Senin, 04 April 2011

Senin, 28 Maret 2011

Kampung Batak Tempo Doeloe

Suasana huta Batak mulai terasa ketika suara gondang Batak sayup-sayup kedengaran saat menuju harbangan (gerbang) “Huta Batak” di Desa Pagar Batu, Balige. Di sisi gerbang ada pohon beringin (hariara) yang sengaja ditanam sebagai ciri huta orang Batak tempo dulu. Enam ruma Batak berdiri kokoh di atas pekarangan yang luas dihias rumput hijau yang tertata rapi. Salah satu ruma adalah rumah asli TB Silalahi. Rumah yang berusia 150 tahun ini adalah tempat tinggal TB Silalahi semasa kecil di Balige. Dalam perkampungan Batak ini ada dua jenis rumah adat; ruma dan sopo. Rumah itu dibagi dua bagian yang saling berhadapan. Di antara kedua deretan rumah terdapat halaman luas yang fungsinya tempat menjemur padi dan bermain anak-anak. Sama seperti huta Batak dahulu kala. Ada enam rumah asli Batak berusia 120 hingga 150 tahun di huta Batak TB Silalahi Center (TBSC). Rumah ini sumbangan dari keluarga (marga) Batak yang mencintai kebudayaan leluhur. Termasuk salah satu rumah pendiri TBSC. Rumah itu asli yang dipindahkan dari Pagar Batu ke kompleks TBSC. Huta di kompleks TBSC dikelilingi pohon bambu sama seperti huta orang Batak di masa lalu. Termasuk jalan masuk ke huta hanya satu gerbang (bahal) Biasanya di sisi bahal terdapat hariara (beringin) Nuansa kampung Batak tempo dulu dapat dirasakan di huta Batak Pagar Batu, Balige. Selain rumah Batak ada juga pangulubalang (patung) di perkampungan ini. Pangulublang merupakan peninggalan suku Batak ketika masih menganut anisme. Dahulu kala pangulubalang dianggap sebagi patung pelindung desa, khususnya saat penduduk desa sedang meninggalkan desa untuk berbagai kegiatan. Patung terbuat dari batu, tapi ada juga patung yang dibuat dari kayu. Peranan pangulubalang sangat penting khusus meyelesaikan perselisihan antarmarga atau antardesa. Konon, roh pangulubalang ditugasi pergi ke daerah musuh untuk menutup mata dan telinga musuh agar tidak mampu berperang lagi. Bagaimana “gaya hidup” orang Batak di masa lalu, juga dapat disaksikan di TBSC. Jejak orang Batak tempo dulu ada tersimpan di sebuah rumah besar yang disebut Ruma Bolon,berukuran sembilan setengah kali 15 meter. Dua kali lebih besar dari ukuran ruma Batak. Ciri khas Ruma Bolon adalah ukiran (gorga) yang sangat dominant pada dinding. Gorga ini memiliki nilai filosofi fan religi. Terdapat juga ukiran singa pada kayu yang ada di sisi kanan dan kiri ruma. Termasuk hiasan payudara sebagai lambang kesuburan (hagabeon) Demikian juga gambar kadal (boraspati) lambang kebijaksanaan dan kekayaan. Dapat juga disaksikan replika peradaban di masa lalu. Seperti pengobatan tradisional melalui bantuan datu (dukun) Peralatan pesta Batak zaman dulu serta alat rumah tangga dan alat berburu lengkap disimpan dalam Ruma Bolon. “Kalau pada musim liburan, biasanya ada pertunjukan tortor,” kata seorang pemandu TBSC. Tortor tersebut diadakan di bawah ruma, diiringi gondang yang dimainkan pargonsi yang ditempatkan di sokor (balkon) Pada bagian bawah Ruma Bolon terdapat tombara (kolong) yang digunakan sebagai kandang ternak, tempat menyimpan kayu dan tempat martonun. Ruma Batak pada umumnya tidak punya kamar (bilut) Ruangan dalam rumah terbuka tanpa sekat pembatas. Pada rungan utama berfungsi sebagai tempat tidur di situlah keluarga tidur beralaskan lage (tikar) seadanya. Lage jarang dilipat atau disimpan. Kalau tidur pada malam hari biasanya pakai bulusan (selimut) dari tikar karena udara dingin. Di bagian dapur terdapat tataring (tempat memasak) yang terbuat dari batu (dalihan) Tataring dilengkapi dengan parapara. Parapara befungsi sebagai tempat kayu bakar dan peralatan masak lainnya. Berkunjung ke TBSC banyak hal yang dapat disaksikan. Selain kampung Batak yang asri, pengunjung dimanjakan dengan panorama Danau Toba yang indah. Pengunjung bisa melepas lelah di kafe terbuka yang terdapat di bagian depan TBSC. Dari lantai dua kafe ini dapat menikmati pemandangan Danau Toba yang terhampar di ujung Desa Pagar Batu. Tidak terkecuali, jejak perjalanan TB Silalahi dapat dilihat di dalam TBSC. Mulai masa kecil, kegiatannya di milter dan di pemerintahan lengkap dipajang di museum ini. (baharuddin silaen)

Kalau Pendeta Kurang Membaca

Catatan harian saya, sudah lama terselip di antara tumpukan buku-buku, secara tidak sengaja kutemukan kembali sewaktu mencari buku di lemari buku. Setelah kubaca ulang, biasa-biasa saja, tidak ada yang layak diberikan nilai plus. Informasinya sangat minim, bahkan kering. Lama aku termenung, menerawang ke masa lampau, 29 tahun silam di sebuah desa kecil di Parausorat. Begini kisahnya. Saya diajak Pdt Prof Dr Adelbert A Sitompul (alm) menemaninya pada acara evangelisasi di HKBP Sipirok (1980) ketika itu aku masih pendeta praktek di HKBP Pangaloan. AA Sitompul saat itu baru bertugas di Kantor Pusat HKBP Pearaja Tarutung, setelah pulang dari Geneva. Meskipun hanya dua hari kami menjelajah pelosok Sipirok, banyak hal yang didapat. Di perjalanan, aku bertanya kepada AA Sitompul, kenapa bukan yang lain diajak menemaninya, kenapa saya? “Kamu sering menulis di surat kabar, tulislah nanti perjalanan kita ke Parausorat,” jawab Sitompul waktu itu. Terus terang saya senang mendapat kesempatan menemaninya, karena sewaktu mahasiswa, Pdt AA Sitompul adalah dosen yang saya kagumi. “Petualangan” kami itu dimuat di “Sinar Indonesia Baru” Medan. Pagi-pagi kami menuju Parausorat setelah lebih dulu menjelajahi Bungabondar. Kami sempat mengunjungi beberapa gereja tua serta makam para misionaris yang pernah melayani di Sipirok. Setelah itu perjalanan dilanjutkan ke Parausorat. Di tempat ini bertemu dengan beberapa warga Kristen yang masih tetap pengikut Kristus. Mereka tinggal dekat gereja yang di Parausorat, yang warganya waktu itu hanya tinggal enam kepala keluarga. Gereja ini tidak jauh dari bekas Sekolah Guru yang didirikan 1868. Bangunan sekolah ini tidak ada lagi, habis ditelan waktu, hanya ada bekas tiang tertancap (1980) itu pun sudah lapuk dan tinggal 30 sentimeter dari permukaan tanah. Di dalam gereja berukuran lima kali delapan meter tergantung foto Simon Siregar dan Jakobus Tampubolon, inilah orang Batak pertama masuk Kristen. Waktu itu kami dipandu Pdt Sabar P Simanungkalit, Pendeta Resort HKBP Spirok waktu itu. Sekarang Pendeta Resort HKBP Kernolong, Jakarta. Keesokan harinya kami melanjutkan perjalanan, tapi kali ini “petualangan” dari rumah ke rumah penduduk. Rupanya, ada misi lain yang baru belakangan diberitahu AA Sitompul kepada saya, dia mau menulis buku tentang orang-orang Batak yang pertama masuk Kristen. “Buku seperti ini belum pernah ada yang tulis,” ujar AA Sitompul bersemangat. Sudah lupa saya berapa rumah kami kunjungi waktu itu, tapi yang jelas dari tiap rumah yang kami kunjungi, pasti ada buku yang dibawa pulang. Dengan perjanjian kepada pemilik buku, “pinjam” dan akan dikembalikan. Buku-buku yang kami pinjam itu, hampir semuanya ditulis tangan oleh para misionaris dan penggantinya. Tulisannya sangat rapi dan jelas. Ada yang sebagian sudah dimakan rayap, ada yang sobek dan ada yang kena air sehingga tulisan tidak terbaca lagi. “Jangan ada yang tertinggal, bawa semua, ” Sitompul berulangkali mengingatkan saya. Saya ditugasi waktu itu mencatat setiap buku, alamat dan nama pemilik buku. Lumayan juga bundelan yang kami angkut hasil petualangan mencari buku/catatan para misionaris. Waktu itu Sitompul bilang kepada saya, namamu akan saya tulis dalam buku yang akan diterbitkan. “Nunga dohot ho loja mandongani au mandiori angka catatan ni parbarita na uli parjalo tu Sipirok, husurathon pe goramu di buku i,” Sitompul berjanji. Selang beberapa tahun kemudian buku terbit berjudul “Sitotas Nambur Hakristenon.” “Hebat juga Pdt AA Sitompul, jadi juga terbit buku yang menarik yang mengisahkan perjalanan orang Batak masuk Kristen,” kata saya dalam hati. Walaupun nama saya tidak tercantum seperti dijanjikan, saya tidak kecewa. Mungkin dia lupa. Saya tetap bangga kepada Pdt Adelbert A Sitompul, di sela-sela kesibukannya dia masih sempat menulis buku yang sekaligus memperkaya karya-karya yang bermanfaat bagi warga HKBP dan yang membacanya. Sayang, ketika dia meninggal, sebulan kemudian saya baru dapat informasi. Padahal sama-sama di Jakarta. Hanya penesalan yang terlontar. Saya terlalu cuek ketika mendengar dia dirawat. Tidak menjenguknya ketika dia terbaring sakit. Pada kesempatan lain, saya pernah mewancarainya, ia mengatakan; pendeta harus rajin membaca, jangan karena di desa membaca dianggap tidak perlu. Kalau pendeta malas membaca, khotbahnya pun jadi “pollung tubu” (apa yang muncul saat itu-pen) Nasehat AA Sitompul ini terngiang kembali, ketika ada yang mengeluh mengenai kotbah pendeta dari itu ke itu, bolak-balik—sudah pernah dikotbahkan diulang lagi. “Pendeta kami kurang membaca, khotbahnya tidak menarik. Mulak-ulak. Tidak ada persiapan,” komentar salah satu warga gereja. Ada juga benarnya komentar warga gereja ini. Apalagi pendeta yang melayani di kota besar seperti Medan, Bandung, Jakarta, buku dan membaca adalah kebutuhan yang harus dipelihara. Bayangkan, seorang pendeta lima tahun melayani pada satu gereja (resort) berapa kali dia berkotbah dalam satu minggu, belum lagi ke kategorial, punguan, partangiangan. Bagaimanapun “hebatnya” pendeta berkotbah suatu saat pasti mengalami kejenuhan—habis kamus. Tahun pertama, kedua dan ketiga kotbahnya masih menarik, maklum masih banyak stok. Tahun keempat dan kelima mulai kalang kabut. Mengatasinya, tidak ada jalan lain kecuali banyak membaca buku, majalah, surat kabar, rajin bersilancar di dunia maya. Pokoknya harus senantiasa mengaktualisasikan diri sehingga bisa berdampingan dengan kehebatan teknologi komunikasi masa kini. Bukan mengada-ada, soalnya, warga gereja yang dialayani sudah terbiasa dengan website, internet, bayangkan kalau pendeta membuka email pun susah. Orang sudah terbiasa membuka Alkitab Elektronik, pendetanya boro-boro membuka, melihat pun belum pernah? Betul, tidak jaminan menguasai website, internet lebih hebat, tapi paling tidak menambah wawasan dan percaya diri. Kebutuhan buku bagi pelayaan gereja sudah keharusan apalagi di kota-kota besar seperti Jakarta. Tak heran, beberapa gereja di Jakarta sudah menyisihkan dana untuk pos pemebelian buku dan internet pelayaan (pendeta) Ini langkah maju yang perlu dicontoh. Menarik cerita Pdt Dr Richard M Daulay, Sekretaris Umum PGI, bagaimana dia mempersiapkan kotbahnya. “Saya tidak berani berkotbah kalau saya tidak mempersiapkan materi kotbah dengan benar. Kadang harus saya ke toko buku membeli buku dua sampai tiga di luar buku-buku tafsir, “ ucap Richard. Begitu juga Pdt Dr Einar M Sitompul, yang sering diundang ceramah dan berkotbah di berbagai gereja, selalu mempersiapkan kotbahnya dan banyak membaca. Pendeta ini sejak mahasiswa sampai sekarang kebiasaan membeli buku secara teratur masih terus dilakoninya. Tiada hari tanpa membaca. Ke mana saja dia selalu membawa buku dan tentu membacanya. Ketika pendeta di Bandung, hampir semua tempat penjualan buku bekas dijelajahinya. Sekarang pun kegemaran itu masih terus ditekuninya, jangan heran kalau suatu ketika ketemu Einar Sitompul di tempat penjualan buku bekas di Pasar Senen, Jakarta. “Tidak harus baru kan, yang bekas pun masih bagus, yang penting isinya,” kata Einar sewaktu kami sama-sama di Bandung yang pernah menghadiahkan saya buku “Speaker’s Sourcebook” karya Eleanor Doan. Memang repot kalau pendeta kurang membaca! bas

HKBP Harus Jelas Jati Dirinya

Menjelang 150 tahun HKBP pada 2011, Ephorus Pdt Dr Bonar Napitupulu di hadapan 1300 pendeta kembali menegaskan, HKBP perlu semakin jelas dan tegas akan jati diri sebagai suatu gereja yang hidup dan berkembang di dunia ini. Identitas inilah yang sekaligus membedakan HKBP dengan gereja lainnya. “Pernyataan HKBP adalah HKBP adalah juga sikap konsisten gereja ini terhadap jati dirinya. Dia punya ciri khas yang jelas yang dituangkan dalam Aturan dan Peraturan, Konfesi, RPP dan Agenda HKBP, “ kata Bonar Napitupulu saat menyampaikan bimbingan pastoral pada Rapat Pendeta di Sipoholon baru-baru ini. Begitu juga mengenai tohonan (jabatan) Ephorus Napitupulu menjelaskan, tohonan, bukan jenjang karier, tetapi merupakan panggilan yang dikelola secara profesional. Ia juga menyinggung pemahaman HKBP berkaitan dengan pelaksanaan perjamuan kudus, khusus mengenai roti, ditegaskan supaya seragam dan memperhatikan konteks berlakunya. Misalnya tentang roti yang diponggoli (dipecah). Selain teologi, ia pun mengingatkan pendeta HKBP supaya menghayati jati diri pelayanan yang holistik termasuk pembagian tugas pelayanan pendeta. Hal yang sama dilontarkan Ketua Rapat Pendeta Pdt Dr Jamilin Sirait, pimpinan HKBP bersama Ketua Rapat Pendeta (KRP) perlu menunjukkan sikap pada situasi yang sedang berkembang atau isu-isu yang hangat. Ke depan, menurut Jamilin Sirait, KRP sebaiknya dijabat pendeta yang berkualitas dan mampu mengayomi semua pendeta HKBP. Bahkan mengenai figur dan posisi KRP termasuk yang dibahas dalam kelompok. Kelompok mengusulkan, KRP dilembagakan dan berkantor di Kantor Pusat HKBP. Komisi-komisi yang ada di HKBP supaya bernaung di bawah KRP. KRP mengikuti dan menentukan jadwal Rapat Pendeta Distrik HKBP. Rapat pendeta juga membahas tentang persembahan dan liturgi. Persepuluhan yang kurang populer di kalangan warga HKBP salah satu topik yang dibahas. Persepuluhan adalah bentuk persembahan yang juga bisa dilakukan warga HKBP. Agar pemahaman persepuluhan ini seragam, perlu dibuat dokumen teologisnya dan menjadi dokumen resmi HKBP. Kelompok mengusulkan supaya dibuat tata ibadah “Tohonan Evangelis.” Sedangkan mengenai Konfesi dan RPP ada sejumlah topik yang ditambahkan. Seperti gereja dan negara/pemerintah, manusia dan kesetaraan gender, iman dan Iptek, pernikan, kekerasan, hak asasi manusia, keadilan sosial dan hubungan kekristenan dengan adat. Begtiu juga isu pemanasan global, homoseks dan lesbian, pembangunan rumah ibadah, penjualan manusia (human trafficking) aborsi, bayi tabung, NAPZA, HIV/AIDS dan terorisme. Termasuk Komisi Teologi agar merumuskan ajaran Kristen yang menjadi pegangan warga HKBP. Misalnya mengenai: doa, ibadah, pernikahan dan persembahan. Dokumen lain yang dibahas dan termasuk yang baru dalam pendeta HKBP adalah Kode Etik Kependetaan HKBP. Kode etik ini sebagai pedoman praktis bagi pendeta HKBP saat menjalankan tugas kependetaannya. Salah satu pasal menyebutkan, “Pendeta HKBP sebaiknya tidak membawa persoalan HKBP ke luar HKBP. Pedenta HKBP harus senantiasa berusaha mengatasi persoalan dalam jemaat/unit pelayanan. Jika seorang pendeta tidak mempu menyelesaikan konflik/persolan dalam pelayanan, maka dia harus mengakui secara jujur kepada pimpinan. “Pendeta HKBP yang terbukti sengaja menciptakan persolan (konflik) dalam tugas pelayanan, sebaiknya keluar dari pendeta HKBP.” Mengenai pendeta yang aktif dalam politik juga diatur dalam Pasal 11 ayat tujuh, “ Pendeta HKBP yang aktif berpolitik praktis, menjadi anggota legislatif, pengurus partai, aktivis LSM dan bekerja di lembaga di luar HKBP yang memperoleh rekomendasi dari Ephorus HKBP, tetap terhitung sebagai pendeta HKBP yang melayani di luar HKBP.” Kode etik ini juga mengatur pemakaian baju toga (baju tohonan). “Pendeta HKBP tidak diperbolehkan memakai baju toga untuk kegiatan demonstrasi, pengadilan, kampanye dan kegiatan politis lainnya.” Namun kelompok yang merumuskan Kode Etik Kependetaan HKBP mengusulkan, dokumen ini masih perlu diperbaiki khusus redaksional dan sebaiknya melibatkan beberapa ahli yang berkaitan dengan isi kode etik tersebut. Meskipun rapat ini diwarnai interupsi pada hari pertama saat sesi orientasi, namun semua acara berjalan dengan baik dan berhasil memilih Ketua Rapat Pendeta HKBP yang baru periode 2009-2013. Pdt Willem TP Simarmata MA terpilih menjadi KRP HKBP. (bas)

Empati

Empati, suatu sikap humanis (nilai-nilai kemanusiaan) yang termasuk disenangi beberapa sarjana komunikasi saat proses komunikasi, termasuk pada tingkat komunikasi antarpribadi. Sebut misalnya, Yoseph DeVito yang menempatkan empati dalam tabel perspektif humanistis. Stephen W Littlejohn dan Karen A Maros, keduanya adalah profesor di Univercity of New Mexico termasuk di antara sarjana tersebut. Paparan kedua profesor ini dituangkan dalam buku “Theories of Human Communication.” Sudah diterjemahkan ke bahasa Indonesia, 2009. Empati adalah suatu sikap yang dimiliki seseorang yang senantiasa berorientasi pada posisi orang lain. Hanya saja, memposisikan diri terhadap peranan orang lain bukanlah hal gampang. Soalnya, memahami orang lain atau kelompok yang ada di di luar kelompok kita dibutuhkan kerelaan berkorban yang terkait dengan status—pangkat, jabatan dan kekuasaan. Pada tahap berkorban seperti inilah kesulitan serta benturan kepentingan kerap muncul membayangi rasa empati seseorang. Biasanya yang tampil kepermukaan adalah sifat egoistis dan kemudian sifat ini berupaya menghalangi sikap empati menjadi sebatas simpati saja. Hanya sebatas ucapan, lips service. Aduh kasihan! Apalagi kalau status sosialnya jauh lebih tinggi daripada orang yang ada di sekitarnya—ada kesulitan menanggalkan status (pangkat, jabatan, kekuasaan) yang disandangnya. Jangankan melepaskan atribut sosial, melepas gelar yang disandang pun kadang kala susahnya minta ampun. Lucunya, marah-marah ketika gelarnya tidak dicantumkan di depan namanya. Padahal, tidak selalu gelar kesarjanaan harus dicantumkan di depan nama atau di belakang nama. Kecuali berkaitan dengan konteks keilmuan. Di Amerika misalnya, jarang orang mencantumkan gelarnya. Paling kalau dia profesor atau doktor, itu pun langka. Tapi ketika menjadi anggota arisan, ronda kampung, panitia pajongjong tugu, daftar lelang apa perlunya gelar dicantumkan? Membuka maupun melepas atribut bagi seseorang tidak ada kompromi, tapi malah kondisi seperti inilah membentuk kepribadian seseorang menjadi lebih penting, hebat, unggul daripada orang lain. Anehnya, sifat seperti itu ternyata tidak diam dalam suatu wilayah tertertu, tapi juga merambah ke bagian lain. Contoh, agama sayalah yang paling baik, agama orang lain tidak ada apa-apanya, budaya kamilah yang paling hebat, budaya orang lain tidak becus, kelompok kamilah yang paling bagus, kelompok orang lain jelek, partai kamilah yang paling merakyat, partai orang lain hanya mementingkan golongannya. Apabila sifat serba “hebat” ini terus dilakoni dalam pergaulan akan terbentuk suatu perilaku yang dominan terhadap komunitas yang lebih kecil. Beriringan dengan itu, simbol dan lambang keperkasaan dari yang lebih dominan pun ikut heboh menghias ruang publik meskipun terasa dipaksakan. Simbol-simbol itu sekaligus bukti bahwa mereka berkuasa. Sebab, dari balik simbol yang dipamerkan ada pesan komunikasi yang kurang lebih “kami ada di daerah ini dan taatilah aturan kami.” Bukan itu saja, kadang simbol atau lambang tersebut membuat orang lain menjadi gamang dan takut—tidak merasa nyaman berada di wilayah itu. Pemaksaan lambang, simbol atau atribut di ruang umum adalah bentuk lain dari perampasan nilai kebersamaan yang seharusnya dilindungi dan dirawat bersama. Strategi komunikasi yang begini adalah wajah lain dari kesewewenangan yang dipicu nafsu semata. Menurut teori Thomas Hobbes, ahli filsafat dan ahli politik Inggris, manusia pada mulanya dikuasai nafsunya sehingga sifatnya mirip serigala (lupus) yang tak segan-segan memakan kawannya sendiri (homo homini lupus) Gambaran homo homini lupus masih sering terjadi di belahan dunia ini tidak terkecuali Indonesia. Banyak contoh yang dapat disaksikan dalam praktek kekuasaan yang didominasi kelompok besar dan berkuasa. Mulai dari kasus Bank Century, kasus Gayus Tambunan dan tragedi Koja, Tanjung Priok. Peristiwa di kawasan Makam Mbah Priuk, Koja, Jakarta Utara, salah satu contoh yang sangat releven dengan teori Thomas Hobbes. Adegan saling membantai, memangsa, memakan, membacok, membunuh kawannya sendiri. Padahal tak perlu terjadi tragedi itu, seandainya setiap orang mendahulukan sikap empati. Sebab, empati adalah salah satu sikap mulia dan kesatria yaitu memahami orang lain dengan cara masuk ke dalam diri orang itu. Empati dapat mencairkan komunikasi yang beku di antara dua pihak yang bertikai. Karena empati dapat merasakan langsung, terlibat langsung (action) ke dalam pribadi orang lain sehingga benar-benar dapat memahami orang tersebut. Bukan hanya memahami dari bagian luar atau kulitnya. Hanya melihat dari permukaan bisa tertipu seperti fata morgana, hanya banyangan semu—inti persoalan tidak jelas. Inilah nasehat Yesus yang sangat empati. “Dan sebagaimana kamu kehendaki supaya orang perbuat kepadamu, perbuatlah juga demikian kepada mereka.” (Lukas 6:31) baharuddin silaen

Menigkatkan Emosional Anak

Kecerdasan emosional (emotion quotient) adalah kemampuan mengetahui emosi yang dirasakan serta mampu mengendalikannya. Emotion quotient ini menyangkut kemampuan mengatur suasana hati, mengendalikan kemarahan serta rasa takut, berempati dengan orang lain, bertahan saat stres dan tetap mampu berpikir rasional serta tidak berlebihan saat senang. Orang tua adalah pelatih utama emotion quotient (EQ) anak. Pada tahap ini yang perlu dilakukan orang tua adalah memahami emosi anak dan menjelaskan apa yang dirasakan. Misalnya, ketika anak marah, usahakan dia tau apa yang sedang dirasakannya. Lontarkan beberapa pertanyaan saat dia mengalami emosi kuat. “Kamu kesal ya?” “Lagi sedih? “Kamu lagi marah sama temanmu?” Mengenal emosi yang dirasakan anak langkah penting dalam mengelola emosinya. Menyadarkan anak lalu mengambil respon positif dari setiap emosi yang dialaminya. Hindari menghina anak. Seperti mengucapkan, “kog begitu aja marah?” “Bikin malu saja, soal kecil bikin kamu ngamuk seperti itu? “Sudah jangan nangis kayak anak kecil aja!” Respon seperti itu membuat anak menutup emosi, menghindari dan malah membuat respon berlebihan jika emosinya tak mampu dibendung lagi. Perlu diperhatikan orang tua, jangan biarkan anak menumpahkan emosinya tanpa batas. Seperti merusak mainan, membongkar semua isi lemari dan menginjak-injak bajunya karena kesal. Ini adalah bentuk pelepasan emosi yang tak terkendali. Orang tua harus mengendalikannya selaku pelatih EQ anak. Hal lain yang penting diperhatikan orang tua. Jangan menghina anak jika mengalami emosi marah atau takut atau terlalu sedih. Jangan abaikan perasaan anak dan malah menawarkan “suap” seperti kue atau permen saat anak sedih atau marah. Jangan biarkan secara ekstrim anak menumpahkan kekesalannya, seperti membiarkan anak merusak mainannya saat kesal. Duduklah bersama anak, pahami perasaannya, kemudian bantu anak menemukan cara efektif menurunkan emosinya. Adakalanya, tanpa banyak bicara, hadir bersama anak dan memahami apa yang dirasakan sangat membantu anak. Lakukan hal kreatif dan tawarkan pada anak cara mengelola emosinya. Upayakan jangan ada paksaan, tapi biarkan anak memilih sendiri. Sangat baik dan benar, apabila orang tua menjadi pendengar efektif dan biarkan anak mengatakan apa yang dirasakan. Sangat bijak, apabila orang tua meluangkan waktu berdua dan biarkan anak aman dan nyaman dengan kehadiran Anda. Orang tua harus terbuka dan peka dengan emosi anak. Kedekatan emosi dalah langkah lain yang perlu dilakukan orang tua. Selain itu, meluangkan waktu bersama anak dan melakukan hal yang disukainya termasuk cara ampuh pengajaran EQ. Orang tua selaku pelatih EQ anak harus menunjukkan keberanian luar biasa. Membantu anak memahami emosinya secara tak langsung menjadikan Anda juga sadar akan emosi yang dialami. Langkah ini bukan saja menjadikan anak bahagia, tapi juga mendorong orang tua lebih bahagia. Anak yang dibesarkan oleh orang tua yang paham emosi akan tumbuh menjadi anak yang menunjukkan banyak kasih sayang dan tak banyak berbenturan dengan orang tuanya. Anak akan lebih bahagia dan jauh dari hal berbahaya seperti penggunaan obat terlarang. Meningkatkan EQ anak adalah langkah penting yang bukan saja membuat anak jadi orang bermanfaat bagi masyarakat, juga orang tua yang lebih paham dan mencitai diri apa adanya. Sering orang tua berpendapat, anak yang intelligence quotient (IQ) kecerdasan intelegensi tinggi akan berhasil dalam hidupnya kelak. Pendapat itu tidaklah selamanya benar. Karena itu jangan anggap remeh terhadap emotion quotient (EQ) kecerdasan emosional anak. Ternyata di dunia kerja, orang dengan kecerdasan emosional (EQ) tinggi malah diminati banyak perusahaan. Manejer yang andal tak hanya jago mengelola pekerjaan timnya, tapi juga mengendalikan emosi saat memimpin dan beriteraksi. Anak dengan EQ tinggi tidak patah di saat sulit tapi bertahan dan semakin dewasa. Dia mampu bangkit kembali dalam waktu singkat dan jadi lebih berhasil. Sifat seperti itulah yang ditemukan pada pribadi anak yang memiliki EQ yang tinggi. Ada pendapat bahwa IQ nyaris tetap. IQ anak tidaklah berubah banyak saat dia dewasa. Lain halnya dengan EQ yang masih bisa ditingkatkan. Orang tua bisa membantu anak agar kecerdasan emosionalnya bertambah. EQ bisa dipelajari dan dilatih. Bicara soal emosi dan otak, tidak lepas dari soal amigdala. Amigdala adalah pusat memori yang menggantikan emosi dengan seluruh kejadian atau situasi yang dialami. Ini adalah bagian otak yang membuat kita bertindak tanpa sempat berpikir. Misalnya tiba-tiba menceburkan diri ke kolam renang saat melihat anak tenggelam. Ini terjadi tanpa sempat kita memoroses langkah apa yang dilakukan. Memutuskan terjun ke kolam renang adalah tindakan yang diambil tanpa melalui bagian otak rasional. Ini dilakukan oleh bagian otak emosional kita dalam waktu sangat cepat. Amigdala adalah pusat segala hal yang berkaitan dengan emosi. Amigdala menyisipkan semua kenangan dan respons emosi pada setiap kejadian, situasi atau benda. Bau melati menyisipkan kenangan wangi nenek serta rasa nyaman bersamanya. Bau densol mengingatkan perasaan tak enak dan menderita waktu di rumah sakit. Hidung dan mata kita menangkap bau serta benda yang dilihat. Informasi ini kemudian dikirim ke thalamus. Di thalamus sinyal ini dikirim ke neokorteks. Ini yang membuat amigdala lebih berperan dalam merespon yang kita lakukan saat genting. Artinya emsoi bisa jadi penentu respon yang diambil. Bagian otak paling primitif manusia adalah pusat emosi, dari batang otak terbentuklah pusat emosi. Kemudian baru jutaan evolusi manusia, neokorteks atau bagian otak untuk berpikir analitis dan rasional tumbuh di atasnya. Jadi, emosi adalah bagaian paling tua dan sudah ada sebelum adanya otak rasional. Ini juga membuat kita sadar bahwa emosi memegang peranan penting dalam kebahagian hidup. bas/healthylife

Sumber Petaka Merebakdari Jantung Keagamaan

Semua agama mengkalaim dirinya pembawa damai, menolak kekerasan dan menerima perbedaan sebagai anugerah. Sayang klaim damai yang digemborkan masih sekedar teori, yang kelihatan justru sikap mencurigai yang berujung petaka. Anehnya, justru dari jantung keagamaan itu sendiri sumber pertikaian bagi umat manusia yang sama-sama beragama. Apa sebenarnya pemicu sentimen agama ini? Langkah apa yang ditempuh meredam konflik agama di tengah masyarakat majemuk seperti Indonesia? Suara HKBP mewancari Pdt Willem TP Simarmata MA, mantan Sekretaris Jenderal HKBP (1998-2004 dan 2004-2008) Ketua Umum PGI Wilayah Sumatera Utara (1999-2005 dan 2005-2011) dan Ketua Umum FKKGSU (2007-2012) Berikut ini petikan wancara itu. Apa sebenarnya fungsi agama di tengah masyarakat majemuk? Begini, agama sebenarnya bukanlah sesuatu yang asing bagi kemanusian dengan segala persoalannya. Apa pun bentuknya agama sangat erat hubungannya dengan manusia. Ia bukan agama kalau tidak manusiawi. Ia dibentuk dan dilembagakan oleh manusia tetapi substansinya serta ajarannya tidak bisa dilepaskan dari manusia sebab ajarannya bersumber dari Tuhan. Agama tidak hanya berbicara soal hubungan antara Allah dan manusia , tetapi juga soal hubungan antarmanusia bahkan dengan seluruh ciptaan Allah. Fungsi agama adalah panduan bagi umat manusia bagaimana ber-Tuhan, bermasyarakat dan memperlakukan sesama umat manusia. Benarkah agama mendukung tegaknya keadilan dan kesejahteraan masyarakat? Benar! Agama mendukung tegaknya keadilan dan berupaya memajukan kesejahteraan masyarakat. Tidak ada satu agama pun di dunia ini yang tidak mendukung tercipatnya keadilan dan kesejahteraan bagi manusia. Karena itu agama harus mampu saling merangkul, seperti negara kita Indonesia penduduknya majemuk, sifat-sifat saling menghargai dan menghormati itu harus terus ditingkatkan. Supaya hal itu dapat terwujud, lembaga keaagamaan melalui tokoh agama harus bekerja keras mendukung semua aspek yang dapat menegakkan keadilan tersebut. Bagaimana Anda melihat ketika orang beragama merusak rumah ibadah, apakah ini keadilan? Dalam kasus ini, saya melihat ada pemahaman yang kurang terbuka terhadap agama yang berbeda. Sebenarnya harus dipahami, agama tidak dapat dipisahkan dari masyarakat. Ini menjadi persolan, ketika agama disalahartikan secara sempit—hanya sarana mengagungkan nama Tuhan atau hanya “menyenangkan” hati Tuhan, tapi lupa terhadap sesama umat manusia yang ada di sekitarnya. Seolah-olah agama adalah urusan Tuhan. Ini pulalah pemicu kebencian sehingga tidak segan-segan mengorbankan yang lain karena berbeda agama dan merusak rumah ibadah karena bukan satu agama. Apa yang salah? Penafsiran barangkali yang keliru. Kemudian, perlu dihindarkan, jangan sampai agama identik dengan tumpukan larangan atau hukum terhadap perbuatan yang tidak benar. Ajaran agama sejatinya menjadi inspirasi bagi umat untuk melakukan hal-hal positif kepada sesama umat beragama. Apa yang harus dilakukan, supaya impian itu terwujud? Pemimpin agama harus terus menerus menjelaskan kepada umatnya, orang beragama harus bertanggung jawab kepada sesama meskipun berbeda keyakinan untuk memajukan keadilan, kebersamaan, kesejukan sehingga terbentuk kehidupan masyarakat yang lebih baik serta bermartabat, damai dan rukun. Seperti itulah pantasnya gambaran kehidupan umat yang mengaku beragama. Agaknya, tidak salah mencontoh apa yang dilakukan agama lain dalam perihal berbuat baik terhadap yang lain. Hampir semua pemimpin agama mengklaim bahwa ajaran agama apa pun menolak kekerasan apalagi membunuh, apakah Anda melihat itu sudah terwujud di Indonesia? Pertama yang perlu diperhatikan adalah peranan agama itu sendiri, harus dilihat dari sudut positif. Dengan demikian tumbuhlah saling meghargai. Tapi kalau agama selalu dilihat dari sisi negatif yang muncul malah sikap curiga. Bagaimana mau duduk bersama kalau terus-menerus ditanamkan sifat negatif terhadap agama tertentu. Dalam suatu bangsa dan negara majemuk, siapa pun dia, harus melihat sumbangan agama di Indonesia sangat nyata dalam membangun kehidupan umat, baik spiritual maupun moral masyarakat. Karena itu harus mampu menghargai perbedaan yang ada. Perbedaan bukan awal dari perlawanan dan permusuhan. Agama-agama berbeda karena sejarah manusia memang berbeda. Umat manusia diciptakan Tuhan tidak sama, makanya ada perbedaan dan perbedaan itu harus diterima sebagai anugerah bukan persoalan? Kalau hal ini dipahami bersama, suasana hidup umat beragama di Indonesia akan bertambah indah dan sikap saling mendukung serta menghormati pun tidak lagi hanya impian belaka. Jangan-jangan agama Kristen pun ikut bikin masalah? Makanya, jangan hanya melihat kesalahan agama orang lain, kita pun perlu intropeksi secara kritis terhadap penampilan agama kita (Kristen) Siapa tau di dalamnya ada sikap dan perilaku yang merugikan masyarakat atau barangkali mengancam persatuan umat beragama. Siapa tau justru kita sendiri yang mengundang pihak lain membeci dan mencurigai ajaran yang kita anut. Saya pikir kualitas iman perlu terus dibina jangan hanya menambah jumlah umat yang dikejar. Pemimpin agama jangan hanya mengejar target agar pengikut Kristus terus bertambah dan banyak jiwa yang diselamatkan, tapi lupa mengajarkan bagaimana selayaknya umat Kristen hidup dengan umat yang berbeda agama. Agar sikap netral gereja tetap terjaga, sebaiknya posisi gereja bagaimana? Gereja harus cerdas jangan sampai terbawa arus kelompok dan partai tertentu sehingga menjadi sumber konflik. Ini yang musti dihindari, agar gereja jangan sampai terseret kepada posisi diperalat bagi kepentingan pihak tertentu. Dengan begitu indepensi kenetralan gereja tidak terusik oleh kekuatan dari luar. Harus juga dijaga, gereja bersama dengan lembaga keagamaan lainnya jangan menyerahkan moralitas politik kepada elit politik begitu saja. Sebab, keikutsertaan gereja dan lembaga keagamaan lainnya dalam kehidupan berbangsa dan bernegara adalah menegakkan dimensi moral dan etika. Jangan lupa, bangsa atau negara tanpa moral dan etika akan selalu menghasilkan penyalahgunaan kekuasaan menindas sesama warga masyarakat. Langkah apa sebaiknya yang harus dilakukan dalam hal ini gereja di tengah masyarkat majemuk. Pendapat Anda? Saya pikir, gereja perlu mendalami teologi yang dianut, apakah mencerminkan perilaku inklusif atau eksklusif? Harus diingat, klaim kebenaran hanya milik kelompok sendiri adalah bentuk arogansi yang mengganggu kebersamaan. Pimpinan gereja harus berfungsi sebagai nabi yang memegang peran kontrol sosial dan pengawal demokrasi. Gereja juga harus peduli dan punya program jelas terhadap persoalan kemiskinan, HAM, korban bencana alam, dan korban HIV/AIDS. Gereja juga harus tegas terhadap tindakan anarkisme yang melawan hukum adalah juga sesuatu yang harus diwaspadai, sebab pada akhirnya akan mengganggu kebersamaan di tengah-tengah bangsa. Anda punya ide yang harus segera dilakukan gereja ke depan? Ya, saya punya ide, supaya ditinjau dan dirumuskan kembali teologi yang dianut gereja. Tapi, rumusan itu sebaiknya hasil langsung dialog dengan konteks masyarakat plural, termasuk menempatkan umat lain dalam rumusan. Saya pikir, gereja pun perlu merumuskan ulang pemahaman akan misinya. Termasuk strategi penginjilannya harus dalam konteks masyarakat majemuk. Selain merumuskan ulang teologi, apa lagi menurut Anda yang mendesak dilakukan gereja? Dialog. Saya pikir ini yang mendesak, gereja harus semakin terbuka kepada dialog. Dialog yang kita maksud bukan hanya sekedar diskusi dan percakapan atau seminar tetapi juga menyangkut kesediaan menerima keberadaan umat lain, sehingga bisa saling belajar dan memahami pengalaman rohani umat lain. Bagaimana dengan kurikulum pendidikan teologi, apakah ini juga penting ditinjau kembali? Tentu sangat penting. Kurikulum pendidikan teologi di berbagai perguruan teologi termasuk buku pelajaran di gereja perlu disesuaikan dengan tantangan zaman. Selain itu, kesadaran plural untuk memperkokoh kebersamaan, kesatuan dan persatuan bangsa harus terus dikumandangkan. Gereja harus secara terus menerus menyuarakan dan menolak kekerasan dalam bentuk apa pun dan memprakarsai hidup rukun dan damai dengan umat lain di dunia ini. (bas)