change We Believe In.” Pemilihan yang cantik, melalui vote yang dikemas rapi sehingga Amerika berhasil memperagakan sistem demokrasi yang pantas ditiru. Tidak ada huru-hara menghadang saat Obama dinyatakan menang. Hebatnya, John McCain yang kalah dengan ikhlas mengakui kekalahannya dan menghormati hasil pemilihan tanpa melakukan protes, apalagi meminta pemilihan diulang kembali. Tidak lama berselang, John McCain tampil di hadapan pendukungnya dan meminta supaya mendukung Barack Obama memimpin AS. Salut!
Bagaimanapun, Amerika sudah menyuguhkan contoh berdemokrasi yang berpihak kepada rakyat dan sekaligus sistem demokrasi di negeri Paman Sam ini mengilhami dunia, termasuk Indonesia. Kendatipun Amerika negara yang dihuni penduduk beragam; multiras, multietnis, multiagama dan multibudaya namun pemilihan presiden berlangsung santun dan elegan. Prinsip siap kalah dan siap menang patut ditiru.
Sikap seperti itulah yang mendesak harus dilakoni para elite politik di Indonesia, apalagi dalam pemilihan kepala daerah di negeri ini, tiada pemilihan tanpa kericuhan. Brutal dan anarkis. Malah, ada yang ngotot membawa perkara ke Mahkamah Konstitusi karena kalah suara. Memang pengalaman bangsa ini berdemokrasi belum banyak dibanding Amerika Serikat, tetapi janganlah itu dijadikan alasan untuk terus berkubang dalam sifat arogan dan picik.
Sangat memalukan, setiap penghitungan suara Pilkada selalu berakhir ricuh. Bukan hanya saling lempar batu, tapi fasilitas pun ikut dibakar dan dihancurkan. Paling konyol, massa masing-masing pendukung mendadak menjadi kerumunan yang kalap dan hilang kendali (lawless crowds) Kadar intelektual melorot ke titik nol, lalu bertingkah seperti gembel. Tidak jelas apa yang hendak diperjuangkan, selebihnya pola pikir yang ngaur tak keruan.
Thomas Hobbes, filsuf Inggris, yang terkenal dengan gagasan bidang sosial politik (Leviathan) sudah mengingatkan, manusia yang tidak mempergunakan nalar atau pemikiran dengan tertib akan terperangkap ke dalam sifat bermusuhan. Karena dalam keadaan alamiah, kehidupan manusia didasarkan pada keinginan yang mekanis, sehingga manusia selalu saling berkelahi. Manusia, kata Hobbes, pada dasarnya hanya memikirkan kepentingan diri sendiri, segala tindakan manusia mengarah pada pemupukan kekuasaan dan hak milik (homo homini lupus) Supaya terhindar dari sifat suka berkelahi (ricuh-pen)harus ada pemerintah yang berwiba menengahinya.
Sesungguhnya, bukan hanya pada tingkat Pilkada gelagat yang kurang bersahabat dapat disaksikan. Pada pemilihan presiden pun ketidaksiapan kalah dan menang masih dipertontonkan di negeri ini. Gara-gara kalah jadi presiden, hubungan silaturahmi pun mendadak kurang “mesra,” tidak saling tegur sapa—tidak mau ketemu. Lucunya lagi, berlanjut ke arah saling menjegal dan menjelekkan bahkan sering mengungkit-ungkit kelemahan lawan yang selanjutnya dijadikan isu pelaris kampanye politik 2009.
Sungguh naif dan membuat geleng-geleng kepala menyaksikan cara kita berdemokrasi. Apakah ini sebagai tanda, pemahaman kita tentang demokrasi masih sebatas wacana? Belum mampu menyentuh hakekat demokrasi yang sejati—hanya menempal di atas kulit—belum menyatu dengan siprit nasionalisme yang selama ini didengung-dengungkan.
Sikap gemar menjelekan dan menjegal dari para elite politik khusus bagi yang bermimpi jadi presiden republik ini juga dipertontonkan dalam iklan di media elektronik. Hampir semua Capres yang ditayangan di iklan itu menyalib di wilayah kelemahan lawan. Berlomba-lomba menyebar pesona kepada petani, kaum miskin, nelayan sereta saling mendahului menarik simpati. Tidak soal biaya menggarap dan tayang iklan itu miliaran rupiah. Dari segi kemasan dan materi, iklan itu cukup berhasil menggugah, maklumlah mengatasnamakan orang miskin, kaum melarat dan terpinggirkan. Pokok semua berpihak pada rakyat miskin. Mudah-mudahan bukan hanya dalam iklan kampanye Capres berpihak kepada rakyat kecil.
Tidak salah apalagi malu, rakyat Indonesia belajar dari Amerika soal sistem demokrasi. Keberhasilan warga Amerika Serikat merawat kebhinekaan serta menghormati demokrasi bisa menjadi inspirasi bagi warga dunia, tidak terkecuali Indonesia. Negeri Paman Sam ini sudah membuktikan prinsip utama sistem demokrasi tergantung kepercayaan rakyat yang bebas mengutarakan pendapat. Mereka tidak lagi melihat warna kulit, minoritas atau mayoritas tapi semua dinilai dari kemampuan dan kelayakan berdasarkan logika obyektif bukan melalui kerangka berpikir yang subyektif—lantaran satu agama, satu suku, kerabat dan konco, misalnya.
Amerika menunjukkan kepada warga AS dan dunia suatu kampanye pemilihan presiden yang menarik, hasilnya pun mencengangkan dunia. Barack Obama keturunan Afrika-Amerika, ayah kandung dari Kenya itu menjadi orang nomor satu di Amerika—baru pertama kali dalam sejarah kepresidenan AS sejak merdeka 232 tahun silam, presiden kulit hitam masuk ke Gedung Putih. Luar biasa! Kemenangannya pun disambut hangat dengan damai.
Lantas, sistem demokrasi di negara Paman Sam ini menjadi inspirasi bagi warga dunia terutama Indonesia.
Baharuddin Silaen
Pada musim gugur, 1963, di negeri Paman Sam (Amerika Serikat) Martin Luther King Jr merajut mimpi. Mimpi itu dihamparkan lewat pidato yang amat menggetarkan seantero Amerika. Pidato yang sangat berani dibungkus pesan tentang masa depan warga kulit hitam di AS. “I have a Dream.”
Martin Luther King Jr, bermimpi melihat anak-anaknya suatu hari nanti hidup di suatu negara yang mampu menilai mereka tidak dari warna kulit, melainkan dari kepribadian dan watak. Ia juga bermimpi orang hitam pergi ke kolam renang, ke toilet umum dan naik bus tanpa harus duduk di kursi paling belakang. Untuk mimpi ini, King pun rela membayarnya dengan nyawa demi suatu harapan. Pejuang persamaan hak bagi kulit berwarna ini dibunuh lantaran mimpinya cukup mengganggu kenyamanan kelompok masyarakat rasis.
Setelah 45 tahun, mimpi itu benar-benar menjadi kenyataan. Adalah Barack Obama yang mewujudkannya dengan pidato yang menggetarkan, bergerak dengan semangat perubahan. Ia sosok yang dikagumi, bukan hanya oleh negerinya sendiri, tetapi di belahan dunia.” Tidak ada yang tak mungkin terjadi di Amerika ini,” ucap Obama yang pernah tinggal di Menteng Dalam, Jakarta ini.
Barack Obama dari Partai Demokrasi mengukir sejarah. Ia terpilih sebagai Presiden Amerika Serikat ke-44 dengan mengusung isu perubahan—“Change We Believe In.” Pemilihan yang cantik, melalui vote yang dikemas rapi sehingga Amerika berhasil memperagakan sistem demokrasi yang pantas ditiru. Tidak ada huru-hara menghadang saat Obama dinyatakan menang. Hebatnya, John McCain yang kalah dengan ikhlas mengakui kekalahannya dan menghormati hasil pemilihan tanpa melakukan protes, apalagi meminta pemilihan diulang kembali. Tidak lama berselang, John McCain tampil di hadapan pendukungnya dan meminta supaya mendukung Barack Obama memimpin AS. Salut!
Bagaimanapun, Amerika sudah menyuguhkan contoh berdemokrasi yang berpihak kepada rakyat dan sekaligus sistem demokrasi di negeri Paman Sam ini mengilhami dunia, termasuk Indonesia. Kendatipun Amerika negara yang dihuni penduduk beragam; multiras, multietnis, multiagama dan multibudaya namun pemilihan presiden berlangsung santun dan elegan. Prinsip siap kalah dan siap menang patut ditiru.
Sikap seperti itulah yang mendesak harus dilakoni para elite politik di Indonesia, apalagi dalam pemilihan kepala daerah di negeri ini, tiada pemilihan tanpa kericuhan. Brutal dan anarkis. Malah, ada yang ngotot membawa perkara ke Mahkamah Konstitusi karena kalah suara. Memang pengalaman bangsa ini berdemokrasi belum banyak dibanding Amerika Serikat, tetapi janganlah itu dijadikan alasan untuk terus berkubang dalam sifat arogan dan picik.
Sangat memalukan, setiap penghitungan suara Pilkada selalu berakhir ricuh. Bukan hanya saling lempar batu, tapi fasilitas pun ikut dibakar dan dihancurkan. Paling konyol, massa masing-masing pendukung mendadak menjadi kerumunan yang kalap dan hilang kendali (lawless crowds) Kadar intelektual melorot ke titik nol, lalu bertingkah seperti gembel. Tidak jelas apa yang hendak diperjuangkan, selebihnya pola pikir yang ngaur tak keruan.
Thomas Hobbes, filsuf Inggris, yang terkenal dengan gagasan bidang sosial politik (Leviathan) sudah mengingatkan, manusia yang tidak mempergunakan nalar atau pemikiran dengan tertib akan terperangkap ke dalam sifat bermusuhan. Karena dalam keadaan alamiah, kehidupan manusia didasarkan pada keinginan yang mekanis, sehingga manusia selalu saling berkelahi. Manusia, kata Hobbes, pada dasarnya hanya memikirkan kepentingan diri sendiri, segala tindakan manusia mengarah pada pemupukan kekuasaan dan hak milik (homo homini lupus) Supaya terhindar dari sifat suka berkelahi (ricuh-pen)harus ada pemerintah yang berwiba menengahinya.
Sesungguhnya, bukan hanya pada tingkat Pilkada gelagat yang kurang bersahabat dapat disaksikan. Pada pemilihan presiden pun ketidaksiapan kalah dan menang masih dipertontonkan di negeri ini. Gara-gara kalah jadi presiden, hubungan silaturahmi pun mendadak kurang “mesra,” tidak saling tegur sapa—tidak mau ketemu. Lucunya lagi, berlanjut ke arah saling menjegal dan menjelekkan bahkan sering mengungkit-ungkit kelemahan lawan yang selanjutnya dijadikan isu pelaris kampanye politik 2009.
Sungguh naif dan membuat geleng-geleng kepala menyaksikan cara kita berdemokrasi. Apakah ini sebagai tanda, pemahaman kita tentang demokrasi masih sebatas wacana? Belum mampu menyentuh hakekat demokrasi yang sejati—hanya menempal di atas kulit—belum menyatu dengan siprit nasionalisme yang selama ini didengung-dengungkan.
Sikap gemar menjelekan dan menjegal dari para elite politik khusus bagi yang bermimpi jadi presiden republik ini juga dipertontonkan dalam iklan di media elektronik. Hampir semua Capres yang ditayangan di iklan itu menyalib di wilayah kelemahan lawan. Berlomba-lomba menyebar pesona kepada petani, kaum miskin, nelayan sereta saling mendahului menarik simpati. Tidak soal biaya menggarap dan tayang iklan itu miliaran rupiah. Dari segi kemasan dan materi, iklan itu cukup berhasil menggugah, maklumlah mengatasnamakan orang miskin, kaum melarat dan terpinggirkan. Pokok semua berpihak pada rakyat miskin. Mudah-mudahan bukan hanya dalam iklan kampanye Capres berpihak kepada rakyat kecil.
Tidak salah apalagi malu, rakyat Indonesia belajar dari Amerika soal sistem demokrasi. Keberhasilan warga Amerika Serikat merawat kebhinekaan serta menghormati demokrasi bisa menjadi inspirasi bagi warga dunia, tidak terkecuali Indonesia. Negeri Paman Sam ini sudah membuktikan prinsip utama sistem demokrasi tergantung kepercayaan rakyat yang bebas mengutarakan pendapat. Mereka tidak lagi melihat warna kulit, minoritas atau mayoritas tapi semua dinilai dari kemampuan dan kelayakan berdasarkan logika obyektif bukan melalui kerangka berpikir yang subyektif—lantaran satu agama, satu suku, kerabat dan konco, misalnya.
Amerika menunjukkan kepada warga AS dan dunia suatu kampanye pemilihan presiden yang menarik, hasilnya pun mencengangkan dunia. Barack Obama keturunan Afrika-Amerika, ayah kandung dari Kenya itu menjadi orang nomor satu di Amerika—baru pertama kali dalam sejarah kepresidenan AS sejak merdeka 232 tahun silam, presiden kulit hitam masuk ke Gedung Putih. Luar biasa! Kemenangannya pun disambut hangat dengan damai.
Lantas, sistem demokrasi di negara Paman Sam ini menjadi inspirasi bagi warga dunia terutama Indonesia.
Sabtu, 01 November 2008
Angka Satu Sampai Sembilan Ditulis Dengan Huruf
Angka Satu Sampai Sembilan Ditulis Dengan Huruf
Baharuddin Silaen
Pada tulisan sebelumnya, dikemukakan; bahasa jurnalistik yang lazim digunakanan para jurnalis mempunyai ciri-ciri; singkat, padat, sederhana, lancar, jelas,lugas, menarik dan netral. Selain ciri-ciri tersebut, masih ada beberapa kaidah bahasa jurnalistik yang perlu diperhatikan ketika menulis pada media cetak, yakni; penulisan angka dan singkatan.
Penulisan angka dalam jurnalistik, seperti angka satu sampai sembilan ditulis dengan huruf, bukan angka. Misal; “Baru-baru ini 3 praeses dilantik di Jakarta.” “Tahun ini ada 9 pendeta pensiun.” “Polisi menangkap 7 orang bandar narkoba.” Penulisan yang benar; “Baru-baru ini tiga praeses dilantik di Jakarta.” Tahun ini ada sembilan pendeta pensiun.” Polisi menangkap tujuh orang bandar narkoba.”
Contoh lain, “Rumah itu berukuran lima kali sembilan meter.” Bukan, “Rumah itu berukuran 5 x 9 m.” Setiap hari Muchtar jalan kaki sejauh delapan kilometer.” Bukan, “Setiap hari Muchtar jalan kaki sejauh 8 km.” “Ia menyumbangkan 5 % dari pendapatannya ke panti asuhan.” Penulisan yang benar, “Ia menyumbangkan lima persen dari pendapatannya ke panti asuhan.” “Gajinya per bulan Rp 5.000.000.” Tulislah seperti berikut, “Gajinya per bulan Rp 5 juta.”
Sedangkan angka 10 dan seterusnya harus ditulis dengan angka. “Dikabarkan ada 10 orang terluka pada saat kericuhan Pilkada.” Pada pemilihan bupati, Ruben unggul 23 suara dari lawannya.” “Dilaporkan ada 12 orang terkena HIV/AIDS.”
Namun, ada kekecualian, kalau di awal kalimat terdapat angka, harus ditulis dengan huruf. Misal; “Sepuluh mahasiswa harus mengikuti ujian ulangan.” “Seratus warga desa mendapat bayar langsung tunai.” Tetapi, kalau jumlah itu tidak pasti, mungkin kurang dan kemungkinan juga lebih. Tulislah seperti berikut; “Ribuan pengunjuk rasa mendatangi kantor bupati.” “Ratusan penduduk desa protes karena izin penambangan pasir diperpanjang.” “Puluhan penumpang bis terlantar di terminal.”
Boleh juga ditulis seperti ini, “Sawah penduduk yang tergenang banjir kurang lebih 50 hektar.” “Sekitar 500 meter jalan terputus akibat tanah longsor.” “Sedikitnya, 15 rumah habis terbakar.” “Ditaksir kerugian akibat kebakaran itu Rp 2 miliar.” Penulisan seperti ini sering dijumpai dalam surat kabar (media cetak) hasil perkiraan wartawan di lapangan.
Hati-hati terhadap penulisan angka yang diawali huruf. Harus dimbuhkan tanda penghubung (-) antara huruf dengan angka. Misal; “HUT RI ke-63 diperingati.” Turbo dan istri merayakan hari perkawinan yang ke-5.” Atau boleh juga dengan cara berikut, ”Turbo dan istri merayakan hari perkawinan yang kelima.” “HKBP pada 2012 jubileum yang ke-150.”
Sama halnya dengan penulisan angka satu sampai sembilan, seperti itu juga polanya pada penulisan angka yang diawali huruf. “Dia juara ketiga dalam pertandingan catur.” “Perguruan itu peringkat ke-9 terbaik dari 25 perguruan tinggi.”
Pedoman lain yang perlu diingat dalam penulisan di mass media. Jangan terlalu rajin menulis singkatan. Seperti; dll, sbb, yg, tsb, dst. Singkatan tersebut harus ditulis utuh—dan lain-lain, sebagai berikut, yang, tersebut, dan seterusnya.
Khusus “dan lain-lain” harus hati-hati mencantukam dalam tulisan. Acap kali penulis mengimbuhkan “dan lain-lain” tapi tidak jelas apa maksudnya? Contoh; “Kantor itu dilengkapi bermacam perabot, seperti; lemari, rak buku, meja tulis, televisi, computer, mesin photocopy, dll.
Apa yang dimaksud dengan dll pada kalimat tersebut—“dan lain-lain” itu apa? Siapa yang tau “dan lain-lain?” Jikalau memang masih ada lagi perabot di kantor itu, sebutkan saja, jangan ditulis “dan lain-lain.” Tetapi kalau memang sama sekali tidak tau lebih baik jangan ditulis dll. Ini namanya penulis yang tidak bertanggung jawab—mau enaknya saja! Sebaiknya, hindarilah cara penulisan seperti itu. Kebiasaan ini mungkin diambil alih dari model restoran yang mencatumkan dll pada menu makanan dan minuman yang dijual dalam restoran tersebut.
Sedangkan penulisan “ukuran panjang,” harus ditulis utuh—bukan disingkat, antara lain; meter, kilometer, hektar, sentimeter. Contoh penulisan yang salah. “Lebar jalan itu 5 m. Kecepatan rata-rata 100 km per jam. Luas sawah itu 4 ha. Panjang pulpen itu 10 cm.”
Penulisan yang benar; “Lebar jalan itu lima meter.” Kecepatan rata-rata 100 kilometer per jam.” Luas sawah itu empat hektar.” “Panjang pulpen itu 10 sentimeter.
Hampir sama dengan penulisan bilangan pecahan; setengah, seperempat, tiga per empat, dua per tiga, ditulis dengan huruf. “Berat ikan itu setengah kilogram.” “Sawah itu baru seperempat yang ditanami.” “Warga yang bayar pajak baru tiga per empat.” “Jumlah warga yang memilih sekitar dua per tiga.” “Luas lahan yang tidak terurus 25 meter per segi.” Bukan, “Luas lahan yang tidak terurus 25 m2.”
Sekali lagi, pola penulisan ini berlaku dalam bahasa jurnalistik yang biasa digunakan surat kabar.
Penulis pengajar di Fsipol UKI, mengampu mata kuliah bahasa jurnalistik. Yang berminat terhadap jurnalistik silahkan bergabung di email: baharuddinsilaen@yahoo.com. Atau Blooger Baharuddin Silaen—BAS
Baharuddin Silaen
Pada tulisan sebelumnya, dikemukakan; bahasa jurnalistik yang lazim digunakanan para jurnalis mempunyai ciri-ciri; singkat, padat, sederhana, lancar, jelas,lugas, menarik dan netral. Selain ciri-ciri tersebut, masih ada beberapa kaidah bahasa jurnalistik yang perlu diperhatikan ketika menulis pada media cetak, yakni; penulisan angka dan singkatan.
Penulisan angka dalam jurnalistik, seperti angka satu sampai sembilan ditulis dengan huruf, bukan angka. Misal; “Baru-baru ini 3 praeses dilantik di Jakarta.” “Tahun ini ada 9 pendeta pensiun.” “Polisi menangkap 7 orang bandar narkoba.” Penulisan yang benar; “Baru-baru ini tiga praeses dilantik di Jakarta.” Tahun ini ada sembilan pendeta pensiun.” Polisi menangkap tujuh orang bandar narkoba.”
Contoh lain, “Rumah itu berukuran lima kali sembilan meter.” Bukan, “Rumah itu berukuran 5 x 9 m.” Setiap hari Muchtar jalan kaki sejauh delapan kilometer.” Bukan, “Setiap hari Muchtar jalan kaki sejauh 8 km.” “Ia menyumbangkan 5 % dari pendapatannya ke panti asuhan.” Penulisan yang benar, “Ia menyumbangkan lima persen dari pendapatannya ke panti asuhan.” “Gajinya per bulan Rp 5.000.000.” Tulislah seperti berikut, “Gajinya per bulan Rp 5 juta.”
Sedangkan angka 10 dan seterusnya harus ditulis dengan angka. “Dikabarkan ada 10 orang terluka pada saat kericuhan Pilkada.” Pada pemilihan bupati, Ruben unggul 23 suara dari lawannya.” “Dilaporkan ada 12 orang terkena HIV/AIDS.”
Namun, ada kekecualian, kalau di awal kalimat terdapat angka, harus ditulis dengan huruf. Misal; “Sepuluh mahasiswa harus mengikuti ujian ulangan.” “Seratus warga desa mendapat bayar langsung tunai.” Tetapi, kalau jumlah itu tidak pasti, mungkin kurang dan kemungkinan juga lebih. Tulislah seperti berikut; “Ribuan pengunjuk rasa mendatangi kantor bupati.” “Ratusan penduduk desa protes karena izin penambangan pasir diperpanjang.” “Puluhan penumpang bis terlantar di terminal.”
Boleh juga ditulis seperti ini, “Sawah penduduk yang tergenang banjir kurang lebih 50 hektar.” “Sekitar 500 meter jalan terputus akibat tanah longsor.” “Sedikitnya, 15 rumah habis terbakar.” “Ditaksir kerugian akibat kebakaran itu Rp 2 miliar.” Penulisan seperti ini sering dijumpai dalam surat kabar (media cetak) hasil perkiraan wartawan di lapangan.
Hati-hati terhadap penulisan angka yang diawali huruf. Harus dimbuhkan tanda penghubung (-) antara huruf dengan angka. Misal; “HUT RI ke-63 diperingati.” Turbo dan istri merayakan hari perkawinan yang ke-5.” Atau boleh juga dengan cara berikut, ”Turbo dan istri merayakan hari perkawinan yang kelima.” “HKBP pada 2012 jubileum yang ke-150.”
Sama halnya dengan penulisan angka satu sampai sembilan, seperti itu juga polanya pada penulisan angka yang diawali huruf. “Dia juara ketiga dalam pertandingan catur.” “Perguruan itu peringkat ke-9 terbaik dari 25 perguruan tinggi.”
Pedoman lain yang perlu diingat dalam penulisan di mass media. Jangan terlalu rajin menulis singkatan. Seperti; dll, sbb, yg, tsb, dst. Singkatan tersebut harus ditulis utuh—dan lain-lain, sebagai berikut, yang, tersebut, dan seterusnya.
Khusus “dan lain-lain” harus hati-hati mencantukam dalam tulisan. Acap kali penulis mengimbuhkan “dan lain-lain” tapi tidak jelas apa maksudnya? Contoh; “Kantor itu dilengkapi bermacam perabot, seperti; lemari, rak buku, meja tulis, televisi, computer, mesin photocopy, dll.
Apa yang dimaksud dengan dll pada kalimat tersebut—“dan lain-lain” itu apa? Siapa yang tau “dan lain-lain?” Jikalau memang masih ada lagi perabot di kantor itu, sebutkan saja, jangan ditulis “dan lain-lain.” Tetapi kalau memang sama sekali tidak tau lebih baik jangan ditulis dll. Ini namanya penulis yang tidak bertanggung jawab—mau enaknya saja! Sebaiknya, hindarilah cara penulisan seperti itu. Kebiasaan ini mungkin diambil alih dari model restoran yang mencatumkan dll pada menu makanan dan minuman yang dijual dalam restoran tersebut.
Sedangkan penulisan “ukuran panjang,” harus ditulis utuh—bukan disingkat, antara lain; meter, kilometer, hektar, sentimeter. Contoh penulisan yang salah. “Lebar jalan itu 5 m. Kecepatan rata-rata 100 km per jam. Luas sawah itu 4 ha. Panjang pulpen itu 10 cm.”
Penulisan yang benar; “Lebar jalan itu lima meter.” Kecepatan rata-rata 100 kilometer per jam.” Luas sawah itu empat hektar.” “Panjang pulpen itu 10 sentimeter.
Hampir sama dengan penulisan bilangan pecahan; setengah, seperempat, tiga per empat, dua per tiga, ditulis dengan huruf. “Berat ikan itu setengah kilogram.” “Sawah itu baru seperempat yang ditanami.” “Warga yang bayar pajak baru tiga per empat.” “Jumlah warga yang memilih sekitar dua per tiga.” “Luas lahan yang tidak terurus 25 meter per segi.” Bukan, “Luas lahan yang tidak terurus 25 m2.”
Sekali lagi, pola penulisan ini berlaku dalam bahasa jurnalistik yang biasa digunakan surat kabar.
Penulis pengajar di Fsipol UKI, mengampu mata kuliah bahasa jurnalistik. Yang berminat terhadap jurnalistik silahkan bergabung di email: baharuddinsilaen@yahoo.com. Atau Blooger Baharuddin Silaen—BAS
Langganan:
Postingan (Atom)
