Senin, 04 April 2011
Bisakah Tuhan Dipercaya?
Membaca judul buku “Bisakah Tuhan Dipercaya” (Can God Be Trusted) sudah bikin penasaran dan sedikit gusar. Buku ini selain rumit, juga diperlukan kesabaran membaca ulang setiap bab agar dapat memahami isinya. Maklum buku ini dikemas dengan logika filsafat yang amat kritis ketika menganalisis segala kejadian di dunia ini. Jika Tuhan benar-benar Maha Kuasa dan Maha Pengasih, mengapa ada begitu banyak kejahatan di dunia ini? Lalu, penulis buku ini mencoba mengurai kegamangan umat manusia melalui pendekatan yang lebih mendalam dan rinci sekaligus memadukan gagasan para filsuf dan teolog untuk menyikapi kejahatan di dunia ini. Dalam buku ini John G Stackhouse memberi contoh tatanan kehidupan yang inkonsistensi. Bersalah atas sesuatu dan mendapatkan ganjarannya adalah satu hal. Namun, di sekitar kita, yang bersalah makin makmur dan yang tidak bersalah justru menderita. Terlalu sering terjadi kejahatan malah menguntungkan. Sementara kebajikan tidak menghasilkan apa-apa selain kebajikan itu sendiri. Jika kita tidak dapat menjawabnya, John menyarankan, sebaiknya tidak menuduh Tuhan dan berpikir lebih keras tentang apa yang kita maksudkan dengan bersalah dan tidak bersalah. Segala sesuatu mungkin tidak segamblang yang kita pikirkan. Tidak ada gunanya bersikap sinis dan memandang dunia atau setiap hal di dunia sebagai sesuatu yang mengerikan, karena memang tidak demikian? Orang harus memutuskan apa yang paling masuk akal bagi dirinya, seperti yang disarankan beberapa agama untuk melihat kebaikan dalam dunia sebagai ilusi atau pengalih perhatian saja. Beberapa filsuf kontemporer telah berargumen bahwa masalah antara Tuhan dan kejahatan dapat diselesaikan dengan cukup baik bila kita dapat berkesimpulan bahwa dunia ini, secara keseluruhan adalah dunia yang baik. Rangkain pikiran filsuf secara mudah ditemukan dalam buku Jonh G Stackhouse yang juga dosen di University of Manitoba, Winnipeg, Kanada. Penulis buku ini, juga berbagi pengalaman spiritual kepada pembaca, agar dapat bertahan di dunia ini ada realitas yang harus dihadapi. Sebagai individu dan sebagai komunitas, kita berada dalam kodisi negatif: kita tidak damai, kita sudah rusak, lemah, jahat, tidak stabil dan merusak shalom. Dalam hati dan relasi, kita jauh dari utuh dan sudah seperti itu sepanjang sejarah. Yudaisme, Kristen dan Islam menyebut kondisi ini dosa dan dosa harus dihadapi dan diselesaikan. Buku yang diterbitkan Kelompok Gramedia ini menyarankan sikap hati-hati dan tidak gegabah menghakimi orang lain. Kita harus berhati-hati, dengan apa yang kita minta saat kita ingin agar Tuhan menghancurkan kejahatan di dunia ini. Tuhan memang dapat melakukannya dengan banjir besar yang akan menyapu bersih semuanya. Namun, bukankah pemusnahan anak-anak yang tak berdosa, hewan dan tumbuhan itu juga merupakan kejahatan? Sebenarnya Tuhan dapat memusnahkan manusia yang jahat saja dan meninggalkan yang baik. Hanya saja, siapa di antara kita yang akan masuk ke salah satu kategori itu. Saya sendiri tidak sepenuhnya baik dan Tuhan yang sempurna pasti menerapkan standar yang sempurna. Standar yang demikian akan memusnahkan saya beserta keluarga dan teman saya. “Apakah Anda dan orang-orang yang Anda kasihi siap diuji?” John bertanya. Jika Tuhan, karena alasan tertentu, ingin menikmati persekutuan dengan mahluk ciptaanNya, maka Tuhan bertindak adil dengan menciptakan dan membiarkan kita bebas, seperti yang sudah terjadi untuk menjadi diri kita sendiri, juga untuk berdosa dan sebagainya. Kita tidak akan pernah tahu mengapa Tuhan menjalankan dunia seperti yang Dia lakukan sekarang, tetapi kita dapat mengetahui apakah Tuhan dapat dipercaya untuk menjalankannya dalam suatu cara yang baik. Kaum teis, seperti agama Yahudi, Kristen dan Muslim mengindentifikasi standar kebaikan obejektif ini sebagai karakter dan kehendak Tuhan. Di luar Tuhan tidak ada standar kebaikan di alam semesta ini, begitu juga dengan standar untuk mengevaluasi Tuhan. Tuhan adalah standarnya, Tuhan itu baik! John Stackhouse dengan berani menajikan pandangan para pemikir besar ketika bergumul dengan masalah kejahatan, seperti Buddha, Confusius, Agustinus, David Hume, Martin Luther, CS Lewis dan Alvin Platinga. Penulis tidak menyembunyikan perihal kontradiksi yang ada di sekitar kita—sebab Tuhan Maha Baik yang mengizinkan adanya penyakit mematikan, bencana alam, cacat lahir dan kejahatan keji yang membawa penderitaan dalam hidup. Stockhouse bertanya, apakah dunia tanpa kejahatan adalah dunia paling baik untuk kita? Apakah hidup tanpa penderitaan akan menjadi hidup paling berarti? Apakah kehendak bebas akan tetap ada jika kita hanya memilih yang baik saja? “Manfaat kejahatan sesungguhnya melebihi harga yang harus dibayarnya,” ujar John. bas
Bukan Orang Kristen?
Baharuddin Silaen Hampir semua tulisan (opini) maupun berita yang dikirim ke redaksi majalah ini sering dijumpai pilihan kata yang tidak tepat. Bukan hanya di majalah ini, di media cetak dan media elektronik pun kesalahan serupa juga ditemukan. Memang, pilihan kata (diksi)yang tepat dalam penulisan sangat penting, supaya pembaca tidak menduga-duga atau menafsirkan sendiri makna kata tersebut. Sebaiknya harus konkrit dan jelas serta tidak bermakna ganda. Ketepatan pilihan kata, menurut Gorys Keraf, kesanggupan kata untuk menimbulkan gagasan yang tepat pada imajinasi pembaca atau pendengar, seperti apa yang dipikirkan atau dirasakan oleh penulis atau pembicara. (Diksi dan Gaya Bahasa, hal 87) Apa yang terbayang ketika membaca kata “orang?” Pastilah manusia, bukan hewan atau mahluk lain. Orang adalah kata ganti dari manusia. “Kamu orang apa?” Orang Batak, Jawa, Sunda, Minang, Ambon, Betawi, Bugis, Madura, Toraja. “Kamu manusia apa?” Maknanya sudah lain, sebab pilihan kata kurang pas. Ada 10 pengertian “orang” menurut Kamus Umum Bahasa Indonesia. Orang artinya; manusia, sesuatu manusia, diri sendiri, penolong bilangan bagi manusia, anak buah, rakyat, suku, orang lain, karena (sebenarnya) dan manusia yang mempunyai sifat (orang kaya) Dari kesepuluh pengertian tersebut tidak satu pun yang menyinggung keyakinan, kepercayaan maupun yang berkaitan dengan agama. Itu berarti, kata orang tidak tepat dipergunakan menyebutkan agama yang dianut seseorang. Contoh; orang Kristen, orang Islam, orang Katolik, orang Budda, orang Hindu. Kata orang yang dipakai di awal sebutan agama ini, tidak tepat dan salah kaprah. Pilihan katanya ngaur, tentu maknanya pun jadi berantakan. Yang benar adalah agama Kristen, bukan orang Kristen? Tidak ada orang Kristen. “Dia orang Batak agamanya Kristen.” Ini yang benar dan jelas. Sedangkan untuk menjelaskan orang yang memeluk agama tersebut, disebut “umat” (jemaat) bukan “orang.” Misal, “perayaan Paskah dihadiri ribuan umat Kristen yang datang dari Jabodetabek. “Umat Kristen di dunia memperingati kematian Yesus Kritus pada Jumat Agung.” Umat beragama harus saling mengasihi. Bukan orang beragama? Bukan orang Kristiani, tetapi umat Kristiani. Kata Kristiani, belakangan ini sering dipergunakan baik dalam tulisan maupun lisan. Kata ini dipungut secara utuh dari bahasa Inggris, Christianity—agama Kristen atau yang berhubungan dengan kekristenan. Pilihan kata yang tidak tepat, juga dijumpai pada pemakaian kata “jemaat” dan “gereja.” Contoh, “penjelasan mengenai program tahun marturia diharapkan meningkatkan kepedulian jemaat.” Kata “jemaat” dalam kalimat ini bisa diartikan ganda oleh pembaca, yaitu; warga gereja, atau gereja (gedung) itu sendiri. Soalnya, kata jemaat kadang kala diartikan dengan gereja. Inilah membuat bingung. “Resort ini punya lima jemaat.” Kata “jemaat” dalam kalimat ini apakah gerejanya (gedung) atau anggota gerejanya? Supaya jangan membingungkan, tulislah “jemaat atau warga gereja,” apabila yang dimaksud adalah warganya (ruas) Apabila yang dimaksud adalah gereja (lembaga, gedung) tulislah gereja, bukan jemaat. “Resort ini punya lima gereja,” bukan “resort ini punya lima jemaat.” Soalnya, tidak masuk akal satu resort hanya punya lima anggota jemaat (orang) Contoh pilihan kata yang benar; “Beberapa rumah jemaat HKBP di Jakarta teredam banjir.” “Sampai saat ini surat izin membangun gereja belum diperoleh.” Ingat, bukan surat izin membangun jemaat. Sebenarnya, dari etimologi (asal-usul) katanya pun sudah jelas perbedaan arti antara gereja dengan jemaat. Kata jemaat berasal dari kata “jama’a” (Arab) dalam bahasa Ibrani disebut qahal, assembly—Inggris, ekklesia—Yunani. Kata ekklesia sering dipergunakan dalam Perjanjian Baru yang diterjemahkan dengan jemaat. Dalam Kisah 7:38 diterjemahkan “sidang jemaah” (gathering) Ekklesia juga diterjemahkan “sidang rakyat” (Kisah 19: 39) Dalam Matius 16:18, ekklesia, diterjemahkan “jemaat.” Atau kumpulan orang yang dipanggil keluar (out of to call) Berdasarkan penjelasan ini, kata jemaat adalah sebutan khusus kepada warga/umat penganut suatu agama (Kristen) Lain halnya dengan gereja, berasal dari kata igreja, Portugis, church, Inggris, kerk, Belanda, kirche, Jerman, gareja (huria) Batak. Kata ekklesia kadang diterjemahkan gereja. Menurut Kamus Umum Bahasa Indonesia, gereja adalah gedung (rumah) tempat berdoa dan melakukan upacara agama Kristen. Orang yang datang berkumpul ke gereja, itulah yang disebut jemaat. Cermatlah memilih kata, agar pesan yang disampaikan dapat dipahami pembaca (pendengar) sebagaimana yang diinginkan. Kata-kata berikut ini mempunyai makna tersendiri; melihat, memandang, menatap, melirik, menengok, melongok, mengintip, jelilah memilihnya. Pilihan kata yang tepat bukan saja enak dibaca tetapi juga menjadikan kata-katanya komunikatif. Cobalah! Penulis Baharuddin Silaen pengajar di Fisipol UKI Jakarta, mengampu mata kuliah bahasa jurnalistik.
Senin, 28 Maret 2011
Kampung Batak Tempo Doeloe
Suasana huta Batak mulai terasa ketika suara gondang Batak sayup-sayup kedengaran saat menuju harbangan (gerbang) “Huta Batak” di Desa Pagar Batu, Balige. Di sisi gerbang ada pohon beringin (hariara) yang sengaja ditanam sebagai ciri huta orang Batak tempo dulu. Enam ruma Batak berdiri kokoh di atas pekarangan yang luas dihias rumput hijau yang tertata rapi. Salah satu ruma adalah rumah asli TB Silalahi. Rumah yang berusia 150 tahun ini adalah tempat tinggal TB Silalahi semasa kecil di Balige. Dalam perkampungan Batak ini ada dua jenis rumah adat; ruma dan sopo. Rumah itu dibagi dua bagian yang saling berhadapan. Di antara kedua deretan rumah terdapat halaman luas yang fungsinya tempat menjemur padi dan bermain anak-anak. Sama seperti huta Batak dahulu kala. Ada enam rumah asli Batak berusia 120 hingga 150 tahun di huta Batak TB Silalahi Center (TBSC). Rumah ini sumbangan dari keluarga (marga) Batak yang mencintai kebudayaan leluhur. Termasuk salah satu rumah pendiri TBSC. Rumah itu asli yang dipindahkan dari Pagar Batu ke kompleks TBSC. Huta di kompleks TBSC dikelilingi pohon bambu sama seperti huta orang Batak di masa lalu. Termasuk jalan masuk ke huta hanya satu gerbang (bahal) Biasanya di sisi bahal terdapat hariara (beringin) Nuansa kampung Batak tempo dulu dapat dirasakan di huta Batak Pagar Batu, Balige. Selain rumah Batak ada juga pangulubalang (patung) di perkampungan ini. Pangulublang merupakan peninggalan suku Batak ketika masih menganut anisme. Dahulu kala pangulubalang dianggap sebagi patung pelindung desa, khususnya saat penduduk desa sedang meninggalkan desa untuk berbagai kegiatan. Patung terbuat dari batu, tapi ada juga patung yang dibuat dari kayu. Peranan pangulubalang sangat penting khusus meyelesaikan perselisihan antarmarga atau antardesa. Konon, roh pangulubalang ditugasi pergi ke daerah musuh untuk menutup mata dan telinga musuh agar tidak mampu berperang lagi. Bagaimana “gaya hidup” orang Batak di masa lalu, juga dapat disaksikan di TBSC. Jejak orang Batak tempo dulu ada tersimpan di sebuah rumah besar yang disebut Ruma Bolon,berukuran sembilan setengah kali 15 meter. Dua kali lebih besar dari ukuran ruma Batak. Ciri khas Ruma Bolon adalah ukiran (gorga) yang sangat dominant pada dinding. Gorga ini memiliki nilai filosofi fan religi. Terdapat juga ukiran singa pada kayu yang ada di sisi kanan dan kiri ruma. Termasuk hiasan payudara sebagai lambang kesuburan (hagabeon) Demikian juga gambar kadal (boraspati) lambang kebijaksanaan dan kekayaan. Dapat juga disaksikan replika peradaban di masa lalu. Seperti pengobatan tradisional melalui bantuan datu (dukun) Peralatan pesta Batak zaman dulu serta alat rumah tangga dan alat berburu lengkap disimpan dalam Ruma Bolon. “Kalau pada musim liburan, biasanya ada pertunjukan tortor,” kata seorang pemandu TBSC. Tortor tersebut diadakan di bawah ruma, diiringi gondang yang dimainkan pargonsi yang ditempatkan di sokor (balkon) Pada bagian bawah Ruma Bolon terdapat tombara (kolong) yang digunakan sebagai kandang ternak, tempat menyimpan kayu dan tempat martonun. Ruma Batak pada umumnya tidak punya kamar (bilut) Ruangan dalam rumah terbuka tanpa sekat pembatas. Pada rungan utama berfungsi sebagai tempat tidur di situlah keluarga tidur beralaskan lage (tikar) seadanya. Lage jarang dilipat atau disimpan. Kalau tidur pada malam hari biasanya pakai bulusan (selimut) dari tikar karena udara dingin. Di bagian dapur terdapat tataring (tempat memasak) yang terbuat dari batu (dalihan) Tataring dilengkapi dengan parapara. Parapara befungsi sebagai tempat kayu bakar dan peralatan masak lainnya. Berkunjung ke TBSC banyak hal yang dapat disaksikan. Selain kampung Batak yang asri, pengunjung dimanjakan dengan panorama Danau Toba yang indah. Pengunjung bisa melepas lelah di kafe terbuka yang terdapat di bagian depan TBSC. Dari lantai dua kafe ini dapat menikmati pemandangan Danau Toba yang terhampar di ujung Desa Pagar Batu. Tidak terkecuali, jejak perjalanan TB Silalahi dapat dilihat di dalam TBSC. Mulai masa kecil, kegiatannya di milter dan di pemerintahan lengkap dipajang di museum ini. (baharuddin silaen)
Kalau Pendeta Kurang Membaca
Catatan harian saya, sudah lama terselip di antara tumpukan buku-buku, secara tidak sengaja kutemukan kembali sewaktu mencari buku di lemari buku. Setelah kubaca ulang, biasa-biasa saja, tidak ada yang layak diberikan nilai plus. Informasinya sangat minim, bahkan kering. Lama aku termenung, menerawang ke masa lampau, 29 tahun silam di sebuah desa kecil di Parausorat. Begini kisahnya. Saya diajak Pdt Prof Dr Adelbert A Sitompul (alm) menemaninya pada acara evangelisasi di HKBP Sipirok (1980) ketika itu aku masih pendeta praktek di HKBP Pangaloan. AA Sitompul saat itu baru bertugas di Kantor Pusat HKBP Pearaja Tarutung, setelah pulang dari Geneva. Meskipun hanya dua hari kami menjelajah pelosok Sipirok, banyak hal yang didapat. Di perjalanan, aku bertanya kepada AA Sitompul, kenapa bukan yang lain diajak menemaninya, kenapa saya? “Kamu sering menulis di surat kabar, tulislah nanti perjalanan kita ke Parausorat,” jawab Sitompul waktu itu. Terus terang saya senang mendapat kesempatan menemaninya, karena sewaktu mahasiswa, Pdt AA Sitompul adalah dosen yang saya kagumi. “Petualangan” kami itu dimuat di “Sinar Indonesia Baru” Medan. Pagi-pagi kami menuju Parausorat setelah lebih dulu menjelajahi Bungabondar. Kami sempat mengunjungi beberapa gereja tua serta makam para misionaris yang pernah melayani di Sipirok. Setelah itu perjalanan dilanjutkan ke Parausorat. Di tempat ini bertemu dengan beberapa warga Kristen yang masih tetap pengikut Kristus. Mereka tinggal dekat gereja yang di Parausorat, yang warganya waktu itu hanya tinggal enam kepala keluarga. Gereja ini tidak jauh dari bekas Sekolah Guru yang didirikan 1868. Bangunan sekolah ini tidak ada lagi, habis ditelan waktu, hanya ada bekas tiang tertancap (1980) itu pun sudah lapuk dan tinggal 30 sentimeter dari permukaan tanah. Di dalam gereja berukuran lima kali delapan meter tergantung foto Simon Siregar dan Jakobus Tampubolon, inilah orang Batak pertama masuk Kristen. Waktu itu kami dipandu Pdt Sabar P Simanungkalit, Pendeta Resort HKBP Spirok waktu itu. Sekarang Pendeta Resort HKBP Kernolong, Jakarta. Keesokan harinya kami melanjutkan perjalanan, tapi kali ini “petualangan” dari rumah ke rumah penduduk. Rupanya, ada misi lain yang baru belakangan diberitahu AA Sitompul kepada saya, dia mau menulis buku tentang orang-orang Batak yang pertama masuk Kristen. “Buku seperti ini belum pernah ada yang tulis,” ujar AA Sitompul bersemangat. Sudah lupa saya berapa rumah kami kunjungi waktu itu, tapi yang jelas dari tiap rumah yang kami kunjungi, pasti ada buku yang dibawa pulang. Dengan perjanjian kepada pemilik buku, “pinjam” dan akan dikembalikan. Buku-buku yang kami pinjam itu, hampir semuanya ditulis tangan oleh para misionaris dan penggantinya. Tulisannya sangat rapi dan jelas. Ada yang sebagian sudah dimakan rayap, ada yang sobek dan ada yang kena air sehingga tulisan tidak terbaca lagi. “Jangan ada yang tertinggal, bawa semua, ” Sitompul berulangkali mengingatkan saya. Saya ditugasi waktu itu mencatat setiap buku, alamat dan nama pemilik buku. Lumayan juga bundelan yang kami angkut hasil petualangan mencari buku/catatan para misionaris. Waktu itu Sitompul bilang kepada saya, namamu akan saya tulis dalam buku yang akan diterbitkan. “Nunga dohot ho loja mandongani au mandiori angka catatan ni parbarita na uli parjalo tu Sipirok, husurathon pe goramu di buku i,” Sitompul berjanji. Selang beberapa tahun kemudian buku terbit berjudul “Sitotas Nambur Hakristenon.” “Hebat juga Pdt AA Sitompul, jadi juga terbit buku yang menarik yang mengisahkan perjalanan orang Batak masuk Kristen,” kata saya dalam hati. Walaupun nama saya tidak tercantum seperti dijanjikan, saya tidak kecewa. Mungkin dia lupa. Saya tetap bangga kepada Pdt Adelbert A Sitompul, di sela-sela kesibukannya dia masih sempat menulis buku yang sekaligus memperkaya karya-karya yang bermanfaat bagi warga HKBP dan yang membacanya. Sayang, ketika dia meninggal, sebulan kemudian saya baru dapat informasi. Padahal sama-sama di Jakarta. Hanya penesalan yang terlontar. Saya terlalu cuek ketika mendengar dia dirawat. Tidak menjenguknya ketika dia terbaring sakit. Pada kesempatan lain, saya pernah mewancarainya, ia mengatakan; pendeta harus rajin membaca, jangan karena di desa membaca dianggap tidak perlu. Kalau pendeta malas membaca, khotbahnya pun jadi “pollung tubu” (apa yang muncul saat itu-pen) Nasehat AA Sitompul ini terngiang kembali, ketika ada yang mengeluh mengenai kotbah pendeta dari itu ke itu, bolak-balik—sudah pernah dikotbahkan diulang lagi. “Pendeta kami kurang membaca, khotbahnya tidak menarik. Mulak-ulak. Tidak ada persiapan,” komentar salah satu warga gereja. Ada juga benarnya komentar warga gereja ini. Apalagi pendeta yang melayani di kota besar seperti Medan, Bandung, Jakarta, buku dan membaca adalah kebutuhan yang harus dipelihara. Bayangkan, seorang pendeta lima tahun melayani pada satu gereja (resort) berapa kali dia berkotbah dalam satu minggu, belum lagi ke kategorial, punguan, partangiangan. Bagaimanapun “hebatnya” pendeta berkotbah suatu saat pasti mengalami kejenuhan—habis kamus. Tahun pertama, kedua dan ketiga kotbahnya masih menarik, maklum masih banyak stok. Tahun keempat dan kelima mulai kalang kabut. Mengatasinya, tidak ada jalan lain kecuali banyak membaca buku, majalah, surat kabar, rajin bersilancar di dunia maya. Pokoknya harus senantiasa mengaktualisasikan diri sehingga bisa berdampingan dengan kehebatan teknologi komunikasi masa kini. Bukan mengada-ada, soalnya, warga gereja yang dialayani sudah terbiasa dengan website, internet, bayangkan kalau pendeta membuka email pun susah. Orang sudah terbiasa membuka Alkitab Elektronik, pendetanya boro-boro membuka, melihat pun belum pernah? Betul, tidak jaminan menguasai website, internet lebih hebat, tapi paling tidak menambah wawasan dan percaya diri. Kebutuhan buku bagi pelayaan gereja sudah keharusan apalagi di kota-kota besar seperti Jakarta. Tak heran, beberapa gereja di Jakarta sudah menyisihkan dana untuk pos pemebelian buku dan internet pelayaan (pendeta) Ini langkah maju yang perlu dicontoh. Menarik cerita Pdt Dr Richard M Daulay, Sekretaris Umum PGI, bagaimana dia mempersiapkan kotbahnya. “Saya tidak berani berkotbah kalau saya tidak mempersiapkan materi kotbah dengan benar. Kadang harus saya ke toko buku membeli buku dua sampai tiga di luar buku-buku tafsir, “ ucap Richard. Begitu juga Pdt Dr Einar M Sitompul, yang sering diundang ceramah dan berkotbah di berbagai gereja, selalu mempersiapkan kotbahnya dan banyak membaca. Pendeta ini sejak mahasiswa sampai sekarang kebiasaan membeli buku secara teratur masih terus dilakoninya. Tiada hari tanpa membaca. Ke mana saja dia selalu membawa buku dan tentu membacanya. Ketika pendeta di Bandung, hampir semua tempat penjualan buku bekas dijelajahinya. Sekarang pun kegemaran itu masih terus ditekuninya, jangan heran kalau suatu ketika ketemu Einar Sitompul di tempat penjualan buku bekas di Pasar Senen, Jakarta. “Tidak harus baru kan, yang bekas pun masih bagus, yang penting isinya,” kata Einar sewaktu kami sama-sama di Bandung yang pernah menghadiahkan saya buku “Speaker’s Sourcebook” karya Eleanor Doan. Memang repot kalau pendeta kurang membaca! bas
HKBP Harus Jelas Jati Dirinya
Menjelang 150 tahun HKBP pada 2011, Ephorus Pdt Dr Bonar Napitupulu di hadapan 1300 pendeta kembali menegaskan, HKBP perlu semakin jelas dan tegas akan jati diri sebagai suatu gereja yang hidup dan berkembang di dunia ini. Identitas inilah yang sekaligus membedakan HKBP dengan gereja lainnya. “Pernyataan HKBP adalah HKBP adalah juga sikap konsisten gereja ini terhadap jati dirinya. Dia punya ciri khas yang jelas yang dituangkan dalam Aturan dan Peraturan, Konfesi, RPP dan Agenda HKBP, “ kata Bonar Napitupulu saat menyampaikan bimbingan pastoral pada Rapat Pendeta di Sipoholon baru-baru ini. Begitu juga mengenai tohonan (jabatan) Ephorus Napitupulu menjelaskan, tohonan, bukan jenjang karier, tetapi merupakan panggilan yang dikelola secara profesional. Ia juga menyinggung pemahaman HKBP berkaitan dengan pelaksanaan perjamuan kudus, khusus mengenai roti, ditegaskan supaya seragam dan memperhatikan konteks berlakunya. Misalnya tentang roti yang diponggoli (dipecah). Selain teologi, ia pun mengingatkan pendeta HKBP supaya menghayati jati diri pelayanan yang holistik termasuk pembagian tugas pelayanan pendeta. Hal yang sama dilontarkan Ketua Rapat Pendeta Pdt Dr Jamilin Sirait, pimpinan HKBP bersama Ketua Rapat Pendeta (KRP) perlu menunjukkan sikap pada situasi yang sedang berkembang atau isu-isu yang hangat. Ke depan, menurut Jamilin Sirait, KRP sebaiknya dijabat pendeta yang berkualitas dan mampu mengayomi semua pendeta HKBP. Bahkan mengenai figur dan posisi KRP termasuk yang dibahas dalam kelompok. Kelompok mengusulkan, KRP dilembagakan dan berkantor di Kantor Pusat HKBP. Komisi-komisi yang ada di HKBP supaya bernaung di bawah KRP. KRP mengikuti dan menentukan jadwal Rapat Pendeta Distrik HKBP. Rapat pendeta juga membahas tentang persembahan dan liturgi. Persepuluhan yang kurang populer di kalangan warga HKBP salah satu topik yang dibahas. Persepuluhan adalah bentuk persembahan yang juga bisa dilakukan warga HKBP. Agar pemahaman persepuluhan ini seragam, perlu dibuat dokumen teologisnya dan menjadi dokumen resmi HKBP. Kelompok mengusulkan supaya dibuat tata ibadah “Tohonan Evangelis.” Sedangkan mengenai Konfesi dan RPP ada sejumlah topik yang ditambahkan. Seperti gereja dan negara/pemerintah, manusia dan kesetaraan gender, iman dan Iptek, pernikan, kekerasan, hak asasi manusia, keadilan sosial dan hubungan kekristenan dengan adat. Begtiu juga isu pemanasan global, homoseks dan lesbian, pembangunan rumah ibadah, penjualan manusia (human trafficking) aborsi, bayi tabung, NAPZA, HIV/AIDS dan terorisme. Termasuk Komisi Teologi agar merumuskan ajaran Kristen yang menjadi pegangan warga HKBP. Misalnya mengenai: doa, ibadah, pernikahan dan persembahan. Dokumen lain yang dibahas dan termasuk yang baru dalam pendeta HKBP adalah Kode Etik Kependetaan HKBP. Kode etik ini sebagai pedoman praktis bagi pendeta HKBP saat menjalankan tugas kependetaannya. Salah satu pasal menyebutkan, “Pendeta HKBP sebaiknya tidak membawa persoalan HKBP ke luar HKBP. Pedenta HKBP harus senantiasa berusaha mengatasi persoalan dalam jemaat/unit pelayanan. Jika seorang pendeta tidak mempu menyelesaikan konflik/persolan dalam pelayanan, maka dia harus mengakui secara jujur kepada pimpinan. “Pendeta HKBP yang terbukti sengaja menciptakan persolan (konflik) dalam tugas pelayanan, sebaiknya keluar dari pendeta HKBP.” Mengenai pendeta yang aktif dalam politik juga diatur dalam Pasal 11 ayat tujuh, “ Pendeta HKBP yang aktif berpolitik praktis, menjadi anggota legislatif, pengurus partai, aktivis LSM dan bekerja di lembaga di luar HKBP yang memperoleh rekomendasi dari Ephorus HKBP, tetap terhitung sebagai pendeta HKBP yang melayani di luar HKBP.” Kode etik ini juga mengatur pemakaian baju toga (baju tohonan). “Pendeta HKBP tidak diperbolehkan memakai baju toga untuk kegiatan demonstrasi, pengadilan, kampanye dan kegiatan politis lainnya.” Namun kelompok yang merumuskan Kode Etik Kependetaan HKBP mengusulkan, dokumen ini masih perlu diperbaiki khusus redaksional dan sebaiknya melibatkan beberapa ahli yang berkaitan dengan isi kode etik tersebut. Meskipun rapat ini diwarnai interupsi pada hari pertama saat sesi orientasi, namun semua acara berjalan dengan baik dan berhasil memilih Ketua Rapat Pendeta HKBP yang baru periode 2009-2013. Pdt Willem TP Simarmata MA terpilih menjadi KRP HKBP. (bas)
Langganan:
Postingan (Atom)
