Senin, 28 Maret 2011
Asal Bukan Allah
Adalah Pdt Steven Djie STh (42 tahun) Ketua Sinode Gereja Kristen Holistik paling gusar hatinya gara-gara nama Yahweh dalam Alkitab diterjemahkan menjadi Allah. Dia pun berang, Tuhan tidak pernah menyuruh namaNya diganti, Yahweh adalah nama Tuhan kita sepanjang zaman, bukan Allah? Pdt Steven Djie pun bergerilya menghimpun dukungan agar nama Allah lekas “ditipeks” dari kitab suci umat Kristen dan diganti dengan Yahweh. Ternyata sudah tiga sinode yang blak-blakan menolak Yahweh diterjemahkan dengan Allah. Mereka adalah kelompok “Asal Bukan Allah” (ABA) Gerakan “ABA” ini bermula dari keluh-kesah Pdt Suradi tentang sebutan Allah yang dianggapnya najis, lalu ditanggapi Peter Wagner dan Pdt Everthat G Awuy, dari GPDI. Alasan mereka, menghapus nama Allah itu bukan sekedar fanatisme nama, tetapi faktor pengalaman getir pun ikut memicu, bahkan secara biblikal pun mereka siap diadu. Soalnya, gelombang penganiayaan yang menimpa umat Kristen di Indonesia yang berujung pada pembantaian antara Islam dan Kristen dijadikan fakta pendukung bahwa Allah umat Islam berbeda dengan sesembahan Tuhan umat Kristen. Itulah salah satu alasan mereka untuk membabat habis nama Allah dalam Alkitab. Menurut Steven Djie, “Allah” itu nama Tuhannya umat Islam, bukan sekedar sebutan. Itulah sebabnya, umat Islam tidak pernah menterjemahkan Allah dengan God atau Lord. Islam lebih memilih nama Allah sebagai sesembahan mereka. Selain penganiayaan atas nama Allah, mereka juga menemukan kekeliruan yang amat fatal, setelah mengutak-atik asal-muasal nama Allah, ternyata nama Allah adalah nama dewa. Tentang Allah sebagai nama dewa yang mengairi bumi, sudah pernah beredar leafleft (brosur) 1999 oleh Iman Taqwa Kepada Shiraathal Mustaqim (penulis pernah mendapatnya sekali) bertajuk “Siapakah yang Bernama Allah itu.” Disebutkan, nama “Allah” yang digunakan dalam Alkitab terjemahan bahasa Indonesia oleh Lembaga Alkitab Indonesia (LAI) adalah nama dewa bangsa Arab yang tidak layak digunakan umat Krsiten. Karena itu, nama “Allah” itu harus dicomot dan diganti dengan nama “Elohim” sebab, Allah yang disembah orang Arab bukan Eloim yang disembah orang Yahudi dan Nasrani.” Tidak puas sampai di situ, kelompok “ABA” ini juga menerbitkan “Kitab Suci 2000” diterbitkan oleh Bet Yesua Hamasiah. Dalam “KS 2000” versi “ABA” ini nama Allah diganti menjadi Eloim, tanpa “h.” Ada lagi “Kitab Suci Umat Perjanjian Tuhan” dikeluarkan oleh Jaringan Greja-gereja Pengagung Nama Yahweh. Anehnya, mereka justru membajak Alkitab terbitan LAI dan menyingkirkan nama Allah, lalu mengantinya dengan nama Elohim atau Tuhan. Termasuk judul-judul perikop pun dihilangkan dan beberapa nama diganti dengan bahasa Ibrani, terutama nama “Allah” diganti dengan Eloim, nama TUHAN (PL) diganti dengan Yahweh sebagai nama “Tuhan” dalam Perjanjian Baru (PB) diganti dengan Yahweh dan “Yesus Kristus” diganti Yesus Hamasiah. Paling aneh lagi versi “Kitab Suci 2000” ini, nama Yahweh ditulis dalam Perjanjian Baru menggantikan nama Allah. Padahal semua tau, teks asli Perjanjian Baru mempergunakan bahasa Yunani, bukan Ibrani. Dr Daud H Soesilo, seperti dikutip Herlianto, mengemukakan, “Dalam terjemahan bahasa Melayu dan Indonesia, kata “Allah” sudah digunakan terus menerus sejak terbitan Injil Matius dalam bahasa Melayu yang pertama (terjemahan Albert Corneliz Ruyl, 1629) Begitu juga dalam Alkitab Melayu yang pertama (terjemahan Melchior Leijdekker, 1733) dan Alkitab Melayu yang kedua (terjemahan Hillebrandus Cornelius Klinkert, 1879) sampai saat ini. Di Indonesia… telah dikerjakan terjemahan Alkitab dalam bahasa Indonesia modern, yang lazimnya dikenal sebagai Alkitab Terjemahan Baru (TB) yang pertama kali terbit 1974. Proyek penerjemahan Alkitab TB telah dimulai 1952 dan berkahir 1970 dan dikerjakan bersama oleh ahli-ahli biblika dan bahasa, baik orang asing maupun orang Indonesia. Sejak pertengahan 1970-an, LAI menyelenggarakan berbagai proyek penerjemahan Alkitab dalam bahasa Indonesia dan bahasa-bahasa daerah. Yang pertama diterbitkan ialah Perjanjian Baru bahasa Indonesia Sehari-hari, disusul dengan penerbitan Alkitab lengkap dalam bahasa-bahasa daerah sehari-hari.” Ketika brosur “Siapakah Yang Bernama Allah itu” beredar ke mana-mana, pihak LAI pun kala itu segera mengirim surat edaran kepada gereja-gereja dan lembaga-lembaga Kristen, agar cermat menaggapi dan tidak terpengaruh dengan isi traktak tersebut. Sebelum heboh tentang nama Allah, sudah pernah ada yang membahas nama Allah dalam buku “Who is this ALLAH” karya GJO Moshay, cetakan kedua 1995, kendatipun beredar tersembunyi dan dalam lembaran pertama ditulis “Eksklusif untuk kalangan sendiri sebagai studi perbandingan agama.” Isinya nyaris sama, merpertanyakan nama “Allah” yang oleh penulisnya meragukannya sebagai Tuhan sesembahan umat Kristen. Sama halnya dengan buku “Islamic Invasion Confronting the World’s Fastest Growing Religion” karangan Robert Morey, pakar teologi dan apologetika. Buku ini juga menyoal siapakah yang bernama Allah itu? Kenapa tidak ada ampun terhadap nama Allah sehingga harus dijungkirkan dari Alkitab terbitan LAI itu? Siapakah yang bernama Allah itu sebenarnya? Buku yang ditulis Pdt Herlianto MTh “Siapakah Yang Bernama Allah Itu? sangat membantu memberi jawaban. Dipaparkan dalam buku yang diterbitkan BPK ini, beberapa nama Tuhan yang ditulis dalam Alkitab. Nama Tuhan yang pertama disebutkan Alkitab adalah Elohim (Kejadian 1: 1) Padananya El dan Eloah, El (Ia) merupakan nama diri Tuhan dalam bentuk tunggal, tapi bisa juga dipakai saat menyebut Tuhan. Sedangkan Elohim merupakan bentuk jamak dan kadangkala digunakan sebagai nama diri, namun pada umumnya sebagai sebutan untuk Tuhan. Eloah, bentuk tunggal dari Elohim. Nama inilah menurut Herlianto pada mulanya digunakan dalam Kejadian 31: 13. “Akulah Allah (El) yang di Betel (rumah El) itu. “Allah (Elohim) Israel ialah Allah (El) Kejadian 33: 20. Sebutan El, semula dikenal sebagai Allah di atas allah (The Supreme God) atau Allah Maha Tinggi (The Most High God) dan dalam Alkitab Ibrani (PL) digunakan untuk menyebut Allah Israel. El sebagai nama diri disejajarkan dengan nama Yahweh (Kej. 28: 16-19) Dalam sajak Bileam disebut bahwa El tidak lain adalah Yahweh yang membawa umat Israel keluar dari Mesir (Bilangan 23:8, 19, 22-23, 24: 4, 8, 16, 23) Nama El pada tempat lain disebut lagi sejajar dengan Yahweh (Mazmur 85: 8-9, Yesaya 42: 5) dan acap kali dijadikan padanan katanya. Nama El ini tidak sekedar menyebut kata generik sebagai nama diri Allah tertinggi, tetapi dengan gabungan kata lain juga menunjuk nama diri yang nyata (defenitif) seperti El Shaday (Allah Yang Mahakuasa, Kej. 17: 1) El Bethel (Allah Yang di Bethel, Kej. 31: 13) El Roi (Allah Yang Mahamelihat, Kej. 16: 13) dan El Elohe Yisrael (El, Allahnya Israel, Kej. 33: 20) Sedangkan nama Yahweh adalah nama diri yang sebenarnya terdiri dari empat huruf konsonan “YHWH” (atau YHVH) yang disebut Tetragrammaton dan dalam Alkitab bahasa Indonesia (LAI) Perjanjian Lama diterjemahkan sebagai “TUHAN” (semua huruf besar) Dalam tradisi naskah Pentateuch diketahui bahwa nama ini baru dikenal Musa sebagai TUHAN Allah yang membawa umat Israel keluar dari Mesir. Menurut Herlianto, nama “Allah” sudah lama dipakai di kalangan Kristen Arab-Aram. Yesus tidak menggunakan bahasa Ibrani, melainkan Aram dan di atas kayu salip Ia memanggil Bapa dengan nama El/Eloi. Orang Arab pengikut Yesus, penggunaan nama Allah sudah terjadi sejak awal kekristenan. Bahkan pada Konsili Efesus (431) uskup yang memimpin wilayah suku Arab Harits adalah Abd Allah. Begitu juga inskripsi (tulisan kuno) Zabad (512) diawali dengan Bism al-Ilah (dengan nama Allah) lengkap dengan tanda salip diikuti nama-nama Krsiten. Termasuk inskripsi Umm al-Jimmal (abad 6) mencantumkan kata Allahu ghafran (Allah yang mengampuni). Inilah sebagai bukti, nama Allah sudah ada dan telah dipakai oleh umat Kristen jauh sebelum Islam lahir. “Kalau ada kelompok yang mengklaim bahwa Allah hanya merupakan nama sesembahan umat Islam, itulah pertanda ketidakmengertian mereka atas sejarah nama Tuhan,” kata Herlianto. Agaknya, perlu juga disimak yang tertulis dalam Matius 7: 22-23 ini. “Pada hari terakhir banyak orang akan berseru kepadaKu: Tuhan, Tuhan, bukankah kami bernubuat demi namaMu, dan mengusir setan demi namaMu juga ? Pada waktu itulah Aku akan berterus terang kepada mereka dan berkata: Aku tidak pernah mengenal kamu! Enyalah dari padaKu, kamu sekalian pembuat kejahatan!”
Minggu, 27 Maret 2011
Calon Presiden Iklan
Baharuddin Silaen Akhir-akhir ini ada pemandangan yang menggoda dilirik, begitu keluar dari rumah—ke mana mata memandang di situ ada potret. Gambar para calon legislatif, calon presiden, berbagai ukuran dan full colour. Ada yang ditempel di tembok, di mobil, di tiang listrik, dipaku di pohon serta direntangkan di tempat strategis supaya gampang dilihat. Hampir semua ruang publik, tidak terkecuali pohon, tiang listrik, pagar, gardu di tepi jalan tidak ada yang sisa dihias gambar-gambar caleg, capres, malah banyak yang tumpang tindih dengan iklan produk—rebutan kavling. Cobalah iseng-iseng perhatikan sepanjang jalan dan jangan lupa membaca isi iklan para kandidat tersebut, mungkin Anda segera bereaksi; setuju, geleng kepala, tertawa, atau mungkin kesal lantaran dibohongi, barangkali juga murka gara-gara pesan iklan politik yang tidak mendidik, menyesatkan? Perhatikan juga wajah para calon yang dipajang; ada yang tersenyum malu-malu, tersenyum sampai kelihatan gigi, ada sama sekali mimiknya kalem bangat dan ada pula yang pelit tersenyum dengan pandangan lurus ke depan. Kalau dari sudut penampilan bolehlah—rata-rata baik; memakai kemeja koko, peci, jas dan dasi. Tak ketinggalan gelar kesarjanaan dipajang dekat nama; Drs, Ir, SH, SE, MA, MSi, Dr. Pokoknya pasang tampanglah! Salahkah gambar-gambar yang bergelantungan di tepi jalan? Terus terang, tidak ada yang salah memajang potret kampanye di ruang publik, terkecuali yang melawan aturan main yang sudah ditetapkan. Semua potret tersebut punya misi yang sama, supaya dipilih. Agar publik mengingat wajah mereka saat pemilihan April mendatang. Makanya semua berupaya menonjolkan diri sambil mengumbar janji. Seakan-akan, inilah saatnya semua simpanan dikeluarkan. Open house. Memang begitulah kompetisi, berlomba untuk pemenang. Namanya juga iklan kampanye. Secara prinsip hampir tidak beda dengan iklan produk. Kalaupun ada perbedaan, tergantung apa yang diiklankan, kalau reklame tentang produk—konsumen supaya membelinya, kalau iklan politik—agar rakyat memilihnya. Mengenai isi pesan hampir mirip; merayu, membujuk, memberi nilai plus ditambah iming-iming. Formulanya semua mirip—berkisah tentang; kehebatan, keistimewan, keunggulan, keperkasaan, kemanjuran, pokoknya serba super; super baik, super peduli, super memihak kepada masyarakat miskin. Sayang lupa memberitahukan; kelemahan dan kekurangan masing-masing. Pada satu sisi, kelemahan dan kekurangan caleg, capres maupun partai politik adalah hal yang sangat manusiawi, bukan aib yang harus disembunyikan. Padahal, memberitahu sisi negatif (kelemahan) adalah ciri informasi yang adil, lengkap dan publik pun perlu tau kelemahan tersebut. Tapi hampir tidak ada yang sudi menorehkan hal itu dalam iklan kampanye politik. Justru pesan iklan yang dipilih; menjelekkan, menghina, melecehkan, meremehkan, menghujat, menyindir, semua yang “berbau tidak sedap” diumbar menyerang saingan politik. Seolah-olah, dengan melontarkan sisi negatif lawan politik akan merubah sikap masyarakat untuk berpaling kepadanya. Jangan salah, hasil penelitian yang dilakukan pakar komunikasi; McCullough, MacLachlan dan Mainpour (1982) berkaitan dengan perubahan dan penguatan sikap (reinforcement) akan lebih gampang merubah sikap orang apabila ia menaruh positif terhadap kemampuan (enforcement) seseorang ketimbang materi iklan yang heboh (great) Baik juga direnungkan pendapat ini, untuk menjaga jangan sampai masyarakat terjebak dalam kemilauan iklan politik. Soalnya, materi iklan sehebat apa pun bisa diciptakan—apalagi punya dana banyak—tapi kepribadian, kemampuan dan kepemimpinan seseorang tidak bisa direkayasa melalui kemasan iklan. Perlu waspada dan jeli terhadap rayuan iklan politik partai yang akhir-akhir ini kian gencar ditayangkan di media elektronik dan dimuat di media cetak. Perlu dipermaklumkan, tidak ada pemimpin (presiden) bangsa lahir dari iklan politik. Capres lahir dari pilihan rakyat yang hidup dari alam demokrasi yang menilai seseorang bukan karena gemerlapnya iklan kampanye, tapi penilaian berdasarkan kemampuan dan kelayakannya. Boleh-boleh saja, dalam iklan tokoh dicitrakan bagaikan malaikat, tetapi dalam image realitas belum tentu berhati mulia. Belum lagi pengalaman masa lalu yang buruk masih melekat, belum pupus dari ingatan orang banyak, bagaimanapun tidak bisa diingkari iklan yang seperti inilah menghasilkan petaka bagi yang bersangkutan. Kasus citra (image) yang menimbulkan bencana karena manipulasi realita pernah diteliti Bernstein (1985) dalam “Gronroos” (1990) Lalu, Bernstein menyarankan kepada yang getol bikin iklan kampanye, program pengembangan dan perbaikan citra harus didasarkan pada realitas. Nah, hati-hati dan cerdaslah menilai iklan politik. Iklan kampanye politik di televisi harus diakui punya daya tarik kuat, apalagi tema yang dipublikasikan masalah sosial, seperti kemiskinan—pesannya cepat merasuk dan cenderung orang langsung memihak kepada figur yang tampil di belakang iklan. Makanya, iklan-iklan politik berkibar di mana-mana serta berebut mendekatkan diri kepada warga miskin, karena dia tau kemelaratan cukup ampuh menggugah simpati orang lain. Jargon iklan pun sengaja dipilih yang bersentuhan dengan kemiskininan untuk mendulang rasa simpati publik, “atas nama orang miskin di bawah pemerintahan yang tidak peduli?” Bukan berarti iklan kampanye tidak berguna? Banyak manfaat iklan politik, paling tidak masyarakat diberikan informasi tentang partai, figur dan program yang dirancang. Bahkan diyakini, semakin sering iklan politik ditayangkan, makin tumbuh kepercayaan publik kepada isi pesan iklan. Lantaran berulang-ulang dipublikasikan, yang dulu dianggap salah, lama kelamaan menjadi kebenaran. Tujuan iklan supaya orang banyak; mengingat, setuju, simpati, mendukung dan kemudian memilihnya pada pemilihan mendatang. Cuma, jangan tekabur memilih yang berkilau dalam kemasan iklan. Ada hal yang harus diperhatikan; iklan politik yang tidak mempublikasikan informasi yang lengkap dan adil, baik sisi positif maupun negatif, sebaiknya perlu dipertimbangkan matang-matang sebelum mengambil keputusan. Selamat berdemokrasi! Penulis pengajar di Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politk UKI dan Fikom UMB Jakarta
Aku Warga HKBP
Baharuddin Silaen Persis 2011 tahun depan, HKBP genap berusia 150 tahun. Meskipun setahun lagi, namun gaungnya sudah bergema di mana-mana. Sebagai orang Batak yang sekaligus Kristen, aku bangga sebagai warga HKBP. Aku bersyukur lahir dan tardidi, malua dan tarpasupasu di HKBP. Tak dapat dipungkiri, pengalaman sebagai warga gereja dimulai di gereja ini. Selain orang tuaku yang sudah lebih awal anggota jemaat HKBP mereka juga memberikan pemahaman serta memperkenalkan gereja ini secara berkesinambungan sehingga kecintaanku terhadap gereja ini terus bertumbuh alami. Aku sebagai warga HKBP, harus mengakui, pemahamanku tentang Bibel pastilah berdasarkan bahasa Batak. Bibel yang kubaca sangat mengena karena bahasa yang digunakan adalah bahasa ibuku. Terus terang, sebagai orang Batak sekaligus warga HKBP sangat bangga terhadap semua itu. Beberapa istilah di HKBP pun satu per satu akrab di telingaku, misalnya: tardidi, malua, martumpol, pelean, partangiangan, pesta gotilon, tingting, manghatindanghon haporseaon, tondi porbadia, marminggu dan hamauliateon. Namun, pengalaman puluhan tahun lalu itu tidaklah serta merta bisa diterapkan lagi saat ini. Bahasa Batak, misalnya, bukanlah bahasa “sorgawi” yang suka atau tidak suka harus tetap dipertahankan dalam kegiatan gereja. Memang pro dan kontra belum reda—tapi pertentangan seperti itu sangatlah wajar. Soalnya, warga HKBP sudah banyak yang lahir di perkotaan—lingkungan yang dihuni pelbagai latar belakang sosial, suku, ras dan agama. Mereka, orang Batak keturunan ketiga yang lahir di luar bonapasogit dan mereka adalah warga HKBP saat ini. Di antara mereka, ada sintua dan tidak sedikit jadi pendeta, bahkan ada yang aktivis HKBP. Apakah mereka harus tersisih gara-gara tidak mengerti dan tidak bisa bahasa Batak? Haruskah bahasa memisahkan mereka dari suatu persekutuan yang gerejani? Pemakaian dua bahasa dalam kebaktian di HKBP adalah sebagai bukti perkembangan yang harus diterima dengan rendah hati. Bahkan tidak jarang parhalado menitip pesan kepada parjamita agar mencampur bahasa Indonesia dalam kotbah. Meskipun kebaktian di gereja itu ada kebaktian bahasa Indonesia. Untuk urusan bahasa seperti ini, memang harus ada yang mau mengalah dan menjauhkan sikap kaku terhadap fungsi bahasa sebagai alat perantara dalam suatu proses komunikasi. Bahkan beberapa gereja di Jakarta ada yang melakukan kebaktian bahasa Indonesia pada kebaktian Minggu pagi dan sore. Sedangkan kebaktian bahasa daerah (Batak) hanya satu kali (kebaktian Minggu siang) Ini adalah juga salah satu fakta di lapangan, sekaligus sebagai antisipasi eksodus warga gereja. Harus juga dimaklumi, menjadi warga HKBP bukanlah otomatis harus lancar ngomong Batak? Boleh saja orang Batak lebih fasih bahasa Indonesia, Inggris, Jerman, Belanda, Prancis dan Mandarin daripada bahasa Batak, apakah karena tidak bisa bahasa Batak, lantas diragukan identitasnya sebagai orang Batak serta eksistensinya sebagai warga HKBP perlu dicurigai? Semua setuju, kalau orang Batak idealnya bisa ngomong Batak. Betul sekali, bahasa Batak perlu dilestarikan jangan sampai punah karena individu pengguna dan pemilik bahasa itu kurang peduli. Tapi jangan pula bahasa dijadikan sebagai satu-satunya alasan mempertahankan identitas suatu gereja seperti HKBP sehingga dengan sigap menyingkirkan apa saja yang tidak berbau Batak. Aku sebagai warga HKBP sangat setuju memelihara serta melestarikan bahasa Batak hingga dunia ini berakhir. Apalagi, bahasa Batak adalah “teman” sehidup semati HKBP yang terus akrab sejak dahulu kala hingga saat ini. Sebab itu, tak perlu gelisah—bahasa Batak tidak akan pernah punah selama HKBP masih berdiri kokoh di dunia ini. Perlu diutarakan, sebagai warga HKBP, aku juga merasa nyaman dan sama sekali tidak terusik ketika berada di pesta adat Batak. Sebab, aku tau, di balik margaku, ada perangkat “Dalihan na Tolu” yang mengatur kekerabatan orang Batak dengan nilai-nilai luhur yang tertib dan santun. Bahkan aku tidak risih ketika suatu waktu ke gereja dengan menyandang ulos. Maklum, gereja tempat di mana imanku dibina bukanlah aliran anti ulos dan adat yang hypocrite. Kembali ke soal bahasa. Sebetulnya dua bahasa dalam kegiatan gereja bukan saja dijumpai dalam kebaktian Minggu di HKBP yang berdomisili di kota, tapi ditemukan juga pada pertemuan akbar di HKBP—seperti rapat pendeta dan Sinode Godang HKBP. Pengalaman saya pertama kali mengikuti rapat pendeta dan sinode sekitar 1980, boleh dikatakan materi rapat dan percakapan masih didominasi bahasa Batak. Tapi, belakangan sudah hampir separoh acara dengan bahasa Indonesia. Tidak terkecuali tata ibadah dan nyanyian dari Kidung Jemaat ikut memeriahkan acara. Memang dalam praktek tidak semua berjalan mulus—ada saja yang aneh? Misalnya, kalau pendeta HKBP tidak fasih bahasa Batak sering dicemoh, apalagi kalau dia pendeta di bonapasogit. Sebaliknya, pendeta yang bahasa Indonesianya “marpasirpasir” sering pula bahan tertawaan di gereja yang di kota. Percayalah, kebiasaan ini masih bisa diperbaiki. Apalagi ke depan—pendeta HKBP tidak boleh tidak harus cakap bahasa Batak dan fasih bahasa Indonesia yang baik dan benar. Ada hal yang tidak dapat disembunyikan dan benar-benar menjadi kebanggaanku, yaitu; pengelolaan sistem administrasi yang dikemas dengan sistematis, tersusun rapi dan transparan. Aku pun pernah mendengar—di antara lembaga/insitusi resmi negara yang ada di negeri ini, sistem administrasi HKBP termasuk nominasi terbaik? Soal kelemahan dan kekurangan HKBP tentulah ada, tapi maaf, aku tidak membahas itu pada kesempatan ini! Aku sebagai warga HKBP, “bermimpi,” gereja terbesar di Asia Tenggara ini suatu hari nanti punya stasiun televisi yang bergengsi. Aku yakin—mimpi itu bukanlah mengada-ada. Sebab, potensi warga HKBP sangat memungkin untuk itu. Bahkan sumber daya manusia yang ada di HKBP lebih dari cukup yang dapat diajak berpikir luas dengan ide-ide cemerlang. Seandainya ide ini diangkat sebagai momentum 150 tahun HKBP agaknya tidaklah berlebihan. Jumlah warga HKBP yang diperkirakan enam juta jiwa adalah aset HKBP dan berkat Tuhan yang luar biasa kepada orang Batak. Kalau HKBP sudah memiliki TK, SLTP, SLTA, Universitas HKBP Nommensen, STT-HKBP, Rumah Sakit HKBP Balige, Panti Sosial, media Immanuel, Radio Bonafit, Suara HKBP, kenapa tidak, suatu saat HKBP memiliki stasiun TV? Aku juga pernah mendengar, HKBP adalah aset negara sebagai pelaku, pemelihara moral serta menciptakan manusia yang santun, beradab, humanis dan religius. HKBP disebut juga sebagai pilar penopang bangsa dalam mewujudkan kehidupan sosial dan kerukunan umat beragama di Indonesia. HKBP sebagai lembaga keagamaan juga turut serta mendukung program pemerintah untuk mensejahterakan umat. Suatu hal yang aku banggakan sebagai warga HKBP, gereja ini sangat komit dan gigih memperjuangkan sikap toleransi, saling menghargai, menghormati dan menjujung tinggi hakekat kepelbagian yang berbeda-beda. Aku masih tetap yakin teguh, HKBP masih mengemban amanat itu hingga saat ini! Bukan itu saja membuat aku bangga sebagai warga HKBP, juga isu lingkungan hidup, pelestarian alam adalah bagaian dari pelayanan HKBP yang tidak pernah berhenti disuarakan demi kelangsungan kehidupan orang banyak. Sebagai gereja yang tertua yang berdiri di tengah dunia, pantaslah HKBP berada pada barisan terdepan memelihara, merawat dan melestarikan alam ciptaan Tuhan. Sekali lagi, aku warga HKBP. Aku cinta HKBP. Teruslah berkibar di bumi Indonesia. Horas HKBP.
Umat Kristen Hengkang dari Irak
Ketua Lembaga HAM Hammurabi Willam Warda mengatakan, aksi kekerasan di Irak yang tak kunjung berakhir sejak 2003 memaksa umat Kristen hengkang dari daerah itu. Lembaga HAM Hammurabi mengungkapkan, jumlah warga Kristen Irak yang hengkang 2009 sebanyak 10 keluarga setipa hari. Dalam dua bulan terkahir ini meningkat menjadi 20 keluarga setiap hari. Peristiwa yang menimpa umat Kristen di daerah ini, beberapa keluarga Kristen Irak melakukan doa bersama di Gereja Ortodoks, Amman, Jordania. Mereka di Jordania untuk mendapatkan visa ke Amerika Serikat, Kanada, Eropa atau Australia. Di antara sejumlah keluarga itu, terdapat sepasang suami istri, yaitu Suzane Jiliani dan suaminya Hani Daniel, beserta putra mereka berusia satu tahun. Mereka lari ke Amman menyusul serangan ke gereja Katolik di kota Bagdad, beberapa bulan lalu. Jiliani dan Hani Daniel kini ditampung di sebuah flat yang difasilitasi gereja. Mereka berharap segera bisa bergabung dengan keluarga yang terlibih dahulu berdomisili di Amerika Serikat. Menurut lembaga hak asasi manusia (HAM) Hammurabi di Baghdad, seperti dikutip harian berbahasa Arab Asharq Al-Awsat, jumlah kaum Kristen di Iran menurun 60 persen dari jumlah sebelum 2003, yang waktu itu mencapai 1, 3 juta jiwa. Arus hijrah umat Kristen Irak terbesar terjadi antara 2006 dan 2008. Pada Oktober 2008, lebih dari 10.000 umat Kristen di kota Mosul, Irak utara, hijrah ke Suriah, Jordania, Mesir, Lebanon dan sejumlah negera Barat. Arus hijrah umat Kristen dalam jumlah besar dari kota Mosul terjadi lagi sebelum pemilu legislatif Maret 2010. Ada sekitar 4.000 umat Kristen hijrah dari kota Mosul ke lembah-lembah terpencil di luar kota Mosul di Provinsi Ninawa sebelum pemilu legislatif Maret 2010. William Warda mengungkapkan, kaum Kristen di Irak selama tujuh tahun terakhir ini menjadi sasaran pembunuhan, penyanderaan dan pelecehan. Rumah-rumah mereka di Baghdad, Mosul dan Kirkuk menjadi sasaran serangan bersenjata. Berdasarkan laporan lembaga HAM tersebut, jumlah warga Kristen yang tewas pada 2010 sebanyak 71 orang, 2009 sebanyak 29 orang, 2007 sebanyak 153 orang dan pada 2004 sebanyak 221 orang. Tragedi yang menimpa kaum Krsiten Irak ini, menggugah Presiden Irak Jalal Talabani. Presiden yang berasal dari Kurdistan, dalam wawancara dengan harian berbahasa Arab Al Hayat mengimbau umat Kristen Irak hijrah sementara ke wilayah Kurdistan di Irak utara jika merasa tidak aman di Baghdad. Menurut situs Aljazeera, kini lebih dari 120.000 warga Kristen Irak berlindung di wilayah Kurdistan. Pemerintah local Kurdistan memberikan banytuan sebanyak 300 dolar AS per bulan kepada setipa keluarga Krsiten yang berlindung di wilayah Kurdistan. Pengamat politik Irak, Mahmud Abdul Sattar, mengatakan, kehidupan di Irak pascatahun 2003 sudah anarki. Semua sekte, agama dan mazhab menjadi sasaran serangan tanpa pandang bulu. Ia menegaskan, tidak hanya Krsiten yang menjadi sasaran serangan, tetapi sesama kaum Sunni atau Syiah saling menyerang. bas/dari berbagai sumber.
Pembela Kaum Minoritas Salman Taseer Dibunuh
Sosoknya yang terbilang kontroversial, lantaran keberanian serta sepak terjangnya melawan ketidakadilan terhadap kelompok minoritas di negerinya selama ini, diyakini menjadi penyeb utama kematian tragis Gubernur Punjab, Pakistan Salman Taseer (66) di tangan salah seorang pengawal pribadinya. Selain konsisten dan kerap bersuara keras menentang Undang-Undang Penghinaan Agama, Taseer juga dikenal berani “pasang badan” melindungi seorang perempuan Kristen terpidana hukuman mati, Aasia Bibi, ketika para politisi lain justru mencoba bermain aman dan memilih tidak konfrontatif menghadapi para kelompok garis keras. Bibi adalah seorang ibu rumah tangga yang diancam hukuman mati oleh UU Penghinaan Agama itu karena dituduh menghina Nabi Muhammad SAW dalam sebuah pertengkaran dengan tetangganya. Seorang ulama pro-Taliban bahkan sempat menawarkan hadian 5.800 dollar Amerika Serikat (sekitar Rp 52 juta) bagi siapa saja yang bisa membunuh Bibi di penjara. Menanggapi itu, Taseer tampil berani dengan berfoto bersama Bibi dalam sebuah pertemuan sekaligus menyerukan perlunya UU kontroversial itu diamandemen. Kasus Bibi ketika itu juga sempat mencuri perhatian banyak kalangan di seluruh dunia. Bahkan pemimpin umat Katolik, Paus Benedictus XVI, meminta pemerintah Pakistan memberi sedikit kelonggaran bagi Bibi. Kelompok dan golongan kanan di Pakistan selama ini meyakini aturan UU tersebut sangat diskriminatif dan membahayakan, terutama bagi kelompok minoritas di daerah itu. Aturan itu berakar pada hukum kolonial dari abad ke-19 yang dibuat untuk melindungi tempat-tempat ibadah. Namun pada masa pemerintahan rezim diktator militer, Jenderal Mohammad Zia ul-Haq di era 1980-an, aturan itu menunjukkan “taring”-nya lantaran kebijakan pemerintah di masa itu memang menganut garis keras. Ketika itu Taseer bahkan sempat mencicipi dinginnya dinding penjara karena dianggap melawan pemerintah akibat pandangan-pandangan politiknya. Dengan bersedia mempertaruhkan nyawanya sendiri demi menentang diskriminasi dan penyalahgunaan, Taseer justru telah menunjukkan dirinya sebagai seorang politisi yang sangat langka,” ujar Ali Dayan Hasan, peneliti senior Human Rights Watch terkait dengan isi Asia Selatan. Dalam berkiprah, selain berani, Taseer juga dikenal sangat progresif dan “melek teknologi.” Hal ini tampak dari kegemarannya memanfaatkan situs jejaring sosial Twitter dalam “mengicaukan” sikap dan pandangan-pandangan kerasnya menentang ketidakadilan. Akun Twitter-nya bahkan memiliki lebih dari 3.500 pengikut (follower) Dalam sejumlah “kicauan”-nya, Taseer juga tampak sangat memahami risiko besar yang selalu menguntitnya. “Besok para mullah berunjuk rasa menentang saya usai (shalat) Jumat. Ribuan orang akan meneriakkan kepala saya. Benar-benar seru,” begitu bunyi salah satu kicauannya. Sosoknya yang flamboyant sebelum dikenal sebagai seorang pengusaha sukses. Dia memulai karier politiknya saat terpilih menjadi anggota majelis di tingkat provinsi di Punjab pada 1998. Dia kemudian menjabat sebagai Menteri Industri dan Produksi Pakistan di masa pemerintahan Perdana Menteri Pervez Musharraf (2007-2008) Saat partainya, Partai Rakyat Pakistan (PPP) memenangi pemilu 2008, dia ditunjuk menjadi Gubernur Punjab. Pemakaman Pascapembunuhan Taseer, Pemerintah Pakistan bersiaga penuh mengamankan proses pemakamannya di Lahore. Ribuan pendukungnya berkumpul memberikan penghormatan terakhir sekaligus memorotes keras pemerintah yang dinilai harus bertanggung jawab atas kematiannya. Namun, para pendukung kelompok radikal justru menyerukan boikot terhadap upacara pemakan Taseer. Kelompok Jamaat-e-Ahl-e-Sunnat Pakistan bahkan mengancam bahwa siapa saja yang ikut berkabung bakal mengalami nasib serupa. Untuk menurunkan ketegangan yang terjadi di Pakistan, Perdana Menteri Yousuf Raza Gilani menetapkan masa berkabung nasional tiga hari. Perkembangan terakhir kepolisian Pakistan, menurut pengacara Taseer, resmi menetapkan Malik Mumtaz Hussein Qadri, anggota pasukan khusus kepolisian yang juga pengawal pribadi Gubernur Punjab, sebagai pelaku pembunuhan. Malik memberondong Taseer saat menuju mobilnya, belum lama ini, di suatu tempat perbenlanjaan elit, Pasar Kohsar, di Pakistan. Salman Taseer, menurut otopsi, tewas akibat tembakan 29 peluru di hampir seluruh tubuhnya. bas/dari berbagai sumber
Kamis, 24 Maret 2011
Lambas Goeltom Sahabat Menyenangkan
Setelah pulang dari Amerika, 2004, dia datang mengunjungi aku di PGI, Jalan Salemba Raya 10, Jakarta. Kaget. Tak menduga sama sekali. Yang aku tahu, dia berada di Denver, Colorado.
Dia menceritakan suka dan duka selama tinggal di Amerika. Teman kami Lamsihar Simamora disinggung juga dalam ceritanya. Teman kami sewaktu kuliah di “Institut Ilmu Sosial dan Ilmu Politik” (IISIP) Lenteng Agung. Bahkan mereka sempat menerbitkan koran “Indonesia News” berbahasa Indonesia di Colorado. Aku juga ikut sebagai redaktur di Jakarta.
Bagiku Lambas Goeltom adalah sahabat yang baik dan menenangkan. Santun, kalem dan tidak banyak bicara. Meskipun pengalaman jurnalistiknya seabrek-abrek, tapi tetap rendah hati. Bukan hanya di bidang jurnalistik, belahan dunia ini pun sudah banyak dijelajahinya. Pribadi Lambas yang low profile inilah membuatku diam-diam mengaguminya.
Memang, kami sudah lama berteman. Sejak kuliah di IISIP (dulu namanya Sekolah Tinggi Publistik-STP) Sewaktu di kampus kami beda kelompok (bergaul dan tempat nongkrong) Boleh dikatakan antara aku dengan Lambas tidak terlalu akrab. Aku lebih suka bergaul dengan mahasiswa asal Medan. Selain itu, aku kurang betah lama-lama di kampus, karena waktu itu sudah ada kegiatan—wartawan di “Sinar Indonesia Baru” kantornya di Jalan Balikpapan, Jakarta Pusat.
Hubungan akrab dengan Lambas terjalin kembali tujuh tahun lalu. Ketika kami sama-sama di majalah “Devotion” yang diterbitkan, John Bidel Pasaribu. Latar belakang jurnalistiknya dan pengamalaman di luar negeri, tentulah sangat mengena untu penerbitan. Itulah alasanku mengajaknya bergabung.
Waktu itu Lambas ditugasi mengurusi berita luar negeri. Banyak kisah menarik ditulisnya dengan gaya penulisan feature yang enak. Dalam sekejab berita yang dikutip dari internet langsung jadi. Maklum, bahasa Inggrisnya sangat memadai.
Nilai plus yang lain, dia adalah penulis serba bisa. All event! Apa saja yang dia tulis pasti enak dan menarik.
Pernah tulisannya mendapat protes dari pembaca Devotion. Ketika itu Lambas malah tersenyum ketika diceritakan ada yang komplein. Tak gentar sama sekali. “Seorang jurnalis, harus berani menulis berita berdasarkan fakta apa adanya,” kata Lambas waktu itu. Dia juga sangat konsisten menjaga wibawa redaksi. Paling tidak suka kalau ada pihak lain yang ingin intervesi redaksi soal berita. Termasuk wartawan yang coba-coba intervesi kebijakan redaksi.
Persahabatan kami, boleh dikatakan cukup langgeng. Setelah Devotion tutup, Lambas aku ajak bergabung dengan majalah “Suara HKBP.” Semula aku ragu, apa dia mau atau tidak. Soal finansial? Setelah kupaparkan apa adanya, dia bersedia. “Tidak apa-apa, nanti ada saatnya berubah,” jawab Lambas waktu itu.
Hampir lima tahun kami bersama di Suara HKBP. Banyak ide yang dikemukakan untuk memajukan majalah ini. Sampai akhir hidupnya, dia menjabat Pemimpin Redaksi menggantikan Pdt Puji Handoko Aritonang STh.
Lambas juga yang menggagas pada ulang tahun kelima majalah ini, 2010, agar digelar penobatan tokoh Batak. Ide itu disambut baik oleh teman lain. Lambas dengan cekatan membuat proposal dan yang berkaitan dengan penobatan tersebut. Meskipun pada malam penobatan hasilnya tidak maksimal. Dia termasuk yang kecewa.
Sampai Lambas meninggal, panitia HUT Suara HKBP belum dibubarkan. Sebab Lambas tak kunjung sembuh dari sakit. Ketua Panitia Kampler Marpaung, sudah pernah menanyakan soal kesehatan Lambas. Ternyata, sahabat kami Lambas, tidak akan pernah lagi bersama kami untuk selama-lamanya dan tidak akan pernah ikut dalam pembubaran panitia HUT yang digagasnya.
Benar, masih banyak program yang belum terlaksana. Setahun lalu dia merencanakan akan mendirikan komunitas penulis Kristen. Draf proposalnya sudah dikerjakan. Impian itu pun buyar, bersama kepergian sahabat kami yang baik, Lambas.
Malah Maret ini, Lambas seharusnya sebagai narasumber untuk pelatihan penulisan yang diadakan HKBP Duren Sawit. Materi yang akan disampaikan: Wawancara Jurnalistik, Fotografi Jurnalistik dan Teknik Membuat Blog.
Terlalu cepat dia pergi. Aku adalah sahabatnya yang sangat kehilangan. Sepertinya dia belum meninggal. Sosoknya masih terbayang duduk sambil menghadap komputer tempatnya mengetik berita dan tulisan.
Beberapa waktu belakangan ini, dia sudah sering mengeluh, tentang penyakit yang dia derita; gula dan prostat. Sebelumnya, sudah pernah operasi usus buntu. Sejak kadar gulanya tinggi,dia rajin membawa gula sendiri ke kantor.
Ketika kami dari Suara HKBP menyampaikan turut berduka di rumahnya, di Kompleks Perumahan Depsos Pasar Rebo, anaknya Ferrari, 13 tahun (SMP Kelas 1) tampak menangis sesengguhan menyaksikan ayahnya terbujur kaku dalam peti. Sesekali ompunya membelai Ferrari dengan kasih sayang yang tulus. Almarhum lahir di Bandung, 15 Juli 1960. Meninggal, Selasa 15 Februari 2011 di Jakarta.
Meskipun aku sebagai sahabatnya, tidak semua hal diceritakan. Aku punya firasat, selain penyakit yang dideritanya, ada pergumulan batin yang ditutupinya. Tapi, aku tidak pernah berani menanyakannya. Apalagi dia tidak pernah terbuka hal-hal yang pribadi.
Yang aku tahu, dia pekerja keras dan tekun. Sayang, kalau sudah di depan komputer lupa semuanya. Termasuk makan. Rokok adalah sahabatnya paling setia. Secangkir kopi panas selalu mendampinginya. Pemandangan itu tidak akan pernah lagi terlihat di atas mejanya di kantor Redaksi Suara HKBP di Cinere.
Sahabatku, terlalu cepat engkau pergi! Selamat jalan Lambas. baharuddin silaen
Dia menceritakan suka dan duka selama tinggal di Amerika. Teman kami Lamsihar Simamora disinggung juga dalam ceritanya. Teman kami sewaktu kuliah di “Institut Ilmu Sosial dan Ilmu Politik” (IISIP) Lenteng Agung. Bahkan mereka sempat menerbitkan koran “Indonesia News” berbahasa Indonesia di Colorado. Aku juga ikut sebagai redaktur di Jakarta.
Bagiku Lambas Goeltom adalah sahabat yang baik dan menenangkan. Santun, kalem dan tidak banyak bicara. Meskipun pengalaman jurnalistiknya seabrek-abrek, tapi tetap rendah hati. Bukan hanya di bidang jurnalistik, belahan dunia ini pun sudah banyak dijelajahinya. Pribadi Lambas yang low profile inilah membuatku diam-diam mengaguminya.
Memang, kami sudah lama berteman. Sejak kuliah di IISIP (dulu namanya Sekolah Tinggi Publistik-STP) Sewaktu di kampus kami beda kelompok (bergaul dan tempat nongkrong) Boleh dikatakan antara aku dengan Lambas tidak terlalu akrab. Aku lebih suka bergaul dengan mahasiswa asal Medan. Selain itu, aku kurang betah lama-lama di kampus, karena waktu itu sudah ada kegiatan—wartawan di “Sinar Indonesia Baru” kantornya di Jalan Balikpapan, Jakarta Pusat.
Hubungan akrab dengan Lambas terjalin kembali tujuh tahun lalu. Ketika kami sama-sama di majalah “Devotion” yang diterbitkan, John Bidel Pasaribu. Latar belakang jurnalistiknya dan pengamalaman di luar negeri, tentulah sangat mengena untu penerbitan. Itulah alasanku mengajaknya bergabung.
Waktu itu Lambas ditugasi mengurusi berita luar negeri. Banyak kisah menarik ditulisnya dengan gaya penulisan feature yang enak. Dalam sekejab berita yang dikutip dari internet langsung jadi. Maklum, bahasa Inggrisnya sangat memadai.
Nilai plus yang lain, dia adalah penulis serba bisa. All event! Apa saja yang dia tulis pasti enak dan menarik.
Pernah tulisannya mendapat protes dari pembaca Devotion. Ketika itu Lambas malah tersenyum ketika diceritakan ada yang komplein. Tak gentar sama sekali. “Seorang jurnalis, harus berani menulis berita berdasarkan fakta apa adanya,” kata Lambas waktu itu. Dia juga sangat konsisten menjaga wibawa redaksi. Paling tidak suka kalau ada pihak lain yang ingin intervesi redaksi soal berita. Termasuk wartawan yang coba-coba intervesi kebijakan redaksi.
Persahabatan kami, boleh dikatakan cukup langgeng. Setelah Devotion tutup, Lambas aku ajak bergabung dengan majalah “Suara HKBP.” Semula aku ragu, apa dia mau atau tidak. Soal finansial? Setelah kupaparkan apa adanya, dia bersedia. “Tidak apa-apa, nanti ada saatnya berubah,” jawab Lambas waktu itu.
Hampir lima tahun kami bersama di Suara HKBP. Banyak ide yang dikemukakan untuk memajukan majalah ini. Sampai akhir hidupnya, dia menjabat Pemimpin Redaksi menggantikan Pdt Puji Handoko Aritonang STh.
Lambas juga yang menggagas pada ulang tahun kelima majalah ini, 2010, agar digelar penobatan tokoh Batak. Ide itu disambut baik oleh teman lain. Lambas dengan cekatan membuat proposal dan yang berkaitan dengan penobatan tersebut. Meskipun pada malam penobatan hasilnya tidak maksimal. Dia termasuk yang kecewa.
Sampai Lambas meninggal, panitia HUT Suara HKBP belum dibubarkan. Sebab Lambas tak kunjung sembuh dari sakit. Ketua Panitia Kampler Marpaung, sudah pernah menanyakan soal kesehatan Lambas. Ternyata, sahabat kami Lambas, tidak akan pernah lagi bersama kami untuk selama-lamanya dan tidak akan pernah ikut dalam pembubaran panitia HUT yang digagasnya.
Benar, masih banyak program yang belum terlaksana. Setahun lalu dia merencanakan akan mendirikan komunitas penulis Kristen. Draf proposalnya sudah dikerjakan. Impian itu pun buyar, bersama kepergian sahabat kami yang baik, Lambas.
Malah Maret ini, Lambas seharusnya sebagai narasumber untuk pelatihan penulisan yang diadakan HKBP Duren Sawit. Materi yang akan disampaikan: Wawancara Jurnalistik, Fotografi Jurnalistik dan Teknik Membuat Blog.
Terlalu cepat dia pergi. Aku adalah sahabatnya yang sangat kehilangan. Sepertinya dia belum meninggal. Sosoknya masih terbayang duduk sambil menghadap komputer tempatnya mengetik berita dan tulisan.
Beberapa waktu belakangan ini, dia sudah sering mengeluh, tentang penyakit yang dia derita; gula dan prostat. Sebelumnya, sudah pernah operasi usus buntu. Sejak kadar gulanya tinggi,dia rajin membawa gula sendiri ke kantor.
Ketika kami dari Suara HKBP menyampaikan turut berduka di rumahnya, di Kompleks Perumahan Depsos Pasar Rebo, anaknya Ferrari, 13 tahun (SMP Kelas 1) tampak menangis sesengguhan menyaksikan ayahnya terbujur kaku dalam peti. Sesekali ompunya membelai Ferrari dengan kasih sayang yang tulus. Almarhum lahir di Bandung, 15 Juli 1960. Meninggal, Selasa 15 Februari 2011 di Jakarta.
Meskipun aku sebagai sahabatnya, tidak semua hal diceritakan. Aku punya firasat, selain penyakit yang dideritanya, ada pergumulan batin yang ditutupinya. Tapi, aku tidak pernah berani menanyakannya. Apalagi dia tidak pernah terbuka hal-hal yang pribadi.
Yang aku tahu, dia pekerja keras dan tekun. Sayang, kalau sudah di depan komputer lupa semuanya. Termasuk makan. Rokok adalah sahabatnya paling setia. Secangkir kopi panas selalu mendampinginya. Pemandangan itu tidak akan pernah lagi terlihat di atas mejanya di kantor Redaksi Suara HKBP di Cinere.
Sahabatku, terlalu cepat engkau pergi! Selamat jalan Lambas. baharuddin silaen
Islam dan Kristen Doa Bersama di Mesir
Setelah kaum muslimin menunaikan salat, mereka memberi kesempatan kepada umat Kristen melakukan misa. Hari itu Minggu siang di Kairo.
Imam berjubah Al-Azhar yang baru saja memimpin salat, tampak membantu Pdt Fauzi Khalil naik ke kursi yang semula dipakai muazin. Pendeta membuka doa kecilnya, lalu memulai misa. “Bismillah, dengan namaMu ya Bapa yang ada di surga…”
Pdt Fauzi, membaca Mazmur, kemudian menutup misa di Midan Tahrir (Medan Merdeka) dengan doa. Ribuan orang, Islam dan Kristen mengamini doa tersebut. Seorang wanita berjilbab ikut mengangkat tangan dan mengucapkan amin setiap doa dipanjatkan.
Sebenarnya, di luar Tahrir sekalipun kerukunan antarumat beragama di Mesir terjaga baik. Hampir tidak pernah ada bentrok antara umat Kristen dan Islam. Sejumlah bentrokan di bagian selatan Mesir lebih dipicu oleh soal tanah dan keluarga, bukan soal agama.
Memang ada beberapa kali bom di gereja. Seperti pada saat tahun baru lalu. Bom meledak seusai misa tahun baru di Gereja AL-Qeddesine (Gereja Dua Santo) Setidaknya 23 orang tewas dan sekitar 90 orang cedera dalam insiden itu.
“Tapi saya tak pernah yakin itu dilakukan oleh kelompok Islam,” kata Pdt Fauzi seperti dikutip Tempo. Pdt Fauzi kemudian menghampiri Syekh Salahuddin dari Al-Azhar dan menyalaminya. “Kami akan menjaga gereja, itu tanggung jawab kami,” kata Syekh Salahuddin.
Bukan hanya Fauzi yang mempercayai hal itu. Mikail Munir, seorang demonstran beragama Kristen, mengatakan bahwa yang menekan rakyat Mesir, Islam atau Kristen adalah pemerintah. Ini dibuktikan selama hampir dua minggu demonstrasi, ketika polisi menghilang entah ke mana, justru tak ada serangan terhadap gereja-gereja.”Kami, rakyat yang menjagannya bersama-sama,” ujar Mikail.
Umat Kristen di Mesir memang minoritas, hanya 10 persen dari 80 juta penduduk. Tapi, mereka adalah kelompok Kristen terbesar di Timur Tengah. Sekitar 95 persen umat Kristen di Mesir warga Gereja Ortodoks Komptik Aleksandria. Mereka punya paus sendiri, namanya Baba (Pope) Shenouda III, yang sudah 40 tahun menjabat. Agama ini ada di mesir sejak abad pertama Masehi, jauh sebelum Islam masuk enam abad kemudian. Keberadaan umat Krsiten amat mudah dikenali dengan tato di atas nadi. Seperti halnya Pdt Fauzi Khalil, punya tato salib di atas urat nadi tangan kanan.
Kelompok Islam garis keras seperti Ikhwanul Muslimin sekalipun, punya hubungan kuat dengan Gereja Koptik. Saat Hassan al-Banna, pendiri Al-Ikhwan, meninggal, satu-satunya pejabat tinggi negara yang mengantar jenazahnya adalah Makram Obeid, hakim agung beragama Kristen yang rajin membaca Al-Quran. Saat Natal Koptik, 7 Januari lalu, para pemimpin Al-Ikhwan mendatangi pemimpin Gereja Aleksandria. Ketika Ramadan, giliran para pendeta ikut berpuka puasa bersama mereka.
Kebersamaan dan rasa persaudaraan begitu terlihat. Ketika terjadi serangan bom tahun baru di gereja, jutaan warga Mesir memasang logo “Mesir untuk Semua” di foto profil Facebook mereka.
Bahkan, ketika unjuk rasa menentang Mubarak di Midan Tahrir , ratusan bendera dengan simbol bulan sabit dan salib berkibar, melambangkan persatuan Islam dan Kristen.
“Baju” yang berbeda tak memisahkan mereka. Bahkan ‘baju’ seolah dilepas. Mereka bersama berusaha mencapai tujuan mulia untuk negeri yang lebih baik. Baik Fauzi maupun Salahuddin mengatakan, apa yang mereka lakukan di Tahrir ini adalah atas pribadi. Lembaga yang menaungi mereka, Gereja Koptik dan Al-Azhar, memang tidak tegas mendukung demonstrasi di Tahrir, apalagi setelah Mubarak menyatakan akan mundur September mendatang.
Mungkin karena tak ada wakil dari gereja inilah, panitia demonstrasi membuat badan khusus umat Kristen. Untuk umat Kristen, koordinator demonstrasi menyediakan sayap khusus bernama Munazhim Aqbath (Koordinator Koptik) Merekalah yang mengoordinasi sembahyang bagi umat Kristen dan mendatangkan pendeta ke Tahrir.
Begitu juga di luar Minggu, kita bisa mendapati spanduk-spanduk yang menggugah rasa persatuan. “Lihat, kami semua bersatu,” kata novelis dan aktivis feinisme Nawal el-Saadawi, sambil menunjuk poster yang dibawa perempuan berjilbab besar berbunyi: “Muslim, Nasrani, kita semua satu.”
Mereka merasa perlu menegaskan persatuan itu, karena ada upaya membelokkan revolusi ini menjadi revolusi Islam. Pemerintah Mesir menuduh Ikhwanul Muslimin ada balik krisis politik ini. Adapun pemimpin tertinggi Iran, Ayatullah Ali Khamenei, mengatakan, demonstrasi di Mesir adalah revolusi Islam.
Tapi, semua yang hadir di Tahrir tahu suara yang mereka teriakkan tak mengenal agama. Juga pria yang patah kakinya dan sesenggukan setelah misa. “Perlawanan ini membuat kami semakin bersatu,” kata pria itu.
Di sekitar kami, orang sudah ramai menriakkan yel-yel persatuan. “Demi Injil, demi Al-Quran, Mubarak harus keluar.” Atau, “Ya Muhammad, ya Paulus, Mubarak tak boleh terus.”
Sejumlah salib dan Al-Quran juga diangkat bersama-sama dengan latar belakang bendera Mesir berwarna merah, putih dan hitam serta gambar elang di tengahnya tampak berkibar-kibar menghias langit Mesir. baharuddin s
Imam berjubah Al-Azhar yang baru saja memimpin salat, tampak membantu Pdt Fauzi Khalil naik ke kursi yang semula dipakai muazin. Pendeta membuka doa kecilnya, lalu memulai misa. “Bismillah, dengan namaMu ya Bapa yang ada di surga…”
Pdt Fauzi, membaca Mazmur, kemudian menutup misa di Midan Tahrir (Medan Merdeka) dengan doa. Ribuan orang, Islam dan Kristen mengamini doa tersebut. Seorang wanita berjilbab ikut mengangkat tangan dan mengucapkan amin setiap doa dipanjatkan.
Sebenarnya, di luar Tahrir sekalipun kerukunan antarumat beragama di Mesir terjaga baik. Hampir tidak pernah ada bentrok antara umat Kristen dan Islam. Sejumlah bentrokan di bagian selatan Mesir lebih dipicu oleh soal tanah dan keluarga, bukan soal agama.
Memang ada beberapa kali bom di gereja. Seperti pada saat tahun baru lalu. Bom meledak seusai misa tahun baru di Gereja AL-Qeddesine (Gereja Dua Santo) Setidaknya 23 orang tewas dan sekitar 90 orang cedera dalam insiden itu.
“Tapi saya tak pernah yakin itu dilakukan oleh kelompok Islam,” kata Pdt Fauzi seperti dikutip Tempo. Pdt Fauzi kemudian menghampiri Syekh Salahuddin dari Al-Azhar dan menyalaminya. “Kami akan menjaga gereja, itu tanggung jawab kami,” kata Syekh Salahuddin.
Bukan hanya Fauzi yang mempercayai hal itu. Mikail Munir, seorang demonstran beragama Kristen, mengatakan bahwa yang menekan rakyat Mesir, Islam atau Kristen adalah pemerintah. Ini dibuktikan selama hampir dua minggu demonstrasi, ketika polisi menghilang entah ke mana, justru tak ada serangan terhadap gereja-gereja.”Kami, rakyat yang menjagannya bersama-sama,” ujar Mikail.
Umat Kristen di Mesir memang minoritas, hanya 10 persen dari 80 juta penduduk. Tapi, mereka adalah kelompok Kristen terbesar di Timur Tengah. Sekitar 95 persen umat Kristen di Mesir warga Gereja Ortodoks Komptik Aleksandria. Mereka punya paus sendiri, namanya Baba (Pope) Shenouda III, yang sudah 40 tahun menjabat. Agama ini ada di mesir sejak abad pertama Masehi, jauh sebelum Islam masuk enam abad kemudian. Keberadaan umat Krsiten amat mudah dikenali dengan tato di atas nadi. Seperti halnya Pdt Fauzi Khalil, punya tato salib di atas urat nadi tangan kanan.
Kelompok Islam garis keras seperti Ikhwanul Muslimin sekalipun, punya hubungan kuat dengan Gereja Koptik. Saat Hassan al-Banna, pendiri Al-Ikhwan, meninggal, satu-satunya pejabat tinggi negara yang mengantar jenazahnya adalah Makram Obeid, hakim agung beragama Kristen yang rajin membaca Al-Quran. Saat Natal Koptik, 7 Januari lalu, para pemimpin Al-Ikhwan mendatangi pemimpin Gereja Aleksandria. Ketika Ramadan, giliran para pendeta ikut berpuka puasa bersama mereka.
Kebersamaan dan rasa persaudaraan begitu terlihat. Ketika terjadi serangan bom tahun baru di gereja, jutaan warga Mesir memasang logo “Mesir untuk Semua” di foto profil Facebook mereka.
Bahkan, ketika unjuk rasa menentang Mubarak di Midan Tahrir , ratusan bendera dengan simbol bulan sabit dan salib berkibar, melambangkan persatuan Islam dan Kristen.
“Baju” yang berbeda tak memisahkan mereka. Bahkan ‘baju’ seolah dilepas. Mereka bersama berusaha mencapai tujuan mulia untuk negeri yang lebih baik. Baik Fauzi maupun Salahuddin mengatakan, apa yang mereka lakukan di Tahrir ini adalah atas pribadi. Lembaga yang menaungi mereka, Gereja Koptik dan Al-Azhar, memang tidak tegas mendukung demonstrasi di Tahrir, apalagi setelah Mubarak menyatakan akan mundur September mendatang.
Mungkin karena tak ada wakil dari gereja inilah, panitia demonstrasi membuat badan khusus umat Kristen. Untuk umat Kristen, koordinator demonstrasi menyediakan sayap khusus bernama Munazhim Aqbath (Koordinator Koptik) Merekalah yang mengoordinasi sembahyang bagi umat Kristen dan mendatangkan pendeta ke Tahrir.
Begitu juga di luar Minggu, kita bisa mendapati spanduk-spanduk yang menggugah rasa persatuan. “Lihat, kami semua bersatu,” kata novelis dan aktivis feinisme Nawal el-Saadawi, sambil menunjuk poster yang dibawa perempuan berjilbab besar berbunyi: “Muslim, Nasrani, kita semua satu.”
Mereka merasa perlu menegaskan persatuan itu, karena ada upaya membelokkan revolusi ini menjadi revolusi Islam. Pemerintah Mesir menuduh Ikhwanul Muslimin ada balik krisis politik ini. Adapun pemimpin tertinggi Iran, Ayatullah Ali Khamenei, mengatakan, demonstrasi di Mesir adalah revolusi Islam.
Tapi, semua yang hadir di Tahrir tahu suara yang mereka teriakkan tak mengenal agama. Juga pria yang patah kakinya dan sesenggukan setelah misa. “Perlawanan ini membuat kami semakin bersatu,” kata pria itu.
Di sekitar kami, orang sudah ramai menriakkan yel-yel persatuan. “Demi Injil, demi Al-Quran, Mubarak harus keluar.” Atau, “Ya Muhammad, ya Paulus, Mubarak tak boleh terus.”
Sejumlah salib dan Al-Quran juga diangkat bersama-sama dengan latar belakang bendera Mesir berwarna merah, putih dan hitam serta gambar elang di tengahnya tampak berkibar-kibar menghias langit Mesir. baharuddin s
Langganan:
Postingan (Atom)
