Minggu, 27 Maret 2011

Pembela Kaum Minoritas Salman Taseer Dibunuh

Sosoknya yang terbilang kontroversial, lantaran keberanian serta sepak terjangnya melawan ketidakadilan terhadap kelompok minoritas di negerinya selama ini, diyakini menjadi penyeb utama kematian tragis Gubernur Punjab, Pakistan Salman Taseer (66) di tangan salah seorang pengawal pribadinya. Selain konsisten dan kerap bersuara keras menentang Undang-Undang Penghinaan Agama, Taseer juga dikenal berani “pasang badan” melindungi seorang perempuan Kristen terpidana hukuman mati, Aasia Bibi, ketika para politisi lain justru mencoba bermain aman dan memilih tidak konfrontatif menghadapi para kelompok garis keras. Bibi adalah seorang ibu rumah tangga yang diancam hukuman mati oleh UU Penghinaan Agama itu karena dituduh menghina Nabi Muhammad SAW dalam sebuah pertengkaran dengan tetangganya. Seorang ulama pro-Taliban bahkan sempat menawarkan hadian 5.800 dollar Amerika Serikat (sekitar Rp 52 juta) bagi siapa saja yang bisa membunuh Bibi di penjara. Menanggapi itu, Taseer tampil berani dengan berfoto bersama Bibi dalam sebuah pertemuan sekaligus menyerukan perlunya UU kontroversial itu diamandemen. Kasus Bibi ketika itu juga sempat mencuri perhatian banyak kalangan di seluruh dunia. Bahkan pemimpin umat Katolik, Paus Benedictus XVI, meminta pemerintah Pakistan memberi sedikit kelonggaran bagi Bibi. Kelompok dan golongan kanan di Pakistan selama ini meyakini aturan UU tersebut sangat diskriminatif dan membahayakan, terutama bagi kelompok minoritas di daerah itu. Aturan itu berakar pada hukum kolonial dari abad ke-19 yang dibuat untuk melindungi tempat-tempat ibadah. Namun pada masa pemerintahan rezim diktator militer, Jenderal Mohammad Zia ul-Haq di era 1980-an, aturan itu menunjukkan “taring”-nya lantaran kebijakan pemerintah di masa itu memang menganut garis keras. Ketika itu Taseer bahkan sempat mencicipi dinginnya dinding penjara karena dianggap melawan pemerintah akibat pandangan-pandangan politiknya. Dengan bersedia mempertaruhkan nyawanya sendiri demi menentang diskriminasi dan penyalahgunaan, Taseer justru telah menunjukkan dirinya sebagai seorang politisi yang sangat langka,” ujar Ali Dayan Hasan, peneliti senior Human Rights Watch terkait dengan isi Asia Selatan. Dalam berkiprah, selain berani, Taseer juga dikenal sangat progresif dan “melek teknologi.” Hal ini tampak dari kegemarannya memanfaatkan situs jejaring sosial Twitter dalam “mengicaukan” sikap dan pandangan-pandangan kerasnya menentang ketidakadilan. Akun Twitter-nya bahkan memiliki lebih dari 3.500 pengikut (follower) Dalam sejumlah “kicauan”-nya, Taseer juga tampak sangat memahami risiko besar yang selalu menguntitnya. “Besok para mullah berunjuk rasa menentang saya usai (shalat) Jumat. Ribuan orang akan meneriakkan kepala saya. Benar-benar seru,” begitu bunyi salah satu kicauannya. Sosoknya yang flamboyant sebelum dikenal sebagai seorang pengusaha sukses. Dia memulai karier politiknya saat terpilih menjadi anggota majelis di tingkat provinsi di Punjab pada 1998. Dia kemudian menjabat sebagai Menteri Industri dan Produksi Pakistan di masa pemerintahan Perdana Menteri Pervez Musharraf (2007-2008) Saat partainya, Partai Rakyat Pakistan (PPP) memenangi pemilu 2008, dia ditunjuk menjadi Gubernur Punjab. Pemakaman Pascapembunuhan Taseer, Pemerintah Pakistan bersiaga penuh mengamankan proses pemakamannya di Lahore. Ribuan pendukungnya berkumpul memberikan penghormatan terakhir sekaligus memorotes keras pemerintah yang dinilai harus bertanggung jawab atas kematiannya. Namun, para pendukung kelompok radikal justru menyerukan boikot terhadap upacara pemakan Taseer. Kelompok Jamaat-e-Ahl-e-Sunnat Pakistan bahkan mengancam bahwa siapa saja yang ikut berkabung bakal mengalami nasib serupa. Untuk menurunkan ketegangan yang terjadi di Pakistan, Perdana Menteri Yousuf Raza Gilani menetapkan masa berkabung nasional tiga hari. Perkembangan terakhir kepolisian Pakistan, menurut pengacara Taseer, resmi menetapkan Malik Mumtaz Hussein Qadri, anggota pasukan khusus kepolisian yang juga pengawal pribadi Gubernur Punjab, sebagai pelaku pembunuhan. Malik memberondong Taseer saat menuju mobilnya, belum lama ini, di suatu tempat perbenlanjaan elit, Pasar Kohsar, di Pakistan. Salman Taseer, menurut otopsi, tewas akibat tembakan 29 peluru di hampir seluruh tubuhnya. bas/dari berbagai sumber

Kamis, 24 Maret 2011

Lambas Goeltom Sahabat Menyenangkan

Setelah pulang dari Amerika, 2004, dia datang mengunjungi aku di PGI, Jalan Salemba Raya 10, Jakarta. Kaget. Tak menduga sama sekali. Yang aku tahu, dia berada di Denver, Colorado.

Dia menceritakan suka dan duka selama tinggal di Amerika. Teman kami Lamsihar Simamora disinggung juga dalam ceritanya. Teman kami sewaktu kuliah di “Institut Ilmu Sosial dan Ilmu Politik” (IISIP) Lenteng Agung. Bahkan mereka sempat menerbitkan koran “Indonesia News” berbahasa Indonesia di Colorado. Aku juga ikut sebagai redaktur di Jakarta.
Bagiku Lambas Goeltom adalah sahabat yang baik dan menenangkan. Santun, kalem dan tidak banyak bicara. Meskipun pengalaman jurnalistiknya seabrek-abrek, tapi tetap rendah hati. Bukan hanya di bidang jurnalistik, belahan dunia ini pun sudah banyak dijelajahinya. Pribadi Lambas yang low profile inilah membuatku diam-diam mengaguminya.
Memang, kami sudah lama berteman. Sejak kuliah di IISIP (dulu namanya Sekolah Tinggi Publistik-STP) Sewaktu di kampus kami beda kelompok (bergaul dan tempat nongkrong) Boleh dikatakan antara aku dengan Lambas tidak terlalu akrab. Aku lebih suka bergaul dengan mahasiswa asal Medan. Selain itu, aku kurang betah lama-lama di kampus, karena waktu itu sudah ada kegiatan—wartawan di “Sinar Indonesia Baru” kantornya di Jalan Balikpapan, Jakarta Pusat.
Hubungan akrab dengan Lambas terjalin kembali tujuh tahun lalu. Ketika kami sama-sama di majalah “Devotion” yang diterbitkan, John Bidel Pasaribu. Latar belakang jurnalistiknya dan pengamalaman di luar negeri, tentulah sangat mengena untu penerbitan. Itulah alasanku mengajaknya bergabung.
Waktu itu Lambas ditugasi mengurusi berita luar negeri. Banyak kisah menarik ditulisnya dengan gaya penulisan feature yang enak. Dalam sekejab berita yang dikutip dari internet langsung jadi. Maklum, bahasa Inggrisnya sangat memadai.
Nilai plus yang lain, dia adalah penulis serba bisa. All event! Apa saja yang dia tulis pasti enak dan menarik.
Pernah tulisannya mendapat protes dari pembaca Devotion. Ketika itu Lambas malah tersenyum ketika diceritakan ada yang komplein. Tak gentar sama sekali. “Seorang jurnalis, harus berani menulis berita berdasarkan fakta apa adanya,” kata Lambas waktu itu. Dia juga sangat konsisten menjaga wibawa redaksi. Paling tidak suka kalau ada pihak lain yang ingin intervesi redaksi soal berita. Termasuk wartawan yang coba-coba intervesi kebijakan redaksi.
Persahabatan kami, boleh dikatakan cukup langgeng. Setelah Devotion tutup, Lambas aku ajak bergabung dengan majalah “Suara HKBP.” Semula aku ragu, apa dia mau atau tidak. Soal finansial? Setelah kupaparkan apa adanya, dia bersedia. “Tidak apa-apa, nanti ada saatnya berubah,” jawab Lambas waktu itu.
Hampir lima tahun kami bersama di Suara HKBP. Banyak ide yang dikemukakan untuk memajukan majalah ini. Sampai akhir hidupnya, dia menjabat Pemimpin Redaksi menggantikan Pdt Puji Handoko Aritonang STh.
Lambas juga yang menggagas pada ulang tahun kelima majalah ini, 2010, agar digelar penobatan tokoh Batak. Ide itu disambut baik oleh teman lain. Lambas dengan cekatan membuat proposal dan yang berkaitan dengan penobatan tersebut. Meskipun pada malam penobatan hasilnya tidak maksimal. Dia termasuk yang kecewa.
Sampai Lambas meninggal, panitia HUT Suara HKBP belum dibubarkan. Sebab Lambas tak kunjung sembuh dari sakit. Ketua Panitia Kampler Marpaung, sudah pernah menanyakan soal kesehatan Lambas. Ternyata, sahabat kami Lambas, tidak akan pernah lagi bersama kami untuk selama-lamanya dan tidak akan pernah ikut dalam pembubaran panitia HUT yang digagasnya.
Benar, masih banyak program yang belum terlaksana. Setahun lalu dia merencanakan akan mendirikan komunitas penulis Kristen. Draf proposalnya sudah dikerjakan. Impian itu pun buyar, bersama kepergian sahabat kami yang baik, Lambas.
Malah Maret ini, Lambas seharusnya sebagai narasumber untuk pelatihan penulisan yang diadakan HKBP Duren Sawit. Materi yang akan disampaikan: Wawancara Jurnalistik, Fotografi Jurnalistik dan Teknik Membuat Blog.
Terlalu cepat dia pergi. Aku adalah sahabatnya yang sangat kehilangan. Sepertinya dia belum meninggal. Sosoknya masih terbayang duduk sambil menghadap komputer tempatnya mengetik berita dan tulisan.
Beberapa waktu belakangan ini, dia sudah sering mengeluh, tentang penyakit yang dia derita; gula dan prostat. Sebelumnya, sudah pernah operasi usus buntu. Sejak kadar gulanya tinggi,dia rajin membawa gula sendiri ke kantor.
Ketika kami dari Suara HKBP menyampaikan turut berduka di rumahnya, di Kompleks Perumahan Depsos Pasar Rebo, anaknya Ferrari, 13 tahun (SMP Kelas 1) tampak menangis sesengguhan menyaksikan ayahnya terbujur kaku dalam peti. Sesekali ompunya membelai Ferrari dengan kasih sayang yang tulus. Almarhum lahir di Bandung, 15 Juli 1960. Meninggal, Selasa 15 Februari 2011 di Jakarta.
Meskipun aku sebagai sahabatnya, tidak semua hal diceritakan. Aku punya firasat, selain penyakit yang dideritanya, ada pergumulan batin yang ditutupinya. Tapi, aku tidak pernah berani menanyakannya. Apalagi dia tidak pernah terbuka hal-hal yang pribadi.
Yang aku tahu, dia pekerja keras dan tekun. Sayang, kalau sudah di depan komputer lupa semuanya. Termasuk makan. Rokok adalah sahabatnya paling setia. Secangkir kopi panas selalu mendampinginya. Pemandangan itu tidak akan pernah lagi terlihat di atas mejanya di kantor Redaksi Suara HKBP di Cinere.
Sahabatku, terlalu cepat engkau pergi! Selamat jalan Lambas. baharuddin silaen

Islam dan Kristen Doa Bersama di Mesir

Setelah kaum muslimin menunaikan salat, mereka memberi kesempatan kepada umat Kristen melakukan misa. Hari itu Minggu siang di Kairo.

Imam berjubah Al-Azhar yang baru saja memimpin salat, tampak membantu Pdt Fauzi Khalil naik ke kursi yang semula dipakai muazin. Pendeta membuka doa kecilnya, lalu memulai misa. “Bismillah, dengan namaMu ya Bapa yang ada di surga…”
Pdt Fauzi, membaca Mazmur, kemudian menutup misa di Midan Tahrir (Medan Merdeka) dengan doa. Ribuan orang, Islam dan Kristen mengamini doa tersebut. Seorang wanita berjilbab ikut mengangkat tangan dan mengucapkan amin setiap doa dipanjatkan.
Sebenarnya, di luar Tahrir sekalipun kerukunan antarumat beragama di Mesir terjaga baik. Hampir tidak pernah ada bentrok antara umat Kristen dan Islam. Sejumlah bentrokan di bagian selatan Mesir lebih dipicu oleh soal tanah dan keluarga, bukan soal agama.
Memang ada beberapa kali bom di gereja. Seperti pada saat tahun baru lalu. Bom meledak seusai misa tahun baru di Gereja AL-Qeddesine (Gereja Dua Santo) Setidaknya 23 orang tewas dan sekitar 90 orang cedera dalam insiden itu.
“Tapi saya tak pernah yakin itu dilakukan oleh kelompok Islam,” kata Pdt Fauzi seperti dikutip Tempo. Pdt Fauzi kemudian menghampiri Syekh Salahuddin dari Al-Azhar dan menyalaminya. “Kami akan menjaga gereja, itu tanggung jawab kami,” kata Syekh Salahuddin.
Bukan hanya Fauzi yang mempercayai hal itu. Mikail Munir, seorang demonstran beragama Kristen, mengatakan bahwa yang menekan rakyat Mesir, Islam atau Kristen adalah pemerintah. Ini dibuktikan selama hampir dua minggu demonstrasi, ketika polisi menghilang entah ke mana, justru tak ada serangan terhadap gereja-gereja.”Kami, rakyat yang menjagannya bersama-sama,” ujar Mikail.
Umat Kristen di Mesir memang minoritas, hanya 10 persen dari 80 juta penduduk. Tapi, mereka adalah kelompok Kristen terbesar di Timur Tengah. Sekitar 95 persen umat Kristen di Mesir warga Gereja Ortodoks Komptik Aleksandria. Mereka punya paus sendiri, namanya Baba (Pope) Shenouda III, yang sudah 40 tahun menjabat. Agama ini ada di mesir sejak abad pertama Masehi, jauh sebelum Islam masuk enam abad kemudian. Keberadaan umat Krsiten amat mudah dikenali dengan tato di atas nadi. Seperti halnya Pdt Fauzi Khalil, punya tato salib di atas urat nadi tangan kanan.
Kelompok Islam garis keras seperti Ikhwanul Muslimin sekalipun, punya hubungan kuat dengan Gereja Koptik. Saat Hassan al-Banna, pendiri Al-Ikhwan, meninggal, satu-satunya pejabat tinggi negara yang mengantar jenazahnya adalah Makram Obeid, hakim agung beragama Kristen yang rajin membaca Al-Quran. Saat Natal Koptik, 7 Januari lalu, para pemimpin Al-Ikhwan mendatangi pemimpin Gereja Aleksandria. Ketika Ramadan, giliran para pendeta ikut berpuka puasa bersama mereka.
Kebersamaan dan rasa persaudaraan begitu terlihat. Ketika terjadi serangan bom tahun baru di gereja, jutaan warga Mesir memasang logo “Mesir untuk Semua” di foto profil Facebook mereka.
Bahkan, ketika unjuk rasa menentang Mubarak di Midan Tahrir , ratusan bendera dengan simbol bulan sabit dan salib berkibar, melambangkan persatuan Islam dan Kristen.
“Baju” yang berbeda tak memisahkan mereka. Bahkan ‘baju’ seolah dilepas. Mereka bersama berusaha mencapai tujuan mulia untuk negeri yang lebih baik. Baik Fauzi maupun Salahuddin mengatakan, apa yang mereka lakukan di Tahrir ini adalah atas pribadi. Lembaga yang menaungi mereka, Gereja Koptik dan Al-Azhar, memang tidak tegas mendukung demonstrasi di Tahrir, apalagi setelah Mubarak menyatakan akan mundur September mendatang.
Mungkin karena tak ada wakil dari gereja inilah, panitia demonstrasi membuat badan khusus umat Kristen. Untuk umat Kristen, koordinator demonstrasi menyediakan sayap khusus bernama Munazhim Aqbath (Koordinator Koptik) Merekalah yang mengoordinasi sembahyang bagi umat Kristen dan mendatangkan pendeta ke Tahrir.
Begitu juga di luar Minggu, kita bisa mendapati spanduk-spanduk yang menggugah rasa persatuan. “Lihat, kami semua bersatu,” kata novelis dan aktivis feinisme Nawal el-Saadawi, sambil menunjuk poster yang dibawa perempuan berjilbab besar berbunyi: “Muslim, Nasrani, kita semua satu.”
Mereka merasa perlu menegaskan persatuan itu, karena ada upaya membelokkan revolusi ini menjadi revolusi Islam. Pemerintah Mesir menuduh Ikhwanul Muslimin ada balik krisis politik ini. Adapun pemimpin tertinggi Iran, Ayatullah Ali Khamenei, mengatakan, demonstrasi di Mesir adalah revolusi Islam.
Tapi, semua yang hadir di Tahrir tahu suara yang mereka teriakkan tak mengenal agama. Juga pria yang patah kakinya dan sesenggukan setelah misa. “Perlawanan ini membuat kami semakin bersatu,” kata pria itu.
Di sekitar kami, orang sudah ramai menriakkan yel-yel persatuan. “Demi Injil, demi Al-Quran, Mubarak harus keluar.” Atau, “Ya Muhammad, ya Paulus, Mubarak tak boleh terus.”
Sejumlah salib dan Al-Quran juga diangkat bersama-sama dengan latar belakang bendera Mesir berwarna merah, putih dan hitam serta gambar elang di tengahnya tampak berkibar-kibar menghias langit Mesir. baharuddin s

Lambas Goeltom Serius dan Pekerja Keras

Pertemuan saya dengan Lambas Goeltom di Amerika berlangsung di kota Denver, Colorado. Sore itu , saya sedang berbelanja kebutuhan dapur di toko groseri makanan Asia di Federal Boulevard, toko yang biasanya dikunjungi orang-orang Indonesia di sana. Kami berkenalan dengan ragu-ragu, karena andaikan salah tegur, akan menanggung rasa malu di hati. Dia juga ternyata sedang mencari kebutuhan dapur sambil menggandeng anaknya Ferrari.
Kami memperbincangkan kehadiran kami di Amerika dan juga tujuan hidup. Dia bekerja di daerah pegunungan sesuai kontrak kerja yang dia miliki. Saya sendiri bekerja di Denver sambil menuntut ilmu. Tak berapa lama kemudian dia turun gunung dan berdomisili di Denver. Ini membuat kami memiliki banyak kesempatan bertemu. Kemudian kami memasuki gereja Oikumene Indonesia yang sama.
Sehabis kebaktian sore, kami duduk berdiskusi sambil menyantap makan malam yang disediakan gereja. Bersantap malam bersama merupakan kebiasaan gereja-gereja Indonesia di Amerika karena di situlah waktu bersosialisasi satu sama lainnya di akhir pekan di sela-sela waktu bekerja. Di situlah hadir animo kami untuk menerbitkan media cetak berbahasa Indonesia sekedar membagikan informasi ke masyarakat Indonesia. Terbitlah kemudian suratkabar bulanan “Indonesia News.”
Pengetahuan jurnalistik bagi kami bukanlah hal yang baru sehingga tidak sulit bagi kami untuk mengelola sebuah penerbitan. Yang sukar justru membagi waktu, karena kami memiliki pekerjaan utama yang berbeda. Dengan kata lain, surat kabar itu kami terbitkan hanyalah kesukaan di samping pengabdian memberikan informasi ke masyarakat Indonesia di sekitar Colorado. Tak ada keuntungan yang kami peroleh dengan kehadiran suratkabar tersebut. Kami membagikannya di toko Asia dengan cuma-cuma.
Tapi dengan adanya media itu juga terbantu beberapa kegiatan masyarakat Indonesia di Denver. Misalnya , kami menggunakan media itu menjembatani pertemuan Konjen RI dari Los Angeles ke Colorado setelah tragedi teroris 11 September. Kami juga melakukan pertunjukan kegiatan Agustus di salah satu hotel di sana yang mendapat banyak pengunjung sejak pagi hingga malam hari. Kami laporkan juga kegiatan mahasiswa Indonesia di salah satu universitas di Fort Collin, sebelah utara kota Denver.
Untuk semua acara itu, Lambas Goeltom merupakan orang terdepan memobilisasi teman-teman agar pekerjaan bisa terselesaikan. Di situlah saya rasakan betapa seriusnya dia menunaikan tugas dalam pekerjaan. Dia juga yang banyak berperan dalam menangani Indonesia News dari pembagian berita, tata letak, naik cetak, hingga beredar di masyarakat. Maka ketika Lambas meninggalkan Amerika, dan pulang ke Indonesia, dengan sendirinya juga usia Indonesia News berakhir.
Saya pernah mencoba untuk menerbitkannya lagi, tapi tak pernah terkabul. Padahal Lambas sudah mengirimkan bentuk tata letaknya sehingga bisa melakukan terbitan jarak jauh, terbit di Amerika dan terbit di Indonesia. Hingga sekarang bentuk isi dan tata letak ide dasarnya itu masih tersimpan di data base computer saya.
Bila saya mengingat Lambas Goeltom, maka teringat semangat kerja keras dan keseriusannya bekerja.
Kepergiannya hanyalah menambah kesedihan. El Simamora California

Suaranya Belum Nyaring

Sudah macet ditambah hujan lagi membuat arus lalulinats di Jakarta hari itu, benar-benar tidak bergerak. Bukan hanya jadwal “Malam Syukuran dan Keakraban HUT ke-5 majalah Suara HKBP yang molor satu jam, tapi undangan pun ada yang urung datang dan harus balik arah untuk pulang. Acara syukuran yang diadakan di HKBP Menteng Lama, tetap berlangsung walaupun jumlah yang hadir jauh dari yang diharapkan.

Sebelum penobatan 17 inspirator Batak pilihan Suara HKBP didahului kebaktian yang dipimpin Pdt Drs Baharuddin Silaen MSi dan kotbah disampaikan Pdt Esron Tampubulon MTh, Praeses Distrik 19, Jakarta 3. Kebaktian diselang-selingi koor; Koor Misioner HKBP Menteng Lama, PS Gracia Punguan Parompuan Distrik Jawa Kalimantan dan PS Gloryfiers HKBP Kebayoran Baru.
Pdt Esron dalam kotbah yang dikutip dari 2 Timoteus 4: 2, mengatakan, memberitakan Injil berbeda dengan bercerita atau mendongeng. Memberitakan Injil adakalanya tidak harus tergantung pada situasi dan kondisi, apakah waktunya tepat atau tidak, diterima atau tidak? Tapi memberitakan Injil, harus siap sedia baik atau tidak baik waktunya. Sebab berita Injil atau firman Tuhan adalah berita keselamatan, kebenaran, keadilan, pengharapan dan kasih.
Pada acara hiburan Greta Sihombing dari HKBP Duren Sawit dan Putri Silitonga menyumbangkan beberapa lagu.
Dalam sambutan Ketua Panitia HUT St Kapler Marpaung MMin, menjelaskan latar belakang pemilihan inspirator Batak yang diselenggarakan majalah Suara HKBP. Apa yang kami lakukan masih jauh dari sempurna. Begitu juga terhadap inspirator Batak pilihan majalah ini masih belum sempurna, tapi apa yang kami lakukan adalah sebagai suatu kepedulian Suara HKBP terhadap apa yang dilakukan tokoh Batak selama ini. “Biarlah apa yang mereka perbuat menjadi inspirasi bagi banyak orang,” kata Kapler yang juga pemimpin perusahaan majalah ini.
Praeses Distrik 8 Jawa Kalimantan Pdt Mori Sihombing MTh yang sekaligus Pemimpin Umum Suara HKBP, menjelaskan perjalanan Suara HKBP selama lima tahun ini. Keberadaan majalah ini sangat prihatin dalam hampir semua bidang, baik redaksi maupun bidang nonredaksi. Selain honor yang sangat kecil, peralatan yang digunakan pun sudah “outdate.” Sudah kurang layak digunakan, tapi karena tidak ada biaya menggantinya, peralatan itulah yang dimanfaatkan. Boleh dikatakan, pekerjaan redaksi dan wartawan adalah “pengabdian.” “Bagaimana kita hendak menuntut banyak, sedangkan kewajiban pun tidak terpenuhi?” ujar Mori.
Di hadapan hadirin yang juga dihadiri Praeses Distrik 21, Jakarta 3, Pdt Dr Lukman Panjaitan dan Praeses Distrik 19 Jakarta 2 Pdt Esron Tampubolon, Mori Sihombing menyampaikan, agar gereja-gereja yang ada di tiga distrik ini sama-sama mendukung Suara HKBP sebagai media rohani dan informasi milik kita bersama. Majalah ini bukan hanya milik Distrik Jawa Kalimantan, tapi milik kita bersama, hanya kebetulan diterbitkan Distrik 8. “Bahkan kedua praeses Distrik 19 dan Distrik 21 adalah penasehat, namanya tercantum dalam boks redaksi,” kata Mori saat diwancarai di tempat terpisah.

Mewakili undangan, sambutan disampaikan SL Gultom, pelanggan dan pembaca setia Suara HKBP, warga HKBP Kebayoran Lama, Jalan Praja, Jakarta Selatan. Banyak komentar dan masukan yang bermakna disampaikan kepada Suara HKBP. St Dr Constantyn S Hutasoit, warga HKBP Mampang Prapatan, Jakarta Selatan, menyampaikan sambutan mewakili inpirator.
Beberapa sumber yang diwancarai mengatakan, secara keseluruhan Suara HKBP sudah memenuhi syarat sebagai media yang mengindahkan kaidah-kaidah jurnalistik. Majalah ini udah baik walaupun oplah masih minim sebagai media komunitas yang jumlah segmen pasarnya lebih empat juta. Soal isi pun sudah bagus, meskipun suaranya belum “nyaring” betul. Ini hanya soal jam terbang. Wajarlah kalau di sana sini ada kekurangan, baru lima tahun usianya,” kata sumber yang tidak bersedia namanya disebutkan.
Nama-nama inspirator Batak pilihan Suara HKBP; Choky Sitohang, Dr Constantyn S Hutasoit, David M Lumbantobing, Djisman Simanjuntak, Henry P Panggabean, Karel M Sinaga, Luhut B Panjaitan, Marwatal Hutajulu, Merdi Sihombing, Miranda Goeltom, Panangian Simanungkalit, Raden Pardede, Soy Pardede, Titien Simanjuntak, Togap Balduin Silalahi dan Tunggul Situomorang.
Mewakili profil yang pernah dimuat di majalah ini: Mia Panggabean, pianis dan sudah cukup lama melayani sebagai pemain organ di HKBP Palmerah Petamburan, istri Doan Panjaitan (Panbers) Ir Lasmaria Sipahutar, pendiri TK di Griya Dadap, Banten. Pernah juara pertama lomba disain Taman Raya Samosir, suaminya St Ir Sumihar Lumbantoruan MM, uluan HKBP Griya Dadap.
Penulis yang mendapat piagam penghargaan: Pdt Dr Einar Sitompul (Jakarta) Pdt Dr Darwin Lumbantobing (Pematangsiantar) Mika Panusunan Lumbantobing (Jakarta) Pdt Dr Luhut P Hutajulu (Jakarta) Pdt Midian KH Sirait MTh (Pemtangsiantar) SMT Goltom SH (Jakarta) Rena Imelda Siregar ( Cepernis, Pematangsiantar) Johnson Dongoran (Solo) Pdt Maruasas Nainggolan SSi (Teol) (Tarutung)
Piagam penghargaan juga disampaikan kepada representative majalah Suara HKBP: St Daniel Silitonga SH (HKBP Serpong) St Ev C Samosir (HKBP Duren Sawit) Halomoan Lumbantobing (HKBP Ciputat) Rita Siahaan (HKBP Kebayoran Lama) Hotma D Lumbantobing (HKBP Cemara, Tangerang) Hotnida Siahaan (HKBP Kebun Jeruk) Piagam penghargaan juga disampaikan kepada mitra Suara HKBP; St Tonny Aritonang (percetakan)
Hadir juga Praeses Distrik XIV Tebing Tinggi Deli, Pdt Drs Bihelman DF Sidabutar STh yang mendirikan Suara HKBP yang waktu itu Praeses Distrik Jawa Kalimantan. Pantia memberikan penghargaan kepada Pdt Bihelman Sidabutar didampingi istrinya Boru Pardede.
Doa syafaat dipimpin Praeses Pdt Lukman Panjaitan. Doa makan disampaikan Pdt Naser Abednego Silalahi STh, Pendeta Resort HKBP Menteng lama dan doa penutup oleh Pdt Bihelman DF Sidabutar. (bas)

Wanita itu 85 Tahun

Cerpen El Simamora
Kota kelahiran itu tidak banyak berubah . Rumah penduduk masih tetap dalam bentuk lama, dan juga dari bahan lama, papan-papan tua dan atap seng yang sudah cokelat gelap dan berkarat. Sebagian atap seng itu berwarna terang, tapi tidak baru, pertanda telah diganti dari yang sebelumnya. Pemandangan ke utara adalah hamparan sawah yang bersambung dengan bukit barisan berwarna hijau. Di punggung bukit itu pada saat tertentu tampak bus penumpang atau truk besar meliuk dan menghilang di telan hutan kecil. Suara mesinnya yang kadang terdengar sayup-sayup ke perkampungan, terbawa angin senja yang bertiup.
Kenangan masa kecil puluhan tahun lalu di kehidupan kota kecil itu membuatku termenung. Di kecamatan itu saya lewati masa kecil hingga ke masa remaja. Perguruan tinggi saya selesaikan di kota Jakarta. Setelah itu tinggal dan bekerja di Amerika Serikat.
“Pacarmu yang pertama sudah meninggal. Dia terkena kanker tulang,” tutur adik saya perempuan. Dia mengaduk bumbu-bumbu masakan daerah di dalam kuali dengan ayam yang baru dipotong halus. Saya sengaja meminta dibuatkan makanan khusus yang tidak banyak lemak dan tinggi kolesterol. Bagi kerabat-kerabat lain telah tersedia makanan etnik yang pedas-pedas yang sangat mengundang air liur.
“Berapa orang anak yang dia tinggalkan?”
"Tidak ada. Sebab setelah menikah dia keguguran. Setahun kemudian jatuh sakit dan meninggal. Semuanya cepat berlalu. Suaminya lalu menikah dengan wanita lain dan pindah ke kota Medan.”
“Teman-teman lain masih ada di sini?”
Adik saya menyebut nama sahabat-sahabat dari masa kecil yang tinggal di kota kecil itu. Juga kegiatan mereka. Tak ada yang istimewa di dalam riwayat mereka. Kehidupan mereka sama seperti kehidupan penduduk setempat. Lambat dan santai. Tidak ada pembaharuan. Mereka mengikuti sistem kehidupan yang sama dari generasi ke generasi. Mereka berkeluarga dan berketurunan.
Diceritakan pula, beberapa orang tua seumur ayah kami, telah meninggal dan berpindah tempat ke rumah yang Tuhan tentukan. Ayah meninggal 30 tahun silam, ditabrak bus yang datang dari Medan, sewaktu ia menuju gereja untuk marsermon. Di jalan perlintasan itu telah banyak korban jiwa berjatuhan. Para pengemudi selalu melaju dengan kecepatan tinggi seakan-akan mempersiapkan tenaga tambahan, agar mesin mobil lebih kuat menaiki tanjakan di pebukitan.
Kini ibuku berusia 85 tahun. Untuk merayakan hari lahirnya itulah saya terpanggil untuk pulang ke kampung halaman.
“Ibu tahu persoalan saya?” tanya saya.
“Tidak! Tak satu pun kami yang memberitahukannya. Kalaupun keluarga dari Jakarta datang ke mari, kami tak pernah membicarakannya di depan ibu. Dia wanita. Hatinya tulus. Dia membenci pertikaian dalam rumah tangga.”
“Tak ada rumah tangga yang tak pernah bertengkar!”
“Benar. Tapi tidak harus diakhiri dengan perceraian.”
Saya diam sejenak. Di dinding rumah itu terpampang foto kami sekeluarga tanpa ayah, di dalam satu bingkai. Foto ayah bentuk pasfoto sebesar kotak sepatu berwarna hitam putih terpisah dari yang lainnya. Ibu memiliki foto bersama dengan ayah, sewaktu mereka baru menikah puluhan tahun lalu. Tapi foto itu tidak lagi di dinding rumah itu. Ibu menyimpannya di album tua di dalam lemari di kamarnya sejak berpisah. Mereka memang telah berpisah. Berpisah karena kematian. Saya waktu itu masih SMP.
“Apa ibu tak pernah curiga kalau saya tak bertelepon?”
Adik saya menganggukkan kepala. “Tiga bulan setelah teleponmu terakhir berdering, dan lalu tak terdengar lagi, ibu menanyakannya. Dia heran mengapa tak ada kabar darimu.”
Memang sudah setahun lebih saya tak bertelepon kepada ibu.
Sejak rumah tangga saya ditimpa prahara, akibat dari keinginan istri saya.
Istri saya sudah memohon perceraian berbulan-bulan hingga akhirnya saya kabulkan di suatu hari. Semula saya perkirakan hidup di negara makmur seperti Amerika akan membuahkan kemakmuran dalam rumah tangga. Ternyata saya salah. Ketidaksesuaian pandangan hidup satu sama lain membuat kami hidup dengan kemauan sendiri-sendiri seperti pasangan yang tak pernah bersatu. Semua hasil pekerjaan berakhir di pembagian harta benda.
“Rumah di Jakarta milik saya, karena kita beli mengatasnamakan saudara saya,” kata istri saya.
“Apakah demi memiliki rumah itu kamu mengambil perceraian ini?” tanya saya.
“Bukan. Tapi saya mau berpisah saja.”
“Atau kamu terpikat laki-laki Amerika ini? Untuk apa? Untuk status kelegalan imigrasi?”
Istri saya diam. Saya tahu bahwa ia terpojok dengan pertanyaan saya. Belakangan ini, memang, sejak Amerika diserang teroris 11 September 2001, pemerintah Amerika mengetatkan keamanan di dalam negeri dengan cara mencurigai semua orang, terutama pendatang dari negara asing. Beberapa kebijakan pemerintah dilaksanakan untuk mencegah terjadinya malapetaka ciptaan manusia, seperti kisah teroris. Pelabuhan udara misalnya diperketat dengan menggeledah semua penumpang yang hendak berpergian dengan pesawat terbang. Polisi di beberapa negara bagian diberikan hak untuk menanyakan status keimigrasian pengendara mobil. Aturan ini belum pernah terjadi di seluruh Amerika. Akibatnya, banyak sekali para pendatang yang bekerja untuk hidup dan masa depan, terutama ilegal imigran, mejadi sulit tidur karena dikejar-kejar rasa takut kena tangkap.
Dua tahun setelah serangan teroris di 2001 itu, pemerintah Amerika mendata para pendatang laki-laki dari beberapa negara asing yang diseleksi, termasuk Indonesia. Saya waktu itu diwawancarai petugas FBI yang sopan dan ramah di kantor imigrasi ketika melakukan pelaporan diri sebagai warga pendatang. Hal yang sama juga dilakukan ke beberapa mahasiswa asal Indonesia yang belajar di Amerika. Semua data kehadiran diri dan pekerjaan di Amerika saya uraikan dengan tulus. Foto saya diambil lewat kamera kecil di dekat komputer dengan sistem teknologi terbaru. .
Sejak pelaporan diri itu, komunitas Indonesia di Amerika drastis berkurang jumlahnya. Banyak teman yang pulang ke Tanah Air sesuai order dari pengadilan imigrasi Amerika. Tidak sedikit yang dideportasi karena lalai waktu dan tidak hadir di persidangan yang telah ditentukan. Mereka dijemput polisi di alamat masing-masing di pagi yang gelap, dan lalu dipulangkan ke Tanah Air, di antaranya ada yang meninggalkan anak dan istri yang terheran-heran dan ketakutan sewaktu penangkapan berlangsung.
Tetapi, dalam tempo sekejap, laki-laki atau wanita Indonesia, banyak sekali melakukan pernikahan mendadak dengan orang Amerika. Pernikahan itu tidak dibatasi usia tua ataupun penampilan wajah dan warna kulit. Apalagi agama. Pernikahan mereka disumpah dan dimeteraikan di depan petugas pemerintahan tanpa ada pesta yang dihadiri khalayak sebagaimana lazimnya pernikahan masyarakat Asia. Setahun kemudian kedengaran status orang Indonesia yang menikah itu terangkat menjadi sah sebagai penduduk Amerika. Namun, anehnya, tidak sedikit pernikahan itu berakhir dalam perceraian dalam tempo yang sekejap.
Perceraian juga terjadi di beberapa rumah tangga Indonesia, mengikuti perpisahan yang sudah lazim bagi banyak keluarga Amerika. Pemilik rumah tangga yang hancur-hancuran itu kemudian menikah dengan orang Amerika dan lalu pindah ke negara bagian lain.
Bagi pasangan yang menikah di Negara Indonesia sebelumnya, proses perceraian mereka berlangsung begitu saja tanpa perlu ke pengadilan Amerika karena tidak ada surat pernikahan yang mereka tanda tangani di Amerika sehingga tidak melanggar hukum Amerika. Sedangkan bagi yang menikah di Amerika, perpisahan harus disahkan lewat pengadilan yang menyita banyak waktu dan biaya, baik untuk berkonsultasi, maupun membayar pengacara yang mahal yang iklannya banyak ditemukan di buku-buku telepon. Karena beratnya perceraian itulah barangkali banyak orang Amerika tidak tercatat menikah sekalipun mereka telah memiliki beberapa anak dalam masa hidup bersama.
Istri saya mulai angkat bicara lagi. “Kalaupun saya menikah dengan orang sini, itu hak saya,” katanya.
“Tapi kita memiliki ikatan rumah tangga. Kamu itu adalah istri saya. Pikirkan itu.”
“Saya tahu. Tapi saya menginginkan perpisahan. Saya rindu pulang ke Indonesia dan bisa kembali ke Amerika ini. ”
“Dengan cara menikahi orang Amerika ini dan menghancurkan rumah tangga kita?”
“Iya, maybe. But, who care! Live must go on.”
Kami akhirnya bercerai setelah istri saya sering tidak pulang ke rumah. Rumah yang masih dalam pembayaran cicilan saya kembalikan ke home loaner untuk menghindari foreclosure. Kami melakukannya agar kredit kami bagus dan bisa kelak memberi rumah tanpa kesulitan dengan sejarah kredit sebagaimana berlaku di Amerika.
Tapi setelah perpisahan itu saya tidak lagi berniat membeli rumah. Saya memilih menyewa apartemen yang memiliki kolam renang yang biru. Sekali waktu bekas istri saya datang berkunjung dan berbincang-bincang di tepi kolam renang itu di musim panas. Saya tak pernah membukakan pintu apartemen untuk dia masuki. Dia bercerita tentang kesulitan hidup bersama yang dia hadapi dengan laki-laki Amerika itu.
“Kenapa kamu tidak lapor polisi ketika dia menampar pipimu?” tanyaku.
“Saya takut. Dia mengancam tidak akan meluluskan status keimigrasian saya.”
“Tapi yang dia lakukan itu adalah kriminal. Domestic violence. Polisi berhak menangkapnya berdasarkan laporanmu. Call saja 911. Memang status keimigrasianmu sudah sampai tahap apa? Sudah dia cover kamu? Sudah kalian hire attorney?”
“Tidak. Tidak pernah. Dia hanya berjanji setiap saya tanyakan hal itu. Kami sudah tidak memiliki uang yang cukup untuk itu. Gaji saya habis untuk pesta-pesta dia dan teman-temannya. Dia juga ternyata memiliki pacar yang lain. Itu saya tahu setelah kami tinggal bersama.”
Saya menatap wajahnya dengan tenang. Air matanya bercucuran, membuat saya terharu melihat kesedihan yang dia peroleh.
“Rencanamu selanjutnya apa?”
“Saya tak mau lagi tinggal dengan dia. Saya sudah tidak tahan. Tolong beri saya pengampunan.”
Saya menghela napas. “Minta pengampunan kepada Tuhan. Dia berkuasa mengampunimu daripada saya. Di akhir tahun ini saya berencana pulang ke Indonesia. Ibu saya berulang tahun yang ke-85”
Dia menahan napas sebentar sambil mengalihkan pandangannya ke kolam renang yang airnya beriak-riak kecil didera angin sore.
Kemudian dia menoleh saya lagi dengan isak yang tersengal.
“Apa boleh saya ikut dengan kamu?”
“Ke mana? Ke Indonesia? Saya akan tinggal di kampung saya selamanya. Saya tidak akan kembali lagi ke Amerika ini.”
“Apa kamu cerita bahwa kita bercerai?”
“Iya, saya bercerita, tapi hanya kepada saudara-saudara saya. Tidak kepada ibu. Saya tidak tega mengungkapkannya. Tak ada sejarah perpisahan dalam keluarga kami! Dari kakek ke cicit. Bahkan dari generasi lebih tua dari kakek. Adat telah memberi ikatan yang kuat dalam rumah tangga sebelum agama dan modernisasi datang.”
“Please…bawalah saya pergi,” sahutnya lagi memohon. “Bawalah saya beserta engkau, please. Maafkan saya atas kesalahan saya.”
Saya tidak memberi kepastian hingga dia pulang mengemudikan mobilnya. Bahkan ketika hari terakhir sebelum pulang ke Tanah Air, saya tak memberi jawaban kapan waktu kepulangan saya. Kepergian saya meninggalkan Amerika saya percepat dari waktu yang saya rencanakan. Udara dingin musim gugur membuat saya malas untuk berbicara.
Saya baru bicara banyak sewaktu tiba di kampung halaman di antara kerabat yang tinggal di kota kecamatan itu.
Mereka menyambut saya dengan kerinduan yang dalam seperti menyambut si anak hilang. Ibu saya menangis tersedu-sedu sambil memeluk saya dengan hangat. Suatu kehangatan yang membuat saya terkenang ke masa kecil, puluhan tahun lalu, di rumah tua, di kota kelahiran itu.
“Di mana menantu saya, kenapa dia tidak ikut?” tanya Ibu.
“Dia masih di Amerika,” jawab saya sambil memeluk tubuhnya. Saya tidak berani menatap wajahnya yang sudah tua dan keriput. Sorot matanya begitu tulus seakan-akan mengetahui ada sesuatu yang saya sembunyikan. Tapi saya juga tidak ingin hatinya terluka mendengar kemelut hidup saya di usianya yang ke-85, andaikan saya bercerita jujur. Dua malam lagi ulang tahun ibu akan dirayakan di akhir pekan bersama anak, menantu dan cucu-cucu yang datang dari Medan dan Jakarta dan kota-kota lain. Mereka datang sebagai keluarga yang memiliki mahligai yang utuh dan teguh, seperti kehidupan keluarga dulu kala dalam tradisi-tradisi yang bagus.
Dia wanita. Hatinya tulus!
Denver, Colorado, di suatu masa-
Note:
Foreclosure – Kasus penyitaan rumah yang tidak dibayar.
FBI – Federal Bureau Investigation, biro penyelidik kejahatan
911 - Nomor panggil emergency di Amerika untuk memanggil polisi, tim kesehatan, atau pemadam api
Si anak hilang (Lukas 15:11-32), anak yang melarat karena berfoya-foya, dan lalu pulang, dan disambut hangat oleh ayahnya

Giliran Gereja di Temanggung Dirusak Massa

Temanggung, kota berhawa sejuk dan tentram di Jawa Tengah, tiba-tiba berubah menjadi panas dan beringas. Beberapa gereja menjadi sasaran amuk massa.

Bermula dari ulah orang yang tidak menerima keputusan majelis hakim yang dibacakan Dwi Dayanto, vonis lima tahun bagi Antonius terdakwa penistaan agama. Tiba-tiba ada melepar kayu ke arah hakim Dwi. Massa menuntut supaya terdakwa dihukum mati atau seumur hidup.
Di luar pengadilan, massa mulai mengamuk. Massa yang berkumpul dekat kantor salah satu bank membaur dengan massa yang marah. “Ayo kita ke barat. Target kita bukan pengadilan, tapi gereja,” teriak seseorang dari tengah kerumunan.
Benar! Mereka merusak Gereja Katolik Santo Petrus dan Paulus, jaraknya sekitar dua kilometer dari pengadilan. Massa menghancurkan kaca pintu, kemudian masuk ke gereja lalu mengobrak-abrik kursi, patung dan langit-langit. Gereja ini hanya dipisahkan satu rumah dengan kantor Kepolisian Resor Temanggung.
Belum puas merusak Gereja Santo Petrus, massa bergerak menuju Gereja Pantekosta. Tiga mobil dan enam motor yang diparkir di belakang gereja dibakar. Massa melempar bom Molotov ke pintu besi gereja, kemudian mendobrak pintu samping. Mereka memecahkan kaca-kaca jendela. Setelah itu, mereka juga merusak Sekolah Kristen Shekinah, milik Gereja Bethel.
Selesai membakar, massa menuju pertigaan Jalan Sudirman, dari tempat ini mereka bubar.
Aktivis dan tokoh agama yang aktif mengikuti sidang perkara ini mengatakan tidak mengenal para penyerang. Setiap kali sidang, ruang Pengadilan Negeri Temanggung selalu penuh pengunjung. Forum Umat Islam Bersatu, yang terdiri atas Nahdlatul Ulama, Muhammadiyah, Ansor, Banser, Pemuda Muhammadiah dan Gerakan Pemuda Ka’bah, selalu hadir. “Kami tidak anarkistis,” kata Farid Ibrahim, Ketua Gerakan Pemuda Ka’bah Temanggung.
Peristiwa itu seperti ditulis Tempo, pada 23 Oktober pagi tahun 2010, Bambang Suryoko, 60 tahun, mendapati dua buku kecil dibungkus plastik di depan pintu rumahnya, Desa Kranggan, Temanggung. Satu buku berwarna biru, lainnya kuning. Awalnya dia berpikir itu undangan. Begitu membuka buku, ia terenyak. Ia menganggap isi buku itu melecehkan Islam. “Saya tanya tetangga sebelah rumah, siapa yang melempar,” kata Bambang.
Masrur, tetangganya, memberi tahu, buku berasal dari seseorang yang sedang berjalan keliling kampung menenteng tas. Mereka mengenalinya sebagai Antonius Richmond Bawengan, yang semalaman menginap di rumah Likik Haryono, adik iparnya. Ia membawa tumpukan buku berjudul “Ya Tuhanku, Tertipu Aku” (tebal 60 halaman) dan “Saudaraku, Perlukah Sponsor” (35 halaman)
Bersama warga Kranggan lainnya, Bambang dan Masrur mengejar Antonius. Mereka menangkap Antonius dan membawanya ke rumah Fatkhurozi, ketua RT setempat, yang juga anggota Kepolisian Sektor Kaloran, Temanggung. Ditanya alasan menyebarkan buku, Antonius menjawab, “Biar tambah pengetahun.”
Menurut Bambang ketika itu hadir juga Minggus,anggota jemaat Gereja Bethel. Minggus pun tersinggung dengan isi buku yang dibagikan Antonius. Warga kemudian melaporkan Antonius ke Kepolisian Sektor Kranggan, yang selanjutnya melimpahkannya ke Kepolisian Resor Temanggung.
Pada 2 November 2010, berkas perkara Richmond dinyatakan lengkap. Sidang pun dibuka pada 13 Januari 2011, dilanjutkan pemeriksaan saksi dan saksi ahli pada 20 dan 27 Januari. Hakim Dwi membacakan putusan yang menghukum Antonius lima tahun penjara, hukuman maksimal untuk pasal penistaan agama dalam Kitab Undangn-Undang Hukum Pidana.
Pengunjung sidang langsung merangsek. Hakim, jaksa dan Antonius dievakuasi petugas. Kaca-kaca dipecahkan. Ketika keributan pecah polisi melempar gas air mata dam melepaskan tembakan. Pada saat itulah kepala Sholahuddin, putra KH Amin Fastoni, pengasuh Pondok Pesantern Al-Munawar, Kertosari, Temanggung, terserempet peluru karet. Ia dibopong ke rumah sakit. Muncul rumor, ia meninggal. Massa semakin beringas.
Ketika sidang 27 Januari, tanda-tanda kerusuhan sudah dirasakan. Massa merangsek ke kursi terdakwa, Antonius dipukuli. Polisi saat itu mampu mengatasi keributan. Sehari menjelang sidang pada Februari lalu, aparat keamanan meminta warga waspada. Sekolah Kanisius Temanggung meliburkan siswanya.
Menurut Bupati Tumenggung, Hasyim Affandi, seperti dikutip Tempo, penjagaan tak ditingkatkan. Sebab, rapat musyawarah pimpinan daerah memutuskan polisi yang dibantu tentara hanya akan bertindak persuasif. “Makanya cuma ada enam polisi yang menjaga gereja,” tutur Hasyim.
Hasyim menyatakan, rapat digelar karena aparat sudah mengetahui ada konsentrasi massa yang akan menyerbu Pengadilan Negeri Temanggung.”Kami sudah dapat data dari intelijen daerah,” ujar Hasyim sambil menyebutkan massa muncul dari Pekalongan, Solo dan Sumowono—pegunungan Ambarawa.
Kepala Kepolisan Daerah Jawa Tengah, Inspektur Jenderal Edward Aritonang memperkirakan sekitar 800 orang hadir ketika putusan dibacakan. Mereka datang dari luar Temanggung karena memperoleh pesan pendek berisi undangan dakwah. “Mereka berbaur dengan masyarakat Temanggung. Tapi undangan itu dibelokkan menjadi kerusuhan,” ujar Aritonang. bas.