Kamis, 30 Juni 2011

Bintang PHM Simorangkir: SEMUA KARUNIA TUHAN

Ramah dan selalu tersenyum itulah kesan yang tertangkap ketika pertama kali mengenal Bintang Simorangkir. Tampil sederhana dan akrab adalah ciri pribadi Bintang yang lahir di Tarutung 15 Septemebr 1943.

Ayahnya guru—lulusan Sekolah Sending, Sipoholon, Tarutung. Sering berpindah tugas dan Bintang pun sering berpindah sekolah mengikuti ayahnya. Sempat sekolah sampai kelas dua SR di Tarutung kemudian pindah ke Sibolga dan menamatkan SR di daerah ini. Kemudian ayahnya pindah lagi ke Medan, Bintang juga ikut pindah sehingga SMP dan SMA diselesaikannya di Medan.

Setelah lulus SMA dia memohon kepada ayahnya agar dia bekerja saja, tapi jangan di Medan. Sebab, malu sama teman-temannya yang rata-rata kuliah. Suatu hari Bintang menyampaikan niat itu kepada ayahnya agar memperbolehkannya bekerja.

“Kenapa kamu tidak kuliah saja,” tanya ayahnya.

“Biarlah aku cari kerja saja. Terlalu berat bagi ayah menghidupi keluarga kita dengan penghasilan seorang guru,” jawab Bintang waktu itu.

Akhirnya Bintang pun berangkat ke Jakarta mengadu nasib. Selama mencari kerja dia sering ke Jalan Kimia, Jakarta Pusat. Dulu di daerah ini kantor Departemen Luar Negeri. Hampir setiap hari tempat ini ramai. Banyak orang keluar masuk ke kantor ini. Bintang penasaran dan ingin tau ada apa sebenarnya yang terjadi di tempat ini. Setiap hari tidak pernah sepi manusia yang datang ke kantor ini.

Lalu Bintang bertanya kepada penjual cendol yang jualan di seberang kantor Deplu. “Kenapa tiap hari banyak orang keluar masuk ke tempat ini,” tanya Bintang kepada penjual cendol

“Orang-orang hebat semua itu, orang kaya, anak-anak pejabat, bukan kelas kita itu,” jawab penjual cendol.

“Ada apa rupanya?” tanya Bintang lagi.

“Mereka itu mau kerja ke luar negeri. Mereka lagi mengurus surat-surat supaya bisa berangkat ke luar negeri.”

Mendengar itu, Bintang bertambah semangat. Ia langsung mencari informasi kepada orang yang ada di kantor itu. Setelah persyaratan lengkap dia menyerahkan lamaran. Ketika Bintang berada di kantor Deplu, rupanya ada orang yang memperhatikan penampilannya yang sangat sederhana dan masih pakai celana pendek. Tiba-tiba orang itu menyodorkan sejumlah uang kepada Bintang. “Kamu pulang saja. Ini ongkos kamu. Tidak bakal diterima kamu bekerja di kantor ini. Kami aja belum tentu diterima. Kami ini anak-anak penjabat bahkan ada di antara kami anak menteri,” ujar orang itu seperti menganggap remeh Bintang. Tapi dia tidak menerima uang itu.

Bintang Simorangkir lulus dan diterima. Ketika mau berangkat ke luar negeri mereka ketemu dengan temannya yang sama-sama melamar di pesawat. “Kamu diterima ya. Kamu hebat. Berarti kamu anak orang kaya, anak pejabat ya,” kata temannya itu kepada Bintang. Bintang membalas dengan tersenyum sambil bersyukur atas berkat dan pertolongan Tuhan, anak guru sending diterima bekerja di luar negeri.

Bintang yang masih muda, pertama kali ditempatkan sebagai Diplomat RI (Atase bidang ekonomi) di London, Inggris (1981-1984) Setelah bergabung dengan Departemen Luar Negeri 1976.

Karier Bintang di Deplu terus bersinar. Ia kemudian ditempatkan sebagai Diplomat RI (Sekretaris II Bidang Ekonomi) di Bonn, Jerman.

Dua tahun kemudian,1988-1992, dipercayakan sebagai Diplomat RI (kepala Bidang Ekonomi Sek.1) di Madrid, Spanyol. Pada 1995 ditugaskan menjadi Diplomat RI (Konsuler Bidang Ekonomi) di Bangkok, Thailand.

Dari Bangkok ditugaskan menjadi Diplomat RI (Min. Counsellor Bidang Ekonomi) di Washington DC, Amerika Serikat

Pada 2002-2005, Bintang ditempatkan sebagai Duta Besar RI ketiga di Bratislava, Slowakia. Dari Slowakia dia pensiun sebagai pegawai negara.

Tak heran, pengalaman, karier dan masa kerja banyak dilaluinya di luar negeri. Usia 19 tahun dia sudah di luar negeri. Begitu juga kecintaannya terhadap pendidikan tak pernah padam. Pendidikan bagi Bintang adalah harta yang tidak akan pernah hilang. Kecintaannya terhadap pendidikan turun dari ayahnya seorang guru sending yang sangat disiplin mendidik anak-anaknya. Bagi Bintang ayahnya adalah figur guru yang bersahaja dan cukup dekat kepad anak-anaknya.

Bahkan ketika bertugas di Cekoslowakia dia menyempatkan diri kuliah di Perguruan Tinggi Ekonomi, Praha, dan memperoleh gelar MSc. Bukan itu saja, selain gemar membaca dia sangat tekun belajar dan mempelajari bahasa dan budaya negara di mana dia berada. Buktinya, ia fasih menulis dan berbicara bahasa Inggris. Fasih menulis dan berbicara bahasa Ceko. Fasih menulis dan berbahasa Slowakia. Cukup memahami menulis dan berbicara Spanyol. Tentu fasih menulis dan berbicara bahasa Batak.

Hal yang patut dicontoh dari Bintang, setiap tugas negara yang dipercayakan kepadanya senantiasa dilakoninya dengan hati yang tulus serta sungguh-sungguh agar memperoleh hasil maksimal. Terbukti, selama menjabat Duta besar RI di Slowakia dia melakukan berbagai terebosan untuk meningkatkan hubungan bilateral RI-Slowakia. Beberapa kali menggelar pameran seperti: pameran parawisata sedunia utuk pertama kali Indonesia ikut berpartisipasi. Pameran furniture sedunia, juga untuk pertama kali Indonesia ikur berpartisipasi. Pameran Bonsai sedunia yang diikuti langsung Presiden Slowakia, Gasparovic. Untuk pertama kali menyelenggarakan temu usaha (Business Meeting) RI-Slowakia. Puluhan seminar dan konferensi internasional diikutinya selama bertugas di luar negeri.

Selain memikul tugas negara di tempat yang jauh, Bintang Simorangkir tetap memberikan perhatian dan menyisihkan waktu kepada keluarga dan anak-anaknya. Baginya, pendidikan anak-anak adalah bagian yang harus mendapat perhatian penuh. Kepada anak-anaknya, ia selalu memberikan motivasi, semangat agar mereka tertarik terhadap pendidikan. Dia memberi contoh, ada keluarga yang mampu, tapi gagal mendidik dan menyekolahkan anaknya. Ini sangat menyedihkan bagi orang tua. Ada juga keluarga yang pas-pasan, tapi karena anaknya pintar dan keinginannya cukup tinggi, orang tua pun berupaya keras, ada saja jalan keluarnya.

Pengalaman inilah yang dialami keluarga Bintang. Anak-anaknya semua sarjana. Ini merupakan kebahagian tersendiri bagi Bintang sebagai orang tua. “Sesungguhnya, tidak ada hal yang istimewa dalam hidup saya. Boleh dikatakan, biasa-biasa saja. Harta pun kami tidak punya. Anakhon hi do hamoraon di au. Semua hanya pertolongan dan berkat Tuhan,” ucap Bintang atas keberhasilan anak-anaknya dalam mengenyam pendidikan. Ia menambahkan, banyak pertolongan Tuhan yang terjadi selama anak-anaknya kuliah. Banyak hal yang tidak terduga. Ada saja kemudahan yang terjadi.

Kalau disimak perjalanan Bintang dalam meniti karier, apa yang diperolehnya tidak begitu saja datang, tapi semuanya berkat kerja keras, ketekunan (benget) dan pengharapan (mangkirim) Memang Bintang adalah tipe pekerja keras, tekun dan selalu berharap hasil yang baik. Inilah yang diterapkannya membentengi dirinya dari suatu tanggung jawab yang dipercayakan kepadanya yang mempertaruhkan nama baik negara.

Ada pengalaman yang tetap dikenangnya, tatkala mau mengikuti fit and proper test (uji kelayakan) untuk Dubes di Slowakia. Waktu itu ia sedang sakit (strok) dan harus dipapah sewaktu mengikuti uji kelayakan di Deplu. Tapi akhirnya dia dinyatakan lulus dan langsung berangkat ke Slowakia menjabat Dubes RI. Selama bertugas di Slowakia dia melanjutkan pengobatan di tempat ini dan biaya semua ditanggung negara. Saat dia sakit, saat itu pula dia dipanggil mengikuti uji kelayakan. “Inilah rencana Tuhan yang tidak pernah terduga, akhirnya saya berobat di Slowakia dan biaya ditanggung negara. Kalau dari pribadi sendiri tentulah agak berat,” kata Bintang.

Sisi lain kepolosan dan kedekatan Bintang kepada Tuhan tergambar dari pengalaman masa kanak-kanak. Sejak kecil tidak pernah punya cita-cita. Tidak seperti anak-anak lain yang punya cita-cita. “Apakah ini merupakan kelemahan atau karena kurang percaya diri, saya kurang mengerti juga,” kata Bintang seraya mengatakan, semua perjalanan hidupnya selalu diserahkan kepada Tuhan.

Bintang Simorangkir beristrikan L Sitompul dikarunia empat anak (dua putri dan dua putra) Monica Simorangkir (program doktor) dan dosen di salah satu universitas di Amerika, Dr Deborah Nauli Simorangkir (sudah berkeluarga) lulusan Jerman, saat ini dosen di Universitas Pelita Harapan, David Pardamean Simorangkir SE (lahir di London) dan Patrick Sahala Partogi SSos (lahir di Spanyol, Madrid)

Semasa sekolah, Bintang adalah anak yang rajin, tidak pernah absen di sekolah dan tidak pernah absen ke gereja. Kalaupun ia sakit tetap pergi ke sekolah. Gurunyalah yang meminta dia pulang untuk istrihat kalau dia sakit. “Tidak pernah saya membuat alasan sakit untuk tidak sekolah,” ujar ompung dari satu cucu ini sambil mengenang masa SR dulu kala.

Setelah pensiun dari negara, Bintang dan keluarga tiggal di Kompleks Deplu, Pondok Aren, Tangerang, Banten. Saat ini Bintang Simorangkir dan istrinya L Sitompul aktif dalam punguan lansia HKBP Petukangan. Sesekali menghadiri pesta adat Batak. Mereka mau menikmati masa tua dengan tenang bersama berkat Tuhan yang tidak berkesudahan. baharuddin silaen

Bintang PHM Simorangkir: SEMUA KARUNIA TUHAN

Ramah dan selalu tersenyum itulah kesan yang tertangkap ketika pertama kali mengenal Bintang Simorangkir. Tampil sederhana dan akrab adalah ciri pribadi Bintang yang lahir di Tarutung 15 Septemebr 1943.

Ayahnya guru—lulusan Sekolah Sending, Sipoholon, Tarutung. Sering berpindah tugas dan Bintang pun sering berpindah sekolah mengikuti ayahnya. Sempat sekolah sampai kelas dua SR di Tarutung kemudian pindah ke Sibolga dan menamatkan SR di daerah ini. Kemudian ayahnya pindah lagi ke Medan, Bintang juga ikut pindah sehingga SMP dan SMA diselesaikannya di Medan.

Setelah lulus SMA dia memohon kepada ayahnya agar dia bekerja saja, tapi jangan di Medan. Sebab, malu sama teman-temannya yang rata-rata kuliah. Suatu hari Bintang menyampaikan niat itu kepada ayahnya agar memperbolehkannya bekerja.

“Kenapa kamu tidak kuliah saja,” tanya ayahnya.

“Biarlah aku cari kerja saja. Terlalu berat bagi ayah menghidupi keluarga kita dengan penghasilan seorang guru,” jawab Bintang waktu itu.

Akhirnya Bintang pun berangkat ke Jakarta mengadu nasib. Selama mencari kerja dia sering ke Jalan Kimia, Jakarta Pusat. Dulu di daerah ini kantor Departemen Luar Negeri. Hampir setiap hari tempat ini ramai. Banyak orang keluar masuk ke kantor ini. Bintang penasaran dan ingin tau ada apa sebenarnya yang terjadi di tempat ini. Setiap hari tidak pernah sepi manusia yang datang ke kantor ini.

Lalu Bintang bertanya kepada penjual cendol yang jualan di seberang kantor Deplu. “Kenapa tiap hari banyak orang keluar masuk ke tempat ini,” tanya Bintang kepada penjual cendol

“Orang-orang hebat semua itu, orang kaya, anak-anak pejabat, bukan kelas kita itu,” jawab penjual cendol.

“Ada apa rupanya?” tanya Bintang lagi.

“Mereka itu mau kerja ke luar negeri. Mereka lagi mengurus surat-surat supaya bisa berangkat ke luar negeri.”

Mendengar itu, Bintang bertambah semangat. Ia langsung mencari informasi kepada orang yang ada di kantor itu. Setelah persyaratan lengkap dia menyerahkan lamaran. Ketika Bintang berada di kantor Deplu, rupanya ada orang yang memperhatikan penampilannya yang sangat sederhana dan masih pakai celana pendek. Tiba-tiba orang itu menyodorkan sejumlah uang kepada Bintang. “Kamu pulang saja. Ini ongkos kamu. Tidak bakal diterima kamu bekerja di kantor ini. Kami aja belum tentu diterima. Kami ini anak-anak penjabat bahkan ada di antara kami anak menteri,” ujar orang itu seperti menganggap remeh Bintang. Tapi dia tidak menerima uang itu.

Bintang Simorangkir lulus dan diterima. Ketika mau berangkat ke luar negeri mereka ketemu dengan temannya yang sama-sama melamar di pesawat. “Kamu diterima ya. Kamu hebat. Berarti kamu anak orang kaya, anak pejabat ya,” kata temannya itu kepada Bintang. Bintang membalas dengan tersenyum sambil bersyukur atas berkat dan pertolongan Tuhan, anak guru sending diterima bekerja di luar negeri.

Bintang yang masih muda, pertama kali ditempatkan sebagai Diplomat RI (Atase bidang ekonomi) di London, Inggris (1981-1984) Setelah bergabung dengan Departemen Luar Negeri 1976.

Karier Bintang di Deplu terus bersinar. Ia kemudian ditempatkan sebagai Diplomat RI (Sekretaris II Bidang Ekonomi) di Bonn, Jerman.

Dua tahun kemudian,1988-1992, dipercayakan sebagai Diplomat RI (kepala Bidang Ekonomi Sek.1) di Madrid, Spanyol. Pada 1995 ditugaskan menjadi Diplomat RI (Konsuler Bidang Ekonomi) di Bangkok, Thailand.

Dari Bangkok ditugaskan menjadi Diplomat RI (Min. Counsellor Bidang Ekonomi) di Washington DC, Amerika Serikat

Pada 2002-2005, Bintang ditempatkan sebagai Duta Besar RI ketiga di Bratislava, Slowakia. Dari Slowakia dia pensiun sebagai pegawai negara.

Tak heran, pengalaman, karier dan masa kerja banyak dilaluinya di luar negeri. Usia 19 tahun dia sudah di luar negeri. Begitu juga kecintaannya terhadap pendidikan tak pernah padam. Pendidikan bagi Bintang adalah harta yang tidak akan pernah hilang. Kecintaannya terhadap pendidikan turun dari ayahnya seorang guru sending yang sangat disiplin mendidik anak-anaknya. Bagi Bintang ayahnya adalah figur guru yang bersahaja dan cukup dekat kepad anak-anaknya.

Bahkan ketika bertugas di Cekoslowakia dia menyempatkan diri kuliah di Perguruan Tinggi Ekonomi, Praha, dan memperoleh gelar MSc. Bukan itu saja, selain gemar membaca dia sangat tekun belajar dan mempelajari bahasa dan budaya negara di mana dia berada. Buktinya, ia fasih menulis dan berbicara bahasa Inggris. Fasih menulis dan berbicara bahasa Ceko. Fasih menulis dan berbahasa Slowakia. Cukup memahami menulis dan berbicara Spanyol. Tentu fasih menulis dan berbicara bahasa Batak.

Hal yang patut dicontoh dari Bintang, setiap tugas negara yang dipercayakan kepadanya senantiasa dilakoninya dengan hati yang tulus serta sungguh-sungguh agar memperoleh hasil maksimal. Terbukti, selama menjabat Duta besar RI di Slowakia dia melakukan berbagai terebosan untuk meningkatkan hubungan bilateral RI-Slowakia. Beberapa kali menggelar pameran seperti: pameran parawisata sedunia utuk pertama kali Indonesia ikut berpartisipasi. Pameran furniture sedunia, juga untuk pertama kali Indonesia ikur berpartisipasi. Pameran Bonsai sedunia yang diikuti langsung Presiden Slowakia, Gasparovic. Untuk pertama kali menyelenggarakan temu usaha (Business Meeting) RI-Slowakia. Puluhan seminar dan konferensi internasional diikutinya selama bertugas di luar negeri.

Selain memikul tugas negara di tempat yang jauh, Bintang Simorangkir tetap memberikan perhatian dan menyisihkan waktu kepada keluarga dan anak-anaknya. Baginya, pendidikan anak-anak adalah bagian yang harus mendapat perhatian penuh. Kepada anak-anaknya, ia selalu memberikan motivasi, semangat agar mereka tertarik terhadap pendidikan. Dia memberi contoh, ada keluarga yang mampu, tapi gagal mendidik dan menyekolahkan anaknya. Ini sangat menyedihkan bagi orang tua. Ada juga keluarga yang pas-pasan, tapi karena anaknya pintar dan keinginannya cukup tinggi, orang tua pun berupaya keras, ada saja jalan keluarnya.

Pengalaman inilah yang dialami keluarga Bintang. Anak-anaknya semua sarjana. Ini merupakan kebahagian tersendiri bagi Bintang sebagai orang tua. “Sesungguhnya, tidak ada hal yang istimewa dalam hidup saya. Boleh dikatakan, biasa-biasa saja. Harta pun kami tidak punya. Anakhon hi do hamoraon di au. Semua hanya pertolongan dan berkat Tuhan,” ucap Bintang atas keberhasilan anak-anaknya dalam mengenyam pendidikan. Ia menambahkan, banyak pertolongan Tuhan yang terjadi selama anak-anaknya kuliah. Banyak hal yang tidak terduga. Ada saja kemudahan yang terjadi.

Kalau disimak perjalanan Bintang dalam meniti karier, apa yang diperolehnya tidak begitu saja datang, tapi semuanya berkat kerja keras, ketekunan (benget) dan pengharapan (mangkirim) Memang Bintang adalah tipe pekerja keras, tekun dan selalu berharap hasil yang baik. Inilah yang diterapkannya membentengi dirinya dari suatu tanggung jawab yang dipercayakan kepadanya yang mempertaruhkan nama baik negara.

Ada pengalaman yang tetap dikenangnya, tatkala mau mengikuti fit and proper test (uji kelayakan) untuk Dubes di Slowakia. Waktu itu ia sedang sakit (strok) dan harus dipapah sewaktu mengikuti uji kelayakan di Deplu. Tapi akhirnya dia dinyatakan lulus dan langsung berangkat ke Slowakia menjabat Dubes RI. Selama bertugas di Slowakia dia melanjutkan pengobatan di tempat ini dan biaya semua ditanggung negara. Saat dia sakit, saat itu pula dia dipanggil mengikuti uji kelayakan. “Inilah rencana Tuhan yang tidak pernah terduga, akhirnya saya berobat di Slowakia dan biaya ditanggung negara. Kalau dari pribadi sendiri tentulah agak berat,” kata Bintang.

Sisi lain kepolosan dan kedekatan Bintang kepada Tuhan tergambar dari pengalaman masa kanak-kanak. Sejak kecil tidak pernah punya cita-cita. Tidak seperti anak-anak lain yang punya cita-cita. “Apakah ini merupakan kelemahan atau karena kurang percaya diri, saya kurang mengerti juga,” kata Bintang seraya mengatakan, semua perjalanan hidupnya selalu diserahkan kepada Tuhan.

Bintang Simorangkir beristrikan L Sitompul dikarunia empat anak (dua putri dan dua putra) Monica Simorangkir (program doktor) dan dosen di salah satu universitas di Amerika, Dr Deborah Nauli Simorangkir (sudah berkeluarga) lulusan Jerman, saat ini dosen di Universitas Pelita Harapan, David Pardamean Simorangkir SE (lahir di London) dan Patrick Sahala Partogi SSos (lahir di Spanyol, Madrid)

Semasa sekolah, Bintang adalah anak yang rajin, tidak pernah absen di sekolah dan tidak pernah absen ke gereja. Kalaupun ia sakit tetap pergi ke sekolah. Gurunyalah yang meminta dia pulang untuk istrihat kalau dia sakit. “Tidak pernah saya membuat alasan sakit untuk tidak sekolah,” ujar ompung dari satu cucu ini sambil mengenang masa SR dulu kala.

Setelah pensiun dari negara, Bintang dan keluarga tiggal di Kompleks Deplu, Pondok Aren, Tangerang, Banten. Saat ini Bintang Simorangkir dan istrinya L Sitompul aktif dalam punguan lansia HKBP Petukangan. Sesekali menghadiri pesta adat Batak. Mereka mau menikmati masa tua dengan tenang bersama berkat Tuhan yang tidak berkesudahan. baharuddin silaen

Bintang PHM Simorangkir: SEMUA KARUNIA TUHAN

Ramah dan selalu tersenyum itulah kesan yang tertangkap ketika pertama kali mengenal Bintang Simorangkir. Tampil sederhana dan akrab adalah ciri pribadi Bintang yang lahir di Tarutung 15 Septemebr 1943.

Ayahnya guru—lulusan Sekolah Sending, Sipoholon, Tarutung. Sering berpindah tugas dan Bintang pun sering berpindah sekolah mengikuti ayahnya. Sempat sekolah sampai kelas dua SR di Tarutung kemudian pindah ke Sibolga dan menamatkan SR di daerah ini. Kemudian ayahnya pindah lagi ke Medan, Bintang juga ikut pindah sehingga SMP dan SMA diselesaikannya di Medan.

Setelah lulus SMA dia memohon kepada ayahnya agar dia bekerja saja, tapi jangan di Medan. Sebab, malu sama teman-temannya yang rata-rata kuliah. Suatu hari Bintang menyampaikan niat itu kepada ayahnya agar memperbolehkannya bekerja.

“Kenapa kamu tidak kuliah saja,” tanya ayahnya.

“Biarlah aku cari kerja saja. Terlalu berat bagi ayah menghidupi keluarga kita dengan penghasilan seorang guru,” jawab Bintang waktu itu.

Akhirnya Bintang pun berangkat ke Jakarta mengadu nasib. Selama mencari kerja dia sering ke Jalan Kimia, Jakarta Pusat. Dulu di daerah ini kantor Departemen Luar Negeri. Hampir setiap hari tempat ini ramai. Banyak orang keluar masuk ke kantor ini. Bintang penasaran dan ingin tau ada apa sebenarnya yang terjadi di tempat ini. Setiap hari tidak pernah sepi manusia yang datang ke kantor ini.

Lalu Bintang bertanya kepada penjual cendol yang jualan di seberang kantor Deplu. “Kenapa tiap hari banyak orang keluar masuk ke tempat ini,” tanya Bintang kepada penjual cendol

“Orang-orang hebat semua itu, orang kaya, anak-anak pejabat, bukan kelas kita itu,” jawab penjual cendol.

“Ada apa rupanya?” tanya Bintang lagi.

“Mereka itu mau kerja ke luar negeri. Mereka lagi mengurus surat-surat supaya bisa berangkat ke luar negeri.”

Mendengar itu, Bintang bertambah semangat. Ia langsung mencari informasi kepada orang yang ada di kantor itu. Setelah persyaratan lengkap dia menyerahkan lamaran. Ketika Bintang berada di kantor Deplu, rupanya ada orang yang memperhatikan penampilannya yang sangat sederhana dan masih pakai celana pendek. Tiba-tiba orang itu menyodorkan sejumlah uang kepada Bintang. “Kamu pulang saja. Ini ongkos kamu. Tidak bakal diterima kamu bekerja di kantor ini. Kami aja belum tentu diterima. Kami ini anak-anak penjabat bahkan ada di antara kami anak menteri,” ujar orang itu seperti menganggap remeh Bintang. Tapi dia tidak menerima uang itu.

Bintang Simorangkir lulus dan diterima. Ketika mau berangkat ke luar negeri mereka ketemu dengan temannya yang sama-sama melamar di pesawat. “Kamu diterima ya. Kamu hebat. Berarti kamu anak orang kaya, anak pejabat ya,” kata temannya itu kepada Bintang. Bintang membalas dengan tersenyum sambil bersyukur atas berkat dan pertolongan Tuhan, anak guru sending diterima bekerja di luar negeri.

Bintang yang masih muda, pertama kali ditempatkan sebagai Diplomat RI (Atase bidang ekonomi) di London, Inggris (1981-1984) Setelah bergabung dengan Departemen Luar Negeri 1976.

Karier Bintang di Deplu terus bersinar. Ia kemudian ditempatkan sebagai Diplomat RI (Sekretaris II Bidang Ekonomi) di Bonn, Jerman.

Dua tahun kemudian,1988-1992, dipercayakan sebagai Diplomat RI (kepala Bidang Ekonomi Sek.1) di Madrid, Spanyol. Pada 1995 ditugaskan menjadi Diplomat RI (Konsuler Bidang Ekonomi) di Bangkok, Thailand.

Dari Bangkok ditugaskan menjadi Diplomat RI (Min. Counsellor Bidang Ekonomi) di Washington DC, Amerika Serikat

Pada 2002-2005, Bintang ditempatkan sebagai Duta Besar RI ketiga di Bratislava, Slowakia. Dari Slowakia dia pensiun sebagai pegawai negara.

Tak heran, pengalaman, karier dan masa kerja banyak dilaluinya di luar negeri. Usia 19 tahun dia sudah di luar negeri. Begitu juga kecintaannya terhadap pendidikan tak pernah padam. Pendidikan bagi Bintang adalah harta yang tidak akan pernah hilang. Kecintaannya terhadap pendidikan turun dari ayahnya seorang guru sending yang sangat disiplin mendidik anak-anaknya. Bagi Bintang ayahnya adalah figur guru yang bersahaja dan cukup dekat kepad anak-anaknya.

Bahkan ketika bertugas di Cekoslowakia dia menyempatkan diri kuliah di Perguruan Tinggi Ekonomi, Praha, dan memperoleh gelar MSc. Bukan itu saja, selain gemar membaca dia sangat tekun belajar dan mempelajari bahasa dan budaya negara di mana dia berada. Buktinya, ia fasih menulis dan berbicara bahasa Inggris. Fasih menulis dan berbicara bahasa Ceko. Fasih menulis dan berbahasa Slowakia. Cukup memahami menulis dan berbicara Spanyol. Tentu fasih menulis dan berbicara bahasa Batak.

Hal yang patut dicontoh dari Bintang, setiap tugas negara yang dipercayakan kepadanya senantiasa dilakoninya dengan hati yang tulus serta sungguh-sungguh agar memperoleh hasil maksimal. Terbukti, selama menjabat Duta besar RI di Slowakia dia melakukan berbagai terebosan untuk meningkatkan hubungan bilateral RI-Slowakia. Beberapa kali menggelar pameran seperti: pameran parawisata sedunia utuk pertama kali Indonesia ikut berpartisipasi. Pameran furniture sedunia, juga untuk pertama kali Indonesia ikur berpartisipasi. Pameran Bonsai sedunia yang diikuti langsung Presiden Slowakia, Gasparovic. Untuk pertama kali menyelenggarakan temu usaha (Business Meeting) RI-Slowakia. Puluhan seminar dan konferensi internasional diikutinya selama bertugas di luar negeri.

Selain memikul tugas negara di tempat yang jauh, Bintang Simorangkir tetap memberikan perhatian dan menyisihkan waktu kepada keluarga dan anak-anaknya. Baginya, pendidikan anak-anak adalah bagian yang harus mendapat perhatian penuh. Kepada anak-anaknya, ia selalu memberikan motivasi, semangat agar mereka tertarik terhadap pendidikan. Dia memberi contoh, ada keluarga yang mampu, tapi gagal mendidik dan menyekolahkan anaknya. Ini sangat menyedihkan bagi orang tua. Ada juga keluarga yang pas-pasan, tapi karena anaknya pintar dan keinginannya cukup tinggi, orang tua pun berupaya keras, ada saja jalan keluarnya.

Pengalaman inilah yang dialami keluarga Bintang. Anak-anaknya semua sarjana. Ini merupakan kebahagian tersendiri bagi Bintang sebagai orang tua. “Sesungguhnya, tidak ada hal yang istimewa dalam hidup saya. Boleh dikatakan, biasa-biasa saja. Harta pun kami tidak punya. Anakhon hi do hamoraon di au. Semua hanya pertolongan dan berkat Tuhan,” ucap Bintang atas keberhasilan anak-anaknya dalam mengenyam pendidikan. Ia menambahkan, banyak pertolongan Tuhan yang terjadi selama anak-anaknya kuliah. Banyak hal yang tidak terduga. Ada saja kemudahan yang terjadi.

Kalau disimak perjalanan Bintang dalam meniti karier, apa yang diperolehnya tidak begitu saja datang, tapi semuanya berkat kerja keras, ketekunan (benget) dan pengharapan (mangkirim) Memang Bintang adalah tipe pekerja keras, tekun dan selalu berharap hasil yang baik. Inilah yang diterapkannya membentengi dirinya dari suatu tanggung jawab yang dipercayakan kepadanya yang mempertaruhkan nama baik negara.

Ada pengalaman yang tetap dikenangnya, tatkala mau mengikuti fit and proper test (uji kelayakan) untuk Dubes di Slowakia. Waktu itu ia sedang sakit (strok) dan harus dipapah sewaktu mengikuti uji kelayakan di Deplu. Tapi akhirnya dia dinyatakan lulus dan langsung berangkat ke Slowakia menjabat Dubes RI. Selama bertugas di Slowakia dia melanjutkan pengobatan di tempat ini dan biaya semua ditanggung negara. Saat dia sakit, saat itu pula dia dipanggil mengikuti uji kelayakan. “Inilah rencana Tuhan yang tidak pernah terduga, akhirnya saya berobat di Slowakia dan biaya ditanggung negara. Kalau dari pribadi sendiri tentulah agak berat,” kata Bintang.

Sisi lain kepolosan dan kedekatan Bintang kepada Tuhan tergambar dari pengalaman masa kanak-kanak. Sejak kecil tidak pernah punya cita-cita. Tidak seperti anak-anak lain yang punya cita-cita. “Apakah ini merupakan kelemahan atau karena kurang percaya diri, saya kurang mengerti juga,” kata Bintang seraya mengatakan, semua perjalanan hidupnya selalu diserahkan kepada Tuhan.

Bintang Simorangkir beristrikan L Sitompul dikarunia empat anak (dua putri dan dua putra) Monica Simorangkir (program doktor) dan dosen di salah satu universitas di Amerika, Dr Deborah Nauli Simorangkir (sudah berkeluarga) lulusan Jerman, saat ini dosen di Universitas Pelita Harapan, David Pardamean Simorangkir SE (lahir di London) dan Patrick Sahala Partogi SSos (lahir di Spanyol, Madrid)

Semasa sekolah, Bintang adalah anak yang rajin, tidak pernah absen di sekolah dan tidak pernah absen ke gereja. Kalaupun ia sakit tetap pergi ke sekolah. Gurunyalah yang meminta dia pulang untuk istrihat kalau dia sakit. “Tidak pernah saya membuat alasan sakit untuk tidak sekolah,” ujar ompung dari satu cucu ini sambil mengenang masa SR dulu kala.

Setelah pensiun dari negara, Bintang dan keluarga tiggal di Kompleks Deplu, Pondok Aren, Tangerang, Banten. Saat ini Bintang Simorangkir dan istrinya L Sitompul aktif dalam punguan lansia HKBP Petukangan. Sesekali menghadiri pesta adat Batak. Mereka mau menikmati masa tua dengan tenang bersama berkat Tuhan yang tidak berkesudahan. baharuddin silaen

Bintang PHM Simorangkir: SEMUA KARUNIA TUHAN

Ramah dan selalu tersenyum itulah kesan yang tertangkap ketika pertama kali mengenal Bintang Simorangkir. Tampil sederhana dan akrab adalah ciri pribadi Bintang yang lahir di Tarutung 15 Septemebr 1943.

Ayahnya guru—lulusan Sekolah Sending, Sipoholon, Tarutung. Sering berpindah tugas dan Bintang pun sering berpindah sekolah mengikuti ayahnya. Sempat sekolah sampai kelas dua SR di Tarutung kemudian pindah ke Sibolga dan menamatkan SR di daerah ini. Kemudian ayahnya pindah lagi ke Medan, Bintang juga ikut pindah sehingga SMP dan SMA diselesaikannya di Medan.

Setelah lulus SMA dia memohon kepada ayahnya agar dia bekerja saja, tapi jangan di Medan. Sebab, malu sama teman-temannya yang rata-rata kuliah. Suatu hari Bintang menyampaikan niat itu kepada ayahnya agar memperbolehkannya bekerja.

“Kenapa kamu tidak kuliah saja,” tanya ayahnya.

“Biarlah aku cari kerja saja. Terlalu berat bagi ayah menghidupi keluarga kita dengan penghasilan seorang guru,” jawab Bintang waktu itu.

Akhirnya Bintang pun berangkat ke Jakarta mengadu nasib. Selama mencari kerja dia sering ke Jalan Kimia, Jakarta Pusat. Dulu di daerah ini kantor Departemen Luar Negeri. Hampir setiap hari tempat ini ramai. Banyak orang keluar masuk ke kantor ini. Bintang penasaran dan ingin tau ada apa sebenarnya yang terjadi di tempat ini. Setiap hari tidak pernah sepi manusia yang datang ke kantor ini.

Lalu Bintang bertanya kepada penjual cendol yang jualan di seberang kantor Deplu. “Kenapa tiap hari banyak orang keluar masuk ke tempat ini,” tanya Bintang kepada penjual cendol

“Orang-orang hebat semua itu, orang kaya, anak-anak pejabat, bukan kelas kita itu,” jawab penjual cendol.

“Ada apa rupanya?” tanya Bintang lagi.

“Mereka itu mau kerja ke luar negeri. Mereka lagi mengurus surat-surat supaya bisa berangkat ke luar negeri.”

Mendengar itu, Bintang bertambah semangat. Ia langsung mencari informasi kepada orang yang ada di kantor itu. Setelah persyaratan lengkap dia menyerahkan lamaran. Ketika Bintang berada di kantor Deplu, rupanya ada orang yang memperhatikan penampilannya yang sangat sederhana dan masih pakai celana pendek. Tiba-tiba orang itu menyodorkan sejumlah uang kepada Bintang. “Kamu pulang saja. Ini ongkos kamu. Tidak bakal diterima kamu bekerja di kantor ini. Kami aja belum tentu diterima. Kami ini anak-anak penjabat bahkan ada di antara kami anak menteri,” ujar orang itu seperti menganggap remeh Bintang. Tapi dia tidak menerima uang itu.

Bintang Simorangkir lulus dan diterima. Ketika mau berangkat ke luar negeri mereka ketemu dengan temannya yang sama-sama melamar di pesawat. “Kamu diterima ya. Kamu hebat. Berarti kamu anak orang kaya, anak pejabat ya,” kata temannya itu kepada Bintang. Bintang membalas dengan tersenyum sambil bersyukur atas berkat dan pertolongan Tuhan, anak guru sending diterima bekerja di luar negeri.

Bintang yang masih muda, pertama kali ditempatkan sebagai Diplomat RI (Atase bidang ekonomi) di London, Inggris (1981-1984) Setelah bergabung dengan Departemen Luar Negeri 1976.

Karier Bintang di Deplu terus bersinar. Ia kemudian ditempatkan sebagai Diplomat RI (Sekretaris II Bidang Ekonomi) di Bonn, Jerman.

Dua tahun kemudian,1988-1992, dipercayakan sebagai Diplomat RI (kepala Bidang Ekonomi Sek.1) di Madrid, Spanyol. Pada 1995 ditugaskan menjadi Diplomat RI (Konsuler Bidang Ekonomi) di Bangkok, Thailand.

Dari Bangkok ditugaskan menjadi Diplomat RI (Min. Counsellor Bidang Ekonomi) di Washington DC, Amerika Serikat

Pada 2002-2005, Bintang ditempatkan sebagai Duta Besar RI ketiga di Bratislava, Slowakia. Dari Slowakia dia pensiun sebagai pegawai negara.

Tak heran, pengalaman, karier dan masa kerja banyak dilaluinya di luar negeri. Usia 19 tahun dia sudah di luar negeri. Begitu juga kecintaannya terhadap pendidikan tak pernah padam. Pendidikan bagi Bintang adalah harta yang tidak akan pernah hilang. Kecintaannya terhadap pendidikan turun dari ayahnya seorang guru sending yang sangat disiplin mendidik anak-anaknya. Bagi Bintang ayahnya adalah figur guru yang bersahaja dan cukup dekat kepad anak-anaknya.

Bahkan ketika bertugas di Cekoslowakia dia menyempatkan diri kuliah di Perguruan Tinggi Ekonomi, Praha, dan memperoleh gelar MSc. Bukan itu saja, selain gemar membaca dia sangat tekun belajar dan mempelajari bahasa dan budaya negara di mana dia berada. Buktinya, ia fasih menulis dan berbicara bahasa Inggris. Fasih menulis dan berbicara bahasa Ceko. Fasih menulis dan berbahasa Slowakia. Cukup memahami menulis dan berbicara Spanyol. Tentu fasih menulis dan berbicara bahasa Batak.

Hal yang patut dicontoh dari Bintang, setiap tugas negara yang dipercayakan kepadanya senantiasa dilakoninya dengan hati yang tulus serta sungguh-sungguh agar memperoleh hasil maksimal. Terbukti, selama menjabat Duta besar RI di Slowakia dia melakukan berbagai terebosan untuk meningkatkan hubungan bilateral RI-Slowakia. Beberapa kali menggelar pameran seperti: pameran parawisata sedunia utuk pertama kali Indonesia ikut berpartisipasi. Pameran furniture sedunia, juga untuk pertama kali Indonesia ikur berpartisipasi. Pameran Bonsai sedunia yang diikuti langsung Presiden Slowakia, Gasparovic. Untuk pertama kali menyelenggarakan temu usaha (Business Meeting) RI-Slowakia. Puluhan seminar dan konferensi internasional diikutinya selama bertugas di luar negeri.

Selain memikul tugas negara di tempat yang jauh, Bintang Simorangkir tetap memberikan perhatian dan menyisihkan waktu kepada keluarga dan anak-anaknya. Baginya, pendidikan anak-anak adalah bagian yang harus mendapat perhatian penuh. Kepada anak-anaknya, ia selalu memberikan motivasi, semangat agar mereka tertarik terhadap pendidikan. Dia memberi contoh, ada keluarga yang mampu, tapi gagal mendidik dan menyekolahkan anaknya. Ini sangat menyedihkan bagi orang tua. Ada juga keluarga yang pas-pasan, tapi karena anaknya pintar dan keinginannya cukup tinggi, orang tua pun berupaya keras, ada saja jalan keluarnya.

Pengalaman inilah yang dialami keluarga Bintang. Anak-anaknya semua sarjana. Ini merupakan kebahagian tersendiri bagi Bintang sebagai orang tua. “Sesungguhnya, tidak ada hal yang istimewa dalam hidup saya. Boleh dikatakan, biasa-biasa saja. Harta pun kami tidak punya. Anakhon hi do hamoraon di au. Semua hanya pertolongan dan berkat Tuhan,” ucap Bintang atas keberhasilan anak-anaknya dalam mengenyam pendidikan. Ia menambahkan, banyak pertolongan Tuhan yang terjadi selama anak-anaknya kuliah. Banyak hal yang tidak terduga. Ada saja kemudahan yang terjadi.

Kalau disimak perjalanan Bintang dalam meniti karier, apa yang diperolehnya tidak begitu saja datang, tapi semuanya berkat kerja keras, ketekunan (benget) dan pengharapan (mangkirim) Memang Bintang adalah tipe pekerja keras, tekun dan selalu berharap hasil yang baik. Inilah yang diterapkannya membentengi dirinya dari suatu tanggung jawab yang dipercayakan kepadanya yang mempertaruhkan nama baik negara.

Ada pengalaman yang tetap dikenangnya, tatkala mau mengikuti fit and proper test (uji kelayakan) untuk Dubes di Slowakia. Waktu itu ia sedang sakit (strok) dan harus dipapah sewaktu mengikuti uji kelayakan di Deplu. Tapi akhirnya dia dinyatakan lulus dan langsung berangkat ke Slowakia menjabat Dubes RI. Selama bertugas di Slowakia dia melanjutkan pengobatan di tempat ini dan biaya semua ditanggung negara. Saat dia sakit, saat itu pula dia dipanggil mengikuti uji kelayakan. “Inilah rencana Tuhan yang tidak pernah terduga, akhirnya saya berobat di Slowakia dan biaya ditanggung negara. Kalau dari pribadi sendiri tentulah agak berat,” kata Bintang.

Sisi lain kepolosan dan kedekatan Bintang kepada Tuhan tergambar dari pengalaman masa kanak-kanak. Sejak kecil tidak pernah punya cita-cita. Tidak seperti anak-anak lain yang punya cita-cita. “Apakah ini merupakan kelemahan atau karena kurang percaya diri, saya kurang mengerti juga,” kata Bintang seraya mengatakan, semua perjalanan hidupnya selalu diserahkan kepada Tuhan.

Bintang Simorangkir beristrikan L Sitompul dikarunia empat anak (dua putri dan dua putra) Monica Simorangkir (program doktor) dan dosen di salah satu universitas di Amerika, Dr Deborah Nauli Simorangkir (sudah berkeluarga) lulusan Jerman, saat ini dosen di Universitas Pelita Harapan, David Pardamean Simorangkir SE (lahir di London) dan Patrick Sahala Partogi SSos (lahir di Spanyol, Madrid)

Semasa sekolah, Bintang adalah anak yang rajin, tidak pernah absen di sekolah dan tidak pernah absen ke gereja. Kalaupun ia sakit tetap pergi ke sekolah. Gurunyalah yang meminta dia pulang untuk istrihat kalau dia sakit. “Tidak pernah saya membuat alasan sakit untuk tidak sekolah,” ujar ompung dari satu cucu ini sambil mengenang masa SR dulu kala.

Setelah pensiun dari negara, Bintang dan keluarga tiggal di Kompleks Deplu, Pondok Aren, Tangerang, Banten. Saat ini Bintang Simorangkir dan istrinya L Sitompul aktif dalam punguan lansia HKBP Petukangan. Sesekali menghadiri pesta adat Batak. Mereka mau menikmati masa tua dengan tenang bersama berkat Tuhan yang tidak berkesudahan. baharuddin silaen

TUHAN MURKA MELALUI GEMPA?

Pahae diguncang gempa. Ratusan rumah, sekolah dan rumah ibadah terhempas dan rata dengan tanah. Gempa berkekuatan 5,6 scala Richter ini menyisihkan kepedihan yang mendalam serta kerugian yang cukup besar. Apakah Tuhan murka kepada orang Pahae?

Inilah yang disoroti Pdt Dr Binsar Nainngolan dalam bukunya “Pandangan Teologi tentang Bencana Alam.” Bermula dari kegusaran lantaran munculnya penafsiran yang beragam, maka Binsar Nainggolan tergugah hendak memberikan jawaban dari perspektif teologi tentang bencana alam yang menimpa bumi akhir-akhir ini. Doktor lulusan Universitas Regensburg, Jerman ini, kemudian mencoba menelusuri tragedi alam dengan menggabungkannya dengan pengalaman spiritual Injil.

Bahkan penulis buku ini mengatakan, pemaparan bencana-bencana alam dari sudut pandang teologi menjadi suatu kebutuhan mendesak dewasa ini. Apalagi setiap terjadi bencana selalu ada dualisme dalam benak umat manusia. Di satu pihak ada yang berpikir peristiwa bencana alam seperti tsunami, merupakan murka Allah atas dosa-dosa manusia. Pada pihak lain, muncul pula hasil penelitian para ilmuwan bahwa memang terdapat gejala keretakan permukaan bumi yang masih belum terdeteksi ilmu pengetahuan di beberapa tempat rawan bencana gempa dan tsunami.

Dalam buku ini, Binsar Nainggolan, memandang isu bencana alam dari konteks teologi ciptaan. Ketika membicarakan bencana alam ada tiga pokok penting yang harus diperhatikan, yakni; kehadiran Allah selaku Pencipta alam semesta. (Kejadian 1:1) Alkitab mengakui doktrin tentang keberadaan Allah selaku pencipta. Penciptaan ini dilakukan Allah dari yang tidak ada menjadi ada (creation ex nihilo) Umat Kristen mempercayai bahwa Allah adalah maha kuasa dan kemahakuasaanNya berada di luar kemampuan manusia.

Berbeda dengan ajaran panteisme, yang memandang alam semesta sebagai suatu emanasi atau manifestasi dari allah, seheingga bagi panteisme alam semesta identik dengan allah.

Ajaran panteisme ini tidak dapat diterima dan harus ditolak, sebab penciptaan adalah mutlak tindakan Allah yang dilakukanNya dalam kebebesanNya. Dalam karya penciptaan Allah membuat bingkai alam semesta ini dengan bebas lengkap dengan susunan ciptaan (ordo creationis)

Kemudian, memahami umat manusia selaku ciptaan yang bebas dalam mempergunakan akal budi dan suara hatinya. Artinya, manusia selaku mahkota ciptaan adalah sekaligus mahluk yang mempunyai kelebihan bila dibandingkan dengan makhluk ciptan lainnya. Manusia mempunyai akal budi, inteligensia, kemauan dan suara hati. Diberi kemampuan mengolah dan mengembangkan benda-benda di alam semesta. Bahkan Allah memberikan kebebasan kehendak (free will) untuk menentukan arah prjalanan hidupnya, apakah taat kepada Allah atau tidak?

Sebab itu, tidak ada alasan manusia tidak menghargai alam semesta ini sebagai ciptaan yang baik dan teratur. Proses menghargai dimaksud menjadi tanggung jawab umat manusia; yaitu memelihara ciptaanNya. Ada proses antarkoneksi dalam kehidupan umat manusia dengan alam semesta beserta seluruh komponennya. Hubungan yang saling ketergantungan inilah yang sering dirusak atau sengaja dilupakan ketika tergiur dengan kepentingan bisnis. Ironisnya mereka mengeksploitasi alam serta menguras isi perut bumi tanpa kendali.

Soal kerusakan atau kaitannya dengan bencana, Binsar mengutip pendapat Alister E McGrath, ahli teoolgi merangkap ahli biologi molekur pada Universitas Oxford, mengatakan, “Dosa berakibat dengan bagaimana kita memelihara lingkungan sebagaimana dosa itu berakibat dengan bagaimana kita bersikap terhadap Allah, terhadap sesama manusia dan terhadap masyarakat secara keseluruhan.”

Bencana alam yang melanda negeri ini dewasa ini acap kali dihubungkan dengan kutukan Allah kepada umat manusia. Allah sering dituduh sebagai penyebab dan pembuat gara-gara terjadinya bencana. Tuduhan seperti ini menjadi tema teologis yang disebut dengan istilah teodise. Teodise dari asal kata: theos dan dike, Yunani. Teos; Tuhan dan dike berati hukuman atau keadilan ilahi.

Teodise juga dipahami sebagai keadilan Allah dalam terang penderitaan manusia (the justice of God in the light of human suffering) Gagasan ini hendak mempertahankan nama baik Allah, khususnya dalam keadilanNya, hikmatNya, kebaikanNya serta kasihNya.

Tuduhan Allah sebagai penyebab bencana, sudah muncul pada zaman pencerahan (Aufklarung) pada abad 18 yang mendewakan otonomi otak dan pikiran manusia. Zaman pencerahan di Eropa mempertajam konflik sekitar tema keadilan Allah melalui otonomi otak dan terlepasnya akal budi dari tuntutan otoritas wahyu. (hal.25)

Namun penulis buku ini mengakui, penderitaan merupakan cambuk yang mendidik dari Allah. Ia mengutip contoh: kisah Ayub, air bah, Hosea menghukum bangsa Israel akibat kedurhakaan. Hal yang sama dilakukan Nabi Amos kepada bangsa Yehuda karena mereka menolak hukuman Tuhan serta memuja dewa dan kebohongan ada di antara mereka.

Jadi, benca alam” gempa bumi, gunung meletus, tsunami bukanlah serta merta murka Tuhan terhadap umat manusia. Tapi, semua petaka yang terjadi di dunia ini diketahui olehNya. “Allah turut bekerja dalam segala sesuatu untuk mendatangkan kebaikan bagi mereka yang mengasihi Dia, yaitu mereka yang terpanggil sesuai dengan rencana Allah.” (Roma 8: 28) bas

SEMINAR DAN WARTA GEREJA

Beberapa kali mengikuti seminar, mulai seminar yang bergengsi hingga yang sepi peserta. Tak terkecuali narasumber mempresentasikan materi dengan laptop yang dihubungkan dengan in-focus. Ada yang hanya membagikan materi kepada peserta seminar, tanpa bantuan laptop dan in-focus. Sayang, masih ditemukan penulisan kata yang tidak mengindahkan kaidah penulisan yang baku. Selain itu, tulisan yang disajikan juga tidak lugas dan tidak lancar. Bahkan ada tulisan tanpa spasi. Rata seperti rel kereta api.

Padahal penaji makalah ada bergelar master dan doktor lulusan luar dan dalam negeri. Seharusnya mereka menjadi contoh berbahasa Indonesia yang baik dan benar. Bukan hanya isi materi makalah yang perlu hebat, tapi kaidah berbahasa baku pun sangat penting diperhitungkan. Jangan karena berkapasitas seminar sehingga tak sudi mentaati aturan berbahasa baku. Atau memang tidak tahu?

Bayangkan, ada makalah seminar yang kalimat-kalimatnya panjang-panjang dan penuturannya pun berantakan. Termasuk kata-kata yang tidak baku ikut menghias lembaran makalah. Percaya tidak? Makalah, bukan hanya dinilai dari bobot materi yang diulas, tapi juga bagaimana kualitas kita berbahasa yang baik dan benar?

Pada umumnya, penaji seminar lebih cenderung berhati-hati terhadap penulisan istilah asing yang dikutip. Boleh dikatakan, nyaris tidak ada yang salah mengutip bahkan menuliskannya pun sangat dijamin benar. Kurang tau persis apa penyebabnya, yang jelas kalau dalam tulisan bahasa Indonesia rata-rata ditemukan kesalahan ejaan, huruf besar dan pemenggalan kata. Tampaknya, orang Indonesia sangat malu kalau bahasa Inggrisnya amburadul. Namun, merasa tidak bersalah, kalau bahasa Indonesianya tak keruan. Aneh!

Alangkah indahnya, seandainya karya tulis yang dipublikasikan, baik seminar, buku, pamflet, papan nama dan reklame senantiasa mengindahkan kaidah bahasa baku. Bila itu ditaati, berarti kita sudah mendidik masyarakat umum mempergunakan bahasa Indonesia yang baik dan benar.

Disarankan—apalagi bagi yang sering menulis—hendaknya sesekali melirik buku Pedoman Umum Ejaan Bahasa Indonesia yang Disempurnakan dan Pedoman Umum Pembentukan Istilah. Buku ini selain tipis juga sangat murah harganya. Apa yang dimuat dalam buku ini itulah yang baku dan berlaku di seluruh Indonesia. Selain buku ini, jangan malu membuka Kamus Umum Besar Bahasa Indonesia, untuk memastikan bahwa kata yang ditulis benar adanya.

Sekedar contoh penulisan kata yang salah dalam materi seminar. Misalnya; jaman, ijin, harafiah, orangtua, tanggungjawab, nafas, berfikir, antar bangsa, propinsi.. Penulisan yang baku: zaman, izin, harfiah, orang tua, tanggung jawab, napas, berpikir, antarbangsa dan provinsi.

Begitu juga penulisan partikel di yang salah, juga masih sering ditemukan dalam makalah. Kata di seharusnya dipisah malah digabung. Atau sebaliknya, kata di seharusnya digabung malah dipisah.

Contoh penulisan yang salah: digereja, didesa, dikuburan, dipinggir, dibukit. Penulisan yang benar: di gereja, di desa, di kuburan, di pinggir, di bukit. Partikel di dalam ungkapan ini berfungsi sebagai kata petunjuk tempat. Sebab itu harus dipisah dari kata di depannya.

Contoh lain yang salah: di pecat, di bentak, di marahi, di tampar. Penulisan yang benar adalah: dipecat, dibentak, dimarahi dan ditampar.

Partikel di dalam ungkapan ini bukan sebagai kata petunjuk tapi menjadi kata kerja, maka harus digabung dengan kata yang mengikutinya.

Begitu juga penulisan huruf besar yang salah sering dijumpai dalam tulisan seminar. Contoh; Gereja, Pendeta, Ephorus, Distrik, Resort, Sintua, Diakonia, Koinonia, Marturia, Danau, Pulau.

Penulisan yang benar dan baku: gereja, pendeta, ephorus, distrik, resort, sintua, diakonia, koinonia, marturia, danau dan pulau. Tulislah huruf kecil, apabila tidak diikuti nama khas, instansi, nama orang dan tempat.

Kapan ditulis huruf besar? Apabila diikuti nama khas, instansi, tempat dan nama orang. Contoh; Gereja Kristen Indonesia, Pendeta Burju Sigalingging, Ephorus HKBP, Distrik Jawa Kalimantan, Resort HKBP Cengkareng, Sintua Santun Silitonga, Departemen Diakonia HKBP, Kepala Departemen Koinonia, Pdt Dr Binsar Nainggolan, Kepala Departemen Marturia, Danau Toba, Pulau Samosir.

Selain itu, penulisan gelar kesarjanaan yang salah dan masih sering dijumpai baik dalam karya tulis maupun di papan nama. Gelar dokter (S1) ditulis Dr, gelar doktor (S3) ditulis DR. Inilah penulisan yang benar dan baku: dr untuk dokter (S1) dan Dr untuk doktor (S3)

Penulisan kedua gelar kesarjanaan ini masih simpang-siur—belum tertib. Entah sampai kapan tertib? Lucunya, malah yang bersangkutan yang menulis gelarnya seperti itu dan dianggapnya itulah penulisan yang benar?

Mulai sekarang, kalau bergelar dokter (S1) jangan sungkan menulis di depan nama Anda “dr.” Kalau bergelar doktor (S3) entah lulusan dalam atau luar negeri, tulislah di depan nama Anda “Dr.”

Kesalahan yang serupa sering juga dijumpai dalam warta gereja. Meskipun hanya warta gereja, tapi sangatlah bijak dan terpuji apabila merujuk kepada pedoman bahasa baku dan benar.

Apalagi dewasa ini, hampir semua gereja di kota-kota besar sudah mencetak warta gereja dengan format yang bagus. Warta ini dibagikan kepada warga gereja saat mengikuti kebaktian. Dibaca oleh ratusan hingga ribuan warga gereja. Hendaknyalah tradisi berbahasa yang baik, baku dan benar juga dimulai dari lingkungan kecil seperti warta gereja.

Warta gereja juga punya andil mencerdeskan warga berbahasa yang baku, baik dan benar.

Baharuddin Silaen, mengajar Bahasa Jurnaslistik di Fsipol UKI Jakarta

DENDANG BORU NA ULI

Hari itu Minggu (29/5) “Lembaga Borunauli Nusantara” adakan pengumpulan dana yang diselenggarakan di Radio Republik Indonesia (RRI) Jakarta. Aksi sosial ini bertema “Dendang Kasih Borunauli untuk Eben Eser HKBP Siknasak.”

Pengumpulan dana ini untuk penyelesaian bangunan induk Eben Eser HKBP yang sudah enam tahun terbengkalai. Bangunan induk ini direncanakan menjadi tempat multi pelayanan HKBP seperti retreat dan pembinaan para guru Sekolah Minggu, remaja dan kaum ibu.

Karena itu Lembaga Borunauli Nusantara tergerak untuk membantu biblevrouw HKBP mencari dana agar bangunan ini segera selesai dan cita-cita HKBP memiliki gedung untuk multi pelayanan dapat terwujud.

Emmy Lumbaraja sebagai ketua panitia mengatakan, Lembaga Borunauli terlibat secara sukarela karena seperti kita ketahui bahwa biblevrouw selama ini mempunyai tugas pelayanan pengabaran Injil secara khusus kepada kaum perempuan, remaja dan anak-anak. Mereka berharap agar komplek Eben Eser menjadi tempat kegiatan pelayanan yang bermanfaat khususnya untuk kaum perempuan, remaja dan anak-anak HKBP.

Hadir dalam kegiatan ini, Ketua Departemen Pendidikan HKBP, Devy Simatupang. Dalam sambutanya ia mengatakan, kegiatan seperti ini harus didukung oleh perempuan HKBP dengan mengacu kepada 3D (dana, daya, doa) Apabila memugkinkan menyumbang dana dan kalau tidak ada sebagai gantinya cukup menyumbang daya(tenaga) dan bila tidak juga memungkinkan karena factor jasmani maka dapat menyumbang dengan doa.

Devi menambahkan, selama ini jemaat HKBP (Sumatra Utara) harus mencari dan meminjam tempat yang memadai untuk retreat, seperti gedung milik GBKP. Sebab itu sudah saatnya HKBP juga memiliki gedung yang dapat mendukung retreat atau kegiatan yang berkaitan dengan pembinaan kerohanian.

Acara pengumpulan dana ini dimeriahkan oleh beberapa artis Batak terkemuka seperti Laspados, Roni Sianturi, Putri Silitonga, Tio fanta Pinem, yang dipandu oleh Vanda Hutagalung. Berkumandang juga lagu pujian yang dinyanyikan biblevrouw HKBP.

Saat itu dana yang terkumpul sebesar Rp 369.370.000. Borunauli Nusantara berharap dengan terkumpulnya dana tersebut, bangunan yang selama ini terbengkalai dapat selesai dan dapat menjadi saluran berkat bagi jemaat HKBP dan masyarakat Kristen lainnya. Diperkirakan biaya yang dibutuhkan hingga bangunan ini selesai sekitar Rp700 juta.

Hadir pada kesempoatan itu, Praeses Distrik-21 Jakarta 3, Pdt Dr Lukman Panjaitan, Pdt AM.Tobing, Pdt Antonius Simanjuntak dan juga pimpinan Biblevrouw HKBP Sinaksak, Siti Lamroma Nainggolan


Saat ini kompleks Eben Eser telah berdiri: rumah jompo khusus untuk sebagian bibelvrouw yang sudah pensiun , yang telah berdiri sejak 1965, akan dikembangkan dengan berbagai versi sesuai kebutuhan dan terbuka untuk umum.
Rumah induk sebagai tempat pusat pengelolaan, tempat tinggal seluruh pelayan penuh waktu yang bekerja di Eben Eser dan penginapan bagi para tamu. Kegiatan di tempat ini akan dikelola tenaga-tenaga profesional untuk memikirkan pelayan-pelayan terhadap anak-anak remaja dan kaum perempuan. Mengundang mereka pada waktu libur sekolah untuk belajar Alkitab dengan tema tertentu yang disampaikan dengan berbagai metode. Mempersiapkan buku-buku dan alat-alat peraga dan metode-metode pengajaran.

Pembangunan rumah induk ini sudah mulai dirintis sejak Oktober 2005 dan peletakkan batu pertama dilakukan oleh pimpinan HKBP
Rumah retreat yang dapat dipergunakan untuk perorangan maupun untuk kelompok kecil dan besar. Nantinya di tempat ini akan diadakan berbagai kegiatan seperti retreat. Bibel Camp anak-anak, lokakarya dan pelatihan-pelatihan

Aula yang berfungsi untuk pengadaan pertemuan atau rapat-rapat dengan kapasitas besar, yang dapat menampung 250 orang.

Rumah ibadah, yang direncanakan dapat menampung sampai dengan maksimal 100 orang.

Ruang Doa, yang mempunyai dwi fungsi, yakni sebagai ruang doa dan ruang konseling.

Perkampungan Eben Eser yang berdiri 1965 memiliki luas 3,3 hektar yang sebagian ditami kelapa sawit, rumah jompo, rumah penginapan para tamu, rumah pegawai aula, peternakan dan lahan jagung.

Mimpi kami para perempuan adalah rumah induk Eeben Eser HKBP Sinaksak sebagai tempat retreat yang asri dan sejuk bisa rampung pada perayaan Jubelium 150 Tahun HKBP. Demikian disampaikan Emmy Lumbanraja kepada Suara HKBP di Jakarta. bas