Selasa, 27 Desember 2011

Memperingati 400 Tahun Alkitab King James

Diminati Banyak Orang

Berbagai acara diselenggarakan di Inggris pada 2011 lalu, untuk merayakan peringatan 400 tahun Alkitab King James, yang juga dikenal sebagai Authorized Version. Acara itu juga dapat disaksikan dalam program dokumenter di TV dan radio, konferensi, ceramah dan seminar.

Pangeran Charles mengetuai acara untuk merayakan “harta nasional” yang menyandang nama Raja James I dari Inggris ini. Namun, bagaimana King James Version (KJV) yang terbit pada Mei 1611, mendapat tempat yang istimewa di hati orang-orang yang berbahasa Inggris?

Pada pertengahan abad ke-16, kerinduan akan pengetahuan tentang ajaran Alkitab mulai melanda Eropa. Hampir dua abad sebelumnya, sekitar 1380, John Wycliffe telah membangkitkan selera para penutur bahasa Inggris dengan terjemahan Alkitab dari bahasa Latin. Selama dua abad berikutnya, para pengikutnya yaitu kaum Lollard, menyebarluaskan naskah Alkitab tulisan tangan ke seantero Inggris.

New Testament oleh pakar Alkitab William Tyndale adalah tonggak sejarah lainnya. Kitab ini diterjemahkan dari bahasa Yunai asli ke dalam bahasa Inggris pada 1525. Tidak lama setelah itu, pada 1535, Miles Coverdale menerbitkan Alkitab lengkapnya dalam bahasa Inggris. Satu tahun sebelumnya, Henry VIII memutuskan hubungan dengan Katolik Roma serta membuat manuver politik. Untuk mengokohkan kedudukannya sebagai kepala gereja Inggris, Henry VIII, menegaskan terjemahan Alkitab ke dalam bahasa Inggris, yang dikenal sebagai Great Bible. Alkitab yang dicetak pada 1539 ini berukuran besar dengan bentuk huruf Gotik yang rumit.

Kaum Puritan dan umat Protestan pelarian lainnya dari berbagai penjuru Eropa menetap di Jenewa, Swiss. Pada 1560, diterbitkanlah Geneva Bible, Alkitab bahasa Inggris pertama dengan jenis huruf yang mudah dibaca dan pasal yang dibagi ke dalam ayat-ayat. Alkitab ini dimpor ke Inggris dari Eropa daratan dan segera menjadi populer. Akhrinya, 1576, Geneva Bible pun dicetak di Inggris. Peta dan catatan pinggir turut memperjelas maksud ayat-ayatnya. Tetapi, ada pembaca yang tidak menyukai catatan pinggir ini karena isinya menentang kepausan.

Karena Great Bible tidak diterima secara luas dan Geneva Bible memuat catatan kaki yang kontroversial, diputuskanlah agar dibuat Alkitab yang direvisi. Great Bible dipilih sebagai dasarnya. Tugas ini dipercayakan kepada para uskup gereja Inggris, dan pada 1568, Bishops’ Bible pun diterbitkan. Alkitab ini berukuran besar dan penuh ukiran. Tetapi, kaum Calvinis, yang tidak mengakui gelar keagamaan, tidak menyukai kata “bishops” atau uskup. Bishops’ Bible pun tidak diterima khalayak ramai di Inggris.

Setelah bertakhta sebagai raja Inggris pada 1603, Raja James I menyetujui penerjemahan Alkitab yang baru. Ia menetapkan agar catatan atau komentar apa pun yang tidak mengenakan disingkirkan.

Raja James mendukung proyek itu. Akhirnya, enam kelompok yang terdiri dari 47 pakar di seantero negeri menyiapkan bagian-bagian naskahnya. Para pakar Alkitab ini pada hakikatnya merevisi Bishops‘ Bible dengan memanfaatkan karya Tyndale dan Coverdale. Mereka juga memanfaatkan Geneva Bible dan New Testament Rheims Katoloik Roma edisi 1582.

James sendiri adalah pakar Alkitab yang disegani dan sebagai pengakuan atas prakarsanya, terjemahan ini didekasikan untuk “yang mahatinggi dan pangeran perkasa, James.” Sebagia kepala gereja Inggris, apa yang dilakukan James ini dianggap sebagai upaya mempersatukan bangsanya.

Mahakarya sastra

Para klerus senang menerima Alkitab dari raja mereka yang “wajib dibacakan di gereja-gereja.” Tetapi, pertanyaannya masih sama, apa tanggapan bangsa itu terhadap terjemahan Alkitab yang baru ini?

Para penerjemah, dalam prakata asli mereka yang panjang, mengungkapkan kekhawatiran mereka kalau-kalau terjemahan baru ini tidak diterima. Tetapi, King James Version (KJV) cukup berhasil, walau butuh waktu sekitar 30 tahun sampai Alkitab ini menggantikan Geneva Bible dan mendapat tempat di hati masyarakat.

Buku The Bible and the Angola-Saxon People mengatakan, Authorized Version pada akhirnya diterima secara luas karena mutunya yang sangat bagus. The Cambridge History of the Bible menyimpulkan bahwa banyak umat Kristen berbahasa Inggris memandang terjemahan ini sangat kudus, hampir-hampir dianggap sebagai suara Allah sendiri. Maka mereka menganggap bahwa kata-kata dalam King James Version tidak boleh dikritik atau diubah.

Para pemukim masa awal dari Inggris yang mendarat di Amerika Utara membawa serta Geneva Bible. Namun belakangan, KJV lebih diterima secara luas di Amerika. Seraya Imperium Inggris berkembang ke seluruh dunia, para misionaris Protestan menyebarluaskan Alkitab ini. Mengingat banyak penerjemah Alkitab kurang memahami bahasa Ibrani dan Yunani dalam Alkitab, King James Version dalam bahasa Inggrislah yang dijadikan dasar penerjemahan ke dalam bahasa-bahasa lain.

Dewasa ini, menurut British Library, Alkitab King James, atau Authorized Version, tetap menjadi publikasi berbahasa Inggris yang paling luas perederannya. Ada yang memperkirakan bahwa oplah KJV telah mencapai lebih dari satu miliar di seluruh dunia!

Selama berabad-abad, banyak orang percaya bahwa KJV adalah satu-satunya Alkitab yang “benar.” Pada 1870, dimulailah tevisi menyeluruh atas Alkitab ini di Inggris. Belakangan, hasil revisi itu, yakni English Revised Version, mengalami sedikit revisi lagi di Amerika dan diterbitkan sebagai American Standard Version.

Dalam revisi yang lebih belakangan, 1982, prakata untuk Revised Authorized Version, mengatakan bahwa upaya telah dibuat untuk mempertahankan pilihan kata yang indah yang sangat dijunjung tinggi dalam Authorized Version edisi 1611.

Meskipun Alkitab tetap menjadi buku yang paling laris di dunia—dan KJV yang paling disukai—Profesor Richard G Moulton mengamati, hampir segala upaya telah kami lakukan berkenan dengan tulisan-tulisan Ibrani dan Yunani. Kami telah menerjemahkannya (dan) merevisi berbagai terjemahannya. “Tinggal satu hal yang perlu dilakukan sehubungan dengan Alkitab: membacanya,” kata Richard

Tidak diragukan, KJV adalah mahakarya sastra, dihargai dan dijunjung tinggi karena keindahan ungkapan-ungkapanya yang tiada duanya. Tetapi, bagaimana dengan nilai beritanya? Tulisan-tulisan terilhami dalam Alkitab menyingkapkan jalan keluar yang langgeng bagi berbagai problem di zaman kita yang kritis ini. bas/sumber: sedarlah

Tidak ada komentar: