Senin, 04 April 2011
PAUS BENEDIKTUS XVI KUNJUNGI ISRAEL
Kota Bethlehem dan penduduknya kini tengah mengalami kesulitan. Hanya 13 persen dari tanah wilayah Bethlehem yang bisa digunakan warga Palestina. Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu dan Presiden Israel Shimon Peres bersama-sama menyambut kedatangan Paus Benediktus XVI ke Israel. “Kami telah berdamai dengan Mesir dan Jordania serta sedang berunding untuk berdamai dengan pihak Palestina. Kami juga mungkin akan sampai pada sebuah perdamaian regional yang koprehensif dalam masa dekat,” kata Peres sebelum Benediktus berbicara. Paus telah berupaya memperbaiki hubungan antaragama selama empat tahun di takhta Vatikan. Namun paus harus bersikap hati-hati dalam kunjungannya ke Timur Tengah setelah mendapat kritik tajam baik dari kaum Muslim maupun kaum Yahudi atas pernyataannya di masa lalu. Paus berharap kunjungannya yang diawali dengan tiga hari di Jordania dan dilanjutkan ke Israel dan Palestina, akan memperbaiki hubungan antaragama. “Sudah layak dan sepantasnya bahwa dalam kunjungan ke Israel saya akan mempunyai kesempatan menghormati kenangan enam juta orang Yahudi korban shoah,” kata paus dalam bahasa Ibrani untuk Holocaust. Paus menambahkan, akan berdoa agar kemanusian tak akan pernah lagi menyaksikan suatu kejahatan yang begitu besar. Kota Bethlehem tempat kelahiran Yesus sedang berbenah menyambut kedatangan Paus Benediktus XVI. “Meskipun kunjungan paus ke Israel pada waktu yang sulit dan ke tempat yang sulit pula,” ujar Fouad Tawal, Patriarch Gereja Latin di Jerusalem. Fouad Tawal menggambarkan betapa kota Bethlehem dan penduduknya kini tengah mengalami kesulitan. Hasil laporan PBB Mei lalu menyebutkan, hanya 13 persen dari tanah wilayah Bethlehem yang bisa dipergunakan warga Palestina. Ini akan sangat menghambat program pembangunan dan pengembangan wilayah Bethlehem. Tembok pemisah yang dibangun sejak 2002 atas instruksi PM Israel Ariel Sharon saat itu, kini praktis mengepung kota Bethlehem dari arah barat, utara dan timur. Paus Benediktus yang akan berada di Bethlehem bisa menyaksikan langsung penderitaan kota Bethlehem dan penduduknya yang praktis bak penjara. “Tahun 1948, kami mengalami bencana karena dipaksa hijrah dari kampung halaman. Tahun 1967, kami tertimpa petaka lagi karena harus hidup di bawah pendudukan Israel. Sejak 2002, kami menghadapi bencana baru karena harus hidup di tengah kepungan tembok pemisah,” kata Abu Sourur, penduduk Bethlehem kepada harian Al Hayat. Kini, sekitar 175.000 warga Palestina menghuni hanya 13 persen wilayah Bethlehem yang dijadikan lahan lindung oleh Israel dan di bawah kontrolnya sekitar 20 persen dari luas wilayah kelahiran Yesus Kristus itu. Diperkirakan, ada sekitar 86.000 penghuni pemukiman Yahudi di sekitar kota Bethlehem. Ada juga sebagaian tanah wilayah Bethlehem yang dicaplok Israel dan digabung dengan wilayah Jerusalem, menyusul Israel menduduki kota Jerusalem dalam perang pada Juni 1967. Sebagian besar warga Kristen Palestina berdomisili di Tepi Barat, Jalur Gaza dan wilayah Israel Utara, khususnya kota Nazareth. Paus Benediktus XVI juga dijadwalkan akan melakukan misa di Nazareth. Populasi warga Kristen Palestina hanya sekitar 7,3 persen dari keseluruhan penduduk Palestina pada 1947. Jumlah warga Kristen Palestina yang bertahan di Tepi Barat, Jalur Gaza, serta wilayah Israel terus menyusut dan kini diperkirakan hanya tersisa dua persen dari keseluruhan penduduk Palestina. Seperti halnya penduduk Palestina pada umumnya, banyak warga Kristen Palestina juga hijrah ke luar Palestina menyusul berdirinya negara Israel pada 1948. Kekalahan Arab dari Israel pada perang 1967 dan terus bercokolnya pendudukan Israel di Tepi Barat hingga saat ini. Sebagian besar warga Kristen Palestina hijrah ke Australia, AS, Eropa dan Amerika Latin. Hanya sebagian kecil yang hijrah ke negara Arab lain, seperti: Lebanon, Suriah, Mesir dan Jordania. Warga Kristen Palestina kini berharap kunjungan Paus Benediktus ke Tepi Barat dan Israel bisa membantu meringankan penderitaan mereka. Misalnya, bisa lebih memberi mereka kebebasan melakukan perjalanan ke Jerusalem dan Bethlehem dari tempat mereka di seantero Tepi Barat dan wilayah Israel. Selama ini warga Kristen Palestina harus mendapatkan surat izin khusus dari penduduk Israel untuk bisa berangkat menuju tempat ibadah mereka di Jerusalem Timur dan Bethlehem. Duta besar Palestina untuk Vatikan Syauki Armali mengatakan, kunjungan Paus Benediktus XVI ke Timur Tengah mengandung misi politik, agama dan histories. “Bagi rakyta Palestina dan proses perdamaian Timur Tengah kunjungan paus sangat penting sebagai harapan meujudkan perdamaian adil dan kerukunan hidup beragama,” kata Armali. Selama kunjungannya ke Israel, paus direncanakan akan mengunjungi situs-situs penting seperti; Al-Haram Al-Sharif—kubah batu dari abad ketujuh, Senakel (ruang atas) Gethsemani, Gereja Makam Kudus, Bethlehem dan Nazareth. bas/dari berbagai sumber
MENULIS DI SURAT KABAR BEDA MENULIS SURAT
“Menulis di media massa cetak seperti surat kabar, tidak sama dengan menulis surat, undangan, pidato, kotbah dan warta gereja. Ada rambu-rambu yang perlu diketahui berdasarkan kaidah-kaidah jurnalistik yang berlaku di kalangan pers,” kata Baharuddin Silaen saat menyampaikan materi penulisan di HKBP Tangerang Kota. Lokakarya penulisan renungan Kristen ini berlangsung sehari diikuti 25 peserta yang diselenggarakan HKBP Tangerang Kota baru-baru ini. Pembicara: Pdt Dr Ladestam F Sinaga, Pendeta Resort HKBP Tangerang Kota, Pdt Drs Baharuddin Silaen MSi, Redaktur Eksekutif Suara HKBP dan Drs Lambas Goeltom MSi, Pemimpin Redaksi Suara HKBP. Topik yang disajikan Pdt Ladestam F Sinaga, “Memahami Firman Allah yang Tertulis.” Ia menguraikan metode membaca Alkitab, penerjemahan, strategi membaca, membaca kreatif, menghafal nas, menafsir dan merumuskan tujuan dari nas Alkitab. Membaca Alkitab yang kreatif menurut Ladestam, tema tiap buku harus dibaca, judul kecil pada setiap paragrap dan membaca nas pararel. Buku catan, pulpen, penggaris stabilo perlu disiapkan untuk memberi tanda apabila diperlukan. Menulis renungan yang baik dan praktis, kata Ladestam, harus dimulai dengan kemampuan membaca nas Alkitab secara benar. Membaca Alkitab bukanlah satu cabang ilmu teologi, tetapi jika dilihat dari sudut praktisnya metode membaca Alkitab sangat perlu bagi setiap umat Kristen agar ia dapat bergaul akrab dengan firman Allah. Baharuddin Silaen, pada kesempatan itu, menajikan materi; Bahasa Jurnalistik, Teknik Menulis Berita dan Menulis Renungan. Pada sesi bahasa jurnalsitik, Baharuddin menjelaskan beberapa ciri bahasa jurnalistik yaitu: lugas, singkat, padat, sederhana, lancar, menarik dan netral. Selain itu, ia juga menguraikan ekonomi kata, kata mubazir, kerancuan, kata-kata penat, penulisan huruf dan ejaan. Juga contoh kata rancu yang sering ditemukan dalam berita di surat kabar, seperti: “untuk sementara waktu, “sementara orang,” “selain daripada itu,” “dan lain sebagainya,” “demi untuk,” “agar supaya.” Kata mubazir, kata yang tidak perlu dalam suatu kalimat. Kata mubazir kata yang berlebih-lebihan. Masih sering dijumpai kata mubazir dalam penulisan berita di mass media cetak yaitu: adalah, telah, akan, sedang, untuk dan pemakain kata yang tidak benar. Dijelaskan juga mengenai penulisan gelar kesarjanaan yang benar dan berlaku umum di seluruh Indonesia, sesuai “Pedoman Umum Ejaan Bahasa Indonesia yang Disempurnakan (1972) Penulisan gelar doktor (S3) yang benar, “Dr” bukan “DR.” Gelar dokter (S1) ditulis “dr” bukan “Dr.” Pada sesi menulis berita yang disampaikan Baharuddin Silaen, yang juga dosen bahasa jurnalistik di Fisipol UKI, menulis berita di mass media cetak seperti surat kabar, majalah dan tabloid ada pola yang harus diperhatikan. Formula Rudyard Kipling yang cukup popular , 5W+1H (What, when, where, who, why dan how) “Inilah panduan wartawan ketika mengumpulkan fakta di lapangan,” kata Baharuddin. Sedangkan pola penulisan berita lazim disebut “piramida terbalik.” Pola ini membantu wartawan menulis bahan berita agar dapat memilah mana fakta paling penting serta fakta yang kurang penting. Biasanya, fakta yang paling penting dan menarik ditulis di bagian atas atau sering disebut teras (lead/intro) Pada bagian tubuh berita (body) adalah penjelasan dari unsur 5W+1H. Bagian paling bawah, ending ditulis fakta yang kurang penting. Untuk menulis renungan di media massa cetak, ada beberapa kiat dan model disampaiakn Baharuddin Silaen. Dikatakan, agar renungan menarik sajikanlah dengan apa adanya (lugas) contoh (ilustrasi) aktual dan dikenal khalayak, jangan mengambang atau di awang-awang (hanya mengulas kenikmatan kehidupan di sorga) relevan dengan kehidupan. Dalam renungan harus ada pesan yang disampaikan kepada pembaca. Misalnya, menghibur, mendidik, meyakinkan, mengingatkan (menegur) dan menghilangkan kekhawatiran. Menulis renungan jangan terjebak ke dalam ayat (firman Tuhan) Menulis renungan bukan membahas ayat atau menafsir firman, karena itu jangan terlalu banyak mengutip ayat-ayat. Cukup satu atau dua ayat dalam satu renungan. Ayat biasanya dicantumkan di akhir renungan atau di awal tulisan. “Jangan menggurui dan mendikte dalam menulis renungan,” kata Baharuddin, dosen Fikom Universitas Mercu Buana, Jakarta ini. . Lokakarya penulisan renungan Kristen ini, Lambas Goeltom diundang sebagai pembicara yang khusus membahas fotojurnalistik. Kepada peserta dia menjelaskan sejumlah pedoman yang harus dipahami seorang fotografer. “Fotojurnalistik dan foto biasa (album) sangat berbeda. Fotojurnalistik, foto yang biasanya digunakan untuk pendukung suatu peristiwa (berita)yang akan dimuat dalam surat kabar atau majalah. Karena itu, harus ada kaitan foto dengan peristiwa yang dimuat di media cetak. Beberapa contoh foto dengan sudut pengambilan disajikan melalui in focus kepada peserta. Lambas, menguraikan macam-macam komposisi pemotretan: komposisi grafis, satu obyek, dua obyek, komposisi simetris, klasik dan tiga dimensi. Lambas Goeltom juga menyarankan, ketika hendak memotret, seorang fotografer sudah harus memiliki konsep atau rencana foto yang akan dihasilkan. Paling tidak ada bayangan dalam benak, foto yang diinginkan seperti apa. Dari pemikiran itulah kemudian menentukan posisi yang tepat. Sayang, kita tidak cukup waktu untuk praktek memotret. “Biasanya, dalam pelatihan selalu diberikan kesempatan kepada peserta memotret suatu obyek, kemudian hasilnya diperiksa dan dijelaskan kekurangan dan kelemahannya,”ujar Lambas. Lokakarya penulisan renungan ini diselenggarakan HKBP Tangerang Kota berkaitan dengan rencana gereja ini akan menerbitkan buku renungan populer. Sebelum menerbitkan renungan, sumber daya manusia dipersiapkan agar mereka mengerti kaidah-kaidah penulisan di media cetak. “Bagaimana renungan supaya menarik dan dibaca, ini juga sangat penting. Jangan hanya sekali terbit langsung mati,” kata Ladestam pada penutupan lokakarya. (bas)
TULISLAH APA SAJA
Duapuluh warga HKBP Duren Sawit mengikuti pelatihan jurnalistik, yang diadakan di Wisma Bintang Jadayat 1, Cipayung, Bogor. Selama dua hari mereka dilatih bagaimana menulis di mass media cetak. Kepada peserta juga diberikan teori menulis berita, feature, bahasa jurnalistik, kiat menulis di media massa dan teknik menulis otobiografi. Kegiatan ini diprakarsai Dewan Marturia HKPB Duren Sawit. Dewan ini juga punya majalah “Letare” terbit bulanan dan dibagikan gratis kepada warga gereja. “Setelah pelatihan ini, diharapkan gairah menulis semakin meningkat,” kata Ev St Rini Tambunan salah satu peserta. Meskipun mereka bukan menjadi wartawan, namun dasar-dasar menulis berita dan bahasa jurnalistik termasuk materi yang diajarkan di kelas. “Paling tidak menambah wawasan serta bahan perbandingan bagaimana menulis di surat kabar dan bedanya dengan menulis buku, surat dan warta gereja,” kata Baharuddin Silaen. Terkait penulisan di mass media, bahasa jurnalistik adalah bahasa yang lazim digunakan kalangan pers. Kepada peserta dijelaskan juga ciri-ciri bahasa jurnalistik: singkat, padat, sederhana, lancar, jelas, lugas, netral dan menarik. Selain ciri tersebut, dibahas juga kaidah tata bahasa, ekonomi kata, kata mubazir, penulisan huruf, penulisan kata, gabungan kata, tanda baca, kerancuan, kata penat (retired word) serta penulisan gelar kesarjanaan yang baik dan benar berdasarkan “Pedoman Bahasa Indonesia yang Disempurnakan” (1972) Misalnya penulisan gelar dokter (S-1) yang benar dan berlaku di seluruh Nusantara adalah “dr.” Keduanya huruf kecil. Sedangkan penulisan gelar doktor (S-3) adalah “Dr.” “Inilah yang benar dan baik,” jelas Baharuddin. Begitu juga kata rancu yang masih sering dijumpai dalam penulisan berita di surat kabar, termasuk pokok bahasan dalam pelatihan ini. Seperti: “untuk sementara waktu,” sementara orang, selain daripada itu, “berhubung karena,” “oleh karena itu,” “hal mana,” “yang mana” dan “agar supaya” Selain teori, peserta juga dilatih menulis berita. Masing-masing peserta praktek menulis berita. Kemudian, berita yang mereka tulis, dikoreksi yang ditayangkan dengan in-focus. Narasumber juga menjelaskan formula yang ditemukan Rudyard Kipling yang populer di kalangan pers yaitu; 5W+ 1H. Rumus ini biasa digunakan memandu para wartawan ketika menulis bahan berita. Rudyard Kipling mengatakan; I keep six honest serving-men (They taught me all I knew) Their name are What and Why and When and How and Where and Who) (Saya mempunyai enam penaji yang jujur. Mereka memberitahu semua yang perlu saya ketahui. Nama mereka adalah: apa, kenapa, kapan, bagaimana, di mana dan siapa) Selain formula 5W+1H, diperkenalkan juga pola penulisan berita “Piramida Terbalik.” Model piramida ini pada dasarnya membantu wartawan memilah fakta-fakta yang dikumpulkan wartawan dari lapangan. Fakta yang paling penting dan menarik itulah diangkat ke bagian atas. Biasa disebut “teras” (lead/intro) Teras adalah ringkasan atau inti dari suatu berita. Pada kesempatan yang sama, teknik menulis feature juga diajarkan kepada peserta pelatihan. Feature atau karangan khas sangat diminati pembaca, karena disajikan dengan kreatif dan menarik. Termasuk dalam penajian, feature lebih kreatif, memberi informasi, menghibur, tidak basi, panjangnya tidak dibatasi. Gaya penulisan, seperti menulis fiksi (cerpen) tapi bukan fiksi atau khayalan. “Feature mesti berdasarkan fakta dan peristiwanya benar-benar terjadi,” ujar Baharuddin Silaen. Masih berkaitan dengan menulis di media cetak, Dr Victor Silaen, dosen Fisipol Universitas Pelita Harapan, membekali peserta dengan “Kiat Menjadi Penulis yang Baik dan Produktif.” Victor yang cukup produktif menulis di berbagai media cetak membagikan sejumlah pengalaman sendiri, bagaimana menulis di media massa. Menulis apa saja, berita, puisi, opini, resensi buku, pengalaman atau kesaksian pribadi. Seorang penulis, harus betah berjam-jam duduk di depan komputer, sabar serta punya kemauan yang besar. Usahakan ada bank data yang disimpan di komputer. Ketika diperlukan data ini tinggal dibuka. Kemudian, rajin membaca apa saja. Menurut Victor Silaen, seorang penulis, harus peka terhadap keadaan sekeliling. Mengamati apa yang sedang terjadi, bergolak dan yang menjadi fenomena. Berpikir terus-menerus, mencari ide dan gagasan. Membaca gaya tulisan orang-orang lain yang terkemuka sebagai perbandingan. Yang perlu dilakukan agar bisa menulis adalah menulis. Tuliskan apa saja yang terlintas di benak kita. Menulis bebas adalah latihan yang bisa membantu membiasakan diri menulis. “Lupakan aturan, lupakan kesalahan. Tulis dan luapkan secara bebas,” kata Victor Dia menambahkan, kalau mengirim tulisan ke media massa cetak, mulailah dari media berskala kecil dan perlahan-lahan baru ke media berskala besar. Mulailah dari tulisan yang ringan baru kemudian ke tulisan yang berat. bas
PENULISAN NAMA DAN GELAR YANG SALAH
Menuliskan nama yang baik dan benar di media massa, ternyata tidak gampang. Buktinya, meskipun sudah berulangkali diperbaiki sesuai “Pedoman Umum Ejaan Bahasa Indonesia yang Disempurnakan” tetap saja penulisan nama dan gelar kesarjanaan kacau-balau. Pengalaman sebagai penyelaras bahasa (editor) di majalah Suara HKBP acap menemukan kekeliruan seperti itu. Lucunya, yang bersangkutan malah marah karena namanya tidak seperti yang ditulisnya. Ngotot menyalahkan redaksi! Dugaan penyebab kesalahan, boleh jadi lantaran tidak tau sama sekali kaidah menuliskan nama dan gelar yang baik dan benar dalam media massa. Kemungkinan lain, adalah faktor budaya (Batak?) yang masih kuat dalam diri yang bersangkutan. Seperti ada kewajiban mencantumkan nama dan marga suami di depan nama isteri? Kesalahan yang sering dijumpai adalah penulisan nama dan gelar. Misal, “Ny dr Budi/Tiodor Boru Silaen menyampaikan sambutan pada pertemuan itu.” Penulisan nama dalam kalimat ini membingungkan. Siapa sebenarnya yang menyampaikan sambutan, dr Budi sebagai suamikah atau Tiodor Silaen? Kalau yang dimaksudkan adalah Tiodor Silaen, sebaiknya ditulis, “Tiodor Silaen menyampaikan kata sambutan pada pertemuan itu.” Tidak perlu dicantumkan nama dr Budi sebagai suami. Begitu juga gelar (dr) tidak perlu ditulis, sebab gelar kesarjanaan bukan milik bersama (suami dan isteri) Lagi pula, apa hubungan Budi pada kata sambutan itu? Jangan-jangan suaminya, Budi pun tidak hadir pada acara tersebut. Apakah karena suami, lalu ditulis? Atau supaya orang lain tau dia istri dari Budi. Atau alasan lain, biar semua tau bahwa dia sudah bersuami (berkeluarga) “Kenapa nama saya ditulis seperti itu, tidak tercantum nama dan marga suami saya, dikira orang aku masih gadis, padahal sudah marpahompu (cucu)” komentar salah satu yang namanya pernah dimuat dalam berita di majalah ini. Sanggahan yang lain, “Apa kata marga dari suami saya, mereka bisa marah sama saya marga suamiku tidak ditulis?” Alasan itu mengada-ada, belum tentu marah? Formulasi penulisan nama seperti itu tidak jelas dari mana asal-usulnya? Hebatnya, malah dianggap benar dan paten. Tetapi kalau perasaan bersalah atau takut menjadi alasan, lain soal. Mungkin saja faktor budaya masih kuat sehingga kebiasaan itu terbawa-bawa ke dalam penulisan nama. Alasan lain, karena takut dan merasa bersalah, apabila marga suami tidak disebut. Kenapa ketika Budi menyampaikan sambutan tidak menyebut nama dan marga istrinya? Apakah Budi karena suami, lebih berkuasa terhadap isteri? Tidak adil rasanya. Pengalaman lain yang lucu, ketika ada acara penyerahan sertifikat kepada peserta kursus yang diselenggarakan gereja. Kembali saya geli, ketika peserta pria (ama) dipanggil, tidak ada disebutkan nama dan marga isteri, namun saat giliran peserta perempuan (ina) nama suami yang lebih awal dipanggil baru nama yang bersangkutan, “Ny St Horas Boru S.” Mudah-mudahan ini bukan bentuk diskriminasi yang tidak disadari terhadap perempuan? Yang ikut kursus siapa, yang tercantum namanya di sertifikat siapa? “Boru S” yang kursus, tapi Horas sang suami yang menonjol dalam sertifikat. Ini sertifikat milik berdua (two in one) Geli bukan? Perlu dicamkan, bila tulisan (artikel) maupun berita ditulis oleh seorang perempuan (isteri) tidak perlu menuliskan nama dan marga suami. Langsung saja nama penulisnya, imbuhkan nama lengkap dan marga. Tidak ada yang marah kalau cara seperti itu yang Anda tempuh? Soalnya, bukan suami Anda yang menulis artikel tersebut. Begitu juga dalam menulis berita, tidak usah mencantumkan nama suami apabila tidak ada sangkut pautnya dengan kejadiaan saat itu. Masih berkaitan dengan nama, pada kesempatan lain, saya diminta mendoakan warga gereja yang sakit, kebetulan ada perempuan (ina) yang sakit. Sebut saja nama-nama yang sakit; Ny Togar Boru N, Ny Burju Boru B dan Ny Parlin Boru M. Terus terang, saya bingung, siapa yang sebenarnya sakit, bagaimana menyebut nama mereka dalam doa. Sampai saat ini, bila menemukan hal seperti itu, selalu saya bertanya, “Ise do namarsahit, amanta i do manang inantai?” “Inantai do amang.” Jadi jelas siapa yang sakit. Jangan sampai salah mendoakannya. Saya pun berdoa tanpa menyebut nama dan marga suami yang sakit. Pertanyaan, kenapa kalau bapak (suami) yang sakit tidak mencantumkan nama dan marga isteri? Kembali kepada penulisan nama di media massa. Tulislah nama yang bersangkutan (yang berperan saat itu) Tidak perlu mencantumkan nama dan marga suami. “Dewi Sibarani, pada perayaan Natal itu memberikan sambutan kepada anak-anak Sekolah Minggu” Ini yang betul. Sopan dan mengindahkan bahasa Indonesia yang benar dan baik. Yakinlah, Anda tidak salah dalam penulisan seperti itu. Ada lagi penulisan yang sering salah kaprah. Misal, Pdt Bahagia dan ibu hadir dalam pesta gereja itu. “Ibu” siapa yang dimaksud? Apakah ibu (orang tua) yang melahirkan Pdt Bahagia? Atau maksudnya istri dari Pdt Bahagia? Jikalau istri Pdt Bahagia yang dimaksud, tulis saja “Pdt Bahagia dan istri.” Jelas dan konkrit. Sopan? Sangat sopan dan lebih tepat, baik dan benar. Tetapi, kalau memang perlu disebutkan nama dan marga isteri, boleh saja, caranya, “Pdt Bahagia dan istri Siska Tambunan Penulisan marga dalam tradisi masyarakat Batak sangat penting dan harus, apabila perempuan dicantumkan “boru.” Walaupun dari namanya sudah jelas-jelas perempuan tapi tetap diimbuhkan boru sebelum marganya. Natalia Boru Naingolan, misalnya. Natalia pastilah perempuan. Kalaupun ditulis “Natalia Nainggolan,” sebenarnya sudah benar (tanpa boru) Tapi, kalau harus dicantumkan boru, tulislah “Natalia Boru Nainggolan,” bukan disingkat “br.” Sebab “boru” adalah bagian dari identitas diri seseorang maka harus ditulis dengan huruf besar (Boru) Pertanyaan, kenapa kepada perempuan diimbuhakan “boru” dan kepada pria (baoa) bebas tanpa embel-embel? Ya, memang dari sananya udah begitu? Dalam banyak hal, posisi pria (ama) dalam tradisi Batak selalu diistimewakan. Apakah ini termasuk “keunikan” budaya Batak? Memang ada beberapa nama tertentu yang menjadi nama babtis pria dan perempuan bagi warga Batak. Sebut misalnya, Hotma, Gokma, Tulus, Elisa, Lambok dan Parulian. Supaya jenis kelamin jelas, kadang dituliskan “boru” dalam namanya. Namun ada juga tidak perlu menuliskan boru walaupun yang punya nama adalah perempuan. Kesalahan yang serupa masih ditemui pada penulisan gelar kesarjanaan dan sapaan kehormatan. Untuk gelar doktor (S3) penulisan yang benar adalah “Dr” dan inilah yang berlaku di seluruh Indonesia, bukan DR, dua-duanya ditulis huruf besar. Entah dia lulusan Amerika, Kanada, Australia, Jerman, Prancis, Belanda, Indonesia, maupun doktor kehormatan (HC) disingkat dengan Dr. Sedangkan dokter (S1) yang benar adalah “dr” dua-duanya huruf kecil. Kalau selama ini kita menuliskan gelar kesarjanaan rancu, mulailah sekarang memperbaikinya. Bagi yang lain pun sangat membantu, tidak lagi mengira-ngira, apakah doktor (S3) atau dokter (S1) Karena bahasa yang digunakan pers (mass media) adalah bahasa jurnalistik—sifatnya netral bukan paternalistik atau keningratan, sebab itu tidak mengenal sapaan bapak, ibu dan beliau dalam penulisan berita. Bapak Pdt Hidup menyerahkan kuci rumah yang baru. “Pdt Hidup menyerahkan…,” inilah yang benar. Presiden SBY hadir dalam perayaan Parolopolopon HKBP. Gubernur Rudolf Pardede. Ephorus HKBP dan Sekjed HKBP juga hadir di Senayan. Cara penulisan seperti itu cukup sopan dan santun. Marilah berbahasa Indonesia yang baik dan benar dalam penulisan. Penulis Baharuddin Silaen pengajar di Fisipol UKI, mengampu mata kuliah Bahasa Jurnalistik
NELSON MANDELA: PEMAAF DARI AFRIKA SELATAN
Pada usianya yang ke-90 tahun Nelson Mandela kembali menjadi pembicaraan yang riuh di seluruh Afrika Selatan. Bahkan radio lokal ikut heboh menyiarkan kembali biografi Mandela “ Long Walk to Freedom” (Perjalanan Panjang Kebebasan) Maklum, Nelson Mandela bukan sembarang tokoh kulit hitam, tapi ia adalah sosok santun dan pengampun dari Afrika. Mengampuni lawan adalah ciri Nelson Mandela yang mencuat dari iman yang diyakininya. Bayangkan, 27 tahun Mandela dalam tahanan rezim pemerintah apartheid kulit putih Afrika Selatan. Waktu yang cukup lama, tapi Nelson seakan sadar, memperjuangkan kebebasan bukanlah tanpa resiko. Bertahun-tahun di balik jeraji besi justru membuat Mandela makin kokoh dalam pendirian, suata saat Afrika akan mengerti apa yang diperjuangkan seorang Nelson Mandela. Dia bukan tipe manusia pendedam. Musuh, penguasa kulit putih yang memenjarakannya dimaafkan dengan hati yang tulus. Setidaknya sifat pengampun presiden kulit hitam pertama Afrika Selatan ini, punya andil merajut suatu masyarakat multirasial, demokratis, damai dan kuat di Afrika hingga berhasil menjungkirbalikan rezim apartheid. Ia begitu dikagumi, dicintai, dihormati dan didengar sebagai pemimpin. Ia dilantik 10 Mei 1994 sebagai presiden kulit hitam pertama Afrika Selatan. Dalam biografi Long Walk to Freedom banyak pelajaran ditorehkan Mandela yang pantas diteladi pemimpin masa kini. Beberapa contoh kata bijak yang sangat popular dalam perjalanan Mandela adalah; Keberanian bukannya ketiadaan rasa takut, tetapi mengilhami orang-orang lain bergerak melewati (rasa takut) itu. “Tentu saja saya takut,” katanya kepada Stegel di kemudian hari. Tetapi seorang pemimpin menurut Nelson tidak bisa memperlihtakan rasa takut itu, dia mengispirasi orang-orang lain. Menurut Cyril Ramaphosa yang pernah menjadi Sekjen African National Congress, partai Mandela, Nelson Mandela bukanlah jenis pemimpin “permen karet” yang habis manis sepah dibuang. “Pimpin dari belakang dan biarkan orang-orang lain percaya mereka berada di depan,” kata Mandela dalam biografi itu. Dalam sejarah Afrika, hanya sedikit pemimpin terpilih secara demokratis yang mau mundur dari jabatan. Lain halnya dengan Mandela, bertekad memberi contoh yang akan diikuti pemimpin selanjutnya. Dia adalah kebalikan dari Mugabe, dengan menjadi orang yang membawa kelahiran negaranya dan menolak menyanderanya. Nelson hanya bersedia memegang satu kali masa jabatan. “Tugasnya adalah menetapkan arah, bukan mengemudikan kapalnya,” kata Ramaphosa. Konon, kunci mengerti Mandela adalah 27 tahun masanya dipenjara. Ketika masuk ke Pulau Robben, 1962, dia adalah seorang pria emosional, keras kepala dan gampang tersinggung. Ketika keluar dari penjara, dia muncul sebagai lelaki yang imbang dan berdisiplin. Mandela merayakan ulang tahun ke-90 ini secara pribadi dengan keluarga di Qunu, desa masa kecilnya, 1000 kilometer selatan Johannesburg. Di tempat ini, Nelson membangun sebuah replika dari rumah, di mana dia ditahan sebentar, setelah dipindahkan dari pejara Pulau Robben. Dalam wancara dengan CNN menyambut ulang tahun Mandela, sang istri mengatakan,satu-satunya penyesalan yang dimiliki Mandela adalah tidak sempat memberi masukan bagi perkembangan anak-anak karena dia di bui semasa anak-anaknya tumbuh besar. (baharuddin s/dirangkum dari berbagai sumber)
St Ir Usman Silitonga: Modal Kepercayaan
Sejak kecil ayahnya sudah menanamkan pola hidup jujur. Dari sikap jujur itulah banyak hal ditemukannya. Bahkan membuatnya dipercaya orang lain dan itulah kemudian menjadi modal hidupnya. “Semua hanya modal kepercayaan,” ujar Ir Usman Silitonga mengomentari konsep yang diterapkan dalam perusahaan yang dikelolanya. Lahir 11 Oktober 1961 di Kisaran. Lulus dari Teknik Elektro, Universitas Dharma Agung, Medan 1986. Kemudian Usman mengadu nasib ke Jakarta, 1994. Modal tekad, jujur serta tak gampang menyerah itulah modalnya mencari pekerjaan di Jakarta. Setelah sempat kerja di perusahaan asing, akhirnya diterima bekerja di PT Saka Jagad Pratama yang bergerak di bidang kontraktor. Selama 14 tahun Usaman dipercaya menduduki jabatan general manager (GM) di perusahaan ini. Perusahaan yang baru berdiri ini perlahan mencapai kemajauan berkat modal kepercayaan dan kerja keras yang diterapkan Usman Silitonga. Bahkan dia menjadi orang paling dipercaya diperusaahan itu dengan latar belakang pendidikan sebagai insinyur. Mulai dari administrasi, keunangan serta bagian teknik di lapangan dipercayakan kepada Usman. Bekal pengalaman selama 14 sebagai kontraktor, Usman mendirikan perusahaan di kawasan Citra Busines Park, Kalideres. PT Panca Rodearni Solusi (Mechanical & Electrical Contractor) Di perusahaan ini ia menjabat direktur utama. Nama putrinya “Rodearni” yang saat ini sedang kuliah di Fakultas Teknik Elektro, Universitas Diponegero, Semarang, sengaja diabadikan sebagai nama PT Panca Rodearni Solusi. Dia mengharapkan putrinya Rodearni dapat meneruskan perusahaan ini di kemudian hari. Meskipun baru berusia setahun, perusahaan yang menangani pemasangan kabel ini sudah mengerjakan pemasangan kabel di Serpong, Bogor, Cinere, Cikupa, Bintaro dan Bandara, Tangerang. PT Panca Roedearni Solusi didukung 15 tenaga tetap dan puluhan tenaga lapangan. Apa yang dicapai perusahaan ini tidak lepas dari modal kepercayaan yang selalu dijaga dengan baik. Sebagai direktur utama ia benar-benar memperhatikan image perusahaan yang dikelolanya. Ia memberi contoh, hampir semua perusahaan punya hutang. Masalahnya apakah konsisten mengembalikan sesuai perjanjian? Banyak usaha bangkrut karena tidak mampu mengembalikan pinjaman dengan tepat waktu. Dampaknya, perusahaan itu tidak dapat dipercaya.”Kalau orang sudah terlanjur tidak percaya, selanjutnya akan sulit memulihkan nama baik,” katanya. Selain modal kepercayaan Usman juga sangat jeli melihat peluang yang ada. Peluang atau kesempatan ada setiap saat, tapi karena kurang diperhatikan dan dimanfaatkan dengan baik, peluang itu begitu saja berlalu. Bagi Usman Silitonga, kesempatan adalah anugerah (pasupasu) dari Tuhan. Setiap hari Tuhan memberikan kesempatan kepada manusia agar hidupnya lebih baik dari sebelumnya. Suatu ketika ia pernah mengatakan, tak selamanya sikap jujur dalam berbisnis menuai rugi. Karena itu tidak musti “bermain” curang dalam berbisnis baru bisa meraup untung? Kalimat yang sangat filosofis ini menjadi landasan yang kukuh bagi Usman setiap berhadapan dengan bidang komersial perusahaan yang dikelolanya. Tapi, bukan berarti semuanya berjalan mulus. Sebagai kontraktor dan sekaligus sintua, sering diperhadapkan dengan dua sisi yang sangat bertentangan. Ia mengakui kerap bergumul dalam batinnya. Sebagai kontraktor yang berhadapan dengan banyak orang serta keinginan yang berbeda-beda menjadi tantangan yang sangat berat baginya. Namun, ia bersyukur sebagai partohonan (sintua) ini menjadi alat pengontrol baginya. Dia pun berupaya membuat batas-batas wilayah yang dianggapnya bertentangan dengan batinnya. “Saya sering bergumul kalau sudah di lapangan,” ucapnya. Bagi Usman Silitonga, marhuria (kehidupan gereja) adalah bagian yang tak terpisahkan dari hidupnya. Ayahnya (alm) St Kamaruddin Silitonga adalah sosok yang dikaguminya yang sejak kecil mendidiknya agar dekat kepada Tuhan dan gereja. Ayahnya adalah guru huria (voornganger) di HKBP Rambong Merah, Resort Tanjung Balai, Asahan. Tak heran sejak Sekolah Minggu Usman sudah aktif di gereja. Ia menceritakan, ikut membangun gereja dengan menyisihkan jajannya Rp 20.000 untuk membeli batu bata (1970) “Kami adalah kelurga yang dididik di lingkungan gereja. Orang tua kami mengajarkan agar jangan setengah hati terhadap ualon huria. “Berikanlah yang terbaik terhadap Tuhan dan gereja,” ujar Usman menirukan ucapan ayahnya. Bahkan sewaktu mahasiswa di Medan sudah aktif di NHKBP dan sempat Sekretaris Umum NHKBP Medan. Ada kenangan menarik yang selalu dikenang Usman, ketika ada kegiatan NHKBP, mereka kekurangan dana, terpaksa Usman menanggulanginya dengan uang kuliahnya asalkan kegiatan itu bisa diselenggarakan. Ayahnya meninggal ketika Usman kuliah di Medan. Abangnya Jansen Silitonga kuliah di STT HKBP Pematangsiantar dan adiknya Jasmen Silitonga kuliah di UGM Yogyakarta. Dia terpukul dan sedih membayangkan masa depan kuliah mereka. Tinggallah ibunya Tianggur Pasaribu (84 tahun) namabalu seorang diri berjuang mengurus dan menyekolahkan mereka. Namun tidak disangka, hidup jujur dan bergaul yang selalu ditanamkan St Kamaruddin Silitonga semasa hidupnya rupanya menjadi “jamita na mangolu.” Bahkan inilah memberikan semangat bagi ibu Usman menghidupi keluarga dan anak-anaknya yang sedang kuliah. “Ibu saya tidak pernah ditolak tetangga kalau kami ada keperluan uang. Inilah kebaikan Tuhan terhadap keluarga kami,” katanya sambil menambahkan adiknya bisa selesai kuliah dari Fakultas Kedokteran UGM, dr Jasmen Silitonga dan sekarang Direktur RSU Bengkulu. Abangnya (alm) Pdt Jansen Silitonga STh, selasai kuliah dari STT HKBP (meninggal saat bertugas di HKBP Yogyakarta) Usman sendiri kuliah di Dharma Agung, Medan Saat ini, St Usman Silitonga menjabat uluan huria HKBP Dadap, Resort Cengkareng. Punya kerinduan membangun gereja HKBP Dadap, semasa dia menjabat uluan huria. Meskipun waktunya banyak tersita mengurus perusahaannya, tapi tetap meluangkan waktu untuk pelayanan gereja. Bukan hanya pelayanan gereja yang diutamakannya. Tapi juga sangat peduli terhadap keluarga. Dia membuka usaha cucian motor di Rajeg dan Salembaran Tangerang. Pengisian ulang air mineral di Dadap dan Kelapa Sawit di Pekan Baru“Yang bekerja di tempat ini adalah keluarga dekat,” ujarnya. Usman Silitonga menikah dengan Masni Manihuruk dikarunia tiga anak. Christin Silitonga, kuliah (arsitek) di Universitas Tarumanegara, Jakarta. Melfa Rodearin Silitonga, kuliah (elektro) di Universitas Diponegoro dan Helmy Willson Silitonga (SMA) Jakarta. bas
PROVINSI TAPANULI TERCEMAR SEBELUM MEKAR
Luar biasa, hampir semua media cetak dan elektronik secara terus-menerus memberitakan tragedi Medan yang menewaskan Abdul Azis Angkat, Ketua DPRD Sumatera Utara. Inilah berita politik terheboh yang menyedot perhatian—mulai dari presiden sampai orang-orang di lapo tuak. Maklum, nilai beritanya (news value) cukup tinggi—tidak tanggung-tanggung, seorang ketua dewan tewas di antara himpitan demonstran yang kecewa setelah tujuh tahun tidak ada jawaban pasti akan nasib pemekaran provinsi yang mereka perjuangkan. Mereka bergerak dan terus merangsek diselingi teriakan dan kepalan tinju yang diarahkan kepada Azis, sang ketua pun lunglai, tidak sadarkan diri dan akhirnya tewas. Apa pun penyebab kematian Aziz, kita prihatin—demonstrasi brutal mengakibatkan nyawa melayang. Komentar pun mengalir deras terkait tewasnya Ketua DPRD, termasuk komentar pemerhati politik yang ditayangkan live, tidak terkecuali tanggapan pemirsa yang semuanya bernada miring dan mengutuk unjuk rasa pemekaran provinsi Tapanuli yang berakhir anakis. Sialnya, insiden ini membawa komunitas Batak ikut terkena getahnya. Wajar, soalnya tersangka yang diduga dalang kericuhan hampir semua orang Batak, korban pun sebenarnya orang Batak juga—dari subetnik Papak. Angkat adalah marga Pakpak. Sayang, nalar orang terlanjur digiring ke suatu argumen kurang lengkap, orang Batak identik dengan kekerasan. Padahal, semua suku berpotensi melakukan tindak kekerasan. Tidak berhenti di situ, beberapa nama disebut-sebut orang Jakarta sebagai otak intelektual kerusuhan. Ketika Jenderal (Purn) Luhut B Panjaitan diwancarai tv-one pada “Berita Petang” (11/2) Luhut membantah, tidak ada aktor intelektual di belakang tragedi pemekaran provinsi Tapanuli. “Yang ngomong itu, kampungan,” kata Luhut menjawab pertanyaan presenter TV One. Selain sifat Batak yang dianggap keras, potensi anarkisme politik dalam kerumunan tidak boleh dikesampingkan—sebenarnya ini yang mendesak ditelisik. Kenapa tindak melawan hukum sering terjadi pada massa yang berkerumun? Entah itu pemilihan kepala daerah, pemekaran kabupaten, provinsi dan pembebasan tanah, kerap kali berujung ricuh dan anarkis. Karena itu, kurang sportif kalau hanya menyalahkan permintaan daerah otonomi sebagai pemicu insiden itu. Pemekaran wilayah merupakan wujud keinginan rakyat mendapatkan pelayanan publik yang lebih baik. Betul sekali, tak semua ide pemisahan daerah didasari niat luhur menyejahterakan masyarakat desa. Ada juga didasari keinginan beberapa pemrakarsanya bercita-cita menjadi kepala daerah atau kesempatan mencari proyek. Entah apa pun itu, para sosiolog seperti Emile Durkheim dan Gustave Lebon (1841-1931) mengakui, “siapa pun yang ada dalam kerumunan pasti berpikir, merasa dan bertindak serupa. Kekuatan emosional dan irasional berkecamuk. Begitu juga nafsu barbarian bergerak liar menyerabas. Identitas sosial individu tercabik-cabik oleh kekuatan homogenitas kerumunan.” Asal tau, hal serupa akan terjadi pada bentuk kerumunan di daerah mana pun dan suku apa pun, bukan hanya di Medan dan orang Batak. Kerumunan (crowd) menurut sosiologi disebut juga kelompok sosial yang tidak teratur. Kerumunan adalah kehadiran orang-orang secara fisik—tidak terorganisasi. Akan segera mati, setelah orang-orang bubar. Sifatnya pun sementara (temporer) Interaksi spontan dan tidak terduga. Seorang politikus misalnya; guru, mahasiswa, pegawai, saudagar, dokter, wartawan, tukang becak dan tukang sayur sama-sama menunggu kereta api—mereka mempunya kedudukan yang sama. Siapa pun yang ada dalam kerumunan gampang tersulut dan mudah meniru tingkah laku orang lain. Satu orang berteriak, yang lain akan meniru karena didorong perasaan satu nasib dan terjalin sifat saling mendukung. Pada dasarnya, tiap kerumunan rentan terhadap kerusuhan. Soalnya individu yang berkumpul gampang kehilangan jati diri—anonimitas. Dalam momen kerumunan individu-individu tercerabut dari personalitasnya. Kerumunan cepat menularkan kekerasan. Ketika satu orang memukul, yang lain mengikutinya. Tipe kerumunan pun berbeda, ada kerumunan yang bertindak emosional (acting mobs) Tipe ini diwarnai perlawanan norma hukum (lawless) Mobokrasi adalah kekuasaan yang dikendalikan mob—kerumunan yang emosional serta irasional yang berbuntut aksi destruksi. Aksi seperti ini bisa terjadi ketika ada pihak yang dianggap menghambat dan menghalang-halangi niat orang-orang dalam kerumunan. Atau karena hak-hak mereka diinjak-injak atau lantaran ketidakadilan. Kerumunan akan bertambah beringas dan agresif menyerang siapa yang dianggap penghalang keinginan mereka—dipukul atau dihajar rame-rame dan dikeroyok. Tipe kerumunan seperti itulah yang terjadi pada Ketua DPRD Sumatera Utara, Azis Angkat. Betul, tidak semua kerumunan menciptakan kerusakan dan kehancuran. Literatur ilmu sosiologi membagi empat tipe kerumunan. Seperti kerumunan tidak tetap (casual crowd) Keberadaanya amat singkat dan terorganisasi secara longgar. Tipe ini bersifat spontan. Misal, orang yang bersama-sama melihat gedung terbakar atau kecelakaan. Kerumunan konvensional (convensional crowd) Tipe ini terjadi secara terencana dan berperilaku teratur. Contoh, penonton dalam teater atau pertandingan sepak bola. Kerumunan bertindak (acting crowd) keterlibatannya didasari pada permusahan atau aktivitas destruktif. Misal, mob yang melakukan pembantaian. Kerumunan ekspresif (expressive crowd) muncul melampiaskan emosi dan ketegangan. Umpama, para penonton konser musik rock. Sialnya, kalau kerumunan berada di wilayah politik, yang kerap terjadi adalah anarkisme. Anarkisme suatu keadaan ketika tidak ada lagi otoritas yang mengatur dan mengendalikan. Situasi bisa berubah mendadak menjadi brutal, apalagi di lokasi kerumunan tidak ada pihak keamanan yang memadai. Bisa saja polisi kalah kuat dengan gelombang demonstran yang kecewa dan prustrasi. Sketsa anarkisme politik kerumunan seperti inilah yang terjadi di Medan. Kita hanya bisa beradai-andai—seandainya pengamanan dilakukan maksimal, barangkali korban tewas bisa dihindarkan. Apa pun itu, provinsi Tapanuli sudah tercemar sebelum mekar. Amang tahe! Penulis, Baharuddin Silaen staf pengajar sosiologi di Fakultas Ilmu Komunikasi, Universitas Mercua Buana, Jakarta.
Langganan:
Postingan (Atom)
