Kamis, 30 Juni 2011

TUHAN MURKA MELALUI GEMPA?

Pahae diguncang gempa. Ratusan rumah, sekolah dan rumah ibadah terhempas dan rata dengan tanah. Gempa berkekuatan 5,6 scala Richter ini menyisihkan kepedihan yang mendalam serta kerugian yang cukup besar. Apakah Tuhan murka kepada orang Pahae?

Inilah yang disoroti Pdt Dr Binsar Nainngolan dalam bukunya “Pandangan Teologi tentang Bencana Alam.” Bermula dari kegusaran lantaran munculnya penafsiran yang beragam, maka Binsar Nainggolan tergugah hendak memberikan jawaban dari perspektif teologi tentang bencana alam yang menimpa bumi akhir-akhir ini. Doktor lulusan Universitas Regensburg, Jerman ini, kemudian mencoba menelusuri tragedi alam dengan menggabungkannya dengan pengalaman spiritual Injil.

Bahkan penulis buku ini mengatakan, pemaparan bencana-bencana alam dari sudut pandang teologi menjadi suatu kebutuhan mendesak dewasa ini. Apalagi setiap terjadi bencana selalu ada dualisme dalam benak umat manusia. Di satu pihak ada yang berpikir peristiwa bencana alam seperti tsunami, merupakan murka Allah atas dosa-dosa manusia. Pada pihak lain, muncul pula hasil penelitian para ilmuwan bahwa memang terdapat gejala keretakan permukaan bumi yang masih belum terdeteksi ilmu pengetahuan di beberapa tempat rawan bencana gempa dan tsunami.

Dalam buku ini, Binsar Nainggolan, memandang isu bencana alam dari konteks teologi ciptaan. Ketika membicarakan bencana alam ada tiga pokok penting yang harus diperhatikan, yakni; kehadiran Allah selaku Pencipta alam semesta. (Kejadian 1:1) Alkitab mengakui doktrin tentang keberadaan Allah selaku pencipta. Penciptaan ini dilakukan Allah dari yang tidak ada menjadi ada (creation ex nihilo) Umat Kristen mempercayai bahwa Allah adalah maha kuasa dan kemahakuasaanNya berada di luar kemampuan manusia.

Berbeda dengan ajaran panteisme, yang memandang alam semesta sebagai suatu emanasi atau manifestasi dari allah, seheingga bagi panteisme alam semesta identik dengan allah.

Ajaran panteisme ini tidak dapat diterima dan harus ditolak, sebab penciptaan adalah mutlak tindakan Allah yang dilakukanNya dalam kebebesanNya. Dalam karya penciptaan Allah membuat bingkai alam semesta ini dengan bebas lengkap dengan susunan ciptaan (ordo creationis)

Kemudian, memahami umat manusia selaku ciptaan yang bebas dalam mempergunakan akal budi dan suara hatinya. Artinya, manusia selaku mahkota ciptaan adalah sekaligus mahluk yang mempunyai kelebihan bila dibandingkan dengan makhluk ciptan lainnya. Manusia mempunyai akal budi, inteligensia, kemauan dan suara hati. Diberi kemampuan mengolah dan mengembangkan benda-benda di alam semesta. Bahkan Allah memberikan kebebasan kehendak (free will) untuk menentukan arah prjalanan hidupnya, apakah taat kepada Allah atau tidak?

Sebab itu, tidak ada alasan manusia tidak menghargai alam semesta ini sebagai ciptaan yang baik dan teratur. Proses menghargai dimaksud menjadi tanggung jawab umat manusia; yaitu memelihara ciptaanNya. Ada proses antarkoneksi dalam kehidupan umat manusia dengan alam semesta beserta seluruh komponennya. Hubungan yang saling ketergantungan inilah yang sering dirusak atau sengaja dilupakan ketika tergiur dengan kepentingan bisnis. Ironisnya mereka mengeksploitasi alam serta menguras isi perut bumi tanpa kendali.

Soal kerusakan atau kaitannya dengan bencana, Binsar mengutip pendapat Alister E McGrath, ahli teoolgi merangkap ahli biologi molekur pada Universitas Oxford, mengatakan, “Dosa berakibat dengan bagaimana kita memelihara lingkungan sebagaimana dosa itu berakibat dengan bagaimana kita bersikap terhadap Allah, terhadap sesama manusia dan terhadap masyarakat secara keseluruhan.”

Bencana alam yang melanda negeri ini dewasa ini acap kali dihubungkan dengan kutukan Allah kepada umat manusia. Allah sering dituduh sebagai penyebab dan pembuat gara-gara terjadinya bencana. Tuduhan seperti ini menjadi tema teologis yang disebut dengan istilah teodise. Teodise dari asal kata: theos dan dike, Yunani. Teos; Tuhan dan dike berati hukuman atau keadilan ilahi.

Teodise juga dipahami sebagai keadilan Allah dalam terang penderitaan manusia (the justice of God in the light of human suffering) Gagasan ini hendak mempertahankan nama baik Allah, khususnya dalam keadilanNya, hikmatNya, kebaikanNya serta kasihNya.

Tuduhan Allah sebagai penyebab bencana, sudah muncul pada zaman pencerahan (Aufklarung) pada abad 18 yang mendewakan otonomi otak dan pikiran manusia. Zaman pencerahan di Eropa mempertajam konflik sekitar tema keadilan Allah melalui otonomi otak dan terlepasnya akal budi dari tuntutan otoritas wahyu. (hal.25)

Namun penulis buku ini mengakui, penderitaan merupakan cambuk yang mendidik dari Allah. Ia mengutip contoh: kisah Ayub, air bah, Hosea menghukum bangsa Israel akibat kedurhakaan. Hal yang sama dilakukan Nabi Amos kepada bangsa Yehuda karena mereka menolak hukuman Tuhan serta memuja dewa dan kebohongan ada di antara mereka.

Jadi, benca alam” gempa bumi, gunung meletus, tsunami bukanlah serta merta murka Tuhan terhadap umat manusia. Tapi, semua petaka yang terjadi di dunia ini diketahui olehNya. “Allah turut bekerja dalam segala sesuatu untuk mendatangkan kebaikan bagi mereka yang mengasihi Dia, yaitu mereka yang terpanggil sesuai dengan rencana Allah.” (Roma 8: 28) bas

Tidak ada komentar: