Provinsi Tapanuli Tercemar Sebelum Mekar
Luar biasa, hampir semua media cetak dan elektronik secara terus-menerus memberitakan tragedi Medan yang menewaskan Abdul Azis Angkat, Ketua DPRD Sumatera Utara. Inilah berita politik terheboh yang menyedot perhatian—mulai dari presiden sampai orang-orang di lapo tuak. Maklum, nilai beritanya (news value) cukup tinggi—tidak tanggung-tanggung, seorang ketua dewan tewas di antara himpitan demonstran yang kecewa setelah tujuh tahun tidak ada jawaban pasti akan nasib pemekaran provinsi yang mereka perjuangkan. Mereka bergerak dan terus merangsek diselingi teriakan dan kepalan tinju yang diarahkan kepada Azis, sang ketua pun lunglai, tidak sadarkan diri dan akhirnya tewas. Apa pun penyebab kematian Aziz, kita prihatin—demonstrasi brutal mengakibatkan nyawa melayang.
Komentar pun mengalir deras terkait tewasnya Ketua DPRD, termasuk komentar pemerhati politik yang ditayangkan live, tidak terkecuali tanggapan pemirsa yang semuanya bernada miring dan mengutuk unjuk rasa pemekaran provinsi Tapanuli yang berakhir anakis. Sialnya, insiden ini membawa komunitas Batak ikut terkena getahnya.
Wajar, soalnya tersangka yang diduga dalang kericuhan hampir semua orang Batak, korban pun sebenarnya orang Batak juga—dari subetnik Papak. Angkat adalah marga Pakpak. Sayang, nalar orang terlanjur digiring ke suatu argumen kurang lengkap, orang Batak identik dengan kekerasan. Padahal, semua suku berpotensi melakukan tindak kekerasan.
Tidak berhenti di situ, beberapa nama disebut-sebut orang Jakarta sebagai otak intelektual kerusuhan. Ketika Jenderal (Purn) Luhut B Panjaitan diwancarai tv-one pada “Berita Petang” (11/2) Luhut membantah, tidak ada aktor intelektual di belakang tragedi pemekaran provinsi Tapanuli. “Yang ngomong itu, kampungan,” kata Luhut menjawab pertanyaan presenter TV One.
Selain sifat Batak yang dianggap keras, potensi anarkisme politik dalam kerumunan tidak boleh dikesampingkan—sebenarnya ini yang mendesak ditelisik. Kenapa tindak melawan hukum sering terjadi pada massa yang berkerumun? Entah itu pemilihan kepala daerah, pemekaran kabupaten, provinsi dan pembebasan tanah, kerap kali berujung ricuh dan anarkis.
Karena itu, kurang sportif kalau hanya menyalahkan permintaan daerah otonomi sebagai pemicu insiden itu. Pemekaran wilayah merupakan wujud keinginan rakyat mendapatkan pelayanan publik yang lebih baik. Betul sekali, tak semua ide pemisahan daerah didasari niat luhur menyejahterakan masyarakat desa. Ada juga didasari keinginan beberapa pemrakarsanya bercita-cita menjadi kepala daerah atau kesempatan mencari proyek.
Entah apa pun itu, para sosiolog seperti Emile Durkheim dan Gustave Lebon (1841-1931) mengakui, “siapa pun yang ada dalam kerumunan pasti berpikir, merasa dan bertindak serupa. Kekuatan emosional dan irasional berkecamuk. Begitu juga nafsu barbarian bergerak liar menyerabas. Identitas sosial individu tercabik-cabik oleh kekuatan homogenitas kerumunan.” Asal tau, hal serupa akan terjadi pada bentuk kerumunan di daerah mana pun dan suku apa pun, bukan hanya di Medan dan orang Batak.
Kerumunan (crowd) menurut sosiologi disebut juga kelompok sosial yang tidak teratur. Kerumunan adalah kehadiran orang-orang secara fisik—tidak terorganisasi. Akan segera mati, setelah orang-orang bubar. Sifatnya pun sementara (temporer) Interaksi spontan dan tidak terduga. Seorang politikus misalnya; guru, mahasiswa, pegawai, saudagar, dokter, wartawan, tukang becak dan tukang sayur sama-sama menunggu kereta api—mereka mempunya kedudukan yang sama. Siapa pun yang ada dalam kerumunan gampang tersulut dan mudah meniru tingkah laku orang lain. Satu orang berteriak, yang lain akan meniru karena didorong perasaan satu nasib dan terjalin sifat saling mendukung.
Pada dasarnya, tiap kerumunan rentan terhadap kerusuhan. Soalnya individu yang berkumpul gampang kehilangan jati diri—anonimitas. Dalam momen kerumunan individu-individu tercerabut dari personalitasnya. Kerumunan cepat menularkan kekerasan. Ketika satu orang memukul, yang lain mengikutinya.
Tipe kerumunan pun berbeda, ada kerumunan yang bertindak emosional (acting mobs) Tipe ini diwarnai perlawanan norma hukum (lawless) Mobokrasi adalah kekuasaan yang dikendalikan mob—kerumunan yang emosional serta irasional yang berbuntut aksi destruksi. Aksi seperti ini bisa terjadi ketika ada pihak yang dianggap menghambat dan menghalang-halangi niat orang-orang dalam kerumunan. Atau karena hak-hak mereka diinjak-injak atau lantaran ketidakadilan. Kerumunan akan bertambah beringas dan agresif menyerang siapa yang dianggap penghalang keinginan mereka—dipukul atau dihajar rame-rame dan dikeroyok. Tipe kerumunan seperti itulah yang terjadi pada Ketua DPRD Sumatera Utara, Azis Angkat.
Betul, tidak semua kerumunan menciptakan kerusakan dan kehancuran. Literatur ilmu sosiologi membagi empat tipe kerumunan. Seperti kerumunan tidak tetap (casual crowd) Keberadaanya amat singkat dan terorganisasi secara longgar. Tipe ini bersifat spontan. Misal, orang yang bersama-sama melihat gedung terbakar atau kecelakaan. Kerumunan konvensional (convensional crowd) Tipe ini terjadi secara terencana dan berperilaku teratur. Contoh, penonton dalam teater atau pertandingan sepak bola. Kerumunan bertindak (acting crowd) keterlibatannya didasari pada permusahan atau aktivitas destruktif. Misal, mob yang melakukan pembantaian. Kerumunan ekspresif (expressive crowd) muncul melampiaskan emosi dan ketegangan. Umpama, para penonton konser musik rock.
Sialnya, kalau kerumunan berada di wilayah politik, yang kerap terjadi adalah anarkisme. Anarkisme suatu keadaan ketika tidak ada lagi otoritas yang mengatur dan mengendalikan. Situasi bisa berubah mendadak menjadi brutal, apalagi di lokasi kerumunan tidak ada pihak keamanan yang memadai. Bisa saja polisi kalah kuat dengan gelombang demonstran yang kecewa dan prustrasi. Sketsa anarkisme politik kerumunan seperti inilah yang terjadi di Medan.
Kita hanya bisa beradai-andai—seandainya pengamanan dilakukan maksimal, barangkali korban tewas bisa dihindarkan.
Apa pun itu, provinsi Tapanuli sudah tercemar sebelum mekar. Amang tahe!
Penulis, Baharuddin Silaen staf pengajar sosiologi di Fakultas Ilmu Komunikasi, Universitas Mercua Buana, Jakarta.
Minggu, 25 Oktober 2009
Oprah Inspirasi Peduli Terhadap Sesama
Oprah Inspirasi Peduli Terhadap Sesama
Dari judulnya pun sudah dapat ditangkap apa yang diulas dalam buku “Injil Menurut Oprah.” Marcia Z Nelson penulis buku ini menguraikan “kesaksian” Injil dalam dunia riil dengan bahasa yang cantik. Kasih yang diajarkan Yesus serta dicatat dalam Injil kemudian diterjemahkan Marcia dengan bahasa duniawi yang amat mencengangkan.
Termasuk sosok Oprah Winfrey perempuan kulit hitam yang posisinya terangkat ke papan atas bahkan terpopuler dewasa ini di dunia entertainment di Amerika. Hampir semu sudut kehidupan Oprah mulai sisi gelap dan penuh berkat dikupas dalam buku ini, lalu diolah dengan sumber akurat membuat buku terbitan PT BPK Jakarta ini bernilai plus dan menyejukkan.
Program Oprah menjadi tontonan bermutu yang diilhami nilai-nilai surgawi dan mampu menggugah orang lain berbuat bahkan menjadi dermawan terhadap sesama yang tidak jauh dari pintu pagar rumah kita. Tayangan Oprah yang banyak digemari sampai saat ini masih dapat disaksikan di Metero TV. Oprah menjadi inspirasi kepedulian terhadap sesama umat manusia.
Oprah mengajarkan banyak apa yang terdapat dalam Injil, meskipun tidak mengutip ayat-ayat dari Mateus, Markus, Lukas dan Johannes, tapi semua materi yang disuguhkan Oprah adalah dimensi spiritual yang layak dicontoh umat manusia masa kini.
Bahkan kedermawanan Oprah paling sering diperbincangkan para pengagumnya. Memberi adalah tema yang konsisten dalam pertunjukkan, majalah maupun situs webnya. Bukan hanya itu, menyumbang dan bekerja secara sukarela sangat dianjurkan. Tak heran kalau disebutkan, Oprah adalah donor dan promotor kegiatan sosial, terutama yang berhubungan dengan keluarga dan pendidikan.
Mengenai “kabar baik” versi Oprah, rasa syukur adalah penghargaan terhadap kelimpahan, suatu pengakuan terhadap berkat. Terdapat cukup banyak berkat untuk dibagikan dan mendapatkan sebagian akan membangkitkan rasa syukur. Rasa syukur mengukur jarak antara yang tidak punya dan yang berpunya serta mengingatkan orang pada perjalanan yang dapat diteladani dari kehidupan Oprah sendiri. (hal 81)
Tema penderitaan adalah agenda Oprah yang membuat orang lain ikut iba dan meneteskan air mata. Meskipun Oprah tidak berbicara dari atas mimbar gereja tapi apa yang dia ceritakan sangat Alkitabiah berpedoman pada hakekat kasih yang tulus. Ia tidak canggung menceritakan ulang pengalaman pahit yang pernah menimpanya, ketika kerabatnya memperkosa Oprah Winfrey semasa kecil. Itupulah yang diulasnya melalui “The Oprah Winfrey Show” tanpa perlu menyembunyikan trauma yang melilit masa lalunya, termasuk pelecehan dalam keluarga terutama pelecehan seksual terhadap anak.
Penulis buku ini bersaksi, tentang kehebatan Oprah mengusung penderitaan ke dalam media TV, sekaligus mendekatkan tragedi pelecehan itu persis di depan mata penonton yang berada di rumah maupun yang hadir di studio.Televisi dimanfaatkan Oprah menjadi salah satu sumber paling penting bagi siapa saja yang merasa sendirian ketika sahabat meninggalkannya. Karena media ini menjadi sahabat Oprah memiliki kekuatan besar untuk bergerak dan menjangkau ke seluruh dunia, ia bisa memanfaatkannya untuk menunjukkan penderitaan, mengajarkan arti penderitaan dan yang lebih penting, menunjukkan cara menanggapi penderitaan. (hal 39)
Marcia Z Nelson penulis masalah keagamaan dan spritualitas ini memaparkan, The Oprah Winfrey Show terkenal sebagai tempat pengakuan. Oprah juga membicarakan kesalahan masa lalunya sendiri. Para tamu menceritakan kisah kehidupan mereka guna menginspirasi orang atau menawarkan kisah agar orang lain waspada. Oprah sebagai pendengar yang terbuka dan tidak bersikap menghakimi sementera ia mendengarkan penuturan para tamunya yang beragam.
Pengampunan adalah tema menarik dari karya Oprah. Pengampunan berungkali dijadikan topik, malah senantiasa mendorong, mengejutkan dan emosional. Tak lupa para korban “dijemput” dan ikut tampil di studio. Beberapa dari antara mereka telah memilih mengampuni orang-orang yang telah bersalah kepada mereka. Melalui pengampunan, orang yang mendapat perlakuan buruk itu tidak lagi menjadi korban.
“Injil Menurut Oprah” yang judul aslinya “The Gosphel According to Oprah” memang menarik dan layak dibaca sebagai illustrasi khotbah pada masa kini. Baharuddin S
Dari judulnya pun sudah dapat ditangkap apa yang diulas dalam buku “Injil Menurut Oprah.” Marcia Z Nelson penulis buku ini menguraikan “kesaksian” Injil dalam dunia riil dengan bahasa yang cantik. Kasih yang diajarkan Yesus serta dicatat dalam Injil kemudian diterjemahkan Marcia dengan bahasa duniawi yang amat mencengangkan.
Termasuk sosok Oprah Winfrey perempuan kulit hitam yang posisinya terangkat ke papan atas bahkan terpopuler dewasa ini di dunia entertainment di Amerika. Hampir semu sudut kehidupan Oprah mulai sisi gelap dan penuh berkat dikupas dalam buku ini, lalu diolah dengan sumber akurat membuat buku terbitan PT BPK Jakarta ini bernilai plus dan menyejukkan.
Program Oprah menjadi tontonan bermutu yang diilhami nilai-nilai surgawi dan mampu menggugah orang lain berbuat bahkan menjadi dermawan terhadap sesama yang tidak jauh dari pintu pagar rumah kita. Tayangan Oprah yang banyak digemari sampai saat ini masih dapat disaksikan di Metero TV. Oprah menjadi inspirasi kepedulian terhadap sesama umat manusia.
Oprah mengajarkan banyak apa yang terdapat dalam Injil, meskipun tidak mengutip ayat-ayat dari Mateus, Markus, Lukas dan Johannes, tapi semua materi yang disuguhkan Oprah adalah dimensi spiritual yang layak dicontoh umat manusia masa kini.
Bahkan kedermawanan Oprah paling sering diperbincangkan para pengagumnya. Memberi adalah tema yang konsisten dalam pertunjukkan, majalah maupun situs webnya. Bukan hanya itu, menyumbang dan bekerja secara sukarela sangat dianjurkan. Tak heran kalau disebutkan, Oprah adalah donor dan promotor kegiatan sosial, terutama yang berhubungan dengan keluarga dan pendidikan.
Mengenai “kabar baik” versi Oprah, rasa syukur adalah penghargaan terhadap kelimpahan, suatu pengakuan terhadap berkat. Terdapat cukup banyak berkat untuk dibagikan dan mendapatkan sebagian akan membangkitkan rasa syukur. Rasa syukur mengukur jarak antara yang tidak punya dan yang berpunya serta mengingatkan orang pada perjalanan yang dapat diteladani dari kehidupan Oprah sendiri. (hal 81)
Tema penderitaan adalah agenda Oprah yang membuat orang lain ikut iba dan meneteskan air mata. Meskipun Oprah tidak berbicara dari atas mimbar gereja tapi apa yang dia ceritakan sangat Alkitabiah berpedoman pada hakekat kasih yang tulus. Ia tidak canggung menceritakan ulang pengalaman pahit yang pernah menimpanya, ketika kerabatnya memperkosa Oprah Winfrey semasa kecil. Itupulah yang diulasnya melalui “The Oprah Winfrey Show” tanpa perlu menyembunyikan trauma yang melilit masa lalunya, termasuk pelecehan dalam keluarga terutama pelecehan seksual terhadap anak.
Penulis buku ini bersaksi, tentang kehebatan Oprah mengusung penderitaan ke dalam media TV, sekaligus mendekatkan tragedi pelecehan itu persis di depan mata penonton yang berada di rumah maupun yang hadir di studio.Televisi dimanfaatkan Oprah menjadi salah satu sumber paling penting bagi siapa saja yang merasa sendirian ketika sahabat meninggalkannya. Karena media ini menjadi sahabat Oprah memiliki kekuatan besar untuk bergerak dan menjangkau ke seluruh dunia, ia bisa memanfaatkannya untuk menunjukkan penderitaan, mengajarkan arti penderitaan dan yang lebih penting, menunjukkan cara menanggapi penderitaan. (hal 39)
Marcia Z Nelson penulis masalah keagamaan dan spritualitas ini memaparkan, The Oprah Winfrey Show terkenal sebagai tempat pengakuan. Oprah juga membicarakan kesalahan masa lalunya sendiri. Para tamu menceritakan kisah kehidupan mereka guna menginspirasi orang atau menawarkan kisah agar orang lain waspada. Oprah sebagai pendengar yang terbuka dan tidak bersikap menghakimi sementera ia mendengarkan penuturan para tamunya yang beragam.
Pengampunan adalah tema menarik dari karya Oprah. Pengampunan berungkali dijadikan topik, malah senantiasa mendorong, mengejutkan dan emosional. Tak lupa para korban “dijemput” dan ikut tampil di studio. Beberapa dari antara mereka telah memilih mengampuni orang-orang yang telah bersalah kepada mereka. Melalui pengampunan, orang yang mendapat perlakuan buruk itu tidak lagi menjadi korban.
“Injil Menurut Oprah” yang judul aslinya “The Gosphel According to Oprah” memang menarik dan layak dibaca sebagai illustrasi khotbah pada masa kini. Baharuddin S
Kalau Pendeta Kurang Membaca
Catatan harian saya, sudah lama terselip di antara tumpukan buku-buku, secara tidak sengaja kutemukan kembali sewaktu mencari buku di lemari buku. Setelah kubaca ulang, biasa-biasa saja, tidak ada yang layak diberikan nilai plus. Informasinya sangat minim, bahkan kering. Lama aku termenung, menerawang ke masa lampau, 29 tahun silam di sebuah desa kecil di Parausorat. Begini kisahnya.
Saya diajak Pdt Prof Dr Adelbert A Sitompul (alm) menemaninya pada acara evangelisasi di HKBP Sipirok (1980) ketika itu aku masih pendeta praktek di HKBP Pangaloan. AA Sitompul saat itu baru bertugas di Kantor Pusat HKBP Pearaja Tarutung, setelah pulang dari Geneva. Meskipun hanya dua hari kami menjelajah pelosok Sipirok, banyak hal yang didapat.
Di perjalanan, aku bertanya kepada AA Sitompul, kenapa bukan yang lain diajak menemaninya, kenapa saya? “Kamu sering menulis di surat kabar, tulislah nanti perjalanan kita ke Parausorat,” jawab Sitompul waktu itu. Terus terang saya senang mendapat kesempatan menemaninya, karena sewaktu mahasiswa, Pdt AA Sitompul adalah dosen yang saya kagumi. “Petualangan” kami itu dimuat di “Sinar Indonesia Baru” Medan.
Pagi-pagi kami menuju Parausorat setelah lebih dulu menjelajahi Bungabondar. Kami sempat mengunjungi beberapa gereja tua serta makam para misionaris yang pernah melayani di Sipirok. Setelah itu perjalanan dilanjutkan ke Parausorat. Di tempat ini bertemu dengan beberapa warga Kristen yang masih tetap pengikut Kristus. Mereka tinggal dekat gereja yang di Parausorat, yang warganya waktu itu hanya tinggal enam kepala keluarga. Gereja ini tidak jauh dari bekas Sekolah Guru yang didirikan 1868. Bangunan sekolah ini tidak ada lagi, habis ditelan waktu, hanya ada bekas tiang tertancap (1980) itu pun sudah lapuk dan tinggal 30 sentimeter dari permukaan tanah. Di dalam gereja berukuran lima kali delapan meter tergantung foto Simon Siregar dan Jakobus Tampubolon, inilah orang Batak pertama masuk Kristen. Waktu itu kami dipandu Pdt Sabar P Simanungkalit, Pendeta Resort HKBP Spirok waktu itu. Sekarang Pendeta Resort HKBP Kernolong, Jakarta.
Keesokan harinya kami melanjutkan perjalanan, tapi kali ini “petualangan” dari rumah ke rumah penduduk. Rupanya, ada misi lain yang baru belakangan diberitahu AA Sitompul kepada saya, dia mau menulis buku tentang orang-orang Batak yang pertama masuk Kristen. “Buku seperti ini belum pernah ada yang tulis,” ujar AA Sitompul bersemangat.
Sudah lupa saya berapa rumah kami kunjungi waktu itu, tapi yang jelas dari tiap rumah yang kami kunjungi, pasti ada buku yang dibawa pulang. Dengan perjanjian kepada pemilik buku, “pinjam” dan akan dikembalikan. Buku-buku yang kami pinjam itu, hampir semuanya ditulis tangan oleh para misionaris dan penggantinya. Tulisannya sangat rapi dan jelas. Ada yang sebagian sudah dimakan rayap, ada yang sobek dan ada yang kena air sehingga tulisan tidak terbaca lagi. “Jangan ada yang tertinggal, bawa semua, ” Sitompul berulangkali mengingatkan saya.
Saya ditugasi waktu itu mencatat setiap buku, alamat dan nama pemilik buku. Lumayan juga bundelan yang kami angkut hasil petualangan mencari buku/catatan para misionaris. Waktu itu Sitompul bilang kepada saya, namamu akan saya tulis dalam buku yang akan diterbitkan. “Nunga dohot ho loja mandongani au mandiori angka catatan ni parbarita na uli parjalo tu Sipirok, husurathon pe goramu di buku i,” Sitompul berjanji.
Selang beberapa tahun kemudian buku terbit berjudul “Sitotas Nambur Hakristenon.” “Hebat juga Pdt AA Sitompul, jadi juga terbit buku yang menarik yang mengisahkan perjalanan orang Batak masuk Kristen,” kata saya dalam hati. Walaupun nama saya tidak tercantum seperti dijanjikan, saya tidak kecewa. Mungkin dia lupa. Saya tetap bangga kepada Pdt Adelbert A Sitompul, di sela-sela kesibukannya dia masih sempat menulis buku yang sekaligus memperkaya karya-karya yang bermanfaat bagi warga HKBP dan yang membacanya.
Sayang, ketika dia meninggal, sebulan kemudian saya baru dapat informasi. Padahal sama-sama di Jakarta. Hanya penesalan yang terlontar. Saya terlalu cuek ketika mendengar dia dirawat. Tidak menjenguknya ketika dia terbaring sakit.
Pada kesempatan lain, saya pernah mewancarainya, ia mengatakan; pendeta harus rajin membaca, jangan karena di desa membaca dianggap tidak perlu. Kalau pendeta malas membaca, khotbahnya pun jadi “pollung tubu” (apa yang muncul saat itu-pen)
Nasehat AA Sitompul ini terngiang kembali, ketika ada yang mengeluh mengenai kotbah pendeta dari itu ke itu, bolak-balik—sudah pernah dikotbahkan diulang lagi. “Pendeta kami kurang membaca, khotbahnya tidak menarik. Mulak-ulak. Tidak ada persiapan,” komentar salah satu warga gereja.
Ada juga benarnya komentar warga gereja ini. Apalagi pendeta yang melayani di kota besar seperti Medan, Bandung, Jakarta, buku dan membaca adalah kebutuhan yang harus dipelihara. Bayangkan, seorang pendeta lima tahun melayani pada satu gereja (resort) berapa kali dia berkotbah dalam satu minggu, belum lagi ke kategorial, punguan, partangiangan. Bagaimanapun “hebatnya” pendeta berkotbah suatu saat pasti mengalami kejenuhan—habis kamus. Tahun pertama, kedua dan ketiga kotbahnya masih menarik, maklum masih banyak stok. Tahun keempat dan kelima mulai kalang kabut.
Mengatasinya, tidak ada jalan lain kecuali banyak membaca buku, majalah, surat kabar, rajin bersilancar di dunia maya. Pokoknya harus senantiasa mengaktualisasikan diri sehingga bisa berdampingan dengan kehebatan teknologi komunikasi masa kini. Bukan mengada-ada, soalnya, warga gereja yang dialayani sudah terbiasa dengan website, internet, bayangkan kalau pendeta membuka email pun susah. Orang sudah terbiasa membuka Alkitab Elektronik, pendetanya boro-boro membuka, melihat pun belum pernah? Betul, tidak jaminan menguasai website, internet lebih hebat, tapi paling tidak menambah wawasan dan percaya diri.
Kebutuhan buku bagi pelayaan gereja sudah keharusan apalagi di kota-kota besar seperti Jakarta. Tak heran, beberapa gereja di Jakarta sudah menyisihkan dana untuk pos pemebelian buku dan internet pelayaan (pendeta) Ini langkah maju yang perlu dicontoh.
Menarik cerita Pdt Dr Richard M Daulay, Sekretaris Umum PGI, bagaimana dia mempersiapkan kotbahnya. “Saya tidak berani berkotbah kalau saya tidak mempersiapkan materi kotbah dengan benar. Kadang harus saya ke toko buku membeli buku dua sampai tiga di luar buku-buku tafsir, “ ucap Richard.
Begitu juga Pdt Dr Einar M Sitompul, yang sering diundang ceramah dan berkotbah di berbagai gereja, selalu mempersiapkan kotbahnya dan banyak membaca. Pendeta ini sejak mahasiswa sampai sekarang kebiasaan membeli buku secara teratur masih terus dilakoninya. Tiada hari tanpa membaca. Ke mana saja dia selalu membawa buku dan tentu membacanya.
Ketika pendeta di Bandung, hampir semua tempat penjualan buku bekas dijelajahinya. Sekarang pun kegemaran itu masih terus ditekuninya, jangan heran kalau suatu ketika ketemu Einar Sitompul di tempat penjualan buku bekas di Pasar Senen, Jakarta. “Tidak harus baru kan, yang bekas pun masih bagus, yang penting isinya,” kata Einar sewaktu kami sama-sama di Bandung yang pernah menghadiahkan saya buku “Speaker’s Sourcebook” karya Eleanor Doan.
Memang repot kalau pendeta kurang membaca!
Saya diajak Pdt Prof Dr Adelbert A Sitompul (alm) menemaninya pada acara evangelisasi di HKBP Sipirok (1980) ketika itu aku masih pendeta praktek di HKBP Pangaloan. AA Sitompul saat itu baru bertugas di Kantor Pusat HKBP Pearaja Tarutung, setelah pulang dari Geneva. Meskipun hanya dua hari kami menjelajah pelosok Sipirok, banyak hal yang didapat.
Di perjalanan, aku bertanya kepada AA Sitompul, kenapa bukan yang lain diajak menemaninya, kenapa saya? “Kamu sering menulis di surat kabar, tulislah nanti perjalanan kita ke Parausorat,” jawab Sitompul waktu itu. Terus terang saya senang mendapat kesempatan menemaninya, karena sewaktu mahasiswa, Pdt AA Sitompul adalah dosen yang saya kagumi. “Petualangan” kami itu dimuat di “Sinar Indonesia Baru” Medan.
Pagi-pagi kami menuju Parausorat setelah lebih dulu menjelajahi Bungabondar. Kami sempat mengunjungi beberapa gereja tua serta makam para misionaris yang pernah melayani di Sipirok. Setelah itu perjalanan dilanjutkan ke Parausorat. Di tempat ini bertemu dengan beberapa warga Kristen yang masih tetap pengikut Kristus. Mereka tinggal dekat gereja yang di Parausorat, yang warganya waktu itu hanya tinggal enam kepala keluarga. Gereja ini tidak jauh dari bekas Sekolah Guru yang didirikan 1868. Bangunan sekolah ini tidak ada lagi, habis ditelan waktu, hanya ada bekas tiang tertancap (1980) itu pun sudah lapuk dan tinggal 30 sentimeter dari permukaan tanah. Di dalam gereja berukuran lima kali delapan meter tergantung foto Simon Siregar dan Jakobus Tampubolon, inilah orang Batak pertama masuk Kristen. Waktu itu kami dipandu Pdt Sabar P Simanungkalit, Pendeta Resort HKBP Spirok waktu itu. Sekarang Pendeta Resort HKBP Kernolong, Jakarta.
Keesokan harinya kami melanjutkan perjalanan, tapi kali ini “petualangan” dari rumah ke rumah penduduk. Rupanya, ada misi lain yang baru belakangan diberitahu AA Sitompul kepada saya, dia mau menulis buku tentang orang-orang Batak yang pertama masuk Kristen. “Buku seperti ini belum pernah ada yang tulis,” ujar AA Sitompul bersemangat.
Sudah lupa saya berapa rumah kami kunjungi waktu itu, tapi yang jelas dari tiap rumah yang kami kunjungi, pasti ada buku yang dibawa pulang. Dengan perjanjian kepada pemilik buku, “pinjam” dan akan dikembalikan. Buku-buku yang kami pinjam itu, hampir semuanya ditulis tangan oleh para misionaris dan penggantinya. Tulisannya sangat rapi dan jelas. Ada yang sebagian sudah dimakan rayap, ada yang sobek dan ada yang kena air sehingga tulisan tidak terbaca lagi. “Jangan ada yang tertinggal, bawa semua, ” Sitompul berulangkali mengingatkan saya.
Saya ditugasi waktu itu mencatat setiap buku, alamat dan nama pemilik buku. Lumayan juga bundelan yang kami angkut hasil petualangan mencari buku/catatan para misionaris. Waktu itu Sitompul bilang kepada saya, namamu akan saya tulis dalam buku yang akan diterbitkan. “Nunga dohot ho loja mandongani au mandiori angka catatan ni parbarita na uli parjalo tu Sipirok, husurathon pe goramu di buku i,” Sitompul berjanji.
Selang beberapa tahun kemudian buku terbit berjudul “Sitotas Nambur Hakristenon.” “Hebat juga Pdt AA Sitompul, jadi juga terbit buku yang menarik yang mengisahkan perjalanan orang Batak masuk Kristen,” kata saya dalam hati. Walaupun nama saya tidak tercantum seperti dijanjikan, saya tidak kecewa. Mungkin dia lupa. Saya tetap bangga kepada Pdt Adelbert A Sitompul, di sela-sela kesibukannya dia masih sempat menulis buku yang sekaligus memperkaya karya-karya yang bermanfaat bagi warga HKBP dan yang membacanya.
Sayang, ketika dia meninggal, sebulan kemudian saya baru dapat informasi. Padahal sama-sama di Jakarta. Hanya penesalan yang terlontar. Saya terlalu cuek ketika mendengar dia dirawat. Tidak menjenguknya ketika dia terbaring sakit.
Pada kesempatan lain, saya pernah mewancarainya, ia mengatakan; pendeta harus rajin membaca, jangan karena di desa membaca dianggap tidak perlu. Kalau pendeta malas membaca, khotbahnya pun jadi “pollung tubu” (apa yang muncul saat itu-pen)
Nasehat AA Sitompul ini terngiang kembali, ketika ada yang mengeluh mengenai kotbah pendeta dari itu ke itu, bolak-balik—sudah pernah dikotbahkan diulang lagi. “Pendeta kami kurang membaca, khotbahnya tidak menarik. Mulak-ulak. Tidak ada persiapan,” komentar salah satu warga gereja.
Ada juga benarnya komentar warga gereja ini. Apalagi pendeta yang melayani di kota besar seperti Medan, Bandung, Jakarta, buku dan membaca adalah kebutuhan yang harus dipelihara. Bayangkan, seorang pendeta lima tahun melayani pada satu gereja (resort) berapa kali dia berkotbah dalam satu minggu, belum lagi ke kategorial, punguan, partangiangan. Bagaimanapun “hebatnya” pendeta berkotbah suatu saat pasti mengalami kejenuhan—habis kamus. Tahun pertama, kedua dan ketiga kotbahnya masih menarik, maklum masih banyak stok. Tahun keempat dan kelima mulai kalang kabut.
Mengatasinya, tidak ada jalan lain kecuali banyak membaca buku, majalah, surat kabar, rajin bersilancar di dunia maya. Pokoknya harus senantiasa mengaktualisasikan diri sehingga bisa berdampingan dengan kehebatan teknologi komunikasi masa kini. Bukan mengada-ada, soalnya, warga gereja yang dialayani sudah terbiasa dengan website, internet, bayangkan kalau pendeta membuka email pun susah. Orang sudah terbiasa membuka Alkitab Elektronik, pendetanya boro-boro membuka, melihat pun belum pernah? Betul, tidak jaminan menguasai website, internet lebih hebat, tapi paling tidak menambah wawasan dan percaya diri.
Kebutuhan buku bagi pelayaan gereja sudah keharusan apalagi di kota-kota besar seperti Jakarta. Tak heran, beberapa gereja di Jakarta sudah menyisihkan dana untuk pos pemebelian buku dan internet pelayaan (pendeta) Ini langkah maju yang perlu dicontoh.
Menarik cerita Pdt Dr Richard M Daulay, Sekretaris Umum PGI, bagaimana dia mempersiapkan kotbahnya. “Saya tidak berani berkotbah kalau saya tidak mempersiapkan materi kotbah dengan benar. Kadang harus saya ke toko buku membeli buku dua sampai tiga di luar buku-buku tafsir, “ ucap Richard.
Begitu juga Pdt Dr Einar M Sitompul, yang sering diundang ceramah dan berkotbah di berbagai gereja, selalu mempersiapkan kotbahnya dan banyak membaca. Pendeta ini sejak mahasiswa sampai sekarang kebiasaan membeli buku secara teratur masih terus dilakoninya. Tiada hari tanpa membaca. Ke mana saja dia selalu membawa buku dan tentu membacanya.
Ketika pendeta di Bandung, hampir semua tempat penjualan buku bekas dijelajahinya. Sekarang pun kegemaran itu masih terus ditekuninya, jangan heran kalau suatu ketika ketemu Einar Sitompul di tempat penjualan buku bekas di Pasar Senen, Jakarta. “Tidak harus baru kan, yang bekas pun masih bagus, yang penting isinya,” kata Einar sewaktu kami sama-sama di Bandung yang pernah menghadiahkan saya buku “Speaker’s Sourcebook” karya Eleanor Doan.
Memang repot kalau pendeta kurang membaca!
Agama Merestui Pembunuhan Adalah Keliru
Memahami Pidato Obama di Kairo
Agama Merestui Pembunuhan Adalah Keliru
Baharuddin Silaen
Presiden Amerika Serikat Barack Hussein Obama mengajak warga Timur Tengah serta dunia Islam bersama-sama membuka babak hubungan baru. Ajakan itu ia lontarkan di depan sekitar 3000 hadirin yang memadati Auditorium Universitas Kairo, Mesir belum lama ini. Aplaus berkali-kali membahana tatkala Obama empat kali menyetir Al-Quran dalam pidato yang dibuka dengan sapaan assalamualaikum.
Sekitar satu jam dia berdiri di podium dengan sikap percaya diri, berupaya membentangkan benang kusut—hubungan Amerika dan dunia Islam—yang kadang kala terperosok ke dalam lorong gelap. Dalam pidatonya yang mempesona dia mepertegas—Islam sejatinya bagian dari Amerika. Sayang, deretan panjang pertikaian telah meretakkan, bahkan tidak jarang harus memutuskan tali silaturahmi Amerika Serikat dengan para sohib di timur jauh.
Satu per satu, pertikaian itu dipaparkannya; mulai tragedi 11 September yang membunuh 3000 orang lebih warga Amerika, perang Irak dan perang Afganistan, peristiwa berdarah Palestina Israel, penjara Guantanamo yang menyekap sebagian besar warga Muslim dan senjata nuklir Iran. Memang Obama sendiri tak menyangkal keakraban Israel-Amerika yang mustahil dipisahkan. Tapi dia mengingatkan Israel, hak hidup bangsa Palestina adalah kemustahilan. Ia pun memohon permukiman Yahudi di tanah Palestina harus diakhiri. Tepuk tangan pun bergemuruh, ada 25 kali aplaus memeriahkan pidato Obama dan ucapan I love you dialamatkan kepada sang kampiun asal Kenya, Afrika itu.
“Saya datang mencari awal baru bagi Amerika Serikat dan umat muslimin di seluruh dunia. Maka segala permusuhan sebaiknya disudahi saja, ” ujar Obama yang pernah tinggal di Menteng, Jakarta. Tidak lupa ia mengusulkan kepentingan mitra setara yang saling menghormati agar menjadi landasan kokoh terhadap hubungan baru Amerika-Islam.
Obama dalam pidatonya menyinggung tujuh pokok penting yang ditawarkan kepada dunia Islam untuk dihadapi bersama: terorisme, konflik Israel-Palestina, senjata nulkir, demokrasi, kebebesan beragama, hak-hak wania dan pembangunan ekonomi. Khusus sikap Amerika terhadap teroris, Obama menyerukan kepada dunia Islam dari Kairo, “Amerika tidak akan pernah memerangi Islam.” Kemudian dia mengutip Quran untuk melukiskan bahwa Islam sesungguhnya menolak kekerasan. Kembali tepuk tangan bergemuruh di dalam Auditorium Universitas Kairo yang dihadiri pejabat tinggi Mesir dan Amerika, petinggi militer, akademisi, wartawan dan tokoh oposisi utama dari Ikhwanul Muslim.
Pidatonya di Kairo seolah-olah mengetuk pintu dunia Islam, lalu mencoba meruntuhkan hegemoni kaum Republikan (George W Bush) yang dianggap menelorkan banyak masalah di kawasan Timur Tengah. Sebutlah misalnya; invasi ke Irak pada 2003, skandal penyiksaan dan penghinaan para tahanan Muslim di penjara Abu Gharib di Irak, embargo ekonomi dan senjata hingga pendudukan tak berdasar terhadap negara lain. Begitu pula Iran, yang ikut babak-belur dilindas embargo ekonomi karena urusan senjata nuklir.
Namun, pidato Obama di Kairo, ternyata tidak semua pihak menerimanya dengan senang hati. Buktinya, komentar mengalir dari sejumlah musuh lama Amerika. Salah satu Ayman Taha, juru bicara Hamas dalam wawancara dengan kantor berita Inggris BBC mengeritik Obama. “Pidato Obama yang memerangi ekstrimis dan melontarkan isu dua Negara Palestina-Israel tak ada bedanya dengan kebijakan Bush,” ujarnya. “Dunia Islam tak membutuhkan khotbah. Yang kami perlukan adalah perubahan fundamental sikap Amerika terhadap Israel yang mengagresi Libanon dan Palestina,” kata Hassan Fadlallah, tokoh penting Hizbullah Libanon.
Selepas berpidato Obama menyampaikan pernyataan kepada wartawan. Obama mengakui, dia adalah penganut Nasrani—juga pendukung kuat demokrasi dan hak asasi manusia. Karena itu ia adalah bagian yang tidak terpisahkan dari segala upaya memperjuangkan masyarakat pluralistik dapat hidup bersama. Ia yakin bahwa apa yang diyakinya dapat hidup di dunia yang interdependen sekarang ini. Tempat berbagai keyakinan yang berbeda harus hidup bersama. “Kita membutuhkan keyakinan yang dewasa—saya sangat meyakini keyakinan saya, tapi saya menghormati kenyataan bahwa bahwa orang lain juga dapat meyakini keyakinannya yang berbeda.”
Agar kerinduan hidup bersama itu dapat dirasakan, menurut Obama, harus ada kesepakatan mengenai satu sistem politik yang menghasilkan aturan tentang bagaimana hubungan bersama dilakukan. “Saya tidak bisa memaksakan ketentuan agama saya berlaku pada orang lain. Tidak boleh memobilisasi pihak mayoritas mendiskriminasi kalangan minoritas. Saya tidak bisa mengambil aturan dalam suatu agama dan menerapkannya kepada penganut agama lain,” ujar Obama.
Tapi jangan silap, tambah Obama, bukan berarti saya tidak dapat melontarkan argumen berdasarkan keyakinan saya. Contoh, sebagai penganut Nasrani, saya percaya perintah Tuhan tentang larangan tidak boleh membunuh. Sebagai politikus saya mengupayakan undang-undang yang melarang orang membunuh. “Ini bukan berarti saya memaksakan keyakinan agama saya, melainkan memperjuangkan nilai moral yang mungkin diterima juga pihak lain karena bersifat universal,” jelasnya.
Dalam wancara itu, Obama meminta umat Islam merenungkan soal keyakikan secara benar dan tepat. Misalnya, tentang syariah. Ia menyadari tidak semua agama punya pandangan sama tentang bagian mana dalam ajarannya yang layak diterapkan pada hukum sekuler. Tetapi, kalau ada yang memaksakan ajarannya harus dijalankan oleh penganut agama atau kelompok lain, ini jelas bertentangan dengan semangat demokrasi. Boleh jadi menyebabkan terjadinya instabilitas, bahkan perilaku destruktif di tengah masyarakat.”Ini adalah hal penting yang perlu diperdebatkan secara internal di kalangan penganut Islam,” ucapnya.
Dari pernyataan Obama yang perlu dipahami dan direnungkan saat ini, apabila ada yang merasa dibenarkan oleh agamanya untuk membunuh orang lain, pasti ia telah keliru memahami ajaran agamanya. “Saya kira ini adalah persoalan yang perdebatannya sudah selesai bagi kebanyakan orang, tapi masih ada kelompok kecil yang berpotensi desrtruktif.”
Memang sulit dimengerti, kenapa agama merestui pembunuhan terhadap orang lain, bahkan dipermaklumkan karena dianggap di jalan Tuhan. Beberapa buku yang ditulis pemikir Barat seperti Samuel P Huntington, “The Clash of Civilizations and the Remaking of World Orde” dan Mark Juergensmeyer, “Terror in The Mind of God” membeberkan latar belakang pandangan yang keliru itu. (Kedua buku ini sudah diterjemahkan ke bahasa Indonesia)
Samuel P Huntington misalnya, mengurai hubungan Amerika-Islam yang hingga saat ini belum akur, ia melihat akar persoalan—Islam merasa khawatir dan takut akan kekuatan Barat serta ancaman yang ditujukan kepada masyarakat dan keyakinan (agama) mereka. Mereka menggangap, kebudayaan Barat bersifat materialistik, korup, dekaden dan immoral. Mereka juga melihat sebagai kebudayaan yang sangat memikat, sehingga mereka melakukan pelbagai upaya agar tidak berpengaruh terhadap way of life mereka.
Serangan yang dilakukan oleh umat Islam terhadap Barat, menurut Samuel, bukan menyerang sesuatu yang tidak sempurna, agama sesat, yang dipandang bukan sebagai “agama kitab” tetapi menyerang seluruh agama. Karena, di mata umat Islam, sekularisme Barat, irreligiusitas dan immoralitas merupakan kejahatan-kejahatan” yang diajarkan Kristen Barat.
Tidak jauh beda dengan pandangan Mark Juergensmeyer, malah lebih terbuka menilai “perang ilahi” yang melekat pada semua agama baik Islam, Kristen maupun Hindu, Budha dan Yahudi. Dari contoh-contoh kekerasan agama yang diangkat Mark, kecenderungan kekeliruan itu terletak pada penafsiran yang salah atas ayat-ayat kitab suci, baik oleh pemimpin agama maupun para pengikutnya. Bukan tidak mungkin pelaku teror merasa aman berlindung di balik otoritas kitab suci, seolah-olah kekerasan yang dilakukan adalah mandat dari Tuhan, sehingga mati pun rela demi membela agama Tuhan. “Dalam banyak kasus, gambaran-gambaran ini bukanlah hal baru, tapi merupakan bagian dari warisan tradisi keagamaan yang membentang ke masa lalu. Banyak contoh-contoh peperangan yang dapat ditemukan dalam teks-teks suci,” tulis Mark Juergensmeyer.
Memang, menafsirkan ayat-ayat kitab suci dibutuhkan kejernihan berpikir di atas segala-galanya. Mahir melihatnya dari berbagai asfek kehidupan termasuk dimensi tempat, ruang dan waktu.
Penulis pengajar di Fisipol UKI dan Fikom Universita Mercu Buana Jakarta. Email: baharuddinsilaen@yahoo.com. Alamat Blog dan Facebook: baharuddin silaen
Agama Merestui Pembunuhan Adalah Keliru
Baharuddin Silaen
Presiden Amerika Serikat Barack Hussein Obama mengajak warga Timur Tengah serta dunia Islam bersama-sama membuka babak hubungan baru. Ajakan itu ia lontarkan di depan sekitar 3000 hadirin yang memadati Auditorium Universitas Kairo, Mesir belum lama ini. Aplaus berkali-kali membahana tatkala Obama empat kali menyetir Al-Quran dalam pidato yang dibuka dengan sapaan assalamualaikum.
Sekitar satu jam dia berdiri di podium dengan sikap percaya diri, berupaya membentangkan benang kusut—hubungan Amerika dan dunia Islam—yang kadang kala terperosok ke dalam lorong gelap. Dalam pidatonya yang mempesona dia mepertegas—Islam sejatinya bagian dari Amerika. Sayang, deretan panjang pertikaian telah meretakkan, bahkan tidak jarang harus memutuskan tali silaturahmi Amerika Serikat dengan para sohib di timur jauh.
Satu per satu, pertikaian itu dipaparkannya; mulai tragedi 11 September yang membunuh 3000 orang lebih warga Amerika, perang Irak dan perang Afganistan, peristiwa berdarah Palestina Israel, penjara Guantanamo yang menyekap sebagian besar warga Muslim dan senjata nuklir Iran. Memang Obama sendiri tak menyangkal keakraban Israel-Amerika yang mustahil dipisahkan. Tapi dia mengingatkan Israel, hak hidup bangsa Palestina adalah kemustahilan. Ia pun memohon permukiman Yahudi di tanah Palestina harus diakhiri. Tepuk tangan pun bergemuruh, ada 25 kali aplaus memeriahkan pidato Obama dan ucapan I love you dialamatkan kepada sang kampiun asal Kenya, Afrika itu.
“Saya datang mencari awal baru bagi Amerika Serikat dan umat muslimin di seluruh dunia. Maka segala permusuhan sebaiknya disudahi saja, ” ujar Obama yang pernah tinggal di Menteng, Jakarta. Tidak lupa ia mengusulkan kepentingan mitra setara yang saling menghormati agar menjadi landasan kokoh terhadap hubungan baru Amerika-Islam.
Obama dalam pidatonya menyinggung tujuh pokok penting yang ditawarkan kepada dunia Islam untuk dihadapi bersama: terorisme, konflik Israel-Palestina, senjata nulkir, demokrasi, kebebesan beragama, hak-hak wania dan pembangunan ekonomi. Khusus sikap Amerika terhadap teroris, Obama menyerukan kepada dunia Islam dari Kairo, “Amerika tidak akan pernah memerangi Islam.” Kemudian dia mengutip Quran untuk melukiskan bahwa Islam sesungguhnya menolak kekerasan. Kembali tepuk tangan bergemuruh di dalam Auditorium Universitas Kairo yang dihadiri pejabat tinggi Mesir dan Amerika, petinggi militer, akademisi, wartawan dan tokoh oposisi utama dari Ikhwanul Muslim.
Pidatonya di Kairo seolah-olah mengetuk pintu dunia Islam, lalu mencoba meruntuhkan hegemoni kaum Republikan (George W Bush) yang dianggap menelorkan banyak masalah di kawasan Timur Tengah. Sebutlah misalnya; invasi ke Irak pada 2003, skandal penyiksaan dan penghinaan para tahanan Muslim di penjara Abu Gharib di Irak, embargo ekonomi dan senjata hingga pendudukan tak berdasar terhadap negara lain. Begitu pula Iran, yang ikut babak-belur dilindas embargo ekonomi karena urusan senjata nuklir.
Namun, pidato Obama di Kairo, ternyata tidak semua pihak menerimanya dengan senang hati. Buktinya, komentar mengalir dari sejumlah musuh lama Amerika. Salah satu Ayman Taha, juru bicara Hamas dalam wawancara dengan kantor berita Inggris BBC mengeritik Obama. “Pidato Obama yang memerangi ekstrimis dan melontarkan isu dua Negara Palestina-Israel tak ada bedanya dengan kebijakan Bush,” ujarnya. “Dunia Islam tak membutuhkan khotbah. Yang kami perlukan adalah perubahan fundamental sikap Amerika terhadap Israel yang mengagresi Libanon dan Palestina,” kata Hassan Fadlallah, tokoh penting Hizbullah Libanon.
Selepas berpidato Obama menyampaikan pernyataan kepada wartawan. Obama mengakui, dia adalah penganut Nasrani—juga pendukung kuat demokrasi dan hak asasi manusia. Karena itu ia adalah bagian yang tidak terpisahkan dari segala upaya memperjuangkan masyarakat pluralistik dapat hidup bersama. Ia yakin bahwa apa yang diyakinya dapat hidup di dunia yang interdependen sekarang ini. Tempat berbagai keyakinan yang berbeda harus hidup bersama. “Kita membutuhkan keyakinan yang dewasa—saya sangat meyakini keyakinan saya, tapi saya menghormati kenyataan bahwa bahwa orang lain juga dapat meyakini keyakinannya yang berbeda.”
Agar kerinduan hidup bersama itu dapat dirasakan, menurut Obama, harus ada kesepakatan mengenai satu sistem politik yang menghasilkan aturan tentang bagaimana hubungan bersama dilakukan. “Saya tidak bisa memaksakan ketentuan agama saya berlaku pada orang lain. Tidak boleh memobilisasi pihak mayoritas mendiskriminasi kalangan minoritas. Saya tidak bisa mengambil aturan dalam suatu agama dan menerapkannya kepada penganut agama lain,” ujar Obama.
Tapi jangan silap, tambah Obama, bukan berarti saya tidak dapat melontarkan argumen berdasarkan keyakinan saya. Contoh, sebagai penganut Nasrani, saya percaya perintah Tuhan tentang larangan tidak boleh membunuh. Sebagai politikus saya mengupayakan undang-undang yang melarang orang membunuh. “Ini bukan berarti saya memaksakan keyakinan agama saya, melainkan memperjuangkan nilai moral yang mungkin diterima juga pihak lain karena bersifat universal,” jelasnya.
Dalam wancara itu, Obama meminta umat Islam merenungkan soal keyakikan secara benar dan tepat. Misalnya, tentang syariah. Ia menyadari tidak semua agama punya pandangan sama tentang bagian mana dalam ajarannya yang layak diterapkan pada hukum sekuler. Tetapi, kalau ada yang memaksakan ajarannya harus dijalankan oleh penganut agama atau kelompok lain, ini jelas bertentangan dengan semangat demokrasi. Boleh jadi menyebabkan terjadinya instabilitas, bahkan perilaku destruktif di tengah masyarakat.”Ini adalah hal penting yang perlu diperdebatkan secara internal di kalangan penganut Islam,” ucapnya.
Dari pernyataan Obama yang perlu dipahami dan direnungkan saat ini, apabila ada yang merasa dibenarkan oleh agamanya untuk membunuh orang lain, pasti ia telah keliru memahami ajaran agamanya. “Saya kira ini adalah persoalan yang perdebatannya sudah selesai bagi kebanyakan orang, tapi masih ada kelompok kecil yang berpotensi desrtruktif.”
Memang sulit dimengerti, kenapa agama merestui pembunuhan terhadap orang lain, bahkan dipermaklumkan karena dianggap di jalan Tuhan. Beberapa buku yang ditulis pemikir Barat seperti Samuel P Huntington, “The Clash of Civilizations and the Remaking of World Orde” dan Mark Juergensmeyer, “Terror in The Mind of God” membeberkan latar belakang pandangan yang keliru itu. (Kedua buku ini sudah diterjemahkan ke bahasa Indonesia)
Samuel P Huntington misalnya, mengurai hubungan Amerika-Islam yang hingga saat ini belum akur, ia melihat akar persoalan—Islam merasa khawatir dan takut akan kekuatan Barat serta ancaman yang ditujukan kepada masyarakat dan keyakinan (agama) mereka. Mereka menggangap, kebudayaan Barat bersifat materialistik, korup, dekaden dan immoral. Mereka juga melihat sebagai kebudayaan yang sangat memikat, sehingga mereka melakukan pelbagai upaya agar tidak berpengaruh terhadap way of life mereka.
Serangan yang dilakukan oleh umat Islam terhadap Barat, menurut Samuel, bukan menyerang sesuatu yang tidak sempurna, agama sesat, yang dipandang bukan sebagai “agama kitab” tetapi menyerang seluruh agama. Karena, di mata umat Islam, sekularisme Barat, irreligiusitas dan immoralitas merupakan kejahatan-kejahatan” yang diajarkan Kristen Barat.
Tidak jauh beda dengan pandangan Mark Juergensmeyer, malah lebih terbuka menilai “perang ilahi” yang melekat pada semua agama baik Islam, Kristen maupun Hindu, Budha dan Yahudi. Dari contoh-contoh kekerasan agama yang diangkat Mark, kecenderungan kekeliruan itu terletak pada penafsiran yang salah atas ayat-ayat kitab suci, baik oleh pemimpin agama maupun para pengikutnya. Bukan tidak mungkin pelaku teror merasa aman berlindung di balik otoritas kitab suci, seolah-olah kekerasan yang dilakukan adalah mandat dari Tuhan, sehingga mati pun rela demi membela agama Tuhan. “Dalam banyak kasus, gambaran-gambaran ini bukanlah hal baru, tapi merupakan bagian dari warisan tradisi keagamaan yang membentang ke masa lalu. Banyak contoh-contoh peperangan yang dapat ditemukan dalam teks-teks suci,” tulis Mark Juergensmeyer.
Memang, menafsirkan ayat-ayat kitab suci dibutuhkan kejernihan berpikir di atas segala-galanya. Mahir melihatnya dari berbagai asfek kehidupan termasuk dimensi tempat, ruang dan waktu.
Penulis pengajar di Fisipol UKI dan Fikom Universita Mercu Buana Jakarta. Email: baharuddinsilaen@yahoo.com. Alamat Blog dan Facebook: baharuddin silaen
Sabtu, 18 April 2009
Provinsi Tapanuli Tercemar Sebelum Mekar
Luar biasa, hampir semua media cetak dan elektronik secara terus-menerus memberitakan tragedi Medan yang menewaskan Abdul Azis Angkat, Ketua DPRD Sumatera Utara. Inilah berita politik terheboh yang menyedot perhatian—mulai dari presiden sampai orang-orang di lapo tuak. Maklum, nilai beritanya (news value) cukup tinggi—tidak tanggung-tanggung, seorang ketua dewan tewas di antara himpitan demonstran yang kecewa setelah tujuh tahun tidak ada jawaban pasti akan nasib pemekaran provinsi yang mereka perjuangkan. Mereka bergerak dan terus merangsek diselingi teriakan dan kepalan tinju yang diarahkan kepada Azis, sang ketua pun lunglai, tidak sadarkan diri dan akhirnya tewas. Apa pun penyebab kematian Aziz, kita prihatin—demonstrasi brutal mengakibatkan nyawa melayang.
Komentar pun mengalir deras terkait tewasnya Ketua DPRD, termasuk komentar pemerhati politik yang ditayangkan live, tidak terkecuali tanggapan pemirsa yang semuanya bernada miring dan mengutuk unjuk rasa pemekaran provinsi Tapanuli yang berakhir anakis. Sialnya, insiden ini membawa komunitas Batak ikut terkena getahnya.
Wajar, soalnya tersangka yang diduga dalang kericuhan hampir semua orang Batak, korban pun sebenarnya orang Batak juga—dari subetnik Papak. Angkat adalah marga Pakpak. Sayang, nalar orang terlanjur digiring ke suatu argumen kurang lengkap, orang Batak identik dengan kekerasan. Padahal, semua suku berpotensi melakukan tindak kekerasan.
Tidak berhenti di situ, beberapa nama disebut-sebut orang Jakarta sebagai otak intelektual kerusuhan. Ketika Jenderal (Purn) Luhut B Panjaitan diwancarai tv-one pada “Berita Petang” (11/2) Luhut membantah, tidak ada aktor intelektual di belakang tragedi pemekaran provinsi Tapanuli. “Yang ngomong itu, kampungan,” kata Luhut menjawab pertanyaan presenter TV One.
Selain sifat Batak yang dianggap keras, potensi anarkisme politik dalam kerumunan tidak boleh dikesampingkan—sebenarnya ini yang mendesak ditelisik. Kenapa tindak melawan hukum sering terjadi pada massa yang berkerumun? Entah itu pemilihan kepala daerah, pemekaran kabupaten, provinsi dan pembebasan tanah, kerap kali berujung ricuh dan anarkis.
Karena itu, kurang sportif kalau hanya menyalahkan permintaan daerah otonomi sebagai pemicu insiden itu. Pemekaran wilayah merupakan wujud keinginan rakyat mendapatkan pelayanan publik yang lebih baik. Betul sekali, tak semua ide pemisahan daerah didasari niat luhur menyejahterakan masyarakat desa. Ada juga didasari keinginan beberapa pemrakarsanya bercita-cita menjadi kepala daerah atau kesempatan mencari proyek.
Entah apa pun itu, para sosiolog seperti Emile Durkheim dan Gustave Lebon (1841-1931) mengakui, “siapa pun yang ada dalam kerumunan pasti berpikir, merasa dan bertindak serupa. Kekuatan emosional dan irasional berkecamuk. Begitu juga nafsu barbarian bergerak liar menyerabas. Identitas sosial individu tercabik-cabik oleh kekuatan homogenitas kerumunan.” Asal tau, hal serupa akan terjadi pada bentuk kerumunan di daerah mana pun dan suku apa pun, bukan hanya di Medan dan orang Batak.
Kerumunan (crowd) menurut sosiologi disebut juga kelompok sosial yang tidak teratur. Kerumunan adalah kehadiran orang-orang secara fisik—tidak terorganisasi. Akan segera mati, setelah orang-orang bubar. Sifatnya pun sementara (temporer) Interaksi spontan dan tidak terduga. Seorang politikus misalnya; guru, mahasiswa, pegawai, saudagar, dokter, wartawan, tukang becak dan tukang sayur sama-sama menunggu kereta api—mereka mempunya kedudukan yang sama. Siapa pun yang ada dalam kerumunan gampang tersulut dan mudah meniru tingkah laku orang lain. Satu orang berteriak, yang lain akan meniru karena didorong perasaan satu nasib dan terjalin sifat saling mendukung.
Pada dasarnya, tiap kerumunan rentan terhadap kerusuhan. Soalnya individu yang berkumpul gampang kehilangan jati diri—anonimitas. Dalam momen kerumunan individu-individu tercerabut dari personalitasnya. Kerumunan cepat menularkan kekerasan. Ketika satu orang memukul, yang lain mengikutinya.
Tipe kerumunan pun berbeda, ada kerumunan yang bertindak emosional (acting mobs) Tipe ini diwarnai perlawanan norma hukum (lawless) Mobokrasi adalah kekuasaan yang dikendalikan mob—kerumunan yang emosional serta irasional yang berbuntut aksi destruksi. Aksi seperti ini bisa terjadi ketika ada pihak yang dianggap menghambat dan menghalang-halangi niat orang-orang dalam kerumunan. Atau karena hak-hak mereka diinjak-injak atau lantaran ketidakadilan. Kerumunan akan bertambah beringas dan agresif menyerang siapa yang dianggap penghalang keinginan mereka—dipukul atau dihajar rame-rame dan dikeroyok. Tipe kerumunan seperti itulah yang terjadi pada Ketua DPRD Sumatera Utara, Azis Angkat.
Betul, tidak semua kerumunan menciptakan kerusakan dan kehancuran. Literatur ilmu sosiologi membagi empat tipe kerumunan. Seperti kerumunan tidak tetap (casual crowd) Keberadaanya amat singkat dan terorganisasi secara longgar. Tipe ini bersifat spontan. Misal, orang yang bersama-sama melihat gedung terbakar atau kecelakaan. Kerumunan konvensional (convensional crowd) Tipe ini terjadi secara terencana dan berperilaku teratur. Contoh, penonton dalam teater atau pertandingan sepak bola. Kerumunan bertindak (acting crowd) keterlibatannya didasari pada permusahan atau aktivitas destruktif. Misal, mob yang melakukan pembantaian. Kerumunan ekspresif (expressive crowd) muncul melampiaskan emosi dan ketegangan. Umpama, para penonton konser musik rock.
Sialnya, kalau kerumunan berada di wilayah politik, yang kerap terjadi adalah anarkisme. Anarkisme suatu keadaan ketika tidak ada lagi otoritas yang mengatur dan mengendalikan. Situasi bisa berubah mendadak menjadi brutal, apalagi di lokasi kerumunan tidak ada pihak keamanan yang memadai. Bisa saja polisi kalah kuat dengan gelombang demonstran yang kecewa dan prustrasi. Sketsa anarkisme politik kerumunan seperti inilah yang terjadi di Medan.
Kita hanya bisa beradai-andai—seandainya pengamanan dilakukan maksimal, barangkali korban tewas bisa dihindarkan.
Apa pun itu, provinsi Tapanuli sudah tercemar sebelum mekar. Amang tahe!
Penulis, Baharuddin Silaen staf pengajar sosiologi di Fakultas Ilmu Komunikasi, Universitas Mercua Buana, Jakarta.
Komentar pun mengalir deras terkait tewasnya Ketua DPRD, termasuk komentar pemerhati politik yang ditayangkan live, tidak terkecuali tanggapan pemirsa yang semuanya bernada miring dan mengutuk unjuk rasa pemekaran provinsi Tapanuli yang berakhir anakis. Sialnya, insiden ini membawa komunitas Batak ikut terkena getahnya.
Wajar, soalnya tersangka yang diduga dalang kericuhan hampir semua orang Batak, korban pun sebenarnya orang Batak juga—dari subetnik Papak. Angkat adalah marga Pakpak. Sayang, nalar orang terlanjur digiring ke suatu argumen kurang lengkap, orang Batak identik dengan kekerasan. Padahal, semua suku berpotensi melakukan tindak kekerasan.
Tidak berhenti di situ, beberapa nama disebut-sebut orang Jakarta sebagai otak intelektual kerusuhan. Ketika Jenderal (Purn) Luhut B Panjaitan diwancarai tv-one pada “Berita Petang” (11/2) Luhut membantah, tidak ada aktor intelektual di belakang tragedi pemekaran provinsi Tapanuli. “Yang ngomong itu, kampungan,” kata Luhut menjawab pertanyaan presenter TV One.
Selain sifat Batak yang dianggap keras, potensi anarkisme politik dalam kerumunan tidak boleh dikesampingkan—sebenarnya ini yang mendesak ditelisik. Kenapa tindak melawan hukum sering terjadi pada massa yang berkerumun? Entah itu pemilihan kepala daerah, pemekaran kabupaten, provinsi dan pembebasan tanah, kerap kali berujung ricuh dan anarkis.
Karena itu, kurang sportif kalau hanya menyalahkan permintaan daerah otonomi sebagai pemicu insiden itu. Pemekaran wilayah merupakan wujud keinginan rakyat mendapatkan pelayanan publik yang lebih baik. Betul sekali, tak semua ide pemisahan daerah didasari niat luhur menyejahterakan masyarakat desa. Ada juga didasari keinginan beberapa pemrakarsanya bercita-cita menjadi kepala daerah atau kesempatan mencari proyek.
Entah apa pun itu, para sosiolog seperti Emile Durkheim dan Gustave Lebon (1841-1931) mengakui, “siapa pun yang ada dalam kerumunan pasti berpikir, merasa dan bertindak serupa. Kekuatan emosional dan irasional berkecamuk. Begitu juga nafsu barbarian bergerak liar menyerabas. Identitas sosial individu tercabik-cabik oleh kekuatan homogenitas kerumunan.” Asal tau, hal serupa akan terjadi pada bentuk kerumunan di daerah mana pun dan suku apa pun, bukan hanya di Medan dan orang Batak.
Kerumunan (crowd) menurut sosiologi disebut juga kelompok sosial yang tidak teratur. Kerumunan adalah kehadiran orang-orang secara fisik—tidak terorganisasi. Akan segera mati, setelah orang-orang bubar. Sifatnya pun sementara (temporer) Interaksi spontan dan tidak terduga. Seorang politikus misalnya; guru, mahasiswa, pegawai, saudagar, dokter, wartawan, tukang becak dan tukang sayur sama-sama menunggu kereta api—mereka mempunya kedudukan yang sama. Siapa pun yang ada dalam kerumunan gampang tersulut dan mudah meniru tingkah laku orang lain. Satu orang berteriak, yang lain akan meniru karena didorong perasaan satu nasib dan terjalin sifat saling mendukung.
Pada dasarnya, tiap kerumunan rentan terhadap kerusuhan. Soalnya individu yang berkumpul gampang kehilangan jati diri—anonimitas. Dalam momen kerumunan individu-individu tercerabut dari personalitasnya. Kerumunan cepat menularkan kekerasan. Ketika satu orang memukul, yang lain mengikutinya.
Tipe kerumunan pun berbeda, ada kerumunan yang bertindak emosional (acting mobs) Tipe ini diwarnai perlawanan norma hukum (lawless) Mobokrasi adalah kekuasaan yang dikendalikan mob—kerumunan yang emosional serta irasional yang berbuntut aksi destruksi. Aksi seperti ini bisa terjadi ketika ada pihak yang dianggap menghambat dan menghalang-halangi niat orang-orang dalam kerumunan. Atau karena hak-hak mereka diinjak-injak atau lantaran ketidakadilan. Kerumunan akan bertambah beringas dan agresif menyerang siapa yang dianggap penghalang keinginan mereka—dipukul atau dihajar rame-rame dan dikeroyok. Tipe kerumunan seperti itulah yang terjadi pada Ketua DPRD Sumatera Utara, Azis Angkat.
Betul, tidak semua kerumunan menciptakan kerusakan dan kehancuran. Literatur ilmu sosiologi membagi empat tipe kerumunan. Seperti kerumunan tidak tetap (casual crowd) Keberadaanya amat singkat dan terorganisasi secara longgar. Tipe ini bersifat spontan. Misal, orang yang bersama-sama melihat gedung terbakar atau kecelakaan. Kerumunan konvensional (convensional crowd) Tipe ini terjadi secara terencana dan berperilaku teratur. Contoh, penonton dalam teater atau pertandingan sepak bola. Kerumunan bertindak (acting crowd) keterlibatannya didasari pada permusahan atau aktivitas destruktif. Misal, mob yang melakukan pembantaian. Kerumunan ekspresif (expressive crowd) muncul melampiaskan emosi dan ketegangan. Umpama, para penonton konser musik rock.
Sialnya, kalau kerumunan berada di wilayah politik, yang kerap terjadi adalah anarkisme. Anarkisme suatu keadaan ketika tidak ada lagi otoritas yang mengatur dan mengendalikan. Situasi bisa berubah mendadak menjadi brutal, apalagi di lokasi kerumunan tidak ada pihak keamanan yang memadai. Bisa saja polisi kalah kuat dengan gelombang demonstran yang kecewa dan prustrasi. Sketsa anarkisme politik kerumunan seperti inilah yang terjadi di Medan.
Kita hanya bisa beradai-andai—seandainya pengamanan dilakukan maksimal, barangkali korban tewas bisa dihindarkan.
Apa pun itu, provinsi Tapanuli sudah tercemar sebelum mekar. Amang tahe!
Penulis, Baharuddin Silaen staf pengajar sosiologi di Fakultas Ilmu Komunikasi, Universitas Mercua Buana, Jakarta.
Selasa, 23 Desember 2008
Renungan Memasuki 2009
Renungan Memasuki 2009
Damai Sejahtera dan Umat Stres
Baharuddin Silaen
Dahlan (sebut saja begitu namanya) berdiri di atas pembatas jalan dekat lampu merah Ciledug, Tangerang. Saban pagi dia berdiri di tempat itu dengan posisi yang sama menghadap ke arah timur, tangannya seperti orang menghormat. Pakaian rapi layaknya orang kantoran. Sepintas tidak ada yang aneh dari penampilan Dahlan, sehingga yang melintas pun tidak terlalu menghiraukannya.
Belakangan diketahui, Dahlan usia sekitar 45 tahun itu, ternyata mengalami “gangguan pikiran,” stres, karena putus hubungan kerja (PHK) dari perusahaan tempatnya bekerja. Rupanya semasa aktif, Dahlan selalu menunggu jemputan di dekat lampu merah Ciledug. Mungkin ia merasa masih bekerja, pagi-pagi sudah datang ke tempat itu. Berdiri berjam-jam layaknya orang menunggu bis.
Dahlan tidak sendirian, nasib sama dialami ribuan pekerja korban PHK, walaupun belum sampai stres? Pada Desember 2008 saja sudah 20 ribu terkena PHK di Indonesia. Jumlah itu diperkirakan akan terus bertambah pada Januari 2009, menjadi dua juta orang. Pemandangan barisan panjang korban PHK bukan hanya di Indonesia, juga akan terjadi di belahan dunia, 20 juta pekerja di dunia akan memeriahkan barisan pengangguran—dipicu gelombang krisis keuangan global.
Nasib serupa juga menimpa pekerja Indonesia di Korea. Badan Nasional Penempatan dan Perlindungan Tenaga Kerja Indonesia mencatat 300 orang tenaga kerja Indonesia yang bekerja di Korea dipecat sehubungan krisis global. Pekerja yang dipecat itu kebanyakan bekerja di sektor manufacturing.
Sumber lain melansir, akibat himpitan ekonomi jumlah orang stres di Indonesia meningkat tajam sepanjang periode 2008. Bahkan pasien beberapa Rumah Sakit Jiwa disebutkan terus bertambah. Malah pihak rumah sakit kewalahan menampung pasien baru. Sumber itu merinci, jumlah yang stres paling banyak justru di Sumatera Utara. Penyebab stres rata-rata karena kesulitan ekonomi.
Apabila data itu benar, logikanya—penduduk Sumatera Utara banyak orang Batak. Orang Batak tersebut kebanyakan Kristen dan orang Batak Kristen di Sumatera Utara lebih banyak warga HKBP.
Contoh lain, ketika Merpati Nusantara Airlines (MNA) memberhentikan 1300 karyawan, dari antara yang terkena PHK ada puluhan warga HKBP. Ini baru dari satu perusahaan. Bayangkan berapa banyak warga HKBP pengangguran pada 2009? Kalaupun itu benar-benar terjadi, semua berharap dan berdoa jangan sampai ada yang stres apalagi terganggu pikiran.
Betul, selain berdoa, sebaiknya ada upaya konkrit dari gereja, soalnya faktanya sudah di depan mata. Para korban PHK perlu mendapat perhatian pihak gereja. Memang sangat dimaklumi, gereja bukan bursa kerja yang menyediakan lowongan pekerjaan, tetapi bukan pula gereja tidak punya tanggung jawab moril terhadap warganya yang dilanda kesusahan. Sekecil apa pun yang disumbangkan gereja, itu sangat berarti bagi mereka yang sedang terguncang karena benturan krisis ekonomi. Seperti tuntunan hidup agar tetap kokoh kendatipun badai menerpa—jangan sampai putus asa, apalagi menempuh “jalan pintas” yang tidak wajar. Begitupun kotbah, sebaiknya menyentuh dunia riil, jangan di awang-awang—melulu tentang indahnya sorga. Lebih baik lagi kalau didukung kotbah yang mencerahkan umat sehingga mampu menerima kenyataan serta tau membedakan mana pangunjunan (cobaan) dan mana pangago (yang jahat)
Berdasarkan catatan yang dihimpun, rata-rata yang stres menempuh jalan pintas (bunuh diri) lantaran menutup diri terhadap dunia luar. Mengurung diri. Karena itu mengurung diri bukanlah cara yang tepat. Sebaiknya terbuka dan mau berbagi kepada orang atau sahabat yang dipercaya. Sangat berguna melakukan kegiatan maupun kegemaran apa saja yang disukai
Rumitnya masalah yang dihadapi umat manusia masa kini, inspirasi bagi beberapa kalangan mendirikan pusat pelayanan krisis. (Crisis Centre) Termasuk lembaga keagaamaan (gereja) Di kota-kota besar di dunia termasuk Indonesia pusat pelayanan krisis tidak susah dicari. Ada yang on line 24 jam. Ada juga yang bisa diakses lewat internet. Ada yang profesional tapi ada juga amatiran. Serunya, ada yang mengemas label iklan pelayanan dengan tulisan “Sebelum Anda bunuh diri hubungi kami.”
Belum lagi berapa banyak keluhan umat manusia yang dikirim lewat email dan SMS saban hari. Ini juga sebagai bukti, umat manusia masa kini ingin diperhatikan dan didengar. Curhat. Masalahnya, siapa yang mau memperhatikan dan mendengar keluhan orang lain?
Agaknya, krisis global bukanlah satu-satunya pemicu stres, tapi juga ketertutupan dan sifat egoisme turut memperparah keadaan saat ini. Manusia saat ini cenderung tidak perduli kepada orang lain—bahkan menutup diri terhadap dunia sekitar. Orang di sekitar bahkan di depan pagar rumahnya pun tidak dikenal, jangankan membantu, menegur pun ogah. Begitu juga deretan rumah-rumah mewah dipagar besi menjulang tinggi—wajah rumah itu mendadak sangar dan tidak bersahabat sebagai bukti tingginya egoisme manusia. Namun, tindakan menembok rumah tidak bisa disalahkan, soalnya banyak faktor kenapa orang tertutup. Sebut saja tragedi Mei 1998 misalnya, masih menyisahkan trauma berat akibat penjarahan dan kekerasan yang menimpa warga tertentu. Sejak tragedi itulah warga rame-rame menembok rumahnya rapat-rapat dan kurang peduli terhadap lingkungan sekitarnya.
Bersamaan dengan Tahun Diakonia HKBP 2009 yang menggagas persekutuan warga jemaat secara nasional yang memikirkan pelayanan diakonia berkelanjutan, menyongsong jubileum 150 tahun HKBP, merespon berbagai masalah kemiskinan, kekerasan, keterbelakangan dan masalah lingkungan serta merespon masalah demokrasi dan globalisasi. (Suara HKBP, Desember 2008) Moment ini diharapkan sebagai ajang aksi sosial sekaligus terebosan untuk menyentuh kaum marjinal termasuk umat yang terimbas dampak krisis keuangan global.
Kendatipun dalam agenda tidak ada tercantum pelayanan bagi warga yang stres, bukan berarti diakonia tidak solider terhadap kesulitan yang dihadapi warga gereja—termasuk bagi warga yang sedang stres.
Kalau selama ini Departemen Diakonia cukup tanggap dan sigap mendatangi serta memberikan sumbangan kepada yang tertimpa bencana, diharapkan pada 2009 departemen ini juga memperhatikan umat yang ditimpa stres. Warga sangat mendambakan kehadiran gereja untuk menyentuh sisi kehidupan riil yang benar-benar dialami dan terjadi di dunia, saat ini. Setidaknya, Departemen Diakonia bisa menterjemahkan simbol keagaamaan yaitu kasih menjadi ikan dan roti bagi warga yang mebutuhkannya.
Lalu, damai sejahtera dari Allah bukanlah sebatas angin sorga tetapi juga bukti kepedulian terhadap umat yang dililit kesusahan dan stres.
Buku Ende No 286 “Unang ma tangishon” menarik juga direnungkan—siapa tau bisa menghibur.
Unang ma tangishon holso ni roham
Tu Jesus aluhan arsak ni roham
Molo humaliang gaor pe sasude
Sai porsea monang do luhut muse
Sai adong deba marsak songon ho
Ho ma paboahon na mangapul ho
Rap ho martangiang dohot angka i
Paima dipasonang Jesus sasude.
Damai Sejahtera dan Umat Stres
Baharuddin Silaen
Dahlan (sebut saja begitu namanya) berdiri di atas pembatas jalan dekat lampu merah Ciledug, Tangerang. Saban pagi dia berdiri di tempat itu dengan posisi yang sama menghadap ke arah timur, tangannya seperti orang menghormat. Pakaian rapi layaknya orang kantoran. Sepintas tidak ada yang aneh dari penampilan Dahlan, sehingga yang melintas pun tidak terlalu menghiraukannya.
Belakangan diketahui, Dahlan usia sekitar 45 tahun itu, ternyata mengalami “gangguan pikiran,” stres, karena putus hubungan kerja (PHK) dari perusahaan tempatnya bekerja. Rupanya semasa aktif, Dahlan selalu menunggu jemputan di dekat lampu merah Ciledug. Mungkin ia merasa masih bekerja, pagi-pagi sudah datang ke tempat itu. Berdiri berjam-jam layaknya orang menunggu bis.
Dahlan tidak sendirian, nasib sama dialami ribuan pekerja korban PHK, walaupun belum sampai stres? Pada Desember 2008 saja sudah 20 ribu terkena PHK di Indonesia. Jumlah itu diperkirakan akan terus bertambah pada Januari 2009, menjadi dua juta orang. Pemandangan barisan panjang korban PHK bukan hanya di Indonesia, juga akan terjadi di belahan dunia, 20 juta pekerja di dunia akan memeriahkan barisan pengangguran—dipicu gelombang krisis keuangan global.
Nasib serupa juga menimpa pekerja Indonesia di Korea. Badan Nasional Penempatan dan Perlindungan Tenaga Kerja Indonesia mencatat 300 orang tenaga kerja Indonesia yang bekerja di Korea dipecat sehubungan krisis global. Pekerja yang dipecat itu kebanyakan bekerja di sektor manufacturing.
Sumber lain melansir, akibat himpitan ekonomi jumlah orang stres di Indonesia meningkat tajam sepanjang periode 2008. Bahkan pasien beberapa Rumah Sakit Jiwa disebutkan terus bertambah. Malah pihak rumah sakit kewalahan menampung pasien baru. Sumber itu merinci, jumlah yang stres paling banyak justru di Sumatera Utara. Penyebab stres rata-rata karena kesulitan ekonomi.
Apabila data itu benar, logikanya—penduduk Sumatera Utara banyak orang Batak. Orang Batak tersebut kebanyakan Kristen dan orang Batak Kristen di Sumatera Utara lebih banyak warga HKBP.
Contoh lain, ketika Merpati Nusantara Airlines (MNA) memberhentikan 1300 karyawan, dari antara yang terkena PHK ada puluhan warga HKBP. Ini baru dari satu perusahaan. Bayangkan berapa banyak warga HKBP pengangguran pada 2009? Kalaupun itu benar-benar terjadi, semua berharap dan berdoa jangan sampai ada yang stres apalagi terganggu pikiran.
Betul, selain berdoa, sebaiknya ada upaya konkrit dari gereja, soalnya faktanya sudah di depan mata. Para korban PHK perlu mendapat perhatian pihak gereja. Memang sangat dimaklumi, gereja bukan bursa kerja yang menyediakan lowongan pekerjaan, tetapi bukan pula gereja tidak punya tanggung jawab moril terhadap warganya yang dilanda kesusahan. Sekecil apa pun yang disumbangkan gereja, itu sangat berarti bagi mereka yang sedang terguncang karena benturan krisis ekonomi. Seperti tuntunan hidup agar tetap kokoh kendatipun badai menerpa—jangan sampai putus asa, apalagi menempuh “jalan pintas” yang tidak wajar. Begitupun kotbah, sebaiknya menyentuh dunia riil, jangan di awang-awang—melulu tentang indahnya sorga. Lebih baik lagi kalau didukung kotbah yang mencerahkan umat sehingga mampu menerima kenyataan serta tau membedakan mana pangunjunan (cobaan) dan mana pangago (yang jahat)
Berdasarkan catatan yang dihimpun, rata-rata yang stres menempuh jalan pintas (bunuh diri) lantaran menutup diri terhadap dunia luar. Mengurung diri. Karena itu mengurung diri bukanlah cara yang tepat. Sebaiknya terbuka dan mau berbagi kepada orang atau sahabat yang dipercaya. Sangat berguna melakukan kegiatan maupun kegemaran apa saja yang disukai
Rumitnya masalah yang dihadapi umat manusia masa kini, inspirasi bagi beberapa kalangan mendirikan pusat pelayanan krisis. (Crisis Centre) Termasuk lembaga keagaamaan (gereja) Di kota-kota besar di dunia termasuk Indonesia pusat pelayanan krisis tidak susah dicari. Ada yang on line 24 jam. Ada juga yang bisa diakses lewat internet. Ada yang profesional tapi ada juga amatiran. Serunya, ada yang mengemas label iklan pelayanan dengan tulisan “Sebelum Anda bunuh diri hubungi kami.”
Belum lagi berapa banyak keluhan umat manusia yang dikirim lewat email dan SMS saban hari. Ini juga sebagai bukti, umat manusia masa kini ingin diperhatikan dan didengar. Curhat. Masalahnya, siapa yang mau memperhatikan dan mendengar keluhan orang lain?
Agaknya, krisis global bukanlah satu-satunya pemicu stres, tapi juga ketertutupan dan sifat egoisme turut memperparah keadaan saat ini. Manusia saat ini cenderung tidak perduli kepada orang lain—bahkan menutup diri terhadap dunia sekitar. Orang di sekitar bahkan di depan pagar rumahnya pun tidak dikenal, jangankan membantu, menegur pun ogah. Begitu juga deretan rumah-rumah mewah dipagar besi menjulang tinggi—wajah rumah itu mendadak sangar dan tidak bersahabat sebagai bukti tingginya egoisme manusia. Namun, tindakan menembok rumah tidak bisa disalahkan, soalnya banyak faktor kenapa orang tertutup. Sebut saja tragedi Mei 1998 misalnya, masih menyisahkan trauma berat akibat penjarahan dan kekerasan yang menimpa warga tertentu. Sejak tragedi itulah warga rame-rame menembok rumahnya rapat-rapat dan kurang peduli terhadap lingkungan sekitarnya.
Bersamaan dengan Tahun Diakonia HKBP 2009 yang menggagas persekutuan warga jemaat secara nasional yang memikirkan pelayanan diakonia berkelanjutan, menyongsong jubileum 150 tahun HKBP, merespon berbagai masalah kemiskinan, kekerasan, keterbelakangan dan masalah lingkungan serta merespon masalah demokrasi dan globalisasi. (Suara HKBP, Desember 2008) Moment ini diharapkan sebagai ajang aksi sosial sekaligus terebosan untuk menyentuh kaum marjinal termasuk umat yang terimbas dampak krisis keuangan global.
Kendatipun dalam agenda tidak ada tercantum pelayanan bagi warga yang stres, bukan berarti diakonia tidak solider terhadap kesulitan yang dihadapi warga gereja—termasuk bagi warga yang sedang stres.
Kalau selama ini Departemen Diakonia cukup tanggap dan sigap mendatangi serta memberikan sumbangan kepada yang tertimpa bencana, diharapkan pada 2009 departemen ini juga memperhatikan umat yang ditimpa stres. Warga sangat mendambakan kehadiran gereja untuk menyentuh sisi kehidupan riil yang benar-benar dialami dan terjadi di dunia, saat ini. Setidaknya, Departemen Diakonia bisa menterjemahkan simbol keagaamaan yaitu kasih menjadi ikan dan roti bagi warga yang mebutuhkannya.
Lalu, damai sejahtera dari Allah bukanlah sebatas angin sorga tetapi juga bukti kepedulian terhadap umat yang dililit kesusahan dan stres.
Buku Ende No 286 “Unang ma tangishon” menarik juga direnungkan—siapa tau bisa menghibur.
Unang ma tangishon holso ni roham
Tu Jesus aluhan arsak ni roham
Molo humaliang gaor pe sasude
Sai porsea monang do luhut muse
Sai adong deba marsak songon ho
Ho ma paboahon na mangapul ho
Rap ho martangiang dohot angka i
Paima dipasonang Jesus sasude.
Langganan:
Postingan (Atom)
