Senin, 04 April 2011

MEGHINDARI IBADAH TANPA ALLAH

Benarkah liturgi HKBP tidak menarik dan membosankan? Dari HKBP Tebet, Jakarta, berkumandang jawaban setelah digelar seminar bertajuk “Menggali Teologi Liturgi.” Empat narasa sumber yang dianggap kompeten di bidang liturgi diundang “menggalinya.” Dua orang dari HKBP selebihnya dari STT Doulos dan STT Jakarta. Mantan Ephorus HKBP, Pdt Dr JR Hutauruk misalnya, memahami tata ibadah dengan pendekatan historis sembari menyelusuri uraian yang pernah dilontarkan F Tiemeyer sewaktu ceramah tentang ibadah HKBP pada konfrensi tahunan para misionari Jerman (RMG) 1936 yang diselenggarakan di Padangsidimpuan. Selain F Tiemeyer, JR Hutauruk juga membongkar tata ibadah HKBP berdasarkan pengalaman IL Nommensen , PH Jonnnsen dan A Mohri. Soalnya, para misionaris ini diperkirakan punya andil yang tidak sedikit terhadap pengadaan sebuah tata ibadah di gereja Batak. Melalui historis yang ditorehkan F Timeyer inilah Hutauruk menyimpulkan bahwa dalam ibadah haruslah nampak Allah hadir dan bertidak mengundang, mengajar, menegus, menasehati, menguatkan menerima pujian, pengakuan dosa, janji penghapusan dosa, memberikan berkatNya dan akan mendapingi anggota jemaat pada kehidupan seharian mereka hingga kembali ke pangkuanNya di sorga. Dalam ibadah, kata Hutauruk, harus dijaga supaya jangan terjadi pengilahian (vergoetterei atau vergoettete elemente) dalam ibadah. Artinya, Allah tetap Allah dan manusia tetap manusia; jangan terjadi pergeseran batas antara hakekat Allah dan hakekat manusia. Bahkan hanya Allah sendiri yang sanggup menjebatani, bukan upaya manusia melalui kebaikan moral ataupun upaya lainnya. “Yang harus dihindari ialah ibadah tanpa Allah,” Hutauruk mengutip nasehat F Timeyer. Selain itu, ibadah bukan melulu pemberitaan ajaran dan firman Allah, juga jangan dijadikan menjadi suatu buku hukum (aliran ortodoksi) sebab Roh Allah berhembus ke mana Dia inginkan dan tidak dapat dikendalikan oleh siapa pun dalam ibadah Injili. Harap dimaklumi, dalam setiap ibadah hanya mengandalkan anugerah Tuhan, bukan mengandalkan yang lain. Bagi JR Hutauruk, mengkaji ulang atau merevisi tata ibadah HKBP boleh-boleh saja, asal jelas tampak hubungannya dengan Allah dalam tata ibadah. “Landasan pokok yang satu ini tidak bisa ditawar-tawar—yaitu hubungan dengan Allah,” tegas Hutauruk. Ia menambahkan, HKBP pada usia menjelang 150 tahun (1861-2011) sudah saatnya merumuskan kembali teologia apa yang pas sebagai dasar tata ibadah, supaya HKBP benar-benar gereja yang inklusif, dialogis dan terbuka sesuai visi dan misinya. Sedangkan mengenai ibadah alternatif yang belakangan ini marak, JR Hutauruk pun maklum, namun dia tidak setuju kalau pengalaman manusia yang menonjol dalam ibadah. Prinsip-prinsip yang diuraikan Pdt JR Hutauruk disinggung juga dalam makalah “Teologi Liturgi Gereja Evanggelical (Kharismatik)”yang disajikan Pdt Mariana Tri Tjahyono MTh. Prinsip pokok ibadah Kristen, menurut Pdt Mariana, yaitu penyembahan harus sesuai dengan penyembahan diri Allah di dalam putraNya, hal itu sesuai dengan pola Perjanjian Baru begitu juga dalam tradisi Perjanjian Lama. Dalam beribadah harus tampak unsur persembahan korban atau korban syukur terhadap Allah—ucapan bibir memuliakan namaNya. Mariana yang juga dosen STT Doulos Jakarta ini mengakui, ibadah Injili adalah ibadah yang tidak kaku. Nyanyian adalah pujian kepada Allah, sebab itu harus dinyanyikan secara hidup tanpa “memaku” pandangan kepada teks atau buku nyanyian. Hampir sama dengan ibadah kharismatik—ibadah dikaitkan dengan gerakan tubuh seperti mengangkat tangan, doa lantang, tepuk tangan, bernyanyi keras, melompat-lompat. Biasanya diiringi musik atau band, bernyanyi keras dan berbicara dalam bahasa lidah. Ciri lain ibadah Injili, yaitu kebiasaan ekspresi liguistik dan pemilihan kata-kata yang popular, seperti; marilah kita memberikan tepuk tangan, marilah kita menaikkan puji-pujian, kemudian jemaat menjawabnya dengan; “amin,” “haleluya,” “puji Tuhan.” Mariana menjelaskan, ibadah bukan hanya meliputi perasaan, tetapi bagaimana umat Tuhan mempersembahkan tubuhnya sebagai persembahan yang hidup, kudus dan berkenan kepada Allah. “Karena itu, setiap ibadah adalah menghormati kehadiran Allah,” ujarnya. Tidak jauh berbeda dengan sajian Pdt Dr Yonky Karman, sama-sama menyoroti tata ibadah gereja dari sudut teologi liturgi. Ia berpendapat, liturgi bisa menjadi perangkap sehingga umat tidak menyembah dalam roh kebenaran (Yohanes 4:24) Ibadah berlangsung secara lahiriah saja (ritualisme, eksternalisme) tanpa melibatkan Tuhan sebagai realitas hidup di balik hidup. Sebagai reaksi kepada ritualisme, masih pendapat Yonky, ada ekstrem lain yang mengambinghitamkan liturgi sebagai pangkal disfungsi ibadah. Seolah realitas ibadah semata-mata bersifat rohani (sipritualisme) Liturgi terstruktur dianggap menghalangi ungkapan iman. Lalu, pembaruan liturgi dilakukan dengan semangat anti formalisme. Liturgi tradisional ditolak begitu saja. Ibadah yang baik dimaknai sebagai tidak terikat liturgi, bebas dan tergantung pimpinan roh. Yonky Karman pun setuju kalau liturgi memakai bahasa kehidupan umat, dinamis serta mewakili aspirasi otentik penyembah dan sekaligus membentuk kehidupan penyembah. Dia justru tidak sependapat dengan bahasa liturgi yang terkukung dalam sipritualisme yang dibuat jinak, seperti yang berkembang di Barat. Sebaiknya, kata Yonky, liturgi harus didominasi suara yang mewakili Allah dan harus diamini jemaat. Sebab, teologi yang terlalu menekankan kedaulatan Tuhan malah menghasilkan liturgi yang menempatkan Tuhan di tempat yang sangat tinggi nun jauh di sana. Itu artinya, Tuhan yang tidak tertarik dengan keseharian penyembah. Simak juga bagaimana Pdt Bonar H Lumbantobing MTh, dosen STT-HKBP Pematangsiantar ini memahami suatu liturgi. Memahami liturgi harus ditelisik apa yang menjadi dasar teologia dan sejauh mana ajaran reformator mewarnai liturgi itu sendiri. Hal penting dalam ibadah, ini diuraikan Bonar dengan membandingkan tata ibadah ajaran reformator, liturgilah membentuk jemaat, bukan jemaat membentuk liturgi. Landasan pokok liturgi adalah Allah dan Yesus Kristus dalam Roh Kudus. Manusia sendiri tidak menjadi perhatian dalam liturgi. Itu sebabnya, selera manusia dalam beribadah (merayakan liturgi) bukan penentu dalam suatu kebaktian. Begitu juga kebutuhan manusia juga tidak membentuk liturgi, tetapi liturgilah membentuk dan mempengaruhi apa yang seharusnya menjadi kebutuhan manusia. Namun Bonar mengakui, seluruh tata ibadah yang disusun reformator, rata-rata berumur pendek. Tetapi, tata ibadah yang disusun jemaat dengan prinsip reformator tersebut justru bertahan lama. Itulah sebabnya Bonar Tobing mengingatkan, supaya hati-hati terhadap tuduhan yang mengatakan liturgi salah, monoton, lalu buru-buru merubahnya. Seandainya pun tidak ada liturgi, ibadah tetap jalan, bukan liturgi satu-satunya penopang kekristenan. “Yang jelas, liturgi membentuk budaya, bukan budaya membentuk liturgi. Bahkan kekuatan sautu liturgi terletak pada daya tahannya,” ucap Bonar. Ibadah, masih menurut Bonar Lumbantobing dengan mengutif dasar ajaran Martin Luther, ibadah dan iman adalah sinonim (bersamaan-red) Demikian juga Allah dan ibadah saling terkait, Allah yang menjelaskan diriNya (Deus revalatus) adalah Allah yang ditonjolkan dalam ibadah (Deus praedicatus) adalah sekaligus Allah yang dipuja (Deus cultus) Jadi Allah yang tersingkap adalah Allah mimbar dan altar. Allah yang disembah dibungkus dalam bentuk manusia (Deus cultus, involution in humanities) itulah firman menjadi daging yang nyata dalam babtisan dan perjamuan kudus. Bonar juga membicarakan tata ibadah HKBP dari sudut teknis. Seperti urutan-urutan tata ibadah dan kapan waktunya boleh masuk koor dalam ibadah. Misalnya, pada saat votum, hukum taurat (patik) dan pengampunan dosa (manopoti dosa) tidak boleh ada koor, sebab wilayah ini adalah “jatah” Tuhan yang tidak boleh diganggu-gugat. Demikian juga koor yang dinyanyikan harus sesuai dengan tema Minggu atau kotbah, karena ibadah mulai dari awal sampai akhir dikemas dalam satu kesatuan, tidak terpotong-potong. Rangkain ibadah mulai pembukaan (votum) hingga berakhir harus sinkron, seirama dan saling berkaitan sampai umat menerima berkat dari Tuhan. baharuddin s

Tidak ada komentar: