Selasa, 27 Desember 2011

Khasiat Kulit Manggis

Khasiat Kulit Manggis

Apabila selama ini Anda membuang kulitbuah manggis, mungkin fakta ini akan mengubah kebiasaan tersebut.

Siapa sangka di balik wajahnya yang kurang cantik, manggis menyimpan banyak khasiat positif bagi kesehatan. Ternyata, khasiat tersebut lebih banyak bisa kita peroleh dari kulitnya.

Kulit buah manggis dipercaya mengandung antioksidan dalam dosis tinggi sehingga ampuh menangkal radikal bebas dan untuk memperlambat penuaan, juga untuk meningkatkan kekebalan tubuh. Tak hanya itu, kulit manggis juga dapat meringankan sekitar 70 macam gangguan kesehatan. Di antaranya; stroke, kanker, diabetes, jantung, hipertensi, nyeri, menurunkan kadar gula darah tinggi, meringankan psoritas (penyakit kulit bersisik) dan sederet masalah kesehatan dan kecantikan kulit lainnya.

Prof Dr HR Sidik, guru besar Fakultas MIPA Universitas Padjadjaran Bandung, pernah melakukan penelitian tentang buah manggis. Hasilnya, secara mengejutkan diketahui bahwa kulit buah manggis terbukti dapat mengobati berbagai macam penyakit, diare dan sariawa mulut. Ingin tahu cara mengolah kulitnya?

Prof Sidik, dalam kajiannya tentang penelitian manggis, menjelaskan aspek farmakologis dari tanaman manggis yang diperoleh dari sejumlah penelitian. Kulit buah manggis diketahui mempunyai daya antimikroba terhadap beberapa jenis bakteri. Kulit buah manggis juga bersifat antijamur berkat hasil isolasi beberapa xanton (salah satu jenis zat warna pada manggis)

Telah dilakukan penelitian pula terhadap aktivitas xanton dalam kulit manggis terhadap pertumbuhan Staphylococcus aureus yang resisten terhadap antibiotic Metisilin. Hasilnya menunjukkan bahwa satu isolate aktif, Alfa mangostin yang merupakan salah satu derivate xanton, menghambat pertumbuhan bakteri tersebut.

Penelitian antiinflamasi dari kulit buah manggis dilakukan dengan menggunakan mangostin dan ekstrak etanol 40 persen mempunyai aktivitas penghambat yang kuat terhadap pelepasan histamine dan sintesis Prostaglandin E2 sebagai mediator inflamasi. Ekstrak methanol kulit buah manggis konon dipercaya juga mempunyai efek meredam radikal bebas yang kuat sehingga cukup berkhasiat mencegah tubuh kita dari risiko terkena penyakit kaker.

Kulit manggis

Tanaman manggis bernama latin Garcinia mangostana ini memiliki batang kayu keras, cabangnya teratur, berkulit coklat dan bergetah. Apa saja kandungan zat yang terdapat dalam manggis sehingga ia begitu berkhasiat mempunyai daya penyembuh dan juga sangat baik untuk kesehatan?

Dari hasil penelitian para ahli, diketahui bahwa buah manggis mengandung gula sakarosa, dekstrosa dan levulosa. Komposisi bagian buah yang dimakan per 100 gram meliputi 79.2 gram air, 0.5 gram protein, 19.8 gram karbohidrat, 0.3 gram serat, 11 mg kalsium, 17 mg fosfor, 0.9 mg besi, 14 IU vitamin A, 66 mg vitamin C, 0.09 mg vitamin B (tiamin) 0.06 mg vitamin B2 (riboflavin) dan 0.1 mg vitamin B5 (niasin) Buah manggis sebaiknya dikonsumsi dalam keadaan segar.

Kulit manggis bisa dimanfaatkan sebagai pewarna alami dan bahan baku obat-obatan. Kulit ini mengandung senyawa xanton yang meliputi mangostin, mangostenol, mangostinon A, mangostinon B, trapezifolixanthone, tovophylin B, alfa mangostin, beta mangostin, garcinon B, mangostanol, flavonoid epicatechin dan gartanin.

Di luar negeri, kulit manggis sudah dimanfaatkan sebagai suplemen diet, antioksidan dan anti kanker. Ekstra kulit manggis bersifat antiproliferasi untuk menghambat pertumbuhan sel kanker. Selain itu, ekstra ini juga bersifat apoptosis, penghancur sel kanker. Xanton mampu merawat beberapa jenis kanker seperti kanker hati, pecernaan dan paru-paru. Xanton dalam kulit manggis juga ampuh mengatasi penyakit tuberculosis (TBC) asma, leukemia, serta sebagai antiflamasi dan antidiare.

Kulit manggis juga mujarab mengatasi jantung koroner, meningkatkan daya tahan tubuh, terutama bagi pengidap HIV-AIDS. Hasil penelitian menunjukkan ekstrak kulit manggis mempunyai aktivitas melawan sel kanker payudara, lever dan leukemia. Juga biasa digunakan sebagai antihistamin, antiinflamasi, menekan system saraf pusat dan penurunan tekanan darah tinggi. Kulit buah manggis juga mengandung antosianin seperti; cyaniding-3-sophoriside dan cyanadin-3-glucoside.

Ekstrak methanol mangostin dari kulit buah manggis dipercaya dapat menghambat sel kaker dan menyebabkan apoptosis pada sel kanker payudara serta menghambat produksi spesies oksigen reaktif sebagai radikal bebas. Berdasarkan penelitian tersebut, , mangostin dari ekstrak methanol kulit buah manggis mempunyai potensi sebagai kemopreventif terhadap kanker.

Studi terhadap aktivitas antikanker pada enam xanton yang diekstraksi dari kulit buah manggis mempunyai secara vitro pada sel pertumbuhan sel kanker dan mengiduksi apoptosis. Efek terkuat dalam menghambat pertumbuhan sel kanker tersebut dilakukan oleh alfamangostin.

Melihat kandungan kimia yang dimiliki manggis, terutama pada bagian kulitnya, potensi untuk dilakukan penelitian lebih lanjut cukup besar, baik dalam bidang farmasi maupun bidang lainnya. Yang penting dengan ditemukannya khasiat kulit manggis diharapkan akan ditemukan obat alami yang lebih efektif mengobati penyakit-penyakit berat yang mematikan seperti kanker.

Mengonsumsi manggis

Yang perlu Anda perhatikan adalah biasakanlah selalu mencuci buah dengan air mengalir sebelum mengonsumsinya, karena bukan tidak mungkin terkadang buah yang kita beli di pasar terkontaminasi oleh racun pestisida. Bukan rahasia lagi kalau sistem budidaya buah dan sayur di Indonesia masih belum sepenuhnya organik, sehingga pemakian pestisida dan obat-obatan kimia masih cukup sering ditemui. Salah satu cara megakalinya adalah dengan mencuci bersih-bersih berulang kali dengan menggunakan air keran yang mengalir agar sisa-sisa residu pestisida yang mungkin melekat pada kulit buah bisa hilang sampai benar-benar bersih, sehingga saat mengupas kulit buah, tangan tidak terkontaminasi oleh sisa residu pestisida.

Teknik ozonisasi untuk membersihkan buah dari sisa residu pestisida sudah mulai umum dilakukan, namun alat ozonisasi masih termasuk relatif mahal harganya. Satu-satunya cara paling efektif dan murah membersihkan buah yang akan kita konsumsi dari residu pestisida adalah dengan mencucinya berulang kali menggunakan air bersih yang mengalir. Kalau perlu merendamnya dalam air dingin selama beberapa menit sebelum kita mulai mengupas dan melahap buahnya.

Mengobati Disentri

Ambil kulit dua buah manggis, cuci dan potong-potong, lalu rebus dengan empat gelas air sampai volumenya tinggal setengahnya. Kemudian, rebusan kulit manggis yang sudah dingin dan disaring bisa ditambah madu untuk menambah rasa manis sekaligus menambah khasiatnya, karena madu cukup berkhasiat mengobati segala macam infeksi maupun peradangan dan juga bersifat antibakteri.

Ramuan ini diminum dua kali sehari dan Anda bisa merasakan khasiat hasil pengobatan terhadap penyakit disentri yang diderita yang terbukti cukup manjur.

Mengobati Diare

Seperti halnya pada pengobatan penyakit disentri, untuk menyembuhkan diare, dapat ditempuh cara yang serupa. Hanya saja, volume airnya lebih sedikit, cukup sebanyak tiga gelas.

Mengobati Sariawan

Untuk mengobati sariawan atau gusi bengkak, langkah yang dilakukan kurang lebih sama dengan prosedur pembuatan ramuan penyembuh diare. Perbedaannya adalah bahwa air rebusan hasil saringan cukup digunakan untuk berkumur-kumur saja. Cukup tiga hingga enam kali dalam sehari, maka niscaya sariawan atau gusi bengkak akan segera sembuh. sumber: healthy life/bas

Senin, 01 Agustus 2011

Pahae Tanah Kanaan yang Subur

Kerusakan yang sangat parah menimpa HKBP Pangaloan karena guncangan gempa pada 14 Juni lalu. Perayaan prajubileum 149 tahun yang sudah direncanakan jauh sebelum gempa terjadi terpaksa diadakan di luar gereja karena kondisi bangunan tidak layak dipergunakan.

Pada perayaan prajubileum hari pertama dilaksanakan pada (2/7) yang dihadiri warga HKBP Pangaloan serta anak rantau dari Medan, Duri, Pekan Baru, Jambi, Palembang dan Jakarta.

Acara kebaktian dipimpin oleh Preses Silindung Pdt Sahat Manogari Silitonga MTh. Khotbah di ambil dari Kolose 2: 6-7.

Dalam khotbah Pdt Silitonga memberi semangat sereta memotivasi warga jemaat agar menjadikan Tuhan sebagai kekuatan abadi. Asa ngolu ni halak Kristen marparbue na denggan, nasa naso marparbue sitabaon doi. Nunga marparbuae hakristenonta i alai naeng togu marurat tu joloan on. Tarida di parbuena di tingki on di naro angka pangaranto ni luat Rura Pangaloan ruas ni huria on. Ttu joloan on laho pauli garejanta on dohot marjubileum parbue ni las ni rohanta ala barita na uli dohot haporseaonta. “

Usai kebaktian, dilanjutkan dengan pasahat silua oleh jemaat dan anak-anak rantau. Lelang dan hiburan yang dipandu Guru Saur Maruli Huta Barat (mantan Direktur SMP HKBP Pangaloan sebelum SMK HKBP Pangaloan saat ini) dibantu Guru Huria Gr Alselsius Silaban/br Tanjung, St Alden Sitompul, Anturi dan seluruh parhalado dan Panitia.

Perayaan dihibur artis ibukota anak rantau HKBP Pangaloan yaitu Ya’maro Sitompul yang di kenal dengan artis/musisi otodidak/pencipta lagu dan penulis pemerhati adat budaya Batak. Terkumpul dana Rp 415 juta. Dana ini akan dipergunakan untuk pembangunan HKBP Pangaloan. Dalam waktu dekat akan dibangun dan diperkirakan dapat rampung sebelum jubileum 150 tahun, pada 2012.

Ya’maro Sitompul artis ibu kota anak ni huria HKBP Pangaloan, berhasil megumpulkan dana dengan melelang lagu ciptaannya sendiri sekitar Rp 94 juta. Dana tersebut dibagi dua untuk Panitia Prajubileum HKBP Pangaloan dan ke Dewan Pembangunan Sekolah SMK HKBP Pangaloan yang sudah rusak total.

Para murid SMK HKBP sangat berperan dalam kegiatan prajubileum yang diketuai Kepsek Jesron Sitompul ST (wakil Kepala Sekolah SMK HKBP) serta kerjasama yang baik bersama seluruh guru-guru dan orang tua murid dalam menyukseskan acara tersebut.

Pada kebaktian Minggu (3/7) perayaan dihadiri para undangan dari HKBP se- Luat Pahae dan Rura Silindung-Tarutung serta undangan dari gereja tetangga yang ada di wilayah Pahae. Hadir pada perayaan ini, Ephorus Pdt Dr Bonar Napitupulu dan istri Boru Sitanggang serta Bupati Tapanuli Utara Torang Lumbantobing dan istri, dinas pemerintahan, camat se-Tapanuli Utara, Ketua DPRD Taput yang di wakili para anggota DPRD.

Kebaktian Minggu dipimpin Ephorus HKBP, Pdt Bonar Napitupulu. Landasan kotbah dikutip dari 3 Musa 25:1-10.

Pada saat itu berkumandang lagu “Jubileum” karya Ya’maro Sitompul. Lagu ini jauh hari sudah dikirimkan kepada warga HKBP Pangaloan dan murid SMK HKBP Pangaloan untuk dipelajari.

Bupati Taput, Torang Lumbantobing, dalam sambutannya mengajak para warga serta jemaat untuk bersatu padu membangun bonapasogi dengan semangat kebersamaan dalam holong na mangolu. Membangun bonapasogit adalah tanggung jawab kita sendiri dan bersama untuk maju, bukan karena orang lain. Kita sendirilah yang membuat kita maju. Tanah Pahae sangatlah tergolong subur. Bupati mencontohkan Luat Pahae umumnya Tapanuli Utara sama dengan Tano Kanaan. Kita harus bersyukur kepada Tuhan Yesus. Tanah kita ini di tumbuhi tanaman yang diberkati Tuahn, seperti; kemenyaan, kopi, karet, coklat, padi dan palawija yang sangat gampang pengembanganya tanpa ketergantunagan banyaknya pupuk. Tanah ini milik kita. “Mari kita bangun bersama agar Tuhan tersenyum memberkati kita semua,” kata Torang.

Pada kesempatan itu Torang Lumbantobing menyumbangkan lagu. Juga memimpin lelang ulos. Hasil lelang yang dipimpin bupati sebanyak Rp 100 juta.

Kemudian Ya’maro Sitompul membawakan lagu ciptaannya “Lalo Pahae.” Lagu “Tangiang ni Dainang” juga dinyanyikan Ya,maro. Saat lagu ini dinyanyikan ibu Ya,maro, Ompu Partoto Simorangkir ( 85 tahun) naik ke pentas memeluk anaknya dengan tangis haru sambil memegang uang Rp 100.000 yang disaksikan Ephorus Pdt Bonar Napitupulu dan Bupati Taput Torang.

Bupati Torang Lumbantobing mengepresiasi lagu “Jubileum” dan “Lalo Pahae” disaksikan Ephorus HKBP. Kedua lagu ciptaam Ya’maro Sitompul disumbang Torang Lumbantobing Rp10 juta. Bahkan lagu berjudul “Jubileum” akan diperlombakan di Wilayah I Parolopolopon Jubileum 150 Tahun HKBP. “Memang lagu Jubileum adalah sebagai bentuk ucapan syukur kepada Tuhan atas penyertaanya dan berkat melimpah kepada huria ni Tuhanta,” ucap Ya’maro.

Lagu Lalo Pahae dalam waktu dekat akan diproduksi oleh Djaro Music cantare, yang dipimpin Drs Victor Hasibuan (Ketua Pomparan Raja Hasibuan seluruh dunia) Produser Ya’maro Sitompul sekaligus sebagai led artis. Shoting visual (gambar) telah rampung di Tapanuli Utara dan Pahae sebagai pusat gempa dan Shoting Clos Up di Villa Sigaol, Gunung Salak, Bogor.

Panitia Prajubileum yang dipimpin oleh Ir Pangoloi Sitompul yang tinggal di Palembang, dengan Ketua Pelaksana Pratman Sitompul yang tinggal di Pahae dan seluruh panitia benar-benar bahu-membahu dalam pelaksanaan prajubileum ini. Begitu juga Posma Sitompul/Hutahayan dan Ny Diana Ruhut Sitompul dari Jakarta. Tak ketinggalan komunitas perantau dari Medan, Pekan Baru, Duri, Jambi, Palembang bersama-sama memberi perhatian kepada HKBP Pangaloan yang bulan lalu rusak diguncang gempa.

Berita prajubileum HKBP Pangaloan ini disampaikan Ya,maro Sitompul kepada Suara HKBP di Jakarta. bas




Ephorus HKBP Pdt Bonar Napitupulu dan istri Boru Sitanggangang




Bupati Tapanuli Utara Torang Lumbantobing dan istri




Ya’maro Sitompul/Op Partoto Simorangkir ( 85 tahun )




HKBP Pangaloan setelah gempa




Ya’maro Sitompul Memimpin Koor Lagu JUBILEUM.

CERDIK DAN LICIK

Baharuddin Silaen

“Menghadapi persoalan bangsa hendaknya disikapi dengan cerdik,” kata Presiden Susilo Bambang Yudhoyono di hadapan peserta Muktamar VIII Partai Persatuan Pembangunan (PPP) di Gedung Sasana Budaya Ganesha Bandung. (Kompas 4/7)

Kata “cerdik” menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia; lekas mengerti dan pandai mencari akal, pintar, berakal, panjang akal. Lawan kata cerdik adalah “licik.” Licik artinya; banyak akal yang buruk, pandai menipu, culas, curang.

Sungguh cerdik SBY memilih kata untuk mengurai suatu makna agar artinya terang benderang. Menghadapi persoalan bangsa hendaknya disikapi dengan cerdik; lekas mengerti dan pandai mencari akal, pintar, berakal serta panjang akal.

Pilihan kata itu sungguh tepat dalam kondisi bangsa yang ingin keluar dari budaya licik ke budaya unggul (cerdik) Sebab yang tertangkap mata dalam ruang publik adalah perilaku licik yang dibungkus apik dengan kepura-puraan dan basa-basi. Perilaku licik—banyak akal yang buruk—pandai menipu—culas—curang. Gambaran buruk inilah yang kita saksikan saban hari yang juga dipertontonkan lewat media televisi dan yang ditulis di media massa cetak.

Ini juga adalah wajah kita yang betah tampil berpura-pura sambil menjaga perasaan ketimbang mengungkap fakta apa adanya. Lalu mendadak berubah menjadi pribadi yang tak pecaya diri—rapuh serta acap menduga-duga yang bukan-bukan. Menduga orang lain akan marah, tersinggung—lalu akan mejadi lawan yang habis-habisan membeberkan aib keluarga. Akhirnya ketika menyampaikan sesuatu pun tidak lagi mampu jujur tapi malah berdusta sambil memilih kata yang dianggap pas menutupi fakta.

Bahkan menjadi terbiasa mempelintir fakta. Buktinya, kita sebut aman padahal ricuh. Dikatakan rukun padahal saling menyerang. Kita sebutkan pemerintah bersih tapi koruptor merajalela. Kita katakan bangsa yang ramah padahal gampang marah. Disebutkan demokratis padahal diskriminatif. Disebutkan sejahtera padahal di depan pintu rumah berjejer orang miskin. Dikatakan tidak ada teroris tapi bom sering meledak. Rajin menyebut nama Allah tapi maling. Disebutkan cerdik padahal licik.

Dusta itu pun bukan lagi hanya sebatas pilihan kata, namun sudah merembes ke mana-mana. Dia sudah akarab dalam reklame. Heboh di iklan pemukiman. Ditulis dalam iklan, lokasi perumahan bebas banjir. Padahal, hanya 30 menit hujan turun sudah tergenang banjir. Ditulis dalam iklan, dapat ditempuh hanya 15 menit dari Semanggi padahal lebih dari satu jam. Memperpanjang KTP/SIM tidak dipungut biaya, ternyata ada salam tempel. Tidak dipungut uang pembangunan sekolah, padahal dipungut juga. Licik!

Kebiasaan buruk ini terus tumbuh subur dengan akar yang tertancap kukuh dalam keseharian kita. Tak heran kalau jumlah orang yang suka mencari jalan pintas terus marak. Lebih suka menyogok daripada berlama-lama antri. Manusia semacam ini masuk kategori licik atau cerdik?

Antara licik dan cerdik menjadi remang-remang. Agaknya, orang cerdik tidak bakal populer kalau tidak licik. Manusia cerdik adalah manusia yang berpikir obyektif—jujur dan berbudaya. Tapi di negeri ini, orang jujur disingkirkan, diusir dari tempat tinggalnya. Bukankah seorang ibu wali kelas seorang anak SD di Surabaya yang jujur dan berani menyuarakan kecurangan (licik) nyontek massal saat ujian nasional di sekolah itu malah diserang dan dimusuhi?

Inilah akibat ulah yang salah kaprah yang sudah lama dibiarkan. Sikap kita yang berlebihan memuja dan memperlakukan orang berduit, berkuasa, tampil menawan dengan mobil yang menyilaukan mata. Menyambut dan mempersilahkannya duduk di tempat istimewa. Tapi kurang peduli menghargai dan menghormati orang jujur karena tampil apa adannya. Sebenarnya, inilah wajah budaya kita yang benar-benar masih pada level di permukaan—memandang seseorang dari merek mobilnya—rumahnya—hartanya dan kekuasaannya. Belum mampu melihat seseorang dengan cerdas; obyektif, jujur dan bermartabat.

Begitu juga figur orang jujur, nyaris terlupakan oleh media massa cetak dan media massa elektronik. Maklum, sosok orang jujur kurang menjanjikan dalam banyak hal—tak mampu mendongkrak tiras dan tak sudi orang membacanya. Tapi, berita gossip, selingkuh, percerain selebritis, koruptor ditayangkan berulang-ulang. Rupanya, berita miring ini menjadi komoditas yang menggiurkan bagi media?

Harap diingat, jangan sampai ada kesan seolah-olah orang jujur dilarang berbicara di negeri ini. Hanya manusia licik, curang dan pandai menipu yang “dihargai” dan ditakuti bahkan berkoar-koar. Nazaruddin adalah contoh manusia licik saat ini, mengubar isu dari persembunyiannya dengan memanfaatkan digital dan skype bahkan wancaranya diunggah di Youtube. Benar-benar licik, buktinya tidak ada yang punya nyali menangkap dan membawanya pulang ke Indonesia.

Bahkan Presiden SBY hanya sebatas memohon agar Nazaruddin pulang ke Tanah Air. Luar biasa liciknya Nazaruddin, presiden saja hanya mampu “menasehati” dia supaya pulang. Kenapa tidak mencarinya dan membawanya pulang ke Indonesia?

Tampaknya, kali ini orang cerdas kalah mutlak terhadap orang licik?

Penulis mengajar di Fisipol UKI dan Fikom UMB Jakarta

Prospek Obat Herbal

Prospek obat herbal di Indonesia di masa mendatang akan cerah. Bila bahan-bahan herbal ini telah memenuhi syarat evidence based medicine, maka obat herbal akan menjadi jenis obat yang diminati mayarakat karena harganya tejangkau dan bahannya mudah didapat.

Jika ditelusuri ke belakang, sebenarnya cara-cara penggunaan tumbuh-tumbuhan sebagai obat sudah dikenal sejak zaman dahulu. Dari catatan kuno Papyrus Ebers menyebutkan pada 1550-1320 SM di Mesir telah ada sekitar 700 bahan obat yang berasal dari tumbuhan dimanfaatkan sebagai obat penyembuh penyakit.

Bahkan Hippocrates yang dikenal sebagai Bapak Kedokteran mengungkapkan dalam buku berjudul Corpus Hippocratum bahwa ia senantiasa menggunakan 230 macam tumbuhan dalam praktek pengobatan yang dilakukan.

Di Indonesia sendiri, bukti pemanfaatan tumbuhan sebagai obat dapat dilihat dari relief di Candi Borobudur yang menggambarkan orang sedang meracik obat (jamu) yang berasal dari tumbuhan. Bukti lainnya tercantum dalam berbagai naskah lama seperti Serat Primbon Jampi maupun Serat Racikan Boreng Wulang Dalem.

Sampai sekarang, penggunaan tumbuhan sebagai obat masih terus dilakukan. Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) memperkirakan 80 persen penduduk negara berkembang masih mengandalkan pemiliharaan kesehatan dengan pengobatan tradisional dan 85 persen pengobatan tradisional ini menggunakan tumbuhan sebagai obat.

Kecenderungan penggunaan tumbuhan sebagai obat juga terjadi di Negara maju. Melalui Gelombang Hijau Baru (new green wave) 1970-an mucul tren gaya hidup kembali ke alam yang ditandai dengan kemunculan berbagai toko makanan kesehatan seperti herbal tea.

Farmakolog Prof Amir Syarif dari Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia (UI) kepada Info Obat, menyatakan bahwa keragaman tumbuhan darat dan laut sudah diolah dan dipasarkan, tetapi hampir sebagian besar dokter di Indonesia belum merekomendasikan penggunaan obat tradisional dengan menggunakan bahan baku tumbu-tumbuhan. Yang menarik, ada kecenderungan industri farmasi yang selama ini memproduksi obat kedokteran formal, mulai meminati produk tumbuhan obat.

Kekayaan Hayati

Keanekaragaman hayati yang ada di bumi Nusantara ini memang menjadikan Indonesia berpotensi sebagai produsen obat dari tumbuhan. Tak kurang 1000 jenis tumbuhan yang ada di Indonesia telah dimanfaatkan sebagai obat tradisional.

Harus ada standarnisasi untuk pemanfaatan tumbuhan sebagai obat. Di antaranya, harus tetap memperhatikan faktor-faktor seperti kontaminasi dan kontaminan potensial yang bisa mempengaruhi kualitas tumbuhan. Dari hasil penelitian yang pernah dilakukan di Swedia terbukti bahwa kontamininasi mikroba bisa menyebabkan infeksi pada organ tubuh.

Kontaminasi tumbuhan bisa berasal dari pestisida. Selama ini, penggunaan pestisida sangat longgar sehingga berisiko terhadap tumbuhan yang menjadi bahan baku obat. Kontaminasi juga dapat berasal dari residu paskapanen serta logam beracun yang asalnya dari industri, emisi kendaraan bermotor maupun fungsida merkuri organik.

Dengan standarnisasi ini maka syarat kesehatan, keamanan, keselamatan, lingkungan maupun perkembangan iptek akan selalu diperhatikan bagi pengelolaan tumbuhan menjadi obat. Dengan adanya standarisasi maka tumbuhan obat memiliki prospek untuk dimanfaatkan di kalangan medis.

Potensi tumbuhan obat sebagai alternatif pengobatan di kalangan medis bisa diawali melalui perubahan kurikulum pendidikan kedokteran di mana tumbuhan obat atau obat tradisional dimasukkan sebagai kurikulum inti yang diajarkan. Dengan cara ini maka pengujian secara klinis maupun ilmiah terhadap khasiat tumbuhan obat telah dimulai di perguruan tinggi.

Adanya tumbuhan obat ini akan menjadikan membubungnya harga obat tidak lagi dipersoalkan. Karena harga obat alternatif yang berasal dari tumbuhan dapat terjangkau oleh semua lapisan masyarakat. (info obat/bas)

Kamis, 30 Juni 2011

Bintang PHM Simorangkir: SEMUA KARUNIA TUHAN

Ramah dan selalu tersenyum itulah kesan yang tertangkap ketika pertama kali mengenal Bintang Simorangkir. Tampil sederhana dan akrab adalah ciri pribadi Bintang yang lahir di Tarutung 15 Septemebr 1943.

Ayahnya guru—lulusan Sekolah Sending, Sipoholon, Tarutung. Sering berpindah tugas dan Bintang pun sering berpindah sekolah mengikuti ayahnya. Sempat sekolah sampai kelas dua SR di Tarutung kemudian pindah ke Sibolga dan menamatkan SR di daerah ini. Kemudian ayahnya pindah lagi ke Medan, Bintang juga ikut pindah sehingga SMP dan SMA diselesaikannya di Medan.

Setelah lulus SMA dia memohon kepada ayahnya agar dia bekerja saja, tapi jangan di Medan. Sebab, malu sama teman-temannya yang rata-rata kuliah. Suatu hari Bintang menyampaikan niat itu kepada ayahnya agar memperbolehkannya bekerja.

“Kenapa kamu tidak kuliah saja,” tanya ayahnya.

“Biarlah aku cari kerja saja. Terlalu berat bagi ayah menghidupi keluarga kita dengan penghasilan seorang guru,” jawab Bintang waktu itu.

Akhirnya Bintang pun berangkat ke Jakarta mengadu nasib. Selama mencari kerja dia sering ke Jalan Kimia, Jakarta Pusat. Dulu di daerah ini kantor Departemen Luar Negeri. Hampir setiap hari tempat ini ramai. Banyak orang keluar masuk ke kantor ini. Bintang penasaran dan ingin tau ada apa sebenarnya yang terjadi di tempat ini. Setiap hari tidak pernah sepi manusia yang datang ke kantor ini.

Lalu Bintang bertanya kepada penjual cendol yang jualan di seberang kantor Deplu. “Kenapa tiap hari banyak orang keluar masuk ke tempat ini,” tanya Bintang kepada penjual cendol

“Orang-orang hebat semua itu, orang kaya, anak-anak pejabat, bukan kelas kita itu,” jawab penjual cendol.

“Ada apa rupanya?” tanya Bintang lagi.

“Mereka itu mau kerja ke luar negeri. Mereka lagi mengurus surat-surat supaya bisa berangkat ke luar negeri.”

Mendengar itu, Bintang bertambah semangat. Ia langsung mencari informasi kepada orang yang ada di kantor itu. Setelah persyaratan lengkap dia menyerahkan lamaran. Ketika Bintang berada di kantor Deplu, rupanya ada orang yang memperhatikan penampilannya yang sangat sederhana dan masih pakai celana pendek. Tiba-tiba orang itu menyodorkan sejumlah uang kepada Bintang. “Kamu pulang saja. Ini ongkos kamu. Tidak bakal diterima kamu bekerja di kantor ini. Kami aja belum tentu diterima. Kami ini anak-anak penjabat bahkan ada di antara kami anak menteri,” ujar orang itu seperti menganggap remeh Bintang. Tapi dia tidak menerima uang itu.

Bintang Simorangkir lulus dan diterima. Ketika mau berangkat ke luar negeri mereka ketemu dengan temannya yang sama-sama melamar di pesawat. “Kamu diterima ya. Kamu hebat. Berarti kamu anak orang kaya, anak pejabat ya,” kata temannya itu kepada Bintang. Bintang membalas dengan tersenyum sambil bersyukur atas berkat dan pertolongan Tuhan, anak guru sending diterima bekerja di luar negeri.

Bintang yang masih muda, pertama kali ditempatkan sebagai Diplomat RI (Atase bidang ekonomi) di London, Inggris (1981-1984) Setelah bergabung dengan Departemen Luar Negeri 1976.

Karier Bintang di Deplu terus bersinar. Ia kemudian ditempatkan sebagai Diplomat RI (Sekretaris II Bidang Ekonomi) di Bonn, Jerman.

Dua tahun kemudian,1988-1992, dipercayakan sebagai Diplomat RI (kepala Bidang Ekonomi Sek.1) di Madrid, Spanyol. Pada 1995 ditugaskan menjadi Diplomat RI (Konsuler Bidang Ekonomi) di Bangkok, Thailand.

Dari Bangkok ditugaskan menjadi Diplomat RI (Min. Counsellor Bidang Ekonomi) di Washington DC, Amerika Serikat

Pada 2002-2005, Bintang ditempatkan sebagai Duta Besar RI ketiga di Bratislava, Slowakia. Dari Slowakia dia pensiun sebagai pegawai negara.

Tak heran, pengalaman, karier dan masa kerja banyak dilaluinya di luar negeri. Usia 19 tahun dia sudah di luar negeri. Begitu juga kecintaannya terhadap pendidikan tak pernah padam. Pendidikan bagi Bintang adalah harta yang tidak akan pernah hilang. Kecintaannya terhadap pendidikan turun dari ayahnya seorang guru sending yang sangat disiplin mendidik anak-anaknya. Bagi Bintang ayahnya adalah figur guru yang bersahaja dan cukup dekat kepad anak-anaknya.

Bahkan ketika bertugas di Cekoslowakia dia menyempatkan diri kuliah di Perguruan Tinggi Ekonomi, Praha, dan memperoleh gelar MSc. Bukan itu saja, selain gemar membaca dia sangat tekun belajar dan mempelajari bahasa dan budaya negara di mana dia berada. Buktinya, ia fasih menulis dan berbicara bahasa Inggris. Fasih menulis dan berbicara bahasa Ceko. Fasih menulis dan berbahasa Slowakia. Cukup memahami menulis dan berbicara Spanyol. Tentu fasih menulis dan berbicara bahasa Batak.

Hal yang patut dicontoh dari Bintang, setiap tugas negara yang dipercayakan kepadanya senantiasa dilakoninya dengan hati yang tulus serta sungguh-sungguh agar memperoleh hasil maksimal. Terbukti, selama menjabat Duta besar RI di Slowakia dia melakukan berbagai terebosan untuk meningkatkan hubungan bilateral RI-Slowakia. Beberapa kali menggelar pameran seperti: pameran parawisata sedunia utuk pertama kali Indonesia ikut berpartisipasi. Pameran furniture sedunia, juga untuk pertama kali Indonesia ikur berpartisipasi. Pameran Bonsai sedunia yang diikuti langsung Presiden Slowakia, Gasparovic. Untuk pertama kali menyelenggarakan temu usaha (Business Meeting) RI-Slowakia. Puluhan seminar dan konferensi internasional diikutinya selama bertugas di luar negeri.

Selain memikul tugas negara di tempat yang jauh, Bintang Simorangkir tetap memberikan perhatian dan menyisihkan waktu kepada keluarga dan anak-anaknya. Baginya, pendidikan anak-anak adalah bagian yang harus mendapat perhatian penuh. Kepada anak-anaknya, ia selalu memberikan motivasi, semangat agar mereka tertarik terhadap pendidikan. Dia memberi contoh, ada keluarga yang mampu, tapi gagal mendidik dan menyekolahkan anaknya. Ini sangat menyedihkan bagi orang tua. Ada juga keluarga yang pas-pasan, tapi karena anaknya pintar dan keinginannya cukup tinggi, orang tua pun berupaya keras, ada saja jalan keluarnya.

Pengalaman inilah yang dialami keluarga Bintang. Anak-anaknya semua sarjana. Ini merupakan kebahagian tersendiri bagi Bintang sebagai orang tua. “Sesungguhnya, tidak ada hal yang istimewa dalam hidup saya. Boleh dikatakan, biasa-biasa saja. Harta pun kami tidak punya. Anakhon hi do hamoraon di au. Semua hanya pertolongan dan berkat Tuhan,” ucap Bintang atas keberhasilan anak-anaknya dalam mengenyam pendidikan. Ia menambahkan, banyak pertolongan Tuhan yang terjadi selama anak-anaknya kuliah. Banyak hal yang tidak terduga. Ada saja kemudahan yang terjadi.

Kalau disimak perjalanan Bintang dalam meniti karier, apa yang diperolehnya tidak begitu saja datang, tapi semuanya berkat kerja keras, ketekunan (benget) dan pengharapan (mangkirim) Memang Bintang adalah tipe pekerja keras, tekun dan selalu berharap hasil yang baik. Inilah yang diterapkannya membentengi dirinya dari suatu tanggung jawab yang dipercayakan kepadanya yang mempertaruhkan nama baik negara.

Ada pengalaman yang tetap dikenangnya, tatkala mau mengikuti fit and proper test (uji kelayakan) untuk Dubes di Slowakia. Waktu itu ia sedang sakit (strok) dan harus dipapah sewaktu mengikuti uji kelayakan di Deplu. Tapi akhirnya dia dinyatakan lulus dan langsung berangkat ke Slowakia menjabat Dubes RI. Selama bertugas di Slowakia dia melanjutkan pengobatan di tempat ini dan biaya semua ditanggung negara. Saat dia sakit, saat itu pula dia dipanggil mengikuti uji kelayakan. “Inilah rencana Tuhan yang tidak pernah terduga, akhirnya saya berobat di Slowakia dan biaya ditanggung negara. Kalau dari pribadi sendiri tentulah agak berat,” kata Bintang.

Sisi lain kepolosan dan kedekatan Bintang kepada Tuhan tergambar dari pengalaman masa kanak-kanak. Sejak kecil tidak pernah punya cita-cita. Tidak seperti anak-anak lain yang punya cita-cita. “Apakah ini merupakan kelemahan atau karena kurang percaya diri, saya kurang mengerti juga,” kata Bintang seraya mengatakan, semua perjalanan hidupnya selalu diserahkan kepada Tuhan.

Bintang Simorangkir beristrikan L Sitompul dikarunia empat anak (dua putri dan dua putra) Monica Simorangkir (program doktor) dan dosen di salah satu universitas di Amerika, Dr Deborah Nauli Simorangkir (sudah berkeluarga) lulusan Jerman, saat ini dosen di Universitas Pelita Harapan, David Pardamean Simorangkir SE (lahir di London) dan Patrick Sahala Partogi SSos (lahir di Spanyol, Madrid)

Semasa sekolah, Bintang adalah anak yang rajin, tidak pernah absen di sekolah dan tidak pernah absen ke gereja. Kalaupun ia sakit tetap pergi ke sekolah. Gurunyalah yang meminta dia pulang untuk istrihat kalau dia sakit. “Tidak pernah saya membuat alasan sakit untuk tidak sekolah,” ujar ompung dari satu cucu ini sambil mengenang masa SR dulu kala.

Setelah pensiun dari negara, Bintang dan keluarga tiggal di Kompleks Deplu, Pondok Aren, Tangerang, Banten. Saat ini Bintang Simorangkir dan istrinya L Sitompul aktif dalam punguan lansia HKBP Petukangan. Sesekali menghadiri pesta adat Batak. Mereka mau menikmati masa tua dengan tenang bersama berkat Tuhan yang tidak berkesudahan. baharuddin silaen

Bintang PHM Simorangkir: SEMUA KARUNIA TUHAN

Ramah dan selalu tersenyum itulah kesan yang tertangkap ketika pertama kali mengenal Bintang Simorangkir. Tampil sederhana dan akrab adalah ciri pribadi Bintang yang lahir di Tarutung 15 Septemebr 1943.

Ayahnya guru—lulusan Sekolah Sending, Sipoholon, Tarutung. Sering berpindah tugas dan Bintang pun sering berpindah sekolah mengikuti ayahnya. Sempat sekolah sampai kelas dua SR di Tarutung kemudian pindah ke Sibolga dan menamatkan SR di daerah ini. Kemudian ayahnya pindah lagi ke Medan, Bintang juga ikut pindah sehingga SMP dan SMA diselesaikannya di Medan.

Setelah lulus SMA dia memohon kepada ayahnya agar dia bekerja saja, tapi jangan di Medan. Sebab, malu sama teman-temannya yang rata-rata kuliah. Suatu hari Bintang menyampaikan niat itu kepada ayahnya agar memperbolehkannya bekerja.

“Kenapa kamu tidak kuliah saja,” tanya ayahnya.

“Biarlah aku cari kerja saja. Terlalu berat bagi ayah menghidupi keluarga kita dengan penghasilan seorang guru,” jawab Bintang waktu itu.

Akhirnya Bintang pun berangkat ke Jakarta mengadu nasib. Selama mencari kerja dia sering ke Jalan Kimia, Jakarta Pusat. Dulu di daerah ini kantor Departemen Luar Negeri. Hampir setiap hari tempat ini ramai. Banyak orang keluar masuk ke kantor ini. Bintang penasaran dan ingin tau ada apa sebenarnya yang terjadi di tempat ini. Setiap hari tidak pernah sepi manusia yang datang ke kantor ini.

Lalu Bintang bertanya kepada penjual cendol yang jualan di seberang kantor Deplu. “Kenapa tiap hari banyak orang keluar masuk ke tempat ini,” tanya Bintang kepada penjual cendol

“Orang-orang hebat semua itu, orang kaya, anak-anak pejabat, bukan kelas kita itu,” jawab penjual cendol.

“Ada apa rupanya?” tanya Bintang lagi.

“Mereka itu mau kerja ke luar negeri. Mereka lagi mengurus surat-surat supaya bisa berangkat ke luar negeri.”

Mendengar itu, Bintang bertambah semangat. Ia langsung mencari informasi kepada orang yang ada di kantor itu. Setelah persyaratan lengkap dia menyerahkan lamaran. Ketika Bintang berada di kantor Deplu, rupanya ada orang yang memperhatikan penampilannya yang sangat sederhana dan masih pakai celana pendek. Tiba-tiba orang itu menyodorkan sejumlah uang kepada Bintang. “Kamu pulang saja. Ini ongkos kamu. Tidak bakal diterima kamu bekerja di kantor ini. Kami aja belum tentu diterima. Kami ini anak-anak penjabat bahkan ada di antara kami anak menteri,” ujar orang itu seperti menganggap remeh Bintang. Tapi dia tidak menerima uang itu.

Bintang Simorangkir lulus dan diterima. Ketika mau berangkat ke luar negeri mereka ketemu dengan temannya yang sama-sama melamar di pesawat. “Kamu diterima ya. Kamu hebat. Berarti kamu anak orang kaya, anak pejabat ya,” kata temannya itu kepada Bintang. Bintang membalas dengan tersenyum sambil bersyukur atas berkat dan pertolongan Tuhan, anak guru sending diterima bekerja di luar negeri.

Bintang yang masih muda, pertama kali ditempatkan sebagai Diplomat RI (Atase bidang ekonomi) di London, Inggris (1981-1984) Setelah bergabung dengan Departemen Luar Negeri 1976.

Karier Bintang di Deplu terus bersinar. Ia kemudian ditempatkan sebagai Diplomat RI (Sekretaris II Bidang Ekonomi) di Bonn, Jerman.

Dua tahun kemudian,1988-1992, dipercayakan sebagai Diplomat RI (kepala Bidang Ekonomi Sek.1) di Madrid, Spanyol. Pada 1995 ditugaskan menjadi Diplomat RI (Konsuler Bidang Ekonomi) di Bangkok, Thailand.

Dari Bangkok ditugaskan menjadi Diplomat RI (Min. Counsellor Bidang Ekonomi) di Washington DC, Amerika Serikat

Pada 2002-2005, Bintang ditempatkan sebagai Duta Besar RI ketiga di Bratislava, Slowakia. Dari Slowakia dia pensiun sebagai pegawai negara.

Tak heran, pengalaman, karier dan masa kerja banyak dilaluinya di luar negeri. Usia 19 tahun dia sudah di luar negeri. Begitu juga kecintaannya terhadap pendidikan tak pernah padam. Pendidikan bagi Bintang adalah harta yang tidak akan pernah hilang. Kecintaannya terhadap pendidikan turun dari ayahnya seorang guru sending yang sangat disiplin mendidik anak-anaknya. Bagi Bintang ayahnya adalah figur guru yang bersahaja dan cukup dekat kepad anak-anaknya.

Bahkan ketika bertugas di Cekoslowakia dia menyempatkan diri kuliah di Perguruan Tinggi Ekonomi, Praha, dan memperoleh gelar MSc. Bukan itu saja, selain gemar membaca dia sangat tekun belajar dan mempelajari bahasa dan budaya negara di mana dia berada. Buktinya, ia fasih menulis dan berbicara bahasa Inggris. Fasih menulis dan berbicara bahasa Ceko. Fasih menulis dan berbahasa Slowakia. Cukup memahami menulis dan berbicara Spanyol. Tentu fasih menulis dan berbicara bahasa Batak.

Hal yang patut dicontoh dari Bintang, setiap tugas negara yang dipercayakan kepadanya senantiasa dilakoninya dengan hati yang tulus serta sungguh-sungguh agar memperoleh hasil maksimal. Terbukti, selama menjabat Duta besar RI di Slowakia dia melakukan berbagai terebosan untuk meningkatkan hubungan bilateral RI-Slowakia. Beberapa kali menggelar pameran seperti: pameran parawisata sedunia utuk pertama kali Indonesia ikut berpartisipasi. Pameran furniture sedunia, juga untuk pertama kali Indonesia ikur berpartisipasi. Pameran Bonsai sedunia yang diikuti langsung Presiden Slowakia, Gasparovic. Untuk pertama kali menyelenggarakan temu usaha (Business Meeting) RI-Slowakia. Puluhan seminar dan konferensi internasional diikutinya selama bertugas di luar negeri.

Selain memikul tugas negara di tempat yang jauh, Bintang Simorangkir tetap memberikan perhatian dan menyisihkan waktu kepada keluarga dan anak-anaknya. Baginya, pendidikan anak-anak adalah bagian yang harus mendapat perhatian penuh. Kepada anak-anaknya, ia selalu memberikan motivasi, semangat agar mereka tertarik terhadap pendidikan. Dia memberi contoh, ada keluarga yang mampu, tapi gagal mendidik dan menyekolahkan anaknya. Ini sangat menyedihkan bagi orang tua. Ada juga keluarga yang pas-pasan, tapi karena anaknya pintar dan keinginannya cukup tinggi, orang tua pun berupaya keras, ada saja jalan keluarnya.

Pengalaman inilah yang dialami keluarga Bintang. Anak-anaknya semua sarjana. Ini merupakan kebahagian tersendiri bagi Bintang sebagai orang tua. “Sesungguhnya, tidak ada hal yang istimewa dalam hidup saya. Boleh dikatakan, biasa-biasa saja. Harta pun kami tidak punya. Anakhon hi do hamoraon di au. Semua hanya pertolongan dan berkat Tuhan,” ucap Bintang atas keberhasilan anak-anaknya dalam mengenyam pendidikan. Ia menambahkan, banyak pertolongan Tuhan yang terjadi selama anak-anaknya kuliah. Banyak hal yang tidak terduga. Ada saja kemudahan yang terjadi.

Kalau disimak perjalanan Bintang dalam meniti karier, apa yang diperolehnya tidak begitu saja datang, tapi semuanya berkat kerja keras, ketekunan (benget) dan pengharapan (mangkirim) Memang Bintang adalah tipe pekerja keras, tekun dan selalu berharap hasil yang baik. Inilah yang diterapkannya membentengi dirinya dari suatu tanggung jawab yang dipercayakan kepadanya yang mempertaruhkan nama baik negara.

Ada pengalaman yang tetap dikenangnya, tatkala mau mengikuti fit and proper test (uji kelayakan) untuk Dubes di Slowakia. Waktu itu ia sedang sakit (strok) dan harus dipapah sewaktu mengikuti uji kelayakan di Deplu. Tapi akhirnya dia dinyatakan lulus dan langsung berangkat ke Slowakia menjabat Dubes RI. Selama bertugas di Slowakia dia melanjutkan pengobatan di tempat ini dan biaya semua ditanggung negara. Saat dia sakit, saat itu pula dia dipanggil mengikuti uji kelayakan. “Inilah rencana Tuhan yang tidak pernah terduga, akhirnya saya berobat di Slowakia dan biaya ditanggung negara. Kalau dari pribadi sendiri tentulah agak berat,” kata Bintang.

Sisi lain kepolosan dan kedekatan Bintang kepada Tuhan tergambar dari pengalaman masa kanak-kanak. Sejak kecil tidak pernah punya cita-cita. Tidak seperti anak-anak lain yang punya cita-cita. “Apakah ini merupakan kelemahan atau karena kurang percaya diri, saya kurang mengerti juga,” kata Bintang seraya mengatakan, semua perjalanan hidupnya selalu diserahkan kepada Tuhan.

Bintang Simorangkir beristrikan L Sitompul dikarunia empat anak (dua putri dan dua putra) Monica Simorangkir (program doktor) dan dosen di salah satu universitas di Amerika, Dr Deborah Nauli Simorangkir (sudah berkeluarga) lulusan Jerman, saat ini dosen di Universitas Pelita Harapan, David Pardamean Simorangkir SE (lahir di London) dan Patrick Sahala Partogi SSos (lahir di Spanyol, Madrid)

Semasa sekolah, Bintang adalah anak yang rajin, tidak pernah absen di sekolah dan tidak pernah absen ke gereja. Kalaupun ia sakit tetap pergi ke sekolah. Gurunyalah yang meminta dia pulang untuk istrihat kalau dia sakit. “Tidak pernah saya membuat alasan sakit untuk tidak sekolah,” ujar ompung dari satu cucu ini sambil mengenang masa SR dulu kala.

Setelah pensiun dari negara, Bintang dan keluarga tiggal di Kompleks Deplu, Pondok Aren, Tangerang, Banten. Saat ini Bintang Simorangkir dan istrinya L Sitompul aktif dalam punguan lansia HKBP Petukangan. Sesekali menghadiri pesta adat Batak. Mereka mau menikmati masa tua dengan tenang bersama berkat Tuhan yang tidak berkesudahan. baharuddin silaen