Senin, 28 Maret 2011

Empati

Empati, suatu sikap humanis (nilai-nilai kemanusiaan) yang termasuk disenangi beberapa sarjana komunikasi saat proses komunikasi, termasuk pada tingkat komunikasi antarpribadi. Sebut misalnya, Yoseph DeVito yang menempatkan empati dalam tabel perspektif humanistis. Stephen W Littlejohn dan Karen A Maros, keduanya adalah profesor di Univercity of New Mexico termasuk di antara sarjana tersebut. Paparan kedua profesor ini dituangkan dalam buku “Theories of Human Communication.” Sudah diterjemahkan ke bahasa Indonesia, 2009. Empati adalah suatu sikap yang dimiliki seseorang yang senantiasa berorientasi pada posisi orang lain. Hanya saja, memposisikan diri terhadap peranan orang lain bukanlah hal gampang. Soalnya, memahami orang lain atau kelompok yang ada di di luar kelompok kita dibutuhkan kerelaan berkorban yang terkait dengan status—pangkat, jabatan dan kekuasaan. Pada tahap berkorban seperti inilah kesulitan serta benturan kepentingan kerap muncul membayangi rasa empati seseorang. Biasanya yang tampil kepermukaan adalah sifat egoistis dan kemudian sifat ini berupaya menghalangi sikap empati menjadi sebatas simpati saja. Hanya sebatas ucapan, lips service. Aduh kasihan! Apalagi kalau status sosialnya jauh lebih tinggi daripada orang yang ada di sekitarnya—ada kesulitan menanggalkan status (pangkat, jabatan, kekuasaan) yang disandangnya. Jangankan melepaskan atribut sosial, melepas gelar yang disandang pun kadang kala susahnya minta ampun. Lucunya, marah-marah ketika gelarnya tidak dicantumkan di depan namanya. Padahal, tidak selalu gelar kesarjanaan harus dicantumkan di depan nama atau di belakang nama. Kecuali berkaitan dengan konteks keilmuan. Di Amerika misalnya, jarang orang mencantumkan gelarnya. Paling kalau dia profesor atau doktor, itu pun langka. Tapi ketika menjadi anggota arisan, ronda kampung, panitia pajongjong tugu, daftar lelang apa perlunya gelar dicantumkan? Membuka maupun melepas atribut bagi seseorang tidak ada kompromi, tapi malah kondisi seperti inilah membentuk kepribadian seseorang menjadi lebih penting, hebat, unggul daripada orang lain. Anehnya, sifat seperti itu ternyata tidak diam dalam suatu wilayah tertertu, tapi juga merambah ke bagian lain. Contoh, agama sayalah yang paling baik, agama orang lain tidak ada apa-apanya, budaya kamilah yang paling hebat, budaya orang lain tidak becus, kelompok kamilah yang paling bagus, kelompok orang lain jelek, partai kamilah yang paling merakyat, partai orang lain hanya mementingkan golongannya. Apabila sifat serba “hebat” ini terus dilakoni dalam pergaulan akan terbentuk suatu perilaku yang dominan terhadap komunitas yang lebih kecil. Beriringan dengan itu, simbol dan lambang keperkasaan dari yang lebih dominan pun ikut heboh menghias ruang publik meskipun terasa dipaksakan. Simbol-simbol itu sekaligus bukti bahwa mereka berkuasa. Sebab, dari balik simbol yang dipamerkan ada pesan komunikasi yang kurang lebih “kami ada di daerah ini dan taatilah aturan kami.” Bukan itu saja, kadang simbol atau lambang tersebut membuat orang lain menjadi gamang dan takut—tidak merasa nyaman berada di wilayah itu. Pemaksaan lambang, simbol atau atribut di ruang umum adalah bentuk lain dari perampasan nilai kebersamaan yang seharusnya dilindungi dan dirawat bersama. Strategi komunikasi yang begini adalah wajah lain dari kesewewenangan yang dipicu nafsu semata. Menurut teori Thomas Hobbes, ahli filsafat dan ahli politik Inggris, manusia pada mulanya dikuasai nafsunya sehingga sifatnya mirip serigala (lupus) yang tak segan-segan memakan kawannya sendiri (homo homini lupus) Gambaran homo homini lupus masih sering terjadi di belahan dunia ini tidak terkecuali Indonesia. Banyak contoh yang dapat disaksikan dalam praktek kekuasaan yang didominasi kelompok besar dan berkuasa. Mulai dari kasus Bank Century, kasus Gayus Tambunan dan tragedi Koja, Tanjung Priok. Peristiwa di kawasan Makam Mbah Priuk, Koja, Jakarta Utara, salah satu contoh yang sangat releven dengan teori Thomas Hobbes. Adegan saling membantai, memangsa, memakan, membacok, membunuh kawannya sendiri. Padahal tak perlu terjadi tragedi itu, seandainya setiap orang mendahulukan sikap empati. Sebab, empati adalah salah satu sikap mulia dan kesatria yaitu memahami orang lain dengan cara masuk ke dalam diri orang itu. Empati dapat mencairkan komunikasi yang beku di antara dua pihak yang bertikai. Karena empati dapat merasakan langsung, terlibat langsung (action) ke dalam pribadi orang lain sehingga benar-benar dapat memahami orang tersebut. Bukan hanya memahami dari bagian luar atau kulitnya. Hanya melihat dari permukaan bisa tertipu seperti fata morgana, hanya banyangan semu—inti persoalan tidak jelas. Inilah nasehat Yesus yang sangat empati. “Dan sebagaimana kamu kehendaki supaya orang perbuat kepadamu, perbuatlah juga demikian kepada mereka.” (Lukas 6:31) baharuddin silaen

Menigkatkan Emosional Anak

Kecerdasan emosional (emotion quotient) adalah kemampuan mengetahui emosi yang dirasakan serta mampu mengendalikannya. Emotion quotient ini menyangkut kemampuan mengatur suasana hati, mengendalikan kemarahan serta rasa takut, berempati dengan orang lain, bertahan saat stres dan tetap mampu berpikir rasional serta tidak berlebihan saat senang. Orang tua adalah pelatih utama emotion quotient (EQ) anak. Pada tahap ini yang perlu dilakukan orang tua adalah memahami emosi anak dan menjelaskan apa yang dirasakan. Misalnya, ketika anak marah, usahakan dia tau apa yang sedang dirasakannya. Lontarkan beberapa pertanyaan saat dia mengalami emosi kuat. “Kamu kesal ya?” “Lagi sedih? “Kamu lagi marah sama temanmu?” Mengenal emosi yang dirasakan anak langkah penting dalam mengelola emosinya. Menyadarkan anak lalu mengambil respon positif dari setiap emosi yang dialaminya. Hindari menghina anak. Seperti mengucapkan, “kog begitu aja marah?” “Bikin malu saja, soal kecil bikin kamu ngamuk seperti itu? “Sudah jangan nangis kayak anak kecil aja!” Respon seperti itu membuat anak menutup emosi, menghindari dan malah membuat respon berlebihan jika emosinya tak mampu dibendung lagi. Perlu diperhatikan orang tua, jangan biarkan anak menumpahkan emosinya tanpa batas. Seperti merusak mainan, membongkar semua isi lemari dan menginjak-injak bajunya karena kesal. Ini adalah bentuk pelepasan emosi yang tak terkendali. Orang tua harus mengendalikannya selaku pelatih EQ anak. Hal lain yang penting diperhatikan orang tua. Jangan menghina anak jika mengalami emosi marah atau takut atau terlalu sedih. Jangan abaikan perasaan anak dan malah menawarkan “suap” seperti kue atau permen saat anak sedih atau marah. Jangan biarkan secara ekstrim anak menumpahkan kekesalannya, seperti membiarkan anak merusak mainannya saat kesal. Duduklah bersama anak, pahami perasaannya, kemudian bantu anak menemukan cara efektif menurunkan emosinya. Adakalanya, tanpa banyak bicara, hadir bersama anak dan memahami apa yang dirasakan sangat membantu anak. Lakukan hal kreatif dan tawarkan pada anak cara mengelola emosinya. Upayakan jangan ada paksaan, tapi biarkan anak memilih sendiri. Sangat baik dan benar, apabila orang tua menjadi pendengar efektif dan biarkan anak mengatakan apa yang dirasakan. Sangat bijak, apabila orang tua meluangkan waktu berdua dan biarkan anak aman dan nyaman dengan kehadiran Anda. Orang tua harus terbuka dan peka dengan emosi anak. Kedekatan emosi dalah langkah lain yang perlu dilakukan orang tua. Selain itu, meluangkan waktu bersama anak dan melakukan hal yang disukainya termasuk cara ampuh pengajaran EQ. Orang tua selaku pelatih EQ anak harus menunjukkan keberanian luar biasa. Membantu anak memahami emosinya secara tak langsung menjadikan Anda juga sadar akan emosi yang dialami. Langkah ini bukan saja menjadikan anak bahagia, tapi juga mendorong orang tua lebih bahagia. Anak yang dibesarkan oleh orang tua yang paham emosi akan tumbuh menjadi anak yang menunjukkan banyak kasih sayang dan tak banyak berbenturan dengan orang tuanya. Anak akan lebih bahagia dan jauh dari hal berbahaya seperti penggunaan obat terlarang. Meningkatkan EQ anak adalah langkah penting yang bukan saja membuat anak jadi orang bermanfaat bagi masyarakat, juga orang tua yang lebih paham dan mencitai diri apa adanya. Sering orang tua berpendapat, anak yang intelligence quotient (IQ) kecerdasan intelegensi tinggi akan berhasil dalam hidupnya kelak. Pendapat itu tidaklah selamanya benar. Karena itu jangan anggap remeh terhadap emotion quotient (EQ) kecerdasan emosional anak. Ternyata di dunia kerja, orang dengan kecerdasan emosional (EQ) tinggi malah diminati banyak perusahaan. Manejer yang andal tak hanya jago mengelola pekerjaan timnya, tapi juga mengendalikan emosi saat memimpin dan beriteraksi. Anak dengan EQ tinggi tidak patah di saat sulit tapi bertahan dan semakin dewasa. Dia mampu bangkit kembali dalam waktu singkat dan jadi lebih berhasil. Sifat seperti itulah yang ditemukan pada pribadi anak yang memiliki EQ yang tinggi. Ada pendapat bahwa IQ nyaris tetap. IQ anak tidaklah berubah banyak saat dia dewasa. Lain halnya dengan EQ yang masih bisa ditingkatkan. Orang tua bisa membantu anak agar kecerdasan emosionalnya bertambah. EQ bisa dipelajari dan dilatih. Bicara soal emosi dan otak, tidak lepas dari soal amigdala. Amigdala adalah pusat memori yang menggantikan emosi dengan seluruh kejadian atau situasi yang dialami. Ini adalah bagian otak yang membuat kita bertindak tanpa sempat berpikir. Misalnya tiba-tiba menceburkan diri ke kolam renang saat melihat anak tenggelam. Ini terjadi tanpa sempat kita memoroses langkah apa yang dilakukan. Memutuskan terjun ke kolam renang adalah tindakan yang diambil tanpa melalui bagian otak rasional. Ini dilakukan oleh bagian otak emosional kita dalam waktu sangat cepat. Amigdala adalah pusat segala hal yang berkaitan dengan emosi. Amigdala menyisipkan semua kenangan dan respons emosi pada setiap kejadian, situasi atau benda. Bau melati menyisipkan kenangan wangi nenek serta rasa nyaman bersamanya. Bau densol mengingatkan perasaan tak enak dan menderita waktu di rumah sakit. Hidung dan mata kita menangkap bau serta benda yang dilihat. Informasi ini kemudian dikirim ke thalamus. Di thalamus sinyal ini dikirim ke neokorteks. Ini yang membuat amigdala lebih berperan dalam merespon yang kita lakukan saat genting. Artinya emsoi bisa jadi penentu respon yang diambil. Bagian otak paling primitif manusia adalah pusat emosi, dari batang otak terbentuklah pusat emosi. Kemudian baru jutaan evolusi manusia, neokorteks atau bagian otak untuk berpikir analitis dan rasional tumbuh di atasnya. Jadi, emosi adalah bagaian paling tua dan sudah ada sebelum adanya otak rasional. Ini juga membuat kita sadar bahwa emosi memegang peranan penting dalam kebahagian hidup. bas/healthylife

Sumber Petaka Merebakdari Jantung Keagamaan

Semua agama mengkalaim dirinya pembawa damai, menolak kekerasan dan menerima perbedaan sebagai anugerah. Sayang klaim damai yang digemborkan masih sekedar teori, yang kelihatan justru sikap mencurigai yang berujung petaka. Anehnya, justru dari jantung keagamaan itu sendiri sumber pertikaian bagi umat manusia yang sama-sama beragama. Apa sebenarnya pemicu sentimen agama ini? Langkah apa yang ditempuh meredam konflik agama di tengah masyarakat majemuk seperti Indonesia? Suara HKBP mewancari Pdt Willem TP Simarmata MA, mantan Sekretaris Jenderal HKBP (1998-2004 dan 2004-2008) Ketua Umum PGI Wilayah Sumatera Utara (1999-2005 dan 2005-2011) dan Ketua Umum FKKGSU (2007-2012) Berikut ini petikan wancara itu. Apa sebenarnya fungsi agama di tengah masyarakat majemuk? Begini, agama sebenarnya bukanlah sesuatu yang asing bagi kemanusian dengan segala persoalannya. Apa pun bentuknya agama sangat erat hubungannya dengan manusia. Ia bukan agama kalau tidak manusiawi. Ia dibentuk dan dilembagakan oleh manusia tetapi substansinya serta ajarannya tidak bisa dilepaskan dari manusia sebab ajarannya bersumber dari Tuhan. Agama tidak hanya berbicara soal hubungan antara Allah dan manusia , tetapi juga soal hubungan antarmanusia bahkan dengan seluruh ciptaan Allah. Fungsi agama adalah panduan bagi umat manusia bagaimana ber-Tuhan, bermasyarakat dan memperlakukan sesama umat manusia. Benarkah agama mendukung tegaknya keadilan dan kesejahteraan masyarakat? Benar! Agama mendukung tegaknya keadilan dan berupaya memajukan kesejahteraan masyarakat. Tidak ada satu agama pun di dunia ini yang tidak mendukung tercipatnya keadilan dan kesejahteraan bagi manusia. Karena itu agama harus mampu saling merangkul, seperti negara kita Indonesia penduduknya majemuk, sifat-sifat saling menghargai dan menghormati itu harus terus ditingkatkan. Supaya hal itu dapat terwujud, lembaga keaagamaan melalui tokoh agama harus bekerja keras mendukung semua aspek yang dapat menegakkan keadilan tersebut. Bagaimana Anda melihat ketika orang beragama merusak rumah ibadah, apakah ini keadilan? Dalam kasus ini, saya melihat ada pemahaman yang kurang terbuka terhadap agama yang berbeda. Sebenarnya harus dipahami, agama tidak dapat dipisahkan dari masyarakat. Ini menjadi persolan, ketika agama disalahartikan secara sempit—hanya sarana mengagungkan nama Tuhan atau hanya “menyenangkan” hati Tuhan, tapi lupa terhadap sesama umat manusia yang ada di sekitarnya. Seolah-olah agama adalah urusan Tuhan. Ini pulalah pemicu kebencian sehingga tidak segan-segan mengorbankan yang lain karena berbeda agama dan merusak rumah ibadah karena bukan satu agama. Apa yang salah? Penafsiran barangkali yang keliru. Kemudian, perlu dihindarkan, jangan sampai agama identik dengan tumpukan larangan atau hukum terhadap perbuatan yang tidak benar. Ajaran agama sejatinya menjadi inspirasi bagi umat untuk melakukan hal-hal positif kepada sesama umat beragama. Apa yang harus dilakukan, supaya impian itu terwujud? Pemimpin agama harus terus menerus menjelaskan kepada umatnya, orang beragama harus bertanggung jawab kepada sesama meskipun berbeda keyakinan untuk memajukan keadilan, kebersamaan, kesejukan sehingga terbentuk kehidupan masyarakat yang lebih baik serta bermartabat, damai dan rukun. Seperti itulah pantasnya gambaran kehidupan umat yang mengaku beragama. Agaknya, tidak salah mencontoh apa yang dilakukan agama lain dalam perihal berbuat baik terhadap yang lain. Hampir semua pemimpin agama mengklaim bahwa ajaran agama apa pun menolak kekerasan apalagi membunuh, apakah Anda melihat itu sudah terwujud di Indonesia? Pertama yang perlu diperhatikan adalah peranan agama itu sendiri, harus dilihat dari sudut positif. Dengan demikian tumbuhlah saling meghargai. Tapi kalau agama selalu dilihat dari sisi negatif yang muncul malah sikap curiga. Bagaimana mau duduk bersama kalau terus-menerus ditanamkan sifat negatif terhadap agama tertentu. Dalam suatu bangsa dan negara majemuk, siapa pun dia, harus melihat sumbangan agama di Indonesia sangat nyata dalam membangun kehidupan umat, baik spiritual maupun moral masyarakat. Karena itu harus mampu menghargai perbedaan yang ada. Perbedaan bukan awal dari perlawanan dan permusuhan. Agama-agama berbeda karena sejarah manusia memang berbeda. Umat manusia diciptakan Tuhan tidak sama, makanya ada perbedaan dan perbedaan itu harus diterima sebagai anugerah bukan persoalan? Kalau hal ini dipahami bersama, suasana hidup umat beragama di Indonesia akan bertambah indah dan sikap saling mendukung serta menghormati pun tidak lagi hanya impian belaka. Jangan-jangan agama Kristen pun ikut bikin masalah? Makanya, jangan hanya melihat kesalahan agama orang lain, kita pun perlu intropeksi secara kritis terhadap penampilan agama kita (Kristen) Siapa tau di dalamnya ada sikap dan perilaku yang merugikan masyarakat atau barangkali mengancam persatuan umat beragama. Siapa tau justru kita sendiri yang mengundang pihak lain membeci dan mencurigai ajaran yang kita anut. Saya pikir kualitas iman perlu terus dibina jangan hanya menambah jumlah umat yang dikejar. Pemimpin agama jangan hanya mengejar target agar pengikut Kristus terus bertambah dan banyak jiwa yang diselamatkan, tapi lupa mengajarkan bagaimana selayaknya umat Kristen hidup dengan umat yang berbeda agama. Agar sikap netral gereja tetap terjaga, sebaiknya posisi gereja bagaimana? Gereja harus cerdas jangan sampai terbawa arus kelompok dan partai tertentu sehingga menjadi sumber konflik. Ini yang musti dihindari, agar gereja jangan sampai terseret kepada posisi diperalat bagi kepentingan pihak tertentu. Dengan begitu indepensi kenetralan gereja tidak terusik oleh kekuatan dari luar. Harus juga dijaga, gereja bersama dengan lembaga keagamaan lainnya jangan menyerahkan moralitas politik kepada elit politik begitu saja. Sebab, keikutsertaan gereja dan lembaga keagamaan lainnya dalam kehidupan berbangsa dan bernegara adalah menegakkan dimensi moral dan etika. Jangan lupa, bangsa atau negara tanpa moral dan etika akan selalu menghasilkan penyalahgunaan kekuasaan menindas sesama warga masyarakat. Langkah apa sebaiknya yang harus dilakukan dalam hal ini gereja di tengah masyarkat majemuk. Pendapat Anda? Saya pikir, gereja perlu mendalami teologi yang dianut, apakah mencerminkan perilaku inklusif atau eksklusif? Harus diingat, klaim kebenaran hanya milik kelompok sendiri adalah bentuk arogansi yang mengganggu kebersamaan. Pimpinan gereja harus berfungsi sebagai nabi yang memegang peran kontrol sosial dan pengawal demokrasi. Gereja juga harus peduli dan punya program jelas terhadap persoalan kemiskinan, HAM, korban bencana alam, dan korban HIV/AIDS. Gereja juga harus tegas terhadap tindakan anarkisme yang melawan hukum adalah juga sesuatu yang harus diwaspadai, sebab pada akhirnya akan mengganggu kebersamaan di tengah-tengah bangsa. Anda punya ide yang harus segera dilakukan gereja ke depan? Ya, saya punya ide, supaya ditinjau dan dirumuskan kembali teologi yang dianut gereja. Tapi, rumusan itu sebaiknya hasil langsung dialog dengan konteks masyarakat plural, termasuk menempatkan umat lain dalam rumusan. Saya pikir, gereja pun perlu merumuskan ulang pemahaman akan misinya. Termasuk strategi penginjilannya harus dalam konteks masyarakat majemuk. Selain merumuskan ulang teologi, apa lagi menurut Anda yang mendesak dilakukan gereja? Dialog. Saya pikir ini yang mendesak, gereja harus semakin terbuka kepada dialog. Dialog yang kita maksud bukan hanya sekedar diskusi dan percakapan atau seminar tetapi juga menyangkut kesediaan menerima keberadaan umat lain, sehingga bisa saling belajar dan memahami pengalaman rohani umat lain. Bagaimana dengan kurikulum pendidikan teologi, apakah ini juga penting ditinjau kembali? Tentu sangat penting. Kurikulum pendidikan teologi di berbagai perguruan teologi termasuk buku pelajaran di gereja perlu disesuaikan dengan tantangan zaman. Selain itu, kesadaran plural untuk memperkokoh kebersamaan, kesatuan dan persatuan bangsa harus terus dikumandangkan. Gereja harus secara terus menerus menyuarakan dan menolak kekerasan dalam bentuk apa pun dan memprakarsai hidup rukun dan damai dengan umat lain di dunia ini. (bas)

Bukan Orang Kristen?

Hampir semua tulisan (opini) maupun berita yang dikirim ke redaksi majalah ini sering dijumpai pilihan kata yang tidak tepat. Bukan hanya di majalah ini, di media cetak dan media elektronik pun kesalahan serupa juga ditemukan. Memang, pilihan kata (diksi)yang tepat dalam penulisan sangat penting, supaya pembaca tidak menduga-duga atau menafsirkan sendiri makna kata tersebut. Sebaiknya harus konkrit dan jelas serta tidak bermakna ganda. Ketepatan pilihan kata, menurut Gorys Keraf, kesanggupan kata untuk menimbulkan gagasan yang tepat pada imajinasi pembaca atau pendengar, seperti apa yang dipikirkan atau dirasakan oleh penulis atau pembicara. (Diksi dan Gaya Bahasa, hal 87) Apa yang terbayang ketika membaca kata “orang?” Pastilah manusia, bukan hewan atau mahluk lain. Orang adalah kata ganti dari manusia. “Kamu orang apa?” Orang Batak, Jawa, Sunda, Minang, Ambon, Betawi, Bugis, Madura, Toraja. “Kamu manusia apa?” Maknanya sudah lain, sebab pilihan kata kurang pas. Ada 10 pengertian “orang” menurut Kamus Umum Bahasa Indonesia. Orang artinya; manusia, sesuatu manusia, diri sendiri, penolong bilangan bagi manusia, anak buah, rakyat, suku, orang lain, karena (sebenarnya) dan manusia yang mempunyai sifat (orang kaya) Dari kesepuluh pengertian tersebut tidak satu pun yang menyinggung keyakinan, kepercayaan maupun yang berkaitan dengan agama. Itu berarti, kata orang tidak tepat dipergunakan menyebutkan agama yang dianut seseorang. Contoh; orang Kristen, orang Islam, orang Katolik, orang Budda, orang Hindu. Kata orang yang dipakai di awal sebutan agama ini, tidak tepat dan salah kaprah. Pilihan katanya ngaur, tentu maknanya pun jadi berantakan. Yang benar adalah agama Kristen, bukan orang Kristen? Tidak ada orang Kristen. “Dia orang Batak agamanya Kristen.” Ini yang benar dan jelas. Sedangkan untuk menjelaskan orang yang memeluk agama tersebut, disebut “umat” (jemaat) bukan “orang.” Misal, “perayaan Paskah dihadiri ribuan umat Kristen yang datang dari Jabodetabek. “Umat Kristen di dunia memperingati kematian Yesus Kritus pada Jumat Agung.” Umat beragama harus saling mengasihi. Bukan orang beragama? Bukan orang Kristiani, tetapi umat Kristiani. Kata Kristiani, belakangan ini sering dipergunakan baik dalam tulisan maupun lisan. Kata ini dipungut secara utuh dari bahasa Inggris, Christianity—agama Kristen atau yang berhubungan dengan kekristenan. Pilihan kata yang tidak tepat, juga dijumpai pada pemakaian kata “jemaat” dan “gereja.” Contoh, “penjelasan mengenai program tahun marturia diharapkan meningkatkan kepedulian jemaat.” Kata “jemaat” dalam kalimat ini bisa diartikan ganda oleh pembaca, yaitu; warga gereja, atau gereja (gedung) itu sendiri. Soalnya, kata jemaat kadang kala diartikan dengan gereja. Inilah membuat bingung. “Resort ini punya lima jemaat.” Kata “jemaat” dalam kalimat ini apakah gerejanya (gedung) atau anggota gerejanya? Supaya jangan membingungkan, tulislah “jemaat atau warga gereja,” apabila yang dimaksud adalah warganya (ruas) Apabila yang dimaksud adalah gereja (lembaga, gedung) tulislah gereja, bukan jemaat. “Resort ini punya lima gereja,” bukan “resort ini punya lima jemaat.” Soalnya, tidak masuk akal satu resort hanya punya lima anggota jemaat (orang) Contoh pilihan kata yang benar; “Beberapa rumah jemaat HKBP di Jakarta teredam banjir.” “Sampai saat ini surat izin membangun gereja belum diperoleh.” Ingat, bukan surat izin membangun jemaat. Sebenarnya, dari etimologi (asal-usul) katanya pun sudah jelas perbedaan arti antara gereja dengan jemaat. Kata jemaat berasal dari kata “jama’a” (Arab) dalam bahasa Ibrani disebut qahal, assembly—Inggris, ekklesia—Yunani. Kata ekklesia sering dipergunakan dalam Perjanjian Baru yang diterjemahkan dengan jemaat. Dalam Kisah 7:38 diterjemahkan “sidang jemaah” (gathering) Ekklesia juga diterjemahkan “sidang rakyat” (Kisah 19: 39) Dalam Matius 16:18, ekklesia, diterjemahkan “jemaat.” Atau kumpulan orang yang dipanggil keluar (out of to call) Berdasarkan penjelasan ini, kata jemaat adalah sebutan khusus kepada warga/umat penganut suatu agama (Kristen) Lain halnya dengan gereja, berasal dari kata igreja, Portugis, church, Inggris, kerk, Belanda, kirche, Jerman, gareja (huria) Batak. Kata ekklesia kadang diterjemahkan gereja. Menurut Kamus Umum Bahasa Indonesia, gereja adalah gedung (rumah) tempat berdoa dan melakukan upacara agama Kristen. Orang yang datang berkumpul ke gereja, itulah yang disebut jemaat. Cermatlah memilih kata, agar pesan yang disampaikan dapat dipahami pembaca (pendengar) sebagaimana yang diinginkan. Kata-kata berikut ini mempunyai makna tersendiri; melihat, memandang, menatap, melirik, menengok, melongok, mengintip, jelilah memilihnya. Pilihan kata yang tepat bukan saja enak dibaca tetapi juga menjadikan kata-katanya komunikatif. Cobalah! Penulis pengajar di Fisipol UKI Jakarta, mengampu mata kuliah bahasa jurnalistik. Bagi yang berminat bertukar pikiran mengenai jurnalistik, silahkan menghubungi Baharuddinsilaen @ yahoo.com

Bisakah Tuhan Dipercaya?

Membaca judul buku “Bisakah Tuhan Dipercaya” (Can God Be Trusted) sudah bikin penasaran dan sedikit gusar. Buku ini selain rumit, juga diperlukan kesabaran membaca ulang setiap bab agar dapat memahami isinya. Maklum buku ini dikemas dengan logika filsafat yang amat kritis ketika menganalisis segala kejadian di dunia ini. Jika Tuhan benar-benar Maha Kuasa dan Maha Pengasih, mengapa ada begitu banyak kejahatan di dunia ini? Lalu, penulis buku ini mencoba mengurai kegamangan umat manusia melalui pendekatan yang lebih mendalam dan rinci sekaligus memadukan gagasan para filsuf dan teolog untuk menyikapi kejahatan di dunia ini. Dalam buku ini John G Stackhouse memberi contoh tatanan kehidupan yang inkonsistensi. Bersalah atas sesuatu dan mendapatkan ganjarannya adalah satu hal. Namun, di sekitar kita, yang bersalah makin makmur dan yang tidak bersalah justru menderita. Terlalu sering terjadi kejahatan malah menguntungkan. Sementara kebajikan tidak menghasilkan apa-apa selain kebajikan itu sendiri. Jika kita tidak dapat menjawabnya, John menyarankan, sebaiknya tidak menuduh Tuhan dan berpikir lebih keras tentang apa yang kita maksudkan dengan bersalah dan tidak bersalah. Segala sesuatu mungkin tidak segamblang yang kita pikirkan. Tidak ada gunanya bersikap sinis dan memandang dunia atau setiap hal di dunia sebagai sesuatu yang mengerikan, karena memang tidak demikian? Orang harus memutuskan apa yang paling masuk akal bagi dirinya, seperti yang disarankan beberapa agama untuk melihat kebaikan dalam dunia sebagai ilusi atau pengalih perhatian saja. Beberapa filsuf kontemporer telah berargumen bahwa masalah antara Tuhan dan kejahatan dapat diselesaikan dengan cukup baik bila kita dapat berkesimpulan bahwa dunia ini, secara keseluruhan adalah dunia yang baik. Rangkain pikiran filsuf secara mudah ditemukan dalam buku Jonh G Stackhouse yang juga dosen di University of Manitoba, Winnipeg, Kanada. Penulis buku ini, juga berbagi pengalaman spiritual kepada pembaca, agar dapat bertahan di dunia ini ada realitas yang harus dihadapi. Sebagai individu dan sebagai komunitas, kita berada dalam kodisi negatif: kita tidak damai, kita sudah rusak, lemah, jahat, tidak stabil dan merusak shalom. Dalam hati dan relasi, kita jauh dari utuh dan sudah seperti itu sepanjang sejarah. Yudaisme, Kristen dan Islam menyebut kondisi ini dosa dan dosa harus dihadapi dan diselesaikan. Buku yang diterbitkan Kelompok Gramedia ini menyarankan sikap hati-hati dan tidak gegabah menghakimi orang lain. Kita harus berhati-hati, dengan apa yang kita minta saat kita ingin agar Tuhan menghancurkan kejahatan di dunia ini. Tuhan memang dapat melakukannya dengan banjir besar yang akan menyapu bersih semuanya. Namun, bukankah pemusnahan anak-anak yang tak berdosa, hewan dan tumbuhan itu juga merupakan kejahatan? Sebenarnya Tuhan dapat memusnahkan manusia yang jahat saja dan meninggalkan yang baik. Hanya saja, siapa di antara kita yang akan masuk ke salah satu kategori itu. Saya sendiri tidak sepenuhnya baik dan Tuhan yang sempurna pasti menerapkan standar yang sempurna. Standar yang demikian akan memusnahkan saya beserta keluarga dan teman saya. “Apakah Anda dan orang-orang yang Anda kasihi siap diuji?” John bertanya. Jika Tuhan, karena alasan tertentu, ingin menikmati persekutuan dengan mahluk ciptaanNya, maka Tuhan bertindak adil dengan menciptakan dan membiarkan kita bebas, seperti yang sudah terjadi untuk menjadi diri kita sendiri, juga untuk berdosa dan sebagainya. Kita tidak akan pernah tahu mengapa Tuhan menjalankan dunia seperti yang Dia lakukan sekarang, tetapi kita dapat mengetahui apakah Tuhan dapat dipercaya untuk menjalankannya dalam suatu cara yang baik. Kaum teis, seperti agama Yahudi, Kristen dan Muslim mengindentifikasi standar kebaikan obejektif ini sebagai karakter dan kehendak Tuhan. Di luar Tuhan tidak ada standar kebaikan di alam semesta ini, begitu juga dengan standar untuk mengevaluasi Tuhan. Tuhan adalah standarnya, Tuhan itu baik! John Stackhouse dengan berani menajikan pandangan para pemikir besar ketika bergumul dengan masalah kejahatan, seperti Buddha, Confusius, Agustinus, David Hume, Martin Luther, CS Lewis dan Alvin Platinga. Penulis tidak menyembunyikan perihal kontradiksi yang ada di sekitar kita—sebab Tuhan Maha Baik yang mengizinkan adanya penyakit mematikan, bencana alam, cacat lahir dan kejahatan keji yang membawa penderitaan dalam hidup. Stockhouse bertanya, apakah dunia tanpa kejahatan adalah dunia paling baik untuk kita? Apakah hidup tanpa penderitaan akan menjadi hidup paling berarti? Apakah kehendak bebas akan tetap ada jika kita hanya memilih yang baik saja? “Manfaat kejahatan sesungguhnya melebihi harga yang harus dibayarnya,” ujar John. bas

Tanda Baca Titik Dua

Pernahkah Anda bingung kapan digunakan tanda baca “titik dua” (:) dalam tulisan? Jangan cemas, Anda tidak sendirian. Mulai sekarang cobalah cermat dan tepat menggunakan tanda baca tersebut. Apalagi Anda gemar menulis di media massa memang harus paham karakter serta fungsi tanda baca—tidak terkecuali titik dua. Semua tanda baca: koma, titik, tanda petik, titik koma, titik dua, tanda seru, tanda tanya, masing-masing punya fungsi. Termasuk pemakaiannya sudah baku—bukan asal ditulis—bukan pula sesuai selera penulis. Ada aturan main yang musti ditaati dan berlaku untuk semua tulisan resmi dan karya tulis ilmiah (skripsi, tesis dan disertasi) Khusus pemakaian tanda baca titik dua sering dicantumkan tidak pada tempatnya. Seperti yang dijumpai dalam tulisan yang dikirim ke majalah Suara HKBP. Terpaksa bagian penyelaras bahasa harus bersabar memperbaikinya agar tanda baca tersebut pas di “kavlingnya.” Editor pun dengan sangat hati-hati dan sangat menyesal harus menggati atau membuangnya, maklum acap kali tidak tepat penggunaannya. Kendati cuma tanda baca, tapi jangan dianggap remeh—sebab salah pemakaian dan posisi bisa mengurangi nilai gagasan yang terdapat dalam kalimat. Biasanya pemakian tanda baca yang benar dan tepat ikut mempermudah pembaca memahami pesan dalam gagasan yang diuraikan penulis. Itulah sebabnya penyelaras bahasa surat kabar maupun majalah adalah orang yang benar-benar paham tanda baca sehingga bisa memperbaikinya apabila terdapat kesalahan dalam naskah yang dikirim ke redaksi. Umumnya kesalahan terhadap pemakaian titik dua disebabkan faktor pemahaman yang minim. Lantaran tidak mengerti kapan dipakai dan apa fungsinya otomatis tanda baca tersebut asal ditulis begitu saja. Namun kebiasaan “buruk” seperti itu masih bisa diperbaiki—tentu asal mau belajar. Sebenarnya, sejak SD ketika belajar bahasa Indonesia semua tanda baca sudah dipelajari. Guru bahasa Indonesia memberitahu, ketika membaca kalau ada tanda baca koma dalam kalimat, berhenti sebentar. Bila ada tanda baca titik, berhenti agak lama. Maksudnya ada interval waktu, sehingga makna ungkapan dalam kalimat menjadi lebih kuat dan pesannya tambah jelas. Nasehat guru ini ternyata masih terus dipelihara dengan baik oleh para presenter radio dan televisi. Bagi penyiar radio dan televisi tanda baca termasuk unsur penting yang musti diperhitungkan keberadaannya. Bayangkan, kalau penyiar radio atau televisi ketika membaca berita tidak ada koma dan tidak ada titik—apa jadinya? Kembali ke titik dua. Ingat, pemakaian titik dua dipakai pada akhir suatu pernyataan lengkap bila diikuti rangkaian atau pemeri. Misal, “Sekolah yang baru itu memerlukan: meja, bangku, papan tulis, lemari dan rak buku.” “Dalam perlombaan tersebut: peringkat satu, dua, tiga dan juara harapan satu mendapat bonus Rp 5 juta.” Artinya, kalau dalam kalimat terdapat lebih dari dua rangkaian pernyataan atau pemeri, saat itulah titik dua dipakai. Kalau hanya satu saja, tidak perlu titik dua digunakan. “Sekolah yang baru itu memerlukan meja.” Sedangkan pemakaian titik koma sebenarnya tidak jauh berbeda dengan titik dua. Titik koma dipergunkan apabila pernyataan terdiri atas beberapa gagasan dalam kalimat. Contoh; “Ada cara baru mengendalikan penyakit demam berdarah dan malaria; bikin mati muda nyamuk pembawanya, Aedes aegypti dan Anopheles. “Harga yang harus dibayar kelewat mahal; lebih dari 750 orang tewas sampai Jumat pecan lalu, seperempatnya anak-anak tak berdosa.” Hindarilah cara penulisan titik dua berikut. “Kondisi industri semen pada tahun ini sungguh berkebalikan dengan tahun lalu: sampai November penjualan semen di pasar domestik sudah hampir 35 juta ton: sampai akhir tahun kemungkinan besar akan bisa mencapai 38 juta ton.” Tanda baca titik dua dalam kalimat ini tidak tepat, sebab kalimat ini bukan pernyataan lengkap yang diikuti rangkaian atau pemeri. Jangan lupa, titik dua tidak perlu dicantumkan dua atau tiga kali dalam satu kalimat, cukup sekali, itu pun harus di akhir pernyataan. Contoh, “Rentetan dampak krisis finansial global semakin terasa di berbagai bidang, seperti: industri tekstil, sektor properti, pabrik yang mengakibatkan jumlah karyawan yang PHK terus bertamabah” Fungsi lain titik dua, ia bisa menggantikan kata: yaitu, yakni, adalah, berikut ini, dan sebagai berikut. Betul, titik dua adalah tanda baca yang punya andil menghemat kata atau dikenal dengan istilah ekonomi kata dalam jurnalistik. Tidak sedikit kata yang bisa dihemat melalui titik dua. Karena itu, pemakaian titik dua secara tepat sama artinya menghidari pemborosan dan penghamburan kata. Misalkan dalam kalimat ada kata; yaitu, yakni, adalah, berikut ini dan sebagai berikut, mulailah menggantikannya dengan tanda baca titik dua. Jangan ragu-ragu menghapus kata-kata tersebut—lalu cantumkan titik dua—beres! Sejak itulah, ekonomi kata dalam penulisan di media massa tidak boleh dipandang sebelah mata—baik oleh penulis apalagi editor harus benar-benar menguasainya. Hemat atau tidak boros kata adalah ciri penulisan di media massa yang harus diperhatikan para penulis yang ingin menjadi penulis kreatif dan profesional. Nah, mulailah bersahabat dengan tanda baca titik dua. Penulis pengajar di Fisipol UKI mengampu mata kuliah bahasa jurnalistik. Email: baharuddinsilaen@ yahoo.com dan Alamat blog, baharuddinsilaen@yahoo.com (Bas)

Kata Depan di Kapan Dipisah?

Sudah 28 tahun usia Ejaan Bahasa Indonesia yang Disempurnakan kita pergunakan, namun masih sering dijumpai kesalahan dalam menuliskan kata atau kalimat. Kesalahan seperti itu bukan saja dijumpai di surat kabar, tetapi juga dalam karya ilmiah seperti skripsi, tesis dan desertasi. Apakah itu penulisan huruf kapital dan huruf kecil, penggunaan koma, titik koma, titik dua. Kesalaham serupa juga ditemukan pada penulisan kata depan “di” dan “ke.” Kapan ditulis padu dan kapan dipisah dari kata yang mengikutinya, tampaknya masih kacau? Untuk membedakan mana di yang harus dituliskan terpisah dan mana di yang musti diserangkaikan, inilah kuncinya. Kata kerja yang berawalan di ialah semua kata yang menjadi jawab pertanyaan “diapakan dia” atau “diapakan benda itu” maka awalan di harus ditulis serangkai dengan kata di depannya. Misal; diapakan dia? Dipukul, ditendang, ditikam, dicubit, dimaki, dicium, dipeluk, dibakar, dilempar, diserbu, diserang, dimarahi, dibasmi, dipermalukan, dihina, dipindahkan, diseret, dimakan, diperas, diperbaiki, dicabut, dicuri, dibrenggus, dibreidel, dipecat. Gampang bukan? Contoh kalimat yang salah. “Gedung PGI di lempari batu oleh Satpol PP.” Penulisan yang benar, “Gedung PGI dilempari batu oleh Satpol PP.” “Beberapa mahasiswa di pukuli Satpol PP” Yang benar adalah “Beberapa mahasiswa dipukuli Satpol PP” Bagaimana membedakan kata depan di tetapi harus ditulis terpisah dari kata yang mengikutinya. Supaya jangan ragu-ragu menuliskannya, ingatlah pedoman berikut ini. Semua kata yang menjadi jawab pertanyaan “di mana” pastilah kata depan di dituliskan dengan dua patah kata yang terpisah. Sebab, kata depan di, jenis ini mempunyai kedudukan sebagai “kata” dan fungsinya menyatakan tempat. Misal; di mana dia? Jawab; di pasar, di rumah, di sana, di Jakarta, di Medan. Kata depan di yang juga fungsinya menyatakan tempat harus dituliskan terpisah dari kata di depannya. Misal; di sana, di sini, di situ, di atas, di bawah, di tengah, di samping, di depan, di pinggir, di tepi, di belakang, di dalam, di luar, di sawah, di sebelah, di kiri, di kanan, di seberang, di timur, di barat, di hutan, di desa, di kota, di pelosok, di lembah dan di bukit. Contoh penulisan yang salah. “Pendaki berada dipuncak gunung.” Seharusnya “Pendaki berada di puncak gunung.” Dipinggir jalan banyak pedagang berjualan.” Yang benar adalah “Di pinggir jalan banyak pedagang berjualan.” Lalu, bagaimana dengan kata depan ke dan dari. Ini pun tidak berbeda dengan cara penulisan kata depan di yang berfungsi menjelaskan keterangan tempat. Kata depan ke dan dari harus dipisah dari kata yang mengikutinya. Misal; ke sana, ke mana, ke pasar, ke rumah, ke sawah, ke kiri, ke bukit, ke atas, ke tepi, ke belakang, ke gereja. Dari mana, dari sana, dari gereja, dari sawah, dari Medan, dari belakang, dari atas, dari bawah, dari kali, dari timur. Contoh penulisan kata ke yang salah. “Dia menyebarkan isu kemana-mana.” Penulisan yang benar “Dia menyebarkan isu ke mana-mana.” Dilarang belok kekiri.” Yang benar “Dilarang belok ke kiri.” Namun, harus diingat, ada beberapa bentuk kecuali. Kata kepada dan daripada selalu harus dituliskan serangkai. Demikian juga dengan kata kemari dituliskan serangkai sebagai sepatah kata, karena tidak ada pasangannya di mari dan dari mari. Mudah-mudahan dengan penjelasan di atas, kita dapat menghindari kesalahan dalam menulis kata dengan awalan di maupun ke. Penulis pengajar di Fisipol UKI, Jakarta, mengampu mata kuliah bahasa jurnalistik. Yang berminat dengan jurnalistik silahkan bergabung ke email: baharuddinsilaen@yahoo.com. Atau Bloger Baharuddin Silaen—Bas