Minggu, 27 Maret 2011

Aku Warga HKBP

Baharuddin Silaen Persis 2011 tahun depan, HKBP genap berusia 150 tahun. Meskipun setahun lagi, namun gaungnya sudah bergema di mana-mana. Sebagai orang Batak yang sekaligus Kristen, aku bangga sebagai warga HKBP. Aku bersyukur lahir dan tardidi, malua dan tarpasupasu di HKBP. Tak dapat dipungkiri, pengalaman sebagai warga gereja dimulai di gereja ini. Selain orang tuaku yang sudah lebih awal anggota jemaat HKBP mereka juga memberikan pemahaman serta memperkenalkan gereja ini secara berkesinambungan sehingga kecintaanku terhadap gereja ini terus bertumbuh alami. Aku sebagai warga HKBP, harus mengakui, pemahamanku tentang Bibel pastilah berdasarkan bahasa Batak. Bibel yang kubaca sangat mengena karena bahasa yang digunakan adalah bahasa ibuku. Terus terang, sebagai orang Batak sekaligus warga HKBP sangat bangga terhadap semua itu. Beberapa istilah di HKBP pun satu per satu akrab di telingaku, misalnya: tardidi, malua, martumpol, pelean, partangiangan, pesta gotilon, tingting, manghatindanghon haporseaon, tondi porbadia, marminggu dan hamauliateon. Namun, pengalaman puluhan tahun lalu itu tidaklah serta merta bisa diterapkan lagi saat ini. Bahasa Batak, misalnya, bukanlah bahasa “sorgawi” yang suka atau tidak suka harus tetap dipertahankan dalam kegiatan gereja. Memang pro dan kontra belum reda—tapi pertentangan seperti itu sangatlah wajar. Soalnya, warga HKBP sudah banyak yang lahir di perkotaan—lingkungan yang dihuni pelbagai latar belakang sosial, suku, ras dan agama. Mereka, orang Batak keturunan ketiga yang lahir di luar bonapasogit dan mereka adalah warga HKBP saat ini. Di antara mereka, ada sintua dan tidak sedikit jadi pendeta, bahkan ada yang aktivis HKBP. Apakah mereka harus tersisih gara-gara tidak mengerti dan tidak bisa bahasa Batak? Haruskah bahasa memisahkan mereka dari suatu persekutuan yang gerejani? Pemakaian dua bahasa dalam kebaktian di HKBP adalah sebagai bukti perkembangan yang harus diterima dengan rendah hati. Bahkan tidak jarang parhalado menitip pesan kepada parjamita agar mencampur bahasa Indonesia dalam kotbah. Meskipun kebaktian di gereja itu ada kebaktian bahasa Indonesia. Untuk urusan bahasa seperti ini, memang harus ada yang mau mengalah dan menjauhkan sikap kaku terhadap fungsi bahasa sebagai alat perantara dalam suatu proses komunikasi. Bahkan beberapa gereja di Jakarta ada yang melakukan kebaktian bahasa Indonesia pada kebaktian Minggu pagi dan sore. Sedangkan kebaktian bahasa daerah (Batak) hanya satu kali (kebaktian Minggu siang) Ini adalah juga salah satu fakta di lapangan, sekaligus sebagai antisipasi eksodus warga gereja. Harus juga dimaklumi, menjadi warga HKBP bukanlah otomatis harus lancar ngomong Batak? Boleh saja orang Batak lebih fasih bahasa Indonesia, Inggris, Jerman, Belanda, Prancis dan Mandarin daripada bahasa Batak, apakah karena tidak bisa bahasa Batak, lantas diragukan identitasnya sebagai orang Batak serta eksistensinya sebagai warga HKBP perlu dicurigai? Semua setuju, kalau orang Batak idealnya bisa ngomong Batak. Betul sekali, bahasa Batak perlu dilestarikan jangan sampai punah karena individu pengguna dan pemilik bahasa itu kurang peduli. Tapi jangan pula bahasa dijadikan sebagai satu-satunya alasan mempertahankan identitas suatu gereja seperti HKBP sehingga dengan sigap menyingkirkan apa saja yang tidak berbau Batak. Aku sebagai warga HKBP sangat setuju memelihara serta melestarikan bahasa Batak hingga dunia ini berakhir. Apalagi, bahasa Batak adalah “teman” sehidup semati HKBP yang terus akrab sejak dahulu kala hingga saat ini. Sebab itu, tak perlu gelisah—bahasa Batak tidak akan pernah punah selama HKBP masih berdiri kokoh di dunia ini. Perlu diutarakan, sebagai warga HKBP, aku juga merasa nyaman dan sama sekali tidak terusik ketika berada di pesta adat Batak. Sebab, aku tau, di balik margaku, ada perangkat “Dalihan na Tolu” yang mengatur kekerabatan orang Batak dengan nilai-nilai luhur yang tertib dan santun. Bahkan aku tidak risih ketika suatu waktu ke gereja dengan menyandang ulos. Maklum, gereja tempat di mana imanku dibina bukanlah aliran anti ulos dan adat yang hypocrite. Kembali ke soal bahasa. Sebetulnya dua bahasa dalam kegiatan gereja bukan saja dijumpai dalam kebaktian Minggu di HKBP yang berdomisili di kota, tapi ditemukan juga pada pertemuan akbar di HKBP—seperti rapat pendeta dan Sinode Godang HKBP. Pengalaman saya pertama kali mengikuti rapat pendeta dan sinode sekitar 1980, boleh dikatakan materi rapat dan percakapan masih didominasi bahasa Batak. Tapi, belakangan sudah hampir separoh acara dengan bahasa Indonesia. Tidak terkecuali tata ibadah dan nyanyian dari Kidung Jemaat ikut memeriahkan acara. Memang dalam praktek tidak semua berjalan mulus—ada saja yang aneh? Misalnya, kalau pendeta HKBP tidak fasih bahasa Batak sering dicemoh, apalagi kalau dia pendeta di bonapasogit. Sebaliknya, pendeta yang bahasa Indonesianya “marpasirpasir” sering pula bahan tertawaan di gereja yang di kota. Percayalah, kebiasaan ini masih bisa diperbaiki. Apalagi ke depan—pendeta HKBP tidak boleh tidak harus cakap bahasa Batak dan fasih bahasa Indonesia yang baik dan benar. Ada hal yang tidak dapat disembunyikan dan benar-benar menjadi kebanggaanku, yaitu; pengelolaan sistem administrasi yang dikemas dengan sistematis, tersusun rapi dan transparan. Aku pun pernah mendengar—di antara lembaga/insitusi resmi negara yang ada di negeri ini, sistem administrasi HKBP termasuk nominasi terbaik? Soal kelemahan dan kekurangan HKBP tentulah ada, tapi maaf, aku tidak membahas itu pada kesempatan ini! Aku sebagai warga HKBP, “bermimpi,” gereja terbesar di Asia Tenggara ini suatu hari nanti punya stasiun televisi yang bergengsi. Aku yakin—mimpi itu bukanlah mengada-ada. Sebab, potensi warga HKBP sangat memungkin untuk itu. Bahkan sumber daya manusia yang ada di HKBP lebih dari cukup yang dapat diajak berpikir luas dengan ide-ide cemerlang. Seandainya ide ini diangkat sebagai momentum 150 tahun HKBP agaknya tidaklah berlebihan. Jumlah warga HKBP yang diperkirakan enam juta jiwa adalah aset HKBP dan berkat Tuhan yang luar biasa kepada orang Batak. Kalau HKBP sudah memiliki TK, SLTP, SLTA, Universitas HKBP Nommensen, STT-HKBP, Rumah Sakit HKBP Balige, Panti Sosial, media Immanuel, Radio Bonafit, Suara HKBP, kenapa tidak, suatu saat HKBP memiliki stasiun TV? Aku juga pernah mendengar, HKBP adalah aset negara sebagai pelaku, pemelihara moral serta menciptakan manusia yang santun, beradab, humanis dan religius. HKBP disebut juga sebagai pilar penopang bangsa dalam mewujudkan kehidupan sosial dan kerukunan umat beragama di Indonesia. HKBP sebagai lembaga keagamaan juga turut serta mendukung program pemerintah untuk mensejahterakan umat. Suatu hal yang aku banggakan sebagai warga HKBP, gereja ini sangat komit dan gigih memperjuangkan sikap toleransi, saling menghargai, menghormati dan menjujung tinggi hakekat kepelbagian yang berbeda-beda. Aku masih tetap yakin teguh, HKBP masih mengemban amanat itu hingga saat ini! Bukan itu saja membuat aku bangga sebagai warga HKBP, juga isu lingkungan hidup, pelestarian alam adalah bagaian dari pelayanan HKBP yang tidak pernah berhenti disuarakan demi kelangsungan kehidupan orang banyak. Sebagai gereja yang tertua yang berdiri di tengah dunia, pantaslah HKBP berada pada barisan terdepan memelihara, merawat dan melestarikan alam ciptaan Tuhan. Sekali lagi, aku warga HKBP. Aku cinta HKBP. Teruslah berkibar di bumi Indonesia. Horas HKBP.

Umat Kristen Hengkang dari Irak

Ketua Lembaga HAM Hammurabi Willam Warda mengatakan, aksi kekerasan di Irak yang tak kunjung berakhir sejak 2003 memaksa umat Kristen hengkang dari daerah itu. Lembaga HAM Hammurabi mengungkapkan, jumlah warga Kristen Irak yang hengkang 2009 sebanyak 10 keluarga setipa hari. Dalam dua bulan terkahir ini meningkat menjadi 20 keluarga setiap hari. Peristiwa yang menimpa umat Kristen di daerah ini, beberapa keluarga Kristen Irak melakukan doa bersama di Gereja Ortodoks, Amman, Jordania. Mereka di Jordania untuk mendapatkan visa ke Amerika Serikat, Kanada, Eropa atau Australia. Di antara sejumlah keluarga itu, terdapat sepasang suami istri, yaitu Suzane Jiliani dan suaminya Hani Daniel, beserta putra mereka berusia satu tahun. Mereka lari ke Amman menyusul serangan ke gereja Katolik di kota Bagdad, beberapa bulan lalu. Jiliani dan Hani Daniel kini ditampung di sebuah flat yang difasilitasi gereja. Mereka berharap segera bisa bergabung dengan keluarga yang terlibih dahulu berdomisili di Amerika Serikat. Menurut lembaga hak asasi manusia (HAM) Hammurabi di Baghdad, seperti dikutip harian berbahasa Arab Asharq Al-Awsat, jumlah kaum Kristen di Iran menurun 60 persen dari jumlah sebelum 2003, yang waktu itu mencapai 1, 3 juta jiwa. Arus hijrah umat Kristen Irak terbesar terjadi antara 2006 dan 2008. Pada Oktober 2008, lebih dari 10.000 umat Kristen di kota Mosul, Irak utara, hijrah ke Suriah, Jordania, Mesir, Lebanon dan sejumlah negera Barat. Arus hijrah umat Kristen dalam jumlah besar dari kota Mosul terjadi lagi sebelum pemilu legislatif Maret 2010. Ada sekitar 4.000 umat Kristen hijrah dari kota Mosul ke lembah-lembah terpencil di luar kota Mosul di Provinsi Ninawa sebelum pemilu legislatif Maret 2010. William Warda mengungkapkan, kaum Kristen di Irak selama tujuh tahun terakhir ini menjadi sasaran pembunuhan, penyanderaan dan pelecehan. Rumah-rumah mereka di Baghdad, Mosul dan Kirkuk menjadi sasaran serangan bersenjata. Berdasarkan laporan lembaga HAM tersebut, jumlah warga Kristen yang tewas pada 2010 sebanyak 71 orang, 2009 sebanyak 29 orang, 2007 sebanyak 153 orang dan pada 2004 sebanyak 221 orang. Tragedi yang menimpa kaum Krsiten Irak ini, menggugah Presiden Irak Jalal Talabani. Presiden yang berasal dari Kurdistan, dalam wawancara dengan harian berbahasa Arab Al Hayat mengimbau umat Kristen Irak hijrah sementara ke wilayah Kurdistan di Irak utara jika merasa tidak aman di Baghdad. Menurut situs Aljazeera, kini lebih dari 120.000 warga Kristen Irak berlindung di wilayah Kurdistan. Pemerintah local Kurdistan memberikan banytuan sebanyak 300 dolar AS per bulan kepada setipa keluarga Krsiten yang berlindung di wilayah Kurdistan. Pengamat politik Irak, Mahmud Abdul Sattar, mengatakan, kehidupan di Irak pascatahun 2003 sudah anarki. Semua sekte, agama dan mazhab menjadi sasaran serangan tanpa pandang bulu. Ia menegaskan, tidak hanya Krsiten yang menjadi sasaran serangan, tetapi sesama kaum Sunni atau Syiah saling menyerang. bas/dari berbagai sumber.

Pembela Kaum Minoritas Salman Taseer Dibunuh

Sosoknya yang terbilang kontroversial, lantaran keberanian serta sepak terjangnya melawan ketidakadilan terhadap kelompok minoritas di negerinya selama ini, diyakini menjadi penyeb utama kematian tragis Gubernur Punjab, Pakistan Salman Taseer (66) di tangan salah seorang pengawal pribadinya. Selain konsisten dan kerap bersuara keras menentang Undang-Undang Penghinaan Agama, Taseer juga dikenal berani “pasang badan” melindungi seorang perempuan Kristen terpidana hukuman mati, Aasia Bibi, ketika para politisi lain justru mencoba bermain aman dan memilih tidak konfrontatif menghadapi para kelompok garis keras. Bibi adalah seorang ibu rumah tangga yang diancam hukuman mati oleh UU Penghinaan Agama itu karena dituduh menghina Nabi Muhammad SAW dalam sebuah pertengkaran dengan tetangganya. Seorang ulama pro-Taliban bahkan sempat menawarkan hadian 5.800 dollar Amerika Serikat (sekitar Rp 52 juta) bagi siapa saja yang bisa membunuh Bibi di penjara. Menanggapi itu, Taseer tampil berani dengan berfoto bersama Bibi dalam sebuah pertemuan sekaligus menyerukan perlunya UU kontroversial itu diamandemen. Kasus Bibi ketika itu juga sempat mencuri perhatian banyak kalangan di seluruh dunia. Bahkan pemimpin umat Katolik, Paus Benedictus XVI, meminta pemerintah Pakistan memberi sedikit kelonggaran bagi Bibi. Kelompok dan golongan kanan di Pakistan selama ini meyakini aturan UU tersebut sangat diskriminatif dan membahayakan, terutama bagi kelompok minoritas di daerah itu. Aturan itu berakar pada hukum kolonial dari abad ke-19 yang dibuat untuk melindungi tempat-tempat ibadah. Namun pada masa pemerintahan rezim diktator militer, Jenderal Mohammad Zia ul-Haq di era 1980-an, aturan itu menunjukkan “taring”-nya lantaran kebijakan pemerintah di masa itu memang menganut garis keras. Ketika itu Taseer bahkan sempat mencicipi dinginnya dinding penjara karena dianggap melawan pemerintah akibat pandangan-pandangan politiknya. Dengan bersedia mempertaruhkan nyawanya sendiri demi menentang diskriminasi dan penyalahgunaan, Taseer justru telah menunjukkan dirinya sebagai seorang politisi yang sangat langka,” ujar Ali Dayan Hasan, peneliti senior Human Rights Watch terkait dengan isi Asia Selatan. Dalam berkiprah, selain berani, Taseer juga dikenal sangat progresif dan “melek teknologi.” Hal ini tampak dari kegemarannya memanfaatkan situs jejaring sosial Twitter dalam “mengicaukan” sikap dan pandangan-pandangan kerasnya menentang ketidakadilan. Akun Twitter-nya bahkan memiliki lebih dari 3.500 pengikut (follower) Dalam sejumlah “kicauan”-nya, Taseer juga tampak sangat memahami risiko besar yang selalu menguntitnya. “Besok para mullah berunjuk rasa menentang saya usai (shalat) Jumat. Ribuan orang akan meneriakkan kepala saya. Benar-benar seru,” begitu bunyi salah satu kicauannya. Sosoknya yang flamboyant sebelum dikenal sebagai seorang pengusaha sukses. Dia memulai karier politiknya saat terpilih menjadi anggota majelis di tingkat provinsi di Punjab pada 1998. Dia kemudian menjabat sebagai Menteri Industri dan Produksi Pakistan di masa pemerintahan Perdana Menteri Pervez Musharraf (2007-2008) Saat partainya, Partai Rakyat Pakistan (PPP) memenangi pemilu 2008, dia ditunjuk menjadi Gubernur Punjab. Pemakaman Pascapembunuhan Taseer, Pemerintah Pakistan bersiaga penuh mengamankan proses pemakamannya di Lahore. Ribuan pendukungnya berkumpul memberikan penghormatan terakhir sekaligus memorotes keras pemerintah yang dinilai harus bertanggung jawab atas kematiannya. Namun, para pendukung kelompok radikal justru menyerukan boikot terhadap upacara pemakan Taseer. Kelompok Jamaat-e-Ahl-e-Sunnat Pakistan bahkan mengancam bahwa siapa saja yang ikut berkabung bakal mengalami nasib serupa. Untuk menurunkan ketegangan yang terjadi di Pakistan, Perdana Menteri Yousuf Raza Gilani menetapkan masa berkabung nasional tiga hari. Perkembangan terakhir kepolisian Pakistan, menurut pengacara Taseer, resmi menetapkan Malik Mumtaz Hussein Qadri, anggota pasukan khusus kepolisian yang juga pengawal pribadi Gubernur Punjab, sebagai pelaku pembunuhan. Malik memberondong Taseer saat menuju mobilnya, belum lama ini, di suatu tempat perbenlanjaan elit, Pasar Kohsar, di Pakistan. Salman Taseer, menurut otopsi, tewas akibat tembakan 29 peluru di hampir seluruh tubuhnya. bas/dari berbagai sumber

Kamis, 24 Maret 2011

Lambas Goeltom Sahabat Menyenangkan

Setelah pulang dari Amerika, 2004, dia datang mengunjungi aku di PGI, Jalan Salemba Raya 10, Jakarta. Kaget. Tak menduga sama sekali. Yang aku tahu, dia berada di Denver, Colorado.

Dia menceritakan suka dan duka selama tinggal di Amerika. Teman kami Lamsihar Simamora disinggung juga dalam ceritanya. Teman kami sewaktu kuliah di “Institut Ilmu Sosial dan Ilmu Politik” (IISIP) Lenteng Agung. Bahkan mereka sempat menerbitkan koran “Indonesia News” berbahasa Indonesia di Colorado. Aku juga ikut sebagai redaktur di Jakarta.
Bagiku Lambas Goeltom adalah sahabat yang baik dan menenangkan. Santun, kalem dan tidak banyak bicara. Meskipun pengalaman jurnalistiknya seabrek-abrek, tapi tetap rendah hati. Bukan hanya di bidang jurnalistik, belahan dunia ini pun sudah banyak dijelajahinya. Pribadi Lambas yang low profile inilah membuatku diam-diam mengaguminya.
Memang, kami sudah lama berteman. Sejak kuliah di IISIP (dulu namanya Sekolah Tinggi Publistik-STP) Sewaktu di kampus kami beda kelompok (bergaul dan tempat nongkrong) Boleh dikatakan antara aku dengan Lambas tidak terlalu akrab. Aku lebih suka bergaul dengan mahasiswa asal Medan. Selain itu, aku kurang betah lama-lama di kampus, karena waktu itu sudah ada kegiatan—wartawan di “Sinar Indonesia Baru” kantornya di Jalan Balikpapan, Jakarta Pusat.
Hubungan akrab dengan Lambas terjalin kembali tujuh tahun lalu. Ketika kami sama-sama di majalah “Devotion” yang diterbitkan, John Bidel Pasaribu. Latar belakang jurnalistiknya dan pengamalaman di luar negeri, tentulah sangat mengena untu penerbitan. Itulah alasanku mengajaknya bergabung.
Waktu itu Lambas ditugasi mengurusi berita luar negeri. Banyak kisah menarik ditulisnya dengan gaya penulisan feature yang enak. Dalam sekejab berita yang dikutip dari internet langsung jadi. Maklum, bahasa Inggrisnya sangat memadai.
Nilai plus yang lain, dia adalah penulis serba bisa. All event! Apa saja yang dia tulis pasti enak dan menarik.
Pernah tulisannya mendapat protes dari pembaca Devotion. Ketika itu Lambas malah tersenyum ketika diceritakan ada yang komplein. Tak gentar sama sekali. “Seorang jurnalis, harus berani menulis berita berdasarkan fakta apa adanya,” kata Lambas waktu itu. Dia juga sangat konsisten menjaga wibawa redaksi. Paling tidak suka kalau ada pihak lain yang ingin intervesi redaksi soal berita. Termasuk wartawan yang coba-coba intervesi kebijakan redaksi.
Persahabatan kami, boleh dikatakan cukup langgeng. Setelah Devotion tutup, Lambas aku ajak bergabung dengan majalah “Suara HKBP.” Semula aku ragu, apa dia mau atau tidak. Soal finansial? Setelah kupaparkan apa adanya, dia bersedia. “Tidak apa-apa, nanti ada saatnya berubah,” jawab Lambas waktu itu.
Hampir lima tahun kami bersama di Suara HKBP. Banyak ide yang dikemukakan untuk memajukan majalah ini. Sampai akhir hidupnya, dia menjabat Pemimpin Redaksi menggantikan Pdt Puji Handoko Aritonang STh.
Lambas juga yang menggagas pada ulang tahun kelima majalah ini, 2010, agar digelar penobatan tokoh Batak. Ide itu disambut baik oleh teman lain. Lambas dengan cekatan membuat proposal dan yang berkaitan dengan penobatan tersebut. Meskipun pada malam penobatan hasilnya tidak maksimal. Dia termasuk yang kecewa.
Sampai Lambas meninggal, panitia HUT Suara HKBP belum dibubarkan. Sebab Lambas tak kunjung sembuh dari sakit. Ketua Panitia Kampler Marpaung, sudah pernah menanyakan soal kesehatan Lambas. Ternyata, sahabat kami Lambas, tidak akan pernah lagi bersama kami untuk selama-lamanya dan tidak akan pernah ikut dalam pembubaran panitia HUT yang digagasnya.
Benar, masih banyak program yang belum terlaksana. Setahun lalu dia merencanakan akan mendirikan komunitas penulis Kristen. Draf proposalnya sudah dikerjakan. Impian itu pun buyar, bersama kepergian sahabat kami yang baik, Lambas.
Malah Maret ini, Lambas seharusnya sebagai narasumber untuk pelatihan penulisan yang diadakan HKBP Duren Sawit. Materi yang akan disampaikan: Wawancara Jurnalistik, Fotografi Jurnalistik dan Teknik Membuat Blog.
Terlalu cepat dia pergi. Aku adalah sahabatnya yang sangat kehilangan. Sepertinya dia belum meninggal. Sosoknya masih terbayang duduk sambil menghadap komputer tempatnya mengetik berita dan tulisan.
Beberapa waktu belakangan ini, dia sudah sering mengeluh, tentang penyakit yang dia derita; gula dan prostat. Sebelumnya, sudah pernah operasi usus buntu. Sejak kadar gulanya tinggi,dia rajin membawa gula sendiri ke kantor.
Ketika kami dari Suara HKBP menyampaikan turut berduka di rumahnya, di Kompleks Perumahan Depsos Pasar Rebo, anaknya Ferrari, 13 tahun (SMP Kelas 1) tampak menangis sesengguhan menyaksikan ayahnya terbujur kaku dalam peti. Sesekali ompunya membelai Ferrari dengan kasih sayang yang tulus. Almarhum lahir di Bandung, 15 Juli 1960. Meninggal, Selasa 15 Februari 2011 di Jakarta.
Meskipun aku sebagai sahabatnya, tidak semua hal diceritakan. Aku punya firasat, selain penyakit yang dideritanya, ada pergumulan batin yang ditutupinya. Tapi, aku tidak pernah berani menanyakannya. Apalagi dia tidak pernah terbuka hal-hal yang pribadi.
Yang aku tahu, dia pekerja keras dan tekun. Sayang, kalau sudah di depan komputer lupa semuanya. Termasuk makan. Rokok adalah sahabatnya paling setia. Secangkir kopi panas selalu mendampinginya. Pemandangan itu tidak akan pernah lagi terlihat di atas mejanya di kantor Redaksi Suara HKBP di Cinere.
Sahabatku, terlalu cepat engkau pergi! Selamat jalan Lambas. baharuddin silaen

Islam dan Kristen Doa Bersama di Mesir

Setelah kaum muslimin menunaikan salat, mereka memberi kesempatan kepada umat Kristen melakukan misa. Hari itu Minggu siang di Kairo.

Imam berjubah Al-Azhar yang baru saja memimpin salat, tampak membantu Pdt Fauzi Khalil naik ke kursi yang semula dipakai muazin. Pendeta membuka doa kecilnya, lalu memulai misa. “Bismillah, dengan namaMu ya Bapa yang ada di surga…”
Pdt Fauzi, membaca Mazmur, kemudian menutup misa di Midan Tahrir (Medan Merdeka) dengan doa. Ribuan orang, Islam dan Kristen mengamini doa tersebut. Seorang wanita berjilbab ikut mengangkat tangan dan mengucapkan amin setiap doa dipanjatkan.
Sebenarnya, di luar Tahrir sekalipun kerukunan antarumat beragama di Mesir terjaga baik. Hampir tidak pernah ada bentrok antara umat Kristen dan Islam. Sejumlah bentrokan di bagian selatan Mesir lebih dipicu oleh soal tanah dan keluarga, bukan soal agama.
Memang ada beberapa kali bom di gereja. Seperti pada saat tahun baru lalu. Bom meledak seusai misa tahun baru di Gereja AL-Qeddesine (Gereja Dua Santo) Setidaknya 23 orang tewas dan sekitar 90 orang cedera dalam insiden itu.
“Tapi saya tak pernah yakin itu dilakukan oleh kelompok Islam,” kata Pdt Fauzi seperti dikutip Tempo. Pdt Fauzi kemudian menghampiri Syekh Salahuddin dari Al-Azhar dan menyalaminya. “Kami akan menjaga gereja, itu tanggung jawab kami,” kata Syekh Salahuddin.
Bukan hanya Fauzi yang mempercayai hal itu. Mikail Munir, seorang demonstran beragama Kristen, mengatakan bahwa yang menekan rakyat Mesir, Islam atau Kristen adalah pemerintah. Ini dibuktikan selama hampir dua minggu demonstrasi, ketika polisi menghilang entah ke mana, justru tak ada serangan terhadap gereja-gereja.”Kami, rakyat yang menjagannya bersama-sama,” ujar Mikail.
Umat Kristen di Mesir memang minoritas, hanya 10 persen dari 80 juta penduduk. Tapi, mereka adalah kelompok Kristen terbesar di Timur Tengah. Sekitar 95 persen umat Kristen di Mesir warga Gereja Ortodoks Komptik Aleksandria. Mereka punya paus sendiri, namanya Baba (Pope) Shenouda III, yang sudah 40 tahun menjabat. Agama ini ada di mesir sejak abad pertama Masehi, jauh sebelum Islam masuk enam abad kemudian. Keberadaan umat Krsiten amat mudah dikenali dengan tato di atas nadi. Seperti halnya Pdt Fauzi Khalil, punya tato salib di atas urat nadi tangan kanan.
Kelompok Islam garis keras seperti Ikhwanul Muslimin sekalipun, punya hubungan kuat dengan Gereja Koptik. Saat Hassan al-Banna, pendiri Al-Ikhwan, meninggal, satu-satunya pejabat tinggi negara yang mengantar jenazahnya adalah Makram Obeid, hakim agung beragama Kristen yang rajin membaca Al-Quran. Saat Natal Koptik, 7 Januari lalu, para pemimpin Al-Ikhwan mendatangi pemimpin Gereja Aleksandria. Ketika Ramadan, giliran para pendeta ikut berpuka puasa bersama mereka.
Kebersamaan dan rasa persaudaraan begitu terlihat. Ketika terjadi serangan bom tahun baru di gereja, jutaan warga Mesir memasang logo “Mesir untuk Semua” di foto profil Facebook mereka.
Bahkan, ketika unjuk rasa menentang Mubarak di Midan Tahrir , ratusan bendera dengan simbol bulan sabit dan salib berkibar, melambangkan persatuan Islam dan Kristen.
“Baju” yang berbeda tak memisahkan mereka. Bahkan ‘baju’ seolah dilepas. Mereka bersama berusaha mencapai tujuan mulia untuk negeri yang lebih baik. Baik Fauzi maupun Salahuddin mengatakan, apa yang mereka lakukan di Tahrir ini adalah atas pribadi. Lembaga yang menaungi mereka, Gereja Koptik dan Al-Azhar, memang tidak tegas mendukung demonstrasi di Tahrir, apalagi setelah Mubarak menyatakan akan mundur September mendatang.
Mungkin karena tak ada wakil dari gereja inilah, panitia demonstrasi membuat badan khusus umat Kristen. Untuk umat Kristen, koordinator demonstrasi menyediakan sayap khusus bernama Munazhim Aqbath (Koordinator Koptik) Merekalah yang mengoordinasi sembahyang bagi umat Kristen dan mendatangkan pendeta ke Tahrir.
Begitu juga di luar Minggu, kita bisa mendapati spanduk-spanduk yang menggugah rasa persatuan. “Lihat, kami semua bersatu,” kata novelis dan aktivis feinisme Nawal el-Saadawi, sambil menunjuk poster yang dibawa perempuan berjilbab besar berbunyi: “Muslim, Nasrani, kita semua satu.”
Mereka merasa perlu menegaskan persatuan itu, karena ada upaya membelokkan revolusi ini menjadi revolusi Islam. Pemerintah Mesir menuduh Ikhwanul Muslimin ada balik krisis politik ini. Adapun pemimpin tertinggi Iran, Ayatullah Ali Khamenei, mengatakan, demonstrasi di Mesir adalah revolusi Islam.
Tapi, semua yang hadir di Tahrir tahu suara yang mereka teriakkan tak mengenal agama. Juga pria yang patah kakinya dan sesenggukan setelah misa. “Perlawanan ini membuat kami semakin bersatu,” kata pria itu.
Di sekitar kami, orang sudah ramai menriakkan yel-yel persatuan. “Demi Injil, demi Al-Quran, Mubarak harus keluar.” Atau, “Ya Muhammad, ya Paulus, Mubarak tak boleh terus.”
Sejumlah salib dan Al-Quran juga diangkat bersama-sama dengan latar belakang bendera Mesir berwarna merah, putih dan hitam serta gambar elang di tengahnya tampak berkibar-kibar menghias langit Mesir. baharuddin s

Lambas Goeltom Serius dan Pekerja Keras

Pertemuan saya dengan Lambas Goeltom di Amerika berlangsung di kota Denver, Colorado. Sore itu , saya sedang berbelanja kebutuhan dapur di toko groseri makanan Asia di Federal Boulevard, toko yang biasanya dikunjungi orang-orang Indonesia di sana. Kami berkenalan dengan ragu-ragu, karena andaikan salah tegur, akan menanggung rasa malu di hati. Dia juga ternyata sedang mencari kebutuhan dapur sambil menggandeng anaknya Ferrari.
Kami memperbincangkan kehadiran kami di Amerika dan juga tujuan hidup. Dia bekerja di daerah pegunungan sesuai kontrak kerja yang dia miliki. Saya sendiri bekerja di Denver sambil menuntut ilmu. Tak berapa lama kemudian dia turun gunung dan berdomisili di Denver. Ini membuat kami memiliki banyak kesempatan bertemu. Kemudian kami memasuki gereja Oikumene Indonesia yang sama.
Sehabis kebaktian sore, kami duduk berdiskusi sambil menyantap makan malam yang disediakan gereja. Bersantap malam bersama merupakan kebiasaan gereja-gereja Indonesia di Amerika karena di situlah waktu bersosialisasi satu sama lainnya di akhir pekan di sela-sela waktu bekerja. Di situlah hadir animo kami untuk menerbitkan media cetak berbahasa Indonesia sekedar membagikan informasi ke masyarakat Indonesia. Terbitlah kemudian suratkabar bulanan “Indonesia News.”
Pengetahuan jurnalistik bagi kami bukanlah hal yang baru sehingga tidak sulit bagi kami untuk mengelola sebuah penerbitan. Yang sukar justru membagi waktu, karena kami memiliki pekerjaan utama yang berbeda. Dengan kata lain, surat kabar itu kami terbitkan hanyalah kesukaan di samping pengabdian memberikan informasi ke masyarakat Indonesia di sekitar Colorado. Tak ada keuntungan yang kami peroleh dengan kehadiran suratkabar tersebut. Kami membagikannya di toko Asia dengan cuma-cuma.
Tapi dengan adanya media itu juga terbantu beberapa kegiatan masyarakat Indonesia di Denver. Misalnya , kami menggunakan media itu menjembatani pertemuan Konjen RI dari Los Angeles ke Colorado setelah tragedi teroris 11 September. Kami juga melakukan pertunjukan kegiatan Agustus di salah satu hotel di sana yang mendapat banyak pengunjung sejak pagi hingga malam hari. Kami laporkan juga kegiatan mahasiswa Indonesia di salah satu universitas di Fort Collin, sebelah utara kota Denver.
Untuk semua acara itu, Lambas Goeltom merupakan orang terdepan memobilisasi teman-teman agar pekerjaan bisa terselesaikan. Di situlah saya rasakan betapa seriusnya dia menunaikan tugas dalam pekerjaan. Dia juga yang banyak berperan dalam menangani Indonesia News dari pembagian berita, tata letak, naik cetak, hingga beredar di masyarakat. Maka ketika Lambas meninggalkan Amerika, dan pulang ke Indonesia, dengan sendirinya juga usia Indonesia News berakhir.
Saya pernah mencoba untuk menerbitkannya lagi, tapi tak pernah terkabul. Padahal Lambas sudah mengirimkan bentuk tata letaknya sehingga bisa melakukan terbitan jarak jauh, terbit di Amerika dan terbit di Indonesia. Hingga sekarang bentuk isi dan tata letak ide dasarnya itu masih tersimpan di data base computer saya.
Bila saya mengingat Lambas Goeltom, maka teringat semangat kerja keras dan keseriusannya bekerja.
Kepergiannya hanyalah menambah kesedihan. El Simamora California

Suaranya Belum Nyaring

Sudah macet ditambah hujan lagi membuat arus lalulinats di Jakarta hari itu, benar-benar tidak bergerak. Bukan hanya jadwal “Malam Syukuran dan Keakraban HUT ke-5 majalah Suara HKBP yang molor satu jam, tapi undangan pun ada yang urung datang dan harus balik arah untuk pulang. Acara syukuran yang diadakan di HKBP Menteng Lama, tetap berlangsung walaupun jumlah yang hadir jauh dari yang diharapkan.

Sebelum penobatan 17 inspirator Batak pilihan Suara HKBP didahului kebaktian yang dipimpin Pdt Drs Baharuddin Silaen MSi dan kotbah disampaikan Pdt Esron Tampubulon MTh, Praeses Distrik 19, Jakarta 3. Kebaktian diselang-selingi koor; Koor Misioner HKBP Menteng Lama, PS Gracia Punguan Parompuan Distrik Jawa Kalimantan dan PS Gloryfiers HKBP Kebayoran Baru.
Pdt Esron dalam kotbah yang dikutip dari 2 Timoteus 4: 2, mengatakan, memberitakan Injil berbeda dengan bercerita atau mendongeng. Memberitakan Injil adakalanya tidak harus tergantung pada situasi dan kondisi, apakah waktunya tepat atau tidak, diterima atau tidak? Tapi memberitakan Injil, harus siap sedia baik atau tidak baik waktunya. Sebab berita Injil atau firman Tuhan adalah berita keselamatan, kebenaran, keadilan, pengharapan dan kasih.
Pada acara hiburan Greta Sihombing dari HKBP Duren Sawit dan Putri Silitonga menyumbangkan beberapa lagu.
Dalam sambutan Ketua Panitia HUT St Kapler Marpaung MMin, menjelaskan latar belakang pemilihan inspirator Batak yang diselenggarakan majalah Suara HKBP. Apa yang kami lakukan masih jauh dari sempurna. Begitu juga terhadap inspirator Batak pilihan majalah ini masih belum sempurna, tapi apa yang kami lakukan adalah sebagai suatu kepedulian Suara HKBP terhadap apa yang dilakukan tokoh Batak selama ini. “Biarlah apa yang mereka perbuat menjadi inspirasi bagi banyak orang,” kata Kapler yang juga pemimpin perusahaan majalah ini.
Praeses Distrik 8 Jawa Kalimantan Pdt Mori Sihombing MTh yang sekaligus Pemimpin Umum Suara HKBP, menjelaskan perjalanan Suara HKBP selama lima tahun ini. Keberadaan majalah ini sangat prihatin dalam hampir semua bidang, baik redaksi maupun bidang nonredaksi. Selain honor yang sangat kecil, peralatan yang digunakan pun sudah “outdate.” Sudah kurang layak digunakan, tapi karena tidak ada biaya menggantinya, peralatan itulah yang dimanfaatkan. Boleh dikatakan, pekerjaan redaksi dan wartawan adalah “pengabdian.” “Bagaimana kita hendak menuntut banyak, sedangkan kewajiban pun tidak terpenuhi?” ujar Mori.
Di hadapan hadirin yang juga dihadiri Praeses Distrik 21, Jakarta 3, Pdt Dr Lukman Panjaitan dan Praeses Distrik 19 Jakarta 2 Pdt Esron Tampubolon, Mori Sihombing menyampaikan, agar gereja-gereja yang ada di tiga distrik ini sama-sama mendukung Suara HKBP sebagai media rohani dan informasi milik kita bersama. Majalah ini bukan hanya milik Distrik Jawa Kalimantan, tapi milik kita bersama, hanya kebetulan diterbitkan Distrik 8. “Bahkan kedua praeses Distrik 19 dan Distrik 21 adalah penasehat, namanya tercantum dalam boks redaksi,” kata Mori saat diwancarai di tempat terpisah.

Mewakili undangan, sambutan disampaikan SL Gultom, pelanggan dan pembaca setia Suara HKBP, warga HKBP Kebayoran Lama, Jalan Praja, Jakarta Selatan. Banyak komentar dan masukan yang bermakna disampaikan kepada Suara HKBP. St Dr Constantyn S Hutasoit, warga HKBP Mampang Prapatan, Jakarta Selatan, menyampaikan sambutan mewakili inpirator.
Beberapa sumber yang diwancarai mengatakan, secara keseluruhan Suara HKBP sudah memenuhi syarat sebagai media yang mengindahkan kaidah-kaidah jurnalistik. Majalah ini udah baik walaupun oplah masih minim sebagai media komunitas yang jumlah segmen pasarnya lebih empat juta. Soal isi pun sudah bagus, meskipun suaranya belum “nyaring” betul. Ini hanya soal jam terbang. Wajarlah kalau di sana sini ada kekurangan, baru lima tahun usianya,” kata sumber yang tidak bersedia namanya disebutkan.
Nama-nama inspirator Batak pilihan Suara HKBP; Choky Sitohang, Dr Constantyn S Hutasoit, David M Lumbantobing, Djisman Simanjuntak, Henry P Panggabean, Karel M Sinaga, Luhut B Panjaitan, Marwatal Hutajulu, Merdi Sihombing, Miranda Goeltom, Panangian Simanungkalit, Raden Pardede, Soy Pardede, Titien Simanjuntak, Togap Balduin Silalahi dan Tunggul Situomorang.
Mewakili profil yang pernah dimuat di majalah ini: Mia Panggabean, pianis dan sudah cukup lama melayani sebagai pemain organ di HKBP Palmerah Petamburan, istri Doan Panjaitan (Panbers) Ir Lasmaria Sipahutar, pendiri TK di Griya Dadap, Banten. Pernah juara pertama lomba disain Taman Raya Samosir, suaminya St Ir Sumihar Lumbantoruan MM, uluan HKBP Griya Dadap.
Penulis yang mendapat piagam penghargaan: Pdt Dr Einar Sitompul (Jakarta) Pdt Dr Darwin Lumbantobing (Pematangsiantar) Mika Panusunan Lumbantobing (Jakarta) Pdt Dr Luhut P Hutajulu (Jakarta) Pdt Midian KH Sirait MTh (Pemtangsiantar) SMT Goltom SH (Jakarta) Rena Imelda Siregar ( Cepernis, Pematangsiantar) Johnson Dongoran (Solo) Pdt Maruasas Nainggolan SSi (Teol) (Tarutung)
Piagam penghargaan juga disampaikan kepada representative majalah Suara HKBP: St Daniel Silitonga SH (HKBP Serpong) St Ev C Samosir (HKBP Duren Sawit) Halomoan Lumbantobing (HKBP Ciputat) Rita Siahaan (HKBP Kebayoran Lama) Hotma D Lumbantobing (HKBP Cemara, Tangerang) Hotnida Siahaan (HKBP Kebun Jeruk) Piagam penghargaan juga disampaikan kepada mitra Suara HKBP; St Tonny Aritonang (percetakan)
Hadir juga Praeses Distrik XIV Tebing Tinggi Deli, Pdt Drs Bihelman DF Sidabutar STh yang mendirikan Suara HKBP yang waktu itu Praeses Distrik Jawa Kalimantan. Pantia memberikan penghargaan kepada Pdt Bihelman Sidabutar didampingi istrinya Boru Pardede.
Doa syafaat dipimpin Praeses Pdt Lukman Panjaitan. Doa makan disampaikan Pdt Naser Abednego Silalahi STh, Pendeta Resort HKBP Menteng lama dan doa penutup oleh Pdt Bihelman DF Sidabutar. (bas)