Senin, 04 April 2011
Ya'maro Sitompul Komponis dari Pahae
Ya’ maro Sitompul Komponis Muda dari Pahae Namanya seperti nama orang Jepang, Ya’maro. Padahal tidak ada kaitannya sama sekali. Nama itu asli nama orang Batak, Ya’ maro. Artinya „dia sudah datang.“ „Nama saya dalam surat tardidi Ia’ maro. Waktu itu dibabtis Pdt TL Simanjuntak,“ kata Ya, maro sambil menambahkan keinginannya ketemu dengan Pdt TL Simanjuntak yang sudah lama dicari di mana keberadaan pendeta itu. Orang tuanya pernah bercerita tentang arti nama Ia’maro. „Dia sudah datang.“ Ia; dia, maro; sudah datang. Bahkan sewaktu Pdt TL Simanjuntak kotbah pada 26 Desember 1965, pendeta menjelaskan arti Ia maro; las roha ro. „Pada waktu itu khotbah, Mariaia situtu ma ho ale boru sion,“ ujarnya menirukan ucapan orang tuanya. Dia dibabtis 26 Desember 1965 di HKBP Pangaloan, Pahae Jae, Tapanuli Utara. Namanya di surat tadidi dan ijazah masih menggunakan ejaan lama: Ja’maro Sitompul. Anak kedelapan dari 10 bersaudara. Ayahnya (alm) Parmian Sitompul dan ibunya Erika Simorangkir. „Aku anak petani kemenyan (haminjon) dan andilaman,“ katanya tentang pekerjaan orang tuanya. Bakat menyanyi Ya’maro, sudah kelihatan sewaktu kelas lima SD 2 Pangaloan. Ketika masih SD sudah menjuarai Pop Song se-Tapanuli Utara, pada perlombaan Porseni tingkat SD. Waktu itu, Samosir, Balige, Dolok Sanggul masih satu kabupaten. Ya’maro waktu itu satu-satunya yang mewakili wilayah Pahae Jae dan Pahae Julu ke perlombaan Porseni setelah lebih dulu memenangkan lomba di tingkat SD se-Pahae. Lagu wajib waktu itu „Sungguh Indah Tanah Kampung Halamanku.“ Lagu pilihan „Luat Pahae“ „Saya tidak bisa lupa kepada beberapa nama, antara lain: Guru Olo Sitompul dan Jamaluddin Sinaga, Saur Hutabarat dan THS Sihombing yang banyak membimbing dan memberi semangat kepada saya waktu itu,“ kata Ya, maro tentang prestasi yang diraihnya itu Bakat dan kecintaannya terhadap musik dipelajari secara otodidak ketika masih SD dan SMP di Pangaloan, Pahae. Dia juga mengagumi komponis Nortier Simanungkalit dan Bonar Goeltom (Gorga) Ketika di SMP HKBP Pangaloan Pahae, rasa ingin tahu Ya’maro terhadap musik terus bergejolak. Sampai-sampai ia ngumpet masuk lewat jendela konsistori (bilut parhobasan) HKBP Pangaloan agar bisa main „poti marende.“ Kadang dilakukannya pada saat istirahat sekolah. Tak satu pun yang tau, Ya’maro sedang belajar poti marende di dalam gereja. Tak heran kalau dia mengagumi Pdt Togar Siregar STh, yang kala itu Pendeta Resost HKBP Pangaloan yang pintar main organ dan gitar. Dia sering melihat Pdt Togar main orgen di gereja. Itulah mendorongnya terus giat belajar musik dan menjadi inspirasi bagi Ya’maro. Sewaktu SMP di Pangaloan dia sering tampil nyanyi dengan gitar tuanya. Perawakannya yang kecil, tak sebanding dengan gitarnya. Tapi dia sudah mahir memetik gitar dari berbagai kunci. Wakktu itu lagu yang lagi top adalah lagu „Mama“ yang dipopulerkan Eddy Silitonga. Lagu ini sering dinyanyikan Ya,maro dengan suara yang tinggi tapi enak didengar. Bahkan sewaktu SMP dia sudah paham membaca not dan mampu main alat musik akulele dan gitar. Main poti marende dengan Buku Logu. Selain itu, ia juga bisa menulis dan membaca aksara Batak. Ya’maro juga termasuk dekat kepada pendeta yang pernah mengajar di SMP HKBP Pangaloan. Ia tidak pernah melupakan: Pdt TL Simanjuntak, Pdt Togar Siregar, Pdt Baharuddin Silaen dan Hotman Sigalingging. „Amang pendeta ini memberikan semangat dan dorongan kepada saya agar tetap berpengharapan,“ katanya. Lulus dari SMP HKBP, Ya’maro melanjut ke SMA Negeri 1 Tarutung Tapanuli Utara. Saat di SMA ini, Ya’maro langsung direkrut Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Bidang Seni. „Waktu itu, saya dijemput Pa Silaban dari Diknas Taput, kemudian dibawa ke kantor bupati, ujar Ya’maro seraya menambahkan, sejak itu terbentuklah Vocal Group Kontingen Tapanuli Utara bergabung dengan personil Band Tapura,Ganda Tobing CS. Kontingen ini meraih juara pertama lomba Vocal Group Pesta Danau Toba, 1985. Menyumbangkan piala tetap yang dipajang menghiasi Kantor Bupati Tapanuli Utara Tarutung, waktu itu Bupati Sinaga. Bukan itu saja yang berhasil di tangan Ya’maro. Sebut misalnya, Team Vocal Group SMAN Tarutung, yang selalu aktif mengikuti kejuaraan tingkat SLTA, tingkat Provinsi Sumatera Utara dan pernah tampil di Gubernursan Sumatera Utara, waktu itu Gubernur Nasution (1986) Setelah lulus dari SMA Negeri Tarutung,1986, Ya’maro hijrah ke Jakarta. „Ke Jakarta aku bermodalkan S-3 yaitu SD-SMP-SMA,“ tukasnya. Dari Pangaloan naik bus Makmur dan duduk di bangku tempel dengan ongkos Rp 25.000. Di Jakarta Ya’maro melanglang buana dari satu tempat ke tempat lain. Pahit getirnya hidup di kota Metropolitan, Jakarta sudah dialaminya. „Tapi aku tetap ingat nasehat orang tua di kampung. Tabah dan bersandar kepada kuasa Tuhan,“ tegasnya. Bagi Ya’maro, kendati hidup menderita, namun naluri seni musik yang dimilikinya tak pernah padam. Buktinya, pada 1988 meraih juara ketiga „Lomba Cipta Lagu Batak (LCLB) Tingkat Nasional Pertama, piala bergilir Menteri Perdagangan, pada waktu itu Dr Arifin Siregar. Setahun kemudian, 1989, Ya’maro Sitompul masuk rekaman bersama Trio Ambisi, Trio Jack Marpaung, Tagor Tampubolon. Tahun 1991-1996 dikontrak hotel berbintang di Bandung, Jawa Barat, dengan mendirikan Group Entertainment “DAME’S Vocal Group.” Dia menjabat sebagai leader. Group ini rutin manggung di Sheraton In Hotel, Preanger Hotel, Panghegar Hotel, Sapoihoman Hotel, Horizon Hotel, Jayakarta Suith Hotel, Shantika Hotel, Venezia Restaurant, Flamboyan Restaurant dan Princes Restaurant. Selain mencipta lagu pop Ya’maro juga menciptakan koor. Koor ciptaannya “Dame na Sumurung” pada 1995. Lagu ini ikut diperlombakan pada festival koor di GKPI Wilayah IV, Dairi - Sidikkalang, Amborgang-Juma Pandan. Berkat prestasi yang diukirnya dia menerima penghargaan dari Kanwil Agama DKI Jakarta, 17 Agustus 2006. Penghargaan sebagai “Musisi Otodidak” dalam acara “Doa Bersama” lintas agama di Tugu Proklamasi Jakarta. Lagu ciptaannya “Damai Akhir Derita” yang saat itu langsung dinyanyikan putri kandungnya, Christ Nathalia SRT Sitompul. Tahun 2006, merilis Lagu Mars Parsadaan Raja Toga Sitompul berjudul “Sada do Hita Sitompul.” Pernah mengirimkan dua lagu (koor ina) kepada 250 resort HKBP di Sumatera Utara, 2007, khususnya di Tapanuli Utara, “Sada do Huria i” dan “Holan Jesus do.” Pada 2007 merilis album VCD Solo dan Ya’maro Family dengan label “Silindung Nauli.” Lagu tersebut menggambarkan keberadaan Salib Kasih dan Nommensen. Tahun 2009, atas permintaan Dr HP Panggabean SH, MS (mantan Hakim Agung RI ) mencipatkan Lagu Mars “Kerabat” ( Kerukunan Masyarakat Batak ) Pada 2010 menciptakan Lagu Mars “ Jala Damai “ ( Jaringan Layanan Damai ). Januari 2006 menciptakan Lagu Spirit Untuk Polri (Polisi Republik Indonesia) sebagai dukungan penuh atas tugas-tugas pengabdian Polri sejati mengayomi masyarakat Indonesia sejati. Lagu tersebut berkumandang di Polda Kaltim, Balikpapan, pada Natal bersama Polda Kaltim yang pada waktu itu di pimpin Irjend Pol DPM Sitompul sebagai Kapolda Kaltim. Lagu Spirit Untuk Polri ini dinyanyikan Paduan Suara Bareskrim Mabes Polri di PTIK, diiringi Orchestra Mabes Polri, 3 July 2006. Hadir Kapolri Jenderal Sutanto serta sejumlah mantan Jendral Polisi dalam acara ini. July 2010, Ya’maro, dikontrak perusahaan Multi Media Digital PT.Global Musik membuat lagu Polisi Pilihanku, Polisi Negara dan Bersama Kita Bisa. Ciptaan dan vocal: Ya’maro Sitompul manjadi RBT HP seluruh operator. Sudah “kring” dan dapat di-download. Agustus 2010,Ya’maro menerima ucapan terimakasih yang ditandatangani Kadiv Humas Polri, Irjend Pol, Edward Aritonang, atas lagu "Polisi Pilihanku & Polisi Negara serta 'Bersama Kita Bisa. " Lagu ini diciptakan Ya’maro sebagai bukti kecintaanya terhadap NKRI serta dukungan Polri terhadap kedaulatan bangsa melalui tugas yang diemban Polri. Karyanya yang lain, lagu “Parsadaan Pomparan Raja Hasibuan Se-Dunia,” Oktober 2010. Lagu itu di-launching 17 Oktober 2010, Lagu Mars "Raja Hasibuan" dan Lagu Hymne " Raja Hasibuan" Syair: DrsVictor Hasibuan MM. Lagu/arrangger: Ya'maro Sitompul. Ia juga menciptakan dan meng-arrangger lagu “Jubileum” koor gabungan atau lagu massal. Selain itu, ia juga menciptakan lagu “Pararat Barita” dan “Sada do Punguan i.” Lagu “Jubileum” sengaja diciptakan Ya’maro untuk menyongsong Jubileum 150 Tahun HKBP dan Jubileum 150 Tahun HKBP Pangaloan dan HKBP Sigompulon Pahae, pada 2012 mendatang. Karya Ya’maro ini, sebagai ucapan syukur kepada Tuhan Allah Maha Besar yang telah memberkati Tanah Batak dan bangso Batak di seluruh dunia melalui kasih Tuhan Yesus Kristus. Lagu ini juga mengisahkan masuknya berita keselamatan yang dibawa para misionar ke Tanah Batak. Mulai dari Van der Took sampai generasi Dr IL Nommensen. Ya’maro Sitompul beristrikan Seriminda Purba Karo. Dikaruniai empat anak. Michael Pangordang Dame Sitompul,Capryam Satahi Pandapotan Sitompul (kembar) dengan Capryen Saoloan Pandapotan Sitompul dan Christ Nathalia Srie Rotua Tarbarita Sitompul. Anaknya tertua Michael, bercita-cita jadi pendeta. Cita-cita Michael ini menambah semangat bagi Ya’maro menekuni pekerjaan sebagai penggiat musik. “Mudah-mudahan cita-citanya dapat kesampaian dan tidak ada perubahan. Dia sendiri yang ingin jadi pendeta,” tambah Ya’maro. Saat ini Ya,maro mendirikan usaha entertainment “Djaro Music cantare.” Usaha rekanan pengisi acara musik di gedung-gedung pertemuan di Jabodetabek dan Banten. Juga melayani pesta dan acara di luar kota Jakarta antara lain: Kalimantan, Pekan Baru, Medan dan Bandung. Bagi Ya’maro Sitompul yang mengaku “seniman otodidak” bahwa lagu-lagu yang ada di Buku Ende HKBP itu sangat agung dan mulia. Karena itu, hendaklah dinyanyikan dengan tepat, baik dan benar. Jangan asal dinyanyikan. Begitu juga alat musik yang mengiringinya jangan asal “dipukul.” “Bernyanyilah bagi Tuhan dari hati yang terdalam,” kata Ya’maro. bas
Berusaha dan Berdoa
“Yesus adalah batu yang dibuang oleh tukang-tukang bangunan, yaitu kamu sendiri, namun Ia telah menjadi batu penjuru. Dan keselamatan tidak ada di dalam siapa pun juga selain di dalam Dia, sebab di bawah kolong langit ini tidak ada nama lain yang diberikan kepada manusia yang olehnya kita dapat diselamatkan.” (Kisah 4:11-12) Ayat inilah yang dibacakan Pdt Dr Lukman Panjaitan, Praeses HKBP Distrik 21 Jakarta 3, saat peletakan batu pertama pembangunan gereja HKBP Kapuk, Resort Slipi, Jakarta Barat. Pelatakan batu pertama dilakukan berturut-turut oleh Praeses Lukman Panjaitan, Pendeta Resort Pdt C Tambunan STh, Uluan ni huria Pdt Bilman Simanungkalit STh, SE, Panitia Pembangunan Calon St P Lumbantobing, mewakili parhalado, ruas na tumua, ama, ina, naposobulung, remaja, Sekolah Minggu dan mewakili pemerintah H Deden Sudradjat (Kepala P2B Cengkareng) Saat kotbah Pdt Lukman, mengatakan, berkat Tuhan luar biasa kepada HKBP Kapuk. Hari ini dapat meletakkan batu pertama (mameakhon batu ojahan) sebagai pertanda pembangunan fisik gereja dimulai. Perlu dicamkan, peletakan batu pertama pembangunan gereja bukan sekedar ritus, tetapi justru berlandaskan firman Tuhan dari Kisah 4: 11-12, seperti yang dibacakan tadi, saat peletakan batu pertama gereja ini. Sebab itu, membangun rumah Tuhan jangan terlalu mengandalkan perhitungan matematika, perhitungan secara manusia bisa meleset. Panitia hendaknya bekerja berdasarkan iman yang teguh, tidak ada yang mustahil di hadapan Tuhan. Tuhan yang kita percaya itu adalah Tuhan yang kaya. Panitia pembangunan jangan takut kalau biaya masih banyak yang kurang. “Berusahalah dan berdoa, agar semua warga HKBP Kapuk ikut serta berpartisipasi dalam pembangunan gereja ini,” kata Lukman Panjaitan. Pada kesempatan itu, Ketua Panitia Pembangunan Calon St P Lumbantobing menjelaskan keadaan dana yang masih minim. Dibutuhkan dana sekitar Rp 1.2 miliar untuk pembangunan gereja. Panitia sangat mengharapkan doa dan partisipasi semua warga HKBP Kapuk. Kita percaya semua akan tertanggulangi apabila kita sama-sama berupaya, seperti yang kita lakukan selama ini.”Memberikan persembahan melalui “kotak pembanguan” dan hasilnya cukup lumayan,” ujar Lumbantobing. Hal senada disampaikan Pendeta Resort HKBP Slipi, Pdt C Tambunan, tidak ada yang tidak bisa di hadapan Tuhan. Tuhan kita kaya. Kitalah kekayaan itu. Meskipun Tuhan kita kaya, tapi kalau tidak berusaha, tidak mungkin begitu saja datang. “Tapi, kalau kita semua mau memberi, di situlah kekayaan Tuhan akan terwujud,” kata Tambunan. HKBP Kapuk HKBP Kapuk berdiri 25 September 1983. Waktu itu kebaktian dimulai di rumah keluarga B Simanjuntak/Boru Sihete yang dipimpin Boru Sihite dan Boru Tampubolon. Namun, sejak 16 Oktober 1983 St P Simanjuntak, dari HKBP Cengkareng melayani kebaktian Minggu di HKBP Kapuk. Sejak Januari 1984 HKBP Kapuk menjadi pos parmingguon yang dilayani HKBP Cengkareng Resort Petojo. Beberapa waktu kemudian didirikan tempat ibadah yang sederhana dengan jumlah anggota jemaat waktu itu 30 kepala keluarga (KK) Minggu 4 Oktober 1987, HKBP Kapuk menjadi pagaran HKBP Slipi Resort Petojo. Barulah pada Minggu 31 Januari 1988 resmi menjadi huria na gok yang waktu itu diresmikan Praeses HKBP Distrik VIII Jawa-Kalimantan, Pdt B Lumbantobing STh. Minggu 12 April 1992, kebaktian pertama di gereja yang berlokasi di Jl Waru VII/29, Cengkareng Indah, Jakarta Barat, tempat HKBP Kapuk yang sekarang. Kebaktian pertama ini dipimpin Praeses HKBP Distrik Jawa-Kalimantan, Pdt BPT Purba STh. Saat ini uluan ni huria HKBP Kapuk, Pdt Bilman Simanungkalit STh, SE yang selama ini bekerja sebagai pendeta universitas di Universitas Kristen Indonesia (UKI) Jakarta. Sekretaris Huria St Drs E Sidabalok dan Bendahara Huria St M Siregar. Jumlah warga HKBP Kapuk saat ini 237 KK atau 1.057 jiwa yang dilayani 22 sintua dan satu pendeta. Pendeta Resort, Pdt C Tambunan menggantikan Pdt B Marpaung STh. bas
Bisakah Tuhan Dipercaya?
Membaca judul buku “Bisakah Tuhan Dipercaya” (Can God Be Trusted) sudah bikin penasaran dan sedikit gusar. Buku ini selain rumit, juga diperlukan kesabaran membaca ulang setiap bab agar dapat memahami isinya. Maklum buku ini dikemas dengan logika filsafat yang amat kritis ketika menganalisis segala kejadian di dunia ini. Jika Tuhan benar-benar Maha Kuasa dan Maha Pengasih, mengapa ada begitu banyak kejahatan di dunia ini? Lalu, penulis buku ini mencoba mengurai kegamangan umat manusia melalui pendekatan yang lebih mendalam dan rinci sekaligus memadukan gagasan para filsuf dan teolog untuk menyikapi kejahatan di dunia ini. Dalam buku ini John G Stackhouse memberi contoh tatanan kehidupan yang inkonsistensi. Bersalah atas sesuatu dan mendapatkan ganjarannya adalah satu hal. Namun, di sekitar kita, yang bersalah makin makmur dan yang tidak bersalah justru menderita. Terlalu sering terjadi kejahatan malah menguntungkan. Sementara kebajikan tidak menghasilkan apa-apa selain kebajikan itu sendiri. Jika kita tidak dapat menjawabnya, John menyarankan, sebaiknya tidak menuduh Tuhan dan berpikir lebih keras tentang apa yang kita maksudkan dengan bersalah dan tidak bersalah. Segala sesuatu mungkin tidak segamblang yang kita pikirkan. Tidak ada gunanya bersikap sinis dan memandang dunia atau setiap hal di dunia sebagai sesuatu yang mengerikan, karena memang tidak demikian? Orang harus memutuskan apa yang paling masuk akal bagi dirinya, seperti yang disarankan beberapa agama untuk melihat kebaikan dalam dunia sebagai ilusi atau pengalih perhatian saja. Beberapa filsuf kontemporer telah berargumen bahwa masalah antara Tuhan dan kejahatan dapat diselesaikan dengan cukup baik bila kita dapat berkesimpulan bahwa dunia ini, secara keseluruhan adalah dunia yang baik. Rangkain pikiran filsuf secara mudah ditemukan dalam buku Jonh G Stackhouse yang juga dosen di University of Manitoba, Winnipeg, Kanada. Penulis buku ini, juga berbagi pengalaman spiritual kepada pembaca, agar dapat bertahan di dunia ini ada realitas yang harus dihadapi. Sebagai individu dan sebagai komunitas, kita berada dalam kodisi negatif: kita tidak damai, kita sudah rusak, lemah, jahat, tidak stabil dan merusak shalom. Dalam hati dan relasi, kita jauh dari utuh dan sudah seperti itu sepanjang sejarah. Yudaisme, Kristen dan Islam menyebut kondisi ini dosa dan dosa harus dihadapi dan diselesaikan. Buku yang diterbitkan Kelompok Gramedia ini menyarankan sikap hati-hati dan tidak gegabah menghakimi orang lain. Kita harus berhati-hati, dengan apa yang kita minta saat kita ingin agar Tuhan menghancurkan kejahatan di dunia ini. Tuhan memang dapat melakukannya dengan banjir besar yang akan menyapu bersih semuanya. Namun, bukankah pemusnahan anak-anak yang tak berdosa, hewan dan tumbuhan itu juga merupakan kejahatan? Sebenarnya Tuhan dapat memusnahkan manusia yang jahat saja dan meninggalkan yang baik. Hanya saja, siapa di antara kita yang akan masuk ke salah satu kategori itu. Saya sendiri tidak sepenuhnya baik dan Tuhan yang sempurna pasti menerapkan standar yang sempurna. Standar yang demikian akan memusnahkan saya beserta keluarga dan teman saya. “Apakah Anda dan orang-orang yang Anda kasihi siap diuji?” John bertanya. Jika Tuhan, karena alasan tertentu, ingin menikmati persekutuan dengan mahluk ciptaanNya, maka Tuhan bertindak adil dengan menciptakan dan membiarkan kita bebas, seperti yang sudah terjadi untuk menjadi diri kita sendiri, juga untuk berdosa dan sebagainya. Kita tidak akan pernah tahu mengapa Tuhan menjalankan dunia seperti yang Dia lakukan sekarang, tetapi kita dapat mengetahui apakah Tuhan dapat dipercaya untuk menjalankannya dalam suatu cara yang baik. Kaum teis, seperti agama Yahudi, Kristen dan Muslim mengindentifikasi standar kebaikan obejektif ini sebagai karakter dan kehendak Tuhan. Di luar Tuhan tidak ada standar kebaikan di alam semesta ini, begitu juga dengan standar untuk mengevaluasi Tuhan. Tuhan adalah standarnya, Tuhan itu baik! John Stackhouse dengan berani menajikan pandangan para pemikir besar ketika bergumul dengan masalah kejahatan, seperti Buddha, Confusius, Agustinus, David Hume, Martin Luther, CS Lewis dan Alvin Platinga. Penulis tidak menyembunyikan perihal kontradiksi yang ada di sekitar kita—sebab Tuhan Maha Baik yang mengizinkan adanya penyakit mematikan, bencana alam, cacat lahir dan kejahatan keji yang membawa penderitaan dalam hidup. Stockhouse bertanya, apakah dunia tanpa kejahatan adalah dunia paling baik untuk kita? Apakah hidup tanpa penderitaan akan menjadi hidup paling berarti? Apakah kehendak bebas akan tetap ada jika kita hanya memilih yang baik saja? “Manfaat kejahatan sesungguhnya melebihi harga yang harus dibayarnya,” ujar John. bas
Bukan Orang Kristen?
Baharuddin Silaen Hampir semua tulisan (opini) maupun berita yang dikirim ke redaksi majalah ini sering dijumpai pilihan kata yang tidak tepat. Bukan hanya di majalah ini, di media cetak dan media elektronik pun kesalahan serupa juga ditemukan. Memang, pilihan kata (diksi)yang tepat dalam penulisan sangat penting, supaya pembaca tidak menduga-duga atau menafsirkan sendiri makna kata tersebut. Sebaiknya harus konkrit dan jelas serta tidak bermakna ganda. Ketepatan pilihan kata, menurut Gorys Keraf, kesanggupan kata untuk menimbulkan gagasan yang tepat pada imajinasi pembaca atau pendengar, seperti apa yang dipikirkan atau dirasakan oleh penulis atau pembicara. (Diksi dan Gaya Bahasa, hal 87) Apa yang terbayang ketika membaca kata “orang?” Pastilah manusia, bukan hewan atau mahluk lain. Orang adalah kata ganti dari manusia. “Kamu orang apa?” Orang Batak, Jawa, Sunda, Minang, Ambon, Betawi, Bugis, Madura, Toraja. “Kamu manusia apa?” Maknanya sudah lain, sebab pilihan kata kurang pas. Ada 10 pengertian “orang” menurut Kamus Umum Bahasa Indonesia. Orang artinya; manusia, sesuatu manusia, diri sendiri, penolong bilangan bagi manusia, anak buah, rakyat, suku, orang lain, karena (sebenarnya) dan manusia yang mempunyai sifat (orang kaya) Dari kesepuluh pengertian tersebut tidak satu pun yang menyinggung keyakinan, kepercayaan maupun yang berkaitan dengan agama. Itu berarti, kata orang tidak tepat dipergunakan menyebutkan agama yang dianut seseorang. Contoh; orang Kristen, orang Islam, orang Katolik, orang Budda, orang Hindu. Kata orang yang dipakai di awal sebutan agama ini, tidak tepat dan salah kaprah. Pilihan katanya ngaur, tentu maknanya pun jadi berantakan. Yang benar adalah agama Kristen, bukan orang Kristen? Tidak ada orang Kristen. “Dia orang Batak agamanya Kristen.” Ini yang benar dan jelas. Sedangkan untuk menjelaskan orang yang memeluk agama tersebut, disebut “umat” (jemaat) bukan “orang.” Misal, “perayaan Paskah dihadiri ribuan umat Kristen yang datang dari Jabodetabek. “Umat Kristen di dunia memperingati kematian Yesus Kritus pada Jumat Agung.” Umat beragama harus saling mengasihi. Bukan orang beragama? Bukan orang Kristiani, tetapi umat Kristiani. Kata Kristiani, belakangan ini sering dipergunakan baik dalam tulisan maupun lisan. Kata ini dipungut secara utuh dari bahasa Inggris, Christianity—agama Kristen atau yang berhubungan dengan kekristenan. Pilihan kata yang tidak tepat, juga dijumpai pada pemakaian kata “jemaat” dan “gereja.” Contoh, “penjelasan mengenai program tahun marturia diharapkan meningkatkan kepedulian jemaat.” Kata “jemaat” dalam kalimat ini bisa diartikan ganda oleh pembaca, yaitu; warga gereja, atau gereja (gedung) itu sendiri. Soalnya, kata jemaat kadang kala diartikan dengan gereja. Inilah membuat bingung. “Resort ini punya lima jemaat.” Kata “jemaat” dalam kalimat ini apakah gerejanya (gedung) atau anggota gerejanya? Supaya jangan membingungkan, tulislah “jemaat atau warga gereja,” apabila yang dimaksud adalah warganya (ruas) Apabila yang dimaksud adalah gereja (lembaga, gedung) tulislah gereja, bukan jemaat. “Resort ini punya lima gereja,” bukan “resort ini punya lima jemaat.” Soalnya, tidak masuk akal satu resort hanya punya lima anggota jemaat (orang) Contoh pilihan kata yang benar; “Beberapa rumah jemaat HKBP di Jakarta teredam banjir.” “Sampai saat ini surat izin membangun gereja belum diperoleh.” Ingat, bukan surat izin membangun jemaat. Sebenarnya, dari etimologi (asal-usul) katanya pun sudah jelas perbedaan arti antara gereja dengan jemaat. Kata jemaat berasal dari kata “jama’a” (Arab) dalam bahasa Ibrani disebut qahal, assembly—Inggris, ekklesia—Yunani. Kata ekklesia sering dipergunakan dalam Perjanjian Baru yang diterjemahkan dengan jemaat. Dalam Kisah 7:38 diterjemahkan “sidang jemaah” (gathering) Ekklesia juga diterjemahkan “sidang rakyat” (Kisah 19: 39) Dalam Matius 16:18, ekklesia, diterjemahkan “jemaat.” Atau kumpulan orang yang dipanggil keluar (out of to call) Berdasarkan penjelasan ini, kata jemaat adalah sebutan khusus kepada warga/umat penganut suatu agama (Kristen) Lain halnya dengan gereja, berasal dari kata igreja, Portugis, church, Inggris, kerk, Belanda, kirche, Jerman, gareja (huria) Batak. Kata ekklesia kadang diterjemahkan gereja. Menurut Kamus Umum Bahasa Indonesia, gereja adalah gedung (rumah) tempat berdoa dan melakukan upacara agama Kristen. Orang yang datang berkumpul ke gereja, itulah yang disebut jemaat. Cermatlah memilih kata, agar pesan yang disampaikan dapat dipahami pembaca (pendengar) sebagaimana yang diinginkan. Kata-kata berikut ini mempunyai makna tersendiri; melihat, memandang, menatap, melirik, menengok, melongok, mengintip, jelilah memilihnya. Pilihan kata yang tepat bukan saja enak dibaca tetapi juga menjadikan kata-katanya komunikatif. Cobalah! Penulis Baharuddin Silaen pengajar di Fisipol UKI Jakarta, mengampu mata kuliah bahasa jurnalistik.
Senin, 28 Maret 2011
Kampung Batak Tempo Doeloe
Suasana huta Batak mulai terasa ketika suara gondang Batak sayup-sayup kedengaran saat menuju harbangan (gerbang) “Huta Batak” di Desa Pagar Batu, Balige. Di sisi gerbang ada pohon beringin (hariara) yang sengaja ditanam sebagai ciri huta orang Batak tempo dulu. Enam ruma Batak berdiri kokoh di atas pekarangan yang luas dihias rumput hijau yang tertata rapi. Salah satu ruma adalah rumah asli TB Silalahi. Rumah yang berusia 150 tahun ini adalah tempat tinggal TB Silalahi semasa kecil di Balige. Dalam perkampungan Batak ini ada dua jenis rumah adat; ruma dan sopo. Rumah itu dibagi dua bagian yang saling berhadapan. Di antara kedua deretan rumah terdapat halaman luas yang fungsinya tempat menjemur padi dan bermain anak-anak. Sama seperti huta Batak dahulu kala. Ada enam rumah asli Batak berusia 120 hingga 150 tahun di huta Batak TB Silalahi Center (TBSC). Rumah ini sumbangan dari keluarga (marga) Batak yang mencintai kebudayaan leluhur. Termasuk salah satu rumah pendiri TBSC. Rumah itu asli yang dipindahkan dari Pagar Batu ke kompleks TBSC. Huta di kompleks TBSC dikelilingi pohon bambu sama seperti huta orang Batak di masa lalu. Termasuk jalan masuk ke huta hanya satu gerbang (bahal) Biasanya di sisi bahal terdapat hariara (beringin) Nuansa kampung Batak tempo dulu dapat dirasakan di huta Batak Pagar Batu, Balige. Selain rumah Batak ada juga pangulubalang (patung) di perkampungan ini. Pangulublang merupakan peninggalan suku Batak ketika masih menganut anisme. Dahulu kala pangulubalang dianggap sebagi patung pelindung desa, khususnya saat penduduk desa sedang meninggalkan desa untuk berbagai kegiatan. Patung terbuat dari batu, tapi ada juga patung yang dibuat dari kayu. Peranan pangulubalang sangat penting khusus meyelesaikan perselisihan antarmarga atau antardesa. Konon, roh pangulubalang ditugasi pergi ke daerah musuh untuk menutup mata dan telinga musuh agar tidak mampu berperang lagi. Bagaimana “gaya hidup” orang Batak di masa lalu, juga dapat disaksikan di TBSC. Jejak orang Batak tempo dulu ada tersimpan di sebuah rumah besar yang disebut Ruma Bolon,berukuran sembilan setengah kali 15 meter. Dua kali lebih besar dari ukuran ruma Batak. Ciri khas Ruma Bolon adalah ukiran (gorga) yang sangat dominant pada dinding. Gorga ini memiliki nilai filosofi fan religi. Terdapat juga ukiran singa pada kayu yang ada di sisi kanan dan kiri ruma. Termasuk hiasan payudara sebagai lambang kesuburan (hagabeon) Demikian juga gambar kadal (boraspati) lambang kebijaksanaan dan kekayaan. Dapat juga disaksikan replika peradaban di masa lalu. Seperti pengobatan tradisional melalui bantuan datu (dukun) Peralatan pesta Batak zaman dulu serta alat rumah tangga dan alat berburu lengkap disimpan dalam Ruma Bolon. “Kalau pada musim liburan, biasanya ada pertunjukan tortor,” kata seorang pemandu TBSC. Tortor tersebut diadakan di bawah ruma, diiringi gondang yang dimainkan pargonsi yang ditempatkan di sokor (balkon) Pada bagian bawah Ruma Bolon terdapat tombara (kolong) yang digunakan sebagai kandang ternak, tempat menyimpan kayu dan tempat martonun. Ruma Batak pada umumnya tidak punya kamar (bilut) Ruangan dalam rumah terbuka tanpa sekat pembatas. Pada rungan utama berfungsi sebagai tempat tidur di situlah keluarga tidur beralaskan lage (tikar) seadanya. Lage jarang dilipat atau disimpan. Kalau tidur pada malam hari biasanya pakai bulusan (selimut) dari tikar karena udara dingin. Di bagian dapur terdapat tataring (tempat memasak) yang terbuat dari batu (dalihan) Tataring dilengkapi dengan parapara. Parapara befungsi sebagai tempat kayu bakar dan peralatan masak lainnya. Berkunjung ke TBSC banyak hal yang dapat disaksikan. Selain kampung Batak yang asri, pengunjung dimanjakan dengan panorama Danau Toba yang indah. Pengunjung bisa melepas lelah di kafe terbuka yang terdapat di bagian depan TBSC. Dari lantai dua kafe ini dapat menikmati pemandangan Danau Toba yang terhampar di ujung Desa Pagar Batu. Tidak terkecuali, jejak perjalanan TB Silalahi dapat dilihat di dalam TBSC. Mulai masa kecil, kegiatannya di milter dan di pemerintahan lengkap dipajang di museum ini. (baharuddin silaen)
Langganan:
Postingan (Atom)
