Kamis, 30 Juni 2011

Dampak Televisi Terhadap Pertumbuhan Bayi

Kehadiran pesawat televisi di rumah, semakin mempererat hubungan kasih sayang antaranggota keluarga. Namun, siapa sangka bila ternyata televisi berdampak buruk bagi perkembangan otak bayi, terutama saat bayi mulai belajar mengenali kosakata sehari-hari.

Anda mungkin terkejut bila membaca hasil penelitian para pakar kesehatan di Jerman baru-baru ini. Dalam penelitian yang dimuat di majalah Neu-Isenburg itu, disebutkan bahwa televisi pada dasarnya tidak baik bagi perkembangan otak bayi, termasuk pula berbagai program khusus televisi yang dirancang khusus buat bayi.

Penelitian yang dilakukan Profesor Manfred Spitzer dari Ulm, Amerika Serikat (AS) mengatakan, suara dan gambar yang timbul dari telivisi, sama sekali tidak bisa diproses oleh otak bayi. “Akibatnya, bayi mulai mengalami gejala gangguan dari televisi,” kata Spitzer.

Penelitian itu dilakukan terhadap dua kelompok bayi yang memiliki kisaran umur sembilan hingga 12 bulan di AS. Para bayi kelompok pertama, peneliti membacakan dongeng dalam bahasa China. Sedangkan para bayi di kelompok kedua hanya mendengarkan dongeng yang sama melalui pesawat televisi.

Hasilnya, para bayi di kelompok pertama secara mengejutkan bisa mengenali suara dalam bahasa China dalam waktu dua bulan berselang. Sementra bayi yang berada di kelompok kedua hanya mendengarkan dan melihat tampilan layar di televise serta tidak mempelajari apa pun.

Kesimpulannya, bila bayi terbiasa menonton cerita dongeng di televisi, maka bayi hanya bisa mengidentifikasi kosakata sekitar 10 persen. Namun, bila orang tua terbiasa mendongengkan bayi, maka daya tangkap bayi terhadap kosokata akan meningkat di atas 15 persen.

Sama halnya dengan pesawat televisi, video khusus bayi yang semula bertujuan merangsang pertumbuhan otak bayi, malah sebaliknya memperlambat perkembangan kosokata pada bayi, jika semua digunakan secara berlebihan.

Bayi yang menonton video dan DVD bayi selama empat jam per hari, rata-rata memahami enam sampai delapan kata lebih sedikit dibandingkan dengan bayi yang tidak menontonnya. “Bayi yang lebih tua tak terpengaruh atau terbantu oleh video itu,” kata para peneliti tersebut dalam Journal of Pediatrics.

“Fakta paling penting yang datang dari studi ini ialah tak ada bukti jelas mengenai manfaat yang berasal dari DVD dan video dan ada petunjuk mengenai keburukannya ,” kata peneliti dari University of Washington , Frederick Zimmerman.

Zimmerman dan rekannya melakukan wawancara telepon secara acak dengan lebih dari 1.000 keluarga di Minnesota dan Washington yang memiliki bayi dan mengajukan pertanyaan terperinci mengenai kegiatan menonton video dan televisi. “Hasilnya mengejutkan kami, tapi semuanya masuk akal. Hanya sejumlah jam terbatas saat bayi melek dan sadar,” kata Andre w Meltzoff, ahli psikologi yang ikut dalam studi itu.

Meltzoff menambahkan, jika bayi belajar mengenal kata lewat DVD dan televisi dan bukan dengan orang yang berbicara dengan cara kebapakan atau keibuan, gaya bicara melodis yang kita gunakan dengan anak kecil, bayi tak memperoleh pengalaman linguistik yang sama,

Dua peneliti ini sepakat orang tua adalah guru pertama dan terbaik bagi bayi. Bayi secara insting menyesuaikan cara bicara, pandangan mata dan tanda sosial guna mendukung ketepatan bahasa. Menonton televisi dan DVD yang menarik perhatian mungkin bukan pengganti yang setara bagi interaksi hangat sosial manusia pada usia ini.

Stimulasi

Dijelaskan oleh dr Setyo Handryastuti SPA(K) perekambangan otak bayi sudah tgerbentuk saat bayi berada di dalam kandungan ibu. Perkembangan otak terjadi mulai saat pembuahan dan sebagian besar selesai sampai bayi itu lahir.

“setelah lahir, bayi belajar dari lingkungan yang membentuknya. Perkembangan otak bayi dipengaruhi oleh gizi dan stimulasi positif dengan tujuan meningkatkan kematangan dan emosional anak,” kata Setyo.

Jadi kalau bayi dibiarkan menonton televisi terus menerus maka bayi akan terganggu perkembangan interaksi, komunikasi dan bahasanya. Karena komunikasi yang berlangsung saat bayi menonton televise adalah komunikasi searah, bukan komunikasi dua arah. Bayi menonton televisi boleh, tetapi tidak boleh terlalu lama dan harus ada interaksi dengan orang lain. “Tetapi kalau bayi hanya menonton televisi saja, jelas itu akan mengganggu perkembangan,” ujar Setyo.

Setyo Handryastuti mengatakan, perkembangan bayi sangat beragam. Bisa dari motorik kasar, motorik halus, bahasa, komunikasi, interaksi dan kecerdasan. Perkembangan itu bisa optimal manakala tercukupi kebutuhan nutrisi pada bayi dan kebutuhan stimulasi.

Adapun kebutuhan stimulasi ini pun juga bentuknya beragam. Bisa dengan pengasuhan atau bermain dengan interaksi dua arah. Dengan stimulasi seperti itu dapat memacu tidak hanya komunikasi tetap perkembangan seluruhnya, kemampuan motorik (motorik kasar-motorik halus) kemampuan komunikasi dan kemampuan bicara. “Sensorik dan motorik kalau tidak dirangsang tidak bisa berjalan dan berkembang,” kata Handryastuti.

Karena itu, apabila bayi dibiarkan menonton tayangan televisi menerus tanpa adanya interaksi dengan orang lain, maka perkembangan bayi akan mengalami keterlambatan. Seperti misalnya komunikasi, interaksi dan bayi cenderung pasif atau tidak berkembang karena tidak adanya interaksi dua arah.

“Dengan demikian, bayi tidak belajar merespons suatu rangsangan, padahal kerja otak yang berhubungan dengan merencanakan dan melakukan tindakan itu mencakup semua bagian otak,” ucap Handryastuti.

Psikolog Mira D Amir, mengatakan, perkembangan otak bayi sangat pesat terjadi sampai bayi berusia lima tahun. Pasalnya, periode ini merupakan periode yang sangat menentukan bagi perkembangan kecerdasan bayi. Untuk itulah perlu stimulus sehingga perkembangan otaknya bisa optimal. “Stimulus bayi diharapkan beragam, berupa interaksi langsung dengan si bayi sehingga apa yang ia pelajari, bisa terekam dan membentuk ikatan yang kuat di syaraf-syarafnya,” kata Mira.

Hal yang bisa menstimulus otak bayi bermacam-macam , terutama yang berasal dari sensorik dan motorik bisa juga dari penglihatan ataupun dari pendengaran. Televisi memang dapat membantu, tetapi tidak semua umur bisa mengonsumsi tayangan televisi.

Kalau sekarang ada boby channel, hal itu meruapakan salah satu upaya agar televisi dapat mudah dicerna untuk bayi. Meskipun demikian, baby channel tidak cukup diberikan karena bayi memerlukan stimulus yang lain seperti pembauan, perabaan, pencecapan atau dari motoriknya. Misalnya; memegang sesuatu, berjalan sendiri, menendang bola, naik sepeda dan menyeimbangkan gerakan.

Sampai anak berusia satu tahun yang diperlukan adalah psikomotoriknya. Jadi, pada usia setahunan, anak perlu membentuk ikatan dengan orang lain atau orang yang dekat dengannya. Secara signifikan orang tua atau pengasuh akan mengasah kemampuan motoriknya seperti menggapai, memegang barang, duduk, rambatan, merangkak dan berjalan.

Kalau bayi hanya didudukkan di depan televisi, dia akan menjadi bayi yang malas karena kurang dilatih dan kurang dirangsang kemampuan motoriknya. (sumber: healthylife/bas)

SMK HKBP PANGALOAN HANCUR DIGUNCANG GEMPA

Gempa yang berkekuatan 5,5 scala Richter yang mengguncang Tarutung-Pahae dan sekitarnya, mengakibatkan kerusakan hebat di berbagai tempat. Kerusakan parah terjadi mulai dari Pahae Julu, Pangaloan, Sarulla, Simangumban, Pubatua, Janjiangkola. Beberapa gereja, mesjid, gedung sekolah, perkantoran, rumah dan sejumlah jembatan mengalami kerusakan berat dan tidak dapat dipergunakan lagi.

Gempa juga merubuhkan rumah salah satu warga Huta Silangkitang, Pangaloan marga Sihombing, hingga tertimbun longsoran Bukit Silangkitang Dolok. Namun tidak ada korban karena di saat gempa terjadi, warga sudah lebih dulu berhamburan keluar rumah.

Sekolah Menengah Kejuruan (SMK) HKBP Pangaloan Pahae Jae, tidak luput dari hantaman gempa yang mengguncang Pahae. Dulu namanya SMP HKBP, saat ini menjadi SMK HKBP. Sekolah ini tidak dapat dipergunakan untuk proses belajar mengajar karena kerusakan di hampir semua bangunan.

Salah satu alumni SMP HKBP Pangaloan, Ya’maro Sitompul yang tinggal di Bekasi menghubungi beberapa alumni dan warga Pahae, Pangaloan, di Jabodetabek untuk sama-sama peduli dan saling mendukung dalam pengumpulan dana untuk disumbangkan kepada korban gempa di Pahae.

Penggalangan dana diadakan oleh Ikatan Anak Rantau Rura Pangaloan (IARRP) dengan menggelar “Malam Dana Peduli Kasih” Minggu (19/6) di Lapo “ ONDIHON“

Jalan Pramuka, Jakarta Timur, milik Anton Sihombing anggota DPR.

Malam itu terkumpul sumbangan dari para pengunjung lapo dan anak rantau, Rp 20 juta. Dana tersebut kontan dan spontanitas. “Biarlah Tuhan yang membalas kebaikan bapak dan ibu yang terkasih,” kata Ya’maro Sitompul yang sekaligus pengurus IARRP. Acara tersebut dihibur artis ibukota Novel Sitompul, Parlin Sitompul, Ya’maro Sitompul dan Amstrong Simamora sebagai pemain Saxophone.

St Alden Sitompul salah satu sintua di HKBP Pangaloan, menjelaskan, gereja HKBP Pangaloan mengalami kerusakan yang cukup berat. Gereja tertua di Tanah Batak yang didirikan Pdt Klemmer, 1862, pada 2012 akan merayakan jubileum 150 tahun. Bangunan gereja dan palaspalas (menara) miring ke kanan. Beberapa tiang di dalam gereja sudah hampir patah dikarenakan banguan gereja memang sudah dimakan usia. Atap bocor karena bergeser dari posisi semula serta asbes hancur. Termasuk langgatan retak dan patah.

Saat ini pengurus gereja dan sekolah HKBP Pangaloan bekerja keras supaya sekolah dan gereja yang rusak dapat segera diperbaiki.

HKBP Pangaloan, 2-3 Juli 2011 akan merayakan prajubileum menyongsong Jubileum 150 Tahun 2012. Direncanakan perantau Rura Pangaloan Pahae akan pulang kampung merayakan acara tersebut. Ikatan Anak Rantau Rura Pangaloan (IARRP) yang di ketuai TSP Sitompul dan Poltak Simanjuntak sebagai sekretaris akan ikut ambil bagian pada perayaan tersebut.

Untuk menghibur acara prajubileum HKBP Pangaloan, artis ibukota/pencipta lagu/musisi otodidak Ya’maro Sitompul sudah menciptakan lagu Gempa Bumi Pahae.“ Lagu ini akan didendangkan di Pahae untuk menghibur para korban bencana alam gempa bumi.

Selain lagu tersebut Ya’maro juga sudah mempersiapkan lagu ciptaanya sendiri dan sudah dikirim untuk dipelajari anak-anak SMK HKBP Pangaloan dan komunitas koor gereja HKBP Pangaloan. Lagu yang akan dinyanyikan pada saat perayaan Juli ini, antara lain: Jubileum, Pararat Barita, Sada do Huria i, Rura Pangaloan, Pahae Jae-Pahae Julu, Salib Kasih, Silindung Nauli. Semua lagu ciptaan Ya’maro Sitompul ini, akan dilelang dan hasilnya disumbangkan kepada HKBP Pangaloan dan SMK serta para korban gempa lainnya.

Bagi yang tergerak hatinya untuk membantu saudara kita di Pahae silahkan mengirimkannya melalui BRI Unit Sarulla, No Rek: 5392-01-003659-53-1 a.n. Dewan Sekolah Huria HKBP Pangaloan.

Ya’maro Sitompul menyampaikan berita ini kepada Suara HKBP di Jakarta. bas

Jumat, 17 Juni 2011

Terlantar Seperti Domba

“Tergeraklah hati Yesus oleh belas kasihan.” Inilah tema Paskah Marturia HKBP Se-Jabodetabek yang digelar di Plaza Arcipel/Archipelago Colossal Stage, Taman Mini Indonesia Indah. Perayaan sekaligus hari misi Marturia HKBP bersama warga outreach dihadiri ribuan warga HKBP yang ada di Jabodetabek.

Kebaktian dipimpin Praeses Distrik XIX, Jakarta 3, Pdt Esron Tampubolon MTh. Doa syafaat oleh Praeses Distrik 8 Jawa Kalimantan, Pdt Mori Sihombing MTh. Kotbah disampaikan Kepala Departemen Marturia, Pdt Dr Binsar Nainggolan.

Pdt Binsar Nainggolan saat kotbah, mengajak semua warga HKBP untuk kembali merenungkan apa yang dilakukan para misionaris pada waktu awal masuknya agama Kristen di Tanah Batak. Sekarang ini warga HKBP sudah sangat menurun melakukan tugas-tugas pelayanan yang berkaitan dengan salah satu Tritugas panggilan gereja yaitu pemberitaan Injil (marturia).

Bahkan banyak warga HKBP beribadah ke gereja lain, kata Binsar, ini tentu program kegiatan PI, perlu semakin ditingkatkan. Ditingkatkan dari semua aspek, baik itu pelayanan kepada warga jemaat maupun peningkatan kualitas pelayanan firman oleh para pendeta HKBP.

Binsar Nainggolan juga mengatakan, ada kecenderungan bahwa pelayanan pekabaran Injil kepada kaum outreach semakin terlupakan. Karena itu, apa yang dilakukan oleh panitia melaksanakan Paskah bersama kaum outreach adalah tentu merupakan suatu tindakan konkrit dari arti berjubileum. Apalagi tahun ini HKBP mencanangkan sebagai Tahun Jubileum 150 Tahun HKBP, yang berarti memerdekakan orang dan orang yang dimerdekaan itu adalah yang tertindas, terbelakang, dalam penderitaan dan kemiskinan. “Tetapi lebih utama lagi, memerdekakan mereka agar bisa setiap saat mendengarkan kabar keselamatan melalui pemberitaan firman Tuhan,” kata Pdt Binsar.

Selama kebaktian berlangsung diselang-selingi koor dari; Koor AmaHKBP Menteng Lama, Koor Gabungan, Koor Punguan Parompuan Distrik (PPD) Se-Jabodetabek, Koor Outreach Jakarta Utara, Koor Rumah Doa Rawadas, Singer - Ruth Simanjuntak dan Singer Putri Sihombing. Juga drama Paskah dari Sekolah Minggu Depok Timur.

Ketua Panitia Paskah Marturia, St Kapler Marpaung MMin, pada sambutan mengatakan, Paskah ini adalah bentuk konkrit dari panggilan gereja yaitu marturia (bersaksi) Kesaksian itu terutama ditujukan kepada warga masyarakat yang jauh dan sulit dijangkau (outreach) oleh gereja khususnya HKBP. Agar kesaksian itu benar-benar dapat terwujud, maka panitia mengusung tema Paskah “Tergeraklah hati Yesus oleh belas kasihan kepada mereka, karena mereka lelah dan terlantar seperti domba yang tidak bergembala.” (Matius 9: 36) “Mari kita dukung dan doakan agar dana sebanyak Rp 500 juta dapat terkumpul sebagai modal awal pembanguan panti asuhan HKBP di Jabodetabek,” ujar Kapler Marpaung.

Selain perayaan juga dibagikan sembako kepada 1000 kepala keluarga outreach (terpinggirkan) yang dilayani Dewan Marturia Se-Jabodetabek selama ini. Dewan ini juga berencana membangun rumah/panti asuhan bagi anak-anak jalanan dan anak yang baru keluar dari lembaga pemasyarakatan. Panti ini akan dibangun di atas lahan seluas 4000 meter, di Cikarang. Tanah ini dipersembahkan salah seorang warga HKBP kepada Dewan Marturia. Peletakan batu pertama direncanakan 7 Oktober 2011 bersamaan ulang tahun HKBP ke-150

Panitia juga memberikan hadiah/door prize; sepeda motor dan barang elektronik. Sepeda motor disumbangkan Putratala Group dan dimenangkan seorang wanita warga outreach dari HKBP Rawalumbu, Bekasi. bas/kap

Pesta Gotilon dan Jubileum 60 Tahun

“Saudara-saudara yang kekasih dalam nama Yesus Kristus. Hari ini kita mengucap syukur kepada Tuhan, karena gereja kita berulang tahun yang ke-60 dan HKBP berjubileum 150 tahun, marilah mengucap syukur atas berkatNya yang telah kita terima selama ini,” kata Praeses Pdt Mori Sihombing MTh di hadapan warga HKBP Kebayoran Baru saat pengumpulan persembahan pada pesta gotilon gereja ini.

Anak Sekolah Minggu, remaja dan tua muda tampak riang membawa silua sebagai persembahan syukur kepada Tuhan atas berkat dan perlindunganNya selama 60 tahun HKBP Kebayoran Baru. Mereka dengan tertib menuju altar sambil menyanyikan lagu dari Buku Ende No 848 “Di son adong huboan Tuhan.”

Ada tiga acara yang dirayakan hari itu; pesta gotilon, jubileum 60 tahun HKBP Kebayoran Baru dan jubileum 150 tahun HKBP. Selama kebaktian diselang-selingi koor yang dinyanyikan; Glorius Choir, PS Seksi Ama, HKBP Kebayoran Lama dan HKBP Tridarma. Berkumandang juga Hymne HKBP Kebayoran Baru dipimpin St Roland P Hutapea.

Kebaktian dipimpin Pdt PH Nainggolan MTh, Pdt Dr Luhut Hutajulu dan Pdt H Lumbantobing STh. Kotbah disampaikan Praeses Distrik 8 Jawa Kalimantan, Pdt Mori Sihombing berdasarkan Mateus 21-14-22. Doa syafaat oleh Pdt MR Situmorang STh.

Usai kebaktian dilanjutkan dengan hiburan dan tortor dari sektor. Hingga acara selesai warga HKBP Kebayoran Baru tetap setia mengikuti pesta.

Ketua Panitia St AM Sinaga, mengatakan, hasil pesta akan dijadikan modal pertama untuk pembangunan Youth Centre. Pembangunan ini diperkirakan menelan biaya sekitar Rp 1 miliar. Youth Centre akan dibangun sedemikian rupa sehingga berbagai kegiatan yang bernuansa Batak dapat ditampilkan di tempat ini. Termasuk budaya Batak bernuansa Kristen akan diperkanalkan kepada anak Sekolah Minggu melalui Youth Centre. “Merekalah generasi penerus gereja, sebab itu budaya Batak harus secara dini diperkenalkan kepada anak Sekolah Minggu,” kata Sinaga kepada Suara HKBP.

Sejarah Singkat

HKBP Kebayoran Baru berdiri 18 Mei 1951 yang waktu itu dilayani Pdt K Nainggolan. Gereja ini pagaran HKBP Kernolong. Pada 1955 dibeli sebidang tanah bekas persawahan seluas 1600 meter. Waktu itu kebaktian masih mempergunakan tenda.

Pada 1956 warga HKBP Kebayoran Baru tercatat sekitar 60 kepala keluarga. Kala itu wilayah Kebayoran Baru belum dilalui angkutan umum. Termasuk jalan masih tanah dan kalau hujan turun jalanan menjadi becek dan licin.

Pembangunan gereja dimulai Maret 1957 dan peletakan batu pertama oleh Ds PT Sarumpaet mewakil pucuk pimpinan HKBP. Ds PT Sarumpaet waktu itu menjabat sebagai Pusroh Angkatan Darat. Tahun 1961 digantikan Pdt RJ Tambunan sebagai pendeta resort, sekaligus Kepala Pusroh AD.

Saat ini HKBP Kebayoran Baru dilayani Pdt PH Nainggolan (pendeta resort) Pdt Luhut Hutajulu, Pdt MR Situmorang dan Pdt H Lumbantobing yang didukung puluhan sintua. bas

Merubah Wajah Pelayanan Sosial

Ratusan warga gereja yang ada di Distrik 8 mengikuti seminar yang diselenggarakan Panitia Jubileum 150 Tahun HKBP Distrik Jawa Kalimantan, di HKBP Kebayoran Baru, Jl Hang Lekiu, Jakarta Selatan. Seminar ini menawarkan alternatif lain untuk merubah wajah pelayanan sosial HKBP yang padu serta menyentuh sisi kehidupan umat manusia.

Misalnya, Pdt Nelson Siregar, Kepala Departemen Diakonia HKBP pada kesempatan itu menyoroti sikap gereja terhadap pelayanan mahasiswa dan pemuda gereja. Ia mengakui, warga HKBP dikarunia Tuhan berbagai talenta dan masih ada komitmen menyekolahkan anaknya ke berbagai universitas di Indonesia. HKBP mestinya harus aktif dan serius mewujudkan pelayanan terhadap mahasiswa. Bahkan perlu berkorban memajukan peradaban melalui pendidikan (Amsal 4:7) “Merekalah kelak menjadi aset HKBP,” kata Pdt Nelson

Pengamatan Nelson selama ini, hampir seluruh kota provinsi yang ada universitas ada mahasiwa Kristen. Mereka memang sudah terlayani sebagian. Tapi konsep pelayanan masih sangat seragam. Kurang mendorong mahasiwa berpikir reflektif kritis terhadap tantangana zaman, apalagi dalam konteks nasionalisme bangsa dan negara Indonesia. Akibatnya, ada kesulitan mencari sosok mahasiswa yang peduli terhadap nasib bangsa dan negara, serta yang sudi memperjuangkan suara gereja.

Karena itu, ke depan, diharapkan pemulihan peran pemuda HKBP membangun jaringan mahasiswa yang tidak sungkan menyebut dirinya intelektual muda HKBP yang mau menyuarakan suara HKBP melalui media dan wacana pemikiran. Agaknya, perlu merubah wajah pelayanan sosial HKBP yang tangguh dan humanis. Ini kebutuhan yang sudah mendesak dibenahi, karena suara demokrasi saat ini tidak mungkin lagi dikembangkan melulu lewat dialog dan pertemuan langsung. “Perlu menyediakan fasilitas bagi mereka seperti retreat, pelayanan pastoral dan menyediakan beasiswa,” ujar Nelson Siregar.

Gagasan serupa dilontarkan Praeses Pdt Mori Sihombing MTh, setelah mempresentasikan sejarah perkembangan gereja mula-mula, masa kini dan gereja masa depan. Sampai kapan pun, gereja tidak boleh lepas dari panggilannya sebagai gereja yang melayani (diakonia) bersaksi (marturia) dan gereja yang bersekutu (koinonia) Sebab itu, ketiga panggilan ini, harus sama porsinya, jangan lebih besar perhatian terhadap diakonia, atau biasa-biasa saja terhadap marturia dan koinonia nyaris tak dapat perhatian. Atau kita membuat konsep sendiri, misalnya; biarlah gereja si A yang mengurusi diakonia, gereja B mengurusi marturia dan gereja C memperhatikan koinonia, ini keliru! “Pemahaman seperti ini hendaknya jangan sampai terjadi dalam pelayanan HKBP,” kata Mori Sihombing sambil menambhakan bahwa ketiganya harus sama kuat, sama-sama mendukung dan menopang pelayanan di gereja.

Sambil menjawab pertanyaan dari perserta, Mori Sihombing, menjelaskan, tugas yang diemban pendeta HKBP cukup banyak. Mulai dari mengurus yang hidup sampai yang meninggal, pendeta yang menangani. Belum lagi kegiatan lain, mepersiapkan sermon parahalado, mengajari parguru malua, sermon ina, melihat warga yang sakit di rumah sakit, melayani lansia, sermon guru Sekolah Minggu, pemberkatan nikah, partangiangan wijk dan masalah keluarga. Kalau bukan pendeta yang melayani dianggap kurang sah. Mungkin pedeta HKBP-lah tersibuk di antara pendeta gereja lain? Ini kenyataan, banyak pelayanan yang diserahkan kepada pendeta. “Saya tidak tau, apakah masih ada waktu istirahat pendeta, melihat tugas pelayanan yang begitu banyak,” ujar Mori.

Berkaitan dengan pendidikan, Prof WBP Simanjuntak MEd, PhD, melihat posisi HKBP dari sudut adat dan budaya Batak. Dia menyarankan, pikiran maupun semangat mempertahankan HKBP yang selalu membawa adat dan budaya Batak sudah perlu dipertimbangkan agar tidak terlalu dipertahankan secara fanatik. Pengertian dan pemahaman kata toleransi sudah harus mewarnai program Sekolah Minggu, remaja dan pemuda. Ada pepatah; “Di mana tanah dipijak, di situ langit dijunjung.” Tapi, agar tidak salah mengaplikasikan pepatah ini, maka pengetahuan dan pemahaman (proses pembelajaran) tentang toleransi budaya, toleransi etnik, toleransi agama, toleransi ras, toleransi gender, toleransi pendapat dan toleransi ideologis. “Semua ini, menjadi penting dalam konteks kurikulum Sekolah Minggu, remaja dan pemuda,” ucap Simanjuntak

Berdasarkan pengamatan WBP Simanjuntak, pendidikan agama Kristen di Sekolah Minggu, remaja dan pemuda (naposobulung) seperti berlangsung selama ini di HKBP, sudah tidak bisa lagi dipertahankan. Pendidikan agama Kristen yang konvensional, yang mengutamakan pengetahuan Injil atau mengutamakan pengetahuan kognitif yang disebut kompetensi pengetahuan agama perlu diperlengkapi.

Selain itu, Simanjutank juga menyinggung kurikulum Sekolah Minggu HKBP yang belum lengkap dan masih banyak kelemahannya. Ia mencatat beberapa kelemahan; tidak jelas kurikulum, guru kurang qualified, tidak jelas tujuan umum ataupun tujuan khusus, tidak pernah ada evaluasi pencapaian hasil belajar, guru tidak memiliki buku panduan maupun buku pegangan anak-anak, pengelompokan umur kurang diperhatikan, penyusunan materi kurikulum belum memperhatikan ketiga domain “Taxanomy Bloon” beserta tingkat/kategorinya, belum meperhatikan “positive hidden curriculum” dan terutama “negative hidden curriculum” yang ada sekarang setelah globalisasi. Negative hidden curriculum (kurikulum negative tersembunyi) inilah paling berbahaya, tak bisa diatasi hanya melalui Sekolah Minggu, remaja dan pemuda atau pendidikan formal, pendidikan orang tua atau program gereja, tapi harus ada sinergi dari semua pihak terkait. Ia memberi contoh kurikulum negatif tersembunyi; seperti tayangan kekerasan di televisi dan berbagai adegan di internet. “Berbagai hal dapat disaksikan dan dapat diakses dengan gampang, kapan dan di mana saja,” kata Prof Simanjuntak, Pembantu Rektor Akademik, Universitas Kristen Indonesia, Jakarta.

Pada seminar ini, mantan Ephorus HKBP Pdt Dr JR Hutauruk menyampaikan “Refleksi Peran Diakonia Sosial Masa St Lucius Siahaan (1902-1978) Lucius Siahaan adalah seorang guru yang berjasa meletakkan dasar diakonia sosial gereja yang bernapaskan kasih yang diajarkan Yesus Kristus. Dia juga gigih melakukan berbagai reorganisasi, melakukan pendekatan kepada Kementerian Sosial, agar mengembalikan lembaga sosial Hutasalem, Laguboti.

Lucius Siahaan sempat mengajar di Hollands Inllandse School (HIS) Sibolga, tapi tetap setia menolong warga HKBP di mana ia bekerja. Guru di Sekolah Negeri (Gubernemen) Bandar Sakti, Tebingtinngi, Sumatera Barat.

Begitu juga St Payaman Simanjuntak, menguraikan, jumlah warga HKBP yang mengikuti kebaktian Minggu di Jabodetabek, belakangan ini, hanya sekitar 25-60 persen. Masalah sosial ekonomi, inilah penyebab paling dominan. Mereka adalah kelompok marjinal atau Kristen kapal selam. Hanya muncul dua atau tiga klai setahun, biasanya Paskah dan Natal. Ini menggambarkan pelayanan rutinitas yang dilakukan gereja, hanya bagi sekelompok warga gereja yang rajin mengikuti kebaktian. Indikasi ini sekaligus menunjukkan, sebagian besar warga HKBP tidak menerima pembekalan firman Tuhan secara berkesinambungan serta nilai-nilai dan keteladanan hidup yang dikehendaki Tuhan Yesus. Akibatnya, program yang digagas HKBP sering tak berhasil memobilisasi dana bersama, seperti; dana abadi, dana pensiun, ansuransi kesehatan HKBP. “Soalnya, yang mendukung program tersebut hanya sebagian kecil warga gereja,” kata Prof Dr Payaman Simanjuntak.

Payaman menyarankan, agar momen jubileum 150 tahun HKBP, sebaiknya diarahkan terhadap warga kelompok marjinal, sehingga mereka dapat dibawa kembali ke HKBP untuk mendapat bekal firman Tuhan dan keselamatan dari Tuhan Yesus. bas

Setetes Darah Sejuta Harapan

Sekitar 250 warga HKBP Menteng, Jalan Jambu, Jakarta Pusat, jauh-jauh hari sudah mendaftarkan diri, siap menyumbangkan darahnya. Namun, hanya 150 orang yang mampu dilayani PMI Jakarta. Selain keterbatasan peralatan, juga jumlah yang menyumbangkan darah sudah lebih dari cukup sebagaimana ditargetkan pihak Palang Merah Indonesia (PMI).

Jumlah pendonor yang banyak ini membuat Ketua PMI, Jusuf Kalla, kagum dan menyampaikan terimakasih kepada warga HKBP yang mendonorkan darahnya.”Apabila semua warga HKBP mendonorkan darah, berarti tidak perlu lagi ada donor darah dari masyarakat lain,” kata Jusuf Kalla saat louncing aksi donor darah di HKBP Menteng, Jalan Jambu, Minggu (22/5)

Jusuf Kalla menjelaskan, masyarakat Indonesia masih membutuhkan jutaan kantong darah setiap tahun dan kebutuhan ini belum dapat terpenuhi. Darah yang dibutuhkan tahun ini saja sekitar empat setengah juta, yang baru terpenuhi sebanyak tiga setengah juta kantong. “Apabila semua warga HKBP mendonorkan darah, maka kebutuhan nasional sudah tercukupi, karena jumlah anggota jemaat HKBP diperkirakan kurang lebih lima juta jiwa,” ujar Jusuf Kalla di hadapan warga HKBP Menteng.

Darah untuk Jakarta saja, menurut Jusuf Kalla, masih kewalahan memenuhi permintaan darah dari berbagai rumah sakit. Setiap hari, Jakarta membutuhkan 2000 kantong dan jumlah pun ini tak pernah bisa terpenuhi.

Pada kesempatan aksi sosial ini, JK mengatakan, dalam aksi donor darah tidak ada istilah kelompok, agama dan suku. Indonesia tidak menganut paham perbedaan agama. Apalagi, darah sebagai kehidupan yang diciptakan Tuhan tidak dapat diciptakan manusia. Karena itu, untuk memenuhi kebutuhan darah ini harus antara manusia degan manusia.

Luhut B Panjaitan, kordinator acara, menyampaikan terimakasih kepada Jusuf Kalla yang bersedia datang mengunjungi warga HKBP Menteng. Kami bangga kepada JK, mau datang menyaksikan aksi sosial donor darah yang diadakan HKBP Menteng. Bagi kami, JK adalah tokoh perdamaian yang berjuang meredakan konflik di berbagai tempat termasuk di Poso.

Ketua Panitia Nasional Jubileum 150 Tahun HKBP, Edwin Pamimpin Situmorang, mengatakan, setetes darah dari jemaat adalah sejuta harapan, karena darah sangat berharga bagi sesama. Menyambut 150 tahun HKBP, jemaat terpanggil dan peduli melayani sesama manusia yang membutuhkan darah. Bahkan ribuan gereja HKBP di Indonesia akan menggelar aksi donor darah yang sama. “Diharapkan donor darah seperti ini dapat berkelanjutan, tidak hanya saat menyambut jubileum,” kata Edwin.

Aksi sosial yang sudah dilakukan panitia jubileum, antara lain: pembagian kaki palsu, operasi katarak, operasi bibir sumbing dan pemeriksaan kesehatan.

Aksi donor darah ini diadakan usai kebaktian Minggu pagi dan siang, selesai pukul 12.00.

Kebaktian Minggu dilayani Kepala Departen Koinonia HKBP, Pdt Dr Jamilin Sirait mewakili Ephorus HKBP. Demikian disampaikan Pdt Dr Einar Sitompul, Pendeta Resort HKBP Menteng, kepada Suara HKBP di Jakarta. bas