Selasa, 27 Desember 2011

Sinode Distrik Jawa Kalimantan

Tim Doa di Huria Digalakkan

Salah satu dari sekian banyak yang dibicarakan pada Sinode Distrik 8 HKBP Jawa Kalimantan adalah meningkatkan serta menggalakkan tim-tim doa di huria. Dalam percakapan diakui bahwa HKBP pada umumnya belum memaksimalkan tim doa, bahkan masih ada beberapa gereja yang belum punya tim doa. Meskipun sejumlah gereja (HKBP) sudah mempunyai tim doa yang mapan dengan jadwal yang teratur.

Praeses Pdt Mori Sihombing, saat merespon pernyataan itu, ia menguraikan kehebatan kuasa doa bagi umat percaya. Kita mengakui bahwa kuasa doa itu sangat kuat dan nyata. Doa adalah napas orang beriman. Sering kita katakan, berdoa adalah setengah dari pekerjaan. “Mari galakkan tim-tim doa di gereja kita masing-masing, untuk mendukung pelayanan kita,” kata Mori Sihombing.

Sionode yang diselenggarakan di Pontianak ini juga membahas pentingnya diadakan penelitian-penelitian di tingkat resort yang berkaitan dengan penurunan jumlah warga yang beribadah ke HKBP belakangan ini, khususnya di Jabodetabek.

Penurunan itu menurut pemantaun Praeses Mori Sihombing, hampir di semua kategorial, seperti Sekolah Minggu, remaja, naposobulung. Apa yang menjadi penyebab penurunan ini? Kenapa warga HKBP yang datang kebaktian menurun? “Ini perlu diteliti dengan serius sehingga hasilnya dapat dipertanggungjawabkan,” kata Mori.

Dalam pembahasan kelompok disepakti perlu ada tim yang kualifaid untuk penelitian ini, agar hasilnya akurat dan dapat dipercaya. Benarkah jumlah warga yang kebaktian di HKBP menurun? Kalau benar, apa penyebabnya? “Jangan-jangan hal itu sengaja dilontarkan orang-orang yang tidak senang kepada pelayanan pendeta HKBP,” ujar salah satu pendeta senior dalam diskusi.

Selain itu, dalam rapat pleno dan dalam diskusi kelompok, disinggung juga kualitas kotbah pendeta yang mendapat respon yang kurang baik dari warga HKBP. Sebab itu, sinode menyetujui agar diadakan pelatihan yang intensif bagi pendeta dan partohonan yang lain.

Pdt Mori mengatakan, soal dasar berkotbah (hemouletik) baik teologi, dogma, bahasa biblika, pendeta HKBP sangat bagus. Fundasi teologi kita kokoh, tapi, ketika menyampaikan ini dari atas mimbar, kurang menarik bahkan membosankan. Padahal materi kotbahnya, benar-benar dipersiapkan dengan baik. Tapi begitu tiba di atas mimbar, tidak nyambung dan warga jemaat tidak mendengar, malah mereka berbisik-bisik selama kita berkotbah. “Saya pikir, kita para pendeta perlu intropeksi diri. Perlu belajar banyak dan harus membaca banyak buku,” ucap Mori.

Mengingat 2012 adalah “Tahun Penelitian dan Pengembangan HKBP” maka percakapan dalam sidang juga banyak membahas penelitian dan pengembangan. Bahkan untuk membahas soal peneletian dan pengembangan (litbang) sengaja diundang pembicara; St Meiran Panggabean, warga HKBP Pontianak yang juga dosen di Universitas Tanjungpura, Pontianak.

Dalam laporan praeses juga disinggung mengenai Sekolah Minggu. Dalam laporan itu dikatakan; kita selalu menuntut agar anak-anak Sekolah Minggu diajari bahasa Batak, padahal guru-guru Sekolah Minggu pun tidak fasih bahasa Batak. Bahkan banyak anak-anak HKBP, bersekolah Minggu di gereja lain. Lalu bagaimana regenerasi HKBP ke masa depan?

Pada kesempatan yang sama ketiga bidang menyampaikan laporan di hadapan perserta sinode. Kepala Bidang Koinonia, Pdt PH Nainggolan MTh, Kepala Bidang Marturia, Pdt Colan Pakpahan MTh dan Kepala Bidang Diakonia, Pdt Enig Soneta Aritonang MTh. Termasuk keadaan keuangan distrik dilaporkan St M Nababan SE.

Sinode Distrik 8 tahun ini, tuan rumah adalah HKBP Pontianak. Ketua Panitia Pdt W Ben Parhusip, Wakil Ketua L Simanjutak SH, Sekretaris; JH Sitorus SKM, MKes, Bendahara: E Panggabean SE dan didukung seksi-seksi. bas

Pontianak:

Bumi Khatulistiwa yang Rukun

Sebutan lain untuk Pontianak adalah “Bumi Khatulistiwa.” Julukan itu bukanlah mengada-ada, itu adalah berdasarkan fakta. Soalnya, kota ini memang dilalui garis ekuator. Bahkan di Pontianak berdiri tugu lintasan garis ekuator yang banyak dikungjungi wisatawan domestik dan luar negeri. Tugu itu berada di seberang Sungai Kapuas, sekitar 15 kilometer ke sebelah timur Kota Pontianak.

Pada 1938, tugu asli dibangun kembali oleh arsitek Ferdinad Silaban dengan beberapa tambahan. Konstruksi dan bangunan Tugu Khatulistiwa yang aslinya masih dapat disaksikan, yang saat ini disimpan di dalam kubah tugu yang baru.

Bangunan duplikat tugu dan kubah yang baru, diresmikan Gubernur Kalimantan Barat, Parjoko Suryokusumo, 21 Spetmebr 1991.

Pada garis ekuator, sering terjadi fenomena alam, seperti hujan zenithal dan juga pembelokan arah angin dari arah semula akibat rotasi bumi. Pada garis ekuator, yaitu tengah hari setiap tahunnya, tepatnya pada 21-23 Maret dan 23 September benda-benda tegak lainnya yang berada di sekitar Tugu Khatulistiwa tidak ada bayangan sama sekali. Inilah sebagai bukti bahwa Tugu Khatulistiwa terletak tepat pada garis lintang nol derajat.

Pontianak juga populer dengan julukan kota “Seribu Parit.” Maklum kota ini memang banyak paritnya, termasuk di jalan portokol seperti Jalan Gajah Mada, Jalan Ahmad Yani, Jalan Tanjungpura, Jalan Sultan Muhammad dan Jalan Veteran. Wajarlah di mana-mana ditemukan parit, apalagi di daerah ini terdapat Sungai Kapuas, sepanjang 1.369 kilometer yang membentang membelah kota Pontianak.

Ketika penulis berada di Pontianak, awal musim hujan (November-Desember) dan sempat menyaksikan air parit di sepanjang Jalan Gajah Mada naik hingga menggenangi jalan protokol dan pekarangan rumah penduduk. Curah hujan di Kalimantan Barat memang termasuk tinggi. Tak heran, hampir tiap tahun banjir adalah ancaman bagi penduduk Pontianak.

Pengamat tata kota Prof Abdul Hamid MEng, menilai, drainase Kota Pontianak menjadi salah satu di antara masalah yang tak terselesaikan dengan baik sejauh ini. Akibatnya sejumlah kawasan kerap tergenang air, baik pada saat curah hujan tinggi, maupun ketika pasang terjadi. Abdul Hamid juga meneliti, ternyata sudah banyak parit yang hilang dan berubah fungsi. “Dampaknya terhadap pendistribusian air menjadi terganggu dan air tidak lagi mengalir dengan cepat,” kata Abdul Hamid, seperti dikutip “Tribune Pontianak.”

Belum lagi letak Kota Pontianak yang landai, berada pada ketinggian 0,2 hingga satu setengah meter di atas permukaan laut, ini juga turut memperparah keadaan, ketika pasang naik dan musim hujan tiba, misalnya.

Namun, ada hal yang menarik dan pantas dicontoh dari budaya masyarakat Pontianak. Masyakatnya terbuka dan hidup rukun. Penduduk yang berjumlah empat setengah juta ini, mampu hidup rukun berdampingan dengan orang lain yang berbeda suku dan agama. Sekretaris Daerah Provinsi Kalimantan Barat, Kartius, memaparkan hal itu di hadapan peserta Sinode Distrik Jawa Kalimantan, saat memberi sambutan mewakili Gubernur Kalimantan Barat.

Kartius menjelaskan, siapa pun orangnya dan apa pun suku dan agamanya, kalau memamang dia mampu, kami masyarakat Pontianak sangat mendukung. Masyarakat Kalimantan Barat sangat terbuka dan menghargai perbedaan. “Berbagai suku ada di Pontianak, termasuk orang Batak,” ujar Kartius warga gereja Katolik Pontianak ini sambil menambahkan di Pontianak tidak pernah terjadi konflik antarumat beragama.

Penjelasan Kartius memang betul adanya. Suasana rukun beragama itu dapat disaksikan di sepanjang jalan di Pontianak, berbagai rumah ibadah berdiri megah bahkan saling berdekatan. Ini adalah juga salah satu indikasi bahwa di Kalimantan Barat yang berbatasan dengan Malaysia ini memiliki nilai toleransi beragama yang tinggi. Hal ini patut dicontoh daerah lain. “Orang Dayak sangat menjunjung tinggi kehidupan bersama. Terbuka dan tidak hanya mementingkan kelompoknya,” ucap Sekda Kartius yang asli Dayak Pontianak.

Betul yang disampaikan Kartius, buktinya di Kalimantan Barat saja, ada lima HKBP (resort) yaitu di Pontianak, Sanggau Kapuas, Sintang, Singkawang dan Soparnak. Ditambah pagaran HKBP Pontianak; Jeruju, Teluk, Siantan dan Kuala Dua. Pagaran HKBP Sanggau Kapuas: Gunung Meliau dan Balai Karangan. Pagaran HKBP Sintang: Belitang dan Naga Pinoh. Pagaran HKBP Singkawang: Mempawah. Pagaran HKBP Soparnak; Perindu dan Kolompu-Kembayan.

Selain terkenal rukun, juga hasil bumi Pontianak sangat mendukung kehidupan penduduknya. Seperti; padi, ubi kayu, kelapa, lada, tengkawang, cengkeh, sereh wangi, kayu, rotan dan damar. Barang ekspor; kayu log, minyak kelapa, lada dan biji tengkawang. Tak terkecuali jeruk Pontianak yang terkenal manis. Hampir semua sudut kota dijumpai pedagang buah termasuk jeruk di antaranya. Begitu juga dodol lidah buaya dan jus lidah buaya yang gurih rasanya.

Kalimantan Barat terkenal penghasil: emas, intan, minyak bumi, uranium dan kaolin. Hasil penelitian bijih uranium Kalimantan Barat oleh Badan Tenaga Atom Nasional (BATAN) di Jakarta, kadar uranium 0,3 sampai satu persen. Berarti cukup tinggi dan dapat dipakai sebagai cadangan devisa, jika persediaannya cukup banyak. baharuddin silaen

Natal dan Wajah Kita

Langkah Ramses tergopoh-gopoh sambil menjinjing tas berisi sandal, payung dan sepatu. Sejurus ditatapnya langit, cuaca hari itu cerah. Tidak ada awan hitam menggelayut di langit. Satu per satu isi tas dikeluarkan, lalu disusun dengan rapi di atas plastik yang sudah digelar di trotoar jembatan. Sudah bertahun-tahun di jembatan ini ia mengais rezeki. Bagi Ramses jembatan ini adalah lahannya mencari nafkah.

Tidak selamanya nasib Ramses di jembatan itu mulus. Kadang ia harus pulang tanpa membawa uang, karena tidak bisa jualan. Lantaran hujan. Atau lantaran Satpol PP berjaga-jaga di sepanjang jembatan. Memang para pedagang di tempat ini sering menjadi sumber kemacetan. Ramses juga harus sigap dan gesit di kala pihak keamanan dan ketertiban kota mendadak mucul. Ia harus cepat berlari sambil dan mengusung dagangannnya.

Selain Ramses ada juga Rustam, nasib mereka sama—jualan di pinggir jalan. Bedanya, Rustam, jualan CD dan VCD. Sekitar pukul 16.00, ia baru bisa menggelar jualannya di lapak. Soalnya, sepanjang jalan ini dilarang berjualan sebelum pukul 16.00. Sesekali terdengar lagu Natal dari tempat Rustam jualan. Juga lagu pop Batak terdengar dari speaker dengan suara keras.

Di ujung jalan tidak jauh dari jembatan ada Piter, penambal ban. Ia duduk di samping compressor satu-satunya miliknya yang paling berharga. Ia sengaja memilih tempatnya dekat pohon di pinggir jalan agar bisa berteduh dari terik matahari. Terkena razia sudah bagian dari hidupnya. Tapi Piter tak pernah menyerah meskipun sudah berulang kali barang-barangnya diangkut pihak ketertiban kota. Dia sangat sadar, itu adalah resiko penambal ban pinggir jalan. Ia sama dengan yang lain, tetap semangat dan berharap akan masa depan yang lebih baik. Siapa tahu, suatu saat nanti ia kedangatangan tamu dari Senayan—anggota dewan—menambal ban mobilnya Lexus RX 270 yang seharga Rp 2 miliar.

Di dalam terminal ada Rospita, perempuan setengah baya ini berjualan kopi keliling dengan bermodalkan satu termos besar. Langganannya adalah sopir dan kernet di terminal. Pagi-pagi Rospita sudah ada di terminal bersama termos dan beberapa bungkus kopi seduh dan menjelang sore ia baru pulang. Jual kopi keliling sudah beberapa tahun dilakoninya setelah keluar dari tempat kerjanya dari salah satu pabrik.

Mereka yang disebutkan adalah hanya beberapa dari sekian banyak yang mengadu nasib di pinggir jalan. Sebut saja pedagang sayur, ikan, buah, es, koran, bakso, gorengan dan rokok. Mereka adalah riil dan benar-benar ada di antara kita. Saudara dan sahabat dan mungkin sering bersama-sama kita ke gereja? Mereka adalah bagian dari wajah kita juga.

Adakah yang pantas diteladani dari mereka? Semangat dan ketegaran agaknya perlu dicontoh. Tidak tergantung kepada orang lain. Berani dan punya tekad yang kokoh. Tidak cengeng dan merengek-rengek, meminta-mita ke sana kemari. Hidup apa adanya dan menikmati hidup seadanya. Itulah kesan berharga yang dapat ditangkap dari kehidupan mereka. Layak ditiru bahkan perlu diteladani.

Bahkan, rutinitas mereka tidak terganggu dengan berita heboh para koruptor. Di benak mereka hanya satu; bagaimana agar hari ini bisa jualan dengan aman. Pikiran mereka sangat jauh dari cara mengembat duit miliaran rupiah dari jalan yang salah. Apalagi merampok uang negara—bukanlah tipe mereka. Mereka tidak pintar dan tidak pernah tahu bermain kong-kalikong dengan bagian anggaran proyek.

Berita bekas Bendahara Partai Demokrat Muhammad Nazaruddin yang menyilep uang proyek Wisma Atlet senilai Rp 191 miliar tak membuat semangat mereka surut untuk berjualan di pinggir jalan. Berita Gayus Tambunan pun tak mampu mengalihkan perhatian mereka dari kaki lima dan pinggir jalan. Meskipun saban hari disiarkan di televisi dan tiap hari diterbitkan di surat kabar, mereka tak ambil pusing dengan berita itu. Bagi mereka yang penting, bagaimana hari ini mendapat rezeki dari jalan yang benar, dengan kerja keras dan doa.

Jangankan ikut demo ke KPK, menyaksikan Melinda yang menangis terisak-isak di televisi pun tak sempat. Sebab, waktu mereka sangat terbatas—menjajakan jualan di pinggir jalan sambil merayu orang yang lewat untuk sudi membelinya. Mereka, tidak punya waktu membahas dan mendiskusikan kasus koruptor yang menggurita di negeri ini.

Tapi mereka perlu diperhatikan. Dicontoh dan dihargai. Bagaimana mereka berusaha dan berjuang untuk bisa hidup layak. Mereka yang banting tulang dan kerja keras, tidak cengeng dan merengek-rengek, masih banyak ditemukan di negeri ini. Mereka yang bergelut di pinggir jalan, di jalanan, pasar, pabrik, kantor, sekolah, kampus, rumah sakit, sawah, laut dan di pantai, puluhan juta jumlahnya. Mereka adalah bagian dari wajah kita. Mereka adalah anak bangsa yang punya budi pekerti yang luhur. Patutlah kita bangga sebagai anak bangsa, bahwa masih banyak di antara kita yang berpegang teguh terhadap kebenaran, hidup jujur, kerja keras serta melakukan apa yang diajarkan agama yang dianutnya dengan benar.

Mungkin saja, di antara mereka ada yang warga Kristen dan warga HKBP. Ketika Natal tiba, mereka juga turut merayakannya, sama seperti kita. Mungkin, saat di gereja Ramses berdoa dalam hati; “Ampunilah aku Tuhan, kalau hanya pada Natal ini aku datang ke rumahMu.”

Si Rustam, Piter dan Rospita, juga ada di antara barisan orang yang akan menerima Perjamuan Kudus di gereja. Meskipun mencari nafkah di pinggir jalan, tapi mereka sadar—begitu berada di gereja apalagi di hadapan Tuhan, semua umat manusia sama! Sebab, tidak ada orang yang istimewa di hadapan Tuhan. Semua umat manusia yang berada di kolong matahari adalah sama di hadapan Tuhan. Mereka adalah wajah kita juga.

“Jangan takut, sebab sesungguhnya akau memberitakan kepadamu kesukaan besar untuk seluruh bangsa. Hari ini telah lahir bagimu Juruselamat, yaitu Kristus, Tuhan di kota Daud.” Lukas 2: 10-11.

Selamat Natal. baharuddin silaen

Khasiat Kulit Manggis

Khasiat Kulit Manggis

Apabila selama ini Anda membuang kulitbuah manggis, mungkin fakta ini akan mengubah kebiasaan tersebut.

Siapa sangka di balik wajahnya yang kurang cantik, manggis menyimpan banyak khasiat positif bagi kesehatan. Ternyata, khasiat tersebut lebih banyak bisa kita peroleh dari kulitnya.

Kulit buah manggis dipercaya mengandung antioksidan dalam dosis tinggi sehingga ampuh menangkal radikal bebas dan untuk memperlambat penuaan, juga untuk meningkatkan kekebalan tubuh. Tak hanya itu, kulit manggis juga dapat meringankan sekitar 70 macam gangguan kesehatan. Di antaranya; stroke, kanker, diabetes, jantung, hipertensi, nyeri, menurunkan kadar gula darah tinggi, meringankan psoritas (penyakit kulit bersisik) dan sederet masalah kesehatan dan kecantikan kulit lainnya.

Prof Dr HR Sidik, guru besar Fakultas MIPA Universitas Padjadjaran Bandung, pernah melakukan penelitian tentang buah manggis. Hasilnya, secara mengejutkan diketahui bahwa kulit buah manggis terbukti dapat mengobati berbagai macam penyakit, diare dan sariawa mulut. Ingin tahu cara mengolah kulitnya?

Prof Sidik, dalam kajiannya tentang penelitian manggis, menjelaskan aspek farmakologis dari tanaman manggis yang diperoleh dari sejumlah penelitian. Kulit buah manggis diketahui mempunyai daya antimikroba terhadap beberapa jenis bakteri. Kulit buah manggis juga bersifat antijamur berkat hasil isolasi beberapa xanton (salah satu jenis zat warna pada manggis)

Telah dilakukan penelitian pula terhadap aktivitas xanton dalam kulit manggis terhadap pertumbuhan Staphylococcus aureus yang resisten terhadap antibiotic Metisilin. Hasilnya menunjukkan bahwa satu isolate aktif, Alfa mangostin yang merupakan salah satu derivate xanton, menghambat pertumbuhan bakteri tersebut.

Penelitian antiinflamasi dari kulit buah manggis dilakukan dengan menggunakan mangostin dan ekstrak etanol 40 persen mempunyai aktivitas penghambat yang kuat terhadap pelepasan histamine dan sintesis Prostaglandin E2 sebagai mediator inflamasi. Ekstrak methanol kulit buah manggis konon dipercaya juga mempunyai efek meredam radikal bebas yang kuat sehingga cukup berkhasiat mencegah tubuh kita dari risiko terkena penyakit kaker.

Kulit manggis

Tanaman manggis bernama latin Garcinia mangostana ini memiliki batang kayu keras, cabangnya teratur, berkulit coklat dan bergetah. Apa saja kandungan zat yang terdapat dalam manggis sehingga ia begitu berkhasiat mempunyai daya penyembuh dan juga sangat baik untuk kesehatan?

Dari hasil penelitian para ahli, diketahui bahwa buah manggis mengandung gula sakarosa, dekstrosa dan levulosa. Komposisi bagian buah yang dimakan per 100 gram meliputi 79.2 gram air, 0.5 gram protein, 19.8 gram karbohidrat, 0.3 gram serat, 11 mg kalsium, 17 mg fosfor, 0.9 mg besi, 14 IU vitamin A, 66 mg vitamin C, 0.09 mg vitamin B (tiamin) 0.06 mg vitamin B2 (riboflavin) dan 0.1 mg vitamin B5 (niasin) Buah manggis sebaiknya dikonsumsi dalam keadaan segar.

Kulit manggis bisa dimanfaatkan sebagai pewarna alami dan bahan baku obat-obatan. Kulit ini mengandung senyawa xanton yang meliputi mangostin, mangostenol, mangostinon A, mangostinon B, trapezifolixanthone, tovophylin B, alfa mangostin, beta mangostin, garcinon B, mangostanol, flavonoid epicatechin dan gartanin.

Di luar negeri, kulit manggis sudah dimanfaatkan sebagai suplemen diet, antioksidan dan anti kanker. Ekstra kulit manggis bersifat antiproliferasi untuk menghambat pertumbuhan sel kanker. Selain itu, ekstra ini juga bersifat apoptosis, penghancur sel kanker. Xanton mampu merawat beberapa jenis kanker seperti kanker hati, pecernaan dan paru-paru. Xanton dalam kulit manggis juga ampuh mengatasi penyakit tuberculosis (TBC) asma, leukemia, serta sebagai antiflamasi dan antidiare.

Kulit manggis juga mujarab mengatasi jantung koroner, meningkatkan daya tahan tubuh, terutama bagi pengidap HIV-AIDS. Hasil penelitian menunjukkan ekstrak kulit manggis mempunyai aktivitas melawan sel kanker payudara, lever dan leukemia. Juga biasa digunakan sebagai antihistamin, antiinflamasi, menekan system saraf pusat dan penurunan tekanan darah tinggi. Kulit buah manggis juga mengandung antosianin seperti; cyaniding-3-sophoriside dan cyanadin-3-glucoside.

Ekstrak methanol mangostin dari kulit buah manggis dipercaya dapat menghambat sel kaker dan menyebabkan apoptosis pada sel kanker payudara serta menghambat produksi spesies oksigen reaktif sebagai radikal bebas. Berdasarkan penelitian tersebut, , mangostin dari ekstrak methanol kulit buah manggis mempunyai potensi sebagai kemopreventif terhadap kanker.

Studi terhadap aktivitas antikanker pada enam xanton yang diekstraksi dari kulit buah manggis mempunyai secara vitro pada sel pertumbuhan sel kanker dan mengiduksi apoptosis. Efek terkuat dalam menghambat pertumbuhan sel kanker tersebut dilakukan oleh alfamangostin.

Melihat kandungan kimia yang dimiliki manggis, terutama pada bagian kulitnya, potensi untuk dilakukan penelitian lebih lanjut cukup besar, baik dalam bidang farmasi maupun bidang lainnya. Yang penting dengan ditemukannya khasiat kulit manggis diharapkan akan ditemukan obat alami yang lebih efektif mengobati penyakit-penyakit berat yang mematikan seperti kanker.

Mengonsumsi manggis

Yang perlu Anda perhatikan adalah biasakanlah selalu mencuci buah dengan air mengalir sebelum mengonsumsinya, karena bukan tidak mungkin terkadang buah yang kita beli di pasar terkontaminasi oleh racun pestisida. Bukan rahasia lagi kalau sistem budidaya buah dan sayur di Indonesia masih belum sepenuhnya organik, sehingga pemakian pestisida dan obat-obatan kimia masih cukup sering ditemui. Salah satu cara megakalinya adalah dengan mencuci bersih-bersih berulang kali dengan menggunakan air keran yang mengalir agar sisa-sisa residu pestisida yang mungkin melekat pada kulit buah bisa hilang sampai benar-benar bersih, sehingga saat mengupas kulit buah, tangan tidak terkontaminasi oleh sisa residu pestisida.

Teknik ozonisasi untuk membersihkan buah dari sisa residu pestisida sudah mulai umum dilakukan, namun alat ozonisasi masih termasuk relatif mahal harganya. Satu-satunya cara paling efektif dan murah membersihkan buah yang akan kita konsumsi dari residu pestisida adalah dengan mencucinya berulang kali menggunakan air bersih yang mengalir. Kalau perlu merendamnya dalam air dingin selama beberapa menit sebelum kita mulai mengupas dan melahap buahnya.

Mengobati Disentri

Ambil kulit dua buah manggis, cuci dan potong-potong, lalu rebus dengan empat gelas air sampai volumenya tinggal setengahnya. Kemudian, rebusan kulit manggis yang sudah dingin dan disaring bisa ditambah madu untuk menambah rasa manis sekaligus menambah khasiatnya, karena madu cukup berkhasiat mengobati segala macam infeksi maupun peradangan dan juga bersifat antibakteri.

Ramuan ini diminum dua kali sehari dan Anda bisa merasakan khasiat hasil pengobatan terhadap penyakit disentri yang diderita yang terbukti cukup manjur.

Mengobati Diare

Seperti halnya pada pengobatan penyakit disentri, untuk menyembuhkan diare, dapat ditempuh cara yang serupa. Hanya saja, volume airnya lebih sedikit, cukup sebanyak tiga gelas.

Mengobati Sariawan

Untuk mengobati sariawan atau gusi bengkak, langkah yang dilakukan kurang lebih sama dengan prosedur pembuatan ramuan penyembuh diare. Perbedaannya adalah bahwa air rebusan hasil saringan cukup digunakan untuk berkumur-kumur saja. Cukup tiga hingga enam kali dalam sehari, maka niscaya sariawan atau gusi bengkak akan segera sembuh. sumber: healthy life/bas

Senin, 01 Agustus 2011

Pahae Tanah Kanaan yang Subur

Kerusakan yang sangat parah menimpa HKBP Pangaloan karena guncangan gempa pada 14 Juni lalu. Perayaan prajubileum 149 tahun yang sudah direncanakan jauh sebelum gempa terjadi terpaksa diadakan di luar gereja karena kondisi bangunan tidak layak dipergunakan.

Pada perayaan prajubileum hari pertama dilaksanakan pada (2/7) yang dihadiri warga HKBP Pangaloan serta anak rantau dari Medan, Duri, Pekan Baru, Jambi, Palembang dan Jakarta.

Acara kebaktian dipimpin oleh Preses Silindung Pdt Sahat Manogari Silitonga MTh. Khotbah di ambil dari Kolose 2: 6-7.

Dalam khotbah Pdt Silitonga memberi semangat sereta memotivasi warga jemaat agar menjadikan Tuhan sebagai kekuatan abadi. Asa ngolu ni halak Kristen marparbue na denggan, nasa naso marparbue sitabaon doi. Nunga marparbuae hakristenonta i alai naeng togu marurat tu joloan on. Tarida di parbuena di tingki on di naro angka pangaranto ni luat Rura Pangaloan ruas ni huria on. Ttu joloan on laho pauli garejanta on dohot marjubileum parbue ni las ni rohanta ala barita na uli dohot haporseaonta.

Usai kebaktian, dilanjutkan dengan pasahat silua oleh jemaat dan anak-anak rantau. Lelang dan hiburan yang dipandu Guru Saur Maruli Huta Barat (mantan Direktur SMP HKBP Pangaloan sebelum SMK HKBP Pangaloan saat ini) dibantu Guru Huria Gr Alselsius Silaban/br Tanjung, St Alden Sitompul, Anturi dan seluruh parhalado dan Panitia.

Perayaan dihibur artis ibukota anak rantau HKBP Pangaloan yaitu Ya’maro Sitompul yang di kenal dengan artis/musisi otodidak/pencipta lagu dan penulis pemerhati adat budaya Batak. Terkumpul dana Rp 415 juta. Dana ini akan dipergunakan untuk pembangunan HKBP Pangaloan. Dalam waktu dekat akan dibangun dan diperkirakan dapat rampung sebelum jubileum 150 tahun, pada 2012.

Ya’maro Sitompul artis ibu kota anak ni huria HKBP Pangaloan, berhasil megumpulkan dana dengan melelang lagu ciptaannya sendiri sekitar Rp 94 juta. Dana tersebut dibagi dua untuk Panitia Prajubileum HKBP Pangaloan dan ke Dewan Pembangunan Sekolah SMK HKBP Pangaloan yang sudah rusak total.

Para murid SMK HKBP sangat berperan dalam kegiatan prajubileum yang diketuai Kepsek Jesron Sitompul ST (wakil Kepala Sekolah SMK HKBP) serta kerjasama yang baik bersama seluruh guru-guru dan orang tua murid dalam menyukseskan acara tersebut.

Pada kebaktian Minggu (3/7) perayaan dihadiri para undangan dari HKBP se- Luat Pahae dan Rura Silindung-Tarutung serta undangan dari gereja tetangga yang ada di wilayah Pahae. Hadir pada perayaan ini, Ephorus Pdt Dr Bonar Napitupulu dan istri Boru Sitanggang serta Bupati Tapanuli Utara Torang Lumbantobing dan istri, dinas pemerintahan, camat se-Tapanuli Utara, Ketua DPRD Taput yang di wakili para anggota DPRD.

Kebaktian Minggu dipimpin Ephorus HKBP, Pdt Bonar Napitupulu. Landasan kotbah dikutip dari 3 Musa 25:1-10.

Pada saat itu berkumandang lagu “Jubileum” karya Ya’maro Sitompul. Lagu ini jauh hari sudah dikirimkan kepada warga HKBP Pangaloan dan murid SMK HKBP Pangaloan untuk dipelajari.

Bupati Taput, Torang Lumbantobing, dalam sambutannya mengajak para warga serta jemaat untuk bersatu padu membangun bonapasogi dengan semangat kebersamaan dalam holong na mangolu. Membangun bonapasogit adalah tanggung jawab kita sendiri dan bersama untuk maju, bukan karena orang lain. Kita sendirilah yang membuat kita maju. Tanah Pahae sangatlah tergolong subur. Bupati mencontohkan Luat Pahae umumnya Tapanuli Utara sama dengan Tano Kanaan. Kita harus bersyukur kepada Tuhan Yesus. Tanah kita ini di tumbuhi tanaman yang diberkati Tuahn, seperti; kemenyaan, kopi, karet, coklat, padi dan palawija yang sangat gampang pengembanganya tanpa ketergantunagan banyaknya pupuk. Tanah ini milik kita. “Mari kita bangun bersama agar Tuhan tersenyum memberkati kita semua,” kata Torang.

Pada kesempatan itu Torang Lumbantobing menyumbangkan lagu. Juga memimpin lelang ulos. Hasil lelang yang dipimpin bupati sebanyak Rp 100 juta.

Kemudian Ya’maro Sitompul membawakan lagu ciptaannya “Lalo Pahae.” Lagu “Tangiang ni Dainang” juga dinyanyikan Ya,maro. Saat lagu ini dinyanyikan ibu Ya,maro, Ompu Partoto Simorangkir ( 85 tahun) naik ke pentas memeluk anaknya dengan tangis haru sambil memegang uang Rp 100.000 yang disaksikan Ephorus Pdt Bonar Napitupulu dan Bupati Taput Torang.

Bupati Torang Lumbantobing mengepresiasi lagu “Jubileum” dan “Lalo Pahae” disaksikan Ephorus HKBP. Kedua lagu ciptaam Ya’maro Sitompul disumbang Torang Lumbantobing Rp10 juta. Bahkan lagu berjudul “Jubileum” akan diperlombakan di Wilayah I Parolopolopon Jubileum 150 Tahun HKBP. “Memang lagu Jubileum adalah sebagai bentuk ucapan syukur kepada Tuhan atas penyertaanya dan berkat melimpah kepada huria ni Tuhanta,” ucap Ya’maro.

Lagu Lalo Pahae dalam waktu dekat akan diproduksi oleh Djaro Music cantare, yang dipimpin Drs Victor Hasibuan (Ketua Pomparan Raja Hasibuan seluruh dunia) Produser Ya’maro Sitompul sekaligus sebagai led artis. Shoting visual (gambar) telah rampung di Tapanuli Utara dan Pahae sebagai pusat gempa dan Shoting Clos Up di Villa Sigaol, Gunung Salak, Bogor.

Panitia Prajubileum yang dipimpin oleh Ir Pangoloi Sitompul yang tinggal di Palembang, dengan Ketua Pelaksana Pratman Sitompul yang tinggal di Pahae dan seluruh panitia benar-benar bahu-membahu dalam pelaksanaan prajubileum ini. Begitu juga Posma Sitompul/Hutahayan dan Ny Diana Ruhut Sitompul dari Jakarta. Tak ketinggalan komunitas perantau dari Medan, Pekan Baru, Duri, Jambi, Palembang bersama-sama memberi perhatian kepada HKBP Pangaloan yang bulan lalu rusak diguncang gempa.

Berita prajubileum HKBP Pangaloan ini disampaikan Ya,maro Sitompul kepada Suara HKBP di Jakarta. bas




Ephorus HKBP Pdt Bonar Napitupulu dan istri Boru Sitanggangang




Bupati Tapanuli Utara Torang Lumbantobing dan istri




Ya’maro Sitompul/Op Partoto Simorangkir ( 85 tahun )




HKBP Pangaloan setelah gempa




Ya’maro Sitompul Memimpin Koor Lagu JUBILEUM.

CERDIK DAN LICIK

Baharuddin Silaen

“Menghadapi persoalan bangsa hendaknya disikapi dengan cerdik,” kata Presiden Susilo Bambang Yudhoyono di hadapan peserta Muktamar VIII Partai Persatuan Pembangunan (PPP) di Gedung Sasana Budaya Ganesha Bandung. (Kompas 4/7)

Kata “cerdik” menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia; lekas mengerti dan pandai mencari akal, pintar, berakal, panjang akal. Lawan kata cerdik adalah “licik.” Licik artinya; banyak akal yang buruk, pandai menipu, culas, curang.

Sungguh cerdik SBY memilih kata untuk mengurai suatu makna agar artinya terang benderang. Menghadapi persoalan bangsa hendaknya disikapi dengan cerdik; lekas mengerti dan pandai mencari akal, pintar, berakal serta panjang akal.

Pilihan kata itu sungguh tepat dalam kondisi bangsa yang ingin keluar dari budaya licik ke budaya unggul (cerdik) Sebab yang tertangkap mata dalam ruang publik adalah perilaku licik yang dibungkus apik dengan kepura-puraan dan basa-basi. Perilaku licik—banyak akal yang buruk—pandai menipu—culas—curang. Gambaran buruk inilah yang kita saksikan saban hari yang juga dipertontonkan lewat media televisi dan yang ditulis di media massa cetak.

Ini juga adalah wajah kita yang betah tampil berpura-pura sambil menjaga perasaan ketimbang mengungkap fakta apa adanya. Lalu mendadak berubah menjadi pribadi yang tak pecaya diri—rapuh serta acap menduga-duga yang bukan-bukan. Menduga orang lain akan marah, tersinggung—lalu akan mejadi lawan yang habis-habisan membeberkan aib keluarga. Akhirnya ketika menyampaikan sesuatu pun tidak lagi mampu jujur tapi malah berdusta sambil memilih kata yang dianggap pas menutupi fakta.

Bahkan menjadi terbiasa mempelintir fakta. Buktinya, kita sebut aman padahal ricuh. Dikatakan rukun padahal saling menyerang. Kita sebutkan pemerintah bersih tapi koruptor merajalela. Kita katakan bangsa yang ramah padahal gampang marah. Disebutkan demokratis padahal diskriminatif. Disebutkan sejahtera padahal di depan pintu rumah berjejer orang miskin. Dikatakan tidak ada teroris tapi bom sering meledak. Rajin menyebut nama Allah tapi maling. Disebutkan cerdik padahal licik.

Dusta itu pun bukan lagi hanya sebatas pilihan kata, namun sudah merembes ke mana-mana. Dia sudah akarab dalam reklame. Heboh di iklan pemukiman. Ditulis dalam iklan, lokasi perumahan bebas banjir. Padahal, hanya 30 menit hujan turun sudah tergenang banjir. Ditulis dalam iklan, dapat ditempuh hanya 15 menit dari Semanggi padahal lebih dari satu jam. Memperpanjang KTP/SIM tidak dipungut biaya, ternyata ada salam tempel. Tidak dipungut uang pembangunan sekolah, padahal dipungut juga. Licik!

Kebiasaan buruk ini terus tumbuh subur dengan akar yang tertancap kukuh dalam keseharian kita. Tak heran kalau jumlah orang yang suka mencari jalan pintas terus marak. Lebih suka menyogok daripada berlama-lama antri. Manusia semacam ini masuk kategori licik atau cerdik?

Antara licik dan cerdik menjadi remang-remang. Agaknya, orang cerdik tidak bakal populer kalau tidak licik. Manusia cerdik adalah manusia yang berpikir obyektif—jujur dan berbudaya. Tapi di negeri ini, orang jujur disingkirkan, diusir dari tempat tinggalnya. Bukankah seorang ibu wali kelas seorang anak SD di Surabaya yang jujur dan berani menyuarakan kecurangan (licik) nyontek massal saat ujian nasional di sekolah itu malah diserang dan dimusuhi?

Inilah akibat ulah yang salah kaprah yang sudah lama dibiarkan. Sikap kita yang berlebihan memuja dan memperlakukan orang berduit, berkuasa, tampil menawan dengan mobil yang menyilaukan mata. Menyambut dan mempersilahkannya duduk di tempat istimewa. Tapi kurang peduli menghargai dan menghormati orang jujur karena tampil apa adannya. Sebenarnya, inilah wajah budaya kita yang benar-benar masih pada level di permukaan—memandang seseorang dari merek mobilnya—rumahnya—hartanya dan kekuasaannya. Belum mampu melihat seseorang dengan cerdas; obyektif, jujur dan bermartabat.

Begitu juga figur orang jujur, nyaris terlupakan oleh media massa cetak dan media massa elektronik. Maklum, sosok orang jujur kurang menjanjikan dalam banyak hal—tak mampu mendongkrak tiras dan tak sudi orang membacanya. Tapi, berita gossip, selingkuh, percerain selebritis, koruptor ditayangkan berulang-ulang. Rupanya, berita miring ini menjadi komoditas yang menggiurkan bagi media?

Harap diingat, jangan sampai ada kesan seolah-olah orang jujur dilarang berbicara di negeri ini. Hanya manusia licik, curang dan pandai menipu yang “dihargai” dan ditakuti bahkan berkoar-koar. Nazaruddin adalah contoh manusia licik saat ini, mengubar isu dari persembunyiannya dengan memanfaatkan digital dan skype bahkan wancaranya diunggah di Youtube. Benar-benar licik, buktinya tidak ada yang punya nyali menangkap dan membawanya pulang ke Indonesia.

Bahkan Presiden SBY hanya sebatas memohon agar Nazaruddin pulang ke Tanah Air. Luar biasa liciknya Nazaruddin, presiden saja hanya mampu “menasehati” dia supaya pulang. Kenapa tidak mencarinya dan membawanya pulang ke Indonesia?

Tampaknya, kali ini orang cerdas kalah mutlak terhadap orang licik?

Penulis mengajar di Fisipol UKI dan Fikom UMB Jakarta